IMG-LOGO
Shalat

Ke Mana Arah Kiblat Shalat di Dalam Ka’bah?

Senin 15 April 2019 21:5 WIB
Share:
Ke Mana Arah Kiblat Shalat di Dalam Ka’bah?
(Foto: @pixabay)
Setiap shalat kita diharuskan menghadap ke arah kiblat, yaitu bangunan Ka’bah dari penjuru mana pun kita berada. Ulama menetapkan bahwa menghadap ke arah kiblat menjadi bagian dari syarat sah shalat. Lalu bagaimana dengan arah shalat yang dilakukan di dalam Ka’bah?

Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan bahwa secara syariat kita dalam melaksanakan shalat diharuskan menghadap ke arah kiblat. Sedangkan tata cara pelaksanaan shalat di dalam Ka’bah telah ditulis oleh para ulama.

عرفنا أنه لا بد شرعاً من استقبال جزء من الكعبة… وقد أقر الفقهاء مشروعية الصلاة في جوف الكعبة

Artinya, “Kita mengetahui bersama bahwa [orang yang shalat di dalam Ka’bah] secara syar’i harus menghadap salah satu bagian Ka’bah… Ahli fiqih telah menetapkan pelaksanaan shalat di dalam Ka’bah,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 602).

Mazhab Syafi’i berpendapat perihal arah kiblat bagi orang yang shalat di dalam Ka’bah. Menurut mazhab ini, orang yang shalat di dalam Ka’bah dapat menghadap pintu atau dinding Ka’bah sebagai arah kiblat baginya.

مَنْ صَلَّى فِي الْكَعْبَةِ، وَاسْتَقْبَلَ جِدَارَهَا أَوْ بَابَهَا مَرْدُودًا أَوْ مَفْتُوحًا مَعَ ارْتِفَاعِ عَتَبَتِهِ ثُلُثَيْ ذِرَاعٍ أَوْ عَلَى سَطْحِهَا مُسْتَقْبِلاً مِنْ بِنَائِهَا مَا سَبَقَ جَازَ

Artinya, “Siapa yang shalat di dalam ka’bah dan menghadap dindingnya atau pintunya yang tertutup maupun terbuka disertai ketinggian ambang pintunya tiga hasta, atau di atas atapnya sambil menghadap salah satu bangunannya yang telah lalu, maka boleh,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajut Thalibin pada Hamisy Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 224).

Bagi Mazhab Syafi’i, arah mana pun yang dihadapi oleh orang di dalam Ka’bah adalah bagian dari Ka’bah sehingga orang yang shalat di dalam Ka’bah tidak perlu khawatir akan keabsahan shalatnya.

لأنه متوجه إلى جزء من الكعبة أو إلى ما هو كالجزء منها

Artinya, “Karena pada hakikatnya ia menghadap ke salah satu bagian dari Ka’bah atau ke salah satu benda yang seakan menjadi bagian dari Ka’bah,” (Lihat Syekh As-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 224).

Ulama berbeda pendapat perihal shalat mana yang sah di dalam Kabah. Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat yang sah dilakukan di dalam Kabah adalah shalat sunnah, bukan shalat fardhu.

Sebagian ulama lain mengatakan bahwa shalat berjamaah fardhu maupun sunnah tetap sah di dalam Kabah. Masalah rincian ini dapat dipelajari lebih lanjut di kitab-kitab fiqih. Yang pasti, shalat di dalam Ka’bah sah dilakukan menghadap ke arah bagian mana pun dari bangunan Ka’bah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Rabu 10 April 2019 16:0 WIB
Ketentuan Fiqih soal Shalat Fardhu di Kursi
Ketentuan Fiqih soal Shalat Fardhu di Kursi
Ilustrasi (mrkenjikwok.com)
Salah satu kewajiban dalam melaksanakan shalat fardhu adalah melaksanakannya dengan cara berdiri. Kewajiban berdiri pada shalat fardhu ini berlaku bagi setiap orang yang mampu berdiri secara normal tanpa disertai rasa sakit. Sedangkan bagi orang yang tak mampu berdiri atau mampu berdiri tapi disertai rasa sakit yang berat, boleh untuk shalat fardhu dengan cara duduk. Ketentuan ini merupakan salah satu implementasi dari sebuah hadits:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Jika aku melarang kalian suatu hal maka jauhilah, dan jika aku memerintahkan kalian suatu perkara maka lakukanlah semampu kalian.” (HR Bukhari)

Lalu bolehkah menggunakan perantara kursi pada saat shalat dengan duduk ketika seseorang  tidak mampu berdiri?

Para ulama berpandangan bahwa duduk bagi orang yang tidak mampu berdiri adalah hal yang diperbolehkan dengan ketentuan ketika ia memang benar-benar tidak mampu berdiri atau tidak mampu untuk duduk secara manual di lantai dan tetap melakukan rukun-rukun yang lain seperti sujud dan ruku’ secara sempurna selama rukun-rukun tersebut masih dapat dilakukan tanpa adanya rasa sakit. 

Hal demikian seperti yang dijelaskan oleh Syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam salah satu kumpulan fatwa-fatwanya:

مسألة الصلاة على الكرسي يعود حكمه إلى ما يقوله الطبيب الموثوق به للمريض، فإن منعه من الصلاة قاعداً، أي منعه من ثني ركبتيه على الأرض، فليس أمامه إلا الصلاة على الكرسي عندما يهوي للسجود، وصلاته عندئذ صحيحة على كل المذاهب، وإن منعه من الصلاة قائماً لسبب ما ولم يمنعه من الحالات الأخرى، أي لم يمنعه من السجود على الأرض بوضع جبهته عليها، وجب عليه ذلك ولم تصح صلاته على الكرسي، إلا إن هوى عند السجود على الأرض كغيره وخصوصية الكرسي لا معنى لها ولا حاجة إليها عندئذ

“Permasalahan. Shalat di atas kursi hukumnya kembali pada keterangan dokter yang terpercaya bagi orang yang sakit. Jika dokter melarangnya untuk duduk dengan menekuk dua lututnya di tanah maka ia harus menyiapkan kursi di depannya ketika hendak turun untuk sujud. Shalat demikian dihukumi sah menurut seluruh mazhab. Jika dokter melarangnya untuk berdiri karena suatu sebab, tapi ia tidak melarang untuk melakukan sujud dengan meletakkan dahinya di tanah, maka wajib baginya untuk sujud dan tidak sah shalat yang ia lakukan di kursi kecuali jika melakukan sujud di tanah, seperti halnya rukun yang lain. Mengkhususkan kursi tidak ada artinya dan tidak dibutuhkan pada keadaan demikian.” (Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Istifta’at an-Nas lil Imam as-Syahid al-Bhuti, hal. 99)

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa melaksanakan shalat fardhu dengan cara duduk di kursi bagi orang yang masih mampu untuk berdiri adalah hal yang tidak diperbolehkan, bahkan menimbulkan dosa bila dilakukan dengan sengaja dan sembrono terhadap salah satu kewajiban shalat fardhu. Hal demikian ditegaskan oleh Imam An-Nawawi:

وأما الفرض فإن الصلاة قاعدا مع قدرته على القيام لم يصح فلا يكون فيه ثواب بل يأثم به قال أصحابنا وإن استحله كفر وجرت عليه أحكام المرتدين كما لو استحل الزنى والربا أو غيره من المحرمات الشائعة التحريم

“Shalat fardhu yang dilaksanakan dengan duduk padahal dia mampu berdiri adalah tidak sah, bahkan ia terkena dosa. Para Ashab (ulama Syafi’iyah) berkata, ‘Jika ia menganggap halal melakukan shalat fardhu dengan duduk, padahal masih bisa bediri maka ia menjadi kafir dan berlaku baginya hukum-hukumnya orang yang murtad, sebagaimana orang yang menghalalkan zina, riba, dan perkara haram lain yang telah masyhur keharamannya.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarah an-Nawawi ala Muslim, juz 6, hal. 14)

Sedangkan dalam konteks shalat sunnah, melaksanakan shalat dengan cara duduk, baik itu secara langsung di lantai atau dengan perantara kursi adalah hal yang diperbolehkan. Mengapa? Sebab berdiri dalam shalat sunnah bukanlah suatu kewajiban tapi merupakan kesunnahan. Meski begitu orang yang melaksanakan shalat sunnah dengan cara duduk hanya mendapatkan pahala setengah dibanding orang yang melaksanakan shalat sunnah dengan berdiri. Ketentuan ini berdasarkan hadits:

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ

“Barangsiapa yang shalat (sunnah) dengan berdiri maka lebih utama, barangsiapa yang shalat dengan duduk maka baginya setengah dari pahala orang yang berdiri dan barangsiapa yang shalat dengan tidur maka baginya setengah pahala dari orang yang duduk.” (HR. Bukhari)

Baca juga:
Cara Mengqadha Shalat yang Terlewat
Tata Cara Shalat di Kereta Api
Walhasil, melaksanakan shalat fardhu dengan cara duduk di kursi hanya diperbolehkan bagi orang yang tidak mampu untuk berdiri. Selain itu, tidak diperbolehkan melaksanakan shalat fardhu dengan duduk di kursi, jika masih tetap dilakukan maka shalatnya tidak sah dan wajib untuk mengulanginya dengan cara berdiri secara sempurna. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 
Selasa 9 April 2019 18:45 WIB
Hukum Perempuan Shalat dengan Menutup Seluruh Wajah
Hukum Perempuan Shalat dengan Menutup Seluruh Wajah
Ilustrasi (via Pinterest)
Aurat bagi perempuan adalah salah satu hal yang penting untuk dijaga, sebab nilai kehormatan seorang perempuan salah satunya dipengaruhi oleh seberapa besar perhatiannya dalam menjaga aurat tubuhnya dari pandangan laki-laki lain yang tidak dapat memandangnya.

Namun demikian, menjaga aurat bagi perempuan juga harus diimbangi dengan pengetahuan tentang batasan-batasan aurat yang wajib untuk ditutupi serta kapan kewajiban menutup aurat itu berlaku. Misalnya dalam keadaan shalat, aurat perempuan meliputi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Sehingga, dalam keadaan shalat tidak wajib bagi kaum perempuan menutup wajah dan telapak tangannya, karena dua anggota tubuh tersebut bukan termasuk aurat.

Baca juga:
Hukum Memakai Cadar
Apakah Suami Berhak Melarang Istri Bercadar?
Hal ini seperti yang disampaikan oleh Imam as-Suyuti:

الْمَرْأَةُ فِي الْعَوْرَةِ لَهَا أَحْوَالٌ -وَحَالَةٌ فِي الصَّلَاة، وَعَوْرَتُهَا: كُلُّ الْبَدَنِ، إلَّا الْوَجْهُ وَالْكَفَّيْنِ

“Aurat perempuan memiliki beberapa keadaan. Salah satu keadaan yang menentukan aurat perempuan yakni dalam keadaan shalat. Aurat perempuan pada saat shalat adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan.” (Syekh Jalaluddin as-Suyuti, al-Asybah wa an-Nadzair, hal. 240)

Sehingga ketika ada sebagian kalangan yang bersikukuh untuk menutup wajah pada saat shalat dengan dalih bahwa menurutnya menutup wajah adalah suatu kewajiban maka hal tersebut merupakan sebuah kekeliruan. Sebab, wajah bukanlah termasuk aurat dalam keadaan shalat, berbeda ketika di luar shalat yang menurut sebagian ulama wajah dianggap sebagai aurat, sehingga wajib untuk ditutupi. 

Selain itu, ketika seluruh wajah ditutupi maka akan melanggar terhadap salah satu syarat sujud, yakni keharusan menempelkan dahi pada tempat shalat. Menempelkan dahi pada saat sujud, secara tegas diperintahkan oleh Rasulullah dalam haditsnya:

إذا سجدت فمكّن جبهتك

“Ketika kamu sujud tetapkanlah keningmu (di tempat shalat).” (HR. Ibnu Hibban)

Baca juga:
Hukum Shalat dengan Memakai Masker
Sebagian Rambut Menutupi Dahi saat Sujud, Batalkah Shalat?
Bagaimana Sujud Shalat Orang yang Dahinya Diperban?
Namun meski begitu, mazhab Hanafi tetap menganggap cukup sujud pada sesuatu yang dipakai oleh orang yang shalat, termasuk penutup wajahnya, meskipun menurut tiga mazhab yang lain sujud pada penutup wajah tidak dianggap cukup. Perbedaan pandangan ini dijelaskan dalam kitab al-Bayan fi Madzhab al-Imam as-Syafi’i:

وإن سجد على حائل متصل به، مثل كور عمامته، أو طرف منديله، أو ذيله، أو بسط كفه، فسجد عليه. . لم يجزئه ذلك، وبه قال مالك، وأحمد بن حنبل. وقال أبو حنيفة: (يصح سجوده على ذلك كله) ـ

“Jika seseorang sujud atas penghalang yang menempel dengan (badannya), seperti gulungan serbannya, ujung sapu tangannya, kerah bajunya, atau uluran telapak tangannya lalu ia sujud pada salah satu benda di atas maka sujud tersebut tidak dianggap cukup. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Imam Malik dan Imam Ahmad. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat, sah sujud di atas semua benda tersebut.” (Abu Husain Yahya bin Abi Khair, al-Bayan fi Madzhab al-Imam as-Syafi’i, juz 2, hal. 217)

Lebih tegas lagi, dalam mazhab Hanbali memakai cadar pada saat shalat dihukumi makruh ketika tidak ada hajat, sedangkan ketika ada hajat seperti menghindari pandangan lelaki yang bukan mahram yang ada di sekitarnya maka hukumnya mubah tanpa adanya kemakruhan. Ketentuan tersebut dijelaskan dalam kitab Kasyaf al-Qina:

ـ (ويكره) أن تصلي (في نقاب وبرقع بلا حاجة) قال ابن عبد البر: أجمعوا على أن على المرأة أن تكشف وجهها في الصلاة والإحرام ولأن ستر الوجه يخل بمباشرة المصلي بالجبهة والأنف، ويغطي الفم وقد نهى النبي - صلى الله عليه وسلم - الرجل عنه فإن كان لحاجة كحضور أجانب، فلا كراهة

“Makruh shalat dengan memakai cadar dan kain penutup muka dengan tanpa adanya hajat. Imam Ibnu Abdil Bar berkata ‘para ulama’ sepakat bahwa boleh bagi perempuan untuk membuka wajahnya dalam keadaan shalat dan ihram dan dikarenakan menutup wajah akan menghalangi orang yang sedang melaksanakan shalat untuk menempelkan dahi dan hidungnya serta menutup terhadap mulutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sungguh telah melarang lelaki melakukan hal itu. Jika memakai penutup wajah karena ada hajat, seperti hadirnya laki-laki yang bukan mahram, maka memakai penutup wajah tidak dimakruhkan.” (Manshur bin yunus al-Hanbali, Kasyaf al-Qina, juz 1, hal. 268)

Walhasil, menutup seluruh wajah saat shalat bagi perempuan bukanlah suatu kewajiban, bahkan para ulama sepakat atas bolehnya membuka wajah pada saat shalat. Selain itu menutup seluruh wajah akan menghalangi salah satu syarat dalam sujud yakni wajibnya menempelkan dahi pada tempat shalat, sehingga lebih baik perempuan shalat dalam keadaan dahi yang terbuka agar sujudnya dapat dilaksanakan dengan benar. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 

Senin 8 April 2019 20:15 WIB
Baca Fatihah dalam Shalat, Maaliki Yaumiddiin atau Maliki Yaumiddiin?
Baca Fatihah dalam Shalat, Maaliki Yaumiddiin atau Maliki Yaumiddiin?
Membaca Surat al-Fatihah dalam shalat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Sebab, ia adalah salah satu rukun dalam shalat. Di samping itu, membaca al-Fatihah harus tepat dan tidak boleh salah dari sisi kaidah tajwid dan qira’at, apabila salah dan bahkan sampai mengubah makna, maka batal shalat seseorang.

Berangkat dari diskripsi di atas, ada sebagian kalangan yang membaca Surat al-Fatihah ayat keempat (مالك يوم الدين), dengan membaca panjang huruf mim-nya (mâliki) pada rakaat pertama, dan membaca (ملك) dengan membaca pendek huruf mim-nya (maliki) pada rakaat kedua. Bahkan banyak kalangan yang menggunakan dan mengaplikasikan kedua bacaan tersebut dalam shalat.

Terkait persoalan ini, apakah ada riwayat yang sahih tentang bacaan di atas, apakah ada perbedaan makna keduanya, dan apakah bacaan al-Fatihah seperti di atas dapat dibenarkan dalam shalat?

Dalam qira’at Al-Qur’an, baik qira’at sab’ah (tujuh) maupun qira’at asyrah (sepuluh), ada dua pendapat; ada yang membaca panjang huruf mim-nya dan ada pula yang membaca pendek.

Syekh Abdul Fattah al-Qadhi dalam karyanya Al-Budur al-Zahirah fi Qira’at al-Asyr al-Mutawatirah secara spesifik merinci sebagaimana berikut:

Imam Ashim, al-Kisa’i, Ya’kub, dan Khalaf al-Asyir membaca panjang mim (مَالِكِ), sedangkan imam-imam yang lain, seperti Imam Nafi’, Ibnu Katsir, Abu Amr al-Bashri, Ibnu Amir, Hamzah dan Abu Ja’far membaca pendek mim (مَلِكِ) (Al-Qadhi, Al-Budur al-Zahirah fi Qira’at al-Asyr al-Mutawatirah, [Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, tth], h. 15).

Oleh karena demikian, dari sisi periwayatan bacaan panjang dan pendek pada huruf mim (مَلِكِ) itu dapat dikatakan shahih bahkan mutawatir, karena diriwayatkan dari qira’at yang mutawatirah.

Dari sisi pemaknaan, perbedaan bacaan dalam setiap qira’at ada dua kategori; (1) berpengaruh pada makna dan (2) tidak berpengaruh pada makna.

Perbedaan bacaan yang tidak berpengaruh pada pemaknaan adalah seperti dialek pengucapaan dalam bahasa Arab, semacam bacaan imalah, ibdal hamzah, dan lainnya. Perbedaan bacaan semacam ini lebih dominan masuk pada kategori ushul qira’at atau kaidah dasar dalam ilmu qira’at, ada juga yang masuk pada kaidah furusy al-qira’at.

Sedangkan perbedaan bacaan yang berpengaruh pada pemaknaan adalah seperti perbedaan kata dalam suatu kalimat. Perbedaan makna pada sebuah qira’at yang semacam ini bukan sebuah perbedaan yang kontradiktif dan bertolak belakang, justru perbedaan ini saling mendukung bahkan memperindah makna. Sebab tidak akan pernah dijumpai perbedaan yang kontradiktif dalam Al-Qur’an (Nabil Muhammad, Ilmu al-Qira’at, Nasy’atuhu, Athwaruhu, Atsaruhu fi al-Ulum al-Syar’iyah, [Thab’ah Khassah bi Darah al-Malik Abdul Aziz, 2002], h. 46-47).

Adapun untuk kasus lafadz (مَالِك) dan (مَلِك), masuk pada kategori perbedaan bacaan yang berpengaruh pada makna.

Pada lafadz (مَالِك) berarti pemilik, artinya Allah adalah pemilik hari pembalasan. Sedangkan lafadz (مَلِك) berarti raja atau penguasa, artinya Allah adalah penguasa hari pembalasan.

Ibnu Khalawaih menjelaskan bahwa alasan bagi yang membaca panjang huruf mim (مالك) ia berarti pemilik penguasa dan penguasa masuk dalam kategori pemilik, dengan berdalil firmah Allah Surat Ali Imrah 26 (قُلِ اللَّهُمَّ مالِكَ الْمُلْكِ). Sedangkan menurut pendapat yang membaca pendek mim (ملك) mempunyai arti raja atau penguasa dan penguasa lebih khusus dan lebih terpuji dibandingkan pemilik. Sebab kadang pemilik bukan seorang raja atau penguasa, dan tidak ada seorang raja kecuali dia adalah pemilik (Ibnu Khalawaih, Al-Hujjah fi al-Qira’at al-Sab’ah, [Beirut: Dar al-Syuruq, tth] h. 62).

Imam al-Thanthawi menjelaskan bahwa lafadz (مَالِك) memiliki arti pemilik, yakni menempatkan sesuatu disertai penguasaannya dalam mengatur. Ia mampu mengatur urusan hari pembalasan; hisab, ganjaran dan siksaan, mampu mengatur yang ia miliki. Sedangkan lafadz (مَلِك) memiliki arti raja atau penguasa, yakni Ia pengatur terhadap urusan hari pembalasan, Ia memiliki kekuasaan dan kewenangan pada hari itu. Setiap sesuatu pada hari itu berjalan sesuai dengan perintahnya, pada hari itu, setiap sesuatu terlaksana atas nama-Nya (al-Thanthawi, Tafsir al-Wasith, t. tth).

Imam al-Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa lafadz (مَالِك) memiliki arti pengatur dalam urusan hari kiamat secara keseluruhan. Sedangkan lafadz (مَلِك) memiliki arti pengatur dalam urusan hari kiamat dengan perintah atau larangan (al-Nawawi, Tafsir Munir, [Surabaya: Toko Kitab al-Hidayah, tth] h. 4).

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Allah adalah dzat sebagai penguasa sekaligus sebagai pemilik hari kiamat. Atas kuasa-Nya, Ia menunjukkan kepada kita bahwa Dialah satu-satunya penguasa sekaligus pemilik hari pembalasan. Tidak ada satupun manusia yang luput dari pantauan dan pengawasannya.

Kedua bacaan tersebut adalah bacaan yang sah dan mutawatir dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam meskipun berbeda dalam pemaknaan tapi tidak kontradiktif dan bertolak belakang, bahkan saling mendukung dan memperindah kandungan maknanya.

Jika dalam periwayatan bacaan dianggap sah bahkan mutawatir, dan pemaknaannya tidak terjadi kontradiktif, maka apakah boleh kedua bacaan tersebut dibaca dalam shalat—misalnya, pada rakaat pertama membaca (مَالِك) panjang huruf mim-nya, dan pada rakaat kedua membaca (مَلِك) pendek huruf mim-nya?

Dalam mazhab Imam Syafi’i (as-Syafi’iyah), seorang mushalli (orang yang shalat) dianjurkan memanjangkan rakaat pertama dibandingkan rakaat kedua. Sebagian ulama berpendapat memanjangkan bacaan rakaat pertama daripada rakaat kedua walau satu huruf (Ibrahim al-Bajuri, Hasyiah al-Bajuri, [Beirut: Dar al-Minhaj, 2016, juz I], h. 595).

 وكان بعض العلماء يقرأ في الركعة الأولى (مَالِك) بإثبات الألف، وفي الثانية (مَلِك) بحذفها، لأنه يسنّ تطويل الأولى على الثانية ولو بحرف

“Sebagian ulama membaca al-Fatihah pada rakaat pertama dengan menetapkan alif pada lafadz (مَالِك) sedangkan pada rakaat kedua membuang huruf alif pada lafadz (مَلِك), karena sesungguhnya disunnahkan memnajangkan rakaat pertama daripada kedua walau satu huruf.”

Sejalan dengan pendapat di atas bahwa dalam kitab al-Fawaid al-Mukhtarah li Salik Thariq al-Akhirah menguraikan kebolehan menggunakan kedua bacaan di atas dalam shalat, bahkan al-Habib Ali al-Habsyi menggunakan kedua bacaan tersebut dalam shalat.

قال بعضهم إنّ قراءة (مَالِك) في الفاتحة أفضل لزيادة الحرف، ولكل حرف عشر حسنات، وفضل بعضهم قراءة (ملك) لأنه أصح قراءة، وكان الحبيب علي الحبشي قرأ في الركعة الأولى ب (مَالِك) وفي الثانية ب (مَلِك) ـ

“Sebagian ulama berkata: sesungguhnya membaca (مالك) dalam Surat al-Fatihah lebih afdhal karena menambah huruf, dan setiap satu huruf memiliki sepuluh kebaikan. Sedangkan sebagian ulama yang lain mengunggulkan bacaan (ملك) karena itu adalah bacaan yang paling sahih. Habib Ali al-Habsyi (ketika shalat) membaca (مالك) pada rakaat pertama dan membaca (ملك) pada rakaat kedua”.

Diceritakan bahwa al-Habib Salim bin Muhammad bin Agil berkata: “Saya bertanya kepada al-Habib Abi Bakar bin Muhammad as-Segaf dalam bacaan Surat al-Fatihah yang agung, apakah membaca (مالك) dengan menetapkan (memanjangkan) huruf mim atau membaca (ملك) tanpa alif?

Al-Habib Abu bakar menjawab: “Dulu saya membaca (مالك) dengan menetapkan (memanjangkan) huruf mim-nya, suatu ketika pada malam hari saya didatangi oleh salah satu dari pendahulu kami dari klan Alawiyyin yang arif billah, ia melaksanakan shalat, saya pun ikut mendirikannnya. Kemudian dia menyuruh saya membaca (مالك) dengan menetapkan (memanjangkan) huruf mim-nya pada rakaat pertama, dan membaca (ملك) tanpa alif, pada rakaat kedua. Saya pun menanyakan persoalan ini.

“Apakah demikian pelaksanaannya dalam shalat, dan jika memang demikian, bagaimana praktiknya bagi seseorang di luar shalat?”

Dia pun menjawab: “Dia boleh memilih antara membaca (مَالِك) atau (مَلِك), sebab kedua bacaan tersebut shahih. Kemudian saya kembali bertanya. 

“Jika dalam perlaksanaan shalat empat rakaat, bagaimana (sebaiknya) bacaan pada rakaat ketiga dan keempat?”

Beliau pun menjawab:

“Pada rakaat pertama dan kedua pelaksaannya seperti apa yang saya sampaikan tadi, sedangkan untuk rakaat ketiga dan keempat, ia boleh memilih antara keduanya; (مَالِك) atau (مَلِك). (Habib Zain bin Sumaith, al-Fawaid al-Mukhtarah li Salik Thariq al-Akhirah, [Pasuruan, Dalwa, 2008], h. 121).

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan sebagaimana berikut:

1. Bacaan (مَالِك) atau (مَلِك) adalah bacaan yang shahih bahkan mutawatir, sepuluh imam qira’at sab’ah (tujuh) atau Asyrah (sepuluh) meriwayatkan kedua bacaan di tersebut.

2. Secara pemaknan kedua bacaan (مَالِك) atau (مَلِك) memiliki perbedaan yang tidak kontradiktif, bahkan memperindah kandungan maknanya. Dengan perbedaan bacaan di artas, menunjukkan sifat kekuasaan-Nya, tidak sekedar memiliki namun juga sebagai penguasa. Hanya Allah semata Maha Penguasa dan Pemilik hari pembalasan. 

3. Dalam pelaksaan shalat, kedua perbedaan bacaan tersebut boleh dibaca. Bahkan dianjurkan membaca panjang (مَالِك) pada rakaat pertama, dan membaca pendek (ملك) pada rakaat kedua. Hal ini dianalogikan dengan kesunnahan memanjangkan bacaan rakaat pertama walau satu huruf dan meringkas rakaat kedua. Menurut al-Habib Abu Bakar, untuk rakaat ketiga dan keempat seorang mushalli boleh memilih antara kedua bacaan di atas (مَالِك) atau (مَلِك).

Wallahu a‘lam.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo