IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Janji Rasulullah yang Belum Sempat Dipenuhi Hingga Wafatnya

Senin 22 April 2019 20:03 WIB
Janji Rasulullah yang Belum Sempat Dipenuhi Hingga Wafatnya
(Foto: @bbc)
Rasulullah SAW adalah manusia biasa yang juga mengalami wafat. Tetapi siapa yang mengira Rasulullah masih menyisakan janji dengan sahabatnya yang belum sempat dipenuhi hingga ia wafat. Hal ini dikisahkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

Rasulullah SAW suatu ketika pernah menjanjikan sebagian harta jizyah dari Bahrain kepada sahabat Jabir bin Abdillah RA. Ternyata hingga Rasulullah SAW wafat, sahabat Al-Ala Al-Hadhrami yang ditugasi oleh Rasulullah di sana tidak juga mengirimkan harta jizyah ke Madinah sebagaimana kisah lengkapnya berikut ini.

وعن جابر - رضي الله عنه - ، قال : قال لي النبي - صلى الله عليه وسلم - : (لو قد جاء مال البحرين أعطيتك هكذا وهكذا وهكذا) فلم يجئ مال البحرين حتى قبض النبي - صلى الله عليه وسلم - ، فلما جاء مال البحرين أمر أبو بكر - رضي الله عنه - فنادى : من كان له عند رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عدة أو دين فليأتنا ، فأتيته وقلت له : إن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال لي كذا وكذا ، فحثى لي حثية فعددتها ، فإذا هي خمسمائة ، فقال لي : خذ مثليها . متفق عليه

Artinya, “Dari Jabir RA, ia berkata, Nabi Muhammad SAW pernah berkata kepadaku, ‘Kalau harta dari Bahrain datang, Aku akan berikan kepadamu segini, segini, segini.’ Harta dari Bahrain itu tak kunjung tiba hingga Rasulullah SAW wafat. Ketika harta itu datang, Khalifah Abu Bakar RA berseru, ‘Siapa yang pernah terikat janji atau piutang dengan Rasulullah, silakan datangi kami.’ Aku lalu menemui Abu Bakar RA dan mengatakan, ‘Rasulullah SAW pernah mengatakan kepadaku demikian, demikian.’ Abu Bakar RA lalu meraup harta tersebut untukku. Setelah kuhitung, ternyata ada 500. Ia berkata kepadaku, ‘Ambillah dua kali darinya,’” (HR Imam Bukahri dan Muslim).

Kisah ini mengajarkan umat Islam agar seseorang dan juga sahabat atau penerusnya untuk istiqamah dalam memenuhi janji atau kesepakatan yang pernah dibuat. Kisah Rasulullah dan sahabat Abu Bakar RA merupakan cerita teladan bagi umat Islam sepanjang zaman.

Oleh karena itu, pihak keluarga musibah di masyarakat kita pada saat penshalatan jenazah lazim mengumumkan kepada jamaah di masjid bahwa masalah utang, piutang, dan masalah muamalah lainnya yang berkaitan dengan jenazah akan berurusan dengan pihak keluarga. Hal ini sejalan dengan pengamalan hadits Rasulullah SAW berikut ini:

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما : أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قال : (أربع من كن فيه كان منافقا خالصا ، ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها : إذا اؤتمن خان، وإذا حدث كذب، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر) متفق عليه.

Artinya, “Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika ada empat tanda ini pada diri seseorang, maka ia seorang munafik murni. Siapa saja yang terdapat salah satu tanda ini padanya, maka unsur kemunafikan ada padanya hingga ia meninggalkan tanda tersebut: jika diberikan amanat, ia mengkhianatinya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika menyepakati perjanjian, ia melanggarnya. Jika bertikai, ia melakukan kebatilan,’” (HR Imam Bukhari dan Muslim).

Keteladanan yang dilakukan para sahabat Rasulullah SAW dan apa yang dilakukan oleh masyarakat terkait jenazah tidak berlebihan karena pemenuhan janji sesama manusia akan terbawa meski yang terlibat telah wafat.

Semua hal yang berkaitan dengan pemenuhan janji, kesepakatan, dan kontrak akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak.

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

Artinya, “Tepatilah janji (kesepakatan/kontrak) karena janji itu dimintakan pertanggungjawabannya,” (Surat Al-Isra ayat 34).

Semua keterangan ini dikutip oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin. Keterangan-keterangan ini mengingatkan umat Islam untuk teguh dan konsisten dalam memenuhi janji, menerima (konsekuensi) sebuah kesepakatan, dan mematuhi segala bentuk kontrak atau ikatan yang dibuat bersama. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Share: