IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Sayyidah Aisyah dan Ibu yang Mengasihi Anaknya

Kamis 25 April 2019 12:30 WIB
Share:
Kisah Sayyidah Aisyah dan Ibu yang Mengasihi Anaknya
Ilustrasi (freepik)
Dalam kitab Adab al-Mufrad, Imam al-Bukhari memasukkan sebuah riwayat yang menceritakan seorang ibu dan dua anaknya. Berikut riwayatnya:

حدّثنا مسلم ين إبراهيم قال: حدّثنا ابن فُضالة قال: حدّثنا بكر ابن عبد الله المزنّي عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَأَعْطَتْهَا عَائِشَةُ ثَلَاثَ تَمَرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ صَبِيٍّ لَهَا تَمْرَةً، وَأَمْسَكَتْ لِنَفْسِهَا تَمْرَةً، فَأَكَلَ الصِّبْيَانُ التَّمْرَتَيْنِ وَنَظَرَا إِلَى أُمِّهِمَا، فَعَمَدَتْ إِلَى التَّمْرَةِ فَشَقَّتْهَا، فَأَعْطَتْ كُلَّ صَبِيٍّ نِصْفَ تَمْرَةٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ فَقَالَ: (وَمَا يُعْجِبُكَ مِنْ ذَلِكَ؟ لَقَدْ رَحِمَهَا اللَّهُ بِرَحْمَتِهَا صبييها) ـ

Diceritakan oleh Muslim bin Ibrahim, diceritakan oleh Ibnu Fudlalah, diceritakan oleh Bakr bin Abdullah al-Muzanni, dari Anas bin Malik:

Datang seorang wanita kepada Aisyah radliyallahu ‘anha (meminta-minta), Aisyah memberinya tiga butir kurma (karena hanya itu yang dimilikinya). Wanita itu memberi masing-masing anaknya satu butir kurma, dan menyimpan sebutir lainnya untuk dirinya sendiri. Setelah kedua anaknya memakan kurma (pemberian Aisyah), keduanya menatap pada ibunya. Sang ibu mengambil kurma (jatahnya) kemudian membelahnya. Ia memberi masing-masing anaknya separuh kurma tersebut.

Tak berselang lama, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang. Aisyah menceritakan peristiwa (yang baru saja disaksikannya). Lalu Rasulullah bersabda: “Apa yang mengejutkanmu dari itu? Sungguh Allah telah merahmati ibu tersebut karena kasih sayangnya kepada anaknya.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, Kairo: Darul Basyar al-Islamiyyah, 1989, h. 45)

****

Kita pasti pernah mendengar pepatah yang mengatakan, “kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.” Ya, memang ada ketimpangan besar antara “kasih sayang” ibu dan anak, hingga melahirkan hukum “nilai” tak resmi yang disepakati bersama, yaitu pepatah di atas. Perbandingan sepanjang “masa” dan “galah” (tombak/tongkat) pun pantas. “Masa” mewakili ketidak-berujungan kasih sayang ibu, dan “galah” mewakili keterbatasan kasih sayang seorang anak. Terlepas dari kasus-kasus khusus seperti ibu yang membuang anaknya. Di sini, kita tidak akan bicara soal itu, kita hanya akan bicara soal kasih sayang ibu dan anaknya.

Di setiap hati manusia, Allah meletakkan cinta dan kasih sayang. Benihnya sama, ladangnya sama, yang membedakan adalah perawatannya. Dan itu bergantung pada banyak hal, pendidikan, lingkungan, dan kemauan diri. Kita sering membaca kisah orang yang terlahir di lingkungan jahat, tumbuh menjadi penjahat. Kemudian pada titik tertentu hidupnya, ia merindukan perubahan, seperti kisah penjahat yang membunuh sembilan puluh sembilan orang dalam hadits riwayat Imam Muslim.

Karena pentingnya “perawatan”, Tuhan memerintahkan manusia untuk saling mengasihi. Tuhan tahu, meski setiap manusia menyimpan benih cinta dan kasih sayang, tidak semuanya terekspresikan dengan baik; tidak semuanya berkembang dengan indah. Di sinilah peran orang tua sangat penting. Kasih sayang tidak melulu harus diwujudkan dengan memeluk, membelai, dan menggendong, tapi juga menyediakan pendidikan yang baik bagi anaknya. Orang-orang saleh terdahulu (salafus salih) mengatakan:

الصّلَاح مِن اللهِ والْأَدب من الْآباء

Kesalehan berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan adab (pendidikan/tata krama) berasal dari orang tua.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, h. 46-47)

Artinya, Allah sudah menanamkan segala kualitas baik kepada seluruh manusia. Namun, benih tidak akan tumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan buah tanpa “perawatan” dan “pengurusan” yang baik. Salah satunya dengan menunjukkan kasih sayang yang tulus dan tidak pernah berkata kasar kepada anak. Kasih sayang orang tua merupakan pupuk bagi pertumbuhannya. Semakin banyak kasih sayang yang menghunjam, semakin besar empati yang dihasilkan. Karena itu, Rasulullah memandang penting ekspresi kasih sayang. Beliau bersabda:

عن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسٌ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا, فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: (مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ) ـ

Dari Abu Hurairah, ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, di sampingnya ada al-Aqra’ bin Habis al-Tamimi sedang duduk. al-Aqra’ berkata: ‘Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, (dan) aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.’ Rasulullah memandang al-Aqra’ lalu berkata: ‘Orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi’.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, h. 46)

Sebab, bagaimanapun juga, kasih sayang perlu dikenali, dan ciuman orang tua adalah simbol paling sederhana dari kasih sayang. Artinya, ciuman adalah langkah awal, bukan langkah tengah, apalagi langkah akhir. Dari ciuman, kasih sayang merambah ke dimensi lainnya, karena ada banyak ragam dalam menunjukkannya, Rasulullah berujar, “orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.” Ada hukum timbal-balik di sini, yaitu orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi. Begitu pun dalam proses mendidik anak, masih ada ruang luas untuk kasih sayang, dan ciuman adalah salah satu contohnya.  

Baiklah, kita kembali ke pembahasan awal. Untuk mempermudah, kita akan melakukan visualisasi secara imajinatif. Ketika mengandung, seorang ibu membagi jantungnya, menahan beban di perutnya, menjaga makannya dan berhati-hati dalam berperilaku. Ia membawa beban 2-3 kilogram berbulan-bulan lamanya. Bayangkan saja, ketika kita membawa tas seberat 2-3 kilogram seharian penuh, kita merasakan kelelahan yang sangat, dan mengeluh sejadi-jadinya. Bandingkan dengan beban yang dibawa seorang ibu ketika mengandung, berbulan-bulan lamanya ia bertahan, tidak hanya itu, tapi harus berhati-hati juga. Jika kita bayangkan dengan standar pandang kita, sungguh sangat menyusahkan. Di tambah lagi, terkadang para ibu, demi kesehatan bayinya, mereka terpaksa memakan makanan yang tidak mereka sukai, dan terpaksa tidak memakan makanan yang mereka sukai.

Jadi, pantas saja jika seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya, terutama ibunya. Dengan pernah mampir di kandungannya saja, sudah cukup menjadi alasan berbakti kepadanya. Belum lagi alasan-alasan lain yang jika ditulis akan menghabiskan berpuluh-puluh halaman. Karena itu, kita cukupkan saja sampai di sini. Sebelum mengakhirinya, kita perlu mengingat perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di baris terakhir kisah di atas, bahwa Allah telah merahmati ibu tersebut sebab kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Ini merupakan kabar gembira bagi para ibu, karena tanpa disadari kalian mendapatkan rahmat Allah setiap kali menampakkan atau merasakan kasih sayang untuk anak kalian, meski hanya senyum kecil dari kejauhan. Menyenangkan, bukan?

Wallahu a’lam bi al-shawab


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Share:
Selasa 23 April 2019 17:0 WIB
Lima Faktor yang Bisa Menumbuhkan Sifat Zuhud
Lima Faktor yang Bisa Menumbuhkan Sifat Zuhud
Ilustrasi.
Selama ini banyak orang yang salah paham atau salah mengartikan sifat zuhud. Zuhud bukan berarti tidak boleh kaya. Zuhud juga bukan harus hidup miskin dan meninggalkan segala gemerlap kehidupan dunia. Karena bagaimanapun tidak ada larangan bagi umat Islam untuk meraih kekayaan setinggi-tingginya. Asal cara memperoleh dan penggunaannya sesuai dengan ajaran Islam. 

Sikap zuhud harus menjadi pondasi kuat manusia di tengah kehidupan duniawi yang penuh dengan rasa cinta dan ambisi terhadap materi. Menurut Wahib bin Ward, zuhud terhadap dunia adalah tidak merasa putus asa manakala ada dunia (harta benda) terlepas dari genggaman dan tidak merasa senang bila ada dunia datang. Sementara Ibnu ‘Ajibah memaknai zuhud sebagai terbebasnya hati dari ketergantungan selain kepada Allah. 

Sederhananya, zuhud adalah melenyapkan keterkaitan hati dengan harta. Sehingga zuhud bukan berarti tidak kaya. Juga tidak identik dengan miskin. Orang kaya belum tentu tidak zuhud. Orang miskin juga belum pasti memiliki sikap zuhud. Karena zuhud adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan lahiriyah.  Sehingga yang mengetahui apakah dia zuhud atau tidak adalah dirinya sendiri, dan tentu saja Allah swt. 

“Jangan kalian mengatakan bahwa seseorang mempunyai sifat zuhud. Karena keberadaan zuhud adalah di hati,” kata Abu Sulaiman ad-Darani.

Imam Ahmad membagi zuhud ke dalam tiga tingkatan. Pertama. Tingkatan zuhud orang awam. Pada tingkatan ini, seseorang dianggap zuhud manakal dia meninggalkan keharaman. Kedua, tingkatan zuhud orang-orang istimewa (khawash). Yaitu meninggalkan hal-hal –bahkan yang halal sekalipun- yang melebihi kebutuhannya. Jadi dia hanya mengambil sesuatu yang menjadi kebutuhannya saja. Ketiga, tingkatan zuhud orang yang sangat istimewa (al-‘arifin). Pada tingkatan ini, seseorang akan meninggalkan segala sesuatu yang mengganggunya untuk ingat kepada Allah.

Lalu bagaimana caranya agar sifat zuhud bisa tumbuh di hati seseorang? Mengutip buku Akhlak Rasul menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), setidaknya ada lima faktor yang bisa menumbuhkan sifat zuhud di dalam hati seseorang. Pertama, memikirkan kehidupan akhirat. Di dalam Islam, kehidupan di dunia adalah ladang akhirat. Jika dia beramal baik, maka dia akan mendapatkan pahala dan ganjaran. Juga sebaliknya. Bila dia berlaku buruk selama di dunia, maka ia akan mendapatkan siksa. Di akhirat kelak. Dengan senantiasa memikirkan kehidupan akhirat, maka dia akan selalu ingat bahwa amal yang dia kerjakan di dunia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sehingga dia tidak tertartik lagi dengan kenikmatan di kehidupan dunia yang sementara ini.

Kedua, menumbuhkan kesadaran bahwa kenikmatan di dunia bisa memalingkan hati dari ingat kepada Allah. Di samping itu, perlu juga ditumbuhkan dalam hati bahwa kenikmatan dunia membuat seseorang akan lama berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan semuanya kepada-Nya.

Ketiga, menumbuhkan kesadaran bahwa memburu dunia sangatlah melelahkan. Tidak jarang seseorang saling sikut, berbuat keji dan hina, untuk mendapatkan dunia. Hal itu tentu saja membuat derajat manusia semakin rendah di hadapan Allah, meskipun mungkin derajatnya tinggi di hadapan manusia. 

Keempat, menyadari bahwa dunia itu terlaknat. Sebagaimana keterangan dalam hadits nabi, dunia dan yang ada di dalamnya adalah terlaknat kecuali dzikir kepada Allah, belajar atau mengajar, dan pekerjaan yang ditujukan hanya kepada Allah. Jadi apapun itu, jika membuat seseorang menjadi jauh dari Allah maka terlaknat. 

Kelima, merasa bahwa dunia adalah hina dan godaannya bisa membahayakan kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-A’laa ayat 16-17; "Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

Sekali lagi zuhud bukan berarti anti-harta benda. Juga bukan harus hidup miskin atau identik dengan kemiskinan. Namun melepaskan keterkaitan hati dengan harta. Contohnya, banyak sahabat Nabi Muhammad saw. yang kaya namun tetap zuhud seperti Abduraahman bin Auf, Zubair binAwwam, Zaid bin Tsabit, dan lainnya. Mereka memiliki harta yang melimpah, namun hartanya tidak membutakan mata dan hati mereka sehingga melupakan akhirat. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 23 April 2019 12:15 WIB
Pidato Khalifah Abu Bakar saat Menyatukan Dua Kubu yang Berselisih
Pidato Khalifah Abu Bakar saat Menyatukan Dua Kubu yang Berselisih
Dalam angan-angannya, tidak sedikit pun terlintas di benak Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk menggebu-gebu menjadi kepala negara menggantikan Rasulullah SAW yang wafat. Sifat lembut dan penyabarnya hanya membuat dia sibuk mengurus jenazah Nabi Muhammad di saat sahabat lain berjibaku membicarakan transisi kepemimpinan. Abu Bakar ditemani Ali bin Abi Thalib ketika mengurus jenazah Rasulullah.

Dalam hal pergantian kekuasaan, sejarah mencatat bahwa sebelum wafat, Rasulullah tidak menunjuk siapa yang akan menggantikannya dalam kedudukan sebagai kepala negara. Namun, Rasulullah meninggalkan wasiat agar kaum mukmin untuk tetap berpegang pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi secara substansial. Di mana di dalam dua sumber utama umat Islam tersebut tradisi musyawarah (syura) diakui dan mendapat keutamaan tersendiri.

Dari petunjuk tersebut, sistem pemilihan dan pergantian khalifah didasarkan pada musyawarah atau kesepakatan umat, bukan semata-mata pertimbangan penunjukkan atau garis keturunan keluarga tertentu. Namun, pengelolaan negara dalam perspektif pergantian kekuasaan mengelami perkembangan sistem pemerintahan. Sehingga ada yang berbentuk dinasti, kerajaan (mamlakah), republik (syura), dan lain-lain.

Pasca Nabi Muhammad wafat, prinsip musyawarah dalam pemilihan kepala negara telah berjalan dengan baik. Hal ini karena kaum Muslimin sudah terbiasa menerapkan prinsip ukhuwah Islamiyah, berupaya mengedepankan kesepakatan bersama (musawah) dan menerapkan hasil musyawarah dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana yang telah berjalan sejak era kenabian.

Namun demikian, di balik lancarnya musyawarah yang secara aklamasi menunjuk Abu Bakar sebagai kepala negara menggantikan Rasulullah, perdebatan sengit terjadi antara sahabat Anshar dan Muhajirin. Perdebatan tersebut merupakan sesuatu yang wajar sebagai prinsip keterbukaan dalam musyawarah. Tetapi belakangan berakhir pada pengakuan kesukuan.

Seperti diketahui, dalam musyawarah tersebut, suku Khazraj menunjuk Sa’ad bin Ubadah untuk menjadi khalifah pasca Rasulullah. Tapi suku Aus tidak bersedia menerima pencalonan Sa’ad karena mempertimbangkan pencalonan dari kaum Muhajirin. Suku Khazraj bersikukuh atas pendirian mereka untuk mengangkat khalifah meskipun dari kaum Muhajirin juga akan mempertahankan pendiriannya.

Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah melalui pemilihan dan di dalamnya terdapat proses-proses yang terbuka. Keterbukaan tersebut ditunjukkan lewat perdebatan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Namun akhirnya secara musyawarah mufakat yang terpilih ialah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Terkait perdebatan sengit tersebut yang berujung pada pengakuan kesukuan, akhirnya dapat ditengahi oleh Abu Bakar dalam pidatonya yang menyejukkan. Abu Bakar berhasil menyatukan kembali perbedaan dan perdebatan dua kubu tersebut. Substansi pidatonya diterima oleh seluruh kaum Anshar dan Muhajirin karena kesucian hati Abu Bakar yang tidak ada sedikit pun keinginannya untuk dilantik menjadi kepala negara.

Dikutip dari Ahmad Sya’labi dalam Mausuah Tarikh al-Islami wa al-Hadharah al-Islamiyyah, Khamami Zada (2018) mengungkapkan pidato Abu Bakar sebagai berikut:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah kalian percayakan untuk memangku jabatan khalifah, padahal aku bukanlah yang paling baik di antara kalian. Sebaliknya, kalau aku salah, luruskanlah langkahku. Kebenaran adalah kepercayaan, dan dusta adalah penghianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat dalam pandanganku, sesudah hak-haknya aku aku berikan kepadanya. Sebaliknya, orang yang kuat di antara kalian aku anggap lemah setelah haknya saya ambil. Bila ada yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menghinakannya. Bila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah aku selama aku masih taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi selama aku tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, gugurlah kesetiaan kalian kepadaku. Laksanakanlah shalat, Allah akan memberikanmu rahmat.”

Dari pidato Abu Bakar itu dapat ditarik poin-poin penting di antaranya, pertama, Abu Bakar mengakui bahwa dirinya bukanlah orang terbaik. Kedua, dia harus dibantu hanya selama dirinya berbuat baik dan harus diluruskan bila dia berbuat tidak baik. Ketiga, dia akan memberikan hak kepada setiap orang tanpa membedakan antara yang kuat dengan yang lemah. Keempat, ketaatan kepadanya tergantung pada ketaatannya kepada Allah.

Sebelumnya, saat Nabi Muhammad sakit, Abu Bakar Ash-Siddiq diminta untuk menggantikan Rasul menjadi imam shalat. Permintaan Rasul ini menjadi diskusi para sahabat kala itu, sebagai tanda Abu Bakar menjadi pemimpin baru umat Islam. Namun seperti yang telah dijelaskan di awal, musyawarah tetap harus ditempuh oleh para sahabat dalam menetapkan pemimpin. (Fathoni)
Senin 22 April 2019 13:45 WIB
Belajar Tak Gila Jabatan dari Sahabat Abu Bakar
Belajar Tak Gila Jabatan dari Sahabat Abu Bakar
Kesedihan mendalam menyelimuti umat Islam dan para sahabat saat Nabi Muhammad SAW, kekasih Allah dan Rahmat bagi seluruh alam menghembuskan nafas terakhir. Di balik perdebatan siapa sosok yang tepat untuk menggantikan kepemimpinan Rasulullah, sahabat Abu Bakar As-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib kala itu sibuk mengurus jenazah Rasulullah.

Kecintaan Abu Bakar kepada Rasulullah tak diragukan lagi. Beliau satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah bersembunyi di Gua Tsur saat dalam pengejaran oleh kaum kafir quraisy dan terancam pembunuhan. Ia mencintai Nabi lebih daripada nyawanya sendiri.

Abu Bakar dikenal sebagai sosok sahabat Nabi yang lembut dan sabar. Ia menangis sesenggukan ketika dikabari Nabi bahwa dirinya termasuk manusia yang dijanjikan masuk surga oleh Allah SWT. Saat itulah, ia berjanji untuk terus bersama Rasulullah, apapun yang terjadi.

Rasulullah tidak menunjuk seorang sahabat pun untuk menggantikannya. Namun Rasul mewariskan musyawarah (syura) dalam setiap pengambilan keputusan. Perdebatan siapa sosok yang tepat untuk menjadi kepala negara menggantikan Rasulullah yang sudah wafat terjadi antara sahabat Anshar dan sahabat Muhajirin. Perdebatan mengenai sosok kepala negara tersebut juga terjadi antara suku Khazraj dan suku Aus.

Mengutip Ibnu Jarir Al-Thabari dalam Tarikh al-Umam wa al-Mulk, Khamami Zada (2018) mengungkapkan bahwa setelah Rasulullah wafat, kaum Anshar melakukan musyawarah di Saqifah Bani Saidah untuk membicarakan siapa pengganti Rasulullah sebagai kepala negara.

Dalam musyawarah tersebut, suku Khazraj menunjuk Sa’ad bin Ubadah untuk menjadi khalifah. Tapi suku Aus tidak bersedia menerima pencalonan Sa’ad karena mempertimbangkan pencalonan dari kaum Muhajirin. Suku Khazraj bersikukuh atas pendirian mereka untuk mengangkat khalifah meskipun dari kaum Muhajirin juga akan mempertahankan pendiriannya.

Sekelompok suku Aus ketika itu berkata, “Kalau demikian, kita akan katakan kepada mereka (kaum Muhajirin) bahwa dari kaum Khazraj diangkat seorang ‘amir dan dari mereka pun diangkat seorang ‘amir. Selain itu, kita tidak setuju.”

Menanggapi pendapat tersebut, Sa’ad bin Ubadah menegaskan bahwa sikap demikian merupakan awal dari kelemahan yang akan membawa perpecahan umat Islam itu sendiri. Saat kaum Anshar masih berkumpul di Saqifah Bani Saidah, Abu Ubaidah bin Jarah dan beberapa kaum Muslimin lainnya juga sibuk membicarakan wafatnya Rasulullah SAW.

Di saat Abu Bakar dan Ali sibuk mengurus jenazah Rasulullah, ketika itulah Umar bin Khattab berpikir tentang siapa pengganti Rasul. Umar langsung meminta Abu Ubaidah mengulurkan tangannya untuk dibaiat karena Umar memandang Abu Ubaidah adalah orang yang tepat menjadi khalifah. Tapi, Abu Ubaidah merasa keberatan karena dalam pandangannya, Abu Bakar adalah sosok yang tepat menjadi kepala negara untuk menggantikan Rasulullah.

Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah melalui pemilihan dan di dalamnya terdapat proses-proses yang terbuka. Keterbukaan tersebut ditunjukkan lewat perdebatan antara kaum Anshar dan Muhajirin. Namun akhirnya secara musyawarah mufakat yang terpilih ialah Abu Bakar As-Shiddiq.

Terkait perdebatan sengit tersebut yang berujung pada pengakuan kesukuan, akhirnya dapat ditengahi oleh Abu Bakar dalam pidatonya yang menyejukkan. Abu Bakar berhasil menyatukan kembali perbedaan dan perdebatan itu. 

Substansi pidatonya diterima oleh seluruh kaum Anshar dan Muhajirin karena kesucian hati Abu Bakar yang tidak ada sedikit pun keinginannya untuk dilantik menjadi kepala negara. (Fathoni)