IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Perintah Nabi Muhammad untuk Bersikap Moderat

Selasa 23 April 2019 5:30 WIB
Share:
Perintah Nabi Muhammad untuk Bersikap Moderat
“Sebaik-baiknya perkara adalah yang tengah-tengah,” kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits.

Nabi Muhmammad saw. mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap moderat atau tengah-tengah dalam berbagai hal, termasuk dalam beragama. Tidak berlebih-lebihan dalam beribadah sehingga melupakan kehidupan dunia. Ataupun sebaliknya. Semua harus dijalani secara seimbang dang proporsional.

Suatu ketika Nabi Muhammad saw. pernah menegur Abdurrahman bin Amr bin Ash yang karena berlebih-lebihan dalam beribadah sehingga mengabaikan istrinya. Abdullah bin Amr menghabiskan waktunya hanya untuk shalat –baik wajib ataupun sunnah, puasa, dan dzikir. Dia tidak pernah sekedar beristirahat apalagi bergumul dengan istrinya.

Istri Abdullan bin Amr mengeluh dengan kelakuan suaminya yang lebih mementingkan ibadah dan melupakan dirinya. Istri Abdullan bin Amr lalu mengadu kepada Nabi Muhammad saw. dan menceritakan perilaku suaminya yang seperti itu. Nabi Muhammad saw. kemudian memanggil Abdullah bin Amr dan memerintahkan untuk bersikap moderat. Tidak berlebih-lebihan dalam beragama.

“Abdullah, saya itu juga sering menjalankan ibadah shalat, puasa dan ibadah lainnya. Tapi saya juga istirahat juga 'berkumpul' bersama istriku. Kalau dirimu beribadah terus tanpa memberi perhatian istrimu maka tidak kuakui sebagai umatku,” kata Nabi Muhammad saw. 

Di lain waktu, hal yang sama juga dilakukan Nabi Muhammad saw. kepada sahabatnya yang lain, Hanzhalah. Nabi Muhammad saw. memerintahkan Hanzhalah untuk berlaku moderat. Sebagaimana keterangan dalam kitab al-Musnad karya Imam Ahmad, dikutip dari buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’in al-Hasyimi, 2018), pada saat itu Nabi Muhammad saw. menyampaikan sebuah wejangan kepada para sahabatnya di sebuah majelis sehingga membuat hati mereka tersentuh dan menangis. Hanzhalah yang hadir pada kesempatan itu juga bergetar hatinyya hingga menitikkan air mata.

Setelah majelis selesai, Hanzhalah pulang ke rumah. Ia berbincang-bincang dengan istrinya tentang hal ihwal duniawi. Perbincangan itu rupanya membuat Hanzhalah terbuai sehingga membuatnya melupakan apa yang telah ia rasakan ketika bersama Nabi Muhammad saw. Di tengah percakapan yang begitu seru dengan istrinya, Hanzhalah tiba-tiba tersadar dan segera ingat dengan apa yang dia rasakan ketika bersama Nabi Muhammad saw. di majelis.

Hanzhalah merasa dirinya telah melakukan kemunafikan. Alasannya, sebelumnya dia menangis sesenggukan dan hatinya bergetar ketika mendengar wejangan Nabi Muhammad saw., namun sesaat setelahnya dia dengan istrinya asyik membicarakan hal-hal yang bersifat duniawi dan melupakan apa yang dirasakan ketika bersama Nabi Muhammad saw. Hanzhalah kemudian menghadap kepada Nabi Muhammad saw. Dia mengatakan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa dirinya telah berbuat kemunafikan. 

Di hadapan Nabi Muhammad saw., Hanzhalah mengungkapkan bahwa dirinya seharusnya selalu ingat dan merasakan perasaan yang sama –dimanapun ia berada- seperti ketika berada dalam majelis bersama Nabi Muhammad saw. Yakni selalu bergetar hatinya dan berlinang air matanya karena mendengar mauidzah Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, ia menganggap dirinya telah melakukan kemunafikan karena hatinya ‘yang mudah berubah’ seperti itu. 

“Wahai Hanzhalah, kalau kamu berada dalam kondisi seperti itu terus (hatinya bergetar dan matanya berlinang), maka malaikat akan menjabat tanganmu di jalan dan di pembaringanmu. Tetapi Hanzhalah, bersikaplah moderat, dengan terkadang serius, dan terkadang rileks,” kata Nabi Muhammad saw. (Muchlishon)
Share:
Selasa 23 April 2019 20:0 WIB
Kisah di Balik Pengalihan Kiblat ke Makkah (Lagi)
Kisah di Balik Pengalihan Kiblat ke Makkah (Lagi)
“Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya…” (QS. Al-Baqarah: 144)

Turunnya ayat di atas pada tahun ke-2 Hijriyah menjadi penanda bagi Nabi Muhammad saw. dan umat Islam untuk mengalihkan kiblat ke Masjidil Haram yang ada di Makkah. Memang, ketika masih di Makkah atau sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad saw. dan umat Islam berkiblat ke Ka’bah ketika shalat. Riwayat lain menyebutkan, ketika di Makkah pun Nabi Muhammad saw. menghadap ke Baitul Maqdis Palestina, namun tidak membelakangi Ka’bah karena beliau berada di Hajar Aswad dan Rukun Yamani ketika shalat. 

Namun setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad saw., baik atas inisiatif sendiri atau petunjuk Allah, mengubah kiblat shalat umat Islam ke Baitul Maqdis yang berada di Palestina. Tidak lagi menghadap ke Ka’bah di Makkah. Kejadian ini berlangsung selama 16 bulan lamanya. Riwayat lain menyebut 17 atau 18 bulan. 

Lantas, apa yang menyebabkan Nabi Muhammad saw. mengubah kiblat shalat bagi umat Islam ke Baitul Maqdis ketika beliau berada di Madinah? Mengapa tidak menetapkan kiblat umat Islam tetap ke Ka’bah, ke Masjidil Haram di Makkah? 

Dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018) disebutkan, ternyata Nabi Muhammad saw. memiliki ‘maksud tertentu’ ketika mengubah kiblat ke Baitul Maqdis di Palestina. Maksudnya, ketika di Madinah –di mana banyak orang Yahudi bermukim- Nabi Muhammad saw. ingin menunjukkan kepada mereka bahwa Islam datang bukan untuk menghilangkan ajaran-ajaran yang pernah diajarkan oleh para rasul dan nabi terdahulu, termasuk Nabi Musa. 

Oleh karenanya, Nabi Muhammad saw., baik atas inisiatif sendiri ataupun perintah Allah, akhirnya ketika shalat menghadap ke Baitul Maqdis yang merupakan kiblatnya orang-orang Yahudi. Nabi Muhammad saw. berharap, langkah itu bisa menarik orang-orang Yahudi untuk menerima Islam. Namun ternyata, kebijakan itu tidak membuahkan hasil. Orang-orang Yahudi tetap saja tidak mau menerima Islam, bahkan memusuhi Nabi Muhammad saw. dan umat Islam.

Setelah 16 bulan berlalu, Nabi Muhammad saw. merasa bahwa lebih baik menghadap ke Ka’bah ketika shalat. Alasannya, Ka’bah merupakan rumah peribadatan pertama bagi umat manusia. Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim as. tentu jauh lebih tua dibandingkan Baitul Maqdis yang dibangun Nabi Sulaiman as. Di samping itu, dipilhkan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam juga karena posisi Makkah yang merupakan pusat bumi.

Keinginan Nabi Muhammad saw. untuk mengalihkan kiblat ke Ka’bah di Makkah semakin besar. Beliau kerapkali menengadahkan wajahnya ke langit dan berharap turun wahyu dari Allah tentang perintah agar mengalihkan kiblat ke Ka’bah. Harapan Nabi Muhammad saw. itu dijawab Allah pada pertengahan bulan Rajab –riwayat lain pertengahan Sya’ban- tahun ke-2 Hijriyah, ketika Nabi Muhammad saw. melaksanakan shalat Dzuhur –riwayat lain shalat Ashar. Allah menurunkan QS. Al-Baqarah ayat 144 yang isinya perintah untuk berkiblat ke Masjidil Haram.

Ketika ayat tersebut turun, Nabi Muhammad saw. menghentikan shalatnya sebentar, kemudian beliau berputar 180 derajat dan menghadap ke Makkah. Para jamaah yang berada di belakang Nabi Muhammad saw. terpaksa jalan memutar dan tetap berada di belakangnya. Masjid dimana Nabi Muhammad saw. mengalihkan arah kiblat –dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram- ketika shalat ini kemudian dikenal dengan nama Masjid Qiblatain (masjid dua kiblat). (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 23 April 2019 15:0 WIB
Waraqah bin Naufal, Nasrani yang Mengimani Nabi Muhammad
Waraqah bin Naufal, Nasrani yang Mengimani Nabi Muhammad
Ketika Rasulullah menerima wahyu di awal-awal kenabiannya, beliau ragu dengan apa yang terjadi. Sayyidah Khadijah mengajaknya menemui Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya. Waraqah bin Naufal adalah orang yang menguasai kitab-kitab suci terdahulu, khususnya Yahudi dan Kristen. Waraqah termasuk orang langka. Di saat mayoritas orang Quraisy menyembah berhala, ia mempercayai tradisi agama-agama terdahulu dan menolak menyembah berhala. Ia mencari agama yang lurus (al-millah al-hanafiyyah) dan ajaran Ibrahim (al-syarî’ah al-ibrâhimiyyah). Hal ini tercatat dalam Nawâdir al-Mahthûthât yang mengatakan:

وكانت فيهم الملة الحنيفية الإسلامية، والشريعة الإبراهيمية، ومن أهلها كان قس بن ساعدة الإيادي، ورقة بن نوفل الأسدي، وزيد بن عمرو من بني عدي، وقتلته الروم لذلك

Di dalamnya terdapat (pencari/penganut) agama lurus yang islamiyyah dan syariat Nabi Ibrahim, sebagian dari mereka adalah Quss bin Sâ’idah al-Iyâdî (w. 23 SH), Waraqah bin Naufal al-Asadî, Zaid bin ‘Amr dari Bani ‘Adi yang terbunuh oleh orang Romawi karena melakukan pencarian.” (Syekh Abdussalam Muhammad Harun, Nawâdir al-Mahthûthât, Kairo: Mathba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi, 1973, juz 1, h. 327)

Nasab Waraqah dari pihak ayah adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, sedang dari pihak ibu adalah Hindun binti Abu Kabir bin ‘Abd bin Qushay. Waraqah bin Naufal merupakan penganut agama Nasrani. Imam Ibnu Ishaq berkata: “kâna nashrâniyyan qad tatabba’a al-kutub—Ia seorang Nasrani yang benar-benar mengikuti kitab-kitab.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, Kairo: Darul Hadits, 2008, juz 1, h. 361-364). Ia menentang penyembahan berhala yang dilakukan masyarakatnya. Salah satu riwayat yang menunjukkan keyakinannya adalah perkataannya terhadap teman-temannya:

أتعلمون والله ما قومكم على دين، ولقد أخطأوا الحجة، وتركوا دين إبراهيم

Apakah kalian mengetahui, demi Allah kaum kalian tidak berada dalam agama (yang benar). Cara pandang mereka salah. Mereka telah meninggalkan agama Ibrahim.” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Darul Fikr, 1995, juz 3, h. 424)

Dari berbagai riwayat, Waraqah bin Naufal adalah orang yang haus dengan kebenaran. Ia berkelana ke sana-kemari mencarinya, melintasi berbagai negeri dan kota. Dalam salah satu riwayat diceritakan:

أن زيد بن عمرو وورقة بن نوفل خرجا يلتمسان الدين حتي انتهيا إلي راهب بالموصل فقال لزيد بن عمرو: من أين أقبلت يا صاحب البعير؟ فقال: من بنية إبراهيم، قال: وما تلتمس؟ قال: ألتمس الدين، قال: ارجع فإنك يوشك أن يظهر في أرضك، قال: فأما ورقة فتنصّر وأما أنا فعدمت علي النصرانية فلم يوافقني، فرجع

Sesungguhnya Zaid bin Amr dan Waraqah bin Naufal keduanya berkelana mencari agama (yang benar) hingga keduanya sampai kepada seorang pendeta di Mosul. Pendeta itu berkata kepada Zaid bin ‘Amr: ‘Dari mana kau berasal, wahai penunggang unta?’ Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Dari rumah Ibrahim (Ka’bah/Makkah).’ Pendeta itu berkata: ‘Apa yang sedang kau cari?’ Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Aku sedang mencari agama (yang benar).’ Pendeta itu berkata: ‘Kembalilah, sesungguhnya kau telah dekat dengan kemunculan (agama yang benar) di tanahmu (daerahmu).’ Zaid bin Amr berkata: ‘Adapun Waraqah menjadi seorang Nasrani, tapi aku kehilangan (ketertarikan) terhadap agama Nasrani, karenanya Waraqah tidak sependapat denganku. Kemudian Zaid bin Amr kembali (ke Makkah).” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Darul Fikr, 1995, juz 19, h. 500)
Waraqah belajar pada banyak guru, dan menguasai kitab-kitab terdahulu. Ia juga menyalin Perjanjian Baru ke dalam bahasa Arab. Ia memahami betul isi kitab-kitab suci terdahulu, terutama dalam tradisi Ibrahim. Sebagai saudara sepupunya, Sayyidah Khadijah mengetahui keahlian Waraqah bin Naufal. Karena itu, ia membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya, dan menanyakan peristiwa yang dialami suaminya. Setelah diceritakan secara mendetail, Waraqah bin Naufal mengatakan:

أَبْشِرْ، ثُمَّ أَبْشِرْ، فَأَنَا أَشْهَدُ أَنَّكَ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ ابْنُ مَرْيَمَ، وَأَنَّكَ عَلَى مِثْلِ نَامُوسِ مُوسَى، وَأَنَّكَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَأَنَّكَ سَوْفَ تُؤْمَرُ بِالْجِهَادِ بَعْدَ يَوْمِكَ هَذَا، وَلَئِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ لَأُجَاهِدَنَّ مَعَكَ

“Berbahagialah, kemudian berbahagialah. Aku bersaksi bahwa kau adalah orang yang (dijanjikan) membawa kabar gembira oleh (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya kau (didatangi malaikat) seperti Namus (Jibril) untuk Musa. Sesungguhnya kau adalah nabi yang diutus. Sesungguhnya kau akan diperintahkan untuk berjihad setelah harimu (diangkat menjadi nabi) ini, dan andai aku masih bertemu masa itu, sungguh, aku akan berjihad bersamamu.” (Imam Abu Bakr al-Baihaqi, Dalâ’il al-Nubuwwah, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1988, juz 2, hlm 158-159)

Dalam riwayat lain dikatakan, pertama kali Sayyidah Khadijah menemui Waraqah adalah ketika ia mendengar cerita pembantunya, Maisarah, tentang perkataan Rahib yang melihat Muhammad dilindungi oleh dua malaikat. Dalam riwayat itu dikatakan:

قال إبن إسحاق: وكانت خديجة بنت خويلد قد ذكرتْ لورقة بن نوفل بن أسد بن عبد العزّي—وكان ابن عمّها، وكان نصرانيّا قد تتبّع الكتب، وعلم من علم النّاس—ما ذكر لها غلامها ميسرة من قول الرّاهب، وما كان يري منه إذ كان الملكان يظلّانه، فقال ورقة: لئن كان هذا حقا يا خديجة، إنّ محمّدا لنبيّ هذه الأمة، وقد عرفْت أنه كائن لهذه الأمة نبيّ ينتظر، هذا زمانه

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza—ia adalah anak pamannya, seorang Nasrani yang bersungguh-sungguh mengikuti kitab-kitab, dan orang yang berilmu di (kalangan) manusia—apa yang diceritakan pembantunya, Maisarah, kepadanya tentang perkataan seorang pendeta, bahwa ia melihat Muhammad selalu dinaungi oleh dua malaikat. Waraqah bin Naufal berkata: ‘Jika (ceritamu) ini benar, wahai Khadijah, sesungguhnya Muhammad adalah nabi umat ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa ada nabi yang dinantikan untuk umat ini, dan inilah waktunya’.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 364)

Waraqah bin Naufal diperkirakan wafat sekitar tahun 610 M, tidak lama setelah Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya. Soal kedudukannya di akhirat, banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Waraqah adalah ahli surga. Berikut beberapa riwayat yang menjelaskan tentang itu:

فمات ورقة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رأيت القس في الجنة عليه ثياب خضر

Kemudian Waraqah meninggal (tak lama setelah meyakini kenabian Muhammad), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat sang pendeta (Waraqah bin Naufal) di surga mengenakan baju hijau.” (Imam Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, Beirut: Darul Qiblah lil-Tsaqafah al-Islamiyyah, 2006, juz 20, h. 233)

Imam Abu al-Qasim al-Suhaili (508-581 H) dalam al-Raudl al-Unuf menulis satu paragraf khusus membahas kedudukan Waraqah bin Naufal di akhirat. Beliau menulis:

وهو أحد من آمن بالنّبي قبل البعث، وروي الترمذي أن رسول الله قال: (رَأَيْتُه في الْمَنام وعليه ثِيَابٌ بيضٌ، ولو كان مِن أهلِ النّارِ لَمْ يَكنْ عليه ثيابٌ بيضٌ)، وهو حديث في إسناده ضعفٌ، لأنّه يدُور علي عثمان بن عبد الرحمن ولكنْ يُقَوّيه ما يأْتي بعد هذا من قوله صلي الله عليه وسلم: (رأيتُ القسّ-يعني ورقة-وعليه ثيابٌ حَرِيرٌ لِأَنَّهُ أوَّل مَنْ آمن بي وصدّقنِي) ـ

Waraqah adalah seseorang yang beriman kepada nabi sebelum masa diutus, al-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Aku melihat Waraqah bin Naufal dalam mimpi, dia mengenakan baju putih. Jika dia termasuk ahli neraka, dia tidak akan mengenakan baju putih). Hadits ini lemah dalam isnadnya karena ada Utsman bin Abdurrahman, tetapi hadits tersebut dikuatkan dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini: (Aku melihat pendeta—maksudnya Waraqah—dia mengenakan baju sutera, karena dia adalah orang pertama yang beriman kepadaku dan membenarkanku).” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 362)

Dengan dasar beberapa riwayat di atas, bisa dikatakan bahwa Waraqah bin Naufal termasuk ahli surga seperti yang dikatakan oleh Rasulullah. Salah satu alasan kenapa Waraqah termasuk ahli surga, Imam Abu al-Qasim al-Suhaili mengatakan: “wa kâna yadzkurullaha fî safarihi fîl jâhiliyyah wa yusabbihuhu—(karena) Waraqah bin Naufal (selalu) mengingat Allah dalam (setiap) perjalanannya di masa jahiliyah dan (selalu) bertasbih kepada-Nya.” Sebagai bukti, potongan syair Waraqah bin Naufal perlu ditampilkan:

لَقدْ نَصَحْت لأقوام وقلت لهم: أنا النذير فلا يغرُرْكم أحَدٌ, لَا تَعْبُدنّ إلَهًا غيرَ خالِقِكم 

Sungguh telah kunasihati orang-orang, kukatakan pada mereka: aku adalah pengingat, agar kau tak mudah terbujuk orang. Jangan pernah kau sembah tuhan yang bukan penciptamu.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 362)

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Senin 22 April 2019 17:0 WIB
Sikap Adil Rasulullah kepada Tawanan Perang Badar
Sikap Adil Rasulullah kepada Tawanan Perang Badar
“Dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil lah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..,” (QS Al-Maidah: 8).

Rasulullah adalah suri teladan bagi seluruh umat manusia. Beliau menjalankan semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Termasuk menjalankan perintah Allah dalam ayat di atas, yaitu berbuat adil. Sebuah sikap yang tidak mudah dilaksanakan, terlebih jika seseorang diliputi rasa kebencian dan dilandasi faktor ‘perbedaan’ diantara mereka. Mereka akan susah –atau bahkan tidak bisa- berbuat adil.

Rasulullah tidak demikian. Beliau adalah orang yang berlaku adil kepada semuanya; kepada dirinya, keluarganya, sahabatnya, dan umat Islam sendiri. Siapapun itu jika berbuat salah maka harus dihukum, termasuk anaknya sendiri. Hal ini ditegaskan Rasulullah dalam sebuah hadits; “Demi Allah, seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, aku pasti memotong tangannya.”

Bahkan, Rasulullah juga berbuat adil kepada kafir Quraisy  Makkah, mereka yang selama ini memusuhi diri, dakwah, dan umatnya. Terkait hal ini, ada beberapa kisah. Diantaranya adalah sikap adil Rasulullah kepada para tawanan perang Badar.

Dikisahkan, suatu malam setelah perang Badar Nabi Muhammad saw. tidak bisa tidur. Beliau gelisah dan prihatin dengan keadaan pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, yang menjadi tawanan perang Badar. Rasulullah tahu, pamannya itu sebetulnya orang baik. Meski tidak mau masuk Islam, Abbas tidak pernah memusuhi Nabi Muhammad saw. dan umatnya. Keikutsertaannya dalam perang Badar dari pihak Quraisy hanya sebatas memberikan perlindungan kepada kaumnya, bukan karena kebenciannya kepada Islam.

Rasulullah yang tidak kunjung tidur itu menarik perhatian sahabatnya. Kemudian beliau ditanya apa sebetulnya yang membuat dirinya tidak bisa memejamkan mata. Kata Rasulullah, dirinya tidak bisa tidur karena sepanjang malam itu mendengar jeritan Abbas bin Abdul Muthalib. Memang, pada malam itu Abbas dan para tawanan perang Badar lainnya diikat dengan ikatan yang begitu kuat sehingga membuat mereka kesakitan. 

Mengetahui hal itu, sahabat yang bertanya kepada Rasulullah tersebut langsung menghampiri Abbas dan melonggarkan ikatannya. Ketika kembali kepada Rasulullah, dia ditanya mengapa suara jeritan Abbas bin Abdul Muthalib sudah tidak terdengar lagi. Sahabat tersebut menjawab bahwa tali ikatan Abbas sudah dilonggarkan sehingga dia tidak kesakitan lagi.

Rasulullah merasa lega setelah pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, tidak menjerit kesakitan lagi. Namun demikian, Rasulullah kemudian memerintahkan sahabatnya itu untuk melakukan hal yang sama kepada semua tawanan perang, yaitu mengendurkan tali pengikatnya. Rasulullah ingin tawanan lainnya juga mendapatkan ‘keringanan’ itu, bukan hanya pamannya saja.  

“Lakukan juga kepada semua tawanan lain!” perintah Rasulullah kepada sahabatnya itu, dikuti buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018). 

Begitulah Rasulullah. Beliau tetap berlaku adil meskipun itu terhadap musuhnya sekalipun. Beliau tidak ingin sahabatnya memberikan ‘keringanan’ kepada pamannya saja, namun juga kepada seluruh tawanan perang Badar. Karena keadilan Rasulullah meliputi semuanya. Tidak hanya didasarkan kepada hubungan darah. Maka tidak jarang, sikap dan perlakuan baik Rasulullah terhadap para tawanan menyebabkan mereka akhirnya memeluk Islam.

Abbas adalah saudara bungsu ayah Rasulullah, Sayyidina Abdullah bin Abdul Muthalib. Dia adalah salah satu orang yang sangat disayangi dan akrab dengan Rasulullah. Maka Rasulullah sangat senang sekali ketika Abbas menyatakan diri masuk Islam. Ulama berbeda pendapat tentang kapan Abbas memeluk Islam. Ada yang berpendapat setelah perang Badar. Yang lain mengatakan kalau Abbas masuk Islam sesaat sebelum Fathu Makkah. 

“Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku,” kata Rasulullah. (A Muchlishon Rochmat)