IMG-LOGO
Trending Now:
Fiqih Perbandingan

Ragam Pendapat Ulama soal Hukum Mengonsumsi Kepiting

Kamis 11 April 2019 8:0 WIB
Share:
Ragam Pendapat Ulama soal Hukum Mengonsumsi Kepiting
Ilustrasi (via tripadvisor.co.uk)
Tidak dapat dipungkiri, kepiting merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Di samping rasanya yang lezat, makanan laut yang satu ini mengandung beragam gizi penting, meliputi: energi, protein, lemak, kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin B1, dan kolesterol. Selain itu, kepiting juga mengandung asam folat, vitamin B kompleks, mmega-3, serta berbagai mineral.

Kepiting dalam fiqih dikenal dengan istilah “al-hayawan al-barma’i", yaitu binatang yang dapat hidup di darat dan di laut, sebagaimana katak, penyu, dan buaya. Karenanya, para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengonsumsi binatang yang kaya kolesterol ini. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Juz 4, halaman 2799).

Pertama, ulama mazhab Hanafi dan Syafi’i menegaskan, mengonsumsi kepiting hukumnya haram, sebab termasuk kategori khaba’its (sesuatu yang menjijikkan). 

Ulama mazhab Hanafi mengharamkan kepiting, karena menurut mereka, binatang laut yang halal dikonsumsi hanya ikan semata. Sedangkan binatang lain selain ikan hukumnya haram, walaupun hidup di laut. Imam Ibnu Abidin menerangkan:

وَمَا عَدَا أَنْوَاعُ السَّمَكِ مِنْ نَحْوِ إِنْسَانِ الْمَاءِ وَخِنْزِيْرِهِ خَبِيْثٌ فَبَقِيَ دَاخِلًا تَحْتَ التَّحْرِيْمِ. وَحَدِيْثُ (هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ وَالْحِلُّ مَيْتَتُهُ) الْمُرَادُ مِنْهُ السَّمَكُ

"Dan selain berbagai macam ikan, seperti manusia laut dan babi laut, adalah menjijikkan dan masuk kategori haram. Sedangkan hadits; (Laut itu suci airnya dan halal bangkainya), maksudnya adalah ikan." (Lihat: Ibnu Abidin, Raddul Muhtar Alad Durril Mukhtar, juz 6, halaman 307. 

Imam At Thahawi dalam kitab Mukhtashar Ikhtilafil Ulama menyebutkan:

وَلَا يُؤْكَلُ شَيْءٌ مِنْ حَيَوَانِ الْبَحْرِ إِلَّا السَّمَكَ

"Dan binatang laut dalam bentuk apa pun tidak boleh dimakan kecuali ikan." (Lihat: At Thahawi, Mukhtashar Ikhtilafil Ulama, juz 3, halaman 214).

Sama dengan mazhab Hanafi, kitab-kitab mazhab Syafi’i pun juga secara tegas menyebutkan keharaman mengonsumsi kepiting. Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ menuliskan:

وَعَدَّ الشَّيْخُ أَبُو حَامِدٍ وَإِمَامُ الْحَرَمَيْنِ مِنْ هَذَا الضَّرْبِ الضِّفْدَعَ وَالسَّرَطَانَ، وَهُمَا مُحَرَّمَانِ عَلَى الْمَذْهَبِ الصَّحِيْحِ الْمَنْصُوْصِ، وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُوْرُ 

Syekh Abu Hamid dan Imam al-Haramain memasukkan katak dan kepiting ke dalam kategori binatang yang dapat hidup di dua tempat. Dua binatang tersebut diharamkan menurut pendapat yang shahih dan tercatat dalam mazhab. Dan dengan hukum haram ini, mayoritas ulama mazhab memutuskan. (Lihat: Imam Nawawi, Al-Majmu’, juz 9, halaman 30). 

Imam Ad Dumairi berkata:

يَحْرُمُ أَكْلُهُ لِاسْتِخْبَائِهِ كَالصَّدَفِ، قَالَ الرَّافِعِي : ولِمَا فِيْهِ مِنَ الضَّرَرِ

"Haram memakan kepiting karena ia selalu menyelinap (bersembunyi) seperti kerang. Imam Rafi’i berkata: Dan karena ia mengandung bahaya. (Lihat: Ad Dumairi, Hayatul Hayawan al-Kubra, juz 1, halaman 391).

Kedua, menurut mazhab Maliki dan mazhab Hanbali, kepiting halal dikonsumsi. Seorang ulama bermazhab Maliki bernama Ibnu Abdil Bar menyebutkan:  

وَصَيْدُ البَحْرِ كُلُّهُ حَلَالٌ إِلَّا أَنَّ مَالِكاً يَكْرَهُ خِنْزِيْرَ الْمَاءِ لِاسْمِهِ وَكَذَلِكَ كَلْبُ الْمَاءِ عِنْدَهُ وَلَا بَأْسَ بِأَكْلِ السَّرَطَانِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَالضِّفْدَعِ

Dan binatang buruan laut semuanya halal, hanya saja imam Malik memakruhkan babi laut karena namanya, begitu pula anjing laut, menurutnya. Dan tidak haram memakan kepiting, penyu, dan katak. (Lihat: Ibnu Abdil Bar, Al-Kafi, juz 1, halaman 187).

Senada dengan ulama mazhab Maliki, para ulama mazhab Hanbali juga menghalalkan kepiting. Ibnu Muflih menuturkan:   

وَعَنْهُ – أَيْ عَنْ أَحْمَدَ - فِي السَّرَطَانِ وَسَائِرِ الْبَحْرِيْ : أَنَّهُ يَحِلُّ بِلَا ذَكَاةٍ؛ لِأَنَّ السَّرَطَانَ لَا دَمَ فِيْهِ

Dan dari imam Ahmad tentang hukum kepiting dan berbagai binatang laut: Ia halal sekalipun tidak disembelih, sebab kepiting tidak memiliki darah (mengalir). (Lihat: Ibnu Muflih, Al-Mubdi’, juz 9, halaman 214).

Sedangkan dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah menjelaskan:

كُلُّ مَا يَعِيْشُ فِي الْبَرِّ مِنْ دَوَابِّ الْبَحْرِ لَا يَحِلُّ بِغَيْرِ ذَكَاةٍ كَطَيْرِ الْمَاءِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَكَلْبِ الْمَاءِ إِلَّا مَا لَا دَمَ فِيْهِ كَالسَّرَطَانِ فَإِنَّهُ يُبَاحُ بِغَيْرِ ذَكَاةٍ

Setiap apa yang (dapat) hidup di daratan berupa binatang melata laut itu tidak halal, tanpa disembelih (terlebih dahulu), seperti burung laut, penyu, dan anjing laut. Kecuali binatang yang tidak memiliki darah, seperti kepiting, maka boleh dimakan tanpa disembelih. (Lihat: Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 9, halaman 337)

Pada tahun 2002, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa tentang hukum kepiting. Dalam fatwa tersebut diputuskan bahwa kepiting halal dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia. Fatwa ini didasarkan pada hasil temuan mereka yang menyebutkan bahwa kepiting merupakan binatang air, baik di air laut maupun di air awar, dan bukan binatang yang hidup di dua alam; di laut dan di darat. 

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan, ulama berbeda pendapat tentang hukum mengonsumsi kepiting. Ulama mazhab Hanafi dan Syafi’i mengharamkannya, sementara ulama mazhab Maliki dan Hanbali menghalalkannya. Adapun Majelis Ulama Indonesia juga menghalalkan kepiting. 

Artinya, para pembaca yang budiman disuguhi dua pendapat berbeda tentang hukum mengonsumsi kepiting; halal dan haram. Bagi orang yang ingin berhati-hati dalam masalah hukum agama, ia bisa memilih pendapat yang mengharamkannya. Dan baginya, berbagai alternatif makanan lain yang kandungan gizi dan vitaminnya tidak kalah dari kepiting, seperti udang, cumi-cumi dan berbagai ikan laut lainnya.

Sedangkan bagi pecinta kepiting, ia bisa mengikuti pendapat ulama yang menghalalkannya, sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatannya. Wallahu A’lam

   
Ustadz Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Pengurus Lembaga Dakwah PCNU Jombang
  

Tags:
Share:
Ahad 17 Maret 2019 22:0 WIB
Ragam Pendapat Ulama soal Bepergian di Hari Jumat
Ragam Pendapat Ulama soal Bepergian di Hari Jumat
Saat ini, bepergian sudah menjadi kebutuhan pokok manusia. Biasanya, seseorang bepergian karena ada kebutuhan dan tujuan tertentu, baik itu untuk bekerja, bertemu relasi bisnis, berlibur, atau sekadar bersilaturahim ke sanak saudara. Bepergian disyariatkan dalam Islam. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah. (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Bahkan, bepergian merupakan salah satu sebab disyariatkannya rukhsah (keringanan) berupa shalat jama’, qashar, dan ifthar (tidak berpuasa). Islam juga tidak membatasi seseorang untuk bepergian; kapan pun dan ke mana pun, asalkan dengan niat dan tujuan yang baik. Akan tetapi, bagi seseorang yang mempunyai kewajiban melakukan shalat Jumat, bepergian di hari Jumat memiliki ketentuan hukum tersendiri.

Para ulama sepakat akan kebolehan bepergian di hari Jumat bagi orang yang menduga dapat melaksanakan shalat Jumat di tengah perjalanan atau di tempat tujuan, dan bagi orang yang terkena mudarat bila tidak bepergian di hari Jumat, berupa tertinggal dari rekan rombongannya.

Sedangkan, mereka berbeda pendapat soal hukum bepergian bagi selain kedua orang tersebut. Pertama, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad (dalam satu riwayat), menegaskan tidak boleh bepergian setelah terbitnya fajar di hari Jumat. Mereka berpedoman pada hadits riwayat Ibnu Umar: 

مَنْ سَافَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ دَعَتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ أَنْ لَا يُصْحَبَ فِي سَفَرِهِ

“Barangsiapa bepergian di hari Jumat, malaikat mendoakan kejelekan baginya; agar tidak mendapatkan teman di perjalanannya.” (HR. Al-Daruquthni) 

Pada hadits di atas, malaikat mendoakan kejelekan bagi orang yang bepergian di hari Jumat. Dengan demikian, bepergian di hari jumat diharamkan.

Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 2, halaman 96, berkata:

ـ (وَ) حَرُمَ عَلَى مَنْ تَلْزَمُهُ الْجُمُعَةُ، وَإِنْ لَمْ تَنْعَقِدْ بِهِ (سَفَرٌ) تَفُوْتُ بِهِ الْجُمُعَةُ، كَأَنْ ظَنَّ أَنَّهُ لَا يُدْرِكُهَا فِيْ طَرِيْقِهِ أَوْ مَقْصَدِهِ وَلَوْ كَانَ السَّفَرُ طَاعَةً مَنْدُوْبًا أَوْ وَاجِبًا (بَعْدَ فَجْرِهَا) أَيْ فَجْرِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

Haram bagi orang yang kewajiban melaksanakan shalat Jumat, meskipun keabsahan Jumat tidak tergantung padanya, melakukan perjalanan setelah terbitnya fajar hari Jumat yang menyebabkan ia meninggalkan shalat Jumat, seperti ia menduga tidak dapat melaksanakan shalat Jumat di perjalanan atau tempat tujuan, baik bepergian yang wajib atau sunah,

Kedua, sebagian ulama mazhab Hanafi menyatakan bolehnya bepergian sampai sebelum berakhirnya waktu shalat Jumat. Mereka beralasan bahwa hukum asal bepergian adalah boleh. Ia tidak diharamkan kecuali karena ada sebab, salah satunya kewajiban melakukan shalat Jumat. Sedangkan, shalat Jumat itu tidak menjadi wajib kecuali menjelang berakhirnya waktu. Karenanya, jika seseorang bepergian sebelum berakhirnya waktu shalat Jumat, berarti dia bepergian sebelum adanya sebab diharamkannya bepergian. Maka hukumnya boleh.

Namun, mayoritas ulama mazhab Hanafi menyebutkan, bepergian setelah masuk waktu shalat Jumat hukumnya makruh.

Ketiga, mayoritas ulama, meliputi Imam Malik dan Imam Ahmad (dalam riwayat yang kuat) menegaskan kebolehan bepergian sebelum masuk waktu shalat Jumat. Sedangkan, bepergian setelah masuk waktu shalat Jumat hukumnya haram. 

Mereka berpegangan pada hadits riwayat Zuhri, ia berkata:

خَرَجَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسَافِرًا يَوْمَ الْجُمْعَةِ، ضُحًى، قَبْلَ الصَّلَاةِ

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bepergian di hari Jumat, pada waktu Dhuha, sebelum shalat Jumat. (HR. Abdul Razzaq dan Baihaqi).

Hadits di atas menerangkan, Rasul shallallahu alaihi wasallam bepergian di hari Jumat pada waktu shalat Dhuha. Dengan demikian, bepergian di hari Jumat, sebelum masuk waktu shalat, hukumnya boleh.

Di samping itu, mereka juga berpedoman pada hadits:

أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ سَرِيَّةً فِيْهَا عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ، وَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ جُمْعَة، فَتَخَلَّفَ عَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ لِيُصَلِّيَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمِّ يَلْحَقَ بِالْجَيْشِ، فَلَمَّا صَلَّى رَآهُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: (مَا مَنَعَكَ أَنْ تَغْدُوَ مَعَ أَصْحَابِكَ؟)، فَقَالَ: أَرَدْتُ أَنْ أُصَلِّيَ مَعَكَ ثُمَّ أُلْحِقَهُمْ، فَقَالَ: (لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا مَا أَدْرَكْتَ فَضْلَ غُدْوَتِهِمْ) ـ

Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus pasukan, di antaranya Abdullah ibnu Rawahah. Hari itu adalah hari Jumat. Sehingga, Abdullah Ibnu Rawahah berangkat terlambat agar bisa shalat Jumat bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian menyusul pasukan. Ketika selesai shalat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihatnya, lalu bersabda: “Apa yang mencegahmu untuk berangkat pagi-pagi bersama sahabat-sahabatmu?” Ia menjawab: “Aku ingin shalat bersamamu, lalu aku menyusul mereka.” Rasul bersabda: “Seandainya kamu menginfakkan seluruh apa yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan menjumpai (menyamai) keutamaan keberangkatan mereka di waktu pagi.” (HR. Turmudzi dan Baihaqi).

Pada hadits ini, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan Abdullah Ibnu Rawahah akan keutamaan berangkat pagi-pagi bersama pasukan, dibanding shalat Jumat bersama Rasul. Dari sini dapat difahami, bepergian sebelum masuk waktu shalat Jumat hukumnya boleh. (Hasyim Jamil, Masa’il Minal Fiqhil Muqaran, Damaskus: Darus Salam, tahun 2007, halaman 171-173).

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa bepergian bagi selain orang yang menduga dapat melaksanakan shalat Jumat di perjalanan atau di tempat tujuan, dan bagi orang yang takut tertinggal rombongan, hukumnya diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang mengharamkannya, jika sudah terbit fajar. Ada yang membolehkannya atau memakruhkannya sampai sebelum waktu Jumat selesai. Dan ada yang membolehkannya jika dilakukan sebelum masuk waktu shalat Jumat. 

Dengan demikian, ada tiga pilihan pendapat ulama yang bisa diamalkan bagi orang yang akan bepergian. Pendapat Imam Syafi’i mengandung unsur kehati-hatian. Pendapat mazhab Hanafi mengandung makna kemudahan. Sedangkan pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad tampaknya merupakan jalan tengah antara pendapat Imam Syafi’i dan pendapat mazhab Hanafi. Wallahu a’lam.


Ustadz Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Pengurus LDNU Jombang.
  

Selasa 26 Februari 2019 15:30 WIB
Beda Pendapat Ulama soal Dua Shalat Jumat dalam Satu Desa
Beda Pendapat Ulama soal Dua Shalat Jumat dalam Satu Desa
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
Saat masih kecil, penulis sering menyaksikan perdebatan antara penduduk desa terkait hukum dua shalat Jumat dalam satu desa. Pasalnya, di desa sebelah terdapat dua masjid; masjid barat dan masjid timur. Kedua masjid sama-sama besar dan memiliki takmir masing-masing. Takmir kedua masjid merasa berhak untuk menyelenggarakan shalat Jumat.

Untuk menghentikan polemik tersebut, para perangkat desa, takmir kedua masjid, dan tokoh masyarakat berkumpul serta bermusyawarah. Kemudian mereka sepakat untuk menggunakan salah satu masjid sebagai tempat shalat Jumat, sebab menurut keyakinan mereka tidak boleh ada dua shalat Jumat dalam satu desa. 

Menurut hemat penulis, kejadian semacam ini tidak hanya dialami oleh penduduk desa dimaksud, melainkan banyak penduduk desa yang lain. Karenanya, kita perlu memahami hukum dua shalat Jumat atau lebih dalam satu desa.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum permasalahan ini. Pertama, Imam Abu Hanifah, Amr bin Dinar dan ulama mazhab Dzahiriyyah menegaskan bahwa melaksanakan dua atau lebih shalat Jumat dalam satu desa hukumnya boleh. 

Mereka berpedoman pada firman Allah subhanahu wata’ala:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ   

Dan dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (QS. Al-Haj: 78).

Ayat ini menyatakan, segala kesulitan dalam beragama dihilangkan, terutama terkait aturan yang menyangkut orang banyak, seperti shalat Jumat. Sementara, mewajibkan umat Islam berkumpul di satu tempat untuk melaksanakan shalat Jumat merupakan sebuah kesulitan, apalagi bagi orang yang tinggal jauh dari masjid. Karenanya, kesulitan itu harus dihilangkan dengan memperbolehkan mendirikan shalat Jumat lebih dari satu.     

Selain itu, mereka juga berpegangan pada ucapan Ali radhiyallahu anhu:

 لَا جُمْعَةَ إِلَّا فِيْ مِصْرٍ جَامِعٍ

Tidak ada shalat Jumat kecuali di pemukiman (desa) yang ada masjidnya (Abdullah bin Abi Syaibah, Al-Mushnaf, Darul Fikr, Juz 2, Halaman 545).

Hadis di atas menjelaskan, shalat Jumat dianggap sah jika dikerjakan di pemukiman. Artinya, shalat Jumat tetap dihukumi sah, sekalipun didirikan di dua tempat atau lebih, selama tempat-tempat itu berada di pemukiman penduduk.

Kedua, menurut Imam Abu Yusuf dan Imam Syafi’i dalam salah satu riwayat yang kuat, tidak boleh ada dua shalat Jumat atau lebih dalam satu desa. Mereka berpedoman pada firman Allah subhanahu wata’ala:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ. لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا.  

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu selama-lamanya. (QS. At-Taubah: 107-108).

Ayat ini menjelaskan keharaman membangun masjid berdekatan dengan masjid lain, sebab dapat memecah belah umat Islam. Sedangkan, mendirikan dua shalat Jumat dalam satu desa juga berpotensi memecah belah umat Islam, maka tidak boleh.

Di samping itu, mereka juga berpegangan pada riwayat Bukair bin al-Asyaj:

عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الأَشَجّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَشْيَاخُنَا: أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَلُّوْنَ فِي تِسْعِ مَسَاجِدَ فِي عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَسْمَعُوْنَ أَذَانَ بِلَالٍ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمْعَةِ حَضَرُوا كُلُّهُمْ مَسْجِدَ رَسْوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Bukair bin al-Asyaj, ia berkata: Guru-guru kami bercerita kepadaku bahwa pada masa Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam masih hidup, mereka mengerjakan shalat di Sembilan masjid, padahal mereka mendengar azan Bilal. Tetapi, setiap hari Jumat datang, mereka semua datang ke masjid Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam. (Baihaki, Makrifatus Sunan wal Atsar, Juz 5, halaman 157).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa para sahabat senantiasa mengerjakan shalat Jumat di masjid Nabi shallallahu a’laihi wasallam meskipun ada banyak masjid lain. Dari sini dapat difahami bahwa melaksanakan dua shalat Jumat dalam satu desa tidak boleh. Seandainya hal ini terjadi, maka shalat Jumat pertama dianggap sah dan yang kedua dianggap batal.

Ketiga, menurut Imam Malik, Imam Ahmad, dan pendapat yang benar dalam mazhab Syafi’i, dalam satu desa tidak boleh ada lebih dari satu shalat Jumat, kecuali ada kebutuhan (hajat), seperti: Masjid sempit dan tidak mungkin diperluas, desa sangat luas, jarak yang sangat jauh antara satu masjid ke masjid lainnya, dan adanya permusuhan antar penduduk.  

Mereka berpedoman pada firman Allah subhanahu wata’ala:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. 

Ayat ini menegaskan bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi kaum Muslimin. Sementara, membolehkan mendirikan dua shalat Jumat karena ada kebutuhan merupakan bentuk kemudahan yang dikehendaki oleh Allah.

Mereka juga berpedoman pada fatwa (atsar) Atho’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Juraij:

عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ: قُلْتُ لِعَطَاء: أَرَأَيْتَ أَهَلَ الْبَصْرَةِ لَا يَسَعُهُمُ الْمَسْجِدُ الْأَكْبَرُ كَيْفَ يَصْنَعُوْنَ؟ قَالَ: لِكُلِّ قَوْمٍ مَسْجِدٌ يُجَمِّعُوْنَ فِيْهِ، ثُمَّ يُجْزِئُ ذَلِكَ عَنْهُمْ 

Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku berkata kepada Atho’: Apakah kamu melihat penduduk Bashrah, masjid paling besar tidak muat untuk mereka,apa yang mereka perbuat ? Ia berkata: Setiap kaum memiliki masjid tempat mereka berkumpul (untuk shalat Jumat). Lalu bagi mereka, hal itu sudah cukup.

Pada atsar di atas, Atho’ membolehkan mendirikan dua shalat Jumat sebab ada hajat dan darurat, yaitu masjid terbesar di Bashrah tidak mampu menampung seluruh jama’ah. (Lihat: Hasyim Jamil, Masa’il Minal Fiqhil Muqaran, Damaskus, Darus Salam, halaman 164-168).

Dari ketiga pendapat di atas, tampaknya pendapat ketiga yang menyatakan kebolehan mendirikan dua shalat Jumat dalam satu desa, karena ada hajat atau darurat, merupakan pendapat yang kuat. Sebab, pendapat ini selaras dengan prinsip al-taysir (memberikan kemudahan) dalam Islam. Pendapat ini juga lebih membawa kemaslahatan bagi kaum muslimin, dan syiar Islam, mengingat saat ini jumlah masjid semakin banyak. Wallahu a’lam.


Ustadz Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung, dan Pengurus LDNU Jombang.
Ahad 27 Januari 2019 14:30 WIB
Beda Pendapat Ulama soal 'Mendekati' Istri Sebelum Mandi Besar
Beda Pendapat Ulama soal 'Mendekati' Istri Sebelum Mandi Besar
Ilustrasi (bsnscb.com)
Bagi banyak orang, berhubungan seksual merupakan hiburan yang sangat menyenangkan. Akan tetapi, aktivitas itu kadang terhenti karena istri menstruasi. Saat menstruasi datang, suami-istri dituntut bersabar untuk tidak berhubungan seksual, sampai datang masa suci, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artiya: “Janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka (istri-istri) telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS al-Baqarah: 222)

Hanya saja, mereka berbeda pendapat tentang makna suci dalam ayat tersebut. Pertama, Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa maksud suci adalah berhentinya darah menstruasi. Artinya, jika darah menstruasi telah berhenti maka diperbolehkan melakukan hubungan seksual, sekalipun sang istri belum mandi besar.

Imam Abu Hanifah memaknai kata “Yathurna” dan “Tatahharna” pada ayat di atas dengan “berhentinya darah menstruasi”. Dengan demikian, larangan menyetubuhi istri hanya sampai batas waktu berhentinya darah menstruasi. Setelah darah berhenti, diperbolehkan menyetubuhinya.

Kedua, mayoritas ulama meliputi Imam Malik, Imam Syafi’i,dan Imam Ahmad bin Hambal menyebutkan, makna suci adalah bersuci dengan air atau mandi besar. Artinya, agar diperbolehkan melakukan hubungan seksual, ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu: berhentinya darah, dan sudah mandi besar.

Mereka memahami kata “Yathurna” dan “Tatahharna” pada ayat tersebut dengan “mandi besar”. Dengan demikian, larangan menyetubuhi istri bukan hanya sampai berhentinya darah menstruasi, melainkan sampai dia telah mandi. Setelah dia mandi, baru diperbolehkan menyetubuhinya.

Pendapat kedua ini diperkuat oleh qira’ah Imam Hamzah dan Imam Al-Kisa’i “Hatta Yattahharna”; menggunakan harakat tasydid, yang berarti mandi. Di samping itu, Allah subhanahu wata’ala mensyaratkan dua hal agar istri boleh digauli, yaitu berhentinya darah dan mandi, maka kedua syarat itu harus dipenuhi.

Ketiga, Imam Thawus dan Imam Mujahid menyatakan, istri boleh disetubuhi setelah ia membasuh kemaluannya dan berwudhu.

Dari ketiga pendapat di atas, pendapat kedua yang menegaskan kewajiban mandi besar sebagai syarat diperbolehkannya berhubungan seksual, tampaknya merupakan pendapat yang kuat. Karena Allah subhanahu wata’ala menutup ayat tersebut dengan firman-Nya:

  إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Potongan ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri, termasuk orang yang menyucikan diri dari kotoran darah menstruasi dengan cara mandi. Selain itu, fitrah manusia membenci kotoran dan menyukai kebersihan. (Lihat: Muhammad Ali As-Shabuni, Rawa’iul Bayan Tafsiru Ayatil Ahkam Minal Qur’an, halaman 301-302). Wallahu a’lam.


Ustadz Husnul Haq, Dosen IAIN Tulungagung dan Pengurus LDNU Jombang.