IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Orang yang Sok Yakin dengan Keadaan

Kamis 11 April 2019 11:30 WIB
Share:
Kisah Orang yang Sok Yakin dengan Keadaan
Ilustrasi (via nunn.asia)
Dalam kitab Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy (w. 597 H) memasukkan cerita menarik tentang orang yang sok yakin dengan keadaan. Berikut ceritanya:

وخرج رجل إلي السوق يشتري حمارا فلقيه صديق له فسأله، فقال: إلي السوق لأشتري حمارا، فقال: قل إن شاء الله، فقال: ليس ها هنا موضع إن شاء الله، الدراهم في كمي والحمار في السوق. فبينما هو يطلب الحمار سرقت منه الدراهم فرجع خائبا، فلقيه صديقه، فقال له: ما صنعت؟ فقال: سرقت الدراهم إن شاء الله، فقال له صديقه: ليس ها هنا موضع إن شاء الله

Seorang laki-laki keluar menuju pasar untuk membeli keledai. (Dalam perjalanan) ia bertemu dengan temannya, dan ditanya (hendak kemana?). Ia menjawab: “Hendak ke pasar untuk membeli keledai.” Temannya berkata: “Katakan insyaallah.”

Laki-laki itu menjawab: “Tidak perlu lagi (mengatakan) insyaallah dalam keadaan seperti ini. Uang sudah di saku dan keledai ada di pasar.” (Sesampainya di pasar) ketika sedang mencari keledai, uangnya dicuri. Ia pun pulang dengan wajah murung.

(Dalam perjalanan pulang), ia bertemu lagi dengan temannya, ia bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu (murung)?” Laki-laki itu menjawab: “Insyaallah uangku dicuri.” Temannya berkata: “Tidak perlu lagi (mengatakan) insyaallah dalam keadaan seperti ini.” (Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy, Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Beirut: Dar al-Fikr al-Lubnani, 1990, h. 161)

****

Kisah di atas ini unik, seorang laki-laki enggan mengucapkan “insyaallah” karena menurut pertimbangannya, apa yang diharapkannya pasti terjadi. Syarat-syaratnya sudah mencukupi; uang dan keledai, tapi kenyataan berbicara lain. Kelengkapan persyaratan yang dimilikinya tidak menjamin ia bisa mendapatkan apa yang ia mau. Ada sisi lain yang luput dari pertimbangannya; pencurian yang membuatnya gagal mendapatkan keledai. Uniknya lagi, laki-laki itu malah mengucapkan “insyaallah” setelah uangnya tercuri, dengan wajah murung. Ia menyandingkan ucapan “insyaallah” dengan musibah yang dialaminya. Menarik bukan? Mari kita telusuri pembahasannya.

Ucapan “insyaallah”, makna standarnya berarti “apabila Allah menghendaki.” Mengucapkannya termasuk ibadah. Allah SWT berfirman (QS. Al-Kahfi: 23-24):

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا. إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

“Jangan sekali-kali kau berkata tentang sesuatu: ‘sungguh aku akan melakukannya besok.’ Kecuali (mengucapkan: insyaallah) apabila Allah menghendaki, dan ingatlah Tuhanmu di saat kau lupa serta ucapkan: ‘Semoga Tuhanku menunjukiku pada jalan terdekat menuju hidayah.”

Dalam Tafsîr al-Thabarî, lafal “illâ an yasyâ’alllah...” dipandang sebagai ta’dîb minallah (pendidikan dan hukum dari Allah) yang disampaikan pada nabi-Nya agar memegang teguh bahwa segala kejadian hanya mungkin terjadi karena “masyi’atilllah—kehendak Allah.” (Imam al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî, juz 17, hlm 644). 

Kesalahannya adalah banyak orang yang memahami makna “kehendak Allah” atau “izin Allah” tidak dengan sikap positif. Ketika segala sesuatu tidak berjalan baik, kita cenderung menyalahkan Tuhan, meski dengan suara kecil yang malu-malu. Padahal, jika dipahami secara mendalam, “kehendak Allah” tidak mungkin buruk, yang dikehendaki-Nya selalu kebaikan bagi hamba-Nya. Ini murni soal persangkaan kita kepadaNya. Jika persangkaan kita baik, kita akan dipenuhi energi positif untuk terus maju; jika persangkaan kita buruk, kita akan diam menggerutu tanpa gerak maju.

Kembali ke soal “insyaallah.” Dari wilayah pelakunya, pengucapan “insyaallah” dapat dipahami dalam beberapa tingkatan. Pertama, orang yang tidak menganggap penting pengucapannya seperti contoh di atas. Kedua, orang yang mengucapkan “insyaallah” karena kebiasaan, bukan karena benar-benar terselami oleh maknanya. Ketiga, orang yang mengucapkan “insyaallah” dan menghayati betul makna terdalamnya.

Untuk yang pertama, kita tidak perlu membahasnya karena sudah ada contohnya di atas. Yang kedua, kita tidak bisa pungkiri bahwa pengucapan “insyaallah” sudah menjadi kebiasaan umum. Di satu sisi bagus, di sisi lain membuat maknanya tereduksi. Sebab, ada dua wajah yang saling berlawanan ketika pengucapan “insyaallah” dilakukan tanpa kesadaran makna. Wajah positifnya adalah, menunjukkan bahwa kita orang yang beriman, meski secara tanpa sadar ketika mengucapkannya. Wajah negatifnya adalah, ketika “insyaallah” digunakan untuk berjanji, tapi tidak ditepati. Misalnya, “besok aku tunggu di lapangan ya, ada hal penting yang ingin kubicarakan.” Kemudian dijawab, “insyaallah, jam tiga ya.” Nyatanya tidak datang. Artinya ucapan “insyaallah” hanya menjadi istilah bahasa yang lumrah sekaligus meninggalkan kesan bahwa Tuhanlah yang menghendakinya tidak tepat janji. Dengan kata lain, kesakralannya turun hingga pengucapnya melupakan nilai agama yang terkandung di dalamnya.

Ketiga, bagi orang-orang dalam kategori ini mengucapkan “insyaallah” dapat memberi mereka tiga kekuatan sekaligus; pertama, kekuatan bergerak maju, kedua, kekuatan berendah hati, dan ketiga, kekuatan bertanggung jawab. 

Penjelasannya begini. Maksud dari kekuatan bergerak maju adalah “persangkaan baik kepada Allah”. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kehendak Allah untuk hambaNya pasti baik, tidak mungkin Allah menghendaki keburukan untuk hamba-hambaNya. Dengan mengucapkan “insyaallah”, kita telah menanamkan prasangka baik kepada Allah, sehingga menghasilkan kekuatan bergerak maju yang penuh optimisme dan positif.

Berikutnya kekuatan berendah hati. Maksudnya, dengan mengucapkan “insyaallah” kita sedang berupaya meminimalisasi keangkuhan kita, bahwa semua yang kita raih murni hasil usaha kita sendiri. Bagi orang yang berusaha mengamalkannya, insyaallah akan terhindar dari perasaan sombong. Bahkan dalam hal beribadah sekalipun, contohnya kerelaan Nabi Ismail di saat hendak disembelih ayahnya. Dalam Al-Qur’an disebutkan (QS. Ash-Shaffat: 102):

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, niscaya kau akan dapati aku, insyaallah, termasuk dalam orang-orang yang sabar.”

Nabi Ismail mengucapkan “insyaallah” karena ia tahu bahwa kesabarannya adalah anugerah dari Allah, bukan murni dari dirinya sendir. Sebab, jika ada orang yang menyatakan dirinya seorang penyabar tapi menafikan peran Tuhan di dalamnya, baik disadari atau tidak, ia telah mendekati kesombongan.

Yang terakhir adalah kekuatan bertanggung jawab. Maksudnya adalah kuat memegang amanah karena ketakwaan kepada Allah. Sebab begini, ucapan “insyaallah” bagi orang-orang yang berusaha mendalami maknanya adalah amanah. Bagaimana tidak, kita berjanji menggunakan nama Tuhan (berucap insyaallah), tapi tidak kita tepati, bukankah itu keterlaluan. Nama Tuhan yang Maha Tinggi kita gunakan untuk berbohong, terlepas dari sadar atau tidak, seperti yang diuraikan sebelumnya.

Oleh karena itu, kita harus mulai mendekati “insyaallah” dengan sudut pandang baru. Kebiasaan mengucapkannya harus dilestarikan, tapi didampingi dengan peningkatan kesadaran akan nilainya, terutama tiga kekuatan tadi. Sulit sih, tapi tidak mustahil. Ya, namanya juga refleksi. Tujuannya untuk memeriksa diri dengan pertanyaan, “kita seperti itu apa tidak sih?”

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren Al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan. 


Share:
Rabu 10 April 2019 14:0 WIB
Kisah Budak Kikir Dibebaskan karena Kekikirannya
Kisah Budak Kikir Dibebaskan karena Kekikirannya
Ilustrasi (via ffgnesqs.com)
Dalam kitab al-Bukhalâ (orang-orang kikir/bakhil), Imam al-Khathib al-Baghdadi mencantumkan riwayat tentang seorang budak dan tuannya yang kikir. Berikut riwayatnya:

أخبرني الأزهري وعبيد بن علي الرقي قالا: حدّثنا عبيد الله بن محمد المقريء، حدثنا محمد بن يحي الصولي، حدثنا يموت، هو ابن المزرّع، قال: قال الجاحظ: قال رجلٌ من البخلاء لغلامه: هات الطعام وأغلق الباب. فقال: هذا خطأ، بل أغلق الباب وأتِ بالطّعام. قال: أنت حرّ لعلمك بالحزم.

Dikabarkan oleh al-Azhari dan Ubaid bin Ali al-Raqqi, mereka berdua berkata: “Diceritakan oleh Ubaidillah bin Muhammad al-Muqri, dari Muhammad bin Yahya al-Shuli, dari Yamut, yaitu Ibnu al-Muzarra’, ia berkata: al-Jahiz berkata: 

“Seorang laki-laki kikir (bakhil) berkata pada budaknya: ‘Hidangkan makanan dan tutup pintu.’ Budak itu menjawab: ‘Ini salah, (tuan), yang benar adalah tutup pintu dulu baru hidangkan makanan.” Tuannya berkata: “Kau (ku)bebaskan karena pengetahuanmu yang mantap.” (Imam Abu Bakr Ahmad al-Khatib al-Baghdadi, Kitâb al-Bukhalâ’, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 2000, hlm 102)

****

Kali ini agak berbeda. Hikmah yang disajikan tidak seperti sebelumnya. Biasanya hikmah diambil dari kisah kesalehan atau ketakwaan seseorang, tapi kali ini berbeda. Sebelum masuk terlalu dalam, kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa hikmah tidak melulu dapat diambil dari kisah yang membuat kita “wow” dan berujar “ooh, iya, iya, iya.” 

Karena hikmah bisa diambil dari mana saja, termasuk dari cerita si kikir yang lumayan lucu. Itulah kenapa ada kisah tentang Fir’aun, Abu Lahab, Qarun, dan lain sebagainya dalam Al-Qur’an dan hadits. Usaha Imam al-Khatib al-Baghdadi (463 H) mengumpulkan berbagai riwayat orang-orang bakhil (pelit) tentu memiliki tujuan tertentu, bahwa membaca kisah-kisah mereka tidak kurang hikmahnya dari membaca kisah-kisah lainnya.

Dalam kisah di atas, kekikiran (kebakhilan) tidak ditampilkan sekadarnya saja. Kekikiran ditampilkan begitu baik dengan seperangkat metodologinya. Ketika tuan yang kikir menyuruh budaknya untuk menghidangkan makanan lalu menutup pintu, itu sudah menggambarkan kekikiran yang metodologis. Dengan menutup pintu, ia menyingkirkan peluang dimintai orang yang melintasi rumahnya. Ia berusaha mempertahankan kekikirannya tanpa merusak citranya.

Akan tetapi, metodologi yang sudah sedemikian bagus disalahkan oleh budaknya. “Ini salah, (tuan), yang benar adalah tutup pintu dulu baru hidangkan makanan,” katanya. Pendekatan kikir (bakhil) yang diajukan budaknya jauh lebih logis. Sebab, jika menghidangkan makanan lebih dulu lalu menutup pintu, itu masih memberi peluang bagi orang yang melintasi rumahnya, meski kemungkinannya sangat kecil. Tapi, jika menutup pintu terlebih dahulu lalu menghidangkan makanan, peluang itu sama sekali tertutup. Inilah yang membuatnya dibebaskan tuannya.

Pembebasan tersebut dapat dipahami menggunakan dua arah; pertama, sangat kikirnya tuan dari budak tersebut, sehingga pengetahuan tentang cara kikir yang baik membuatnya bahagia. Kedua, ketakutan tuannya, sebab budak yang cerdas dalam berbagai pendekatan kikir membuatnya takut akan sering dibohongi, sebelum itu terjadi ia memutuskan untuk membebaskan budaknya. Lalu, apa hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas? Sebelum masuk lebih jauh, mari kita simak firman Allah SWT berikut ini (QS Ali Imran: 180):

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil (kikir) dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka, harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.”

Dalam ayat di atas, Allah memperingatkan orang-orang bakhil (kikir) dengan keras bahwa harta mereka akan dikalungkan di leher mereka kelak di hari kiamat. Artinya sifat kikir itu sangat berbahaya bagi kesejahteraan individu maupun sosial. Secara individu, kikir membatasi jiwa manusia dari pancaran kasih sayang, sedangkan akar kebaikan di dunia ini adalah kasih sayang. Secara sosial, kikir menjadi penyebab utama minimnya pendapatan zakat dan pemasukan pajak negara, sehingga berperan besar dalam terhentinya distribusi kesejahteraan yang merata. Ini baru dari satu pandangan yang telah disederhanakan, belum pandangan menyeluruh, karena fokus kita di sini hanya pada wilayah, “bagaimana seharusnya manusia menyikapi kekikirannya?”

Banyak orang kikir tidak tahu dirinya kikir, jika pun tahu ia menganggapnya biasa-biasa saja, dan mengiranya tidak berbahaya. Inilah kenapa pandangan kita terhadap kikir harus dirubah. Selama ini banyak yang berpandangan kikir (pelit) sebatas pada “diminta tapi tidak memberi” atau “tidak pernah memberi sama sekali”. Pandangan seperti itu memang benar, tapi kita harus mulai menempatkan kikir sebagai proses internalisasi diri. Artinya kita harus mencari muasal dari sifat kikir, dan melepaskannya dari sekadar predikat semata. Kita lebih sering menggunakan kata “kikir/pelit” untuk orang lain daripada diri kita sendiri. Kita terlalu memperhatikan perlakuan orang lain kepada kita, tapi menolak untuk mengenali kekikiran kita sendiri. Inilah yang harus kita rubah.

Terlebih dahulu kita harus akui bahwa setiap manusia disemayami oleh sifat kikir dengan potensi yang sama. Potensi menjadi sangat kikir, kikir saja, dan agak kikir. Menghilangkan sepenuhnya bisa dikatakan mustahil. Sedermawan apapun manusia pasti ada kekikiran di hatinya. Pertanyaannya, kikirnya itu kikir yang lunak atau kikir yang keras? 

Perlu diketahui, lunak atau kerasnya kikir itu tidak permanen, tapi berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manusianya. Jika kita baca kisah-kisah para wali, kita sering temui kedermawanan mereka di luar penalaran kita. Sayyidina Abdullah bin Abbas yang memberikan rumah beserta isinya secara cuma-cuma kepada Sayyidina Abu Ayyub al-Anshari. Sayyid Abul Hasan al-Syadzili yang secara sukarela memberikan apapun yang diminta orang kepadanya, dan masih banyak contoh lainnya. 

Sifat-sifat dasar mereka sebagai manusia tidak berbeda dengan sifat-sifat dasar kita. Maksudnya, mereka dan kita memiliki potensi dasar yang sama dalam meraih ketakwaan. Sama-sama bermula dari tangisan kelahiran, kemudian tumbuh kembang, dan pada akhirnya meninggal. Karena itu Rasulullah bersabda (HR Imam al-Bukari): “ni’matâni maghbûnun fîhimâ katsîrun minan nâs al-shihhah wa al-farâg—ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tak merasainya; nikmat sehat dan waktu luang.” 

Jika dikembangkan begini, waktu per-hari semua orang adalah 24 jam, baik Imam al-Syafi’i, Sayyid Abul Hasan al-Syadzili maupun orang bakhil dalam kisah di atas tadi. Dengan modal yang sama; sehat dan waktu sehari 24 jam, apa yang membuat kita, orang bakhil dan para dermawan itu berbeda? Padahal awalnya sama, dengan modal yang sama pula. Tidak ada salah satu darinya yang waktu per-harinya 34 jam. Kita pun sehat, sama seperti mereka.

Yang membedakan adalah usaha diri kita sendiri. Orang-orang mulia itu tidak hanya mengisi waktunya dengan menuntut ilmu sejak kecil, tapi juga terus berusaha menyehatkan spiritualitasnya. Sementara kita sibuk dengan “entah apa”. Memang, ada pengaruh lingkungan, tapi hal ini tidak bisa dijadikan sebagai dalih. Sebab, jutaan orang yang lahir di lingkungan yang sama dengan mereka tidak seperti mereka. Begitu pun sebaliknya, beberapa orang yang lahir di lingkungan seperti kita, banyak yang terlihat seperti mereka dalam konteks kedemawanannya. Karena itu, kita perlu lebih sering melihat ke dalam diri, mengamati dan menilainya, meski susah menjelaskan bagaimana caranya secara terperinci.

Memang, kita tidak bisa pungkiri, membangun konsep pelunakan “kekikiran” sangat sukar dilakukan di ruang tulis yang sempit ini. Tapi setidaknya kita bisa memperoleh gambaran kecil sebagai pengantarnya. Semoga saja gambaran kecil itu membawa kita untuk terus mencari gambaran-gambaran lain yang lebih besar, dan alangkah baiknya, selama dalam pencarian, kita selalu membaca doa Rasulullah (HR Imam Abu Dawud):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Wahai Allah, sungguh aku berlindung padaMu dari bingung dan sedih, aku berlindung padaMu dari lemah dan malas, aku berlindung padaMu dari pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari belitan hutang dan keganasan manusia.”

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.


Selasa 9 April 2019 12:0 WIB
Kisah Doa Sang Anak untuk Orang Tua di Alam Kubur
Kisah Doa Sang Anak untuk Orang Tua di Alam Kubur
Ilustrasi (Ist.)
Suatu hari seorang alim bermimpi bertemu dengan para ahli kubur. Dalam mimpinya ia melihat para ahli kubur sedang berebut dan memungut berbagai macam bingkisan yang berserakan. Tak lama kemudian ia melihat ada satu orang yang sedang duduk acuh tidak tergiur sama sekali dengan berbagai barang berharga yang sedang diperebutkan tersebut. Orang alim ini pun dibuat heran dan penasaran.

"Mengapa anda diam saja tidak seperti mereka mengambil barang-barang itu?" tanya sang alim kepada orang tersebut.

Mendapat pertanyaan itu, ia langsung menjawab bahwa mereka yang sedang sibuk itu sedang mengambil 'paket kiriman' dari umat Islam yang mendoakan ahli kubur berupa bacaan Al-Qur'an, sedekah dan doa.

"Saya sendiri tidak butuh 'bingkisan' itu sebab saya sudah punya semuanya," jawab laki-laki itu dengan mantap.

"Dari mana Anda bisa mendapatkan barang-barang itu?" tanya sang alim yang tambah penasaran.

"Saya punya anak yang berjualan kue di pasar X, setiap hari dia selalu mengirim bacaan Al-Qur'an dan doa kepadaku," jawabnya

Tidak lama kemudian, sang alim ini terbangun dari tidurnya dan semua yang terjadi dalam mimpinya itu sangat jelas teringat hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi pasar X dan mencari seseorang yang menjual kue.

Berangkatlah sang alim ini menuju pasar X dan tidak perlu waktu lama untuk menemukan penjual kue di sana. Firasat orang alim ini semakin kuat ketika melihat mulut penjual kue ini tidak henti-hentinya bergerak seperti sedang membaca sesuatu.

"Saya melihat mulut Anda dari tadi tidak berhenti bergerak, kalau boleh tahu apa yang sedang dibaca?" tanya orang alim itu.

"Oh, saya sedang membaca Al-Qur'an dan dikirimkan khusus untuk orang tuaku yang sudah meninggal," jawabnya.

Jawaban itu cukup memuaskan sang alim sebab apa yang disampaikan penjual kue itu ternyata memiliki hubungan dengan mimpi yang dialaminya kemarin.

Beberapa waktu kemudian, sang alim ini kembali bermimpi sebagaimana sebelumnya, namun ada sesuatu yang berbeda. Ia melihat orang yang dulu hanya duduk manis, sekarang juga ikut memungut 'bingkisan' dengan para ahli kubur lainnya. Sang alim tak sempat berkomunikasi, sebab orang itu terlihat begitu sibuk.

Ketika sudah bangun dari tidurnya, sang alim ini sedikit kebingungan hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali menemui sang penjual kue di pasar.

Namun saat sampai di pasar, sang alim tidak menemukan penjual kue itu sebab menurut informasi yang didapat, penjual kue yang waktu itu selalu membasahi bibirnya dengan bacaan Al-Qur'an ternyata sudah meninggal dunia.

Akhirnya sang alim pun menyimpulkan bahwa orang yang di mimpi pertama hanya duduk manis kemudian di mimpi kedua sibuk berebut 'bingkisan' itu ternyata sudah tidak lagi mendapat kiriman doa dari anaknya.

Dzikir yang berisi doa dan bacaan ayat suci Al-Quran atau juga sedekah yang dilakukan orang hidup kemudian 'dikirimkan' untuk orang yang sudah meninggal dunia sesungguhnya bisa sampai dan memberi manfaat bagi ahli kubur. Hal ini dibahas dalam kitab I'anatut Thalibin jilid 2 halaman 143.

Syaikh Bakri Syata Ad-Dimyati, sang penulis kitab tersebut mengutip hadits Rasulullah dan pendapat para ulama dalam membahas pentingnya ziarah dan mengirim doa untuk orang meninggal dunia sebagaimana kisah inspiratif ini. (Aiz Luthfi)
Senin 8 April 2019 21:45 WIB
Cara Imam Bakr al-Muzani Menilai Orang Lain
Cara Imam Bakr al-Muzani Menilai Orang Lain
Ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. (Ilustrasi: freepik)
Dalam kitab Shifat al-Shafwah, Imam Ibnu Jauzi mencatat sebuah riwayat tentang Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani. Berikut riwayatnya:

عن كنانة بن جبلة السلمي قال: قال بكر بن عبد الله: إذا رأيت من هو أكبر منك فقل: هذا سبقني بالإيمان والعملي الصالح فهو خير منّي, وإذا رأيت من هو أصغر منك فقل: سبقتُه إلي الذنوب والمعاصي فهو خير منّي, وإذا رأيت إخوانك يكرمونك ويعظّمونك فقل: هذا فضل أخذوا به, وإذا رأيت منهم تقصيرا فقل: هذا ذنب أحدثتُه

Dari Kinanah bin Jablah al-Sulami, ia berkata: Imam Bakr bin Abdullah berkata: “Ketika kau melihat orang yang lebih tua darimu, katakanlah (pada dirimu sendiri): ‘Orang ini telah mendahuluiku dengan iman dan amal shalih, maka dia lebih baik dariku.’ Ketika kau melihat orang yang lebih muda darimu, katakanlah: ‘Aku telah mendahuluinya melakukan dosa dan maksiat, maka dia lebih baik dariku.’ Ketika kau melihat teman-temanmu memuliakan dan menghormatimu, katakanlah: ‘Ini (karena) kualitas kebajikan yang mereka miliki.’ Ketika kau melihat mereka kurang (memuliakanmu), katakan: ‘Ini (karena) dosa yang telah kulakukan.” (Imam Ibnu Jauzi, Shifat al-Shafwah, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1985, juz 3, h. 248)

****

Sebagai pintu masuk memahami ungkapan di atas, kita harus membaca terlebih dahulu hadits nabi yang menjelaskan tentang dosa. Beliau Saw bersabda (HR Imam Muslim):

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya. Andai kalian tidak berbuat dosa, sungguh Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang mereka akan berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka.”

Hadits di atas perlu dipahami dengan cermat, karena bisa dianggap seolah-olah berdosa itu tidak masalah. Padahal titik beratnya bukan di situ. Dari kandungan maknanya, kita bisa temukan dua titik penting; pertama, pentingnya memohon ampunan kepada Allah, dan kedua, pengingat bahwa tidak ada manusia yang suci dari dosa, siapa pun orangnya kecuali para nabi.

Artinya, hadits tersebut adalah pengingat bagi manusia untuk tidak merasa “sok suci” dan “sok tidak memiliki dosa.” Di sinilah hikmah adanya dosa, sebagai penyeimbang dari pahala. Menurut para ulama, merasa berdosa lebih utama daripada merasa berpahala. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) mengomentari hadits di atas dengan mengatakan:

وهذا أحبّ إلى الله من فعل كثيرٍ من الطاعات فإنّ دوام الطاعات قد توجب لصاحبها العجب

“Ini (merasa berdosa) lebih disukai Allah daripada melakukan banyak ketaatan, karena tetapnya ketaatan terkadang membuat ujub pelakunya.” (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li-Mawâsim al-‘Âm min al-Wadhâ’if, Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1999, h. 57)

Apalagi jika ujubnya sudah sampai membuatnya menilai orang lain dengan buruk. Sebab, penilaian buruk terhadap orang lain, baik disadari atau tidak, berasal dari anggapan bahwa dirinya sudah baik, sehingga itu dijadikan ukuran dalam menilai orang lain. Karenanya sebagian ulama mengatakan: “Dzanbun aftaqiru bihi ilaihi ahabbu ilayya min thâ’atin adillu bihâ ‘alaihi—dosa yang membuatku butuh akan (ampunan)Nya lebih kusukai daripada ketaatan yang membuatku memamerkannya.” (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li-Mawâsim al-‘Âm min al-Wadhâ’if, 1999, h. 57-58)

Prasangka baik harus kita dahulukan dalam menilai seseorang, sejahat apapun orang tersebut. Andai kita melihat ada hal-hal yang perlu diperbaiki dari orang tersebut, lakukanlah dengan ma’ruf. Apalagi jika orang yang kita nilai adalah orang yang kita kenal atau dikenal berilmu. Kita harus lebih berhati-hati. Maka, penting bagi kita untuk menjadikan nasihat Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 108 H) sebagai pegangan sekaligus pengingat diri.

Baca juga:
Lima Jurus Imam al-Ghazali agar Terhindar dari Ujub
Ketika Pengarang Alfiyah Dihinggapi Rasa Ujub
Imam Bakr al-Muzani menghendaki manusia untuk melihat dirinya sendiri sebelum menilai orang lain. Bisa jadi yang menilai tidak lebih baik dari yang dinilai. Ia memahami betul bahwa tidak mungkin manusia mengenal sepenuhnya orang yang hendak dinilainya. Mereka tidak selalu bersama-sama selama 24 jam, hanya melihat sebagiannya saja. Karena itu, sangat penting menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. Lagi pula menilai diri sendiri adalah perbuatan terpuji.

Persoalan lain yang ditimbulkan dari kegemaran menilai orang lain adalah lupa untuk menilai diri sendiri, padahal itu sangat penting. Kenapa penting? Karena untuk mengembalikan kesadaran kita sebagai manusia yang penuh dosa. Dengan menilai diri sendiri (muhasabah) kita bisa meraba-raba semua dosa kita, lalu memohon ampun kepada Allah. Kebanyakan manusia membaca istighfar tanpa merasakan dosanya, atau tanpa menyadari bahwa ia sedang memohon ampunan. Ia hanya tahu bahwa istighfar adalah penghapus dosa, tapi lupa akan ingatan dosa-dosanya. Hal ini terjadi, salah satunya, karena kelalaian manusia dalam membaca dirinya, apalagi jika sudah disibukkan dengan membaca yang lainnya.

Dengan mengikuti nasihat Imam Bakr al-Muzani, kita bisa memperoleh dua hal sekaligus; intropeksi diri (muhasabah) dan berbaik sangka (husnudhan). Keduanya merupakan jalan pembuka pendewasaan spiritual, dan di waktu yang sama menghadiai kita dengan pahala. Intinya, jangan anggap pahala sebagai tabungan, karena bisa membuat kita merasa lebih kaya dari yang lainnya. Anggaplah pahala sebagai bahan bakar yang membuat kita selalu berusaha berada di jalan-Nya.

Sebagai penutup, ada satu nasihat luar biasa dari seorang tabi’in, murid Sayyidina Anas bin Malik (10-93 H), Imam Abû Qilâbah (w. 104 H) yang mengatakan:

إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له العذر جهدك, فإن لم تجد له عذرا فقل في نفسك لعل لأخي عذرا لا أعلمه

“Jika sampai kepadamu informasi tentang perbuatan saudaramu yang kau benci, carikan alasan (berbaik sangka) untuknya semampumu. Jika kau tidak menemukannya, maka katakan pada dirimu sendiri: “Mungkin saudaraku mempunyai alasan yang tidak aku ketahui.” (al-Hafidz Abu Nu’aim al-Asfahani, Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Asyfiyâ’, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988, juz 3, hlm 285)

Maka, berhati-hatilah menilai sesamamu, siapa tahu ia memiliki amal yang lebih banyak darimu. Allâhumma sallimnâ min fitnati hâdzihiz zaman. Amin.

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.