IMG-LOGO
Jumat

Hukum Berdzikir saat Khutbah Berlangsung

Jumat 19 April 2019 10:30 WIB
Share:
Hukum Berdzikir saat Khutbah Berlangsung
Berdzikir merupakan hal yang dianjurkan agama. Di dalam Al-Qur’an seruan berdzikir dijelaskan berulang kali. Bahkan di sebagian ayat, berdzikir bisa dilakukan dalam keadaan apa pun: berdiri, duduk atau sambil tiduran. 

Namun di sisi lain, saat khutbah berlangsung, agama menganjurkan jamaah untuk diam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Bagi sebagian orang, berdzikir bisa jadi sudah menjadi kebiasaan, sehingga saat mendengarkan khutbah, mulutnya senantiasa melantunkan dzikir, mungkin juga karena menyelesaikan jumlah wiridan rutinitasnya. Seperti kebiasaan orang berdzikir, tangan pun digerakan untuk menggeser butiran tasbih untuk menghitung jumlah dzikir yang terucap. Bagaimana hukum kebiasaan tersebut menurut pandangan fiqih?

Anjuran diam saat khutbah berlangsung berlaku umum, termasuk diam dari melafalkan dzikir. Demikian pula dianjurkan untuk tidak menggerak-gerakan tangan, kaki atau anggota tubu lain selama khutbah berlangsung, sebab hal tersebut dapat melalaikan konsentrasi jamaah dalam mendengarkan khutbah. Bila anjuran tersebut dilanggar, maka hukumnya makruh.

Anjuran tersebut berlandaskan pada ayat:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya, “Apabila dibacakan Al-Qur’an (baca: khutbah), maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Surat Al-A’raf, ayat 204).

Syekh Zakariyya dalam kitabnya Asna al-Mathalib menjelaskan sebagai berikut:

ويكره للحاضرين الكلام  فيها لظاهر الآية السابقة وخبر مسلم إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت

“Makruh bagi hadirin jamaah Jumat berbicara saat khutbah, karena bunyi eksplisit ayat di atas dan haditsnya Imam Muslim. Jika kamu katakan kepada temanmu, ‘Diamlah!’ di hari Jumat saat khatib berkhutbah, maka kamu telah melakukan perbuatan menganggur (tiada guna).” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 2, hal. 138).

Syekh Sulaiman Al-Jamal mengatakan:

ويكره المشي بين الصفوف للسؤال ودوران الإبريق والقرب لسقي الماء وتفرقة الأوراق والتصدق عليهم ؛ لأنه يلهي الناس عن الذكر واستماع الخطبة ا هـ . برماوي .

Artinya, “Makruh berjalan di antara shaf untuk meminta-minta, mengedarkan kendi atau geriba untuk memberi minuman, membagikan kertas dan bersedekah kepada jamaah, sebab hal tersebut dapat melalaikan manusia dari zikir dan mendengarkan khutbah,” (Syekh Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyatul Jamal, juz II, halaman 36).

Yang dianjurkan saat khutbah berlangsung adalah membaca doa dalam hati, tanpa dilafalkan dan tanpa menggerakan anggota tubuh. Hal tersebut dilakukan dengan harapan mendapat waktu mustajabah yang menurut mayoritas ulama Syafiiyyah terhitung saat khatib duduk di mimbar sampai selesai shalat Jumat.

Al-Imam An-Nawawi mengatakan:

ساعة الإجابة هي ما بين أن يجلس الإمام على المنبر أول صعوده إلى أن يقضي الإمام الصلاة ثبت هذا في صحيح مسلم من كلام رسول الله صلى الله عليه و سلم من رواية أبي موسى الأشعري وقيل فيها اقوال كثيرة مشهورة غير هذا اشهرها أنها بعد العصر والصواب الأول

Artinya, “Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar saat pertama kali ia naik, hingga imam shalat Jumat menyelesaikan shalatnya. Hal ini sesuai dengan keterangan dalam Shahih Muslim dari sabda Nabi, riwayatnya Sahabat Abi Musa Al-Asy’ari. Pendapat lain mengatakan, ada beberapa versi yang banyak dan masyhur selain pendapat yang pertama. Yang paling masyhur adalah setelah Ashar hari Jumat. Pendapat yang benar adalah yang pertama,” (Lihat Al-Imam An-Nawawi, Tahriru Alfazhit Tanbih, juz I, halaman 87).

Syekh Jalaluddin Al-Bulqini sebagaimana dikutip Syekh Mahfuzh At-Tarmasi menjelaskan bahwa anjuran berdoa sepanjang mendengarkan khutbah tidak bertentangan dengan anjuran diam dan mendengarkan khutbah secara seksama, sebab berdoa dalam kondisi tersebut cukup dihadirkan dalam hati.     

Berikut ini penegasan referensinya:

وسئل البلقيني كيف يستحب الدعاء في حال الخطبة وهو مأمور بالإنصات فأجاب بأنه ليس من شرط الدعاء التلفظ بل استحضار ذلك بالقلب كاف في ذلك

Artinya, “Imam Al-Bulqini ditanya. ‘Bagaimana mungkin jamaah Jumat disunahkan berdoa saat berlangsungnya khutbah sementara ia diperintahkan diam?’ Ia menjawab, ‘Doa tidak disyaratkan untuk diucapkan. Menghadirkan doa di dalam hati saat khutbah berlangsung sudah cukup,’” (Lihat Syekh Mahfuzh Termas, Hasyiyatut Tarmasi ‘alal Minhajil Qawim, [Jeddah, Darul Minhaj: 2011 M], cetakan pertama, juz 4, halaman 344).

Namun demikian, bagi jamaah Jumat yang tidak dapat mendengarkan khutbah dengan jelas semisal karena jauh dengan khatib, dianjurkan baginya untuk berdzikir dan membaca Al-Qur’an dengan suara pelan sekiranya tidak mengganggu jamaah lain. Dalam kondisi demikian, menurut Syekh Ali Syibramalisi, yang lebih utama adalah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad.

Disebutkan dalam kitab I’anah al-Thalibin sebagai berikut:

وسن إنصات أي سكوت مع إصغاء لخطبة ويسن ذلك وإن لم يسمع الخطبة نعم الأولى لغير السامع أن يشتغل بالتلاوة والذكر سرا.

“Sunah diam besertaan mendengarkan seksama kepada khutbah. Yang demikian tersebut disunahkan meski jamaah tidak mendengarkan khutbah. Namun demikian, yang lebih utama bagi jamaah yang tidak dapat mendengarkan khutbah adalah menyibukan diri dengan membaca Al-Qur’an dan berdzikir secara samar.”

ـ )قوله: أن يشتغل بالتلاوة والذكر) قال ع ش: بل ينبغي أن يقال أن الأفضل له اشتغاله بالصلاة على النبي - صلى الله عليه وسلم - مقدما على التلاوة، لغير سورة الكهف، والذكر، لأنها شعار اليوم. اه. (قوله: سرا) أي بحيث لا يشوش على الحاضرين

“Tentang ucapan Syekh Zainuddin ‘menyibukan diri dengan membaca Al-Qur’an dan berdzikir’, Syekh Ali Syibramalisi mengatakan, seyogiayanya yang lebih utama dibaca adalah shalawat kepada Nabi yang lebih didahulukan atas membaca Al-Qur’an dan dzikir selain Surat al-Kahfi, sebab yang demikian adalah syiar di hari Jumat. Ucapan Syekh Zainuddin, secara samar, maksudnya sekiranya tidak mengganggu hadirin yang lain.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 99).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hukum melafalkan dzikir dan menggerakkan tasbih saat khutbah berlangsung adalah makruh, kecuali bagi jamaah yang tidak dapat mendengarkan khutbah, maka dianjurkan baginya untuk membaca dzikir dengan suara pelan. Bila terpaksa harus berdzikir, hendaknya cukup dibaca di hati, tanpa perlu diucapkan. Lebih baik lagi menghadirkan doa di dalam hati sepanjang khutbah berlangsung. Demikian semoga bermanfaat.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.

Tags:
Share:
Jumat 29 Maret 2019 6:30 WIB
Tiba setelah Khatib Naik Mimbar, Tak Dapat Pahala Jumatan?
Tiba setelah Khatib Naik Mimbar, Tak Dapat Pahala Jumatan?
Hadits tentang keutamaan berangkat Jumatan lebih awal barangkali tidak asing lagi di telinga masyarakat. Siapa yang tidak ingin mendapat pahala layaknya pahala bersedekah dengan unta, sapi atau kambing? Namun, karena satu dan sekian hal, seseorang terpaksa berangkat Jumatan agak terlambat. Hingga khatib sudah berada di mimbar terkadang ia baru tiba di masjid. Ada anggapan di sebagian masyarakat bahwa orang yang tiba di masjid setelah khatib naik mimbar tidak mendapat pahala Jumatan. Benarkah anggapan demikian?

Keberangkatan awal menuju tempat Jumatan adalah hal yang dianjurkan agama. Rasulullah mengklasifikasi hingga lima kelas pahala jamaah Jumatan sesuai tingkat kedisiplinan berangkat di tempat Jumatan. 

Nabi bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَقَفَتْ الْمَلَائِكَةُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ وَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ كَمَثَلِ الَّذِي يُهْدِي بَدَنَةً ثُمَّ كَالَّذِي يُهْدِي بَقَرَةً ثُمَّ كَبْشًا ثُمَّ دَجَاجَةً ثُمَّ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ طَوَوْا صُحُفَهُمْ وَيَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Dari sahabat Abi Hurairah Nabi bersabda, apabila tiba hari Jumatan, para malaikat berdiri di atas pintu masjid, mereka mencatat orang yang berangkat awal kemudian yang berangkat awal berikutnya. Perumpamaan orang yang berangkat awal menuju masjid seperti orang yang bersedekah unta, kemudian sapi, kemudian kambing, kemudian ayam jago, kemudian telur. Apabila imam (khatib) telah keluar maka para malaikat melipat buku catatan mereka dan bersama-sama mendengarkan khutbah.” (HR. al-Bukhari).

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya dan  Imam Muslim di dalam kitab Shahih-nya dari haditsnya Yunus bin Yazid dari al-Zuhri. Al-Baihaqi juga menulis hadits tersebut dalam Sunan Kubra.

Barangkali anggapan di atas mengacu kepada redaksi:

فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ طَوَوْا صُحُفَهُمْ وَيَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Apabila imam (khatib) telah keluar maka para malaikat melipat buku catatan mereka dan bersama-sama mendengarkan khutbah.”

Bila yang dimaksud tidak mendapat pahala Jumatan adalah pahala yang berkaitan dengan keutamaan berangkat awal, maka anggapan tersebut bisa dibenarkan. Namun jika sampai dipahami mutlak, sama sekali tidak mendapat pahala shalat Jumatan, mendengar khutbah dan lain sebagainya, maka anggapan tersebut tidak tepat.
Beberapa pensyarah (komentator) hadits di atas menegaskan bahwa yang dimaksud malaikat melipat buku catatan adalah hanya berkaitan dengan pahala khusus dari keberangkatan awal menuju masjid. Sedangkan untuk pahala Jumatan yang lain, seperti mendengar khutbah, dzikir, khusyu’ dan lain sebagainya tetap bisa dicatat pahala oleh malaikat petugas pencatat amal kebaikan.

Pakar hadits ternama, Syekh Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan:

وَالْمُرَادُ بِطَيِّ الصُّحُفِ طَيُّ صُحُفِ الْفَضَائِلِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالْمُبَادَرَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ دُونَ غَيْرِهَا مِنْ سَمَاعِ الْخُطْبَةِ وَإِدْرَاكِ الصَّلَاة وَالذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ وَالْخُشُوعِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَإِنَّهُ يَكْتُبهُ الْحَافِظَانِ قَطْعًا

“Yang dikehendaki dengan dilipatnya buku catatan adalah melipat keutamaan-keutamaan yang berkaitan dengan mempercepat menuju Jumatan, bukan hal lain berupa mendengarkan khutbah, menemui shalat Jumatan, berdzikir, doa, khusyu’ dan lain sebagainya, sesungguhnya hal tersebut dicatat dua malaikat penjaga secara pasti.” (Syekh Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 2, hal. 367)

Penjelasan senada disampaikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad al-Qasthalani di dalam Irsyad al-Sari ‘Ala Syarhi al-Bukhari, Syekh Muhammad bin Abdul Baqi al-Zurqani al-Mishri dalam Syarh al-Zurqani ‘ala al-Muwattha’ dan Syekh Ubaidillah bin Muhammad al-Rahmani dalam Mir’at al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih.

Walhasil, tiba di masjid setelah khatib berada di mimbar tetap mendapat pahala Jumatan, namun tidak mendapat pahala istimewa berangkat Jumatan awal. Semoga kita tergolong orang yang diberi kesempatan dan taufiq untuk berangkat Jumatan lebih awal.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.

Rabu 27 Maret 2019 20:30 WIB
Hukum Pengumuman sebelum Khutbah Jumat
Hukum Pengumuman sebelum Khutbah Jumat
Ilustrasi (selatan.jakarta.go.id)
Masjid tidak hanya berfungsi untuk shalat, i’tikaf atau kegiatan ibadah lainnya, namun juga sebagai tempat untuk mempersatukan umat Islam. Minimal satu kali dalam seminggu umat Islam berkumpul bersama di masjid untuk menunaikan Jumatan. Di sela-sela rangkaian Jumatan, masyarakat juga dapat menerima info penting dari takmir masjid setempat, semisal laporan saldo kas masjid, info pengajian, agenda istighotsah, jadwal halaqah, dan lain sebagainya.

Pengumuman tersebut biasanya disampaikan langsung oleh pihak takmir melalui pengeras suara masjid. Pengumuman oleh pihak takmir biasanya disampaikan sebelum khatib naik ke mimbar. Pertanyaannya adalah bagaimana hukum tradisi pengumuman tersebut?

Persoalan ini setidaknya dapat disikapi dalam tiga sudut pandang. Pertama, legalitas penggunaan speaker masjid. Kedua, mengganggu orang shalat. Ketiga, kebolehan berbicara sebelum khutbah.

Pertama, legalitas penggunaan speaker masjid.

Ulama menegaskan bahwa benda milik masjid wajib digunakan untuk kemashlahatan masjid, tidak diperbolehkan untuk dipakai di luar keperluan masjid. Pada titik ini, penggunaan speaker masjid sebagaimana duduk persoalan di atas memiliki legalitasnya di dalam fiqih, sebab pengumuman yang disampaikan pihak takmir masih berhubungan dengan kemaslahatan masjid.

Syekh Izzuddin bin Abdissalam mengatakan:

يتصرف الولاة ونوابهم بما ذكرنا من التصرفات بما هو الأصلح للمولى عليه درءا للضرر والفساد وجلبا للنفع والرشاد ولا يقتصر أحدهم على الصلاح مع القدرة على الأصلح إلا أن يؤدي إلى مشقة شديدة

“Para wali (penanggung jawab urusan orang lain) dan para penggantinya wajib mentasharufkan secara lebih mashlahat untuk pihak yang menjadi tanggung jawabnya, untuk menolak mudlarat dan kerusakan, serta menggapai kemanfaatan dan petunjuk. Mereka tidak boleh terbatas kepada kebaikan padahal mampu menghasilkan yang lebih baik kecuali menyebabkan keberatan yang sangat.” (Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdissalam, Qawa’id al-Ahkam, juz 2, hal. 75)

Berkaitan dengan aturan pemakaian peralatan milik masjid, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

ولا يجوز استعمال حصر المسجد ولا فراشه في غير فرشه مطلقا سواء أكان لحاجة أم لا 

“Tidak boleh menggunakan tikari masjid dan selimutnya selain untuk digelar di masjid secara mutlak, baik karena ada kebutuhan atau tidak.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra, juz 3, hal. 287)

Kedua, mengganggu orang shalat

Pengumuman yang disampaikan sebelum khutbah, terkadang berbarengan dengan kegiatan shalat sunah yang dilaksanakan oleh sebagian jamaah. Di dalam aturan fiqih, mengeraskan suara di masjid hukumnya diperbolehkan asalkan tidak sampai mengganggu orang shalat. Mengganggu yang diharamkan adalah sekiranya sampai pada batas yang tidak ditoleransi menurut kebiasaan orang, sehingga bila gangguan tersebut biasa-biasa saja, tidak dianggap berat oleh umumnya orang, maka diperbolehkan. Dalam titik ini, umumnya pengumuman oleh pihak takmir dianggap wajar oleh masyarakat, selain karena sudah menjadi tradisi, pengumuman tersebut disampaikan secukupnya dan dengan suara yang standar.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

ـ (ويحرم) على كل أحد (الجهر) في الصلاة وخارجها (إن شوش على غيره) من نحو مصل أو قارئ أو نائم للضرر ويرجع لقول المتشوش ولو فاسقا لأنه لا يعرف إلا منه وما ذكره من الحرمة ظاهر لكنه ينافيه كلام المجموع وغيره فإنه كالصريح في عدمها إلا أن يجمع بحمله على ما إذا خف التشويش 

“Haram bagi siapa pun mengeraskan suara di dalam dan di luar shalat, bila hal tersebut dapat mengganggu orang lain, baik orang shalat, pembaca al-Qur’an atau orang tidur, karena menimbulkan mudarat. Mengganggu tidaknya dikembalikan kepada orang yang terganggu meski fasiq, karena hal tersebut tidak bisa diketahui kecuali darinya. Pendapat yang dijelaskan mushannif berupa keharaman mengganggu adalah jelas, namun bertentangan dengan statemen kitab al-Majmu’ dan lainnya. Sesungguhnya dalam kitab tersebut seakan menegaskan ketiadan hukum haram. Kecuali pendapat dalam kitab al-Majmu’ tersebut diarahkan pada mengganggu yang ringan.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Minhaj al-Qawim, juz 2, hal. 396-397).

Mengomentari referensi di atas, Syekh Mahfuzh al-Tarmasi menegaskan:

ـ (قوله على ما إذا خف التشويش) أي وما ذكره المصنف من الحرمة على إذا اشتد وعبارة الإيعاب ينبغي حمل قول المجموع وإن آذى جاره على إيذاء خفيف يتسامح به بخلاف جهر يعطله عن القراءة بالكلية انتهى

“Ucapan Syekh Ibnu Hajar, diarahkan pada mengganggu yang ringan, maksudnya, keterangan yang disebutkan mushannif (Syekh Ibnu Hajar) berupa keharaman mengganggu diarahkan kepada gangguan yang berat. Redaksi kitab al-I’ab menegaskan, seyogyannya statemen kitab al-Majmu’, (makruh) meski menyakiti tetangganya, diarahkan kepada menyakiti dalam taraf ringan yang ditolerir secara umum, berbeda dengan mengeraskan bacaan yang dapat menghambat bacaan jamaah lain secara total.” (Syekh Mahfuzh al-Tarmasi, Mauhibatu Dzi al-Fadli ‘Ala al-Minhaj al-Qawim, juz 2, hal. 396-397).

Ketiga, kebolehan berbicara sebelum khutbah.

Yang diperintahkan oleh agama adalah diam saat khutbah berlangsung, sehingga jamaah dapat menangkap dengan baik khutbah yang disampaikan. Sehingga makruh hukumnya berbicara bagi jamaah saat khutbah berlangsung. Berbeda halnya dengan berbicara sebelum khutbah, hukumnya diperbolehkan dan tidak makruh, sebab tidak ada kaitannya dengan anjuran mendengarkan khutbah secara seksama. Dalam titik ini, berbicara dikembalikan kepada hukum asalnya, yaitu tergantung dengan isi pembicaraannya. Pengumuman yang dilakukan oleh takmir secara isi adalah positif dan bermanfaat untuk jamaah. 

Syekh Zakariyya al-Anshari menegaskan:

ويباح لهم بلا كراهة الكلام قبل الخطبة وبعدها وبينهما أي الخطبتين 

“Diperbolehkan tanpa hukum makruh bagi jamaah untuk berbicara sebelum dan sesudah khutbah dan di antara kedua khutbah.” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 258).

Dalam perincian yang sedikit lebih luas, Syekh Taqiyyuddin al-Hishni mengatakan:

ويجوز الكلام قبل الشروع في الخطبة وبعد الفراغ منها وقبل الصلاة 

“Boleh berbicara sebelum khutbah, seteleh selesai khutbah dan sebelum shalat Jumat.” (Syekh Taqiyyuddin al-Hishni, Kifayah al-Akhyar, juz 1, hal. 151).

Demikian penjelasan mengenai hukum pengumuman sebelum khutbah Jumat. Meski boleh, sebaiknya pengumuman dilakukan sebatas kebutuhan.  Bila masih mungkin menyampaikan info melalui cara lain semisal papan info atau dilakukan setelah ibadah Jumat selesai akan lebih baik lagi, sebab untuk mengantisipasi potensi mengganggu kepada sebagian jamaah. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat

Rabu 27 Maret 2019 13:30 WIB
Makna usai Shalat Jumat ‘Bertebaranlah Kalian di Muka Bumi!’
Makna usai Shalat Jumat ‘Bertebaranlah Kalian di Muka Bumi!’
Berbicara kewajiban Jumat, tidak bisa dilepaskan dengan Surat al-Jum’ah ayat 9-10. Hampir semua kitab fiqih menyebutkan ayat tersebut ketika menjelaskan dalil pensyariatan Jumat. Ayat yang dimaksud adalah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ، فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah, ayat 9-10)

Di dalam ayat di atas setidaknya memuat beberapa hal.  Pertama, perintah bersegara menuju tempat Jumat saat azan Jumat berkumandang. Kedua, larangan jual beli saat azan Jumat berkumandang. Ketiga, perintah bertebaran di muka bumi ketika shalat Jumat telah ditunaikan. 

Perintah bersegara menuju tempat Jumatan dan larangan jual beli saat azan Jumat berkumandang telah diuraikan panjang lebar oleh ulama fiqih, yang pada kesimpulannya merumuskan kewajiban menyiapkan diri berjumatan dan keharaman melakukan aktivitas yang dapat melalaikan Jumat saat azan Jumat berkumandang.

Yang tidak banyak disinggung ulama fiqih adalah perintah untuk bertebaran di muka bumi usai shalat Jumat. Apakah arti dari perintah tersebut? Apakah berimplikasi wajib sebagaimana umumnya kata perintah?

Dalam menjelaskan hal ini setidaknya bisa dibahas dua hal. 

Pertama, petunjuk kata perintah.

Kata perintah di dalam ayat di atas termasuk jenis perintah memperbolehkan (al-amru lil ibahah). Maksudnya kata perintah yang dipahami memperbolehkan sebuah aktivitas, bukan mewajibkan. Bertebaran di bumi setelah menunaikan shalat Jumat adalah sebuah rukhsah (dispensasi/ keringanan) yang diberikan Allah untuk umat Islam. Penjelasan para ulama tafsir dalam hal ini senada. Dari sekian pakar tafsir mulai dari periode kuno hingga kontemperor mengungkapkan hal yang sama.

Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, misalnya, menjelaskan:

القول في تأويل قوله تعالى: فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون

“Penjelasan firman Allah, apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

 يقول تعالى ذكره: فإذا قضيت صلاة الجمعة يوم الجمعة، فانتشروا في الأرض إن شئتم، ذلك رخصة من الله لكم في ذلك.وبنحو الذي قلنا في ذلك قال أهل التأويل.

“Allah berfirman, bila telah ditunaikan shalat Jumat di hari Jumat, maka bertebaranlah di muka bumi jika kalian berkehendak. Demikian ini adalah dispensasi dari Allah untuk kalian. Dan penjelasan yang aku sampaikan ini juga disampaikan oleh para pakar tafsir.” (Al-Imam Abu Ja’far Muhammad Bin Jarir al-Thabari, Tafsir al-Thabari, juz 23, hal. 384)
al-Imam al-Syafi’i mengatakan:

والأمر في الكتاب والسنة وكلام الناس يحتمل معاني أحدها أن يكون الله عز وجل حرم شيئا ثم أباحه فكان أمره إحلال ما حرم كقول الله عز وجل {وإذا حللتم فاصطادوا} [المائدة: 2] وكقوله {فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض} [الجمعة: 10] الآية

“Kata perintah di dalam Al-Qur’an dan hadits,  sesuai penjelasan para ulama, memungkinkan beberapa arti, di antaranya bahwa Allah mengharamkan perkara kemudian memperbolehkannya, maka memerintahkannya adalah menghalalkan perkara yang semula diharamkan, seperti firman Allah “Bila kalian telah tahallul, berburulah” dan seperti firman Allah “Bila shalat Jumat telah ditunaikan, maka bertebaranlah di muka bumi.” (al-Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Tafsir al-Imam al-Syafi’i, juz 2, hal. 521).

Mengapa kata perintah dalam hal ini diarahkan kepada kesimpulan mubah, bukan wajib? Syekh Abu Manshur al-Maturidi menjelaskan bahwa hal tersebut sesuai dengan teori dalam bab perintah bahwa setiap kata perintah yang disampaikan setelah larangan, maka memberi petunjuk ibahah (memperbolehkan). Sebelum Allah memerintahkan bertebaran di bumi, Allah terlebih dahulu melarangnya. Larangan bertebaran di bumi berlaku ketika Jumat belum selesai ditunaikan, kemudian perintah bertebaran di bumi konteksnya adalah setelah selesai menjalankan Jumat. 

Syekh Abu Manshur al-Maturidi mengatakan:

وقوله - عز وجل -: (فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون (10) أي: رحمة الله؛ هذا خرج في الظاهر مخرج الأمر، ولكنه في حكم الإباحة عندنا؛ لأن هذا أمر خرج على أثر الحظر، 

“Firman Allah “apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”, maksudnya beruntung mendapat rahmat Allah. Ayat ini secara lahir dibentuk dalam kata perintah, namun berada dalam hukum ibahah (memperbolehkan) menurut pendapat kami (Ahlussunnah wal Jamaah), sebab ini adalah perintah yang disebutkan setelah larangan.”

والأصل المجمع عليه عندهم: أن كل أمر خرج على أثر الحظر فهو في حكم الإباحة، وما خرج مخرج الإباحة فإن الحكم فيه يتصرف على تصرف الأحوال، فإن كانت الحالة توجب فرضيته كان فرضا، وإن كانت توجب واجبا فواجب، وإن أدبا فأدب

“Dasar yang disepakati ulama Ahlus Sunnah wa al-Jamaah adalah bahwa setiap perintah yang disebutkan setelah larangan, maka berada dalam hukum ibahah (memperbolehkan). Setiap hal yang berada dalam ibahah, maka hukumnya disesuaikan dengan kondisi. Bila kondisinya menuntut fardlu, maka hukumnya fardlu, bila wajib, maka hukumnya wajib, bila berkaitan dengan etika, maka menyesuaikan hukum etika.” (Syekh Abu Manshur al-Maturidi, Ta’wilatu Ahlus Sunnah, juz 10, hal. 14).

Kedua, maksud bertebaran di bumi yang diperintahkan.

Bertebaran di bumi ada dua tafsir. Pendapat pertama mengatakan maksudnya adalah bertebaran untuk berdagang dan membelanjakan harta untuk memenuhi kebutuhan. Pendapat kedua, bertebaran untuk menjenguk orang sakit, melayat jenazah, dan bersilaturrahim.

Al-Imam al-Baghawi menegaskan:

قوله عز وجل: فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض، أي إذا فرغ من الصلاة فانتشروا في الأرض للتجارة والتصرف في حوائجكم، وابتغوا من فضل الله، يعني الرزق وهذا أمر إباحة كقوله: وإذا حللتم فاصطادوا [المائدة: 2] ـ 

“Firman Allah, bila telah ditunaikan shalat Jumat, maka bertebaranlah di bumi, maksudnya bila telah selesai shalat Jumat, maka bertebaranlah di bumi untuk berdagang dan mengalokasikan harta untuk kebutuhan kalian, dan carilah dari anugerah Allah, maksudnya rezeki. Demikian ini adalah perintah ibahah (memperbolehkan), seperti dalam firman Allah “Bila kalian telah tahallul, maka berburulah.”

قال ابن عباس: إن شئت فاخرج وإن شئت فاقعد وإن شئت فصل إلى العصر 

“Sahabat Ibnu Abbas berkata, bila kamu berkehendak, maka keluarlah,  bila kamu berkehendak, maka duduklah, bila kamu berkehendak, shalatlah sampai Ashar.”

وقيل: فانتشروا في الأرض ليس لطلب الدنيا ولكن لعيادة مريض وحضور جنازة وزيارة أخ في الله 

“Dikatakan dalam sebagian pendapat, maka bertebaranlah di bumi bukan untuk mencari dunia, tetapi untuk menyambangi orang sakit, melayat jenazah dan mengunjungi saudara karena Allah.” (Al-Imam al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi, juz 5, hal. 93)

Namun demikian, dua tafsir tersebut tidak bisa kita pahami bertentangan, sebab keduanya sepakat bahwa bertebaran di bumi, baik berkaitan dengan urusan mengais rezeki, beribadah atau kegiatan sosial, hukumnya diperbolehkan. Sebab aktivitas tersebut dilakukan setelah selesai melaksanakan Jumat. 

Walhasil, substansi bertebaran di bumi usai menunaikan Jumat yang dimaksud adalah izin dari syariat untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari, bisa urusan kerja, mencari ilmu, beristirahat dan lain sebagainya. Pesan yang ditekankan oleh Allah dalam ayat di atas adalah agar seorang muslim meluangkan waktunya di hari Jumat untuk menjalankan kewajiban Jumat. Setelah ibadah Jumat ditunaikan, mereka dipersilahkan untuk melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat