IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Lima Faktor yang Bisa Menumbuhkan Sifat Zuhud

Selasa 23 April 2019 17:0 WIB
Share:
Lima Faktor yang Bisa Menumbuhkan Sifat Zuhud
Ilustrasi.
Selama ini banyak orang yang salah paham atau salah mengartikan sifat zuhud. Zuhud bukan berarti tidak boleh kaya. Zuhud juga bukan harus hidup miskin dan meninggalkan segala gemerlap kehidupan dunia. Karena bagaimanapun tidak ada larangan bagi umat Islam untuk meraih kekayaan setinggi-tingginya. Asal cara memperoleh dan penggunaannya sesuai dengan ajaran Islam. 

Sikap zuhud harus menjadi pondasi kuat manusia di tengah kehidupan duniawi yang penuh dengan rasa cinta dan ambisi terhadap materi. Menurut Wahib bin Ward, zuhud terhadap dunia adalah tidak merasa putus asa manakala ada dunia (harta benda) terlepas dari genggaman dan tidak merasa senang bila ada dunia datang. Sementara Ibnu ‘Ajibah memaknai zuhud sebagai terbebasnya hati dari ketergantungan selain kepada Allah. 

Sederhananya, zuhud adalah melenyapkan keterkaitan hati dengan harta. Sehingga zuhud bukan berarti tidak kaya. Juga tidak identik dengan miskin. Orang kaya belum tentu tidak zuhud. Orang miskin juga belum pasti memiliki sikap zuhud. Karena zuhud adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan lahiriyah.  Sehingga yang mengetahui apakah dia zuhud atau tidak adalah dirinya sendiri, dan tentu saja Allah swt. 

“Jangan kalian mengatakan bahwa seseorang mempunyai sifat zuhud. Karena keberadaan zuhud adalah di hati,” kata Abu Sulaiman ad-Darani.

Imam Ahmad membagi zuhud ke dalam tiga tingkatan. Pertama. Tingkatan zuhud orang awam. Pada tingkatan ini, seseorang dianggap zuhud manakal dia meninggalkan keharaman. Kedua, tingkatan zuhud orang-orang istimewa (khawash). Yaitu meninggalkan hal-hal –bahkan yang halal sekalipun- yang melebihi kebutuhannya. Jadi dia hanya mengambil sesuatu yang menjadi kebutuhannya saja. Ketiga, tingkatan zuhud orang yang sangat istimewa (al-‘arifin). Pada tingkatan ini, seseorang akan meninggalkan segala sesuatu yang mengganggunya untuk ingat kepada Allah.

Lalu bagaimana caranya agar sifat zuhud bisa tumbuh di hati seseorang? Mengutip buku Akhlak Rasul menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), setidaknya ada lima faktor yang bisa menumbuhkan sifat zuhud di dalam hati seseorang. Pertama, memikirkan kehidupan akhirat. Di dalam Islam, kehidupan di dunia adalah ladang akhirat. Jika dia beramal baik, maka dia akan mendapatkan pahala dan ganjaran. Juga sebaliknya. Bila dia berlaku buruk selama di dunia, maka ia akan mendapatkan siksa. Di akhirat kelak. Dengan senantiasa memikirkan kehidupan akhirat, maka dia akan selalu ingat bahwa amal yang dia kerjakan di dunia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sehingga dia tidak tertartik lagi dengan kenikmatan di kehidupan dunia yang sementara ini.

Kedua, menumbuhkan kesadaran bahwa kenikmatan di dunia bisa memalingkan hati dari ingat kepada Allah. Di samping itu, perlu juga ditumbuhkan dalam hati bahwa kenikmatan dunia membuat seseorang akan lama berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan semuanya kepada-Nya.

Ketiga, menumbuhkan kesadaran bahwa memburu dunia sangatlah melelahkan. Tidak jarang seseorang saling sikut, berbuat keji dan hina, untuk mendapatkan dunia. Hal itu tentu saja membuat derajat manusia semakin rendah di hadapan Allah, meskipun mungkin derajatnya tinggi di hadapan manusia. 

Keempat, menyadari bahwa dunia itu terlaknat. Sebagaimana keterangan dalam hadits nabi, dunia dan yang ada di dalamnya adalah terlaknat kecuali dzikir kepada Allah, belajar atau mengajar, dan pekerjaan yang ditujukan hanya kepada Allah. Jadi apapun itu, jika membuat seseorang menjadi jauh dari Allah maka terlaknat. 

Kelima, merasa bahwa dunia adalah hina dan godaannya bisa membahayakan kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-A’laa ayat 16-17; "Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

Sekali lagi zuhud bukan berarti anti-harta benda. Juga bukan harus hidup miskin atau identik dengan kemiskinan. Namun melepaskan keterkaitan hati dengan harta. Contohnya, banyak sahabat Nabi Muhammad saw. yang kaya namun tetap zuhud seperti Abduraahman bin Auf, Zubair binAwwam, Zaid bin Tsabit, dan lainnya. Mereka memiliki harta yang melimpah, namun hartanya tidak membutakan mata dan hati mereka sehingga melupakan akhirat. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Selasa 23 April 2019 12:15 WIB
Pidato Khalifah Abu Bakar saat Menyatukan Dua Kubu yang Berselisih
Pidato Khalifah Abu Bakar saat Menyatukan Dua Kubu yang Berselisih
Dalam angan-angannya, tidak sedikit pun terlintas di benak Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menggebu-gebu menjadi kepala negara menggantikan Rasulullah SAW yang wafat. Sifat lembut dan penyabarnya hanya membuat dia sibuk mengurus jenazah Nabi Muhammad di saat sahabat lain berjibaku membicarakan transisi kepemimpinan. Abu Bakar ditemani Ali bin Abi Thalib ketika mengurus jenazah Rasulullah.

Dalam hal pergantian kekuasaan, sejarah mencatat bahwa sebelum wafat, Rasulullah tidak menunjuk siapa yang akan menggantikannya dalam kedudukan sebagai kepala negara. Namun, Rasulullah meninggalkan wasiat agar kaum mukmin untuk tetap berpegang pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara substansial. Di mana di dalam dua sumber utama umat Islam tersebut tradisi musyawarah (syura) diakui dan mendapat keutamaan tersendiri.

Dari petunjuk tersebut, sistem pemilihan dan pergantian khalifah didasarkan pada musyawarah atau kesepakatan umat, bukan semata-mata pertimbangan penunjukkan atau garis keturunan keluarga tertentu. Namun, pengelolaan negara dalam perspektif pergantian kekuasaan mengelami perkembangan sistem pemerintahan. Sehingga ada yang berbentuk dinasti, kerajaan (mamlakah), republik (syura), dan lain-lain.

Pasca Nabi Muhammad wafat, prinsip musyawarah dalam pemilihan kepala negara telah berjalan dengan baik. Hal ini karena kaum Muslimin sudah terbiasa menerapkan prinsip ukhuwah Islamiyah, berupaya mengedepankan kesepakatan bersama (musawah) dan menerapkan hasil musyawarah dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang telah berjalan sejak era kenabian.

Namun demikian, di balik lancarnya musyawarah yang secara aklamasi menunjuk Abu Bakar sebagai kepala negara menggantikan Rasulullah, perdebatan sengit terjadi antara sahabat Anshar dan Muhajirin. Perdebatan tersebut merupakan sesuatu yang wajar sebagai prinsip keterbukaan dalam musyawarah. Tetapi belakangan berakhir pada pengakuan kesukuan.

Seperti diketahui, dalam musyawarah tersebut, suku Khazraj menunjuk Sa’ad bin Ubadah untuk menjadi khalifah pasca Rasulullah. Tapi suku Aus tidak bersedia menerima pencalonan Sa’ad karena mempertimbangkan pencalonan dari kaum Muhajirin. Suku Khazraj bersikukuh atas pendirian mereka untuk mengangkat khalifah meskipun dari kaum Muhajirin juga akan mempertahankan pendiriannya.

Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah melalui pemilihan dan di dalamnya terdapat proses-proses yang terbuka. Keterbukaan tersebut ditunjukkan lewat perdebatan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Namun akhirnya secara musyawarah mufakat yang terpilih ialah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Terkait perdebatan sengit tersebut yang berujung pada pengakuan kesukuan, akhirnya dapat ditengahi oleh Abu Bakar dalam pidatonya yang menyejukkan. Abu Bakar berhasil menyatukan kembali perbedaan dan perdebatan dua kubu tersebut. Substansi pidatonya diterima oleh seluruh kaum Anshar dan Muhajirin karena kesucian hati Abu Bakar yang tidak ada sedikit pun keinginannya untuk dilantik menjadi kepala negara.

Dikutip dari Ahmad Sya’labi dalam Mausuah Tarikh al-Islami wa al-Hadharah al-Islamiyyah, Khamami Zada (2018) mengungkapkan pidato Abu Bakar sebagai berikut:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah kalian percayakan untuk memangku jabatan khalifah, padahal aku bukanlah yang paling baik di antara kalian. Sebaliknya, kalau aku salah, luruskanlah langkahku. Kebenaran adalah kepercayaan, dan dusta adalah penghianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat dalam pandanganku, sesudah hak-haknya aku aku berikan kepadanya. Sebaliknya, orang yang kuat di antara kalian aku anggap lemah setelah haknya saya ambil. Bila ada yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menghinakannya. Bila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah aku selama aku masih taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi selama aku tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, gugurlah kesetiaan kalian kepadaku. Laksanakanlah shalat, Allah akan memberikanmu rahmat.”

Dari pidato Abu Bakar itu dapat ditarik poin-poin penting di antaranya, pertama, Abu Bakar mengakui bahwa dirinya bukanlah orang terbaik. Kedua, dia harus dibantu hanya selama dirinya berbuat baik dan harus diluruskan bila dia berbuat tidak baik. Ketiga, dia akan memberikan hak kepada setiap orang tanpa membedakan antara yang kuat dengan yang lemah. Keempat, ketaatan kepadanya tergantung pada ketaatannya kepada Allah.

Sebelumnya, saat Nabi Muhammad sakit, Abu Bakar Ash-Siddiq diminta untuk menggantikan Rasul menjadi imam shalat. Permintaan Rasul ini menjadi diskusi para sahabat kala itu, sebagai tanda Abu Bakar menjadi pemimpin baru umat Islam. Namun seperti yang telah dijelaskan di awal, musyawarah tetap harus ditempuh oleh para sahabat dalam menetapkan pemimpin. (Fathoni)
Senin 22 April 2019 13:45 WIB
Belajar Tak Gila Jabatan dari Sahabat Abu Bakar
Belajar Tak Gila Jabatan dari Sahabat Abu Bakar
Kesedihan mendalam menyelimuti umat Islam dan para sahabat saat Nabi Muhammad SAW, kekasih Allah dan Rahmat bagi seluruh alam menghembuskan nafas terakhir. Di balik perdebatan siapa sosok yang tepat untuk menggantikan kepemimpinan Rasulullah, sahabat Abu Bakar As-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib kala itu sibuk mengurus jenazah Rasulullah.

Kecintaan Abu Bakar kepada Rasulullah tak diragukan lagi. Beliau satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah bersembunyi di Gua Tsur saat dalam pengejaran oleh kaum kafir quraisy dan terancam pembunuhan. Ia mencintai Nabi lebih daripada nyawanya sendiri.

Abu Bakar dikenal sebagai sosok sahabat Nabi yang lembut dan sabar. Ia menangis sesenggukan ketika dikabari Nabi bahwa dirinya termasuk manusia yang dijanjikan masuk surga oleh Allah SWT. Saat itulah, ia berjanji untuk terus bersama Rasulullah, apapun yang terjadi.

Rasulullah tidak menunjuk seorang sahabat pun untuk menggantikannya. Namun Rasul mewariskan musyawarah (syura) dalam setiap pengambilan keputusan. Perdebatan siapa sosok yang tepat untuk menjadi kepala negara menggantikan Rasulullah yang sudah wafat terjadi antara sahabat Anshar dan sahabat Muhajirin. Perdebatan mengenai sosok kepala negara tersebut juga terjadi antara suku Khazraj dan suku Aus.

Mengutip Ibnu Jarir Al-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Mulk, Khamami Zada (2018) mengungkapkan bahwa setelah Rasulullah wafat, kaum Anshar melakukan musyawarah di Saqifah Bani Saidah untuk membicarakan siapa pengganti Rasulullah sebagai kepala negara.

Dalam musyawarah tersebut, suku Khazraj menunjuk Sa’ad bin Ubadah untuk menjadi khalifah. Tapi suku Aus tidak bersedia menerima pencalonan Sa’ad karena mempertimbangkan pencalonan dari kaum Muhajirin. Suku Khazraj bersikukuh atas pendirian mereka untuk mengangkat khalifah meskipun dari kaum Muhajirin juga akan mempertahankan pendiriannya.

Sekelompok suku Aus ketika itu berkata, “Kalau demikian, kita akan katakan kepada mereka (kaum Muhajirin) bahwa dari kaum Khazraj diangkat seorang ‘amir dan dari mereka pun diangkat seorang ‘amir. Selain itu, kita tidak setuju.”

Menanggapi pendapat tersebut, Sa’ad bin Ubadah menegaskan bahwa sikap demikian merupakan awal dari kelemahan yang akan membawa perpecahan umat Islam itu sendiri. Saat kaum Anshar masih berkumpul di Saqifah Bani Saidah, Abu Ubaidah bin Jarah dan beberapa kaum Muslimin lainnya juga sibuk membicarakan wafatnya Rasulullah SAW.

Di saat Abu Bakar dan Ali sibuk mengurus jenazah Rasulullah, ketika itulah Umar bin Khattab berpikir tentang siapa pengganti Rasul. Umar langsung meminta Abu Ubaidah mengulurkan tangannya untuk dibaiat karena Umar memandang Abu Ubaidah adalah orang yang tepat menjadi khalifah. Tapi, Abu Ubaidah merasa keberatan karena dalam pandangannya, Abu Bakar adalah sosok yang tepat menjadi kepala negara untuk menggantikan Rasulullah.

Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah melalui pemilihan dan di dalamnya terdapat proses-proses yang terbuka. Keterbukaan tersebut ditunjukkan lewat perdebatan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Namun akhirnya secara musyawarah mufakat yang terpilih ialah Abu Bakar As-Shiddiq.

Terkait perdebatan sengit tersebut yang berujung pada pengakuan kesukuan, akhirnya dapat ditengahi oleh Abu Bakar dalam pidatonya yang menyejukkan. Abu Bakar berhasil menyatukan kembali perbedaan dan perdebatan itu. 

Substansi pidatonya diterima oleh seluruh kaum Anshar dan Muhajirin karena kesucian hati Abu Bakar yang tidak ada sedikit pun keinginannya untuk dilantik menjadi kepala negara. (Fathoni)
Ahad 21 April 2019 19:30 WIB
Ahli Ibadah yang Terancam Masuk Neraka
Ahli Ibadah yang Terancam Masuk Neraka
Ilustrasi (iStock)
Dalam kitab al-Adab al-Mufrad, Imam al-Bukhari mencatat hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menggambarkan ahli ibadah yang terancam masuk neraka. Silahkan simak haditsnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةً تَقُومُ اللَّيْلَ وَتَصُومُ النَّهَارَ، وتفعلُ، وتصدقُ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟ فَقَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا خَيْرَ فِيهَا، هِيَ من أهل النار
قَالُوا: وَفُلَانَةٌ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ، وَتَصَّدَّقُ بِأَثْوَارٍ، وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا؟ فَقَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Dikatakan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah (seorang wanita) rajin mendirikan shalat malam, gemar puasa di siang hari, mengerjakan (kebaikan) dan bersedekah, tapi sering menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”

Mereka (para sahabat) berkata (lagi): “Fulanah (lainnya hanya) mengerjakan shalat wajib, dan bersedekah dengan beberapa potong keju, tapi tidak (pernah) menyakiti seorang pun.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dia adalah penghuni surga.” (Imam al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, Beirut: Darul Basya’ir al-Islamiyyah, 1989, h. 54-55)

****

Kita semua tahu Allah itu al-Tawwab (Maha Penerima Taubat). Kasih sayang-Nya mengalahkan murka-Nya. Rahmat-Nya jauh lebih luas dari azab-Nya. Selama seorang hamba memohon ampun kepadaNya, Allah akan mengampuninya. Namun, manusia tidak seluas itu kasih sayangnya. Manusia tidak sedalam itu pewajarannya. Bisa dibilang manusia adalah mahluk yang paling susah meminta maaf dan memaafkan. 

Karena itu, Rasulullah mengajari umatnya untuk menahan diri. Jangan mudah mengumbar kata; jangan gampang menyebar berita; jangan sering menghardik sesamanya. Karena Rasulullah tahu, ruang maaf manusia terbatas, tidak seluas dan sedalam Tuhannya. Mendapatkan maaf manusia jauh lebih berat dan susah. Belum lagi jika kita tidak merasa bersalah, tapi orang lain memendam kesal kepada kita. Mengetahui diri kita salah saja, kita masih enggan meminta maaf, apalagi tak merasa bersalah sama sekali. 

Hadits di atas adalah contoh nyata. Seorang wanita ahli ibadah, rajin shalat malam, gemar berpuasa, banyak bersedekah dan beramal, tapi lidahnya selalu membawa rasa sakit bagi tetangganya. Rasulullah mengatakan: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk ahli neraka.” Artinya, amal ibadah yang tidak berbanding lurus dengan perilaku sosial yang baik, ibadahnya kekurangan makna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim): 

لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ

“Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia (lainnya).” (Imam al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, 1989, h.48)

Dalam riwayat lain dikatakan, “man lâ yarham lâ yurham—orang yang tidak mengasihi, maka tidak akan dikasihi.” Ini menunjukkan bahwa kasih sayang sesama manusia tidak kalah pentingnya dengan ibadah yang bersifat ritual, bahkan Allah, dalam hadits di atas, tidak akan mengasihi orang yang tidak mengasihi sesamanya. Artinya, Allah menghendaki hamba-hambanya membangun dunia yang harmonis; menciptakan lingkungan yang sehat dari kebencian; membiasakan kepedulian; membudayakan sayang-menyayangi; mengembangkan “saling asa” dan “asuh”, serta hal-hal positif lainnya. Minimal tidak berbuat kerusakan di muka bumi, termasuk menyakiti perasaan sesamanya.

Karena itu, ketika diceritakan kepada Rasulullah tentang seorang wanita yang ibadahnya biasa-biasa saja, hanya menjalankan shalat wajib dan bersedekah ala kadarnya, tapi tidak pernah menyakiti perasaan orang lain, Rasulullah mengatakan: “Dia adalah penghuni surga.” Jika dipahami secara mendalam, hadits ini sedang berbicara tentang keadilan. Wanita itu memenuhi kewajibannya sebagai seorang hamba dengan melaksanakan perintah-Nya (shalat wajib), juga memenuhi hak-hak orang dengan tidak pernah menyakiti perasaan mereka.

Berbeda halnya dengan cerita pertama, ia memang berhasil memperbanyak amalnya dengan shalat malam, puasa, sedekah dan amal-amal baik lainnya, tapi gagal memenuhi hak-hak orang lain dengan selalu menyakiti perasaan mereka. 

Padahal, hak-hak orang lain tidak kalah kedudukannya dengan ibadah ritual. Karena keduanya diperintahkan oleh Allah. Perbedaan dasarnya terletak pada penyelesaiannya. Berdosa kepada Allah bisa diselesaikan dengan sederhana, cukup memohon ampunan-Nya, dan Allah akan mengampuninya, karena Dia adalah al-Tawwâb al-Rahîm (Maha Penerima Taubat lagi Maha Pengasih).

Tapi dengan manusia, sangatlah rumit. Ada beberapa kerumitan yang harus dimengerti terlebih dahulu. Pertama, ketidak-sadaran manusia akan kesalahannya. Setiap manusia dengan bawaan lahir dan budayanya, memiliki standar dan sudut pandang yang berbeda-beda tentang sesuatu. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan nilai moral. 

Moral yang sedang kita bicarakan di sini adalah “cabang”, bukan “akar”. Karena secara umum, manusia memiliki “akar” atau dasar nilai moral yang sama. Contohnya memukul orang tua adalah perbuatan amoral, tapi cabangnya berbeda-beda karena terkait dengan budaya. Misalnya, bagi masyarakat tertentu menyentuh kepala itu tidak sopan, tapi bagi masyarakat lainnya biasa saja. Ini tentu menjadi masalah. Tapi perlu diingat, ini sekedar contoh rumitnya standar benar-salah di antara manusia. Artinya, manusia sering tidak merasa dirinya telah menyakiti perasaan orang lain. Padahal, ketersakitan itu akan mendapatkan haknya di akhirat kelak. Berbeda ketika berhubungan dengan Allah yang Maha Mengetahui. Karena Allah sudah mengampuni terlebih dahulu kekeliruan, kelupaan dan keterpaksaan hamba-Nya yang tanpa disengaja. Rasulullah bersabda (HR. Imam Ibnu Majah):

إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku kekeliruan, kealpaan (lupa) dan apa-apa yang dipaksakan atas mereka.”

Kedua, keengganan atau gengsi meminta maaf. Banyak orang yang mengetahui kesalahannya tapi tidak pernah meminta maaf karena “gengsi”. Di permukaan, ia mencitrakan diri sebagai orang yang benar dan tidak bersalah, tapi dalam hatinya, ia tahu bahwa ia bersalah. Inilah kerumitan lain yang sukar diatasi oleh manusia. Karena orang di tipe ini tahu bahwa ia berdosa, tapi kegengsian menghalanginya untuk meminta maaf.

Ketiga, menganggap sepele kesalahannya pada orang lain. Kerumitan tipe ini tidak jauh berbeda dengan yang kedua. Perbedaannya terletak pada asalnya. Jika tipe yang kedua berasal dari “gengsi”, tipe ini berasal dari “anggapan tidak penting,” sehingga membiarkannya mengalir seperti air tanpa merasa perlu untuk mengucapkan kata “maaf”. Anggapan seperti ini bisa jadi karena pengetahuan agama yang kurang sehingga tidak tahu bahayanya membawa dosa “menyinggung orang lain” di akhirat.

Keempat, belum tentu mendapatkan maaf. Ini kerumitan yang tidak bisa dipandang remeh. Tidak semua orang mudah memberi maaf, tapi paling tidak, bagi orang yang telah menyadari kesalahannya dan meminta maaf, ia mendapatkan pahala karena telah mengakui kesalahannya dan berusaha untuk memperbaikinya. Syekh al-Zarqani (1645-1710 M) dalam Syarh al-Muwatha’ mengutip ucapan Imam Ibnu Ruslan (w. 844 H):

لو صالح أحدهما الآخر فلم يقبل غفر للمصالح

“Jika salah satunya berusaha berdamai dengan lainnya tapi tidak diterima, maka orang yang berusaha berdamai itu diampuni.” (Syekh Muhammad al-Zarqani, Syarh al-Zarqânî ‘Ala Muwaththa’ al-Imâm Mâlik, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyya, 2011, juz 4, h. 335) 

Maka dari itu, kita harus mulai mengingat-ingat kembali kesalahan kita, lalu meminta maaf pada orang yang pernah kita sakiti satu persatu. Jika ada yang belum berkenan memaafkan, kita jangan berhenti memintanya sembari berdoa kepada Allah agar hatinya dilapangkan. Jadi, jangan sakiti sesamamu, mohon maaflah dan berilah maaf kepada siapapun yang memintanya.

Wallahu a’lam....


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.