IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Intimidasi Orang Lain untuk Kepentingan Politik

Ahad 7 April 2019 12:30 WIB
Share:
Hukum Intimidasi Orang Lain untuk Kepentingan Politik
(Foto: @islamicity.org)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, di tahun politik banyak cara dilakukan untuk kepentingan politik. Beberapa waktu lalu sejumlah sahabat kami didatangi seseorang dengan senjata tajam agar sahabat kami menghentikan kegiatan politiknya (intimidasi). Mohon penjelasannya atas praktik intimidasi untuk tujuan politik seperti ini. Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Irsyad /Jakarta)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Tindakan mengancam, mengintimidasi, dan menakut-nakuti orang lain untuk kepentingan apapun termasuk kepentingan politik tidak dibenarkan dalam Islam. Selain juga bentuk pelanggaran UU Pemilu di Indonesia, cara-cara ini termasuk tindakan tercela dalam Islam.

Rasulullah SAW dalam banyak sabdanya melarang umat Islam untuk melakukan intimidasi, teror, atau ancaman terhadap orang lain. Tulisan ini akan menyebutkan beberapa hadits terkait tindakan intimidasi dan teror yang tercela.

Berikut ini adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُشِيرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيهِ بِالسِّلَاحِ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَحَدُكُمْ لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah salah seorang kalian mengarahkan [mengacungkan] senjata ke saudaranya karena ia tidak tahu bisa jadi setan mencabut senjata itu dari tangannya sehingga ia jatuh ke lubang neraka,’” HR Bukhari dan Muslim.

Pada riwayat Imam Muslim, tindakan intimidasi dengan pengacungan senjata atau cara-cara lain yang menciptakan suasana mencekam dapat mendatangkan laknat malaikat hingga pelaku meninggalkan praktik tercela tersebut.

عَنْ ابْنِ سِيرِينَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ

Artinya, “Dari Ibnu Sirin, aku mendengar Abu Hurairah RA berkata, ‘Abul Qasim Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang mengarahkan [mengacungkan] senjata ke saudaranya, sungguh malaikat akan melaknatnya hingga ia menyudahinya sekalipun ia adalah saudaranya satu ayah dan satu ibu [sekandung],’’” HR Muslim.

Sebagaimana diketahui, intimidasi masih menjadi cara-cara alternatif untuk kepentingan politik. Intimidasi untuk tujuan politik melalui simbol-simbol, ekspresi-ekspresi lisan, dan artikulasi secara fisik masih saja digunakan untuk memuluskan tujuan politik tertentu.

Imam An-Nawawi memberikan anotasi atas hadits riwayat Imam Muslim di atas. Menurutnya, hadits tersebut mengandung larangan Islam atas praktik intimidasi terhadap sesama warga negara atas alasan apapun dan latar belakang apapun.

فيه تأكيد حرمة المسلم والنهي الشديد عن ترويعه وتخويفه والتعرض له بما قد يؤذيه وقوله صلى الله عليه و سلم وإن كان أخاه لأبيه وأمه مبالغة في ايضاح عموم النهي في كل أحد سواء من يتهم فيه ومن لا يتهم وسواء كان هذا هزلا ولعبا أم لا لأن ترويع المسلم حرام بكل حال ولأنه قد يسبقه السلاح كما صرح به في الرواية الاخرى ولعن الملائكة له يدل على أنه حرام

Artinya, “Hadits ini menegaskan kehormatan seorang Muslim, keharaman keras untuk menakuti dan mengintimidasinya, serta menunjukkan sikap yang menyakitinya. Redaksi ‘sekalipun ia adalah saudaranya satu ayah dan satu ibu [sekandung]’ ini menunjukkan secara hiperbolis penjelasan keumuman larangan tersebut terhadap siapa pun baik ia yang dituduh maupun yang tidak dituduh, dan sama saja baik intimidasi itu bersifat gurauan atau main-main maupun serius. Pasalnya, tindakan menakut-nakuti [intimidasi] seorang Muslim haram dalam segala kondisi dan itu didahului senjata sebagaimana riwayat lain. Laknat malaikat atas tindakan tersebut menunjukkan keharaman,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajul Muslim bi Syarhi Shahih Muslim, [Kairo, Darul Hadits: 2001 M/1422 H], cetakan keempat, juz VIII, halaman 417-418).

Rasulullah SAW mengingatkan betapa tercelanya tindakan intimidasi terhadap orang lain. Riwayat Imam At-Thabarani berikut ini menyebut dengan jelas ganjaran pahit bagi pelaku intimidasi.

عن عبد الله بن عمر قال سَمِعْتُ رسولَ الله صلى الله عليه و سلم يقول مَنْ أَخَافَ مُؤْمِنًا بِغَيْرِ حَقٍّ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُؤَمِّنَهُ مِنْ أَفْزَاعِ يَوْمِ القِيَامَةِ

Artinya, “Dari Ibnu Umar RA, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa saja yang menakut-nakuti [intimidasi atau meneror] orang yang beriman tanpa hak, maka Allah berhak untuk tidak menjamin keamanan baginya dari ketakutan di hari kiamat,’”  HR At-Thabarani.

Intimidasi atau cara-cara lain yang menciptakan suasana mencekam dan menakutkan dilarang dalam Islam. Bahkan keusilan dan keisengan terhadap sahabat yang diekspresikan dengan cara menakut-nakuti tetap dilarang Islam meski pada dasarnya gurauan dan candaan sesama sahabat tidak dilarang dalam Islam.

عن عبد الرحمن بن أبي ليلى قال حدثنا أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أنهم كانوا يسيرون مع النبي صلى الله عليه وسلم فنام رجل منهم فانطلق بعضهم إلى حبل معه فأخذه ففزع فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يحل لمسلم أن يروع مسلما

Artinya, “Dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, kami dikisahkan oleh paa sahabat Rasulullah SAW bahwa mereka suatu kali bepergian dengan Rasul. Ketika salah seorang dari mereka tertidur, seorang lainnya [karena usil bercanda] membawakan tali kepadanya, lalu dipegangkannya sehingga yang tertidur tadi kaget ketakutan [karena mengira tali tersebut adalah ular]. Rasulullah SAW lalu bersabda, ‘Seorang Muslim tidak halal untuk menakut-nakuti seorang Muslim lainnya,’” HR Abu Dawud.

Secara lugas Rasulullah SAW mengatakan bahwa intimidasi merupakan perbuatan aniaya. Intimidasi untuk tujuan politik tertentu dan kepentingan lainnya merupakan musuh bersama yang harus dihentikan.

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تروعوا المسلم فإن روعة المسلم ظلم عظيم

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan kalian menakut-nakuti [intimidasi] seorang Muslim karena tindakan menakut-nakuti [intimidasi] seorang Muslim adalah sebuah kezaliman besar,’” HR Al-Bazzar dan At-Thabarani.

Semua riwayat dan keterangan ini cukup sebagai pandangan Islam atas intimidasi demi tujuan-tujuan politik. Dengan demikian, praktik intimidasi dan cara-cara kasar seperti ini harus segera dihentikan karena cara demikian tercela dalam agama dan melanggar UU pemilu yang berlaku.

Tujuan-tujuan politik sebaiknya diwujudkan dengan cara-cara yang konstitusional dan nilai-nilai kesantunan yang berlaku di Indonesia, serta tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Tujuan politik tidak boleh diraih dengan cara-cara kasar seperti intimidasi, hoaks, fitnah, atau ujaran kebencian yang menciptakan suasana sosial dan politik menjadi bising, tegang, mencekam, saling curiga, dan retakan-retakan yang tidak perlu.

Tujuan politik dapat dicapai dengan jalan-jalan kreatif dan santun. Banyak cara-cara kreatif dan menghibur dapat ditempuh untuk kepentingan dan tujuan politik tertentu tanpa harus melanggar norma hukum dan norma dalam Islam agar pemilu tidak mengganggu persatuan warga negara yang memiliki perbedaan aspirasi politik.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Kamis 4 April 2019 16:30 WIB
Hukum Shalat dengan Sisa Tinta Pemilu
Hukum Shalat dengan Sisa Tinta Pemilu
(Foto: @tempo.co)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, mereka yang mendatangi TPS untuk mencoblos di hari pemilihan akan diminta oleh petugas KPPS mencelupkan jarinya di bak tinta pemilu yang disediakan. Tinta itu membekas sekian hari dan tidak hilang setelah dicuci. Lalu apakah shalat yang dilakukan dengan tinta pemilu di jari sekian hari itu tetap sah? Terima kasih. (Abdul Qadir/Jakarta Pusat).

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Pertama yang harus dipahami adalah bahwa kesucian di pakaian, badan, dan di tempat shalat merupakan syarat sah shalat atau ibadah lain yang mengharuskan kesucian seperti thawaf sehingga benda najis yang menempel pada ketiganya harus disucikan.

Sebelum sampai pada pertanyaan apakah sah shalat yang dilakukan dengan sisa warna tinta pemilu di jari, pertama yang harus dijawab adalah terkait kesucian tinta pemilu. Apakah tinta pemilu mengandung najis? Hal ini memerlukan kajian laboratorium lebih lanjut.

Jika uji laboratorium menyatakan bahwa tinta pemilu mengandung najis, maka kita diharuskan untuk menyucikannya semampu kita dengan menggunakan sabun, batu, atau zat pembersih lainnya. Jika warna tinta pemilu itu masih membekas di jari kita setelah dicuci, maka status jari kita yang terkena tinta pemilu adalah suci.

قوله (إن بقيت في الثوب أو بدن) أو نحوه (من بعد غسل له فاحكم بطهارته) للمشقة والحت والقرص سنة وقيل شرط فإن توقفت إزالته على أشنان ونحوه وجب كما جزم به القاضي والمتولي ونقله عنه النووي في المجموع وجزم به في تحقيقه وصححه  في تنقيحه

Artinya, “(Jika najis itu tersisa di pakaian, badan,) atau sejenisnya, (setelah dibasuh, maka hukumilah kesuciannya) karena sulit. Sedangkan tindakan menggosok dan mengorek bersifat sunah belaka, tetapi ada yang mengatakan bahwa keduanya syarat. Jika penghilangan najis bergantung pada potas [kalium karbonat atau garam abu] dan sejenisnya [seperti sabun, bensin, atau cairan tajam yang lain], maka wajib sebagaimana diyakini oleh Al-Qadhi dan Al-Mutawalli, serta dikutip oleh An-Nawawi dalam Al-Majemuk dan diyakininya di Tahqiq dan disahihkan olehnya di Tanqih,” (Lihat Syekh Syihabuddin Ar-Ramli, Fathul Jawad bi Syarhi Manzhumati Ibnil Imad, [Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: tanpa catatan tahun], halaman 64-65).

Sisa warna najis yang tersisa di pakaian atau di badan kita setelah diusahakan pembersihannya tidak menjadi masalah. Sisa najis berupa warna yang idealnya harus dibersihkan secara tuntas dimaafkan karena sulit menghilangkannya sekaligus atau uzur.

Kasus ini serupa dengan masalah sisa noda darah haid yang membekas di pakaian sebagaimana diulas Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam Kitab Ibanatul Ahkam, Syarah Bulughul Maram. Keduanya mengatakan bahwa sisa noda darah haid pada pakaian yang telah dicuci ditoleransi secara syariat.

يعفى عما بقي من أثر اللون بعد الاجتهاد في الغسل بدليل (ولا يضرك أثره) الآتي في الحديث الذي بعده

Artinya, “Bekas warna (najis) yang tersisa pada pakaian dimaafkan setelah pakaian dicuci secara serius dengan dalil hadits selanjutnya yang berbunyi, ‘Bekasnya tidak masalah bagimu,’” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz I, halaman 54).

Ulama Mazhab Syafi’i memberikan catatan kriteria “sulit” dalam konteks penyucian najis dengan praktik pengorekan benda tersebut sebanyak tiga kali disertai dengan penyucian pendahuluan dengan alat pembersih semacam sabun atau pembersih lainnya.

Artinya, penyucian benda yang tercemar najis sebanyak tiga kali dengan tetap menyisakan warna najis merupakan sebuah ikhtiar yang memadai. Kalau pun setelah ikhtiar, warna najis masih tersisa, maka itu tidak masalah.

ضابط العسر قرصه ثلاث مرات مع الاستعانة المتقدمة فلو صبغ شيء بصبغ متنجس ثم غسل المصبوغ حتى صفت الغسالة ولم يبق إلا مجرد اللون حكم بطهارته

Artinya, “Kriteria sulit itu adalah tindakan mengorek sesuatu sebanyak tiga kali disertai dengan bantuan pendahuluan [seperti sabun atau pembersih lainnya]. Bila suatu benda dicelup dengan pewarna yang mengandung najis, lalu benda yang dicelup dengan pewarna tersebut dicuci hingga bersih basuhannya dan yang tersisa hanya warnanya, maka benda itu dihukumi suci,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 46).

Semua ketentuan ini dapat dilakukan bila tinta pemilu terbukti mengandung unsur najis. Tetapi bila uji laboratorium menyimpulkan bahwa tinta pemilu tidak mengandung najis, maka tentu saja tinta pemilu yang tersisa warnanya di jari tangan tidak mengharuskan kita untuk menyucikannya dengan ikhtiar-ikhitar sebagaimana di atas.

Bila uji laboratorium menyatakan bahwa tinta pemilu tidak mengandung najis, kita dapat langsung shalat yang cukup diawali dengan berwudhu seperti biasa.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Senin 1 April 2019 21:15 WIB
Hukum Merusak atau Menghilangkan Atribut Kampanye Lawan Politik
Hukum Merusak atau Menghilangkan Atribut Kampanye Lawan Politik
(Foto: @liputan6.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, tahun politik seperti ini banyak orang menjadi kalap sehingga menghalalkan segala cara. Sebagian dari mereka mencopot atau merusak atribut kampanye orang lain seperti stiker, spanduk, atau baliho. Pertanyaan saya, apa pandangan Islam terkait pencopotan atau perusakan alat kampanye orang lain yang dipasang di tempat umum? Terima kasih. (Ali Zainal/Jakarta)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Perusakan, penghilangan, dan cara-cara destruktif terhadap alat kampanye atau biasa disebut alat peraga kampanye (apk) lawan politik dalam kampanye jelas dilarang dari segala jurusan, baik menurut UU pemilu yang berlaku maupun menurut hukum Islam.

Perampasan, penghilangan, atau perusakan barang atau hak yang bukan benda milik orang lain oleh para ulama disebut sebagai ghashab. Larangan ghashab dalam agama  didasarkan pada Surat Al-Baqarah ayat 188 berikut ini:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Artinya, “Jangan kalian memakan harta sesama kalian dengan cara yang batil,” (Surat Al-Baqarah ayat 188).

Larangan ghashab dalam agama juga didasarkan pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang disampaikan oleh Rasulullah dalam khotbahnya ketika berhaji di Mina. Pada kesempatan itu Rasulullah mengulang-ulang pesannya agar tidak bersikap aniaya atau zalim terhadap hak orang lain:

وأخبار كقوله صلى الله عليه وسلم في خطبته في منى إن دماءكم وأموالكم وأعراضكم حرام عليكم كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا رواه الشيخان

Artinya, “Sejumlah hadits seperti sabda Rasulullah dalam khutbahnya di Mina, ‘Sungguh darah, harta, kehormatanmu haram bagimu (semua terhormat) seperti kehormatan hari ini (ibadah haji di Mina), bulan ini (Dzulhijjah), dan tanah ini (tanah suci Mekkah),’” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari sejumlah keterangan itu, orang yang melakukan ghashab atau pihak perampas wajib mengembalikan hak milik orang lain tersebut. Jika hak orang lain tersebut rusak, maka ia wajib menggantinya sebagaimana keterangan Syekh M Nawawi Banten dalam hasyiyahnya atas Fathul Qarib:

قوله (فإن تلف المغصوب) المتمول عند الغاصب بآفة أو إتلاف (ضمنه الغاصب بمثله) في أي مكان حل به المثلي

Artinya, “Perkataan (Jika benda rampasan) yang bernilai (rusak) di tangan perampasnya karena rusak atau dirusak, (maka perampas menanggungnya dengan barang sejenis) di mana pun barang sejenis itu ada,” (Lihat Syekh M Nawawi Al-Bantani, Qutul Habibil Gharib, Tausyih ala Fathil Qaribil Mujib, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1417 H], cetakan pertama, halaman 161-162).

Syekh Abu Bakar Al-Hishni memberikan rincian bahwa barang rampasan yang rusak entah karena sengaja dirusak atau karena sebab lain yang menyebabkan barang itu menjadi cacat tetap menjadi tanggung jawab perampasnya.

اذا تلف المغصوب سواء كان بفعله أو بآفة سماوية بأن وقع عليه شيء أو احترق أو غرق أو أخذه أحد وتحقق تلفه فإن كان مثليا ضمنه بمثله لقوله تعالى {فمن اعتدى عليكم فاعتدوا عليه بمثل ما اعتدى عليكم} ولأنه أقرب إلى حقه

Artinya, “Bila barang rampasan rusak sama saja apakah dirusak sendiri olehnya atau rusak karena kejatuhan suatu benda, atau terbakar, tenggelam, hilang karena dicuri orang lain yang jelas nyata rusaknya, bila barang itu barang pasaran yang dapat diukur, maka ia harus menanggung kerusakannya dengan barang sejenis berdasarkan firman Allah SWT, ‘Siapa saja yang berbuat melampaui batas terhadapmu, maka balaslah ia sebesar perbuatan melampaui batasnya terhadapmu,’ (Al-Baqarah ayat 194) karena itu lebih dekat pada pemenuhan haknya,” (Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 239). 

Dengan demikian, mereka yang melakukan pencopotan, perusakan, atau penghilangan alat kampanye orang lain wajib mengganti kerusakan barang rampasan yang dirusak atau dihilangkannya.

Tindakan-tindakan demikian jelas mengandung mafsadat karena dapat memicu pertengkaran antarpendukung dan juga dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam tahanan. Tindakan semacam ini jelas mencederai pemilu damai dan tertib sebagaimana diatur dalam UU tentang pemilu.

Dalam masa politik di mana masa kampanye diatur oleh pemerintah melalui KPU, tindakan pencopotan, perusakan, atau penghilangan alat kampanye lawan politik bukan hanya merugikan pemiliknya secara material tetapi juga secara nonmaterial, yaitu momentum kampanye yang jadwalnya diatur sebelum memasuki masa tenang beberapa hari sebelum hari pencoblosan.

Oleh karena itu, ulama Madzhab Syafi’i menyatakan kewajiban segera pengembalian alat kampanye rampasan kepada pemiliknya sebagaimana disebutkan oleh Syekh M Nawawi Banten dalam Nihayatuz Zein. Sifat kesegeraan ini menjadi penting karena alat kampanye itu tidak lagi bernilai setelah masa kampanye usai.

قوله (وعلى الغاصب رد) فورا عند التمكن للمنقول بنفسه أو فعل أجنبي وإن عظمت المؤنة في رده

Artinya, “Perkataan (Perampas wajib mengembalikan) segera ketika memungkinkan untuk benda rampasan yang dipindahkannya sendiri atau orang lain, sekalipun menghabiskan biaya tinggi untuk mengembalikannya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 264).

Dari sini kita dapat menarik simpulan bahwa perusakan, pencopotan, atau penghilangan terhadap alat kampanye pihak politik tertentu merupakan tindakan pelanggaran hukum yang berlaku di Indonesia dan pelanggaran atas larangan dalam Islam.

Tindakan itu hanya dapat dilakukan oleh petugas yang berwajib seperti panwaslu yang kemudian dieksekusi oleh satpol pp yang bersifat penertiban atas alat kampanye karena tempat dan waktu pemasangan yang menyalahi tata tertib yang berlaku.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Senin 18 Maret 2019 16:15 WIB
Hukum Noda Bekas Darah Haid pada Pakaian
Hukum Noda Bekas Darah Haid pada Pakaian
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, saya sering mendapati bercak (noda) darah haid yang tersisa pada pakaian setelah dicuci. Bagaimana kedudukan pakaian tersebut, apakah sudah terbilang suci atau belum? Pasalnya, pakaian ini biasanya celana dalam dan pakaian luar yang sempat tembus juga dipakai untuk shalat. Mohon penjelasannya. Wassalamu alaikum wr. wb. (Nurhayati)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Darah termasuk darah haid adalah salah satu zat najis yang harus dibersihkan secara tuntas dari pakaian dan benda lain dalam rangka menjaga kesucian, terlebih untuk ibadah shalat.

Rasulullah SAW pada hadits riwayat Asma binti Abu Bakar RA menyatakan keharusan penyucian tuntas pakaian yang terkena najis sebelum dipakai shalat. 

وَعَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ -فِي دَمِ اَلْحَيْضِ يُصِيبُ اَلثَّوْبَ-: - "تَحُتُّهُ, ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ, ثُمَّ تَنْضَحُهُ, ثُمَّ تُصَلِّي فِيهِ" - مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Artinya, “Dari Asma binti Abu Bakar RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Pada darah haid yang mengenai pakaian, kau mengoreknya, menggosoknya dengan air, membasuhnya, dan melakukan shalat dengannya,’” (HR Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits ini, pakaian yang terkena najis darah haid harus dicuci secara sungguhan. Dengan demikian, noda tersebut dapat dihilangkan secara total hingga hilang rasa, warna, dan baunya.

Lalu bagaimana dengan noda bekas darah haid yang tersisa di pakaian meski telah dicuci? Apakah pakaian dengan noda darah haid ini masih terbilang mengandung najis yang tidak bisa digunakan untuk shalat?

Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam Kitab Ibanatul Ahkam, Syarah Bulughul Maram, mengatakan bahwa sisa noda darah haid pada pakaian yang telah dicuci ditoleransi secara syariat.

يعفى عما بقي من أثر اللون بعد الاجتهاد في الغسل بدليل (ولا يضرك أثره) الآتي في الحديث الذي بعده

Artinya, “Bekas warna (najis) yang tersisa pada pakaian dimaafkan setelah pakaian dicuci secara serius dengan dalil hadits selanjutnya yang berbunyi, ‘Bekasnya tidak masalah bagimu,’” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz I, halaman 54).

Adapun hadits yang dimaksud oleh Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki adalah hadits Abu Hurairah RA yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَتْ خَوْلَةُ: - يَا رَسُولَ اَللَّهِ, فَإِنْ لَمْ يَذْهَبْ اَلدَّمُ? قَالَ: "يَكْفِيكِ اَلْمَاءُ, وَلَا يَضُرُّكِ أَثَرُهُ" - أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَسَنَدُهُ ضَعِيف

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Khawlah RA berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika darah itu tidak hilang?’ ‘Cukup bagimu (mencuci dengan) air itu. Bekasnya tidak masalah bagimu,’” (HR At-Tirmidzi).

Hadits yang dimasukkan dalam Kitab Bulughul Maram, kumpulan hadits-hadits hukum ini menunjukkan ketiadaan masalah dalam mengenakan pakaian yang masih mengandung noda sisa darah haid setelah dicuci secara sungguhan.

يقف الإنسان أمام ربه طاهر البدن فيجب عليه أن يكون كذالك طاهر الملبس إذا سقطت على ملبوساته إحدى النجاسات كالدم أن يزيل ذلك بكل ما في وسعه ممن مجهود، فإذا تعسرت عليه إزالة لون النجاسة  في الثوب فيغتفر له ذلك (ولن يشاد هذا الدين أحد إلا غلبه) وهذا من سماحة الإسلام وتيسير أحكامه... لا يضر بقاء ريح النجاسة أو لونها إذا تعسرت إزالة ذلك

Artinya, “Seseorang berdiri di hadapan Tuhannya dalam kondisi suci secara fisik sehingga ia juga wajib berdiri dalam kondisi suci di pakaian. Bila salah satu jenis najis seperti darah mengenai pakaiannya, maka ia wajib menyucikan najis tersebut secara sungguhan. Bila penghilangan warna najis di pakaian secara total itu sulit, maka itu dimaafkan sebagaimana hadits ‘Tidak ada seorang pun yang mempersulit agama, kecuali agama itu yang menyulitkannya.’ Ini menjadi bagian dari toleransi Islam dan kemudahan hukum Islam… Sisa bau dan sisa warna najis tidak masalah bila sulit dihilangkan,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz I, halaman 55).

Dari penjelasan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa pakaian yang masih tersisa noda darah haid tidak masalah digunakan untuk shalat dan kepentingan ibadah lainnya yang mengharuskan kesucian pada badan, pakaian, dan tempat ibadah.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)