IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Sayyidina Abdullah bin ‘Amr dan Tetangga Yahudi

Jumat 26 April 2019 13:0 WIB
Share:
Kisah Sayyidina Abdullah bin ‘Amr dan Tetangga Yahudi
Dalam kitab Adab al-Mufrad, Imam al-Bukhari memasukkan sebuah riwayat tentang Sayyidina Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash. Berikut riwayatnya:

حدّثنا أبو نعيم قال: حدّثنا بشير بن سليمان, عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَغُلَامُهُ يَسْلُخُ شَاةً فَقَالَ: يَا غُلَامُ! إِذَا فَرَغْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: الْيَهُودِيُّ؟ أَصْلَحَكَ اللَّهُ! قَالَ: )إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوصِي بِالْجَارِ، حَتَّى خَشِينَا—أَوْ رؤينا—أنه سيورثه( ـ

Diceritakan oleh Abu Nu’aim, ia berkata: diceritakan oleh Basyir bin Sulaiman, dari Mujahid, ia berkata:

Aku bersama Abdullah bin ‘Amr (bin al-‘Ash) dan (ketika itu) pembantunya sedang menguliti kambing. Abdullah bin ‘Amr berkata: “Wahai anak, jika kau telah selesai, berikan kepada tetangga Yahudi kita.” Lalu ada seseorang dari kaumnya berkata: “Orang Yahudi? Semoga Allah memperbaiki keadaanmu!”

Abdullah bin ‘Amr berkata: “Sesungguhnya aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berwasiat (untuk berbuat baik) kepada tetangga, sampai kami khawatir—atau (sekadar) anggapan kami—bahwa beliau akan menjadikan (tetangga) sebagai ahli warisnya.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, Kairo: Darul Basyar al-Islamiyyah, 1989, h. 57)

****

Membincangkan kisah di atas, ada benang merah yang harus kita temui pangkalnya, yaitu tafsir Surah an-Nisâ’ ayat 36. Dalam surah tersebut Allah berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan penuh kebanggaan (diri).

Ayat di atas merupakan salah satu konsep Al-Qur’an dalam mendorong keharmonisan dunia, sekaligus menjadi pegangan dasar yang harus dianut oleh semua umat Islam. Di ayat tersebut, ada sejumlah “perbuatan baik” yang diperintahkan Allah secara berjenjang, dimulai dari yang terdekat, “berbuat baiklah kepada kedua orang tua,” sampai lepas dari sekat-sekat kekeluargaan dalam arti hubungan darah. Lalu kaitannya apa dengan kisah di atas?

Begini, dalam ayat di atas, terdapat kalimat, “wal jâril junub—tetangga jauh.” Para mufassir berbeda pendapat. Dari beragamnya pendapat mufassir, kita bisa kelompokkan dalam dua pandangan besar. Pandangan pertama, Sayyidina Ibnu Abbas menafsirkan kalimat “tetangga jauh” sebagai, “alladzî laisa bainaka wa bainahu qurâbah—orang yang tidak memiliki hubungan kekerabatan denganmu,” dan Imam Mujahid menafsirkannya sebagai, “jâruka min qaumin âkharîn—tetanggamu dari suku/bangsa yang berbeda.” (Imam al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî: Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2013, juz 4, h. 82)

Pandangan kedua, ulama yang menafsirkan kalimat “tetangga jauh” sebagai, “al-jârul musyrik—tetangga yang musyrik.” Menurut Imam Nauf al-Syami “tetangga jauh” dalam ayat tersebut adalah, “al-yahudiy wa al-nashrâniy—orang Yahudi dan Nasrani.” (Imam al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî: Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, 2013, juz 4, h. 82). Mengenai dua perbedaan penafsiran tersebut, Imam al-Thabari memilih menggabungkan keduanya. Ia berkomentar:

وأولى القولين في ذلك بالصواب، قول من قال: معنى الجنب، في هذا الموضع: الغريبُ البعيد، مسلمًا كان أو مشركًا، يهوديًا كان أو نصرانيًا

Yang lebih mendekati kebenaran dari dua pendapat tersebut adalah pendapat yang mengatakan, ‘makna jauh’ dalam hal ini adalah: (tetangga) asing yang jauh (tidak memiliki hubungan kekerabatan), baik orang Islam ataupun musyrik, baik orang Yahudi ataupun Nasrani.” (Imam al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî: Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, 2013, juz 4, h. 82)

Artinya, perintah berbuat baik yang Allah berikan tidak terbatas pada orang yang kita kenal saja, tapi juga pada orang yang paling asing sekalipun. Jika merujuk pada dua pandangan tafsir di atas, kita diperintahkan berbuat baik tanpa memandang agama, suku, dan warna kulit. Kita diperintahkan menjaga keharmonisan dalam hidup bertetangga, karena kehidupan bertetangga merupakan pondasi dari persatuan dan permulaan dari tenggang rasa.

Penjelasan sederhananya begini, jika kita tidak bisa berbuat baik pada orang yang kita kenal atau orang yang paling sering kita jumpai (tetangga kita), bagaimana mungkin kita bisa berbuat baik pada orang yang sama sekali asing dan tidak pernah kita jumpai. Oleh karena itu, berbuat baik kepada tetangga adalah latihan menjadi manusia. Sebagai makhluk yang terus berproses, manusia diharuskan berkembang ke arah yang lebih baik setiap harinya, dan kehidupan bertetangga merupakan permulaannya, hingga para sahabat menganggap Rasulullah akan menjadikan tetangganya sebagai ahli warisnya.

Jadi, apa yang dilakukan Sayyidina Abdullah bin ‘Amr (w. 63 H) merupakan amal keteladanan. Ia sedang mengamalkan salah satu dari sekian banyak aspek penting agamanya, yaitu menjaga keharmonisan antar umat manusia, mulai dari cara yang paling kecil (berbuat baik dengan tetangganya). Perbedaan agama, warna kulit dan suku bangsa tidak menghalangi kebaikannya. Bahkan ketika melakukannya, ia sempat dikritik oleh seseorang, tapi ia tetap melakukannya. Ia menjawab kritikan tersebut dengan ilmu pengetahuan. 

Artinya, sejak dulu sudah ada orang yang memandang salah perilaku orang lain tanpa pengetahuan, hanya berdasarkan asumsi sepihak. Padahal, bisa jadi yang dilakukan orang tersebut adalah amal baik yang diperintahkan agama, seperti yang dilakukan Sayyidina Abdullah bin ‘Amr, seorang sahabat nabi yang mulia. Bahkan di riwayat lain, ia mengulangi pertanyaannya sampai dua kali:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ، فَجَعَلَ يقول لغلامه: أهديت لجارنا اليهوي؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: )مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجار حتى ظننت أنه سيورثه( ـ

Dari Abdullah bin ‘Amr (bin Ash), sesungguhnya ia pernah disembelihkan kambing, maka ia bertanya pada pembantunya: “Kau sudah hadiahkan untuk tetangga kita yang Yahudi? Kau sudah hadiahkan untuk tetangga kita yang Yahudi? (Karena) aku mendengar Rasulullah bersabda: “Jibril senantiasa mewasiatiku (agar aku berbuat baik) kepada tetangga hingga aku mengira dia (tetangga) akan mendapatkan warisan.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, Kairo: Darul Basyar al-Islamiyyah, 1989, h. 50)

Karena itu, kita harus sudahi semua penghakiman buruk. Alangkah baiknya sebelum menilai, kita cari tahu terlebih dahulu ‘apakah perbuatan orang itu memiliki dasar atau tidak?’ Jangan sampai kesalahan prasangka kita, membawa orang lain turut berprasangka buruk kepadanya. Bukankah begitu seharusnya? Wallahu a’lam.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Share:
Jumat 26 April 2019 16:0 WIB
Gus Baha’ soal Logika Jual Beli versus Riba
Gus Baha’ soal Logika Jual Beli versus Riba
KH Bahaudin Nur Salim, dari Rembang, Jawa Tengah, mengaku pernah membeli buku-buku ekonomi Islam sampai tidak terhitung, saking banyaknya. Yang dibeli rata-rata dari kitab berbahasa Arab, tapi beberapa di antaranya buku ekonomi Islam berbahasa Indonesia. Tujuan utama pembelian hanya ingin mencari bukti bahwa jual beli dari kaca mata ekonomi itu lebih prospektif daripada riba. Kalau Allah melarang itu tidak sembarangan. Allah pasti bertanggung jawab atas larangannya dengan memberi solusi yang sangat bagus. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah: 275) 

Kalau ayat tersebut menjelaskan jual beli sebagai transaksi halal dan riba diharamkan, pasti bisa dibuktikan kebenarannya dengan argumentasi ilmiah, sehingga konstruksi firman Allah itu kokoh secara argumentatif. Terakhir kalinya, Gus Baha’—demikian ia biasa disapa— mendapat jawaban atas teka-teki kehalalan jual beli dan keharaman riba justru tidak bersumber dari kitab ekonomi Islam, melainkan dari kitab Hilyatul Auliya’ pada bab “Fadhâili Abdurrahman ibn Auf” (keutamaan Abdurrahman ibn Auf). 

“Ternyata, di antara fadhilah beliau (Abdurrahman bin Auf) menjadi orang kaya raya, karena tiap jual-beli itu cash (kontan). Nangis saya, sujud syukur, saya senang bukan main. Akhirnya, ketika mengaji saya jelaskan, orang sekarang baru sadar,” tandas Gus Baha’ dalam sebuah pengajian.

Abdurrahman bin Auf termasuk orang paling kaya di Madinah. Apabila dia membawa kafilah dagangnya ke China, Madinah bisa “goncang”, saking banyaknya unta Abdurahman bin Auf. Satu ketika Abdurrahman ditanya, “Kenapa anda bisa sekaya ini?” Jawab Abdurrahman, “Aku tidak pernah dagang kecuali dengan cara cash (kontan)”.

Pernah suatu kali, kata Gus Baha’, Abdurrahman bin Auf berdagang unta. Labanya, jika diuangkan rupiah Indonesia mungkin hanya untung Rp50 ribu dari harga dasar untanya Rp30 juta. Sebuah keuntungan yang tidak sebanding. Namun karena ia memegang prinsip cash, walaupun labanya hanya Rp50 ribu, saat ada sahabat lain bertanya, “Lho kok Anda tetap kaya?” Abdurrahman bin Auf menjawab, “Kamu tahu yang saya jual? 500 unta. Berarti Rp50 ribu kali 500 ekor berarti aku untung Rp25 juta. Kuncinya adalah berdagang dengan cash. Abdurrahman tidak mau ada risiko uang dibawa orang lain sehingga uangnya selalu aman.

Logika argumentasi bahwa jual beli itu halal dan riba haram adalah sebagai berikut:

(Misalnya) ada orang mempunyai uang Rp100 juta. Uang ini diutangkan kepada Musthafa untuk dikembalikan selama setahun kemudian dengan kewajiban membayar bunga setiap bulan Rp1 juta. Kalau dihitung total, uang bunga Rp1 juta dikalikan 12 bulan menjadi Rp 12 juta. Maka, uang Rp100 juta dalam setahun naik menjadi Rp112 juta. Hasil ini berlaku jika Musthafa tidak melarikan diri, pailit, meninggal dunia atau kemungkinan lain.

Sebagai perbandingan, sama-sama uang Rp100 juta dikembangkan dengan sistem jual beli yang secara nyata dihalalkan oleh Allah. Misalnya, dibelikan kambing dengan harga kulakan Rp2 juta. Kalau modal Rp2 juta dengan margin untung 10 persen, penjual akan meraup keuntungan Rp200 ribu pada setiap Rp2 juta nya. Berarti kalau uang Rp100 juta, potensi yang bisa diperoleh adalah Rp10 juta. Dari Rp10 juta tersebut diambil margin of error karena tertipu dan lain sebagainya karena dalam tahap latihan dipotong 50%, maka uang Rp100 juta laba bersihnya Rp5 juta setiap pekan di pasar kambing yang bisa jadi dalam sebulan sebanyak empat pekan.

Dengan demikian, Rp5 juta dikalikan 4 pekan, keuntungan sebulan sudah dipotong risiko 50%, potensi keuntungannya bisa Rp20 juta. Estimasi ini baru untuk satu bulan, belum setahun. Apabila kalkulasi keuntungan uang Rp100 juta dengan riba selama setahun untungnya 12 juta, maka dengan jual beli dalam sebulan bisa mendapatkan potensi keuntungan bersih Rp20 juta. Belum Rp20 juta tersebut dikalikan setahun, pasti akan berbeda jauh. Ini bukti nyata bahwa jual beli yang dihalalkan oleh Allah sangat berpotensi lebih banyak mendapatkan keuntungan daripada riba yang diharamkan Allah. 

Sangat tepat jika Al-Quran mengharamkan riba dengan jual beli sebagai solusinya. Secara matematis, jual beli sangat tampak potensi keuntungannya. Adapun jika bicara risiko, jual beli ada kemungkinan bangkrut, orang hutang juga ada potensi melarikan diri, tidak membayar hutang dan lain sebagainya. Artinya, jika menyinggung risiko, semua ada risikonya. Tapi jika bicara potensi, jual beli lebih prospektif dengan catatan semua penjualan-pembelian harus cash, safety system. Dengan demikian, Allah berani "menantang" konsep riba pasti akan kalah jika dibandingkan jual beli dengan ayat di atas. Artinya Allah bertanggung jawab. 

Argumentasi di atas namanya hujjatullah. Umat Islam harus membela agama Allah, tapi jangan hanya dengan mengancam bahwa riba mendatangkan dosa besar, tapi harus solutif. Orang Islam tidak boleh bodoh. Riba itu memang dosanya besar, tapi kebodohan dosanya lebih besar. Kalau umat Islam bodoh-bodoh, negara bisa tutup, Islam juga bisa tutup. Dalam kitab an-Nashaih ad-Diniyyah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad dijelaskan:

ومن شر انواع المعاصي الجهل

Artinya: “Di antara maksiyat yang paling buruk adalah bodoh.”

Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad pernah marah saat orang saleh ditanya tidak bisa menjawab. “Mengapa riba bisa diharamkan? Bukankah riba dan jual beli adalah mirip: sama-sama mencari keuntungan dengan mencari selisih? “Innama al-bai'u mitslur-riba” (QS al-Baqarah: 275).

Kebodohan umat Islam bisa menyebabkan keruntuhan peradaban Islam. Oleh karena itu, maksiat yang paling buruk adalah kebodohan. Orang bodoh sulit terbuka hatinya (futuh) karena masih selalu melaksanakan kemaksiatan berupa bodohnya itu sendiri. Padahal syarat futuh adalah taat. Orang bodoh maksiat terus, sulit mendapatkan futuh karena membawa maksiat terus. (Ahmad Mundzir) 

Kamis 25 April 2019 12:30 WIB
Kisah Sayyidah Aisyah dan Ibu yang Mengasihi Anaknya
Kisah Sayyidah Aisyah dan Ibu yang Mengasihi Anaknya
Ilustrasi (freepik)
Dalam kitab Adab al-Mufrad, Imam al-Bukhari memasukkan sebuah riwayat yang menceritakan seorang ibu dan dua anaknya. Berikut riwayatnya:

حدّثنا مسلم ين إبراهيم قال: حدّثنا ابن فُضالة قال: حدّثنا بكر ابن عبد الله المزنّي عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَأَعْطَتْهَا عَائِشَةُ ثَلَاثَ تَمَرَاتٍ، فَأَعْطَتْ كُلَّ صَبِيٍّ لَهَا تَمْرَةً، وَأَمْسَكَتْ لِنَفْسِهَا تَمْرَةً، فَأَكَلَ الصِّبْيَانُ التَّمْرَتَيْنِ وَنَظَرَا إِلَى أُمِّهِمَا، فَعَمَدَتْ إِلَى التَّمْرَةِ فَشَقَّتْهَا، فَأَعْطَتْ كُلَّ صَبِيٍّ نِصْفَ تَمْرَةٍ، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ فَقَالَ: (وَمَا يُعْجِبُكَ مِنْ ذَلِكَ؟ لَقَدْ رَحِمَهَا اللَّهُ بِرَحْمَتِهَا صبييها) ـ

Diceritakan oleh Muslim bin Ibrahim, diceritakan oleh Ibnu Fudlalah, diceritakan oleh Bakr bin Abdullah al-Muzanni, dari Anas bin Malik:

Datang seorang wanita kepada Aisyah radliyallahu ‘anha (meminta-minta), Aisyah memberinya tiga butir kurma (karena hanya itu yang dimilikinya). Wanita itu memberi masing-masing anaknya satu butir kurma, dan menyimpan sebutir lainnya untuk dirinya sendiri. Setelah kedua anaknya memakan kurma (pemberian Aisyah), keduanya menatap pada ibunya. Sang ibu mengambil kurma (jatahnya) kemudian membelahnya. Ia memberi masing-masing anaknya separuh kurma tersebut.

Tak berselang lama, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang. Aisyah menceritakan peristiwa (yang baru saja disaksikannya). Lalu Rasulullah bersabda: “Apa yang mengejutkanmu dari itu? Sungguh Allah telah merahmati ibu tersebut karena kasih sayangnya kepada anaknya.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, Kairo: Darul Basyar al-Islamiyyah, 1989, h. 45)

****

Kita pasti pernah mendengar pepatah yang mengatakan, “kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.” Ya, memang ada ketimpangan besar antara “kasih sayang” ibu dan anak, hingga melahirkan hukum “nilai” tak resmi yang disepakati bersama, yaitu pepatah di atas. Perbandingan sepanjang “masa” dan “galah” (tombak/tongkat) pun pantas. “Masa” mewakili ketidak-berujungan kasih sayang ibu, dan “galah” mewakili keterbatasan kasih sayang seorang anak. Terlepas dari kasus-kasus khusus seperti ibu yang membuang anaknya. Di sini, kita tidak akan bicara soal itu, kita hanya akan bicara soal kasih sayang ibu dan anaknya.

Di setiap hati manusia, Allah meletakkan cinta dan kasih sayang. Benihnya sama, ladangnya sama, yang membedakan adalah perawatannya. Dan itu bergantung pada banyak hal, pendidikan, lingkungan, dan kemauan diri. Kita sering membaca kisah orang yang terlahir di lingkungan jahat, tumbuh menjadi penjahat. Kemudian pada titik tertentu hidupnya, ia merindukan perubahan, seperti kisah penjahat yang membunuh sembilan puluh sembilan orang dalam hadits riwayat Imam Muslim.

Karena pentingnya “perawatan”, Tuhan memerintahkan manusia untuk saling mengasihi. Tuhan tahu, meski setiap manusia menyimpan benih cinta dan kasih sayang, tidak semuanya terekspresikan dengan baik; tidak semuanya berkembang dengan indah. Di sinilah peran orang tua sangat penting. Kasih sayang tidak melulu harus diwujudkan dengan memeluk, membelai, dan menggendong, tapi juga menyediakan pendidikan yang baik bagi anaknya. Orang-orang saleh terdahulu (salafus salih) mengatakan:

الصّلَاح مِن اللهِ والْأَدب من الْآباء

Kesalehan berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan adab (pendidikan/tata krama) berasal dari orang tua.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, h. 46-47)

Artinya, Allah sudah menanamkan segala kualitas baik kepada seluruh manusia. Namun, benih tidak akan tumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan buah tanpa “perawatan” dan “pengurusan” yang baik. Salah satunya dengan menunjukkan kasih sayang yang tulus dan tidak pernah berkata kasar kepada anak. Kasih sayang orang tua merupakan pupuk bagi pertumbuhannya. Semakin banyak kasih sayang yang menghunjam, semakin besar empati yang dihasilkan. Karena itu, Rasulullah memandang penting ekspresi kasih sayang. Beliau bersabda:

عن أبي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ، وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسٌ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا, فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: (مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ) ـ

Dari Abu Hurairah, ia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, di sampingnya ada al-Aqra’ bin Habis al-Tamimi sedang duduk. al-Aqra’ berkata: ‘Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak, (dan) aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.’ Rasulullah memandang al-Aqra’ lalu berkata: ‘Orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi’.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, h. 46)

Sebab, bagaimanapun juga, kasih sayang perlu dikenali, dan ciuman orang tua adalah simbol paling sederhana dari kasih sayang. Artinya, ciuman adalah langkah awal, bukan langkah tengah, apalagi langkah akhir. Dari ciuman, kasih sayang merambah ke dimensi lainnya, karena ada banyak ragam dalam menunjukkannya, Rasulullah berujar, “orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.” Ada hukum timbal-balik di sini, yaitu orang yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi. Begitu pun dalam proses mendidik anak, masih ada ruang luas untuk kasih sayang, dan ciuman adalah salah satu contohnya.  

Baiklah, kita kembali ke pembahasan awal. Untuk mempermudah, kita akan melakukan visualisasi secara imajinatif. Ketika mengandung, seorang ibu membagi jantungnya, menahan beban di perutnya, menjaga makannya dan berhati-hati dalam berperilaku. Ia membawa beban 2-3 kilogram berbulan-bulan lamanya. Bayangkan saja, ketika kita membawa tas seberat 2-3 kilogram seharian penuh, kita merasakan kelelahan yang sangat, dan mengeluh sejadi-jadinya. Bandingkan dengan beban yang dibawa seorang ibu ketika mengandung, berbulan-bulan lamanya ia bertahan, tidak hanya itu, tapi harus berhati-hati juga. Jika kita bayangkan dengan standar pandang kita, sungguh sangat menyusahkan. Di tambah lagi, terkadang para ibu, demi kesehatan bayinya, mereka terpaksa memakan makanan yang tidak mereka sukai, dan terpaksa tidak memakan makanan yang mereka sukai.

Jadi, pantas saja jika seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya, terutama ibunya. Dengan pernah mampir di kandungannya saja, sudah cukup menjadi alasan berbakti kepadanya. Belum lagi alasan-alasan lain yang jika ditulis akan menghabiskan berpuluh-puluh halaman. Karena itu, kita cukupkan saja sampai di sini. Sebelum mengakhirinya, kita perlu mengingat perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di baris terakhir kisah di atas, bahwa Allah telah merahmati ibu tersebut sebab kasih sayangnya kepada anak-anaknya. Ini merupakan kabar gembira bagi para ibu, karena tanpa disadari kalian mendapatkan rahmat Allah setiap kali menampakkan atau merasakan kasih sayang untuk anak kalian, meski hanya senyum kecil dari kejauhan. Menyenangkan, bukan?

Wallahu a’lam bi al-shawab


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Selasa 23 April 2019 17:0 WIB
Lima Faktor yang Bisa Menumbuhkan Sifat Zuhud
Lima Faktor yang Bisa Menumbuhkan Sifat Zuhud
Ilustrasi.
Selama ini banyak orang yang salah paham atau salah mengartikan sifat zuhud. Zuhud bukan berarti tidak boleh kaya. Zuhud juga bukan harus hidup miskin dan meninggalkan segala gemerlap kehidupan dunia. Karena bagaimanapun tidak ada larangan bagi umat Islam untuk meraih kekayaan setinggi-tingginya. Asal cara memperoleh dan penggunaannya sesuai dengan ajaran Islam. 

Sikap zuhud harus menjadi pondasi kuat manusia di tengah kehidupan duniawi yang penuh dengan rasa cinta dan ambisi terhadap materi. Menurut Wahib bin Ward, zuhud terhadap dunia adalah tidak merasa putus asa manakala ada dunia (harta benda) terlepas dari genggaman dan tidak merasa senang bila ada dunia datang. Sementara Ibnu ‘Ajibah memaknai zuhud sebagai terbebasnya hati dari ketergantungan selain kepada Allah. 

Sederhananya, zuhud adalah melenyapkan keterkaitan hati dengan harta. Sehingga zuhud bukan berarti tidak kaya. Juga tidak identik dengan miskin. Orang kaya belum tentu tidak zuhud. Orang miskin juga belum pasti memiliki sikap zuhud. Karena zuhud adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan lahiriyah.  Sehingga yang mengetahui apakah dia zuhud atau tidak adalah dirinya sendiri, dan tentu saja Allah swt. 

“Jangan kalian mengatakan bahwa seseorang mempunyai sifat zuhud. Karena keberadaan zuhud adalah di hati,” kata Abu Sulaiman ad-Darani.

Imam Ahmad membagi zuhud ke dalam tiga tingkatan. Pertama. Tingkatan zuhud orang awam. Pada tingkatan ini, seseorang dianggap zuhud manakal dia meninggalkan keharaman. Kedua, tingkatan zuhud orang-orang istimewa (khawash). Yaitu meninggalkan hal-hal –bahkan yang halal sekalipun- yang melebihi kebutuhannya. Jadi dia hanya mengambil sesuatu yang menjadi kebutuhannya saja. Ketiga, tingkatan zuhud orang yang sangat istimewa (al-‘arifin). Pada tingkatan ini, seseorang akan meninggalkan segala sesuatu yang mengganggunya untuk ingat kepada Allah.

Lalu bagaimana caranya agar sifat zuhud bisa tumbuh di hati seseorang? Mengutip buku Akhlak Rasul menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), setidaknya ada lima faktor yang bisa menumbuhkan sifat zuhud di dalam hati seseorang. Pertama, memikirkan kehidupan akhirat. Di dalam Islam, kehidupan di dunia adalah ladang akhirat. Jika dia beramal baik, maka dia akan mendapatkan pahala dan ganjaran. Juga sebaliknya. Bila dia berlaku buruk selama di dunia, maka ia akan mendapatkan siksa. Di akhirat kelak. Dengan senantiasa memikirkan kehidupan akhirat, maka dia akan selalu ingat bahwa amal yang dia kerjakan di dunia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sehingga dia tidak tertartik lagi dengan kenikmatan di kehidupan dunia yang sementara ini.

Kedua, menumbuhkan kesadaran bahwa kenikmatan di dunia bisa memalingkan hati dari ingat kepada Allah. Di samping itu, perlu juga ditumbuhkan dalam hati bahwa kenikmatan dunia membuat seseorang akan lama berdiri di hadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan semuanya kepada-Nya.

Ketiga, menumbuhkan kesadaran bahwa memburu dunia sangatlah melelahkan. Tidak jarang seseorang saling sikut, berbuat keji dan hina, untuk mendapatkan dunia. Hal itu tentu saja membuat derajat manusia semakin rendah di hadapan Allah, meskipun mungkin derajatnya tinggi di hadapan manusia. 

Keempat, menyadari bahwa dunia itu terlaknat. Sebagaimana keterangan dalam hadits nabi, dunia dan yang ada di dalamnya adalah terlaknat kecuali dzikir kepada Allah, belajar atau mengajar, dan pekerjaan yang ditujukan hanya kepada Allah. Jadi apapun itu, jika membuat seseorang menjadi jauh dari Allah maka terlaknat. 

Kelima, merasa bahwa dunia adalah hina dan godaannya bisa membahayakan kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS. Al-A’laa ayat 16-17; "Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal."

Sekali lagi zuhud bukan berarti anti-harta benda. Juga bukan harus hidup miskin atau identik dengan kemiskinan. Namun melepaskan keterkaitan hati dengan harta. Contohnya, banyak sahabat Nabi Muhammad saw. yang kaya namun tetap zuhud seperti Abduraahman bin Auf, Zubair binAwwam, Zaid bin Tsabit, dan lainnya. Mereka memiliki harta yang melimpah, namun hartanya tidak membutakan mata dan hati mereka sehingga melupakan akhirat. (A Muchlishon Rochmat)