IMG-LOGO
Hikmah

Ahli Ibadah yang Terancam Masuk Neraka

Ahad 21 April 2019 19:30 WIB
Share:
Ahli Ibadah yang Terancam Masuk Neraka
Ilustrasi (iStock)
Dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Imam al-Bukhari mencatat hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menggambarkan ahli ibadah yang terancam masuk neraka. Silahkan simak haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةً تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ، وتفعلُ، وتصدقُ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ فَقَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا خَيْرَ فِيهَا، هِيَ من أهل النار
قَالُوا: وَفُلَانَةٌ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ، وَتَصَّدَّقُ بِأَثْوَارٍ، وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا؟ فَقَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Dikatakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan shalat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah, tapi sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”

Mereka (para sahabat) berkata (lagi): “Fulanah (lainnya hanya) mengerjakan shalat wajib, dan bersedekah dengan beberapa potong keju, tapi tidak (pernah) menyakiti seorang pun.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dia adalah penghuni surga.” (Imam al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, Beirut: Darul Basya’ir al-Islamiyyah, 1989, h. 54-55)

****

Kita semua tahu Allah itu al-Tawwab (Maha Penerima Taubat). Kasih sayang-Nya mengalahkan murka-Nya. Rahmat-Nya jauh lebih luas dari azab-Nya. Selama seorang hamba memohon ampun kepadaNya, Allah akan mengampuninya. Namun, manusia tidak seluas itu kasih sayangnya. Manusia tidak sedalam itu pewajarannya. Bisa dibilang manusia adalah mahluk yang paling susah meminta maaf dan memaafkan. 

Karena itu, Rasulullah mengajari umatnya untuk menahan diri. Jangan mudah mengumbar kata; jangan gampang menyebar berita; jangan sering menghardik sesamanya. Karena Rasulullah tahu, ruang maaf manusia terbatas, tidak seluas dan sedalam Tuhannya. Mendapatkan maaf manusia jauh lebih berat dan susah. Belum lagi jika kita tidak merasa bersalah, tapi orang lain memendam kesal kepada kita. Mengetahui diri kita salah saja, kita masih enggan meminta maaf, apalagi tak merasa bersalah sama sekali. 

Hadits di atas adalah contoh nyata. Seorang wanita ahli ibadah, rajin shalat malam, gemar berpuasa, banyak bersedekah dan beramal, tapi lidahnya selalu membawa rasa sakit bagi tetangganya. Rasulullah mengatakan: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk ahli neraka.” Artinya, amal ibadah yang tidak berbanding lurus dengan perilaku sosial yang baik, ibadahnya kekurangan makna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim): 

لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ

“Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia (lainnya).” (Imam al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, 1989, h.48)

Dalam riwayat lain dikatakan, “man lâ yarham lâ yurham—orang yang tidak mengasihi, maka tidak akan dikasihi.” Ini menunjukkan bahwa kasih sayang sesama manusia tidak kalah pentingnya dengan ibadah yang bersifat ritual, bahkan Allah, dalam hadits di atas, tidak akan mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya. Artinya, Allah menghendaki hamba-hambanya membangun dunia yang harmonis; menciptakan lingkungan yang sehat dari kebencian; membiasakan kepedulian; membudayakan sayang-menyayangi; mengembangkan “saling asa” dan “asuh”, serta hal-hal positif lainnya. Minimal tidak berbuat kerusakan di muka bumi, termasuk menyakiti perasaan sesamanya.

Karena itu, ketika diceritakan kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang ibadahnya biasa-biasa saja, hanya menjalankan shalat wajib dan bersedekah ala kadarnya, tapi tidak pernah menyakiti perasaan orang lain, Rasulullah mengatakan: “Dia adalah penghuni surga.” Jika dipahami secara mendalam, hadits ini sedang berbicara tentang keadilan. Wanita itu memenuhi kewajibannya sebagai seorang hamba dengan melaksanakan perintah-Nya (shalat wajib), juga memenuhi hak-hak orang dengan tidak pernah menyakiti perasaan mereka.

Berbeda halnya dengan cerita pertama, ia memang berhasil memperbanyak amalnya dengan shalat malam, puasa, sedekah dan amal-amal baik lainnya, tapi gagal memenuhi hak-hak orang lain dengan selalu menyakiti perasaan mereka. 

Padahal, hak-hak orang lain tidak kalah kedudukannya dengan ibadah ritual. Karena keduanya diperintahkan oleh Allah. Perbedaan dasarnya terletak pada penyelesaiannya. Berdosa kepada Allah bisa diselesaikan dengan sederhana, cukup memohon ampunan-Nya, dan Allah akan mengampuninya, karena Dia adalah al-Tawwâb al-Rahîm (Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengasih).

Tapi dengan manusia, sangatlah rumit. Ada beberapa kerumitan yang harus dimengerti terlebih dahulu. Pertama, ketidak-sadaran manusia akan kesalahannya. Setiap manusia dengan bawaan lahir dan budayanya, memiliki standar dan sudut pandang yang berbeda-beda tentang sesuatu. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan nilai moral. 

Moral yang sedang kita bicarakan di sini adalah “cabang”, bukan “akar”. Karena secara umum, manusia memiliki “akar” atau dasar nilai moral yang sama. Contohnya memukul orang tua adalah perbuatan amoral, tapi cabangnya berbeda-beda karena terkait dengan budaya. Misalnya, bagi masyarakat tertentu menyentuh kepala itu tidak sopan, tapi bagi masyarakat lainnya biasa saja. Ini tentu menjadi masalah. Tapi perlu diingat, ini sekedar contoh rumitnya standar benar-salah di antara manusia. Artinya, manusia sering tidak merasa dirinya telah menyakiti perasaan orang lain. Padahal, ketersakitan itu akan mendapatkan haknya di akhirat kelak. Berbeda ketika berhubungan dengan Allah yang Maha Mengetahui. Karena Allah sudah mengampuni terlebih dahulu kekeliruan, kelupaan dan keterpaksaan hamba-Nya yang tanpa disengaja. Rasulullah bersabda (HR. Imam Ibnu Majah):

إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku kekeliruan, kealpaan (lupa) dan apa-apa yang dipaksakan atas mereka.”

Kedua, keengganan atau gengsi meminta maaf. Banyak orang yang mengetahui kesalahannya tapi tidak pernah meminta maaf karena “gengsi”. Di permukaan, ia mencitrakan diri sebagai orang yang benar dan tidak bersalah, tapi dalam hatinya, ia tahu bahwa ia bersalah. Inilah kerumitan lain yang sukar diatasi oleh manusia. Karena orang di tipe ini tahu bahwa ia berdosa, tapi kegengsian menghalanginya untuk meminta maaf.

Ketiga, menganggap sepele kesalahannya pada orang lain. Kerumitan tipe ini tidak jauh berbeda dengan yang kedua. Perbedaannya terletak pada asalnya. Jika tipe yang kedua berasal dari “gengsi”, tipe ini berasal dari “anggapan tidak penting,” sehingga membiarkannya mengalir seperti air tanpa merasa perlu untuk mengucapkan kata “maaf”. Anggapan seperti ini bisa jadi karena pengetahuan agama yang kurang sehingga tidak tahu bahayanya membawa dosa “menyinggung orang lain” di akhirat.

Keempat, belum tentu mendapatkan maaf. Ini kerumitan yang tidak bisa dipandang remeh. Tidak semua orang mudah memberi maaf, tapi paling tidak, bagi orang yang telah menyadari kesalahannya dan meminta maaf, ia mendapatkan pahala karena telah mengakui kesalahannya dan berusaha untuk memperbaikinya. Syekh al-Zarqani (1645-1710 M) dalam Syarh al-Muwatha’ mengutip ucapan Imam Ibnu Ruslan (w. 844 H):

لو صالح أحدهما الآخر فلم يقبل غفر للمصالح

“Jika salah satunya berusaha berdamai dengan lainnya tapi tidak diterima, maka orang yang berusaha berdamai itu diampuni.” (Syekh Muhammad al-Zarqani, Syarh al-Zarqânî ‘Ala Muwaththa’ al-Imâm Mâlik, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyya, 2011, juz 4, h. 335) 

Maka dari itu, kita harus mulai mengingat-ingat kembali kesalahan kita, lalu meminta maaf pada orang yang pernah kita sakiti satu persatu. Jika ada yang belum berkenan memaafkan, kita jangan berhenti memintanya sembari berdoa kepada Allah agar hatinya dilapangkan. Jadi, jangan sakiti sesamamu, mohon maaflah dan berilah maaf kepada siapapun yang memintanya.

Wallahu a’lam....


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.

Share:
Sabtu 20 April 2019 7:30 WIB
Ketika Ulama Ditanya Siapa yang Lebih Berilmu
Ketika Ulama Ditanya Siapa yang Lebih Berilmu
Dalam kitab al-Muntadham fi Tarîkh al-Mulûk wa al-Umam, Imam Ibnu al-Jauziy merekam sebuah riwayat menarik tentang orang desa (Arab Badui) yang bertanya kepada seorang ulama. Berikut riwayatnya:

جاء أعرابي إلى القاسم بن محمد رحمه الله، فقال: أنت أعلم أو سالم؟ قال: ذاك منزل سالم، فلم يزد عليها حتى قام الأعرابي. قال ابن إسحاق: كره أن يقول: هو أعلم مني فيكذب، أو يقول: أنا أعلم منه فيزكي نفسه

Seorang Arab Badui (orang desa) datang kepada al-Qasim bin Muhammad rahimahullah. Ia berkata: “Kau yang lebih berilmu atau Salim?”

Al-Qasim bin Muhammad menjawab: “Itu tempat tinggal Salim.” Karena al-Qasim tidak menambahi ucapannya, orang Arab Badui itu pun beranjak (pergi).

(Tentang jawaban singkat al-Qasim) Ibnu Ishaq berkata: “al-Qasim enggan berucap bahwa Salim lebih berlimu darinya, karena (takut) berbohong. Ia pun (enggan) berucap bahwa aku lebih berilmu darinya, karena itu (artinya) ia memuji diri sendiri.” (Abû al-Farj Ibnu al-Jauziy, al-Muntadham fi Tarîkh al-Mulûk wa al-Umam, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1992, juz 7, h. 123)

****

Sebelum membahas lebih jauh, penting kiranya mengetahui siapa al-Qasim bin Muhammad (35-107 H) dan Salim (w. 106 H) dalam kisah di atas. Al-Qasim adalah cucu Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Nasabnya adalah al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar. Sementara Salim adalah cucu Khalifah Umar bin Khattab. Nasabnya adalah Salim bin Abdullah bin Umar. 

Keduanya termasuk dalam al-Fuqahâ’ al-Sab’ah (Tujuh Ahli Fiqih) atau Fuqahâ’ al-Madînah (Para Ahli Fiqih Madinah), sebuah gelar khusus yang diberikan kepada ulama besar dari kalangan tabi’in yang tinggal di Madinah (melanjutkan tradisi Madinah). Meski jumlahnya lebih dari tujuh, mereka tetap disebut “Tujuh Ahli Fiqih Madinah” karena setiap generasinya saling mengisi. Mereka adalah orang yang paling berperan dalam pelestarian tradisi dan keilmuan Islam melalui murid-muridnya.

Mereka adalah Sa’id bin Musayyab (15-94 H), Urwah bin Zubair (w. 94 H), al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (35-107 H), Kharijah bin Zaid bin Tsabit (w. 99 H), Salim bin Abdullah bin Umar (w. 106), Aban bin Utsman bin Affan (w. 105 H), Abu Salmah bin Abdurrahman bin Auf (22-94 H), Abu Bakar bin Abdurrahman (w. 94 H), Sulaiman bin Yasar (34-107 H), dan Ubaidillah bin Abdullah (w. 98 H). (Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah, A’lâm al-Muwaqqi’în, juz 1, h. 23).

Kembali ke pembahasan. Menurut Muhammad bin Ishaq, jawaban singkat Sayyidina al-Qasim bin Muhammad karena kekhawatiran dan kehati-hatiannya. Jawaban Sayyidina al-Qasim yang hanya, “dzâka manzil sâlim—itu tempat tinggal Salim”, menunjukkan hal itu. Ia enggan menjawab pertanyaan orang Badui itu karena jawaban apapun akan berdampak buruk pada dirinya. Jika ia menjawab Salim lebih berilmu darinya, ia takut berbohong, karena kealiman seseorang sulit diukur dengan adil, meski dalam bahasa Ibnu Ishaq ada kesan bahwa al-Qasim lebih berilmu dari Sayyidina Salim. Jika menjawab aku lebih berilmu darinya, itu artinya ia telah memuji dirinya sendiri. Karena itu, ia memilih jawaban yang paling baik untuk dirinya dan Salim.

Jawaban, “dzâka manzil sâlim—itu tempat tinggal/rumah Salim”, dapat berarti banyak hal. Pertama, kerendahan hati (tawaddu’). Dengan menunjuk rumah Sayyidina Salim, ia seakan hendak berucap bahwa Salim lebih berilmu darinya, tapi ia takut akan terjebak pada kebohongan. Kedua, prasangka yang baik (husnudhan). Andai orang Badui itu tiba-tiba mendatangi Sayyidina Salim bin Abdullah dan menanyakan hal yang sama, ia yakin Salim akan memberikan jawaban yang kurang lebih sama meski dengan cara yang berbeda. Ketiga, pencegahan fitnah. Meskipun hampir tidak mungkin terjadi, bukan berarti pencegahan tidak boleh dilakukan. Dalam keadaan ramai (kejadian tersebut disaksikan banyak orang), jawaban paling bijak adalah “di situ rumahnya”. Karena jawaban “dia” atau “saya” yang lebih alim bukanlah opsi. Jawaban diplomatis (bertele-tele) pun akan meninggalkan kesan tertentu.

Sayyidina al-Qasim pun diam setelah menjawab dengan ringkas, tidak menambahkan ucapannya. Orang Badui yang lama menunggu, akhirnya beranjak pergi. Diamnya Sayyidina al-Qasim juga mengandung makna yang dalam. Ia menahan diri untuk tidak berbasa-basi. Bisa jadi karena takut terjebak dalam perasaan “lebih berilmu” barang sedetik atau dua detik ketika sedang berbasa-basi, apalagi yang bertanya adalah orang Badui (orang desa), yang seringkali pertanyaannya berasal dari keluguannya, bukan bermaksud menguji. Karena itu, ia memilih diam.

Dari kisah di atas, kita harus mulai belajar mengenali semua konsekuensi positif dan negatif dari setiap perbuatan kita. Satu perkataan saja kadang memiliki konsekuensi lain yang tidak dikenali. Contohnya kisah di atas, Sayyidina al-Qasim begitu berhati-hati dalam menjawab. Ia memikirkan semua konsekuensinya dengan hati-hati. Tentu saja kita heran dengan respon Sayyidina al-Qasim yang sangat cepat, seakan tanpa proses berpikir atau merenung terlebih dahulu. Hal itu disebabkan oleh hatinya yang terus dihidupi setiap hari, dengan zikir, perilaku baik dan tafakkur, sehingga pancaran ketuhanan membias di hatinya. Berbeda dengan kita yang kadang lupa bahwa kita memiliki hati. 

Di sinilah kita perlu melangkah, tak perlu cepat-cepat, perlahan pun tak mengapa. Dimulai dari membiasakan tafakkur setiap hari, kemudian mengakrabi semua imajinasi yang berlalu lalang, dan memilahnya dengan hati-hati. Tapi sebelum itu, kita harus berilmu terlebih dahulu, agar pemilahan yang kita lakukan terdukung oleh pengetahuan yang kita tahu. Karena pengetahuan bisa meminimalisasi kesalahan asumsi. Itu pun jika pengetahuan yang kita miliki telah menjadi penerang, tidak hanya “data informasi” yang berada di otak kita. Mungkinkah?

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Jumat 19 April 2019 21:30 WIB
Gus Baha’ soal Jebakan Silat Lidah Setan Jenis Manusia (2)
Gus Baha’ soal Jebakan Silat Lidah Setan Jenis Manusia (2)
Setiap nabi mempunyai tantangan masing-masing pada setiap zamannya. Di sini KH Bahaudin Nur Salim menguraikan tentang peran setan dalam mengatur propaganda yang dilancarkan untuk menyerang Nabi Muhammad. Gus Baha’ juga menjelaskan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan penamaan setan, baik yang dari unsur manusia maupun jin. 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Artinya: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS Al-An’am: 112) 

Ayat di atas menunjukkan, setiap nabi mempunyai musuh setan dari unsur jin dan manusia. Perlu diketahui, setan itu ada yang berupa nama yang melekat pada satu benda, ada pula yang mempunyai makna sifat. Analoginya adalah seperti orang menyebut singa. Ada singa yang mempunyai arti melekat pada hewan sejenis macan, ada pula singa yang disematkan pada orang yang gagah pemberani. Karena keberaniannya, ia kemudian dipanggil “singa”, tapi namanya tidak selalu menempel. Kapan-kapan ketika ia sudah mulai melemah tubuhnya, penyematan nama “singa” tidak lagi menempel pada tubuhnya karena sifatnya yang hilang. 

Begitu pula anjing. Anjing berlaku sebagai hewan berkaki empat sejenis kambing yang jika disentuh, kategori najisnya secara fiqih adalah najis mughalladhah. Terdapat istilah lain, anjing digunakan seseorang untuk mencaci sembari memanggil orang lain yang mempunyai sifat terlalu buruk dengan panggilan “anjing!”. Pelabelan seperti ini bisa menempel dan sewaktu-waktu sifatnya berubah, dan akan berpengaruh pada perubahan nama yang disifati. 

Setan juga demikian. Setan yang mempunyai nama asli, yaitu Iblis dan keturunannya secara genetika. Ada juga setan berupa sifat yang menempel baik pada jin ataupun manusia. Sehingga pada QS Al-An’am: 112 di atas disebutkan: 

شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ

Artinya: “Setan dari golongan manusia dan jin.” 

Sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam QS An-Nas:

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ 

Artinya: “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS An-Nas: 5-6) 

Sebagaimana setan, jin juga mempunyai definisi sendiri, yaitu makhluk Allah yang tidak kasat mata. Berbeda dari manusia yang kasat mata. Sehingga, orang gila dalam bahasa Arab disebut majnun, artinya pikirannya tertutup. Kalau malam, karena gelap, tidak ada yang terlihat, dalam bahasa Arab dipakailah istilah janna, sehingga antara jinn, janna, majnun yang terdiri dari komposisi huruf jim dan nun yang ditasydid, masing-masing mempunyai akar kata yang sama sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
 
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ

Artinya: “Ketika malam menjadi gelap.” (QS Al-An’am: 76) 

Yang terpenting pada pembahasan ini, tidak bisa dipukul rata bahwa setiap jin dan manusia itu bernama setan, begitu pula sebaliknya. Baru ketika manusia dan jin mempunyai perilaku buruk, tidak shalat, menjadi pemabuk dan lain sebagainya, mereka bisa disebut sebagai setan. Manusia yang tampak pakaiannya islami tapi menjual agama, namanya juga setan. Selama sifat mereka masih seperti setan, maka keduanya dinamakan sebagai setan. Setan di sini berdasar sifat, tidak nama asli. Sedangkan setan yang asli adalah iblis dan keturunannya secara genetika. 

Gus Baha’ melanjutkan tentang setan manusia pada QS Al-An’am: 112 di atas:

يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Maksudnya, mereka saling melengkapi untuk menciptakan kegaduhan agama. Yang bisa menciptakan kegaduhan melalui bahasa verbal ini adalah setan manusia. Setan dari unsur jin tidak bisa karena mereka tidak bisa membolak-balikkan perkataan, sedangkan setan dari unsur manusia sangat canggih mengolah kata-kata. 

Jadi kesimpulannya, kita sebagai manusia bisa jadi termasuk sebagai setan. Kita bisa meneliti secara tampak pada doa yang diajarkan oleh Nabi kepada kita: 

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا 

Artinya: “Kami meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan-keburukan pribadi kita.” 

Padahal di saat yang lain kita disuruh Allah berdoa agar terhindar dari setan.

أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ 

Artinya: “Saya meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” 

Maksudnya kita juga disuruh untuk berlindung dari diri kita sendiri yang terkadang jadi setan juga. Kita mungkin saja termasuk setan yang perlu dimintakan perlindungan kepada Allah apabila perilaku kita buruk, merusak, dan berperilaku sebagaimana umumnya setan. Wallahu a’lam(Ahmad Mundzir) 

Jumat 19 April 2019 19:30 WIB
Gus Baha’ soal Jebakan Silat Lidah Setan Jenis Manusia (1)
Gus Baha’ soal Jebakan Silat Lidah Setan Jenis Manusia (1)
Baginda Rasulullah Muhammad ﷺ pernah kedatangan tamu orang Yahudi yang cerdas. Ia bertanya, “Hai Muhammad, kalau ada kambing yang mati, siapa yang membunuhnya?” 

“Allah,” jawab Baginda Nabi. 

Rasul lalu dibantah, “Agama kamu ini aneh. Masak kambing yang dibunuh Allah sendiri hukumnya haram, sedangkan kambing yang disembelih manusia lalu mati malah kau katakan halal. Kamu ini bagaimana? Seharusnya yang dibunuh oleh Allah sendiri itu yang orisinil, halal.”

Dialog di atas adalah salah satu metode silat lidah menggunakan dasar logika saja. Tidak lain, peletak metodologi kepatuhan beragama harus berdasar akal saja adalah setan.

أول من قاس الدين برأيه الشيطان 

Artinya: “Makhluk yang pertama kali mengukur agama dengan logika adalah setan.” 

Dalam satu kesempatan, Sayyidina Ali juga pernah dipermainkan logikanya. Padahal Ali adalah orang yang diakui kecerdasannya.

“Hai Ali, coba angkatkan kakimu yang satu,” pinta salah seorang.

Sayyidina Ali menurut. 

“Sekarang angkat yang satunya lagi!” suruhnya. 

Ali mengangkat kaki satunya seraya menurunkan kaki sebelah yang sebelumnya telah diangkat. 

“Tidak begitu, angkat bersama-sama!” pinta seseorang tersebut. 

“Ya tentu tidak bisa. Saya pasti akan terjatuh.”

“Nah, kalau kamu mengangkat dua kaki secara bersama-sama dalam satu waktu dan jarak yang pendek saja tidak bisa, masak teman kamu Muhammad itu bisa naik ke langit (mi’raj).” Bantah orang tersebut yang hanya mengukur kemungkinan Isra’ Mi’raj melalui ukuran akal semata. 

Hal tersebut menunjukkan permainan kata-kata dari setan jenis manusia yang licik. Mereka mengandalkan silat lidah untuk tujuan supaya agama ini kacau. Tercatat, di antara sejarah tragedi terbesar dalam Islam adalah tragedi permainan kata-kata yang dilancarkan oleh orang Yahudi terhadap Nabi Muhammad perihal nasakh-mansukh sehingga banyak sahabat yang kemudian kembali murtad berawal dari perkataan orang-orang Yahudi tersebut. 

KH Bahaudin Nur Salim, Rembang mengatakan, nasakh-mansukh adalah sebuah ketetapan hukum yang dianulir dengan hukum lain di kemudian hari. Orang yahudi sangat bergembira mendapatkan berita ini sebab mereka mempunyai amunisi kata-kata untuk menyerang. Mereka mendatangi sahabat yang tidak terpelajar lalu diprovokasi, “Lihat, Muhammad itu sedang bingung menetapkan hukum. Satu saat ia menyatakan ini halal, satu saat yang lain ia menyatakan menjadi haram.” 

Tidak ada tragedi terbesar melebihi peristiwa nasakh-mansukh ini. Orang yang khusyu’ tidak bisa berpikir ilmiah, sedangkan penyerangnya bermain logika. Dengan demikian, yang paling tepat menurut para ulama dalam mendefinisikan nasakh-mansukh dengan istilah:

انقضاء مدة العبادة 

Artinya: “Habisnya durasi waktu ibadah.”

Apabila masa ibadah selesai, maka tidak lagi ada masalah. Orang puasa Ramadhan waktu pelaksanaannya adalah selama sebulan Ramadhan. Setelah bulan Ramadhan selesai, tidak lagi wajib berpuasa. Orang shalat menghadap Baitul Maqdis, setelah durasi waktunya selesai, Allah kembali lagi memerintahkan kembali menghadap ke Ka’bah. Ibaratnya, ada anak kecil yang minumnya air susu ibu (ASI), saat ia sudah berumur 15 tahun, anak yang sudah beranjak remaja ini minum kopi. Hal tersebut dinamakan selesai durasi minum susu, berganti durasi waktunya minum kopi. 

Contoh demikian tidak bisa diistilahkan orang tua menganulir kebijakan atau orang tuanya mengevaluasi kebijakan kepada anaknya. Apakah karena perbedaan sikap ibu kepada anaknya tersebut menunjukkan bahwa ibu tidak lagi konsisten? Tidak. Ibunya memeperlakukan anaknya sesuai masa perkembangan anak. Begitu pula nasakh-mansukh. Nabi saat masih di Makkah dilarang perang. Saat di Madinah diperintahkan Allah untuk perang, tidak berarti Allah mengevaluasi kebijakannya sendiri, namun Allah mensyariatkan sesuatu mempunyai durasi yang telah ditentukan sendiri. 

Oleh karena itu, pesan Gus Baha’, seseorang jangan sekali-kali salah dalam mendefinisikan sesuatu. Kalau salah definisi, akibatnya bisa berbahaya. Misalnya mendefinisikan nasakh mansukh dengan arti ibadah yang diubah Allah berdasarkan alasan maslahat, hal ini mempunyai kesan bahwa pertimbangan Allah adalah evaluasi. Padahal Allah tidak mungkin mengevaluasi. Allah sudah mengetahui semuanya pada zaman azali, yaitu pada masa dunia dan seisinya ini belum diciptakan sama sekali. Ini tidak nasakh-mansukh, tapi normal atau biasa-biasa saja. 

Siapa yang berinisiatif mengajak permainan logika sebagaimana dalam cerita Nabi Muhammad dan Ali di atas? Jawabnya tidak ada lain kecuali hanya setan. Tidak dari unsur setan berjenis jin yang bisa melaksanakan misi itu, tapi setan dari unsur manusia lah yang bisa bersilat lidah dengan lincah. (Ahmad Mundzir) 


Bersambung…