IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Sayyidina Thalhah Mencurigai Sayyidina Umar

Ahad 14 April 2019 18:30 WIB
Share:
Ketika Sayyidina Thalhah Mencurigai Sayyidina Umar
Dalam kitab Hilyah al-Auliyâ’, Imam Abu Nu’aim al-Asbahânî, mencatat sebuah riwayat yang bercerita tentang Sayyidina Umar dan Sayyidina Thalhah. Berikut riwayatnya:

حدّثنا محمَّدُ بْنُ مَعْمَر، ثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْد الله، ثَنَا الْأَوْزاعيُّ، أَنّ عُمرَ بْنَ الْخطّاب، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خرج في سَوادِ اللّيْلِ اللّيْل فرأَه طلْحَةُ، فذهبَ عُمرُ فدَخلَ بيتًا ثُمَّ دَخلَ بَيتًا آخَر، فَلَمَّا أَصْبَحَ طَلْحَةُ ذهب إلى ذلك البيتِ فَإِذَا بِعَجُوزٍ عَمْيَاءَ مُقْعدةٍ، فقال لها: ما بال هذا الرّجلِ يَأْتِيكِ؟ قالتْ: إنّه يتَعَاهَدُنِي منْذُ كذا وكذا، يَأْتِينِي بِمَا يُصْلحنِي، ويخْرِج عنِّي الْأَذَى، فقال طلْحةُ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا طَلْحَة ‍ أَعَثَرَات عُمَرَ تَتْبَعُ؟»

Diceritakan Muhammad bin Ma’mar, dari Yahya bin Abdullah, dari al-Auza’i, bahwa sesungguhnya Umar bin al-Khattab radliyallahu ‘anhu keluar di suatu malam yang gelap, dan Thalhah melihatnya. Umar pergi dan memasuki sebuah rumah kemudian masuk ke rumah lainnya. Ketika (hari sudah) pagi, Thalhah pergi ke rumah (yang dimasuki Umar), ia bertemu dengan seorang wanita tua yang buta sedang duduk. 

Thalhah bertanya padanya: “Apa urusan laki-laki itu (Umar bin Khattab) mendatangimu?” Wanita itu berkata: “Sesungguhnya ia pernah menjanjikan kepadaku ini dan itu, ia mendatangiku dengan (membawa) kebutuhanku dan menghilangkan sakitku.”

Lalu Thalhah berkata (pada dirinya sendiri): “Celakalah kamu, wahai Thalhah! Apa kesalahan Umar yang sedang kau cari?” (Imam Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1974, juz 1, h. 48)

****

Manusia memiliki kecenderungan bersenang-senang, dan salah satu kesenangan yang paling digemari manusia adalah berprasangka. Berprasangka menghadirkan sensasi tersendiri, terutama prasangka buruk tentang sesamanya. Sifat ini ada di setiap manusia, siapapun orangnya, yang membedakan adalah sikapnya.

Dalam riwayat di atas, seorang sahabat yang mulia, Sayyidina Thalhah bin Ubaidillah (w. 36 H), menyesali prasangkanya, meski kita yakin prasangkanya berasal dari niat baiknya. Itu dibuktikan dengan tabayyun (klarifikasi) yang dilakukannya. Kecurigaan tidak langsung membuatnya menuduh. Ia berupaya memastikan terlebih dahulu dengan mendatangi salah satu rumah yang dikunjungi Sayyidina Umar malam itu. Ia mencoba mengkonfirmasi keraguannya. Setelah mendengar jawabannya, ia sangat menyesal, hingga menghardik dirinya sendiri dengan keras, “Celakalah kau, wahai Thalhah! Apa kesalahan Umar yang sedang kau cari?”

Inilah yang dimaksud “sikap”, respon baik yang ditampilkan, baik ketika curiga (dengan cara ber-tabayyun), maupun ketika menyesal (dengan cara tidak melanjutkan ke rumah-rumah lainnya). Lalu bagaimana dengan kita?

Kebanyakan dari kita tidak bisa menahan diri. Kita terlalu gemar membincangkan prasangka kita dengan orang lain, tanpa tabayyun, tanpa penyesalan, dan tanpa keberatan. Kita santai saja berbincang ke sana-kemari, meski prasangka yang kita miliki belum tentu benar adanya, tapi kita, dengan tanpa keseganan sedikit pun menyebarkannya. Kita lupa bahwa itu hanya prasangka. Allah berfirman (QS. An-Najm: 28):

وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.”

Ya, persangkaan itu tidak berfaedah sama sekali terhadap kebenaran, apalagi jika persangkaan itu tidak disertai pengetahuan (bukti) yang kuat. Sekarang ini, hanya bermodalkan prasangka, kita berani membuat berita dan menyebarkannya ke sana-kemari, tanpa ada hasrat untuk menelitinya terlebih dahulu. Ini diperparah dengan cara pandang terhadap berita berdasarkan suka atau tidak suka terhadap orang yang diberitakan. Bukan pada konten, penyebar, dan pembuatnya. Ini memprihatinkan. Karena itu, kita perlu merenungkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam berikut ini (HR. Imam al-Bukhari):

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah perasangka, karena prasangka adalah berita yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari isu; janganlah mencari-cari kesalahan; janganlah saling saing-menyaingi; janganlah saling hasud; janganlah saling membelakangi (bermusuhan), dan janganlah saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Hadits di atas bukanlah larangan berkontestasi secara sehat, karena Islam sendiri mendorong pemeluknya untuk “fastabîqul khairât—berlomba-lomba dalam berbuat baik”. Persoalannya terletak pada titik awal persaingan itu dimulai, bahasa umumnya “niat.” Jika diawali niat baik, persaingan “kebaikan” akan menghasilkan kebaikan. Jika diawali niat buruk, persaingan “kebaikan” pun bisa mengarah pada keburukan. 

Dengan demikian, kesadaran adalah kuncinya, tapi seringkali kesadaran kita tidak berfungsi. Maksudnya begini, kita sadar telah berbuat salah; kita sadar ini hal benar untuk dilakukan, tapi semuanya tidak berarti apa-apa. Kesadaran kita tidak menggerakkan kita untuk berbuat. Kita sekedar tahu, tapi tidak tergerak untuk melakukannya, meskipun sudah didorong dengan iming-iming pahala dan ancaman dosa, kita masih terlalu malas untuk beraktualisasi dengan kesadaran kita sendiri, apalagi kesadaran orang selain kita.

Kembali ke masalah prasangka buruk (su’udhan). Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah orang-orang yang membawa berita, atau mata rantai kedua dari sanad berita. Banyak dari kita, sekali mendengar langsung ikut menyebarkannya, tanpa melakukan kroscek sumber dan evaluasi kontennya. Perilaku seperti ini tidak disenangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda (HR. Imam Muslim):

 كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan bohong, jika ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar.”

Artinya, tanpa menelaah sumber dan kontennya, baik itu berita, desas-desus, gosip, ataupun tuduhan, kita diajarkan untuk menelitinya terlebih dahulu. Sebab, orang yang menyebarkan dan membicarakan apa saja yang didengarnya, tanpa melakukan kroscek terlebih dahulu, menurut Rasulullah, sudah bisa disebut pembohong. Tentu kita tidak mau termasuk orang yang disebut pembohong itu.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menilai sebuah informasi. Jangan terburu-buru mengeluarkan penilaian walaupun hati kita berbisik untuk mempercayainya. Kita harus merenung, menganalisa, dan melacak sumbernya. Andai pun setelah melakukan semua itu kebenaran semakin tampak, kita tetap harus menahan diri. Bisa jadi ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani mengatakan:

إيَّاك من الكلام ما إن أصبتَ فيه لَم تُؤجَر، وإن أخطأت فيه أثمت، وهو سوء الظنِّ بأخيك

“Berhati-hatilah dalam bicara, jika kau benar, kau tidak akan mendapat pahala. Jika kau salah, kau akan mendapat dosa. (Pembicaraan) itu adalah persangkaan buruk terhadap saudaramu.” (Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Tahdzîb al-Tahdzîb, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1995, juz 1, h. 244)

Dengan demikian, kita harus berusaha memfungsikan kesadaran kita, agar kita tidak menjadi salah satu dari mata rantai persangkaan buruk dan penyebarannya. Dengan kesadaran, kita akan mendahulukan tabayyun sebelum berprasangka buruk, apalagi kemudian menyebarkannya. Jikapun kita berposisi sebagai penerima berita, kita akan lebih berhati-hati dan menganalisisnya terlebih dahulu. Sebagai penutup, syair di bawah ini perlu kita renungkan:

لسانك لا تذكر به عورة امرئ # فأنك عورات وللنّاس أعين
وعينك إن أبدت إليك معايبا # فَصُنْهَا وقل: يا عين للنّاس أعين

Jangan biarkan lidahmu menyinggung cela yang selain(mu)
Karena kau memiliki cela, dan orang-orang memiliki mata
Matamu, jika melihat aib-aib saudaramu, tutupilah
Dan katakan: wahai mata(ku)! Semua orang punya mata

(Imam Jalaluddin al-Suyuthi, al-Kanz al-Madfûn wa al-Fulk al-Masyhûn, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2015, h. 413)

Wallahu’alam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Share:
Sabtu 13 April 2019 15:0 WIB
Kisah Imam Abu Thayyib dan Tukang Sepatu
Kisah Imam Abu Thayyib dan Tukang Sepatu
Ilustrasi (via Pinterest)
Dalam kitab Siyâr A’lâm al-Nubalâ’, Imam al-Dzahabi memasukkan hikayat menarik Imam Abu Thayyib dan tukang sepatu. Berikut riwayatnya:

قيل: إنّ أَبَا الطَّيِّبِ دفَع خُفّاً له إلى من يُصْلحه، فَمطَله، وَبَقِي كلما جاء نقعه في الْماءِ، وقال: الآنَ أُصلحه, فلمَّا طَال ذلك عليه، قال: إنّما دفعتُه إليْك لتُصلِحَه، لا لتُعلِّمه السِّباحَة

Dikisahkan, (suatau hari) Imam Abu Thayyib menyerahkan sepatunya pada tukang sepatu untuk diperbaiki. Tukang sepatu itu tidak langsung (memperbaiki)nya. (Akhirnya) ia tinggal (sepatunya di situ). Setiap kali ia datang, sepatunya masih terendam di dalam air, dan tukang sepatu itu berkata: “Sekarang akan kuperbaiki.”

Ketika ia telah lama menunggu (dan sepatunya masih berada di tempat air), Imam Abu Thayyib berkata: “Aku menyerahkan sepatuku padamu untuk diperbaiki, bukan untuk diajari berenang.” (Imam al-Dzahabi, Siyâr A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1985, juz 17, hlm 669)

****

Ternyata tidak hanya sekarang, dari dulu sudah ada pelayanan tidak profesional seperti ini. Padahal pelanggannya bukan orang sembarangan, seorang hakim (qadli), ahli fiqih besar mazhab Syafi’i, tapi tetap saja. Untungnya, Imam Abu Thayyib al-Thabari (348-450 H), meresponsnya dengan asyik, “Aku menyerahkan sepatuku padamu untuk diperbaiki, bukan untuk diajari berenang.” Lalu, di mana letak hikmahnya?

Begini, bicara hikmah itu enak sebenarnya. Di mana saja, di benda apa saja, dan dalam kejadian apa saja, hikmah bisa diambil. Masalahnya seberapa ingin kita bertafakkur dan mengenali hikmah itu tadi. Tapi tunggu dulu, keinginan saja belum cukup lho, ada seni untuk mengenalinya juga. Di sini kita akan mengupasnya satu persatu.

Kisah di atas itu termasuk kisah yang multi-tafsir. Perkataan Imam Abu Thayyib bisa dipersepsikan dalam banyak hal. Bisa berarti kemarahan; bisa berarti kelembutan; bisa berarti kritik santun; bisa berarti humor, dan lain sebagainya. Kenapa begitu? Karena intonasi bicaranya tidak bisa kita dengar, di samping tidak ada tanda baca yang jelas di dalamnya. Ini persoalannya.

Contoh umumnya begini. Ketika seorang suami sedang bertamu di rumah temannya, ponselnya berbunyi, ada Whatsapp masuk dari istrinya: “Mas, pulang”. Tanpa tanda baca dan intonasi, persepsi makna dari “Mas, pulang” menjadi beragam. Jika sang suami membacanya dengan intonasi tinggi, ia akan mengira istrinya marah. Jika membacanya dengan santai, maknanya akan berubah menjadi sekadar permintaan. Jika membacanya dengan nada kemesraan, ia akan mengartikannya sebagai kerinduan. Dan, tiga makna itu mempunyai konsekuensi yang berbeda-beda satu sama lainnya. “Marah” membuatnya bergegas pulang karena takut. “Permintaan” membuatnya tidak tergesa-gesa. “Kerinduan” membuatnya buru-buru pulang karena cinta.

Hal yang sama juga terjadi dalam kisah di atas, kita tidak benar-benar tahu intonasi bicara Imam Abu Thayyib al-Thabari. Kita tidak tahu jika ia sedang marah, bercanda, kritik mendidik, atau bagaimana. Semua ekspresi yang disebutkan tadi bisa masuk dalam kisah di atas. Untuk memahaminya, kita butuh cara pembacaan teks yang indah. 

Cara pembacaan teks yang dimaksud di sini bukan cara pembacaan yang metodologis dan sistematik. Itu ada ilmunya sendiri. Kita hanya akan membicarakan aspek spiritualnya saja, atau lebih tepatnya ‘bagaimana seharusnya seseorang mengolah jiwanya ketika membaca sebuah teks’. Ingat ya, ini bukan metodologi, sekadar refleksi saja. Maka, penyebutannya saja “cara pembacaan teks yang indah”, bukan cara pembacaan teks yang ilmiah. Mari kita simak uraiannya.

Syekh Syamsuddin al-Tabrizi (592-645 H), guru Maulana Rumi, mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah “book of love—kitab cinta” atau “a love letter—surat cinta” dari Tuhan. Ketika seseorang memandang Al-Qur’an sebagai surat cinta dari Tuhan, hatinya terhidupi asmara; pipinya berulangkali merona; jantungnya berpacu kencang; bibirnya tersenyum-senyum sendiri, dan darahnya menggelora bahagia di saat ia membacanya. Kekasih mana yang tak bahagia ketika menerima surat cinta dari kekasihnya. Ia perlakukan ayat-ayat-Nya dengan penuh cinta. Ketika membaca ayat-ayat ancaman, ia memeluknya sebagai kecemburuan. Ketika bertemu ayat-ayat perintah, ia bergegas dengan senyum kerelaan. Berbeda dengan orang yang hatinya diliputi kebencian.

Dan, menjalin cinta dengan Tuhan itu enak lho, aman dari “bertepuk sebelah tangan”. Di samping Tuhan teramat sangat memahami diri kita, mengabulkan doa yang belum pernah kita minta, menunda pengabulan doa untuk waktu yang tepat, dan mendewasakan kita dengan cobaan. Itu karena Tuhan sangat memahami kita, meski seringkali kita berprasangka kepada-Nya. Bagaimana tidak, tanpa minta pun kita diberikan udara untuk bernafas; tanpa minta pun kita diberikan bumi untuk berpijak, dan matahari untuk menghangatkan. Lalu kenapa kita lalai berdoa tentang mereka, apakah doa hanya diperlukan untuk yang tiada, dan yang tidak kita miliki saja? Entahlah, meski semuanya tergantung pada cara pembacaan kita tentang semuanya.

Yang hendak disampaikan di sini adalah, dengan pembacaan yang indah, hikmah dalam peristiwa terburuk pun, seperti kisah Fir’aun, dapat dipahami, apalagi kisah tukang sepatu dan Imam Abu Thayyib, sebuah kisah yang sisi buruknya masih tidak jelas (samar-samar). Menggunakan cara tersebut, perkataan Imam Abu Thayyib dapat diartikan sebagai kritik santun yang mendidik dan lucu. Seakan-akan di benak kita tergambar, ia mengucapkannya dengan penuh tawa dan wajah ceria, bergaya asyik dan cool, tanpa beban kemarahan sama sekali. Tapi, jika membacanya dengan hati yang marah, kesan yang akan ditangkap adalah, Imam Abu Thayyib sedang meluapkan kemarahannya, wajahnya merah, suaranya tinggi, matanya melotot, ia berdiri mendekati tukang sepatu itu dengan menunjuk-nunjuk wajahnya. 

Dengan kata lain, keadaan hati bisa berpengaruh pada cara pandang kita terhadap sesuatu. Karena itu, kita harus belajar mengolahnya, bila perlu semayamkan cinta dan kasih sayang di hati kita, pandang segala sesuatu dengan indah. Jika kita sungguh-sungguh mencari keindahan, ia akan kita temui, bahkan dari kotoran kerbau sekalipun. Paling tidak, kesadaran kita tentang keindahan membuat kita membersihkannya, agar tidak ada orang lain yang menginjak atau terganggu oleh baunya. Lalu kita bayangkan berapa banyak orang yang selamat darinya, itu akan menebarkan kebahagiaan di hati kita. 

Jadi, kita perlu belajar menanamkan perasaan itu di hati kita, seperti di kasus kotoran kerbau. Bila perlu, ketika menginjaknya, kita bersyukur bahwa kita yang menginjaknya, bukan orang lain. Artinya Tuhan memberi kita kesempatan beramal sekaligus kesempatan melatih diri. Pola pandang dan pola pikir seperti ini rasanya perlu dikembangkan, agar dunia terlihat lebih seksi dan penuh harapan. Mungkinkah dilakukan? Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen, dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.



Jumat 12 April 2019 10:0 WIB
Kisah Syekh al-A’masy dan Imam Shalat yang Panjang Bacaannya
Kisah Syekh al-A’masy dan Imam Shalat yang Panjang Bacaannya
Ilustrasi (Reuters)
Dalam kitab Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy (w. 597 H) mencatat riwayat seorang imam shalat yang membaca surat panjang ketika menjadi imam:

وعن مندل بن علي قال: خرج الأعمش ذات يوم من منزله بسحر، فمر بمسجد بني أسد وقد أقام المؤذن الصلاة، فدخل يصلي، فافتتح الإمام الركعة الأولى بالبقرة ثم في الركعة الثانية آل عمران، فلما انصرف قال له الأعمش: أما تتقي الله، أما سمعت حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من أمّ الناس فليخفف فإن خلفه الكبير والضعيف وذا الحاجة) فقال الإمام قال الله عز وجل: (وَإِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلَّا على الْخَاشِعِين) فقال الأعمش: أنا رسول الخاشعين إليك بأنك ثقيل.

Dari Mundil bin Ali berkata: “Suatu hari al-A’masy keluar dari rumahnya di saat subuh. Ia melintasi Masjid Bani Asad dan (ketika itu) muazin sedang mengumandangkan azan shalat. Ia masuk (ke masjid) untuk ikut shalat. Di rakaat pertama, imam shalat membukanya dengan (membaca) Al-Baqarah, dan di rakaat kedua (membaca) Ali ‘Imran.”

Selesai shalat, al-A’masy berkata pada imam itu: “Tidakkah kau takut kepada Allah? Tidakkah kau mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Barangsiapa yang menjadi imam (shalat), hendaknya ia memperingan, sebab di belakangnya ada orang yang sudah tua, orang yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan'.”

Imam shalat itu menjawab: “Allah ‘azza wa jalla berfirman (QS Al-Baqarah: 45): ‘Sungguh yang demikian ini sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” al-A’masy berkata: “(Justru itu) aku adalah utusan orang-orang khusyu’ (untuk memberitahu)mu bahwa (cara shalat)mu sungguh memberatkan.” (Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy, Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Beirut: Dar al-Fikr al-Lubnani, 1990, hlm 119)

****

Sebelum membahas ke sana-kemari, kita perlu tahu bahwa “mudah” tidak sama dengan “menyepelekan”. Mudah berarti mencari penyesuaian terbaik dengan keadaan diri, sedangkan menyepelekan cenderung menganggap remeh. Cerita di atas adalah kisah tentang pentingnya memahami keadaan orang lain dalam menerapkan agama, khususnya bagi para pemukanya. Karena itu, Imam Sulaiman bin Mihran al-A’masy (61-147 H), menegur imam shalat subuh yang membaca Surat Al-Baqarah dan Ali Imran di masing-masing rakaatnya. Ia mengutip sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan, “Barangsiapa yang menjadi imam (shalat), hendaknya ia memperingan, sebab di belakangnya ada orang yang sudah tua, orang yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan.”

Bahkan ada hadits yang lebih keras dari itu, sampai Sayyidina Abu Mas’ud al-Anshari mendeskripsikan kemarahan Rasulullah dengan ungkapan (HR, Imam Muslim): “fa mâ ra’aytun nabiyya ghadliba fî maw’idhatin qaththu asyadda mimmâ ghadliba yauma’idzin—tidak pernah kulihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam marah dalam memberi nasihat yang lebih hebat dari marahnya beliau hari itu.” Tidak hanya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut imam semacam itu sebagai orang yang membuat manusia lari dari agama (munaffirîn). 

Mendengar hadits itu, sang imam menjawab dengan ayat Al-Qur’an yang intinya hal itu mudah bagi orang-orang yang khusyu’. Tapi direspon dengan cerdas oleh Imam al-A’masy bahwa ia adalah utusan orang-orang khusyu’. Dengan kata lain, argumen orang khusyu yang digunakan imam shalat itu, dipatahkan dengan argumen bahwa orang-orang khusyu’ juga keberatan, dan ia adalah utusan mereka. Argumen Imam al-A’masy ini menarik karena menggunakan pendekatan komparatif. Ketika “khusyu” dijadikan dalil pembenaran, ia meruntuhkannya dengan logika “khusyu” dari arah lainnya. Pertanyaannya kenapa Imam al-A’masy menggunakan argumen tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus memahami bahwa khusyu’ bukan sebatas memanjangkan shalat, apalagi di saat ramai (berjamaah). Jika khusyu’ dinilai dari panjang-pendeknya shalat, maka orang-orang riya bisa masuk kategori ini. Tidak ada orang yang bisa mengalahkan orang-orang riya dalam hal menyiarkan langsung ibadahnya saat ramai. Meski demikian, di sini kita tidak akan membicarakan khusyu’ secara detail. Untuk mengetahuinya silahkan lihat kitab al-Khusyu’ fi al-Shalat karya Imam Ibnu Rajab al-Hanbali. Pembahasan kita akan difokuskan pada bagaimana pendekatan orang khusyu’ dalam memahami kisah di atas.

Pernyataan terakhir Imam al-A’masy seakan-akan menempatkan khusyu’ personal dan khusyu’ sosial dalam satu wadah yang saling melengkapi satu sama lainnya, karena orang-orang khusyu’ sudah mengerti betul keadaan dirinya. Untuk lebih mempermudah, kita akan menggunakan istilah “orang-orang yang terus berusaha khusyu”, karena kekhusyu’an bukan keadaan yang tetap dan statis. Kekhusyu’an harus didapatkan setiap saat, tidak kemudian didiamkan setelah pernah merasa berhasil memperolehnya.

Bagi orang-orang yang memahami ini, mereka akan mengerti keadaan jiwa orang lain, bahwa khusyu’ bukan sesuatu yang “bim salabim” ada, tapi sesuatu yang diperoleh dengan perjuangan keras. Sebab, adakalanya orang yang memanjangkan shalatnya tidak berniat pamer, hanya ingin memperbanyak amalnya. Jika demikian, ia adalah pencari pahala yang egois, karena tidak memikirkan makmum di belakangnya. Pencari pahala semacam ini bisa dikatakan belum mengerti apa itu “khusyu”, bahkan mungkin belum terpikir sama sekali untuk masuk ke dalam kekhusyu’an. 

Dengan kata lain, ekspresi khusyu’ secara personal dan sosial berbeda. Karena ukuran manusia tidak sama. Ada yang menganggap zikir lima puluh ribu sehabis shalat itu ringan; ada juga yang menganggapnya sangat berat. Di sinilah kenapa imam shalat atau pemuka agama harus mengerti perbedaan para jamaahnya. Jangan anggap semua orang sama seperti mereka. Jika mereka kuat berzikir seratus ribu kali selama setengah jam, bukan berarti semua orang bisa melakukannya juga. Maka, contoh terbaik adalah ulama-ulama di masa lalu yang berfatwa menggunakan pendapat yang paling ringan untuk umatnya, tapi yang paling berat untuk dirinya sendiri. 

Kandungan lain dari kisah di atas adalah pentingnya memahami manusia. Tidak semua manusia memiliki keadaan yang sama. Setiap orang membawa sejarahnya sendiri-sendiri, dan bisa dipastikan alur ceritanya berbeda-beda. Karena itu, Rasulullah menegur keras imam shalat yang tidak mengerti jama’ahnya. Di antara jama’ahnya ada orang yang sudah tua, anak kecil, orang yang berkeperluan, dan lain sebagainya. Mereka memiliki problemnya masing-masing. Maka saran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jangan berlebih-lebihan dalam beragama. Beliau bersabda (HR. Imam al-Bukhari):

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah orang yang mempersulit (berlebih-lebihan dalam) beragama, melainkan ia akan dikalahkan. Maka, laksanakan (dengan semestinya), dekatilah (semestinya), dan berbahagialah (dengan pahalaNya). Dan mohon pertolongan di waktu pagi, petang dan sebagian malam.

Maksudnya adalah “agama itu mudah” bukan berarti menganggap mudah pengamalan agama, tapi mencari titik kenyamanan dalam mengamalkannya sesuai dengan ukuran diri kita. Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa ukuran diri manusia berbeda-beda. Jika kita berusaha mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agama, bisa dipastikan kita kalah dengan sendirinya. Sebab, berlebih-lebihan yang disengaja akan memberi tekanan kuat terhadap kesehatan jiwa, di samping “berlebih-lebihan” itu identik dengan pemaksaan dalam taraf yang keterlaluan. 

Karena itu, kita harus terus berusaha dan berjuang untuk memperbesar kapasitas ukuran diri kita. Salah satu caranya dengan istiqamah belajar dan beramal. Manusia dianugerahi Allah daya tampung diri unlimited (tidak terbatas), yang ada hanya pasang surut, terkadang sangat khusyu’, di waktu lain tidak sama sekali. Yang sedang kita bicarakan di sini adalah daya tampung spiritual, yang sifatnya naik-turun, dan akan terus naik-turun sampai kapanpun juga, karena sudah menjadi watak dasarnya. Pertanyaannya, seberapa jeli kita mengenali gelombang naik-turun itu, dan seberapa lihai kita berselancar di permukaannya? 

Sebab, bagi orang-orang yang jiwanya sudah dilatih untuk terus berjuang, mereka cukup berhasil mengendalikan “berlebih-lebihan”, karena mereka tahu kapan saatnya meringkas, kapan saatnya memperbanyak, dan kapan saatnya menyederhanakannya.

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Kamis 11 April 2019 11:30 WIB
Kisah Orang yang Sok Yakin dengan Keadaan
Kisah Orang yang Sok Yakin dengan Keadaan
Ilustrasi (via nunn.asia)
Dalam kitab Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy (w. 597 H) memasukkan cerita menarik tentang orang yang sok yakin dengan keadaan. Berikut ceritanya:

وخرج رجل إلي السوق يشتري حمارا فلقيه صديق له فسأله، فقال: إلي السوق لأشتري حمارا، فقال: قل إن شاء الله، فقال: ليس ها هنا موضع إن شاء الله، الدراهم في كمي والحمار في السوق. فبينما هو يطلب الحمار سرقت منه الدراهم فرجع خائبا، فلقيه صديقه، فقال له: ما صنعت؟ فقال: سرقت الدراهم إن شاء الله، فقال له صديقه: ليس ها هنا موضع إن شاء الله

Seorang laki-laki keluar menuju pasar untuk membeli keledai. (Dalam perjalanan) ia bertemu dengan temannya, dan ditanya (hendak kemana?). Ia menjawab: “Hendak ke pasar untuk membeli keledai.” Temannya berkata: “Katakan insyaallah.”

Laki-laki itu menjawab: “Tidak perlu lagi (mengatakan) insyaallah dalam keadaan seperti ini. Uang sudah di saku dan keledai ada di pasar.” (Sesampainya di pasar) ketika sedang mencari keledai, uangnya dicuri. Ia pun pulang dengan wajah murung.

(Dalam perjalanan pulang), ia bertemu lagi dengan temannya, ia bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu (murung)?” Laki-laki itu menjawab: “Insyaallah uangku dicuri.” Temannya berkata: “Tidak perlu lagi (mengatakan) insyaallah dalam keadaan seperti ini.” (Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy, Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Beirut: Dar al-Fikr al-Lubnani, 1990, h. 161)

****

Kisah di atas ini unik, seorang laki-laki enggan mengucapkan “insyaallah” karena menurut pertimbangannya, apa yang diharapkannya pasti terjadi. Syarat-syaratnya sudah mencukupi; uang dan keledai, tapi kenyataan berbicara lain. Kelengkapan persyaratan yang dimilikinya tidak menjamin ia bisa mendapatkan apa yang ia mau. Ada sisi lain yang luput dari pertimbangannya; pencurian yang membuatnya gagal mendapatkan keledai. Uniknya lagi, laki-laki itu malah mengucapkan “insyaallah” setelah uangnya tercuri, dengan wajah murung. Ia menyandingkan ucapan “insyaallah” dengan musibah yang dialaminya. Menarik bukan? Mari kita telusuri pembahasannya.

Ucapan “insyaallah”, makna standarnya berarti “apabila Allah menghendaki.” Mengucapkannya termasuk ibadah. Allah SWT berfirman (QS. Al-Kahfi: 23-24):

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا. إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

“Jangan sekali-kali kau berkata tentang sesuatu: ‘sungguh aku akan melakukannya besok.’ Kecuali (mengucapkan: insyaallah) apabila Allah menghendaki, dan ingatlah Tuhanmu di saat kau lupa serta ucapkan: ‘Semoga Tuhanku menunjukiku pada jalan terdekat menuju hidayah.”

Dalam Tafsîr al-Thabarî, lafal “illâ an yasyâ’alllah...” dipandang sebagai ta’dîb minallah (pendidikan dan hukum dari Allah) yang disampaikan pada nabi-Nya agar memegang teguh bahwa segala kejadian hanya mungkin terjadi karena “masyi’atilllah—kehendak Allah.” (Imam al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî, juz 17, hlm 644). 

Kesalahannya adalah banyak orang yang memahami makna “kehendak Allah” atau “izin Allah” tidak dengan sikap positif. Ketika segala sesuatu tidak berjalan baik, kita cenderung menyalahkan Tuhan, meski dengan suara kecil yang malu-malu. Padahal, jika dipahami secara mendalam, “kehendak Allah” tidak mungkin buruk, yang dikehendaki-Nya selalu kebaikan bagi hamba-Nya. Ini murni soal persangkaan kita kepadaNya. Jika persangkaan kita baik, kita akan dipenuhi energi positif untuk terus maju; jika persangkaan kita buruk, kita akan diam menggerutu tanpa gerak maju.

Kembali ke soal “insyaallah.” Dari wilayah pelakunya, pengucapan “insyaallah” dapat dipahami dalam beberapa tingkatan. Pertama, orang yang tidak menganggap penting pengucapannya seperti contoh di atas. Kedua, orang yang mengucapkan “insyaallah” karena kebiasaan, bukan karena benar-benar terselami oleh maknanya. Ketiga, orang yang mengucapkan “insyaallah” dan menghayati betul makna terdalamnya.

Untuk yang pertama, kita tidak perlu membahasnya karena sudah ada contohnya di atas. Yang kedua, kita tidak bisa pungkiri bahwa pengucapan “insyaallah” sudah menjadi kebiasaan umum. Di satu sisi bagus, di sisi lain membuat maknanya tereduksi. Sebab, ada dua wajah yang saling berlawanan ketika pengucapan “insyaallah” dilakukan tanpa kesadaran makna. Wajah positifnya adalah, menunjukkan bahwa kita orang yang beriman, meski secara tanpa sadar ketika mengucapkannya. Wajah negatifnya adalah, ketika “insyaallah” digunakan untuk berjanji, tapi tidak ditepati. Misalnya, “besok aku tunggu di lapangan ya, ada hal penting yang ingin kubicarakan.” Kemudian dijawab, “insyaallah, jam tiga ya.” Nyatanya tidak datang. Artinya ucapan “insyaallah” hanya menjadi istilah bahasa yang lumrah sekaligus meninggalkan kesan bahwa Tuhanlah yang menghendakinya tidak tepat janji. Dengan kata lain, kesakralannya turun hingga pengucapnya melupakan nilai agama yang terkandung di dalamnya.

Ketiga, bagi orang-orang dalam kategori ini mengucapkan “insyaallah” dapat memberi mereka tiga kekuatan sekaligus; pertama, kekuatan bergerak maju, kedua, kekuatan berendah hati, dan ketiga, kekuatan bertanggung jawab. 

Penjelasannya begini. Maksud dari kekuatan bergerak maju adalah “persangkaan baik kepada Allah”. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kehendak Allah untuk hambaNya pasti baik, tidak mungkin Allah menghendaki keburukan untuk hamba-hambaNya. Dengan mengucapkan “insyaallah”, kita telah menanamkan prasangka baik kepada Allah, sehingga menghasilkan kekuatan bergerak maju yang penuh optimisme dan positif.

Berikutnya kekuatan berendah hati. Maksudnya, dengan mengucapkan “insyaallah” kita sedang berupaya meminimalisasi keangkuhan kita, bahwa semua yang kita raih murni hasil usaha kita sendiri. Bagi orang yang berusaha mengamalkannya, insyaallah akan terhindar dari perasaan sombong. Bahkan dalam hal beribadah sekalipun, contohnya kerelaan Nabi Ismail di saat hendak disembelih ayahnya. Dalam Al-Qur’an disebutkan (QS. Ash-Shaffat: 102):

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, niscaya kau akan dapati aku, insyaallah, termasuk dalam orang-orang yang sabar.”

Nabi Ismail mengucapkan “insyaallah” karena ia tahu bahwa kesabarannya adalah anugerah dari Allah, bukan murni dari dirinya sendir. Sebab, jika ada orang yang menyatakan dirinya seorang penyabar tapi menafikan peran Tuhan di dalamnya, baik disadari atau tidak, ia telah mendekati kesombongan.

Yang terakhir adalah kekuatan bertanggung jawab. Maksudnya adalah kuat memegang amanah karena ketakwaan kepada Allah. Sebab begini, ucapan “insyaallah” bagi orang-orang yang berusaha mendalami maknanya adalah amanah. Bagaimana tidak, kita berjanji menggunakan nama Tuhan (berucap insyaallah), tapi tidak kita tepati, bukankah itu keterlaluan. Nama Tuhan yang Maha Tinggi kita gunakan untuk berbohong, terlepas dari sadar atau tidak, seperti yang diuraikan sebelumnya.

Oleh karena itu, kita harus mulai mendekati “insyaallah” dengan sudut pandang baru. Kebiasaan mengucapkannya harus dilestarikan, tapi didampingi dengan peningkatan kesadaran akan nilainya, terutama tiga kekuatan tadi. Sulit sih, tapi tidak mustahil. Ya, namanya juga refleksi. Tujuannya untuk memeriksa diri dengan pertanyaan, “kita seperti itu apa tidak sih?”

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren Al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.