IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Budak Kikir Dibebaskan karena Kekikirannya

Rabu 10 April 2019 14:0 WIB
Share:
Kisah Budak Kikir Dibebaskan karena Kekikirannya
Ilustrasi (via ffgnesqs.com)
Dalam kitab al-Bukhalâ (orang-orang kikir/bakhil), Imam al-Khathib al-Baghdadi mencantumkan riwayat tentang seorang budak dan tuannya yang kikir. Berikut riwayatnya:

أخبرني الأزهري وعبيد بن علي الرقي قالا: حدّثنا عبيد الله بن محمد المقريء، حدثنا محمد بن يحي الصولي، حدثنا يموت، هو ابن المزرّع، قال: قال الجاحظ: قال رجلٌ من البخلاء لغلامه: هات الطعام وأغلق الباب. فقال: هذا خطأ، بل أغلق الباب وأتِ بالطّعام. قال: أنت حرّ لعلمك بالحزم.

Dikabarkan oleh al-Azhari dan Ubaid bin Ali al-Raqqi, mereka berdua berkata: “Diceritakan oleh Ubaidillah bin Muhammad al-Muqri, dari Muhammad bin Yahya al-Shuli, dari Yamut, yaitu Ibnu al-Muzarra’, ia berkata: al-Jahiz berkata: 

“Seorang laki-laki kikir (bakhil) berkata pada budaknya: ‘Hidangkan makanan dan tutup pintu.’ Budak itu menjawab: ‘Ini salah, (tuan), yang benar adalah tutup pintu dulu baru hidangkan makanan.” Tuannya berkata: “Kau (ku)bebaskan karena pengetahuanmu yang mantap.” (Imam Abu Bakr Ahmad al-Khatib al-Baghdadi, Kitâb al-Bukhalâ’, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 2000, hlm 102)

****

Kali ini agak berbeda. Hikmah yang disajikan tidak seperti sebelumnya. Biasanya hikmah diambil dari kisah kesalehan atau ketakwaan seseorang, tapi kali ini berbeda. Sebelum masuk terlalu dalam, kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa hikmah tidak melulu dapat diambil dari kisah yang membuat kita “wow” dan berujar “ooh, iya, iya, iya.” 

Karena hikmah bisa diambil dari mana saja, termasuk dari cerita si kikir yang lumayan lucu. Itulah kenapa ada kisah tentang Fir’aun, Abu Lahab, Qarun, dan lain sebagainya dalam Al-Qur’an dan hadits. Usaha Imam al-Khatib al-Baghdadi (463 H) mengumpulkan berbagai riwayat orang-orang bakhil (pelit) tentu memiliki tujuan tertentu, bahwa membaca kisah-kisah mereka tidak kurang hikmahnya dari membaca kisah-kisah lainnya.

Dalam kisah di atas, kekikiran (kebakhilan) tidak ditampilkan sekadarnya saja. Kekikiran ditampilkan begitu baik dengan seperangkat metodologinya. Ketika tuan yang kikir menyuruh budaknya untuk menghidangkan makanan lalu menutup pintu, itu sudah menggambarkan kekikiran yang metodologis. Dengan menutup pintu, ia menyingkirkan peluang dimintai orang yang melintasi rumahnya. Ia berusaha mempertahankan kekikirannya tanpa merusak citranya.

Akan tetapi, metodologi yang sudah sedemikian bagus disalahkan oleh budaknya. “Ini salah, (tuan), yang benar adalah tutup pintu dulu baru hidangkan makanan,” katanya. Pendekatan kikir (bakhil) yang diajukan budaknya jauh lebih logis. Sebab, jika menghidangkan makanan lebih dulu lalu menutup pintu, itu masih memberi peluang bagi orang yang melintasi rumahnya, meski kemungkinannya sangat kecil. Tapi, jika menutup pintu terlebih dahulu lalu menghidangkan makanan, peluang itu sama sekali tertutup. Inilah yang membuatnya dibebaskan tuannya.

Pembebasan tersebut dapat dipahami menggunakan dua arah; pertama, sangat kikirnya tuan dari budak tersebut, sehingga pengetahuan tentang cara kikir yang baik membuatnya bahagia. Kedua, ketakutan tuannya, sebab budak yang cerdas dalam berbagai pendekatan kikir membuatnya takut akan sering dibohongi, sebelum itu terjadi ia memutuskan untuk membebaskan budaknya. Lalu, apa hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas? Sebelum masuk lebih jauh, mari kita simak firman Allah SWT berikut ini (QS Ali Imran: 180):

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil (kikir) dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka, harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.”

Dalam ayat di atas, Allah memperingatkan orang-orang bakhil (kikir) dengan keras bahwa harta mereka akan dikalungkan di leher mereka kelak di hari kiamat. Artinya sifat kikir itu sangat berbahaya bagi kesejahteraan individu maupun sosial. Secara individu, kikir membatasi jiwa manusia dari pancaran kasih sayang, sedangkan akar kebaikan di dunia ini adalah kasih sayang. Secara sosial, kikir menjadi penyebab utama minimnya pendapatan zakat dan pemasukan pajak negara, sehingga berperan besar dalam terhentinya distribusi kesejahteraan yang merata. Ini baru dari satu pandangan yang telah disederhanakan, belum pandangan menyeluruh, karena fokus kita di sini hanya pada wilayah, “bagaimana seharusnya manusia menyikapi kekikirannya?”

Banyak orang kikir tidak tahu dirinya kikir, jika pun tahu ia menganggapnya biasa-biasa saja, dan mengiranya tidak berbahaya. Inilah kenapa pandangan kita terhadap kikir harus dirubah. Selama ini banyak yang berpandangan kikir (pelit) sebatas pada “diminta tapi tidak memberi” atau “tidak pernah memberi sama sekali”. Pandangan seperti itu memang benar, tapi kita harus mulai menempatkan kikir sebagai proses internalisasi diri. Artinya kita harus mencari muasal dari sifat kikir, dan melepaskannya dari sekadar predikat semata. Kita lebih sering menggunakan kata “kikir/pelit” untuk orang lain daripada diri kita sendiri. Kita terlalu memperhatikan perlakuan orang lain kepada kita, tapi menolak untuk mengenali kekikiran kita sendiri. Inilah yang harus kita rubah.

Terlebih dahulu kita harus akui bahwa setiap manusia disemayami oleh sifat kikir dengan potensi yang sama. Potensi menjadi sangat kikir, kikir saja, dan agak kikir. Menghilangkan sepenuhnya bisa dikatakan mustahil. Sedermawan apapun manusia pasti ada kekikiran di hatinya. Pertanyaannya, kikirnya itu kikir yang lunak atau kikir yang keras? 

Perlu diketahui, lunak atau kerasnya kikir itu tidak permanen, tapi berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manusianya. Jika kita baca kisah-kisah para wali, kita sering temui kedermawanan mereka di luar penalaran kita. Sayyidina Abdullah bin Abbas yang memberikan rumah beserta isinya secara cuma-cuma kepada Sayyidina Abu Ayyub al-Anshari. Sayyid Abul Hasan al-Syadzili yang secara sukarela memberikan apapun yang diminta orang kepadanya, dan masih banyak contoh lainnya. 

Sifat-sifat dasar mereka sebagai manusia tidak berbeda dengan sifat-sifat dasar kita. Maksudnya, mereka dan kita memiliki potensi dasar yang sama dalam meraih ketakwaan. Sama-sama bermula dari tangisan kelahiran, kemudian tumbuh kembang, dan pada akhirnya meninggal. Karena itu Rasulullah bersabda (HR Imam al-Bukari): “ni’matâni maghbûnun fîhimâ katsîrun minan nâs al-shihhah wa al-farâg—ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tak merasainya; nikmat sehat dan waktu luang.” 

Jika dikembangkan begini, waktu per-hari semua orang adalah 24 jam, baik Imam al-Syafi’i, Sayyid Abul Hasan al-Syadzili maupun orang bakhil dalam kisah di atas tadi. Dengan modal yang sama; sehat dan waktu sehari 24 jam, apa yang membuat kita, orang bakhil dan para dermawan itu berbeda? Padahal awalnya sama, dengan modal yang sama pula. Tidak ada salah satu darinya yang waktu per-harinya 34 jam. Kita pun sehat, sama seperti mereka.

Yang membedakan adalah usaha diri kita sendiri. Orang-orang mulia itu tidak hanya mengisi waktunya dengan menuntut ilmu sejak kecil, tapi juga terus berusaha menyehatkan spiritualitasnya. Sementara kita sibuk dengan “entah apa”. Memang, ada pengaruh lingkungan, tapi hal ini tidak bisa dijadikan sebagai dalih. Sebab, jutaan orang yang lahir di lingkungan yang sama dengan mereka tidak seperti mereka. Begitu pun sebaliknya, beberapa orang yang lahir di lingkungan seperti kita, banyak yang terlihat seperti mereka dalam konteks kedemawanannya. Karena itu, kita perlu lebih sering melihat ke dalam diri, mengamati dan menilainya, meski susah menjelaskan bagaimana caranya secara terperinci.

Memang, kita tidak bisa pungkiri, membangun konsep pelunakan “kekikiran” sangat sukar dilakukan di ruang tulis yang sempit ini. Tapi setidaknya kita bisa memperoleh gambaran kecil sebagai pengantarnya. Semoga saja gambaran kecil itu membawa kita untuk terus mencari gambaran-gambaran lain yang lebih besar, dan alangkah baiknya, selama dalam pencarian, kita selalu membaca doa Rasulullah (HR Imam Abu Dawud):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Wahai Allah, sungguh aku berlindung padaMu dari bingung dan sedih, aku berlindung padaMu dari lemah dan malas, aku berlindung padaMu dari pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari belitan hutang dan keganasan manusia.”

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.


Share:
Selasa 9 April 2019 12:0 WIB
Kisah Doa Sang Anak untuk Orang Tua di Alam Kubur
Kisah Doa Sang Anak untuk Orang Tua di Alam Kubur
Ilustrasi (Ist.)
Suatu hari seorang alim bermimpi bertemu dengan para ahli kubur. Dalam mimpinya ia melihat para ahli kubur sedang berebut dan memungut berbagai macam bingkisan yang berserakan. Tak lama kemudian ia melihat ada satu orang yang sedang duduk acuh tidak tergiur sama sekali dengan berbagai barang berharga yang sedang diperebutkan tersebut. Orang alim ini pun dibuat heran dan penasaran.

"Mengapa anda diam saja tidak seperti mereka mengambil barang-barang itu?" tanya sang alim kepada orang tersebut.

Mendapat pertanyaan itu, ia langsung menjawab bahwa mereka yang sedang sibuk itu sedang mengambil 'paket kiriman' dari umat Islam yang mendoakan ahli kubur berupa bacaan Al-Qur'an, sedekah dan doa.

"Saya sendiri tidak butuh 'bingkisan' itu sebab saya sudah punya semuanya," jawab laki-laki itu dengan mantap.

"Dari mana Anda bisa mendapatkan barang-barang itu?" tanya sang alim yang tambah penasaran.

"Saya punya anak yang berjualan kue di pasar X, setiap hari dia selalu mengirim bacaan Al-Qur'an dan doa kepadaku," jawabnya

Tidak lama kemudian, sang alim ini terbangun dari tidurnya dan semua yang terjadi dalam mimpinya itu sangat jelas teringat hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi pasar X dan mencari seseorang yang menjual kue.

Berangkatlah sang alim ini menuju pasar X dan tidak perlu waktu lama untuk menemukan penjual kue di sana. Firasat orang alim ini semakin kuat ketika melihat mulut penjual kue ini tidak henti-hentinya bergerak seperti sedang membaca sesuatu.

"Saya melihat mulut Anda dari tadi tidak berhenti bergerak, kalau boleh tahu apa yang sedang dibaca?" tanya orang alim itu.

"Oh, saya sedang membaca Al-Qur'an dan dikirimkan khusus untuk orang tuaku yang sudah meninggal," jawabnya.

Jawaban itu cukup memuaskan sang alim sebab apa yang disampaikan penjual kue itu ternyata memiliki hubungan dengan mimpi yang dialaminya kemarin.

Beberapa waktu kemudian, sang alim ini kembali bermimpi sebagaimana sebelumnya, namun ada sesuatu yang berbeda. Ia melihat orang yang dulu hanya duduk manis, sekarang juga ikut memungut 'bingkisan' dengan para ahli kubur lainnya. Sang alim tak sempat berkomunikasi, sebab orang itu terlihat begitu sibuk.

Ketika sudah bangun dari tidurnya, sang alim ini sedikit kebingungan hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali menemui sang penjual kue di pasar.

Namun saat sampai di pasar, sang alim tidak menemukan penjual kue itu sebab menurut informasi yang didapat, penjual kue yang waktu itu selalu membasahi bibirnya dengan bacaan Al-Qur'an ternyata sudah meninggal dunia.

Akhirnya sang alim pun menyimpulkan bahwa orang yang di mimpi pertama hanya duduk manis kemudian di mimpi kedua sibuk berebut 'bingkisan' itu ternyata sudah tidak lagi mendapat kiriman doa dari anaknya.

Dzikir yang berisi doa dan bacaan ayat suci Al-Quran atau juga sedekah yang dilakukan orang hidup kemudian 'dikirimkan' untuk orang yang sudah meninggal dunia sesungguhnya bisa sampai dan memberi manfaat bagi ahli kubur. Hal ini dibahas dalam kitab I'anatut Thalibin jilid 2 halaman 143.

Syaikh Bakri Syata Ad-Dimyati, sang penulis kitab tersebut mengutip hadits Rasulullah dan pendapat para ulama dalam membahas pentingnya ziarah dan mengirim doa untuk orang meninggal dunia sebagaimana kisah inspiratif ini. (Aiz Luthfi)
Senin 8 April 2019 21:45 WIB
Cara Imam Bakr al-Muzani Menilai Orang Lain
Cara Imam Bakr al-Muzani Menilai Orang Lain
Ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. (Ilustrasi: freepik)
Dalam kitab Shifat al-Shafwah, Imam Ibnu Jauzi mencatat sebuah riwayat tentang Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani. Berikut riwayatnya:

عن كنانة بن جبلة السلمي قال: قال بكر بن عبد الله: إذا رأيت من هو أكبر منك فقل: هذا سبقني بالإيمان والعملي الصالح فهو خير منّي, وإذا رأيت من هو أصغر منك فقل: سبقتُه إلي الذنوب والمعاصي فهو خير منّي, وإذا رأيت إخوانك يكرمونك ويعظّمونك فقل: هذا فضل أخذوا به, وإذا رأيت منهم تقصيرا فقل: هذا ذنب أحدثتُه

Dari Kinanah bin Jablah al-Sulami, ia berkata: Imam Bakr bin Abdullah berkata: “Ketika kau melihat orang yang lebih tua darimu, katakanlah (pada dirimu sendiri): ‘Orang ini telah mendahuluiku dengan iman dan amal shalih, maka dia lebih baik dariku.’ Ketika kau melihat orang yang lebih muda darimu, katakanlah: ‘Aku telah mendahuluinya melakukan dosa dan maksiat, maka dia lebih baik dariku.’ Ketika kau melihat teman-temanmu memuliakan dan menghormatimu, katakanlah: ‘Ini (karena) kualitas kebajikan yang mereka miliki.’ Ketika kau melihat mereka kurang (memuliakanmu), katakan: ‘Ini (karena) dosa yang telah kulakukan.” (Imam Ibnu Jauzi, Shifat al-Shafwah, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1985, juz 3, h. 248)

****

Sebagai pintu masuk memahami ungkapan di atas, kita harus membaca terlebih dahulu hadits nabi yang menjelaskan tentang dosa. Beliau Saw bersabda (HR Imam Muslim):

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya. Andai kalian tidak berbuat dosa, sungguh Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang mereka akan berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka.”

Hadits di atas perlu dipahami dengan cermat, karena bisa dianggap seolah-olah berdosa itu tidak masalah. Padahal titik beratnya bukan di situ. Dari kandungan maknanya, kita bisa temukan dua titik penting; pertama, pentingnya memohon ampunan kepada Allah, dan kedua, pengingat bahwa tidak ada manusia yang suci dari dosa, siapa pun orangnya kecuali para nabi.

Artinya, hadits tersebut adalah pengingat bagi manusia untuk tidak merasa “sok suci” dan “sok tidak memiliki dosa.” Di sinilah hikmah adanya dosa, sebagai penyeimbang dari pahala. Menurut para ulama, merasa berdosa lebih utama daripada merasa berpahala. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) mengomentari hadits di atas dengan mengatakan:

وهذا أحبّ إلى الله من فعل كثيرٍ من الطاعات فإنّ دوام الطاعات قد توجب لصاحبها العجب

“Ini (merasa berdosa) lebih disukai Allah daripada melakukan banyak ketaatan, karena tetapnya ketaatan terkadang membuat ujub pelakunya.” (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li-Mawâsim al-‘Âm min al-Wadhâ’if, Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1999, h. 57)

Apalagi jika ujubnya sudah sampai membuatnya menilai orang lain dengan buruk. Sebab, penilaian buruk terhadap orang lain, baik disadari atau tidak, berasal dari anggapan bahwa dirinya sudah baik, sehingga itu dijadikan ukuran dalam menilai orang lain. Karenanya sebagian ulama mengatakan: “Dzanbun aftaqiru bihi ilaihi ahabbu ilayya min thâ’atin adillu bihâ ‘alaihi—dosa yang membuatku butuh akan (ampunan)Nya lebih kusukai daripada ketaatan yang membuatku memamerkannya.” (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li-Mawâsim al-‘Âm min al-Wadhâ’if, 1999, h. 57-58)

Prasangka baik harus kita dahulukan dalam menilai seseorang, sejahat apapun orang tersebut. Andai kita melihat ada hal-hal yang perlu diperbaiki dari orang tersebut, lakukanlah dengan ma’ruf. Apalagi jika orang yang kita nilai adalah orang yang kita kenal atau dikenal berilmu. Kita harus lebih berhati-hati. Maka, penting bagi kita untuk menjadikan nasihat Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 108 H) sebagai pegangan sekaligus pengingat diri.

Baca juga:
Lima Jurus Imam al-Ghazali agar Terhindar dari Ujub
Ketika Pengarang Alfiyah Dihinggapi Rasa Ujub
Imam Bakr al-Muzani menghendaki manusia untuk melihat dirinya sendiri sebelum menilai orang lain. Bisa jadi yang menilai tidak lebih baik dari yang dinilai. Ia memahami betul bahwa tidak mungkin manusia mengenal sepenuhnya orang yang hendak dinilainya. Mereka tidak selalu bersama-sama selama 24 jam, hanya melihat sebagiannya saja. Karena itu, sangat penting menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. Lagi pula menilai diri sendiri adalah perbuatan terpuji.

Persoalan lain yang ditimbulkan dari kegemaran menilai orang lain adalah lupa untuk menilai diri sendiri, padahal itu sangat penting. Kenapa penting? Karena untuk mengembalikan kesadaran kita sebagai manusia yang penuh dosa. Dengan menilai diri sendiri (muhasabah) kita bisa meraba-raba semua dosa kita, lalu memohon ampun kepada Allah. Kebanyakan manusia membaca istighfar tanpa merasakan dosanya, atau tanpa menyadari bahwa ia sedang memohon ampunan. Ia hanya tahu bahwa istighfar adalah penghapus dosa, tapi lupa akan ingatan dosa-dosanya. Hal ini terjadi, salah satunya, karena kelalaian manusia dalam membaca dirinya, apalagi jika sudah disibukkan dengan membaca yang lainnya.

Dengan mengikuti nasihat Imam Bakr al-Muzani, kita bisa memperoleh dua hal sekaligus; intropeksi diri (muhasabah) dan berbaik sangka (husnudhan). Keduanya merupakan jalan pembuka pendewasaan spiritual, dan di waktu yang sama menghadiai kita dengan pahala. Intinya, jangan anggap pahala sebagai tabungan, karena bisa membuat kita merasa lebih kaya dari yang lainnya. Anggaplah pahala sebagai bahan bakar yang membuat kita selalu berusaha berada di jalan-Nya.

Sebagai penutup, ada satu nasihat luar biasa dari seorang tabi’in, murid Sayyidina Anas bin Malik (10-93 H), Imam Abû Qilâbah (w. 104 H) yang mengatakan:

إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له العذر جهدك, فإن لم تجد له عذرا فقل في نفسك لعل لأخي عذرا لا أعلمه

“Jika sampai kepadamu informasi tentang perbuatan saudaramu yang kau benci, carikan alasan (berbaik sangka) untuknya semampumu. Jika kau tidak menemukannya, maka katakan pada dirimu sendiri: “Mungkin saudaraku mempunyai alasan yang tidak aku ketahui.” (al-Hafidz Abu Nu’aim al-Asfahani, Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Asyfiyâ’, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988, juz 3, hlm 285)

Maka, berhati-hatilah menilai sesamamu, siapa tahu ia memiliki amal yang lebih banyak darimu. Allâhumma sallimnâ min fitnati hâdzihiz zaman. Amin.

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.
Ahad 7 April 2019 15:30 WIB
Kisah Ahmad bin Hanbal dan Perempuan Penenun
Kisah Ahmad bin Hanbal dan Perempuan Penenun
Dalam kitab Shifah al-Shafwah, Imam Ibnu Jauzi (w. 597 H) mencatat sebuah riwayat perjumpaan Imam Ahmad bin Hanbal dengan seorang wanita pekerja tenun. Berikut riwayatnya:

عبد الله بن أحمد بن حنبل قال: كنت مع أبي يوما من الأيام في المنزل، فدق داق الباب. قال لي: اخرج فانظر من بالباب؟ فخرجت فإذا امرأة. فقالت لي: استأذن لي على أبي عبد الله. قال: فاستأذنته. فقال: أخلها. قال: فدخلت فسلمت عليه. وقالت له: يا أبا عبد الله، أنا امرأة أغزل بالليل في السراج، فربما طفىء السراج، فأغزل في القمر، فعليّ أن أبيّن غزل القمر من غزل السراج؟ قال: فقال لها: إن كان عندك بينهما فرق فعليك أن تبيني ذلك. قال: قالت: يا أبا عبد الله أنين المريض شكوى؟ قال: أرجو ألّا يكون شكوى، ولكنه اشتكاء إلى الله عز وجل. قال: فودعته وخرجت. فقال لي: يا بني ما سمعت قط إنسانًا يسأل عن مثل هذا، اتبع هذه المرأة فانظر أين تدخل؟ قال: فاتبعتها فإذا قد دخلت إلى بيت بشر بن الحارث، واذا هي أخته. قال: فرجعت فقلت له. فقال: محال أن تكون مثل هذه إلا أختَ بشْر

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Suatu hari aku bersama ayahku di rumah, kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu.” Ayahku berkata: “Keluarlah dan lihat siapa yang ada di pintu.” Aku keluar, ternyata (yang mengetuk pintu) adalah seorang wanita. Ia berkata kepadaku: “Mintakan izin agar aku bisa menemui Abu Abdullah (panggilan Imam Ahmad bin Hanbal).” Maka aku memintakan izin kepadanya, dan beliau mengizinkannya.

Wanita itu masuk dan mengucapkan salam kepada ayahku, lalu ia bertanya: “Wahai Abu Abdullah, aku seorang wanita yang sering menenun di malam hari, seringkali lampunya padam, maka aku menenun di bawah cahaya rembulan. Apakah aku harus menjelaskan (mana yang hasil) tenunan dengan cahaya rembulan dan (mana yang hasil) tenunan dengan cahaya lampu?”

Ayahku (Imam Ahmad bin Hanbal) berkata kepadanya: “Jika menurutmu ada perbedaan di antara keduanya, kau harus menjelaskannya.” Wanita itu bertanya lagi: “Wahai Abu Abdullah, apakah rengekan orang sakit termasuk bentuk keluhan (yang dilarang)?” Ayahku menjawab: “Aku harap tidak (bukan keluhan yang dilarang), tapi hanya pengaduan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Ketika wanita itu sudah pulang, ayahku berkata kepadaku: “Anakku, aku tidak pernah mendengar seorang pun bertanya seperti ini. Ikutliah wanita tadi, lihatlah ke mana ia masuk.” Maka aku mengikutinya, kemudian ia masuk ke rumah Bisyri bin al-Harits. Ternyata ia saudara perempuannya. Setelah sampai di rumah, kuceritakan hal itu kepada ayahku. Ia berkata: “Rasanya hampir tidak mungkin ada seorang wanita sepertinya kecuali ia saudara perempuan Bisyri (al-Hafi).” (Imam Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1985, juz 2, hlm 525)

****

Kita sering mendengar kata “hati-hati”. Kita sering diminta berhati-hati oleh orang-orang terdekat kita. Pertanyaannya, apakah kita pernah sekali saja melakukannya? Atau mengingat permintaan itu, minimal sekali saja? Jangan-jangan anggukan kita sekadar basa-basi saja, meski kemungkinan besar pemintanya pun sama. Lalu kaitannya apa dengan kisah di atas?

Begini, jika hati-hati dalam konteks keseharian saja kita lalai, bagaimana bisa kita memahami kehati-hatian dalam konteks agama sebagai sesuatu yang harus dicapai, bukan datang dengan sendirinya. Bahasa agamanya adalah wara’. Imam Ibrahim bin Adham (w. 165 H) mendefinisikan wara’ sebagai berikut:

ترك كل شبهة وترك ما لا يعنيك

“Meninggalkan segala sesuatu yang syubhat (meragukan) dan meninggalkan sesuatu yang tidak berguna untukmu.” (Imam al-Qusyairi, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, Kairo: Dar al-Ma’arif, tt, juz 1, hlm 233)

Wanita tukang tenun dalam kisah di atas takut hasil tenunannya masuk ke dalam wilayah syubhat. Sebab, dalam proses penenunannya ia memanfaatkan dua cahaya berbeda, yang satu berbayar dan satunya gratis. Artinya ada perbedaan modal dalam proses produksinya. Logika hukumnya begini: jika persentasi zakat pertanian dibedakan berdasarkan sumber pengairannya, maka hasil tenunnya pun memiliki konsekuensi hukum yang sama. 

Karena itu, ia menanyakan persoalan ini kepada Imam Ahmad bin Hanbal, dan dijawab dengan sangat ringkas: “Jika menurutmu ada perbedaan di antara keduanya, kau harus menjelaskannya.” Imam Ahmad menggunakan kata “’indaki—menurutmu” dalam jawabannya, artinya ia tahu bahwa wanita di depannya ini bukan orang sembarangan. Bisa jadi wanita itu sudah tahu jawabannya, ia bertanya hanya untuk menguatkan pendapatnya.

Buktinya, Imam Ahmad langsung menyuruh anaknya untuk mengikuti wanita tersebut. Ia terkejut karena belum pernah mendengar pertanyaan semacam itu sepanjang hidupnya. Biasanya orang akan bertanya kepadanya tentang apa yang membatalkan shalat, apa syarat-syarat tayamum dan lain sebagainya. Tapi untuk pertama kalinya ada seseorang yang bertanya di luar perkiraannya. Ternyata, wanita itu adalah saudara perempuan Imam Bisyri al-Hafi (w. 227 H). Disebut al-Hafi karena ia tak pernah memakai sandal. Imam Ahmad sangat menghormati Imam Bisyri. Ketika ada seseorang yang bertanya kepadanya tentang wara’, ia tidak berani menjawabnya dan menyuruh orang tersebut bertanya kepada Imam Bisyri al-Hafi.

Setelah tahu siapa wanita itu, Imam Ahmad berujar, “Rasanya hampir tidak mungkin ada seorang wanita sepertinya kecuali ia saudara perempuan Bisyri.” Menurut Imam Ibnu Jauzi, perempuan itu bernama Mukhah. Dalam riwayat Ghailan al-Qashâidî, Imam Bisyri bin al-Hârits al-Hafi berkata:

تعلّمت الورع من أختي فإنها كانت تجتهد ألا تأكل ما للمخلوق فيه صنع

“Aku belajar wara’ dari saudara perempuanku, ia berusaha (berjuang) untuk tidak memakan apa-apa yang dibuat oleh makhluk.” (Imam Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1985, juz 2, hlm 524)

Kehati-hatian Sayyidah Mukhah dalam menghindari syubhat membuatnya berusaha untuk memakan apa-apa yang tidak dibuat oleh makhluk. Hal ini memang sukar dilakukan, dan bisa dikatakan mustahil. Karena itu kata yang dipakai adalah “tajtahidu—berusaha/berjuang”. Jadi, bukan tidak memakannya sama sekali, tapi berusaha memakan yang jelas berkah dan kehalalannya. Dengan demikian, ketika ia temui perbedaan proses tenun yang menggunakan dua sumber cahaya berbeda tadi, ia melakukan pemilahan. Inilah poin pentingnya, bukan soal “mungkin” atau “tidak mungkin” berusaha tidak memakan buatan makhluk.

Sederhananya begini, keteguhan Sayyidah Mukhah menggenggam kewara’annya, yaitu berusaha untuk tidak memakan apa-apa yang dibuat oleh makhluk, meluaskan cakrawala pemikirannya. Bagi orang biasa seperti kita, pertanyaan yang diajukan Sayyidah Mukhah pada Imam Ahmad bin Hanbal tidak akan melintas sama sekali, apalagi terpikirkan. Karena tangan kita masih terbuka, belum berusaha menggenggam sesuatu. Jadi, kita jangan dulu bicara jauh soal genggaman, karena apa yang hendak digenggam saja kita masih meraba-raba. Dengan kata lain, kita masih harus belajar banyak sebelum mengepalkan tangan kita untuk menggenggam sesuatu.

Sebelum diakhiri, kita perlu merenungkan kalimat ini, “Terkadang apa yang kita pandang tampak membatasi, sebenarnya membebaskan, dan apa yang kita pandang tampak membebaskan, sebenarnya membatasi.” Memang, praktik wara’ yang dilakukan Sayyidah Mukhah secara kasat mata tampak membatasi dan mustahil, tapi, di sisi lain, itulah yang meluaskan cakrawala kecerdasannya. Artinya, jika kita hendak mencari kebaikan, kita akan menemukannya. Karena Tuhan menciptakan kebaikan di mana-mana, di berbagai benda mati dan benda hidup, hanya bagaimana cara kita memandangnya.

Wallahu a’lam.


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.