IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Abdullah bin Rawahah, Sahabat Nabi yang Tegas Tolak Suap

Jumat 26 April 2019 18:0 WIB
Share:
Abdullah bin Rawahah, Sahabat Nabi yang Tegas Tolak Suap
Iustrasi suap (greekreporter.com).
”Allah melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap,” kata Nabi Muhammad dalam sebuah hadits riwayat Ahmad. 

Abdullah bin Rawahah adalah sahabat Nabi Muhammad saw. dari kalangan Anshar. Abdullah adalah seorang penyair yang cakap. Rangkaian kata-kata dalam syair-syair yang dibuatnya begitu indah dan kuat sehingga Nabi Muhammad saw. sangat menyukai dan menikmatinya. Nabi Muhammad saw. bahkan mendorongnya agar lebih tekun membuat syair. Semenjak masuk  Islam, dia membaktikan kemampuan bersyairnya untuk kejayaan Islam. 

Abdullah bin Rawahah berbaiat kepada Nabi Muhammad saw. pada saat Baiat Aqabah Pertama (Ula). Pada saat itu, Abdullah bersama 12 orang dari Madinah datang ke Makkah secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kafir Quraisy. Mereka kemudian menyatakan diri untuk menerima ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Mereka inilah yang nantinya menjadi pendakwah Islam pertama di Madinah dan membukakan jalan bagi hijrahnya Nabi Muhammad saw. 

Seiring dengan berjalannya waktu, Islam berkembang pesat di Madinah, terutama setelah Nabi Muhammad saw. hijrah ke sana. Abdullah bin Rawahah menjadi salah satu sahabat kepercayaan Nabi Muhammad saw. Dia ditugaskan untuk melakukan banyak hal. Salah satunya adalah untuk mengecek harta benda masyarakat Khaibar untuk keperluan penarikan jizyah.

Merujuk buku Akhlak Rasul menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), suatu ketika Nabi Muhammad saw. menugaskan Abdullah bin Rawahah datang ke wilayah Khaibar untuk menaksir jumlah kurma yang dimiliki masyarakat sana. Pengecekan itu dimaksudkan untuk keperluan penetapan jumlah jizyah (pajak bagi penduduk non-Muslim). Memang, Khaibar adalah wilayah dimana penduduk Yahudi tinggal. Sesuai kesepakatan, mereka harus membayar pajak (jizyah) karena tinggal di wilayah kekuasaan Islam. 

Sesuai dengan perintah Nabi Muhammad saw., Abdullah bin Rawahah memeriksa jumlah kurma yang masih menggantung di atas pohon di Khaibar. Namun tidak disangka-sangka, penduduk Khaibar –yang notabennya etnis Yahudi- mengumpulkan perhiasannya dan menemui Abdullah bin Rawahah. Penduduk Khaibar menyerahkan perhiasannya itu kepada Abdullah bin Rawahah dengan harapan utusan Nabi itu mengurangi taksirannya dan memberikan keringanan dalam hal jizyah.

Abdullah bin Rahawah dengan tegas langsung menolak suap yang ditawarkan penduduk Khaibar itu. Dia menegaskan, harta suap adalah harta haram. Oleh karena itu, dia tidak mau mengambilnya barang sedikitpun. 

“Harta sogokan (risyhwah) yang kalian tawarkan kepadaku adalah harta haram. Kami tidak akan memakannya,” tegas Abdullah bin Rawahah. Setelah penolakan itu, masyarakat Khaibar berpendapat kalau sikap tegas Abdillah bin Rawahah itulah yang menyebabkan bumi dan langit masih tegak. 

Begitulah teladan dari Abdullah bin Rawahah, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Dia menunjukkan sikap amanah meski dihadapkan pada godaan harta benda yang berlimpah. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Jumat 26 April 2019 6:0 WIB
Materi Ajaran Rasulullah saat Dakwah di Makkah
Materi Ajaran Rasulullah saat Dakwah di Makkah
Mula-mula Rasulullah mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi kepada sanak keluarganya. Sedikit demi sedikit jangkauan dakwahnya diperluas hingga ke kerabat dan tetangganya. Kemudian setelah turun perintah Allah maka Rasulullah mendakwahkan Islam kepada masyarakat Makkah secara luas dan terang-terangan.

Banyak penduduk Makkah yang menentang dan memusuhi dakwah Rasulullah pada masa-masa awal. Ada banyak alasan dan motif yang mendasari mengapa mereka tidak mau menerima Islam. Mulai dari masalah teologi, kedudukan sosial, pengaruh hingga masalah ekonomi. Mereka khawatir jika masuk Islam maka apa yang mereka miliki itu akan lenyap. 

Mereka juga menunjukkan permusuhan yang nyata pada masa-masa awal Islam. Berbagai macam cara mereka tempuh untuk menghentikan dakwah Islam yang dibawa Rasulullah. Mulai dari penyiksaan, ancaman pembunuhan, hingga tawaran harta benda. Semua upaya telah dilakukan kafir Makkah, namun tidak berhasil. Rasulullah tetap saja mendakwahkan Islam di Makkah hingga 13 tahun lamanya, meski nyawanya dan nyawa umatnya menjadi taruhannya.

Lantas, apa saja yang didakwahkan Rasulullah selama 13 tahun di Makkah? Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Rasulullah menekankan pada sisi kepercayaan selama berdakwah di Makkah. Ada dua sisi kepercayaan yang menjadi titik berat Rasulullah.

Pertama, kepercayaan tentang keesaan Allah. Pada saat itu, masyarakat Arab dijangkiti ‘penyakit syirik.’ Mereka tidak lagi menyembah Allah Yang Satu sebagaimana yang diajarkan nabi dan rasul terdahul, akan tetapi mereka menyembah banyak berhala. Jadi mereka menyembah apa yang mereka buat sendiri. Memang ada orang yang menyembah Allah Yang Satu (hanif), namun jumlahnya tidak banyak dan mereka ‘tidak memiliki kekuatan’. Oleh sebab itu, Rasulullah menyerukan kepada masyarakat Makkah untuk kembali ke ajaran tauhid. Menyembah hanya satu Tuhan, Allah.  

Salah satu strategi Rasulullah ketika menyerukan tauhid kepada masyarakat Makkah adalah dengan mengajak mereka untuk memperhatikan alam raya dan keteraturannya. Merujuk pada QS. Al-Anbiya’ ayat 22, Rasulullah menjelaskan kepada mereka bahwa kalau seandainya di dunia dan langit ada tuhan-tuhan selain Allah, maka keduanya tentu hancur berantakan. Sementara untuk mengajak mereka meninggalkan sesembahannya, Rasulullah mengingatkan bahwa berhala yang mereka sembah tidak memiliki kekuatan apapun. 

“Hai manusia, telah dibuatkan perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj: 73)

Kedua, kepercayaan hari akhirat. Selama di Makkah, materi lain yang ditekankan Rasulullah adalah soal hari kiamat, kebangkitan manusia setelah kematian, dan hisab (pertanggungjawaban amal selama hidup di dunia). Di dalam dakwahnya, Rasulullah menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan kebangkitan setelah kematian dan hari kiamat. Namun kafir Makkah tetap tidak mau percaya. Mereka malah menuntut Nabi Muhammad saw. agar menghidupkan kembali nenek-moyang mereka yang sudah meninggal. Mereka juga menuntut untuk diberi tahu tentang kedatangan hari kiamat. Mereka mengacuhkan bukti-bukti yang dipaparkan di dalam Al-Qur’an.

Diantara orang yang tidak percaya akan hari kebangkitan adalah Ubay bin Khalaf dan al-Ash bin Wail. Mereka berkeyakinan bahwa kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang tidak logis dan menganggap hal itu khayalan belaka. Bagi mereka, kehidupan hanya ada di dunia ini saja.

Di samping dua hal di atas, ajakan untuk berbudi pekerti luhur dan membantu yang lemah juga menjadi materi yang ditekankan Rasulullah selama berdakwah di Makkah. Itulah materi ajaran yang menjadi inti dari dakwah Rasulullah di Makkah. Penolakan dan penentangan tidak membuat Rasulullah mundur dan berhenti untuk mendakwahkan Islam bagi masyarakat Makkah. (Muchlishon)
Kamis 25 April 2019 21:0 WIB
Tujuh Metode Rasulullah dalam Mendidik Sahabatnya
Tujuh Metode Rasulullah dalam Mendidik Sahabatnya
“…Sesungguhnya aku diutus untuk memberikan pengajaran…,” kata Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat ad-Darimi.

Rasulullah adalah seorang pengajar dan pendidik. Beliau memberikan pengajaran dan pendidikan tentang makna dan maksud ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an, hikmah (as-Sunnah), dan berbagai hal yang belum diketahui sahabatnya. Di samping memberikan pengajaran tentang perilaku positif melalui teladan yang baik dan pengajaran tentang keesaan Allah. 

Dalam sebuah hadits riwayat ad-Darimi disebutkan, suatu ketika Rasulullah melewati dua majelis di dalam masjid. Majelis pertama berisikan para sahabat yang sedang berdoa kepada Allah. Sedangkan di majelis kedua, para sahabat tengah melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Kata Rasulullah, kedua majelis tersebut bagus, namun yang kedua lah yang lebih utama. Kemudian Rasulullah duduk di majelis yang sedang mengadakan aktivitas belajar-mengajar.

Sebagai seorang pendidik, Rasulullah dibekali Allah dengan tiga hal sehingga membantunya mencapai keberhasilan dalam melaksanakan tugasnnya. Pertama, empati, kasih sayang, dan ambisi akan keberhasilan dan kesuksesan umatnya. Rasulullah mendidik umatnya dengan landasan empati dan kasih sayang. Ambisi beliau hanya satu, yaitu bagaimana agar umatnya berhasil dan sukses di dunia dan di akhirat.

Kedua, berkata benar (shiddiq) dan dapat dipercaya (al-amin). Apa yang disampaikan Rasulullah adalah kebenaran. Beliau tidak pernah menyampaikan apa yang tidak diwahyukan kepadanya. Sifat inilah yang seharusnya dimiliki seorang pendidik. Menyampaikan atau mengajarkan apa yang diketahui, bukan sesuatu yang tidak diketahui. Ketiga, berjuang tanpa pamrih. Rasulullah tidak pernah memikirkan imbalan atas pengajaran yang diberikan kepada para sahabatnya. 

Lantas, bagaimana dan apa saja metode yang digunakan Rasulullah untuk mendidik para sahabatnya? Mengutip buku Ash-Shuffah (Yakhsyallah Mansur, 2015), setidaknya ada tujuh metode yang digunakan Rasulullah untuk mendidik para sahabatnya, khususnya Ahlus-Shuffah –sahabat Nabi yang tinggal di emperan Masjid Nabawi.

Pertama, metode lingkaran (halaqah). Metode ini memungkinkan para sahabat membentuk setengah lingkaran dan mengelilingi Rasulullah. Dengan metode ini, maka Rasulullah bisa mengawasi para sahabatnya dengan lebih cermat karena jarak keduanya yang lumayan dekat. Kedekatan jarak pendidik dan anak didik juga membuat hubungan emosi mereka lebih dekat. Metode model ini juga menampilkan bagaimana pendidikan Islam begitu egaliter. 

“Maka Rasulullah saw. duduk di tengah kami, agar jarak antara dirinya dengan kami seimbang. Kemudian beliau memberikan isyarat dengan tangannya agar mereka duduk melingkar sehingga wajah mereka tampak oleh beliau,” kata Abu Sa’id al-Khudri dalah hadits riwayat Abi Dawud.

Kedua, metode dialog dan diskusi (al-hiwar wa al-mujadalah). Sesuai riwayat Abu Nuaim al-Asfihani, suatu ketika Rasulullah mendatangi para sahabatnya yang tinggalnya di emperan Masjid Nabawi. Semula Rasulullah bertanya perihal kondisi mereka. Namun kemudian Rasulullah menyampaikan suatu hal, mereka kemudian menjawabnya. Dan begitu seterusnya. Rasulullah dan mereka saling menimpali.

Metode pendidikan seperti itu membuat guru dan anak didik menjadi aktif. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuannya saja, tapi juga merangsang dan mendorong agar anak didiknya bisa mengeluarkan pemikiran dan pendapatnya tanpa rasa takut karena mendapatkan kesempatan.

Ketiga, metode ceramah (al-khutbah). Mungkin ini metode yang lazim digunakan Rasulullah. Ketika mendapatkan wahyu, Rasulullah menyampaikannya dengan cara ceramah. Begitu pun ketika memberikan pengajaran dan pendidikan kepada para sahabatnya. Meski demikian, Rasulullah menggunakan beberapa ‘trik’ ketika menyampaikan materi dengan metode ceramah. Seperti memulai ceramah dengan kalimat yang menimbulkan empati, menyampaikan ceramah dengan singkat, padat, dan langsung ke intinya, serta memberikan contoh atau perumpamaan yang menarik dan logis sehingga materinya mudah diterima dan dipahami.

Keempat, metode kisah (al-qishshah). Dalam menyampaikan pendidikan dan pengajaran, Rasulullah juga tidak jarang menyelipkan kisah-kisah yang terkait dengan materinya. Rasulullah sengaja menyertakan kisah atau cerita dalam pengajarannya untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran dan mengungkapkan suatu masalah. 

Kelima, metode penugasan (at-tathbiq). Rasulullah juga kerap kali melakukan penugasan kepada para sahabatnya dalam proses belajar pembelajaran. Para sahabat yang dianggap sudah mahir dalam suatu hal dikirim untuk memberikan pengajaran kepada mereka yang belum tahu. 

Sesuai hadits riwayat Muslim, Anas bin Malik berkata bahwa suatu ketika beberapa orang mendatangi Rasulullah. Mereka meminta Rasulullah untuk mengirimkan orang-orang yang dapat mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah kepada mereka. Maka Rasulullah mengirimkan 70 orang dari kalangan Anshar untuk memberikan pengajaran kepada mereka. 

“Nabi mengirimkan mereka untuk memenuhi permintaan orang-orang di atas. Namun sebelum sampai di tempat tujuan mereka dihadap dan dibunuh,” kata Anas bin Malik.

Keenam, metode teladan dan panutan (al-uswah dan al-qudwah). Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa di dalam diri Rasulullah terdapat sifat-sifat suri teladan yang baik. Rasulullah pasti menerapkan apa yang disampaikanya dalam laku sehari-hari. Ketika Rasulullah memerintahkan kepada sahabatnya untuk melakukan suatu hal, maka sudah barang pasti beliau juga melakukannya. Begitu pun ketika beliau memerintahkan untuk menjauhi suatu hal. Maka dengan demikian, Rasulullah mengedepankan metode teladan dalam pengajaran dan pendidikannya. Karena bagaimanapun, metode teladan merupakan metode yang paling efektif dan baik dalam proses pembelajaran. Murid tidak hanya menerima pengetahuan, tapi juga mendapatkan teladan.

Ketujuh, metode perumpamaan (dharb al-amtsal). Biasanya metode perumpamaan digunakan untuk memudahkan menyampaikan materi. Dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan, Rasulullah berharap apa yang disampaikannya bisa diterima dengan baik oleh para pasahabatnya.

Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah menemui para sahabatnya di emperan masjid. Beliau bertanya, siapa diantara sahabatnya itu yang suka pergi ke lembah Batha’ dan al-Aqiq dan membawa pulang dua unta dengan punggung besar. Para sahabat menjawa, mereka suka melakukan itu. 

“Mengapa salah seorang dari kalian tidak pergi ke masjid lalu belajar dan membaca dua ayat Kitabullah yang itu lebih baik dari dari pada dua ekor unta,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Nu’aim.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah mengumpamakan kegiatan belajar dengan unta yang gemuk. Melalui perumpamaan itu, Rasulullah mendorong agar para sahabatnya terus semangat dalam menuntut ilmu. (Muchlishon)
Rabu 24 April 2019 15:0 WIB
Mimpi Raja Yaman tentang Nabi Muhammad Dua Abad Sebelum Kelahirannya
Mimpi Raja Yaman tentang Nabi Muhammad Dua Abad Sebelum Kelahirannya
Kisah ini tentang tanda-tanda kenabian (dala’il al-nubuwwah) Nabi Muhammad jauh sebelum beliau dilahirkan. Tanda-tanda kenabian tidak hanya muncul ketika seorang nabi telah terpilih. Salah satunya adalah mimpi seorang Raja Yaman, Rabi’ah bin Nashr. Dalam al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam diriwayatkan:

قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ: وَكَانَ رَبِيعَةُ بْنُ نَصْرٍ مَلِكُ الْيَمَنِ بَيْنَ أَضْعَافِ مُلُوكِ التَّبَابِعَةِ فَرَأَى رُؤْيَا هَالَتْهُ وَفَظِعَ بِهَا فَلَمْ يَدَعْ كَاهِنًا، وَلَا سَاحِرًا، وَلَا عَائِفًا وَلَا مُنَجِّمًا مِنْ أَهْلِ مَمْلَكَتِهِ إلَّا جَمَعَهُ إلَيْهِ، فَقَالَ لَهُمْ: إنِّي قَدْ رَأَيْتُ رُؤْيَا هَالَتْنِي، وَفَظِعْتُ بِهَا، فَأَخْبِرُونِي بِهَا وَبِتَأْوِيلِهَا، قَالُوا لَهُ: اُقْصُصْهَا عَلَيْنَا نُخْبِرْكَ بِتَأْوِيلِهَا، قَالَ: إنِّي إنْ أَخْبَرْتُكُمْ بِهَا لَمْ أَطْمَئِنَّ إلَى خَبَرِكُمْ عَنْ تَأْوِيلِهَا، فَإِنَّهُ لَا يَعْرِفُ تَأْوِيلَهَا إلَّا مَنْ عَرَفَهَا قَبْلَ أَنْ أَخْبُرَهُ بِهَا. فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنْهُمْ: فَإِنْ كَانَ الْمَلِكُ يُرِيدُ هَذَا فَلْيَبْعَثْ إلَى سَطِيحٍ وَشِقٍّ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَعْلَمَ مِنْهُمَا، فَهُمَا يُخْبِرَانِهِ بِمَا سَأَلَ عَنْهُ

Imam Ibnu Ishaq berkata: Rabi’ah bin Nasr, seorang Raja Yaman di antara sekian banyak raja-raja al-Tababi’ah bermimpi melihat hal yang menakutkan, kemudian dia memanggil semua dukun, tukang sihir, tukang ramal, ahli nujum dari kerajaannya, setelah berkumpul dia berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya aku bermimpi melihat hal yang menakutkanku, aku pun merasa ngeri dibuatnya. Oleh karena itu, jelaskan takwil mimpi itu kepadaku.’ Mereka menjawab: ‘Ceritakanlah kepada kami mimpi Baginda, maka kami akan menjelaskan takwil di balik mimpi Baginda.’ Rabi’ah bin Nashr berkata: ‘Sesungguhnya jika kuceritakan terlebih dahulu mimpiku kepada kalian, aku tidak akan merasa puas dengan penjelaskan kalian, karena sesungguhnya arti mimpiku tidak akan dimengerti selain oleh orang yang mengetahuinya terlebih dahulu sebelum aku menceritakannya.’ Kemudian berkata salah seorang di antara mereka: ‘Jika itu yang dikehendaki Baginda, seharusnya Baginda mengutus seseorang untuk memanggil Sathih dan Syiq, karena tidak ada seorang pun yang lebih berpengetahuan mengenai hal ini dibandingkan mereka berdua, keduanya akan menjelaskan apa yang baginda tanyakan’.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, ed. Umar Abdul Salam Tadmuri, Dar al-Kutub al-‘Arab, 1990, juz 1, h. 31-32)

Setelah mengalami mimpi itu, ia mengutus seseorang untuk mengundang Syathih dan Syiqq. Syathih datang lebih dulu dan langsung menghadap Raja Rabi’ah bin Nashr. Sang raja berkata kepada Syathih:

إنِّي رَأَيْتُ رُؤْيَا هَالَتْنِي وَفَظِعْتُ بِهَا، فَأَخْبِرْنِي بِهَا، فَإِنَّكَ إنْ أَصَبْتَهَا أَصَبْتَ تَأْوِيلَهَا

Sesungguhnya aku mengalami mimpi yang mengerikan, jelaskanlah arti mimpi itu kepadaku. Jika kau berhasil mengetahui mimpi menakutkan itu, kau pasti mampu memberikan takwilnya.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 31-32)

Dengan tenang Syathih memprediksi mimpi menakutkan yang dialami Raja Rabi’ah bin Nashr. Ia mengatakan: 

أَفْعَلُ، رَأَيْتُ حُمَمَةَ خَرَجَتْ مِنْ ظُلْمَةِ فَوَقَعَتْ بِأَرْضِ تَهَمَةِ فَأَكَلَتْ مِنْهَا كُلَّ ذَاتِ جُمْجُمَةِ 

Akan kulakukan, aku melihat sebuah gumpalan hitam (arang) yang keluar dari tempat gelap yang kemudian jatuh ke tanah yang datar dan melahap semua makhluk hidup.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 32)

Dalam riwayat lain, kalimat “kulla dzâti jumjumah” dibaca “kullu dzâti jumjumah”, menjadi fa’il dengan memembaca rafa’kullu”, maka artinya berubah “semua makhluk hidup memakannya.” Menurut sebagian ulama, membaca nashab dipandang lebih tepat dalam sudut pandang riwayat dan maknanya. Argumentasi yang mereka ajukan adalah, “li-anna al-humamah nâr, fahiya ta’kul lâ tu’kal (karena humamah adalah api, maka [sifat]nya adalah melahap, bukan dilahap).” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf, Kairo: Darul Hadits, 2008, juz 1, h. 62)

Raja Rabi’ah bin Nashr membenarkan tebakan Syathih, lalu ia bertanya: “fa mâ ‘indâka fî ta’wîlihâ (apa takwil mimpi itu menurutmu)?” Syathih menjawab:

أَحْلِفُ بِمَا بَيْنَ الْحَرَّتَيْنِ مِنْ حَنَشٍ، لَتَهْبِطَنَّ أَرْضَكُمْ الْحَبَشُ، فَلَتَمْلِكَنَّ مَا بَيْنَ أَبْيَنَ إلَى جُرَشَ

Aku bersumpah demi siang dan malam, bahwa orang-orang Habsyi pasti menginjak negeri kalian, mereka pasti menguasai daerah antara Abyan sampai Juras.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 33)

Rabi’ah bin Nashr terkejut sembari berkata: “inna hadza lanâ laghâ’idh mûji’, fa matâ huwa kâ’inun? afî zamânî hadza am ba’dahu? (sungguh hal ini sangat menyakitkan kita semua, kapan itu akan terjadi? Pada masaku atau setelahku?)” Syathih menjawab: “lâ, bal ba’dahu bi hîn, akstara min sittîna aw sab’îna (tidak di masa Baginda, tapi setelahnya, enam puluh atau tujuh puluh tahun yang akan datang).” Rabi’ah kembali bertanya: “Apakah daerah tersebut berada dalam kekuasaan mereka selama-lamanya?” Syathih menjawab: “Tidak. Daerah tersebut berada dalam kekuasaan mereka sekitar tujuh puluh tahun lebih, setelah itu mereka dibunuh dan lari dengan terbirit-birit.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 33)

“Siapa yang membunuh dan mengusir mereka?” tanya Rabi’ah bin Nashr. Syathih menjawab:

يَلِيهِ إرَمُ ذِي يَزَنَ، يَخْرُجُ عَلَيْهِمْ مِنْ عَدَنَ، فَلَا يَتْرُكُ أَحَدًا مِنْهُمْ بِالْيَمَنِ

“Orang itu adalah Iram Dzi Yazan, dia mendatangi mereka dari Adn dan tidak meninggalkan seorang pun dari mereka di Yaman.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 33)

Rabi’ah bin Nashr melanjutkan pertanyaannya: “afayadumu dzalika min sulthanihi am yanqati’u? (apakah daerah-daerah tersebut berada dalam kekuasaannya atau tidak?)” Syathih menjawab: “Tidak.” Rabi’ah bin Nashr kembali terkejut sambil bertanya: “man yaqtha’uhu?” (siapa orang yang mengakhirinya?). Syathih berkata:

نَبِيٌّ زَكِيٌّ، يَأْتِيهِ الْوَحْيُ مِنْ قِبَلِ الْعَلِيِّ، قَالَ: وَمِمَّنْ هَذَا النَّبِيُّ؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنْ وَلَدِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ، يَكُونُ الْمُلْكُ فِي قَوْمِهِ إلَى آخِرِ الدَّهْرِ. قَالَ: وَهَلْ لِلدَّهْرِ مِنْ آخِرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، يَوْمٌ يُجْمَعُ فِيهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ يَسْعَدُ فِيهِ الْمُحْسِنُونَ وَيَشْقَى فِيهِ الْمُسِيئُونَ قَالَ: أَحَقٌّ مَا تُخْبِرُنِي؟ قَالَ: نَعَمْ، وَالشَّفَقِ وَالْغَسَقِ، وَالْفَلَقِ إذَا اتَّسَقَ إنَّ مَا أَنْبَأْتُكَ بِهِ لَحَقٌّ.

Seorang nabi yang suci, yang memperoleh wahyu dari Dzat Yang Maha Tinggi. Rabi’ah bin Nashr bertanya: ‘Dari mana nabi itu berasal?’ Syathih menjawab: ‘Ia merupakan salah seorang keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadlr, kekuasaan berada dalam genggaman kaumnya sampai dunia berakhir.’ Rabi’ah berkata: ‘Apakah dunia memiliki akhir?’ Syathih menjawab: ‘Iya, sebuah hari di mana manusia generasi pertama sampai generasi terakhir dikumpulkan di dalamnya. Pada hari itu, orang-orang yang selalu berbuat baik akan bahagia dan orang-orang yang jahat akan celaka.’ Rabi’ah bertanya lagi: ‘Apakah benar apa yang kau jelaskan kepadaku?’ Syathih menjawab: ‘Ya, demi sinar merah ketika matahari tenggelam, demi malam yang gelap gulita, demi subuh jika fajar telah menyingsing. Sesungguhnya apa yang kuceritakan kepadamu merupakan kebenaran sejati’.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 33)
Setelah Syathih mohon diri pulang, Rabi’ah bin Nashr meminta Syiqq untuk menghadap. Ia menanyakan hal yang sama kepada Syiqq dengan tujuan untuk mengetahui apakah jawaban keduanya sama atau tidak (li yandhura ayattafiqani am yakhtalifâni). Jawaban Syiqq pun hampir sama dengan Syathih. Perbedaannya hanya dalam pemilihan kata dan penyebutan daerah, seperti nama Najran yang berbeda dengan Juras dalam perkataan Syathih. Untuk contoh pemilihan kata yang berbeda adalah ketika Rabi’ah bin Nashr bertanya: “afayadumu sulthanuhu aw yanqathi’u? (apakah kekuasaannya akan bertahan selamanya atau tidak?)” Syiqq menjawab:

بَلْ يَنْقَطِعُ بِرَسُولِ مُرْسَلٍ يَأْتِي بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ، بَيْنَ أَهْلِ الدِّينِ وَالْفَضْلِ، يَكُونُ الْمُلْكُ فِي قَوْمِهِ إلَى يَوْمِ الْفَصْلِ

Kekuasaannya akan dihentikan oleh seorang Rasul yang diutus dengan membawa kebenaran dan keadilan, di antara orang-orang beragama dan orang-orang mulia, kekuasaan akan berada di genggaman kaumnya sampai hari pengadilan (yaum al-fashl).” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 34)

Dari segi tata bahasa, Syiqq memiliki kemampuan berbahasa yang jauh lebih indah dari Syathih, seperti penjelasannya yang sangat indah ketika menjawab pertanyaan Rabi’ah bin Nashr: “ma yaum al-fashl? (apa hari pengadilan itu?).” Dengan indah Syiqq mengatakan:

يَوْمٌ تُجْزَى فِيهِ الْوُلَاةُ، وَيُدْعَى فِيهِ مِنْ السَّمَاءِ بِدَعَوَاتِ، يَسْمَعُ مِنْهَا الْأَحْيَاءُ وَالْأَمْوَاتُ، وَيُجْمَعُ فِيهِ بَيْنَ النَّاسِ لِلْمِيقَاتِ، يَكُونُ فِيهِ لِمَنْ اتَّقَى الْفَوْزُ وَالْخَيْرَاتُ

Hari Pengadilan adalah hari di mana para penguasa mendapatkan balasan perbuatannya, hari di mana seruan dikumandangkan dari langit, hari di mana seruan terdengar oleh seluruh makhluk hidup dan yang telah mati, hari di mana manusia dikumpulkan untuk waktu yang telah ditetapkan, hari di mana keberuntungan dan kebaikan menjadi milik orang-orang yang bertakwa.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 34)

Setelah mendengar takwil Syathih dan Syiqq, Rabi’ah bin Nashr terus memikirkannya, takut jika semuanya benar-benar terjadi. Syathih dan Syiqq adalah kâhin (peramal/dukun) yang sangat terkenal kesaktiannya. Kata-kata mereka tidak bisa dipandang remeh. Imam Wahb bin Munabbih meriwayatkan bahwa Syathih pernah ditanya:

أنَّي لك هذا العلم؟ فقال: لي صاحبٌ من الْجِنّ استمع أخبار السّماء من طور سيْنَاءَ حين كلّم الله تعالي منه موسي فهو يُؤَدّي إليَّ من ذلك ما يُؤَدّيه

Dari mana kau (mendapatkan) pengetahuan ini?” Syathih menjawab: “Aku memiliki teman dari (golongan) jin yang ikut mendengarkan kabar-kabar langit di gunung Tursina di saat Allah berbicara kepada Musa. Dia (jin) menyampaikan kabar-kabar langit itu kepadaku (seperti) yang disampaikan Allah kepada Musa.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf, juz 1, h. 60-61)

Dengan pertimbangan masak, Raja Rabi’ah bin Nashr memutuskan untuk memindahkan keluarganya ke Irak agar terhindar dari kehancuran yang akan didatangkan oleh orang-orang Habsyi. Imam Ibnu Hisyam menulis:

فَوَقع في نفس رَبيْعةَ بْنِ نَصرٍ ما قَالَا فَجَهَّز بَنِيْه وَأهلَ بَيْتهِ إلي الْعِراق بِما يُصلِحهم وكتب لهم إلي ملِكٍ مِن مُلُوكِ فَارِسَ يُقال له: سَابُور بن خُرّزَاذ فَأسكنهم الحيرةَ

Ucapan Syathih dan Syiqq mempengaruhi diri Rabi’ah bin Nashr, maka ia siapkan anak-anak dan keluarganya (pindah) ke Irak demi kebaikan mereka. Ia menulis surat untuk mereka (berikan) kepada raja dari kerajaan Persia, bernama Sabur bin Hurrazad, kemudian keluarganya menetap di Hirah (sekarang Kufah).” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 35)

Wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan