IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Alasan Nabi Muhammad Menghindari Makanan yang Berbau Menyengat

Kamis 18 April 2019 17:0 WIB
Alasan Nabi Muhammad Menghindari Makanan yang Berbau Menyengat
Ilustrasi (openrice.com)
Nabi Muhammad saw. adalah tipikal orang yang selalu menjaga kebersihan dan kesegaran mulut. Salah satu caranya adalah dengan menyikat giginya dengan siwak setiap saat, terutama sebelum dan setelah makan dan juga sebelum menunaikan shalat. Ke manapun Nabi Muhammad saw. pergi, siwak tak pernah ketinggalan. 

Di samping itu, untuk menjaga kesegaran dan kewangian mulutnya, Nabi Muhammad saw. juga menghindari beberapa makanan yang memiliki bau menyengat. Meskipun makanan tersebut halal, namun Nabi Muhammad saw. enggan untuk memakannya. 

Ada sebuah kisah terkait dengan hal ini. Pada masa-masa awal tiba Madinah, Nabi Muhammad saw. tinggal di rumah Abu Ayyub al-Anshari. Nabi Muhammad saw. tinggal di rumah Abu Ayyub selama tujuh bulan. Pada saat itu banyak sahabat yang mengirim makanan untuk Nabi Muhammad saw. Beliau hanya memakan secukupnya, selebihnya diberikan kepada sahabat lainnya yang memerlukan.

Suatu ketika giliran Abu Ayyub al-Anshari mengirim semangkuk makanan untuk Nabi Muhammad saw. Semula baik-baik saja. Nabi Muhammad saw. menerima makanan dari sahabatnya itu. Namun selang beberapa saat semangkuk makanan dari Abu Ayyub al-Anshari itu dikembalikan tanpa disentuh Nabi Muhammad saw. sedikit pun. 

Keadaan ini tentu saja membuat Abu Ayyub al-Anshari bertanya-tanya. Mengapa makanannya dikembalikan Nabi Muhammad saw. tanpa disentuh sedikit pun? Apa yang salah dengan makanannya? Apakah masakannya tidak enak? 

Selang beberapa waktu, Abu Ayyub al-Anshari memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Nabi Muhammad saw. perihal persoalan makanan tersebut. Nabi Muhammad saw. menjawab, dirinya tidak membenci makanan yang dikirimkan Abu Ayyub tersebut. Nabi juga menegaskan kalau dirinya tidak ada masalah dengan Abu Ayyub al-Anshari, selaku tuan rumah.

Lantas apa yang menyebabkan Nabi Muhammad saw. tidak bersedia memakan masakan yang dikirimkan Abu Ayyub al-Anshari tersebut, barang sedikitpun? Tidak pula menyentuhnya. 

Rupanya Nabi Muhammad saw. menghindari masakan tersebut karena ada bau bawang dalam makanan itu. Nabi Muhammad saw. tidak mau memakannya karena khawatir akan menimbulkan bau mulut yang kurang sedap. Meski demikian, Nabi Muhammad saw. mempersilahkan para sahabatnya untuk memakan masakan yang menyengat, selagi mereka doyan kerena itu tidaklah haram.

“Aku mencium bawang pada makanan itu. Karena statusku penerima wahyu, aku khawatir (bau itu) akan mengganggu penjaga wahyu. Kalau kalian, makanlah,” kata Nabi Muhammad saw. kepada Abu Ayyub al-Anshari dalam Thabaqat Ibn Sa’d, seperti direkam dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad, Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazhah, 2018).

Itulah alasan Nabi Muhammad saw. menghindari makanan dengan bau yang menyengat. Tidak lain itu berhubungan dengan tugasnya sebagai seorang nabi dan rasul. Beliau khawatir jika memakan makanan dengan bau yang menyengat akan mengganggu tugasnya sebagai penyampai wahyu Allah. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 17 April 2019 8:0 WIB
Nasibah, Sahabat Perempuan yang Terlibat dalam Perang Uhud
Nasibah, Sahabat Perempuan yang Terlibat dalam Perang Uhud
Ilustrasi Nasibah binti Ka'ab.
Tidak sedikit sahabat perempuan Nabi Muhammad saw. yang ikut terlibat langsung dalam perang Uhud. Tugas mereka tidak hanya melulu menyediakan suplai air dan mengobati tentara umat Islam yang terluka, tetapi ada dari mereka yang juga ikut memanggul senjata melawan tentara musyrik Makkah. Salah satu sahabat perempuan Nabi Muhammad saw. yang terlibat langsung dalam perang Uhud adalah Nasibah binti Ka’ab. Ada juga yang menyebutnya Nusaibah.

Nasibah merupakan sahabat Nabi Muhammad saw. dari kalangan Anshar. Dia dari Bani Mazim an-Najar. Wanita bergelar Ummu Imarah ini menyatakan diri masuk Islam sebelum Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah. Pada saat Baiat Aqabah kedua, Nasibah termasuk satu dari dua perempuan dan 70 laki-laki dari Yatsrib yang berbaiat kepada Nabi Muhammad saw. ketika itu, dia berbaiat bersama dengan suaminya, Zaid bin Ashim, dan dua orang putranya, Habib dan Abdullah.

Nasibah dikenal sebagai sahabat perempuan yang pemberani. Tercatat, dia beberapa kali ikut dalam peperangan bersama dengan pasukan umat Islam lainnya. Diantara kiprahnya yang heroik adalah ketika terjadi perang Uhud. Sama seperti sahabat perempuan lainnya, semula Nasibah bertugas untuk menyuplai logistik dan merawat pasukan Muslim yang terluka. Namun ketika melihat Nabi Muhammad saw. dan pasukan umat Islam mulai terpojok, Nasibah ikut angkat senjata.

Dikutip dari buku  Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hdis-hadis Shahih (M. Quraish Shihab, 2018), Nasibah berhasil melukai 12 orang musuh dengan pedang dan tombaknya. Pada saat yang sama, dia melindungi Nabi Muhammad saw. dari serangan musuh hingga dirinya terluka. Akibat dari aksinya itu, Nasibah menderita luka-luka di sekujur tubuhnya.

"Wahai Abdullah (putra Nasibah), balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga," kata Nabi Muhammad saw. kepada Abdullah, putra Nasibah. Mendengar doaseperti itu, Nasibah malah semakin semangat untuk memberikan perlindungan kepada Nabi Muhammad saw.

Kiprah dan peran Nasibah dalam perang Uhud juga diakui Sayyidina Umar bin Khattab. Dalam sebuah riwayat, Sayyidina Umar bin Khattab mengatakan bahwa pada saat perang Uhud ‘Nasibah ada dimana-mana.’ Ke manapun Sayyidna Umar menoleh, di situ pasti ada Nasibah yang sedang bertempur. 

Nasibah juga terlibat dalam perang Yamamah pada zaman Khalifah Abu Bakar as-Ssiddiq. Sebuah pertempuran melawan kaum murtad di bawah komandi nabi palsu Musailamah al-Kadzab. Dalam perang ini, Nasibah menderita 12 luka. Meski demikian, dia sangat bersyukur karena anaknya, Abdullah, berhasil membunuh Musailamah. Nasibah juga terlibat dalam perang Khaibar dan perang Hunain. 

Di samping pemberani, Nasibah adalah sahabat Nabi Muhammad saw. yang penyabar dan mendahulukan kepentingan orang lain dan Islam. Hal itu terbukti ketika salah seorang anaknya, Habib, meninggal dalam sebuah peperangan. Dia tidak bersedih dan malah bangga karena dia yakin bahwa anaknya mati syahid dan akan dimuliakan Allah di akhirat nanti.

Nasibah wafat pada tahun ke-13 H atau pada masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khattab. Nasibah menjadi teladan bagi umat Islam bahwa tugas wanita tidak melulu ‘di belakang’. Dia memberikan teladan bahwa wanita juga bisa tampil ke depan dan bahkan ikut memanggul senjata bersama dengan pasukan Muslim memerangi musuh-musuh Islam. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 16 April 2019 19:0 WIB
Gambaran Wajah Nabi Muhammad
Gambaran Wajah Nabi Muhammad
“Siapa pun yang mendeskripsikan sosoknya (Nabi Muhammad saw.), pastilah berkata, ‘Belum pernah aku melihat sosok sesempurna Rasulullah,” kata Al-Hafizh al-‘Iraqi. 

Nabi Muhammad saw. tidak hanya memiliki akhlak yang sempurna, tetapi juga penampilan fisik yang sempurna. Banyak sahabat yang memberikan testimoni akan ‘kesempurnaan fisik’ Nabi Muhammad saw. Salah satunya adalah Al-Bara ibnu Azib. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan beberapa perawi seperti Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad, Al-Bara mengatakan bahwa dirinya belum pernah melihat seseorang yang lebih tampan dari pada Nabi Muhammad saw.

Dalam sebuah riwayat lain, Al-Bara mengumpamakan wajah Nabi Muhammad saw. sama indahnya seperti bulan. Bahkan sahabat yang bernama Jabir bin Samurah memberikan penilaian yang lebih tinggi lagi. Menurut Jabir, wajah Nabi Muhammad saw. lebih indah dari pada bulan purnama sekalipun. 

Lantas seperti apakah sebetulnya gambaran wajah Nabi Muhammad saw.? Berdasarkan beberapa riwayat yang tercantum dalam asy-Syamail al-Muhammadiyyah (Imam at-Tirmidzi) dan buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hdis-hadis Shahih (M. Quraish Shihab, 2018), Nabi Muhammad saw.  memiliki kulit yang tidak terlalu putih, juga tidak terlalu gelap atau putih kemerah-merahan. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak juga lurus tergerai. Sangat hitam pekat. Rambut Nabi Muhammad saw. lebat dan ‘cukup panjang’ sehingga ujung rambutnya menyentuh daun telinga bagian bawah. Rambutnya paling panjang segitu dan tidak pernah melebihi bagian bawah daun telinganya. Nabi Muhammad saw. selalu merawat dan menyisir rambutnya sehingga selalu indah dan rapi.

Disebutkan kalau kepala Nabi Muhammad saw. besar dan wajahnya tidak terlalu bulat. Dahi beliau lebar dan rata. Sementara beliau memiliki mata yang lebar dengan bola mata yang sangat putih dan sangat hitam. Bulu matanya sangat hitam dan lentik. Begitupun dengan pinggiran mata Nabi Muhammad saw., sangat hitam. Sehingga beliau seperti orang yang mengenakan celak, padahal tidak. 

Adapun alis Nabi Muhammad saw. melengkung dan panjang sehingga kedua alisnya hampir menyatu. Di antara dua alisnya tersebut ada urat yang memerah kalau Nabi Muhammad saw. menahan amarah. Nabi Muhammad saw. memiliki pandangan mata yang sangat tajam dan berwibawa. Kerlingan mata Nabi Muhammad saw. tidak pernah mengisyaratkan hal-hal yang buruk, meski kepada musuhnya sekali pun. 

Nabi Muhammad saw. memiliki hidung yang mancung. Meski demikian, hidung Nabi Muhammad saw. tidak semancung hidung orang Arab pada umumnya. Hidungnya sangat serasi dengan bentuk dan ukuran wajahnya. Bagian atas hidung Nabi Muhammad saw. bercahaya sehingga orang yang tidak memperhatikannya dengan seksama bakal mengira kalau hidung Nabi bengkok. 

Pipi beliau datar. Jenggotnya tebal dan cambangnya lebat. Sedangkan mulut Nabi Muhammad saw. cenderung besar. Giginya tertata rapi meski sedikit jarang. Nabi Muhammad saw. selalu menyikat giginya, tidak hanya sesudah dan sebelum tidur tapi juga setelah selesai makan dan juga sebelum shalat, dengan menggunakan siwak. Maka tidak heran jika gigi Nabi Muhammad saw. selalu bersih berkilau dan tidak bau. 

“Gigi depan Rasulullah saw. tampak renggang. Ketika berbicara, di antara gigi depan beliau itu seperti keluar cahaya,” kata Ibnu Abbas ra.

Itulah gambaran wajah Nabi Muhammad saw. berdasarkan hadits atau riwayat yang ada. Tentu gambaran itu tidak sepenuhnya menggambarkan wajah Nabi Muhammad saw. dengan sedetil-detilnya. Akan tetapi, mozaik-mozaik tentang gambaran wajah Nabi Muhammad saw. itu setidaknya bisa menjadi ‘bayangan’ kita tentang bagaimana keindahan fisik Nabi Muhammad saw. Wallahu ‘alam (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 9 April 2019 14:0 WIB
Ketika Umair bin Wahab Hendak Membunuh Nabi Muhammad
Ketika Umair bin Wahab Hendak Membunuh Nabi Muhammad
Umair bin Wahab al-Jumahi adalah salah seorang pemuka kafir Quraisy Makkah yang keras menentang dakwah Islam. Bahkan, Umair bin Wahab juga adalah salah seorang yang kerapkali menyiksa Nabi Muhammad saw. dan umat Islam ketika mereka masih tinggal di Makkah atau belum hijrah ke Madinah.

Sama seperti pemuka kafir Quraisy lainnya, Umair bin Wahab al-Jumahi juga terlibat dalam perang Badar. Sebuah perang antara pasukan umat Islam dan pasukan kafir Quraisy Makkah, dimana jumlah pasukan kafir tiga kali lipat lebih banyak dari pasukan umat Islam. Meski demikian, kemenangan ada di pihak pasukan umat Islam. 

Umair bin Wahab al-Jumahi cukup beruntung. Dia tidak terbunuh dalam perang Badar, sementara rekannya yang juga pembesar kafir Quraisy Makkah Abu Jahal dan Umayyah tewas dalam pertempuran itu. Meski demikian, hasil perang Badar menyisakan luka yang mendalam di hati Umair bin Wahab al-Jumahi karena anaknya, Wahab bin Umair, menjadi tawanan pasukan umat Islam. 

Beberapa saat setelah peristiwa perang Badar, Umair bin Wahab duduk-duduk bersama Shafwan bin Umayyah di Hijir. Ketika itu, Shafwan bin Umayyah mengompor-ngompori Umair bin Wahab untuk balas dendam kepada umat Islam. Untuk memompa semangat balas dendam Umair bin Wahab, Shafwan berjanji akan melunasi semua hutang dan memberikan perlindungan bagi Umair bin Wahab dan keluarganya jika misinya berhasil.

Tidak butuh waktu lama bagi Umair bin Wahab untuk menerima tawaran Shafwan tersebut. Berbekal pedang yang tajam Umair bin Wahab al-Jumahi berangkat ke Madinah dengan menaiki unta untuk melaksanakan misi balas dendam, yakni membunuh Nabi Muhammad saw., sang junjungan umat Islam.

Singkat cerita, sebagaimana dikutip dari buku Sirah Nabawiyyah (Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), sambil menenteng pedang Umair bin Wahab al-Jumahi akhirnya sampai di depan Masjid Nabawi. Sayyidina Umar bin Khattab dan para sahabat yang ketika itu berada di depan masjid langsung mengamankan Umair bin Wahab. Para sahabat kemudian membawanya menghadap Nabi Muhammad saw. 

“Apa maksud kedatanganmu wahai Umair?” kata Nabi Muhammad saw. 

Umair bin Wahab tidak langsung menjawab maksud dan tujuan sebenarnya datang ke Madinah. Semula ia menjawab bahwa kedatangannya ke Madinah adalah untuk meminta agar Nabi Muhammad saw. dan umat Islam berbuat baik kepada para tawanan perang Badar, dimana anaknya ada di dalamnya. 

Nabi Muhammad saw. yang sudah tahu tujuan Umair terus mendesak Umair bin Wahab untuk berkata jujur tentang maksud kedatangannya ke Madinah. Umair tetap keukeuh bahwa tujuannya ke Madinah tidak lain adalah untuk itu, meminta agar para tawanan perang diperlakukan baik. Tidak ada tujuan lain. Umair berkilah.

Nabi Muhammad saw. kemudian membeberkan pertemuan dan isi pembicaraan antara Umair bin Wahab dengan Shafwan bin Umayyah di Hijir tempo hari sebelum ia berangkat ke Madinah. Apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw. sama persis dengan apa yang dibicarakan Umair bin Wahab dengan Shafwan bin Umayyah pada waktu itu. 

“Bukankah Shafwan hendak menanggung hutang-hutangmu dan keluargamu agar engkau mau membunuhku? Demi Allah, mustahil engkau akan bisa melaksanakannya,” kata Nabi Muhammad saw. 

Umair bin Wahab tertegun dengan apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw. Bagaimana mungkin pembicaraan yang hanya dilakukannya dengan Shafwan bin Umayyah bisa diketahui oleh orang lain. Maka seketika itu juga Umair bin Wahab al-Jumahi yakin bahwa apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw. adalah wahyu dari Allah. Umair lantas mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam. Beberapa saat setelah itu, Umair bin Wahab kembali ke Makkah dan menyebarkan Islam di sana. (A Muchlishon Rochmat)