IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad Penyembah Berhala?

Selasa 9 April 2019 8:0 WIB
Share:
Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad Penyembah Berhala?
Semua orang Islam sepakat bahwa Nabi adalah manusia mulia, tidak ada keraguan untuk hal ini. Namun yang masih ditemukan kekeliruan adalah tentang bagaimana memahami kemuliaan Nabi secara utuh, utamanya berkaitan dengan kedua orang tua beliau. Karena hidup pada masa pra-risalah Nabi Muhammad, sebagian kalangan beranggapan bahwa ayah dan ibunda Nabi adalah penyembah berhala. Menurut mereka, kedua orang tua Nabi kelak berada di neraka bersama orang-orang yang celaka. Benarkah anggapan tersebut?

Ada beberapa dalil yang menunjukan bahwa kedua orang tua Nabi adalah pribadi yang beriman, meyakini agama tauhid yang dibawa nenek moyangnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm.

Di antaranya firman Allah dalam menceritakan doanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” (QS Ibrahim: 40)

Di dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim meminta beliau dan anak cucunya rajin mendirikan shalat. Sebagaimana maklum diketahui bahwa tidak ada yang menjalankan shalat kecuali orang yang beriman.

Doa Nabi Ibrahim tersebut diijabah oleh Allah, menurut riwayat Shahih dari Ibnu al-Mundzir bahwa dari keturunan Nabi Ibrahim terdapat kelompok manusia yang senantiasa menyembah-Nya.

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

وقد أخرج ابن المنذر في « تفسيره » بسند صحيح عن ابن جرير في قوله تعالى حكاية عن إبراهيم عليه السلام رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي  قال : لا يزال من ذرية إبراهيم عليه السلام ناسٌ على الفطرة يعبدون الله

“Dan Ibnu al-Mundzir meriwayatkan di dalam tafsirnya dengan sanad yang shahih dari Ibnu Jarir tentang dalam firman Allah yang menceritakan doanya Nabi Ibrahim, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat’, Ibnu Jarir berkata dari keturunan Nabi Ibrahim senantiasa terdapat kelompok manusia yang menetapi kesucian, mereka menyembah Allah.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 6)

Lebih dari itu, al-Imam al-Suyuthi menegaskan bahwa yang paling layak masuk dalam doa Nabi Ibrahim adalah nenek moyang garis keturunan Nabi Muhammad yang diberi keistimewaan membawa “Nur Muhammad” dari satu keturunan menuju keturunan berikutnya.

Salah satu pembesar ulama mazhab Syafi’i tersebut mengatakan:

فعرف أن كل ما ذكر عن ذرية إبراهيم، فإن أولى الناس به سلسلة الأجداد الشريفة الذين خصوا بالاصطفاء، وانتقل إليهم نور النبوة واحدا بعد واحد، فهم أولى بأن يكونوا هم البعض المشار إليهم في قوله  رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي  

“Maka diketahui bahwa apa yang telah dijelaskan tentang keturunan Nabi Ibrahim, yang lebih layak masuk dari golongan mereka adalah silsilah nenek moyang Nabi Muhammad yang suci, mereka yang diberi kekhususan dengan dipilih, cahaya kenabian berpindah dari mereka dari satu orang menuju yang lain. Maka mereka lebih utama untuk masuk dalam sebagian keturunan Nabi Ibrahim yang diisyaratkan dalam firman Allah, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat’.”
 
وأخرج ابن أبي حاتم عن سفيان بن عيينة أنه سئل: هل عبد أحد من ولد إسماعيل الأصنام، قال: لا، ألم تسمع قوله وَاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ 

“Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sufyan bin Uyaynah bahwa beliau ditanya, apakah salah seorang dari anak turunnya Nabi Isma’il menyembah berhala? Sufyan menjawab, tidak. Bukankah engkau tidak mendengar firman Allah, “Dan jauhkanlah aku dan anaku dari menyembah berhala-berhala?” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 262)

Di dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

وَإِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَراءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku’. Dan (lbrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Al-Zukhruf: 26-28).

Ayat ini oleh al-Imam al-Suyuthi dinilai sebagai dalil yang paling jelas akan keimanan nenek moyang Nabi. Selanjutnya di dalam kitab “al-Hawi li al-Fatawi” al-Suyuthi mengutip banyak riwayat tentang interpretasi dari ayat di atas. Dari sekian tafsir tersebut menyimpulkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim senantiasa mengikrarkan kalimat syahadat (beriman).

Berikut ini penjelasan lengkap al-Imam al-Suyuthi:

الأمر الثاني مما ينتصر به لهذا المسلك، آيات وآثار وردت في ذرية إبراهيم وعقبه، الآية الأولى - وهي أصرحها - قوله تعالى وَإِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَراءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 

“Perkara yang kedua, di antara yang mendukung argumentasi ini terdapat beberapa ayat dan atsar (perkataan sahabat Nabi) yang menjelaskan tentang keturunan Nabi Ibrahim. Ayat yang pertama dan ini adalah dalil yang paling jelas adalah firman Allah, Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku". Dan (Ibrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.”

 أخرج عبد بن حميد في تفسيره بسنده عن ابن عباس في قوله وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ قال: لا إله إلا الله، باقية في عقب إبراهيم 

“Abd bin Humaid meriwayatkan dalam tafsirnya dengan sanad dari Ibnu Abbas tentang firman Allah ‘Dan (lbrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya’, Ibnu Abbas berkata, itu adalah kalimat Lâ Ilâha Illa-Llâh, kalimat yang kekal untuk keturunan Nabi Ibrahim.”

وقال عبد بن حميد: حدثنا يونس عن شيبان عن قتادة في قوله وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ  قال شهادة أن لا إله إلا الله والتوحيد، لا يزال في ذريته من يقولها من بعده

“Abd bin Humaid berkata, kami mendapat berita dari Yunus dari Syayban dari Qatadah tentang firman Allah, “Dan (lbrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya”, Qatadah berkata, kalimat tersebut adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kalimat tauhid. Senantiasa dari keturunan Nabi Ibrahim terdapat orang yang mengucapkannya.”

وقال عبد الرزاق في تفسيره عن معمر عن قتادة في قوله وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ  قال: الإخلاص والتوحيد، لا يزال في ذريته من يوحد الله ويعبده، أخرجه ابن المنذر 

“Abdur Razzaq berkata dalam tafsirnya, diriwayatkan dari Ma’mar dari Qatadah tentang firman Allah, “Dan (Ibrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya”, Qatadah berkata, itu adalah kalimat ikhlas dan tauhid. Senantiasa dari keturunan Nabi Ibrahim terdapat orang yang mengesakan Allah dan menyembahNya. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 261)

Di samping ayat Al-Qur’an, terdapat beberapa hadits Nabi yang menjadi argumentasi tentang masalah ini.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا، حَتَّى بُعِثْتُ مِنَ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ» ـ

“Dari Abu Hurairah beliau berkata, Nabi bersabda, aku diutus dari sebaik-baiknya masa anak Adam, dari satu masa ke masa berikutnya, hingga aku diutus dari masa yang aku berada di dalamnya.” (HR. al-Bukhari).

Imam Muslim dan al-Tirmidzi meriwayatkan hadits shahih berikut ini:

عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ» .

“Dari Watsilah bin Asqa’ beliau berkata, Nabi bersabda, sesungguhnya Allah memilih Isma’il dari anak Ibrahim, dan dari anak Isma’il memilih Bani Kinanah, dan dari Bani Kinanah memilih Quraisy, dan dari Quraisy memilih Bani Hasyim, dan dari Bani Hasyim memilihku.” (HR. Muslim dan al-Tirmidzi).

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitab Dalail al-Nubuwwah dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَأَخْرَجَ أبو نعيم فِي " دَلَائِلِ النُّبُوَّةِ " مِنْ طُرُقٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ يَزَلِ اللهُ يَنْقُلُنِي مِنَ الْأَصْلَابِ الطَّيِّبَةِ إِلَى الْأَرْحَامِ الطَّاهِرَةِ مُصَفًّى مُهَذَّبًا، لَا تَنْشَعِبُ شُعْبَتَانِ إِلَّا كُنْتُ فِي خَيْرِهِمَا» ـ

"Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, Allah senantiasa memindahku dari tulang rusuk yang suci kepada rahim-rahim yang suci, seraya dijerbihkan dan dibersihkan. Tidaklah bercabang dua cabang (garis keturunan) kecuali aku berada di (keturunan) yang terbaik". (HR Abu Nu'aim)

Dalam hadits yang diriwayatkan dan diberi predikat hadits Hasan oleh al-Tirmidzi disebutkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ حِينَ خَلَقَنِي جَعَلَنِي مِنْ خَيْرِ خَلْقِهِ، ثُمَّ حِينَ خَلَقَ الْقَبَائِلَ جَعَلَنِي مِنْ خَيْرِهِمْ قَبِيلَةً، وَحِينَ خَلَقَ الْأَنْفُسَ جَعَلَنِي مَنْ خَيْرِ أَنْفُسِهِمْ، ثُمَّ حِينَ خَلَقَ الْبُيُوتَ جَعَلَنِي مَنْ خَيْرِ بُيُوتِهِمْ، فَأَنَا خَيْرُهُمْ بَيْتًا وَخَيْرُهُمْ نَفْسًا» ـ

“Dari Ibnu Abbas bin Abdil Muthallib beliau berkata, Nabi bersabda, sesungguhnya ketika Allah menciptakanku, Ia jadikan aku dari makhluknya yang terbaik, saat Allah menciptakan kabilah-kabilah, Ia jadikan aku dari sebaik-baiknya kabilah, ketika Allah menciptakan jiwa-jiwa, Ia jadikan aku dari sebaik-baiknya jiwa, ketika Allah menciptakan rumah-rumah, Ia jadikan aku dari sebaik-baiknya rumah mereka. Maka aku adalah sebaik-baiknya mereka, rumah dan jiwanya.” (HR al-Tirmidzi dan al-Baihaqi)

Beberapa hadits di atas menegaskan bahwa nenek moyang Nabi adalah garis keturunan yang dipilih oleh Allah. Mereka diberi keutamaan yang tidak dimiliki orang lain. Sangat tidak rasional bila kebaikan, kemuliaan, dan keutamaan dianugerahkan oleh Allah untuk rahim dan darah daging yang musyrik.

Syekh Jalaluddin al-Suyuthi menegaskan:

ومن المعلوم أن الخيرية والاصطفاء والاختيار من الله، والأفضلية عنده لا تكون مع الشرك

“Dan termasuk yang diketahui adalah kebaikan, penyaringan dan pemilihan dari Allah serta keutamaan di sisiNya tidak terjadi besertaan dengan kesyirikan.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 256)

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

وهل يعقل أن يقرَّ الله الرّوح الطّاهر الطيّب بأصلاب المشركين وأرحام المشركات ويجعلها أصله في التّكوين والتّصوير وهو القائل  إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ  والقائل أيضًا الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ 

“Dan apakah bisa dinalar Allah menitipkan ruh yang suci kepada tulang rusuk orang-orang musyrik dan rahimnya wanita-wanita musyrik? Dan Allah jadikan ruh itu dasar dari sebuah perwujudan alam semesta, padahal Allah berfirman, ‘Orang-orang musyrik adalah kotor’, ‘Wanita-wanita yang hina untuk laki-laki yang hina. Laki-laki yang hina untuk perempuan yang hina’.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 11).

Masih banyak lagi hadits yang senada selain yang telah disebutkan di atas, hingga al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa tanda-tanda kesahihan sangat tampak di dalam matan hadits yang menjelaskan kemuliaan nasab Nabi. 

Ibnu Hajar al-Asqalani sebagaimana dikutip al-Suyuthi menegaskan:

قال الحافظ ابن حجر في أماليه لوائح الصحة ظاهرة على صفحات هذا المتن

“Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Amalinya, isyarat-isyarat kesahihan tampat pada lembaran-lembaran matan hadits ini.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 256)

Dari banyak hadits Nabi, al-Imam al-Suyuthi menyimpulkan bahwa nenek moyang Nabi sampai Adam dan Hawa disucikan dari kesyirikan dan kekufuran.

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

قال السّيوطي اعلم أنّ الأحاديث يصرح أكثرها لفظًا وكلها معنًى أن آباء النبي - صلى الله عليه وسلم - وأمهاته آدم وحواء مطهّرون من دنس الشِّرك والكفر، ليس فيهم كافر؛ لأنه لا يقال في حق الكافر أنّه مختار ولا طاهر ولا مصفًى، بل يقال نجس. قال تعالى إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ.

“Al-Imam al-Suyuthi berkata, ketahuilah sesungguhnya mayoritas redaksi hadits dan keseluruhan maknanya menjelaskan bahwa nenek moyang Nabi hingga Adam dan Hawa disucikan dari kotoran syirik dan kekufuran, tidak ada dari mereka orang kafir, sebab tidak bisa diucapkan untuk orang kafir ia adalah pilihan, suci dan bersih, bahkan diucapkan untuknya kotor. Allah berfirman, orang-orang musyrik adalah kotor.”

فوجب أن لا يكون في أجداده مشرك، فما زال منقولاً من الأصلاب الطّاهرة إلى الأرحام الطّاهرة، وما زال ينتقل نوره من ساجد إلى ساجد.

“Maka wajib di antara nenek moyang Nabi tidak ada satupun orang musyrik. Nabi senantiasa dipindah dari tulang rusuk yang suci menuju Rahim-rahim yang suci. Cahaya Nabi senantiasa berpindah dari orang yang bersujud kepada orang yang bersujud.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 21).

Dari beberapa penjelasan di atas dapat dipahami, anggapan bahwa orang tua Nabi adalah penyembah berhala adalah sebuah kesalahan. Anggapan tersebut tidak hanya keliru, namun sangat fatal dan berbahaya. Sebab sudah mencederai kemuliaan Nabi. Menurut Syekh Ibnu al-Arabi, tidak ada perbuatan yang lebih menyakiti Nabi dari pada mengatakan bahwa kedua orang tua Nabi kelak akan masuk neraka. 

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

وقد زلّت قدم بعض الناس فنسب أبويه إلى الشرك. والحذَر الحذَر من ذكرهما بنقص فإنَّ ذلك يؤذيه - صلى الله عليه وسلم - لحديث الطبراني  لا تؤذوا الأحياء بسب الأموات 

“Dan telah terpeleset sebagian manusia. Ia menisbatkan kedua orang tua Nabi kepada kesyirikan. Jauhi dan jauhilah betul menyebutkan kedua orang tua Nabi dengan sifat kurang, sebab hal tersebut dapat menyakiti Nabi, karena haditsnya Imam al-Thabrani, janganlah menyakiti orang hidup dengan mencela orang mati.”

قال القاضي ابن العربي المالكي ولا أذى أعظم له - صلى الله عليه وسلم - من أن يقال أن أبويه في النار. والله سبحانه وتعالى يقول إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ 

“Al-Qadli Ibnu al-‘Arabi al-Maliki berkata, tidak ada perbuatan yang lebih menyakiti Nabi dari pada menyebut kedua orang tua Nabi berada di neraka. Sedangkan Allah berfirman, sesungguhnya mereka yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 20).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga kita terhindar dari ucapan, keyakinan atau perbuatan yang dapat mencederai derajat keagungan Nabi Muhammad Saw dan nenek moyangnya.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat

Tags:
Share:
Jumat 29 Maret 2019 13:0 WIB
Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah adalah Satu Kesatuan
Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah adalah Satu Kesatuan
Sejak maraknya dakwah Wahhabiyah di Indonesia, banyak sekali buku agama yang menyebutkan bahwa tauhid dibagi menjadi tiga, yakni: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma’ was-Shifat. Sebelum itu, istilah ini tergolong asing di telinga kaum muslimin, meskipun konsep tauhid sudah mereka pahami dengan sangat baik dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah).

Pada artikel sebelumnya yang berjudul “Agenda di Balik Pembagian Tiga Macam Tauhid ala Ibnu Taimiyah”, penulis telah memaparkan apa dan bagaimana yang dimaksud dengan ketiga pembagian ini sehingga tak perlu diulangi di sini. Kali ini penulis akan mengaji masalah pembedaan secara tegas antara Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah sebenarnya tidaklah tepat dalam tataran implementasinya.

Sebagai sebuah klasifikasi ilmiah, sebenarnya tak masalah bila tauhid dilihat dari dua aspek berbeda, yakni aspek penciptaan dan aspek peribadahan. Aspek penciptaan ini kemudian melahirkan konsep “Tauhid Rububiyah” yang menjelaskan bahwa Sang Pencipta alam semesta ini hanyalah satu saja, yakni Allah subhanahu wata‘ala. Dari aspek peribadahan kemudian muncul aspek “Tauhid Uluhiyah” yang menjelaskan bahwa masyarakat harus menyembah Allah semata tanpa dibarengi dengan sesembahan lainnya. Sampai di sini sebenarnya klasifikasi ini biasa saja dan tak ada yang baru sehingga para ulama sebelum Ibnu Taymiyah juga banyak menyinggungnya. Misalnya saja Imam at-Thabari dalam tafsirnya berkata:

كانت العرب تقر بوحدانية الله غير أنها كانت تشرك به في عبادته 

“Orang Arab (jahiliyah) mengakui keesaan Allah tetapi mereka menyekutukan-Nya dalam hal ibadah.” (Ibnu Jarir at-Thabari, Tafsîr at-Thabari, I: 128)

Klasifikasi istilah “rububiyah” dan “uluhiyah” itu didasarkan pada perbedaan arti kata “rabb” dan “ilah” yang menjadi kata dasar dari keduanya. Sebagaimana diterangkan oleh al-Maqrizi, seorang sejarawan bermazhab Syafi’i yang hidup di abad kesembilan Hijriah, kata “rabb” berasal dari kata rabba-yarubbu yang berarti yang mencipta, merawat, dan yang bertanggung jawab atas penciptaan, rezeki, kesehatan dan perbaikan. Sedangkan kata “ilah” berarti menjadikan sebagai yang disembah (ma’lûh) sehingga menjadi satu-satunya yang dicintai, ditakuti, diharapkan dan sebagainya (al-Maqrizi, Tajrîd at-Tauhîd, 5). 

Meskipun secara bahasa diketahui bahwa makna leksikal antara “rabb” dan “ilah” mempunyai perbedaan, namun dalam tataran penggunaannya tak demikian. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sebab dalam logika paling sederhana dapat diketahui bahwa sosok yang mencipta dan merawat alam semesta (aspek rububiyah) adalah satu-satunya sosok yang layak disembah (aspek rububiyah) dan demikian pula mustahil seorang manusia berakal akan melakukan penyembahan (aspek uluhiyah) pada sosok yang sama sekali tak terlibat dalam penciptaan dan perawatan alam semesta (aspek rububiyah). Itulah sebabnya para penyembah berhala tidak menyembah segala objek yang mereka lihat atau mereka buat, namun hanya objek tertentu saja yang mereka yakini punya andil dalam sisi rububiyah. 

Musyrikin jahiliyah tahu betul bahwa mereka mendapat manfaat yang banyak dari pohon kurma, satu-satunya pohon yang dapat hidup subur menghasilkan makanan pokok di padang pasir, tetapi tak ada satu pun yang menyembahnya sebab mereka tak meyakini pohon kurma punya sisi ketuhanan. 


Sebaliknya, mereka tahu betul kalau patung-patung buatan mereka tak bergerak dan tak bisa melakukan apa pun secara fisik tetapi mereka meyakininya sebagai sosok yang mempunyai aspek rububiyah, karena itulah mereka menyembahnya. Andai mereka begitu bodohnya (jahil) menyembah sesuatu yang mereka yakini tak punya kuasa rububiyah sama sekali, maka pasti mereka akan lebih menuhankan pohon kurma atau unta daripada berhala buatan tangan mereka sendiri yang secara kasat mata tak bisa apa-apa itu.

Karena makna “rabb” dan “ilah” ini tak terpisahkan dalam praktiknya, maka kedua kata ini biasa diterjemah sama sebagai “Tuhan” dalam bahasa apa pun dan tak dibedakan lagi penggunaanya secara umum. Bahkan dalam Al-Qur’an pun, penggunaan keduanya juga tak dibedakan. Allah berfirman:

 وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُوا۟ ٱلْمَلَٰٓئِكَةَ وَٱلنَّبِيِّنَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُم بِٱلْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ 

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai rabb-rabb (Tuhan-Tuhan). Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS. Ali Imran: 70)

Dalam ayat di atas secara tegas Allah mengisyaratkan bahwa orang-orang musyrik menjadikan para malaikat dan pada nabi sebagai “rabb” di samping Allah. Ini bukti bahwa kata “rabb” juga bermakna sesembahan seperti kata “ilah”. Penggunaan bentuk plural dari kata “rabb” menjadi “arbâb” dalam ayat itu menjadi bukti lain bahwa asumsi sebagian orang bahwa kaum musyrik bertauhid dalam level rububiyah adalah isapan jempol belaka sebab nyata-nyata mereka mengenal adanya “arbâb” atau Tuhan-Tuhan yang memiliki kuasa rububiyah. Meskipun memang “rabb” dalam keyakinan kaum musyrik bertingkat; ada yang utama (supreme God) dan ada yang biasa (lesser God).

Dalam ayat lain, Allah lebih tegas lagi berfirman:

 تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِى ضَلَٰلٍۢ مُّبِينٍ إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ 

"Demi Allah, sungguh kami dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kami mempersamakan kalian (para berhala) dengan Tuhan (Rabb) semesta alam". (QS. As-Syu’ara’: 97-98)

Ayat itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa para berhala yang disembah itu oleh para kaum musyrik jahiliyah disejajarkan dengan “Rabb al-‘âlamîn” atau Tuhan semesta alam, yang tak lain adalah Allah. Dengan demikian menjadi jelas bahwa pembedaan istilah “tauhid rububiyah” dan “tauhid uluhiyah” hanyalah benar dalam tinjauan kebahasaan saja atau sebagai klasifikasi yang murni teoritis. Sedangkan dalam praktiknya keduanya sama sekali tak bisa dibedakan. 

Dengan demikian, klaim bahwa orang musyrik jahiliyah sebenarnya bertauhid di level rububiyah tetapi musyrik hanya di level uluhiyah adalah klaim yang tidak tepat sebagaimana yang juga telah penulis paparkan di artikel sebelumnya. Bahkan pembagian seperti ini menjadi sama sekali tak relevan ketika kita sadar bahwa yang dilawan oleh para Nabi bukan hanya kaum musyrik tetapi juga kaum ateis yang sama sekali tak percaya keberadaan Allah. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur

Rabu 27 Maret 2019 18:30 WIB
Kalimat Tauhid Saja Tak Cukup, Lima Aspek Ini Wajib Dipenuhi
Kalimat Tauhid Saja Tak Cukup, Lima Aspek Ini Wajib Dipenuhi
Secara umum, bertauhid dipahami dengan berikrar bahwa tiada Tuhan selain Allah atau mengucap kalimat Lâ ilâha illallâh dengan penuh keyakinan akan maknanya. Namun dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah), mengucap kalimat tauhid saja tak cukup membuat seseorang bertauhid kecuali jika ia memenuhi lima aspek teologis. Kelimanya diterangkan oleh Imam al-Halimy (338-403 H), seorang pakar hadits terkemuka dan sekaligus teolog besar dalam Islam, sebagaimana dinukil oleh Imam al-Baihaqi (384-458 H) dalam karyanya yang berjudul Syu’ab al-Imân berikut:

وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ بِالِاعْتِقَادِ، وَالْإِقْرَارِ مَجْمُوعُ عِدَّةِ أَشْيَاءَ أَحَدُهَا إِثْبَاتُ الْبَارِئِ جَلَّ جَلَالُهُ لِيَقَعَ بِهِ مُفَارَقَةُ التَّعْطِيلِ، وَالثَّانِي: إِثْبَاتُ وَحْدَانِيَّتِهِ لِتَقَعَ بِهِ الْبَرَاءَةُ مِنَ الشِّرْكِ، وَالثَّالِثُ: إِثْبَاتُ أَنَّهُ لَيْسَ بِجَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ لِيَقَعَ بِهِ الْبَرَاءَةُ مِنَ التَّشْبِيهِ، وَالرَّابِعُ: إِثْبَاتُ أَنَّ وُجُودَ كُلِّ مَا سِوَاهُ كَانَ مَعْدُومًا مِنْ قَبْلِ إِبْدَاعِهِ لَهُ وَاخْتِرَاعِهِ إِيَّاهُ لِيَقَعَ بِهِ الْبَرَاءَةُ مِنْ قَوْلِ مَنْ يَقُولُ بِالْعِلَّةِ وَالْمَعْلُولِ وَالْخَامِسُ: إِثْبَاتُ أَنَّهُ مُدَبِّرٌ مَا أَبْدَعَ، وَمُصَرِّفُهُ عَلَى مَا يَشَاءُ لِيَقَعَ بِهِ الْبَرَاءَةُ مِنْ قَوْلِ الْقَائِلِينَ بِالطَّبَائِعِ، أَوْ تَدْبِيرِ الْكَوَاكِبِ أَوْ تَدْبِيرِ الْمَلَائِكَةِ، 

“Amal shalih dengan beraqidah dan memberikan pengakuan [terhadap Allah] adalah kumpulan dari beberapa hal berikut; 

Pertama, menetapkan adanya Sang Maha-Pencipta, supaya bebas terlepas dari peniadaan Tuhan (ateisme). 

Kedua, menetapkan keesaan-Nya, supaya bebas terlepas dari syirik.

Ketiga, menetapkan bahwa Allah bukanlah jauhar (substansi; materi) atau ‘aradh (aksiden; atribut materi), supaya bebas terlepas dari penyerupaan Allah dengan makhluk (tasybîh)

Keempat, menetapkan bahwa apa pun selain Allah asalnya adalah tidak ada sebelum Allah mencipta dan membuatnya ada, supaya bebas terlepas dari pendapat yang menyatakan adanya ‘illah (sebab) dan ma’lûl (akibat).

• Kelima, menetapkan bahwa Allah Maha-Mengatur apa Ia ciptakan dan mengontrolnya sesuai kehendak Allah, supaya bebas terlepas dari pendapat yang menyatakan adanya thabâ’i (hukum alam yang berlaku dengan sendirinya)” (al-Baihaqi, Syu’ab al-Imân, I, 190-191)

Penetapan kelima aspek tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Aspek pertama, seseorang harus meyakini bahwa alam semesta ini mempunyai Tuhan sebagai penciptanya. Tuhan ini benar-benar ada, bukan sekedar konsep atau imaginasi belaka. Keberadaannya dapat diketahui dengan keberadaan seluruh alam ini yang mustahil ada dengan sendirinya dari ketiadaan tanpa ada sosok yang merancangnya. Dengan ini, orang tersebut sudah berbeda dengan sebagian pemikir yang mengatakan bahwa alam semesta ini tak punya Tuhan melainkan sudah ada dengan sendirinya dari unsur-unsur pembentuk, seperti tanah, air, udara dan api, atau yang mengatakan bahwa yang ada di dunia hanyalah materi yang kasat mata saja dan tak ada apa pun di balik itu. 

Aspek kedua, seseorang harus meyakini bahwa Allah itu Esa atau tunggal. Esa di sini berarti meyakini kesendirian Allah sebagai Tuhan sejak masa yang tak punya awal mula. Dengan demikian, ia berlepas diri dari pihak-pihak yang meyakini bahwa dalam semesta ini ada dua kekuatan yang bertentangan dan saling menyeimbangkan di mana kekuatan pertama menciptakan kebaikan dan kekuatan kedua menciptakan keburukan. Ia juga berlepas dari keyakinan sebagian orang yang meyakini ada materi kekal yang ada bersama Tuhan di mana Tuhan menciptakan alam semesta dari bahan baku materi tersebut. Dengan demikian secara pasti ia juga berlepas diri dari keyakinan yang menyatakan bahwa Allah punya saingan-saingan sebagai sesembahan.

Aspek ketiga adalah meyakini bahwa Dzat Allah pasti bukanlah materi tunggal (jauhar) atau susunan materi sedemikian rupa hingga membentuk rangkaian dan volume (jism) dan bukan pula berupa atribut-atribut temporer yang menyatu pada Dzat (‘aradl) seperti: ukuran, jumlah, warna, batasan tempat, batasan waktu, mekanisme, perbuatan fisik, efek perbuatan, dan lain sebagainya. Dengan demikian, ia sudah berbeda dengan kalangan Mujassimah yang mengatakan bahwa Allah adalah jisim/sosok tiga dimensi (mempunyai panjang, lebar dan tinggi) yang menempati ruang tertentu. Ia juga berlepas diri dari pihak yang berkata bahwa Allah bergerak dengan mekanisme (kaifiyah) tertentu atau duduk di atas Arasy dengan cara tertentu sebagaimana Raja duduk di atas singgasana. Jauhar dan ‘aradl adalah sifat khas makhluk yang berkonsekuensi pada adanya awal mula dan ketidakkekalan. Sebelumnya, penulis telah menguraikan pendapat para ulama tentang batasan seseorang dianggap menyerupakan Tuhan dengan makhluk pada artikel yang lain.

Aspek keempat adalah seorang mukmin harus meyakini bahwa segala sesuatu selain Allah tidaklah ada dengan sendirinya tetapi dibuat oleh Allah sesuai kehendak-Nya. Bila Allah berkehendak menciptakannya, maka ia ada. Dan sebaliknya, bila Allah tak berkehendak menciptakannya, maka ia takkan pernah ada. Dengan demikian, maka orang tersebut sudah berbeda dari sebagian filsuf yang mengatakan bahwa keberadaan Allah menjadi sebab utama (‘illah) bagi keberadaan makhluk, dalam arti bila Allah ada, maka seketika itu juga makhluk juga akan ada sebagai akibatnya (ma’lûl) secara berurutan dan terus menerus seperti sebuah mekanisme berantai. Keyakinan semacam ini meniscayakan adanya materi kekal yang menjadi bahan baku bagi terciptanya makhluk pertama supaya mekanisme berantai tersebut bisa terjadi. 

Aspek kelima adalah seorang mukmin wajib meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya yang mengatur dan mengontrol alam semesta ini. Dengan demikian, ia sudah berbeda dengan keyakinan sebagian orang yang berkata bahwa Malaikatlah yang mengatur dunia ini hingga mereka menyebutnya sebagai Dewa-dewa. Juga berbeda dengan keyakinan beberapa astrolog yang meyakini bahwa kejadian di dunia diatur oleh pergerakan bintang dan planet tertentu, atau dengan para agnostik yang mengatakan bahwa semua kejadian di dunia diatur oleh hukum alam yang memang sudah ada dengan sendirinya di alam. 

Imam al-Halimy kemudian menjelaskan bahwa kesemua aspek ini ada dalam satu pernyataan sederhana:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ ثَنَاؤُهُ ضَمَّنَ هَذِهِ الْمَعَانِيَ كُلَّهَا كَلِمَةً وَاحِدَةً، وَهِيَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَمَرَ الْمَأْمُورِينَ بِالْإِيمَانِ أَنْ يَعْتَقِدُوهَا وَيَقُولُوهَا

“Sesungguhnya Allah Yang Maha-Terpuji mengumpulkan seluruh aspek makna ini dalam satu kalimat, yakni “Tiada Tuhan selain Allah” dan memerintahkan manusia untuk meyakininya dan mengatakannya”. (al-Baihaqi, Syu’ab al-Imân, I, 193)

Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.

Rabu 27 Maret 2019 7:30 WIB
Hati-hati, Cacat Iman Tanpa Sadar!
Hati-hati, Cacat Iman Tanpa Sadar!
Sejarah mencatat ada banyak cara yang dilakukan manusia untuk mengekspresikan keimanan mereka. Ada yang melakukannya dengan cara menyembah Allah saja, tetapi ada juga yang mengekspresikannya dengan cara menyembah berhala. Ada yang mengekspresikannya dengan meyakini bahwa Allah adalah salah satu dari tiga oknum dalam Trinitas. Ada juga yang menyembah Allah tetapi meyakini bahwa segala sesuatu tergantung sepenuhnya pada usahanya sendiri. Semuanya saling mengklaim bahwa keyakinannya dapat menjadikan mereka selamat di akhirat. Akhirnya Allah menurunkan firmannya:

 وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًۭا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌۭ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا ۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلًۭا 
 
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Allah sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa’: 125)

Ketika menafsirkan ayat tersebut, Imam ar-Razi dalam tafsirnya yang berjudul Mafâtîh al-Ghaib menjelaskan bahwa kesempurnaan iman kepada Allah yang dituntut dalam penyerahan diri pada Allah di ayat itu hanya dapat dicapai dengan melepas semua ketergantungan pada selain Allah. Ar-Razi menjelaskan:

أَنَّ كَمَالَ الْإِيمَانِ لَا يَحْصُلُ إِلَّا عِنْدَ تَفْوِيضِ جَمِيعِ الْأُمُورِ إِلَى الْخَالِقِ وَإِظْهَارِ التَّبَرِّي مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ

“Sesungguhnya kesempurnaan iman tidaklah bisa didapat kecuali dengan memasrahkan segala hal kepada yang Maha-Pencipta dan menampakkan ketiadaan daya dan kekuatan." (Fakhr ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, XI: 229).

Kemudian Imam ar-Razi menjelaskan kesalahan berbagai pihak yang menyangka dirinya telah beriman padahal keimanannya masih bermasalah tanpa dia sadari. Ia menjelaskan:

وَأَيْضًا فَفِيهِ تَنْبِيهٌ عَلَى فَسَادِ طَرِيقَةِ مَنِ اسْتَعَانَ بِغَيْرِ اللَّه، فَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ كَانُوا يَسْتَعِينُونَ بِالْأَصْنَامِ وَيَقُولُونَ: هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّه، وَالدَّهْرِيَّةُ وَالطَّبِيعِيُّونَ يَسْتَعِينُونَ بِالْأَفْلَاكِ وَالْكَوَاكِبِ وَالطَّبَائِعِ وَغَيْرِهَا، وَالْيَهُودُ كَانُوا يَقُولُونَ فِي دَفْعِ عِقَابِ الْآخِرَةِ عَنْهُمْ: أَنَّهُمْ مِنْ أَوْلَادِ الْأَنْبِيَاءِ، وَالنَّصَارَى كَانُوا يَقُولُونَ: ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ، فَجَمِيعُ الْفِرَقِ قَدِ اسْتَعَانُوا بِغَيْرِ اللَّه. 

“Selain itu ayat tersebut memperingatkan kesalahan orang yang meminta pertolongan kepada selain Allah. Kaum musyrikin meminta pertolongan dengan para berhala dan berkata: ‘Mereka itu para pembela kami di sisi Allah’. Sedangkan orang ateis dan para saintis-agnostik (thabi’iyûn) meminta tolong kepada bintang-bintang, hukum alam atau hal lainnya.  Adapun Yahudi, untuk menolak siksa akhirat  mereka berkata: ‘Kami adalah keturunan para nabi’.  Adapun Nasrani, mereka berkata: ‘Kristus adalah pihak ketiga’.  Maka seluruh golongan tersebut telah meminta tolong pada selain Allah.”  (Fakhr ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, XI, 229).

Demikianlah, tak ada satu pun dari berbagai pihak yang disebutkan di atas murni beriman pada Allah. Mereka masih meyakini bahwa ada kekuatan di luar Allah yang dapat memberikan pengaruh pada realitas, entah itu berupa sosok tertentu, benda tertentu atau bahkan hukum alam sekalipun. Meyakini bahwa api secara independen punya kemampuan untuk membakar atau pisau secara independen punya kemampuan untuk mengiris adalah sebuah cacat dalam keimanan, meskipun itu adalah hukum alam yang berlaku sehari-hari. 

Dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), tak ada yang dapat memberi pengaruh apa pun kecuali kehendak Allah semata. Dengan demikian, api pun diyakini tak kan bisa membakar apabila tak dikehendaki oleh Allah, seperti yang terjadi pada kasus Nabi Ibrahim. Demikian juga seluruh hal lain di dunia juga tak dapat melakukan apa pun atau memberi pengaruh apa pun dengan sendirinya.

Kemudian, ar-Razi menjelaskan bahwa kesalahan yang sama berlaku pada Muktazilah yang meyakini bahwa perbuatan manusia adalah patokan pahala dan siksa di akhirat. Ia menjelaskan:

وَأَمَّا الْمُعْتَزِلَةُ فَهُمْ فِي الْحَقِيقَةِ مَا أَسْلَمَتْ وُجُوهُهُمْ للَّه لِأَنَّهُمْ يَرَوْنَ الطَّاعَةَ الْمُوجِبَةَ لِثَوَابِهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، وَالْمَعْصِيَةَ الْمُوجِبَةَ لِعِقَابِهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ، فَهُمْ فِي الْحَقِيقَةِ لَا يَرْجُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَلَا يَخَافُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ، 

“Adapun Muktazilah, maka secara hakikat sesungguhnya mereka belum memasrahkan diri mereka kepada Allah sebab mereka berpendapat bahwa ketaatan mengharuskan adanya pahala untuk diri mereka, sedangkan kemaksiatan mengharuskan adanya siksa  atas mereka.  Maka pada hakikatnya mereka tidak mengharap kecuali pada diri mereka sendiri dan tidak takut kecuali pada diri mereka sendiri.” (Fakhr ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, XI, 229).

Selanjutnya, ar-Razi menjelaskan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai berikut:

وَأَمَّا أَهْلُ السُّنَّةِ الَّذِينَ فَوَّضُوا التَّدْبِيرَ وَالتَّكْوِينَ وَالْإِبْدَاعَ وَالْخَلْقَ إِلَى الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَاعْتَقَدُوا أَنَّهُ لَا مُوجِدَ وَلَا مُؤَثِّرَ إِلَّا اللَّه فَهُمُ الَّذِينَ أَسْلَمُوا وُجُوهَهُمْ للَّه وَعَوَّلُوا بِالْكُلِّيَّةِ عَلَى فَضْلِ اللَّه، وَانْقَطَعَ نَظَرُهُمْ عَنْ كُلِّ شَيْءٍ مَا سِوَى اللَّه.

“Adapun Ahlussunnah yang memasrahkan kemampuan untuk mengatur, membuat dan mencipta  hanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan meyakini bahwa tidak ada pencipta ataupun yang bisa memberi pengaruh kecuali Allah, maka mereka adalah yang betul-betul memasrahkan dirinya kepada Allah dan bergantung sepenuhnya terhadap kemurahan Allah serta telah hilang perhatian mereka dari selain Allah.” (Fakhr ar-Razi, Mafâtîh al-Ghaib, XI, 229).

Mereka inilah yang berhak disebut memasrahkan diri sepenuhnya pada Allah (aslama wajhahu lillâh) sebab meyakini tak ada daya dan kuasa apa pun kecuali dengan kehendak Allah (lâ haula walâ quwwata illâ billâh). Penjelasan ini juga membantah anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa berislam cukup dengan “pasrah pada Tuhan” saja sehingga apa pun agamanya asalkan “pasrah pada Tuhan” akan diterima. Kepasrahan pada Tuhan yang dituntut oleh al-Qur’an adalah kepasrahan total sebagaimana dijelaskan di atas, bukan asal pasrah tetapi sebenarnya hatinya masih mendua sebagaimana dipraktekkan oleh non-muslim atau ahli bid’ah dari kalangan kaum muslimin. 

Dan tentu saja, dalam perspektif agama Islam, keimanan harus juga memenuhi keenam rukun iman yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan hadits, yakni: Iman pada Allah, pada para Malaikat, pada kitab suci yang diturunkan Allah, pada para Rasul, pada adanya hari kiamat dan beriman bahwa kebaikan dan keburukan semuanya dapat terjadi atas ketentuan Allah. Sama sekali tak relevan menyebut suatu golongan sebagai “orang beriman” dari perspektif Islam bila golongan tersebut masih belum memenuhi salah satu rukun iman atau pun belum pasrah secara total pada Allah semata. Wallahu a'lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur