IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Lima Sikap Teladan Nabi Muhammad kepada Istrinya

Jumat 19 April 2019 17:0 WIB
Lima Sikap Teladan Nabi Muhammad kepada Istrinya
Ilustrasi suami-istri (©shutterstock.com/PixAchi)
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik…” (QS. Al-Ahzab: 21)

Nabi Muhammad saw. menjadi teladan paripurna dalam menjalani kehidupan di dunia ini bagi seluruh umat Islam. Tidak hanya dalam urusan ibadah saja, tapi juga dalam hal muamalah atau berinteraksi sosial, termasuk berhubungan dengan istri. Nabi Muhammad saw. telah memberikan contoh bagaimana seharusnya mengarungi biduk rumah tangga dengan baik. Sehingga ‘tujuan’ menikah atau berumah tangga yaitu sakinah (ketentraman) bisa diraih. Karena bagaimanapun kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad saw. merupakan aplikasi dari nilai-nilai qur’ani.

Lantas bagaimana sesungguhnya Nabi Muhammad saw. bersikap dan berhubungan dengan istrinya? 

Setidaknya ada lima sikap teladan Nabi Muhammad saw. kepada istrinya. Pertama, menghibur istri yang sedih. Nabi Muhammad saw. adalah suami yang tahu apa yang harus dilakukan ketika istrinya sedang bersedih. Beliau selalu mendengarkan curhatan istrinya, menghibur jika istrinya tersakiti, menghapus air mata istri dan menggantinya dengan senyuman.

Terkait hal ini, ada cerita menarik. Suatu ketika Hafshah binti Umar bin Khattab, seorang istri Nabi Muhammad saw., melontarkan kata-kata yang menyakiti hati Shafiyyah, seorang istri Nabi Muhammad saw. yang lainnya. Hafshah ‘mengejek’ Shafiyyah dengan sebutan 'anak perempuan Yahudi'. Memang, Shafiyyah adalah anak perempuan dari Huyay, seorang pimpinan Yahudi terpandang dari Bani Nadhir. Namun kata-kata Hafshah itu membuatnya menangis. Kemudian Shafiyyah mengadu kepada Nabi Muhammad saw. terkait hal itu. 

“Sesungguhnya engkau (Shafiyyah) adalah putri seorang nabi, pamanmu adalah seorang nabi, dan engkau pun berada di bawah naungan nabi. Maka apakah yang ia banggakan atas dirimu?” kata Nabi Muhammad saw. melipur lara istrinya yang tersakiti, Shafiyyah, merujuk buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011).

Kedua, romantis. Sikap romantis merupakan upaya untuk menjaga agar cinta terus bersemi di hati. Menjadi seorang nabi dan rasul tidak menghalangi Nabi Muhammad saw. untuk berlaku romantis kepada istrinya. Sebagaimana riwayat Sayyidah Aisyah, suatu ketika Nabi Muhammad saw. pernah menggigit daging di bekas gigitannya Sayyidah Aisyah dan minum di bekas mulutnya istrinya itu. Jika malam tiba, Nabi Muhammad saw. juga mengajak Sayyidah Aisyah jalan-jalan sambil berbincang-bincang. Itu sikap romantis yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw. kepada istrinya, makan dan minum dalam satu wadah yang sama. 

Ketiga, tidak membebani istri. Nabi Muhammad saw. senantiasa mengerjakan pekerjaannya sendiri. Tidak pernah Nabi Muhammad saw. membebani istrinya dengan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dikerjakannya sendiri. Nabi menyulam pakaiannya yang robek sendiri. Menjahit sandalnya yang putus sendiri. Tidak hanya itu, Nabi Muhammad saw. juga membantu istrinya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

“Rasulullah senantiasa melakukan pekerjaan rumah tangga (membantu urusan rumah tangga). Apabila waktu shalat tiba, maka beliau pun keluar untuk shalat,” kata Sayyidah Aisyah dalam sebuah riwayat.

Keempat, melibatkan istri dalam kejadian penting. Nabi Muhammad saw. kerapkali curhat kepada istrinya terkait dengan persoalan yang tengah dihadapi. Dengan bercerita kepada istrinya, Nabi Muhammad saw. berharap ada solusi yang didapatkannya. Salah satu istri Nabi Muhammad saw. yang sering menjadi teman curhat adalah Sayyidah Ummu Salamah, yang memang terkenal kecerdasannya.

Terbukti, Sayyidah Ummu Salamah pernah beberapa kali memberikan solusi atas persoalan yang menimpa Nabi Muhammad saw. Diantaranya adalah kejadian setelah ditandatanganinya Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 Hijriyah. Perjanjian Hudaibiyah dinilai para sahabat merugikan umat Islam. Alasannya, sesuai dengan isi perjanjian, umat Islam yang saat itu hendak menjalankan ibadah umrah. Mereka baru diperbolehkan umrah tahun depan. 

Setalah menandatangai perjanjian, Nabi Muhammad saw. mengajak kepada para sahabatnya untuk mencukur rambut mereka masing-masing dalam rangka bertahalul sebelum kembali ke Madinah. Namun, para sahabat enggan menuruti ajakan Nabi Muhammad saw. tersebut. Hal itu membuat Rasulullah ‘kesal’. Nabi Muhammad saw. lalu menceritakan kejadian itu kepada Sayyidah Ummu Salamah yang saat itu ikut dalam rombongan. 

Kata Sayyidah Ummu Salamah: “Wahai Rasulullah, keluarlah sehingga mereka melihatmu, namun jangan berbicara dengan seorang pun. Lalu sembelihlah untamu dan panggil tukang cukur untuk memotong rambutmu.” Rasulullah menuruti saran Sayyidah Ummu Salamah. Beliau keluar dari tendanya, tidak bicara dengan siapapun, kemudian menyembelih  untanya dan mencukur rambut. Dan benar. Setelah Rasulullah melaksanakan usulan Sayyidah Ummu Salamah, para sahabat berbondong-bondong mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah.

Kelima, tidak pernah memukul dan menyakiti istri. Suatu ketika Sayyidah Aisyah berbicara dengan nada tinggi kepada Nabi Muhammad saw. Sayyidina Abu Bakar yang saat itu berada di kediaman Nabi Muhammad saw. mendengar dan tidak rela kalau Nabi Muhammad saw. diperlakukan seperti itu, meski oleh anaknya sendiri. Bahkan, Sayyidian Abu Bakar berusaha untuk memukul Sayyidah Aisyah. Tapi, Nabi Muhammad saw. buru-buru mencegahnya. Nabi Muhammad saw. tidak ingin istrinya tersakiti, meski oleh orang tuanya sendiri ataupun Nabi sendiri.

Sikap Nabi Muhammad saw. yang tidak pernah memukul atau menyakiti  istrinya diperkuat dengan pernyataan Sayyidah Aisyah dalam sebuah riwayat. Kata Sayyidah Aisyah, Rasulullah tidak pernah memukul istrinya sekalipun. Malah beliau melipur lara istrinya yang menangis karena suatu hal. (A Muchlishon Rochmat)
Kamis 18 April 2019 17:0 WIB
Alasan Nabi Muhammad Menghindari Makanan yang Berbau Menyengat
Alasan Nabi Muhammad Menghindari Makanan yang Berbau Menyengat
Ilustrasi (openrice.com)
Nabi Muhammad saw. adalah tipikal orang yang selalu menjaga kebersihan dan kesegaran mulut. Salah satu caranya adalah dengan menyikat giginya dengan siwak setiap saat, terutama sebelum dan setelah makan dan juga sebelum menunaikan shalat. Ke manapun Nabi Muhammad saw. pergi, siwak tak pernah ketinggalan. 

Di samping itu, untuk menjaga kesegaran dan kewangian mulutnya, Nabi Muhammad saw. juga menghindari beberapa makanan yang memiliki bau menyengat. Meskipun makanan tersebut halal, namun Nabi Muhammad saw. enggan untuk memakannya. 

Ada sebuah kisah terkait dengan hal ini. Pada masa-masa awal tiba Madinah, Nabi Muhammad saw. tinggal di rumah Abu Ayyub al-Anshari. Nabi Muhammad saw. tinggal di rumah Abu Ayyub selama tujuh bulan. Pada saat itu banyak sahabat yang mengirim makanan untuk Nabi Muhammad saw. Beliau hanya memakan secukupnya, selebihnya diberikan kepada sahabat lainnya yang memerlukan.

Suatu ketika giliran Abu Ayyub al-Anshari mengirim semangkuk makanan untuk Nabi Muhammad saw. Semula baik-baik saja. Nabi Muhammad saw. menerima makanan dari sahabatnya itu. Namun selang beberapa saat semangkuk makanan dari Abu Ayyub al-Anshari itu dikembalikan tanpa disentuh Nabi Muhammad saw. sedikit pun. 

Keadaan ini tentu saja membuat Abu Ayyub al-Anshari bertanya-tanya. Mengapa makanannya dikembalikan Nabi Muhammad saw. tanpa disentuh sedikit pun? Apa yang salah dengan makanannya? Apakah masakannya tidak enak? 

Selang beberapa waktu, Abu Ayyub al-Anshari memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Nabi Muhammad saw. perihal persoalan makanan tersebut. Nabi Muhammad saw. menjawab, dirinya tidak membenci makanan yang dikirimkan Abu Ayyub tersebut. Nabi juga menegaskan kalau dirinya tidak ada masalah dengan Abu Ayyub al-Anshari, selaku tuan rumah.

Lantas apa yang menyebabkan Nabi Muhammad saw. tidak bersedia memakan masakan yang dikirimkan Abu Ayyub al-Anshari tersebut, barang sedikitpun? Tidak pula menyentuhnya. 

Rupanya Nabi Muhammad saw. menghindari masakan tersebut karena ada bau bawang dalam makanan itu. Nabi Muhammad saw. tidak mau memakannya karena khawatir akan menimbulkan bau mulut yang kurang sedap. Meski demikian, Nabi Muhammad saw. mempersilahkan para sahabatnya untuk memakan masakan yang menyengat, selagi mereka doyan kerena itu tidaklah haram.

“Aku mencium bawang pada makanan itu. Karena statusku penerima wahyu, aku khawatir (bau itu) akan mengganggu penjaga wahyu. Kalau kalian, makanlah,” kata Nabi Muhammad saw. kepada Abu Ayyub al-Anshari dalam Thabaqat Ibn Sa’d, seperti direkam dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad, Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazhah, 2018).

Itulah alasan Nabi Muhammad saw. menghindari makanan dengan bau yang menyengat. Tidak lain itu berhubungan dengan tugasnya sebagai seorang nabi dan rasul. Beliau khawatir jika memakan makanan dengan bau yang menyengat akan mengganggu tugasnya sebagai penyampai wahyu Allah. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 17 April 2019 8:0 WIB
Nasibah, Sahabat Perempuan yang Terlibat dalam Perang Uhud
Nasibah, Sahabat Perempuan yang Terlibat dalam Perang Uhud
Ilustrasi Nasibah binti Ka'ab.
Tidak sedikit sahabat perempuan Nabi Muhammad saw. yang ikut terlibat langsung dalam perang Uhud. Tugas mereka tidak hanya melulu menyediakan suplai air dan mengobati tentara umat Islam yang terluka, tetapi ada dari mereka yang juga ikut memanggul senjata melawan tentara musyrik Makkah. Salah satu sahabat perempuan Nabi Muhammad saw. yang terlibat langsung dalam perang Uhud adalah Nasibah binti Ka’ab. Ada juga yang menyebutnya Nusaibah.

Nasibah merupakan sahabat Nabi Muhammad saw. dari kalangan Anshar. Dia dari Bani Mazim an-Najar. Wanita bergelar Ummu Imarah ini menyatakan diri masuk Islam sebelum Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah. Pada saat Baiat Aqabah kedua, Nasibah termasuk satu dari dua perempuan dan 70 laki-laki dari Yatsrib yang berbaiat kepada Nabi Muhammad saw. ketika itu, dia berbaiat bersama dengan suaminya, Zaid bin Ashim, dan dua orang putranya, Habib dan Abdullah.

Nasibah dikenal sebagai sahabat perempuan yang pemberani. Tercatat, dia beberapa kali ikut dalam peperangan bersama dengan pasukan umat Islam lainnya. Diantara kiprahnya yang heroik adalah ketika terjadi perang Uhud. Sama seperti sahabat perempuan lainnya, semula Nasibah bertugas untuk menyuplai logistik dan merawat pasukan Muslim yang terluka. Namun ketika melihat Nabi Muhammad saw. dan pasukan umat Islam mulai terpojok, Nasibah ikut angkat senjata.

Dikutip dari buku  Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hdis-hadis Shahih (M. Quraish Shihab, 2018), Nasibah berhasil melukai 12 orang musuh dengan pedang dan tombaknya. Pada saat yang sama, dia melindungi Nabi Muhammad saw. dari serangan musuh hingga dirinya terluka. Akibat dari aksinya itu, Nasibah menderita luka-luka di sekujur tubuhnya.

"Wahai Abdullah (putra Nasibah), balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga," kata Nabi Muhammad saw. kepada Abdullah, putra Nasibah. Mendengar doaseperti itu, Nasibah malah semakin semangat untuk memberikan perlindungan kepada Nabi Muhammad saw.

Kiprah dan peran Nasibah dalam perang Uhud juga diakui Sayyidina Umar bin Khattab. Dalam sebuah riwayat, Sayyidina Umar bin Khattab mengatakan bahwa pada saat perang Uhud ‘Nasibah ada dimana-mana.’ Ke manapun Sayyidna Umar menoleh, di situ pasti ada Nasibah yang sedang bertempur. 

Nasibah juga terlibat dalam perang Yamamah pada zaman Khalifah Abu Bakar as-Ssiddiq. Sebuah pertempuran melawan kaum murtad di bawah komandi nabi palsu Musailamah al-Kadzab. Dalam perang ini, Nasibah menderita 12 luka. Meski demikian, dia sangat bersyukur karena anaknya, Abdullah, berhasil membunuh Musailamah. Nasibah juga terlibat dalam perang Khaibar dan perang Hunain. 

Di samping pemberani, Nasibah adalah sahabat Nabi Muhammad saw. yang penyabar dan mendahulukan kepentingan orang lain dan Islam. Hal itu terbukti ketika salah seorang anaknya, Habib, meninggal dalam sebuah peperangan. Dia tidak bersedih dan malah bangga karena dia yakin bahwa anaknya mati syahid dan akan dimuliakan Allah di akhirat nanti.

Nasibah wafat pada tahun ke-13 H atau pada masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khattab. Nasibah menjadi teladan bagi umat Islam bahwa tugas wanita tidak melulu ‘di belakang’. Dia memberikan teladan bahwa wanita juga bisa tampil ke depan dan bahkan ikut memanggul senjata bersama dengan pasukan Muslim memerangi musuh-musuh Islam. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 16 April 2019 19:0 WIB
Gambaran Wajah Nabi Muhammad
Gambaran Wajah Nabi Muhammad
“Siapa pun yang mendeskripsikan sosoknya (Nabi Muhammad saw.), pastilah berkata, ‘Belum pernah aku melihat sosok sesempurna Rasulullah,” kata Al-Hafizh al-‘Iraqi. 

Nabi Muhammad saw. tidak hanya memiliki akhlak yang sempurna, tetapi juga penampilan fisik yang sempurna. Banyak sahabat yang memberikan testimoni akan ‘kesempurnaan fisik’ Nabi Muhammad saw. Salah satunya adalah Al-Bara ibnu Azib. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan beberapa perawi seperti Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad, Al-Bara mengatakan bahwa dirinya belum pernah melihat seseorang yang lebih tampan dari pada Nabi Muhammad saw.

Dalam sebuah riwayat lain, Al-Bara mengumpamakan wajah Nabi Muhammad saw. sama indahnya seperti bulan. Bahkan sahabat yang bernama Jabir bin Samurah memberikan penilaian yang lebih tinggi lagi. Menurut Jabir, wajah Nabi Muhammad saw. lebih indah dari pada bulan purnama sekalipun. 

Lantas seperti apakah sebetulnya gambaran wajah Nabi Muhammad saw.? Berdasarkan beberapa riwayat yang tercantum dalam asy-Syamail al-Muhammadiyyah (Imam at-Tirmidzi) dan buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hdis-hadis Shahih (M. Quraish Shihab, 2018), Nabi Muhammad saw.  memiliki kulit yang tidak terlalu putih, juga tidak terlalu gelap atau putih kemerah-merahan. Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak juga lurus tergerai. Sangat hitam pekat. Rambut Nabi Muhammad saw. lebat dan ‘cukup panjang’ sehingga ujung rambutnya menyentuh daun telinga bagian bawah. Rambutnya paling panjang segitu dan tidak pernah melebihi bagian bawah daun telinganya. Nabi Muhammad saw. selalu merawat dan menyisir rambutnya sehingga selalu indah dan rapi.

Disebutkan kalau kepala Nabi Muhammad saw. besar dan wajahnya tidak terlalu bulat. Dahi beliau lebar dan rata. Sementara beliau memiliki mata yang lebar dengan bola mata yang sangat putih dan sangat hitam. Bulu matanya sangat hitam dan lentik. Begitupun dengan pinggiran mata Nabi Muhammad saw., sangat hitam. Sehingga beliau seperti orang yang mengenakan celak, padahal tidak. 

Adapun alis Nabi Muhammad saw. melengkung dan panjang sehingga kedua alisnya hampir menyatu. Di antara dua alisnya tersebut ada urat yang memerah kalau Nabi Muhammad saw. menahan amarah. Nabi Muhammad saw. memiliki pandangan mata yang sangat tajam dan berwibawa. Kerlingan mata Nabi Muhammad saw. tidak pernah mengisyaratkan hal-hal yang buruk, meski kepada musuhnya sekali pun. 

Nabi Muhammad saw. memiliki hidung yang mancung. Meski demikian, hidung Nabi Muhammad saw. tidak semancung hidung orang Arab pada umumnya. Hidungnya sangat serasi dengan bentuk dan ukuran wajahnya. Bagian atas hidung Nabi Muhammad saw. bercahaya sehingga orang yang tidak memperhatikannya dengan seksama bakal mengira kalau hidung Nabi bengkok. 

Pipi beliau datar. Jenggotnya tebal dan cambangnya lebat. Sedangkan mulut Nabi Muhammad saw. cenderung besar. Giginya tertata rapi meski sedikit jarang. Nabi Muhammad saw. selalu menyikat giginya, tidak hanya sesudah dan sebelum tidur tapi juga setelah selesai makan dan juga sebelum shalat, dengan menggunakan siwak. Maka tidak heran jika gigi Nabi Muhammad saw. selalu bersih berkilau dan tidak bau. 

“Gigi depan Rasulullah saw. tampak renggang. Ketika berbicara, di antara gigi depan beliau itu seperti keluar cahaya,” kata Ibnu Abbas ra.

Itulah gambaran wajah Nabi Muhammad saw. berdasarkan hadits atau riwayat yang ada. Tentu gambaran itu tidak sepenuhnya menggambarkan wajah Nabi Muhammad saw. dengan sedetil-detilnya. Akan tetapi, mozaik-mozaik tentang gambaran wajah Nabi Muhammad saw. itu setidaknya bisa menjadi ‘bayangan’ kita tentang bagaimana keindahan fisik Nabi Muhammad saw. Wallahu ‘alam (A Muchlishon Rochmat)