IMG-LOGO
Ilmu Hadits

Memahami Hadits ‘Perempuan Tercipta dari Tulang Rusuk Kaum Adam’

Sabtu 20 April 2019 20:0 WIB
Memahami Hadits ‘Perempuan Tercipta dari Tulang Rusuk Kaum Adam’
Ilustrasi (Shutterstock)
Perempuan tercipta dari tulang rusuk lelaki, adalah kiasan yang maklum di masyarakat kita. Kiasan ini kerap dimaksudkan bahwa perempuan adalah ‘bagian yang hilang’ dari seorang lelaki. Kita sering mendengar ada orang berujar, “Saya belum berjumpa dengan tulang rusuk yang hilang,” demikian kata mereka yang mengaku belum dapat jodoh.

Usut punya usut, perumpamaan ini populer salah satunya melalui kisah Siti Hawa, yang konon diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam ‘alaihis salam. Banyak riwayat hadits menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Berikut salah satunya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ”

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda: "Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasehatilah para wanita". (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Shahih al-Bukhari, hadits di atas setidaknya terdapat dalam dua bab: satu riwayat dalam bab tentang “Pentingnya berwasiat/memberi nasehat untuk perempuan”, dan riwayat lainnya dalam bab tentang “Penciptaan Nabi Adam dan keturunannya”. Kiranya dari hadits inilah dipahami secara harfiah asal mula perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk lelaki.

Ibnu Hajar al Asqalani mengomentari hadits tersebut:

قِيلَ فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ حَوَّاءَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعِ آدَمَ الْأَيْسَرِ وَقِيلَ من ضلعه الْقصير أخرجه بن إِسْحَاقَ...

Artinya: "Disebutkan bahwa hadits di atas adalah isyarat bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang kiri, dan ada pula yang mengatakan tulang rusuk yang pendek, sebagaimana dicatat Ibnu Ishaq... (Ibnu Hajar al Asqalani. Fathul Bari Syarah Shahih al Bukhari. Beirut – Darul Ma’rifah juz 6 hal. 368)

Nah, selanjutnya hadits di atas kerap dirujuk sebagai penafsir ayat pertama surah An Nisa’: 

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Artinya: “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan menciptakan darinya pasangannya; Allah memperkembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan...” (QS. An Nisa’: 1)

Kata min nafsin wâhidah banyak dipahami mufassir bahwa maksud diri yang satu itu adalah Adam, dan Allah menciptakan pasangan untuk Nabi Adam itu dari diri beliau sendiri. 

Demikianlah ulama klasik kembali ke makna zhahir teks, dengan memahami bahwa Hawa diciptakan dari tubuh Adam, dan ditunjang tafsiran melalui hadits di atas, bagian tubuh itu adalah tulang rusuk.

Perlu Anda ketahui, anatomi tulang rusuk manusia normal terdiri dari 12 pasang tulang, pria maupun perempuan, tiada yang berkurang sepasang. Karena itulah, persoalan asal muasal manusia ini oleh sebagian ulama digolongkan perkara ahwalul ghaib yang berada dalam domain iman, termasuk meyakini asal usul perempuan dari tulang rusuk. 

Riwayat seputar perempuan diciptakan dari tulang rusuk ini ternyata bervariasi. Ada yang menyebutkan خلقت من ضلع yang berarti tercipta dari tulang rusuk – bermakna lugas, ada riwayat lain menyebutkan إنّ المرأة كالضلع  yang artinya perempuan itu bagai tulang rusuk – yang menunjukkan kiasan. Semisal riwayat berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “المَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ”

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasul bersabda "Wanita itu bagaikan tulang rusuk, bila kamu memaksa untuk meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya, dan jika kamu bersikap baik, maka kamu dapat berdekatan dengannya, meski padanya terdapat kebengkokan (ketidaksempurnaan).” (HR. Bukhari)

Imam Al Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab “Bersikap lembut pada perempuan”. Agaknya dari sini ada kalangan ulama yang mengambil makna bahwa perempuan bukan tercipta dari tulang rusuk, tapi tercipta bagai tulang rusuk atau memiliki sifat-sifatnya seperti dinyatakan hadits di atas.

Hadits di atas secara metaforik mengingatkan para pria agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Hal ini seperti dicatat oleh Imam an Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Secara kodrati, jika tidak berhati-hati kepada perempuan, pria mudah bersikap kasar atau malah kurang ajar. Jika terlampau keras, risikonya jelas: tulang rusuk akan patah, atau dalam kata lain, perempuan akan teraniaya.

KH. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Cara Benar Memahami Hadis mengemukakan pendapat tentang perbedaan riwayat hadits-hadits hubungan perempuan dan tulang rusuk di atas. 

Bagi sementara orang, memahami bahwa perempuan benar-benar tercipta dari tulang rusuk adalah sesuatu yang dikategorikan KH. Ali Mustafa Yaqub sebagai makna yang perlu dijelaskan lagi lewat hadits lain. Menurut beliau: sumber hadits adalah Nabi seorang, maka hadits mestinya saling menjelaskan satu sama lainnya. 

Makna kiasan dianggap lebih mampu menjelaskan tema hadits tersebut, sehingga dapat dipahami: perempuan diciptakan dari sifat-sifat seperti tulang rusuk – yang bengkok, dan tidak bisa diluruskan apalagi secara paksa. Pemahaman ini kiranya lebih mudah dipahami oleh nalar.

Kurang lebih demikian seputar pemahaman hadits “perempuan diciptakan dari tulang rusuk”. Ragam pemahaman di atas bisa didapat dari kecenderungan sang ulama baik dari pemahaman maupun pengajaran gurunya, atau dengan penilaian dan telaah beliau atas riwayat yang bermacam-macam. Wallahu a’lam.


(Muhammad Iqbal Syauqi)
Tags:
Ahad 31 Maret 2019 21:30 WIB
Mengenal Hadits Mursal Khafi
Mengenal Hadits Mursal Khafi
Ilustrasi (Shutterstock)
Pembagian hadits dhaif memang sangat beragam. Bahkan bisa dibilang sangat banyak sekali. Imam as-Suyuthi, mengutip Ibn Shalah, dalam Tadrîb ar-Rawi menyebutkan bahwa pembagian hadits dhaif mencapai seratusan, hanya saja, tidak semua pembagian tersebut sampai pada kita istilah dan definisi-definisinya.

Baca juga:
Macam-macam Hadits Dhaif (1)
Macam-macam Hadits Dhaif (2)
Khusus dalam pembagian hadits dhaif dalam segi keterputusan sanadnya ada salah satu pembagian yang disebut dengan hadits mursal khafi. Hadits mursal khafi ini berbeda dengan hadits mursal biasa atau mursal sahabi sebagaimana disebutkan dalam pembahasan sebelumnya.

Jika hadits mursal biasa hanya bisa terjadi pada satu tingkatan sanad, yaitu tabiin, sedangkan hadits mursal sahabi terjadi pada tingkatan sahabat, maka hadir mursal khafi ini bisa terjadi pada semua tingkatan sanad.

Lalu apa definisi hadits mursal khafi?

أن يروي الراوي عن من لقيه أوعاصره مالم يسمع منه بلفظ يحتمل السماع وغيره كقال 

Artinya, “Periwayatan rawi dari orang yang pernah ditemui atau dari orang yang sezaman tetapi tidak pernah mendengar hadits darinya dengan lafadz yang menunjukkan bahwa rawi tersebut memang benar-benar mendengar sebuah hadits, misalnya dengan lafadz “qaala”. (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥân, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Marifah, 2004], h. 105.)

Baca juga:
• Sebab-sebab Hadits Menjadi Dhaif
Kajian Hadits Mursal dan Pembagiannya
Contoh:

مَا رَوَاهُ إِبْنُ مَاجَّه مِنْ طَرِيْقِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْز، عَنْ عُقْبَةَ بنِ عَامِر مَرْفُوْعًا: (رَحِمَ اللهُ حَارِسَ الْحَرَسِ) ـ

Artinya, “Seperti contoh sebuah hadits riwayat Ibn Majjah dari jalur Umar bin Abdul Aziz dari Uqbah bin Ami, yang diriwayatkan secara marfu (dari Rasul Saw). “Allah Swt mengampuni para pengawal atau tentara.”

Berdasarkan penuturan al-Mîzî dalam kitab al-Aṭrâf, Umar ibn Abd al-Azîz tidak bertemu dengan Uqbah. Namun dalam hadits ini ia meriwayatkan dari Uqbah, sehingga hadits ini tergolong sebagai Mursal Khafi.

Hadits Mursal Khafi bisa diketahui dengan beberapa hal: Pertama, pengakuan para ulama bahwa rawi tersebut tidak pernah mendengar hadits dari gurunya.

Kedua, pengakuan dari rawi sendiri.

Ketiga, adanya tambahan seorang rawi lain di antara rawi dan gurunya dalam sanad lain. (namun hal ini diperdebatkan oleh para ulama, karena bisa jadi hal ini tergolong dalam kasus al-mazîd fî muttaṣil al-asânid). (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥân, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Marifah, 2004], h. 147.)

Lebih tepatnya, hadits mursal khafi ini lebih mirip dengan hadits mudallas yang isnad, hanya saja bedanya jika tadlis isnad, perawinya memang berguru pada gurunya, hanya saja ia tidak pernah mendengar hadits tersebut, sedangkan hadits mursal khafi, perawinya memang bertemu, namun tidak pernah berguru atau mendengar hadits darinya. Wallahu A’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah
Jumat 29 Maret 2019 15:0 WIB
Sebab-sebab Hadits Menjadi Dhaif
Sebab-sebab Hadits Menjadi Dhaif
Ilustrasi (Shutterstock)
Dalam hadits dhaif, ada dua pembagian besar yang dilakukan oleh para ulama. Pembagian ini didasarkan pada sebab-sebab suatu hadits dihukumi dhaif (lemah), yaitu: pertama, karena terputusnya sanad (al-mardûd bi sabab saqtun fi al-isnad) dan kedua, karena cacatnya rawi (al-mardûd bi sabab ṭaʽn fi ar-rawi). (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥân, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Maarif, 2010], h. 76-155.)

Kategori sebab yang pertama yakni terputusnya sanad, memunculkan berbagai pembagian dalam hadits dhaif, seperti: Muallaq, Mursal, Muʽdhal, Munqathi, Mudallas, Muʽanʽan dan Mursal Khafi.

Sedangkan kategori kedua, yaitu karena cacatnya perawi yang meriwayatkan hadits tersebut, juga memunculkan berbagai pembagian, yaitu Maudhu (palsu), Mungkar, Ma’ruf, Syadz, Muallal, Mukhalafah li as-Siqqah, Mudraj, Muththarrib, Maqlub, dan beberapa jenis yang lain.

Ada beberapa sebab terjadinya daif dalam kategori kedua ini:

Pertama, sering berbohong (muttaham bi al-kadzab): yakni rawi tersebut diketahui sering berbohong dalam ucapannya sehari-hari tetapi tidak diketahui apakah ia berbohong atau tidak dalam meriwayatkan hadits. Konsekuensi dari sebab ini adalah menjadikan hadits yang diriwayatkan menjadi hadits matruk.

Kedua, fasiq: perawi tersebut pernah melakukan suatu dosa besar atau terus-menerus melakukan dosa kecil.

Ketiga, pelaku bid’ah: rawi melakukan bid'ah, baik dalam keyakinan maupun perbuatan.

Keempat, tidak dikenali (jahâlah al-ʽain): perawi tidak dikenal atau tidak diketahui perilakunya.

Empat sebab yang telah disebutkan di atas merupakan sebab kecacatan rawi dalam segi ʽadalah (keadilan). Sedangkan sebab berikut adalah sebab kecacatan rawi dalam segi kedhabitan:

Pertama, sering melakukan kesalahan (fahsy al-ghalaṭ): Hafalan sangat buruk, lebih banyak salah daripada benarnya dalam meriwayatkan hadits

Kedua, sering lupa (ghaflah)

Ketiga, jelek hafalannya (sû’ al-ḥifdz): Jeleknya hafalan rawi sehingga ia sering salah dalam dalam meriwayatkan hadits.

Keempat, ragu-ragu (wahm): Rawi sering salah sangka dalam periwayatan, semisal mengira atsar yang mauquf menjadi hadits marfu', mengira hadits munqathi' adalah muttasil.

Kelima, berbeda dengan riwayat orang-orang yang terpercaya (mukhalafah al-tsiqqah). (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥān, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Maarif, 2010], h. 76-155.)

Oleh karena itu, karena hadits menjadi landasan hukum setelah Al-Qur’an maka ia harus dipastikan kesahihannya, terlebih harus dipastikan siapa yang meriwayatkan hadits tersebut, apakah periwayat tersebut memiliki sifat yang sama sebagaimana sebab-sebab dalam kategori di atas. Jika benar, maka hadits yang diriwayatkan bisa termasuk dalam kategori dhaif atau bahkan maudhu' (palsu).

Sebab dan kriteria di atas juga bisa kita gunakan untuk menilai suatu berita yang dibawa oleh seseorang. Jika pembawa berita tersebut ternyata memiliki sifat atau kriteria yang sesuai dengan kecacatan rawi di atas, maka perlu juga kita pertanyakan keabsahan berita yang dibawanya. Wallahu A’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah
Kamis 28 Maret 2019 14:0 WIB
Kajian Hadits Mudallas dan Pembagiannya
Kajian Hadits Mudallas dan Pembagiannya
(Foto: @pinterest)
Mudallas menurut definisi At-Ṭhaḥḥān adalah menyembunyikan aib dalam sebuah sanad dan hanya menampakkan yang baik-baik. At-Ṭhaḥḥān menyebutnya dengan “Ikhfā’u ʽaibin fi al-Isnad, wa taḥsīn li ẓahirihi,” (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣhṭalahil Ḥadīts, [Riyadh, Maktabah Maarif: 2004], halaman 96). Namun definisi tersebut masih bersifat umum.

Lebih lanjut, para ulama membagi hadits mudallas menjadi beberapa bagian. Pembagian hadits mudallas tersebut juga memiliki definisi yang berbeda-beda. Berdasarkan rangkuman At-Ṭhaḥḥān, secara mendasar ada tiga pembagian dalam hadits mudallas:

Pertama, Tadlis Isnad.
Apabila seorang rawi meriwayatkan dari seorang guru sebuah hadits yang sesungguhnya tidak ia dengar dari guru tersebut, dengan menggunakan redaksi yang kabur agar terkesan ia mendengar dari sang guru.

Definisi ini adalah definisi yang dianggap At-Ṭhaḥḥān sebagai definisi yang paling baik di antara definisi-definisi mudallas yang diberikan oleh para ulama. Definisi ini merupakan definisi dari Al-Bazzār dan Al-Qaṭṭān, (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 97).

Hal ini berbeda dengan mursal khafi. Perbedaannya, jika tadlis isnad dilakukan oleh orang yang pernah bertemu dan meriwayatkan hadits dari gurunya, maka mursal khafi lebih parah lagi. Ia sebenarnya sezaman dengan gurunya tersebut, namun tidak pernah mendengar satu hadits pun dari guru tersebut.

Biasanya, para pelaku tadlis ini tidak menggunakan sighat (ungkapan) yang jazm (pasti), seperti dengan قال  atau عن.

Seperti contoh riwayat Sufyan bin ʽUyainah dari Az-Zuhrī. Menurut Al-Hakim, saat itu Sufyan ditanya, apakah benar bahwa hadits tersebut ia dengar langsung dari Al-Zuhrī? Namun Sufyan menjawab bahwa ia mendengarnya dari Abdur Razzāq dari Maʽmar dari Az-Zuhrī.

Sufyan sebenarnya berguru dan mendengar hadits dari Az-Zuhrī, hanya saja dalam kasus ini, ia mendengar hadits tidak langsung dari Az-Zuhrī, melainkan dari dua rawi yang ia hilangkan.

Kedua, Tadlis Syuyūkh
Jika seorang rawi meriwayatkan dari seorang guru, lalu ia menyebut guru tersebut dengan nama, julukan, nisbat atau sifat yang asing agar tidak diketahui. Hal ini dilakukan untuk menyembunyikan aib gurunya, seperti dhaif, masih belum cukup dewasa dan sebagainya,” (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 101). 

Contoh:

أَخْبَرَنَا أَبُوْ سَعْدٍ الْمَالِينِيُّ، أَنَا أَبُوْ أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ الْحَافِظُ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الْجَبَّارِ الصُّوفِيُّ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، أَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، أَظُنُّهُ قَالَ: الشَّيْبَانِيُّ، عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ طَحْلَاءَ، عَنْ أَبِي الرِّجَالِ، عَنْ عَمْرَةَ، عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَرَادَ أَنْ يَشْتَرِيَ غُلَامًا، فَأَلْقَى بَيْنَ يَدَيْهِ تَمْرًا، فَأَكَلَ الْغُلَامُ فَأَكْثَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ كَثْرَةَ الْأَكْلِ شُؤْمٌ"

Dalam hadits di atas, Alī bin Jaʽd menyamarkan nama gurunya dengan sebutan Abū Isḥāq. Padahal nama aslinya adalah Ibrāhīm bin Harasah. Hal ini dilakukan karena Ibrāhīm adalah seorang rawi yang dituduh berbohong.

Ketiga, Tadlīs Taswiyyah.
Tadlis jenis ini adalah praktik ketika seorang rawi membuang rawi dhaif di antara dua rawi terpercaya (tsiqah), (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 98). 

Salah dua rawi yang sering melakukan tadlīs ini adalah Baqiyyah dan Al-Wālid bin Muslim, seperti dalam contoh:

مَاأَخْرَجَهُ الطَّحَاوِيُّ عَنْ أَبِيْ أُمَيَّةَ الطرسُوْسِيِّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ وَهب بن عطية، حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ، حَدَّثَنَا اْلأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّان بْنِ عَطِيَّة عَنْ أَبِيْ مُنِيْبٍ الْجُرَشِيِّ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ، وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dalam hadits tersebut, Al-Wālid membuang satu rawi antara Al-Auzāʽī dan Hassān bin ʽAṭiyyah yang bernama Abdurrahman bin Tsabit yang merupakan rawi dhaif sehingga terkesan bahwa sanad tersebut bebas dari rawi dhaif. 

Hal ini telah diakui sendiri oleh Al-Walīd saat ditanya oleh Al-Hutsaim bin Kharijah terkait perilakunya membuang perawi setelah Auzā’ī. Ia menjawab, agar orang yang menerima hadits tersebut percaya bahwa hadits tersebut bukan hadits dhaif, (Lihat As-Suyūṭhī, Tadribur Rāwi fi Syarḥit Taqrīb An-Nawawī, [Kairo, Darul Hadits: 2002], halaman 165).

Di antara tiga macam tadlis tersebut, yang paling ringan adalah tadlis suyukh karena tadlis ini tidak sampai membuang dan memutus jalur sanad. Namun, terkait statusnya, ulama masih berbeda pendapat:

Pertama, ada yang mengatakan bahwa statusnya tertolak karena tadlis merupakan salah satu jarh. Namun, qaul pertama ini bukanlah qaul yang bisa dijadikan pijakan.

Kedua, statusnya diperinci (tafṣīl). Jika menggunakan lafaz yang menunjukkan bahwa ia benar-benar telah mendengar suatu hadits dari gurunya (sighat jazm) seperti samiʽtu (سمعت) dan semacamnya, maka hadits tersebut diterima. Namun jika sebaliknya, yakni menggunakan sighat tamrīd, seperti ʽan (عن) atau qāla (قال) dan semacamnya, maka ia tidak diterima.

Sebab-sebab seorang rawi melakukan tadlis ada empat, yaitu: Pertama, gurunya dhaif.

Kedua, guru tersebut wafatnya agak belakangan, sekira generasi setelah murid yang melakukan tadlis tersebut masih bisa meriwayatkan dari guru itu.

Ketiga, gurunya masih muda, atau bahkan lebih muda daripada murid yang meriwayatkan hadits darinya.

Keempat, keseringan meriwayatkan hadits dari guru tersebut sehingga muridnya hanya menyebutnya satu kali atau dalam satu sebutan, (Lihat Mahmūd At-Ṭhaḥḥān, Taysīru Muṣṭalahil Ḥadīts, halaman 102). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)