IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Ibnu Munkadir yang Tak Rela Dagangnya Dijual Kemahalan

Selasa 16 April 2019 20:30 WIB
Share:
Kisah Ibnu Munkadir yang Tak Rela Dagangnya Dijual Kemahalan
Ilustrasi (via imagenesmy.com)
Dalam kitab Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn, Imam al-Ghazali mencatat kisah tentang Imam Muhammad bin Munkadir dan pembeli dagangannya. Berikut kisahnya:

وروي عن محمد بن المنكدر أنه كان له شقق بعضها بخمسة وبعضها بعشرة فباع غلامه في غيبته شقة من الخمسيات بعشرة فلما عرف لم يزل يطلب ذلك الأعرابي المشتري طول النهار حتى وجده فقال له إن الغلام قد غلط فباعك ما يساوي خمسة بعشرة فقال يا هذا قد رضيت فقال وإن رضيت فإنا لا نرضى لك إلا ما نرضاه لأنفسنا فاختر إحدى ثلاث خصال إما أن تأخذ شقة من العشريات بدراهمك وإما أن نرد عليك خمسة وإما أن ترد شقتنا وتأخذ دراهمك فقال أعطني خمسة, فرد عليه خمسة وانصرف الأعرابي يسأل ويقول من هذا الشيخ فقيل له هذا محمد بن المنكدر فقال لا إله إلا الله هذا الذي نستسقي به في البوادي إذا قحطنا

Diriwayatkan dari Muhammad bin al-Munkadir, sesungguhnya ia memiliki kain, sebagian berharga lima (dirham), sebagian lainnya sepuluh (dirham). Ketika ia tidak ada, budaknya menjual kain seharga lima (dirham) dengan harga sepuluh (dirham). Setelah mengetahuinya, sepanjang siang ia terus mencari-cari orang Badui yang membelinya, sampai berhasil menemukannya. 

Ibnu al-Munkadir berkata padanya: “Sesungguhnya budak(ku) telah berbuat salah, ia menjual padamu barang yang harganya lima (dirham) dengan harga sepuluh (dirham).” Pembelinya (Badui) berkata: “Aku rela.”

Ibnu al-Munkadir berkata: “Jikapun kau rela, kami yang tidak rela atas (kerugian)mu, kecuali (dengan syarat yang) membuat kami rela untuk diri kami sendiri. Maka, pilihlah satu dari tiga hal ini, (pertama), silakan ambil (tukar) kain yang seharga sepuluh (dirham), (kedua), kami kembalikan uang lima (dirham) padamu, dan (ketiga), kau kembalikan kain (yang kau beli) dan silakan ambil uangmu (kembali).” 

Pembeli itu berkata: “Kembalikan saja uang lima (dirhamku).” Ibnu al-Munkadir mengembalikannya pada orang Badui itu, lalu ia pulang. Si Badui pun (penasaran) dan bertanya-tanya: “Siapakah orang tua itu?” Kemudian seseorang menjawabnya: “Ia adalah Muhammad bin al-Munkadir.” Orang Badui itu berujar: “(Pantas saja), tidak ada tuhan selain Allah. Dialah orang yang mengalirkan air di sumur-sumur ketika kami kekeringan.” (Imam Abû Hâmid al-Ghazali, Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn, Beirut: Darul Ma’rifah, tt, juz 2, h. 80)

****

Imam Muhammad bin al-Munkadir (w. 747 M) adalah seorang tabi’in. Ia meriwayatkan hadits dari banyak sahabat Nabi seperti Sayyidah Aisyah, Sayyidina Abu Hurairah, Sayyidina Abdullah bin Umar, Sayyidina Abdullah bin Abbas, Sayyidina Anas bin Malik dan masih banyak lainnya. Hampir semua imam besar hadits mengambil riwayat darinya, sebut saja Imam al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majah, Imam al-Tirmidzi, dan lain sebagainya. Di kalangan ulama, Imam Ibnu al-Munkadir memiliki kedudukan yang tinggi. Imam Malik bin Anas mengatakan:

كان محمد سيد القراء لا يكاد أحد يسأله عن حديث إلا كاد أن يبكي

“Muhammad (bin al-Munkadir) adalah tuannya para pembaca al-Qur’an yang hampir tidak ada seorang pun yang menanyakan hadits padanya kecuali berlinangan air mata (hampir menangis).” (Imam Ibnu ‘Asâkir, Târîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Dar al-Fikr, 1997, juz 56, h. 42)

Kisah di atas adalah bukti keluhuran pekerti dan kejujuran lakunya. Demi keberkahan, Imam Ibnu al-Munkadir rela menghabiskan waktunya untuk mencari orang yang membeli kainnya, padahal orang yang dicarinya sudah rela dengan harga yang dibayarkan, tapi Imam Ibnu al-Munkadir bersikukuh. Katanya: “Jikapun kau rela, kami yang tidak rela atas (kerugian)mu.” Sungguh menarik, bukan? Mari kita kaji lebih dalam.

Apa yang dilakukan Imam Ibnu al-Munkadir harus kita pahami sebagai “usaha mengamalkan agama setepat mungkin.” Banyak orang mengamalkan agama sekadarnya saja, atau bahasa kerennya “yang penting ngerjain.” Imam Ibnu al-Munkadir melampaui itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan agamanya setepat mungkin. Artinya, ia berusaha mengamalkan semua aspek yang melingkupi agama. 

Kita bisa skemakan seperti ini, sekadar contoh ya: pertama, ketika ia mengetahui kesalahan budaknya, ia mengamalkan “malu” kepada Allah. Kedua, ketika sepanjang hari mencari orang Badui yang membeli barangnya, ia mengamalkan “sabar”. Ketiga, ketika sudah bertemu dengan orang Badui yang dicarinya, ia mengamalkan “jujur”. Keempat, ketika orang Badui menyatakan kerelaannya, ia mengamalkan “adil”, dan seterusnya. Ini baru gambaran kecil dari pengamalan agama “setepat mungkin”, karena aspek yang melingkupinya masih lebih banyak dari contoh di atas. Masih ada “takut” (khauf), masih ada “raja’” (mengharap), dan lain sebagainya.

Misalnya, apa yang dilakukan Imam Ibnu al-Munkadir bisa juga dipahami sebagai pengamalan “khauf” (takut) atas hilangnya berkah karena menjual barang tidak sesuai harganya, dan “raja” (mengharap) kembali berkah dengan perjuangannya mencari pembeli yang dirugikan itu. Belum lagi pengamalan paling maksimal dan ideal dari setiap aspeknya, misalnya “adil”, “sabar”, “malu”, dan “jujur” dalam level terbaiknya.

Begitu pun sebaliknya, “pengamalan agama setepat mungkin” harus didampingi dengan “penghindaran dosa setepat mungkin”, yang semuanya berakar pada ketakutan. Jika menggunakan skema yang sama seperti di atas; pertama, takut bermaksiat kepada Allah; kedua, takut kehilangan rasa syukur; ketiga, takut menjadi pembohong; keempat, takut dikuasai kezaliman, dan seterusnya. Karena pada dasarnya, menabrak larangan itu lebih berbahaya daripada melanggar perintah.

Kembali pada pembahasan, di akhir kisah, setelah mengetahui identitas Ibnu al-Munkadir, orang Badui tersebut berkata: “Dialah orang yang mengalirkan air di sumur-sumur ketika kami kekeringan”. Artinya, terlepas dari semuanya, Imam Ibnu al-Munkadir adalah orang yang penuh kasih sayang. Dengan kata lain, “pengamalan agama setepat mungkin” dalam tataran tertingginya adalah kasih sayang dan cinta. Karena itu, pengamalan agama tidak memiliki batas, seperti halnya kasih sayang dan cinta. Sebanyak apapun amal yang kita lakukan, yakinlah masih banyak amal yang belum kita lakukan. Ini masih perbincangan dalam wilayah kuantitas, belum wilayah kualitas, yang mana tujuannya tidak sekadar sah atau tidaknya sebuah laku ibadah.

Maka dari itu, kita sebagai manusia harus mulai berbenah, memeluk pengamalan agama sebagai nikmat Tuhan. Orientasi ibadah kita yang mulanya berkutat di wilayah kuantitas, perlahan-lahan harus digeser memasuki wilayah kualitas, tentunya dengan tanpa mengurangi kuntitasnya, agar kita mulai memahami dunia dengan perspektif berbeda. 

Kita sering melihat, banyak orang yang rela mengeluarkan biaya besar untuk membantu masjid, tapi jarang sekali kita melihat orang yang membantu sesamanya. Sekarang lihatlah Imam Ibnu al-Munkadir, ia membantu daerah-daerah yang kekeringan dengan memberi mereka air. Dan ingat, mendapatkan air di zaman itu tidak semudah sekarang. Ia harus mengeluarkan dana besar untuk memenuhi kebutuhan mereka. 

Dengan merenungi kisah Imam Ibnu al-Munkadir, kita jadi tahu bahwa, selama ini kesalehan telah tereduksi maknanya, sebatas rajin shalat, puasa dan ibadah ritual lainnya. Padahal, untuk mencapai predikat saleh, seorang hamba harus melengkapi pengamalan agamanya, dan menaikkan level kualitasnya seperti Imam Ibnu al-Munkadir. Contoh sederhananya begini, shalat kita harus menambah kasih sayang di hati kita; puasa kita harus bisa meningkatkan kesabaran kita; zikir kita harus membuat kita lebih mawas diri, dan seterusnya. Memang tidak mudah, tapi apa salahnya mencoba.

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan Kebumen, dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.

Share:
Senin 15 April 2019 17:30 WIB
Nasihat Sayyidina Luqman al-Hakim untuk Anaknya
Nasihat Sayyidina Luqman al-Hakim untuk Anaknya
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mengumpulkan beberapa nasihat Sayyidina Luqman al-Hakim untuk anaknya. Berikut dua dari sekian banyak nasihatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أبِي، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ مَالِكٍ يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ قَالَ: قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ، اتَّخِذْ طَاعَةَ اللَّهِ تِجَارَةً تَأْتِكَ الْأَرْبَاحُ مِنْ غَيْرِ بِضَاعَةٍ

Diceritakan oleh Abdullah, dari ayahku, dari Sayyar, dari Ja’far, dari Malik, yaitu Ibnu Dinar, ia bekata: ‘Luqman berkata pada anaknya: “Wahai anakku, jadikan ketaatan kepada Allah sebagai perniagaan, maka keuntungan akan mendatangimu tanpa modal barang dagangan.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 64)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أبِي، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَنْبَأَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ وَاسِعٍ قَالَ: كَانَ لُقْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَقُولُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ، اتَّقِ اللَّهَ، وَلَا تُرِ النَّاسَ أَنَّكَ تَخْشَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ؛ لِيُكْرِمُوكَ بِذَلِكَ، وَقَلْبُكَ فَاجِرٌ

Diceritakan oleh Abdullah, dari ayahku, dari Yazid bin Harun, menceritakan Abu al-Asyhab, dari Muhammad bin Wasi’, ia berkata: Luqman al-Hakim as berkata pada anaknya: “Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah, dan jangan tunjukkan pada manusia bahwa kau takut kepada Allah ‘azza wa jalla karena (mengharap) mereka memuliakanmu dengan itu, sedangkan hatimu (mudah) terhanyut.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 64)

****

Bicara soal Sayyidina Luqman al-Hakim memang tidak ada habisnya. Dari mulai perbedaan pendapat ulama tentang kenabiannya, sampai asal-usulnya. Dalam riwayat Sayyidina Ibnu Abbas (3-68 H), Luqman berasal dari Ethiopia. Menurut riwayat Sayyidina Sa’id bin Musayyab (15-94 H) dan Jabir bin Abdullah (16-78 H), ia berasal dari Nubia, Mesir atau Sudan. Ia berkulit hitam, berhidung pesek, pendek, dan berbibir tebal, menurut sebagian besar riwayat. (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Riyadl: Dar Thayyibah, 1999, juz 6, h. 333)

Sayyidina Luqman adalah seorang bijak bestari. Bukti bahwa semua orang punya peluang yang sama menjadi kekasih Tuhan, tanpa memandang warna kulit, latar belakang, dan muasal kelahirannya. Ia tidak sekedar memberi inspirasi, tapi inspirasi itu sendiri. Jejaknya terus hidup, mengajarkan semangat pada generasi setelahnya, terutama orang-orang yang berkeadaan sepertinya. Dalam satu riwayat, ketika seorang berkulit hitam datang, Sayyidina Sa’id bin Musayyab berkata:

لا تحزن من أجل أنك أسود، فإنه كان من أخير الناس ثلاثة من السودان: بلال، ومهجع مولى عمر بن الخطاب، ولقمان الحكيم، كان أسود نوبيا 

“Jangan bersedih karena kau berkulit hitam. Karena sesungguhnya ada tiga manusia terbaik (berkulit hitam) dari Sudan: Bilal, Mahja’ maula (budak) Umar bin Khattab, dan Luqman al-Hakim, ia orang kulit hitam dari Nubia.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, juz 6, h. 333)

Seorang budak yang tidak memiliki kebebasan dan hak menentukan hidupnya, bisa menjadi orang saleh yang bijaksana. Kenapa kita yang dilahirkan merdeka, dengan segala kemudahannya, kadang tidak menjadi apa-apa. Hanya diingat oleh sebagian kecil keluarga dan teman, yang kemudian perlahan-lahan dilupakan orang-orang, sedangkan Sayyidina Luqman, dari masih berstatus budak, telah menunjukkan kebijaksanaannya. Artinya, di sela-sela keterbatasannya sebagai budak, ia meluangkan waktu untuk belajar, meluaskan kelapangan pikiran dan hatinya.

Dua nasihatnya di atas adalah bukti kecerdasannya. Ia mampu menyederhanakan pengetahuan berlevel tinggi agar dimengerti anaknya. Kita asumsikan “bunayya—anakku” di sini adalah anak kecil atau remaja, yang pemahamannya terhadap sesuatu belum sempurna. Dengan menggunakan diksi “tijârah—perniagaan”, ia sedang menanamkan benih ketulusan di hati anaknya, bahwa untuk permulaan, anggaplah ketaatan kepada Allah sebagai perniagaan, dan kau akan mendapatkan keuntungan tanpa mengeluarkan modal. Seiring berjalannya waktu dan pengalaman hidup (berniaga sesama manusia), perlahan-lahan ia akan menyadari tidak ada mitra niaga yang sebaik Allah subhanahu wa ta’ala.

Di kalimat berikutnya, Sayyidina Luqman mengatakan, “maka keuntungan akan mendatangimu tanpa modal barang dagangan”. Kalimat ini mengandung dua hikmah penting. Pertama, penguat benih ketulusan yang telah ditanamkan. Kalimat, “tanpa modal barang dagangan”, merupakan proses pengajaran agar tidak terlalu terikat dengan sifat kebendaan. Mudahnya begini, ketika seseorang berniaga dengan modal, ia mengharapkan keuntungan yang lebih dari modal yang dikeluarkannya, jika gagal ia akan diselimuti kekecewaan. Berbeda dengan perniagaan yang iming-iming keuntungannya tanpa mengeluarkan modal. Orang yang melakukannya tidak akan berhitung untung-rugi.

Kedua, ajaran untuk berprasangka baik kepada Tuhan (husnudhan), bahwa berbisnis dengan Tuhan tidak mungkin gagal. Karena sebenarnya Tuhan telah memberikan banyak modal kepada kita, dari mulai kehidupan yang tidak pernah diminta, hingga pengetahuan bahwa setiap yang bernyawa pasti mati. Ini menunjukkan pentingnya arti kehidupan dan pentingnya berbuat sesuatu dalam hidup dan memaknainya. Jadi, gagal dan tidaknya tergantung prasangka kita kepada Tuhan sebagaimana firmanNya (hadits qudsi): “Anâ ‘inda dhanni ‘abdî bî—Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”

Di nasihat yang kedua, Sayyidina Luqman menginginkan anaknya untuk menjadi orang yang bertakwa. Menariknya, nasihat tersebut disertai dengan peringatan, bahwa kebaikan sangat dekat dengan riya dan ujub. Maka, Sayyidina Luqman meminta anaknya untuk menyembunyikan ketakwaannya kepada Allah agar tidak sampai dimuliakan dan dipuji. Sebab, hati manusia itu sangat rapuh, mudah tertarik dan benci atas sesuatu, dan mudah terhanyut dan terbuai akan sesuatu. Sebagai permulaan, cara teraman menghindari pujian adalah menyembunyikan amal baik dari orang lain.

Karena itu, sangat penting bagi kita untuk menasihati diri kita sendiri sebelum menasihati orang lain. Untuk menjadi penasihat dan orangtua yang baik seperti Sayyidina Luqman, kita harus memantaskan diri terlebih dahulu dengan belajar. Karena dengan pengetahuan, kita bisa memilih kata yang paling baik untuk menasihati. Jika Sayyidina Luqman saja, yang tidak tumbuh di lingkungan terbaik bisa menjadi orang saleh dan bijak. Tidak ada alasan bagi kita, yang tidak pernah menjadi budak, tidak bisa melakukannya. Benar, bukan?

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Ahad 14 April 2019 18:30 WIB
Ketika Sayyidina Thalhah Mencurigai Sayyidina Umar
Ketika Sayyidina Thalhah Mencurigai Sayyidina Umar
Dalam kitab Hilyah al-Auliyâ’, Imam Abu Nu’aim al-Asbahânî, mencatat sebuah riwayat yang bercerita tentang Sayyidina Umar dan Sayyidina Thalhah. Berikut riwayatnya:

حدّثنا محمَّدُ بْنُ مَعْمَر، ثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْد الله، ثَنَا الْأَوْزاعيُّ، أَنّ عُمرَ بْنَ الْخطّاب، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خرج في سَوادِ اللّيْلِ اللّيْل فرأَه طلْحَةُ، فذهبَ عُمرُ فدَخلَ بيتًا ثُمَّ دَخلَ بَيتًا آخَر، فَلَمَّا أَصْبَحَ طَلْحَةُ ذهب إلى ذلك البيتِ فَإِذَا بِعَجُوزٍ عَمْيَاءَ مُقْعدةٍ، فقال لها: ما بال هذا الرّجلِ يَأْتِيكِ؟ قالتْ: إنّه يتَعَاهَدُنِي منْذُ كذا وكذا، يَأْتِينِي بِمَا يُصْلحنِي، ويخْرِج عنِّي الْأَذَى، فقال طلْحةُ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا طَلْحَة ‍ أَعَثَرَات عُمَرَ تَتْبَعُ؟»

Diceritakan Muhammad bin Ma’mar, dari Yahya bin Abdullah, dari al-Auza’i, bahwa sesungguhnya Umar bin al-Khattab radliyallahu ‘anhu keluar di suatu malam yang gelap, dan Thalhah melihatnya. Umar pergi dan memasuki sebuah rumah kemudian masuk ke rumah lainnya. Ketika (hari sudah) pagi, Thalhah pergi ke rumah (yang dimasuki Umar), ia bertemu dengan seorang wanita tua yang buta sedang duduk. 

Thalhah bertanya padanya: “Apa urusan laki-laki itu (Umar bin Khattab) mendatangimu?” Wanita itu berkata: “Sesungguhnya ia pernah menjanjikan kepadaku ini dan itu, ia mendatangiku dengan (membawa) kebutuhanku dan menghilangkan sakitku.”

Lalu Thalhah berkata (pada dirinya sendiri): “Celakalah kamu, wahai Thalhah! Apa kesalahan Umar yang sedang kau cari?” (Imam Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Ashfiyâ’, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 1974, juz 1, h. 48)

****

Manusia memiliki kecenderungan bersenang-senang, dan salah satu kesenangan yang paling digemari manusia adalah berprasangka. Berprasangka menghadirkan sensasi tersendiri, terutama prasangka buruk tentang sesamanya. Sifat ini ada di setiap manusia, siapapun orangnya, yang membedakan adalah sikapnya.

Dalam riwayat di atas, seorang sahabat yang mulia, Sayyidina Thalhah bin Ubaidillah (w. 36 H), menyesali prasangkanya, meski kita yakin prasangkanya berasal dari niat baiknya. Itu dibuktikan dengan tabayyun (klarifikasi) yang dilakukannya. Kecurigaan tidak langsung membuatnya menuduh. Ia berupaya memastikan terlebih dahulu dengan mendatangi salah satu rumah yang dikunjungi Sayyidina Umar malam itu. Ia mencoba mengkonfirmasi keraguannya. Setelah mendengar jawabannya, ia sangat menyesal, hingga menghardik dirinya sendiri dengan keras, “Celakalah kau, wahai Thalhah! Apa kesalahan Umar yang sedang kau cari?”

Inilah yang dimaksud “sikap”, respon baik yang ditampilkan, baik ketika curiga (dengan cara ber-tabayyun), maupun ketika menyesal (dengan cara tidak melanjutkan ke rumah-rumah lainnya). Lalu bagaimana dengan kita?

Kebanyakan dari kita tidak bisa menahan diri. Kita terlalu gemar membincangkan prasangka kita dengan orang lain, tanpa tabayyun, tanpa penyesalan, dan tanpa keberatan. Kita santai saja berbincang ke sana-kemari, meski prasangka yang kita miliki belum tentu benar adanya, tapi kita, dengan tanpa keseganan sedikit pun menyebarkannya. Kita lupa bahwa itu hanya prasangka. Allah berfirman (QS. An-Najm: 28):

وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ ۖ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.”

Ya, persangkaan itu tidak berfaedah sama sekali terhadap kebenaran, apalagi jika persangkaan itu tidak disertai pengetahuan (bukti) yang kuat. Sekarang ini, hanya bermodalkan prasangka, kita berani membuat berita dan menyebarkannya ke sana-kemari, tanpa ada hasrat untuk menelitinya terlebih dahulu. Ini diperparah dengan cara pandang terhadap berita berdasarkan suka atau tidak suka terhadap orang yang diberitakan. Bukan pada konten, penyebar, dan pembuatnya. Ini memprihatinkan. Karena itu, kita perlu merenungkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam berikut ini (HR. Imam al-Bukhari):

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah perasangka, karena prasangka adalah berita yang paling dusta. Janganlah kalian mencari-cari isu; janganlah mencari-cari kesalahan; janganlah saling saing-menyaingi; janganlah saling hasud; janganlah saling membelakangi (bermusuhan), dan janganlah saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Hadits di atas bukanlah larangan berkontestasi secara sehat, karena Islam sendiri mendorong pemeluknya untuk “fastabîqul khairât—berlomba-lomba dalam berbuat baik”. Persoalannya terletak pada titik awal persaingan itu dimulai, bahasa umumnya “niat.” Jika diawali niat baik, persaingan “kebaikan” akan menghasilkan kebaikan. Jika diawali niat buruk, persaingan “kebaikan” pun bisa mengarah pada keburukan. 

Dengan demikian, kesadaran adalah kuncinya, tapi seringkali kesadaran kita tidak berfungsi. Maksudnya begini, kita sadar telah berbuat salah; kita sadar ini hal benar untuk dilakukan, tapi semuanya tidak berarti apa-apa. Kesadaran kita tidak menggerakkan kita untuk berbuat. Kita sekedar tahu, tapi tidak tergerak untuk melakukannya, meskipun sudah didorong dengan iming-iming pahala dan ancaman dosa, kita masih terlalu malas untuk beraktualisasi dengan kesadaran kita sendiri, apalagi kesadaran orang selain kita.

Kembali ke masalah prasangka buruk (su’udhan). Aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah orang-orang yang membawa berita, atau mata rantai kedua dari sanad berita. Banyak dari kita, sekali mendengar langsung ikut menyebarkannya, tanpa melakukan kroscek sumber dan evaluasi kontennya. Perilaku seperti ini tidak disenangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda (HR. Imam Muslim):

 كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan bohong, jika ia menyampaikan setiap apa yang ia dengar.”

Artinya, tanpa menelaah sumber dan kontennya, baik itu berita, desas-desus, gosip, ataupun tuduhan, kita diajarkan untuk menelitinya terlebih dahulu. Sebab, orang yang menyebarkan dan membicarakan apa saja yang didengarnya, tanpa melakukan kroscek terlebih dahulu, menurut Rasulullah, sudah bisa disebut pembohong. Tentu kita tidak mau termasuk orang yang disebut pembohong itu.

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam menilai sebuah informasi. Jangan terburu-buru mengeluarkan penilaian walaupun hati kita berbisik untuk mempercayainya. Kita harus merenung, menganalisa, dan melacak sumbernya. Andai pun setelah melakukan semua itu kebenaran semakin tampak, kita tetap harus menahan diri. Bisa jadi ada sesuatu yang tidak kita ketahui. Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani mengatakan:

إيَّاك من الكلام ما إن أصبتَ فيه لَم تُؤجَر، وإن أخطأت فيه أثمت، وهو سوء الظنِّ بأخيك

“Berhati-hatilah dalam bicara, jika kau benar, kau tidak akan mendapat pahala. Jika kau salah, kau akan mendapat dosa. (Pembicaraan) itu adalah persangkaan buruk terhadap saudaramu.” (Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Tahdzîb al-Tahdzîb, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1995, juz 1, h. 244)

Dengan demikian, kita harus berusaha memfungsikan kesadaran kita, agar kita tidak menjadi salah satu dari mata rantai persangkaan buruk dan penyebarannya. Dengan kesadaran, kita akan mendahulukan tabayyun sebelum berprasangka buruk, apalagi kemudian menyebarkannya. Jikapun kita berposisi sebagai penerima berita, kita akan lebih berhati-hati dan menganalisisnya terlebih dahulu. Sebagai penutup, syair di bawah ini perlu kita renungkan:

لسانك لا تذكر به عورة امرئ # فأنك عورات وللنّاس أعين
وعينك إن أبدت إليك معايبا # فَصُنْهَا وقل: يا عين للنّاس أعين

Jangan biarkan lidahmu menyinggung cela yang selain(mu)
Karena kau memiliki cela, dan orang-orang memiliki mata
Matamu, jika melihat aib-aib saudaramu, tutupilah
Dan katakan: wahai mata(ku)! Semua orang punya mata

(Imam Jalaluddin al-Suyuthi, al-Kanz al-Madfûn wa al-Fulk al-Masyhûn, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2015, h. 413)

Wallahu’alam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sabtu 13 April 2019 15:0 WIB
Kisah Imam Abu Thayyib dan Tukang Sepatu
Kisah Imam Abu Thayyib dan Tukang Sepatu
Ilustrasi (via Pinterest)
Dalam kitab Siyâr A’lâm al-Nubalâ’, Imam al-Dzahabi memasukkan hikayat menarik Imam Abu Thayyib dan tukang sepatu. Berikut riwayatnya:

قيل: إنّ أَبَا الطَّيِّبِ دفَع خُفّاً له إلى من يُصْلحه، فَمطَله، وَبَقِي كلما جاء نقعه في الْماءِ، وقال: الآنَ أُصلحه, فلمَّا طَال ذلك عليه، قال: إنّما دفعتُه إليْك لتُصلِحَه، لا لتُعلِّمه السِّباحَة

Dikisahkan, (suatau hari) Imam Abu Thayyib menyerahkan sepatunya pada tukang sepatu untuk diperbaiki. Tukang sepatu itu tidak langsung (memperbaiki)nya. (Akhirnya) ia tinggal (sepatunya di situ). Setiap kali ia datang, sepatunya masih terendam di dalam air, dan tukang sepatu itu berkata: “Sekarang akan kuperbaiki.”

Ketika ia telah lama menunggu (dan sepatunya masih berada di tempat air), Imam Abu Thayyib berkata: “Aku menyerahkan sepatuku padamu untuk diperbaiki, bukan untuk diajari berenang.” (Imam al-Dzahabi, Siyâr A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1985, juz 17, hlm 669)

****

Ternyata tidak hanya sekarang, dari dulu sudah ada pelayanan tidak profesional seperti ini. Padahal pelanggannya bukan orang sembarangan, seorang hakim (qadli), ahli fiqih besar mazhab Syafi’i, tapi tetap saja. Untungnya, Imam Abu Thayyib al-Thabari (348-450 H), meresponsnya dengan asyik, “Aku menyerahkan sepatuku padamu untuk diperbaiki, bukan untuk diajari berenang.” Lalu, di mana letak hikmahnya?

Begini, bicara hikmah itu enak sebenarnya. Di mana saja, di benda apa saja, dan dalam kejadian apa saja, hikmah bisa diambil. Masalahnya seberapa ingin kita bertafakkur dan mengenali hikmah itu tadi. Tapi tunggu dulu, keinginan saja belum cukup lho, ada seni untuk mengenalinya juga. Di sini kita akan mengupasnya satu persatu.

Kisah di atas itu termasuk kisah yang multi-tafsir. Perkataan Imam Abu Thayyib bisa dipersepsikan dalam banyak hal. Bisa berarti kemarahan; bisa berarti kelembutan; bisa berarti kritik santun; bisa berarti humor, dan lain sebagainya. Kenapa begitu? Karena intonasi bicaranya tidak bisa kita dengar, di samping tidak ada tanda baca yang jelas di dalamnya. Ini persoalannya.

Contoh umumnya begini. Ketika seorang suami sedang bertamu di rumah temannya, ponselnya berbunyi, ada Whatsapp masuk dari istrinya: “Mas, pulang”. Tanpa tanda baca dan intonasi, persepsi makna dari “Mas, pulang” menjadi beragam. Jika sang suami membacanya dengan intonasi tinggi, ia akan mengira istrinya marah. Jika membacanya dengan santai, maknanya akan berubah menjadi sekadar permintaan. Jika membacanya dengan nada kemesraan, ia akan mengartikannya sebagai kerinduan. Dan, tiga makna itu mempunyai konsekuensi yang berbeda-beda satu sama lainnya. “Marah” membuatnya bergegas pulang karena takut. “Permintaan” membuatnya tidak tergesa-gesa. “Kerinduan” membuatnya buru-buru pulang karena cinta.

Hal yang sama juga terjadi dalam kisah di atas, kita tidak benar-benar tahu intonasi bicara Imam Abu Thayyib al-Thabari. Kita tidak tahu jika ia sedang marah, bercanda, kritik mendidik, atau bagaimana. Semua ekspresi yang disebutkan tadi bisa masuk dalam kisah di atas. Untuk memahaminya, kita butuh cara pembacaan teks yang indah. 

Cara pembacaan teks yang dimaksud di sini bukan cara pembacaan yang metodologis dan sistematik. Itu ada ilmunya sendiri. Kita hanya akan membicarakan aspek spiritualnya saja, atau lebih tepatnya ‘bagaimana seharusnya seseorang mengolah jiwanya ketika membaca sebuah teks’. Ingat ya, ini bukan metodologi, sekadar refleksi saja. Maka, penyebutannya saja “cara pembacaan teks yang indah”, bukan cara pembacaan teks yang ilmiah. Mari kita simak uraiannya.

Syekh Syamsuddin al-Tabrizi (592-645 H), guru Maulana Rumi, mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah “book of love—kitab cinta” atau “a love letter—surat cinta” dari Tuhan. Ketika seseorang memandang Al-Qur’an sebagai surat cinta dari Tuhan, hatinya terhidupi asmara; pipinya berulangkali merona; jantungnya berpacu kencang; bibirnya tersenyum-senyum sendiri, dan darahnya menggelora bahagia di saat ia membacanya. Kekasih mana yang tak bahagia ketika menerima surat cinta dari kekasihnya. Ia perlakukan ayat-ayat-Nya dengan penuh cinta. Ketika membaca ayat-ayat ancaman, ia memeluknya sebagai kecemburuan. Ketika bertemu ayat-ayat perintah, ia bergegas dengan senyum kerelaan. Berbeda dengan orang yang hatinya diliputi kebencian.

Dan, menjalin cinta dengan Tuhan itu enak lho, aman dari “bertepuk sebelah tangan”. Di samping Tuhan teramat sangat memahami diri kita, mengabulkan doa yang belum pernah kita minta, menunda pengabulan doa untuk waktu yang tepat, dan mendewasakan kita dengan cobaan. Itu karena Tuhan sangat memahami kita, meski seringkali kita berprasangka kepada-Nya. Bagaimana tidak, tanpa minta pun kita diberikan udara untuk bernafas; tanpa minta pun kita diberikan bumi untuk berpijak, dan matahari untuk menghangatkan. Lalu kenapa kita lalai berdoa tentang mereka, apakah doa hanya diperlukan untuk yang tiada, dan yang tidak kita miliki saja? Entahlah, meski semuanya tergantung pada cara pembacaan kita tentang semuanya.

Yang hendak disampaikan di sini adalah, dengan pembacaan yang indah, hikmah dalam peristiwa terburuk pun, seperti kisah Fir’aun, dapat dipahami, apalagi kisah tukang sepatu dan Imam Abu Thayyib, sebuah kisah yang sisi buruknya masih tidak jelas (samar-samar). Menggunakan cara tersebut, perkataan Imam Abu Thayyib dapat diartikan sebagai kritik santun yang mendidik dan lucu. Seakan-akan di benak kita tergambar, ia mengucapkannya dengan penuh tawa dan wajah ceria, bergaya asyik dan cool, tanpa beban kemarahan sama sekali. Tapi, jika membacanya dengan hati yang marah, kesan yang akan ditangkap adalah, Imam Abu Thayyib sedang meluapkan kemarahannya, wajahnya merah, suaranya tinggi, matanya melotot, ia berdiri mendekati tukang sepatu itu dengan menunjuk-nunjuk wajahnya. 

Dengan kata lain, keadaan hati bisa berpengaruh pada cara pandang kita terhadap sesuatu. Karena itu, kita harus belajar mengolahnya, bila perlu semayamkan cinta dan kasih sayang di hati kita, pandang segala sesuatu dengan indah. Jika kita sungguh-sungguh mencari keindahan, ia akan kita temui, bahkan dari kotoran kerbau sekalipun. Paling tidak, kesadaran kita tentang keindahan membuat kita membersihkannya, agar tidak ada orang lain yang menginjak atau terganggu oleh baunya. Lalu kita bayangkan berapa banyak orang yang selamat darinya, itu akan menebarkan kebahagiaan di hati kita. 

Jadi, kita perlu belajar menanamkan perasaan itu di hati kita, seperti di kasus kotoran kerbau. Bila perlu, ketika menginjaknya, kita bersyukur bahwa kita yang menginjaknya, bukan orang lain. Artinya Tuhan memberi kita kesempatan beramal sekaligus kesempatan melatih diri. Pola pandang dan pola pikir seperti ini rasanya perlu dikembangkan, agar dunia terlihat lebih seksi dan penuh harapan. Mungkinkah dilakukan? Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen, dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.