IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Mimpi Rasulullah sebelum Perang Uhud Berkecamuk

Sabtu 27 April 2019 6:0 WIB
Share:
Mimpi Rasulullah sebelum Perang Uhud Berkecamuk
Kafir Quraisy Makkah tidak terima dengan kekalahan yang dideritanya dalam perang Badar melawan pasukan umat Islam. Sesaat setelah kejadian itu, Abu Sufyan, salah satu pemuka kafir Quraisy Makkah, memprovokasi dan mendesak orang-orang Quraisy untuk melancarkan balas dendam terhadap umat Islam. 

Dalam waktu yang singkat –sekitar setahun, sebagaimana keterangan dalam buku Sirah Nabawiyah (Shafiyyu al-Rahman al-Mubarakfuri, 2012), Abu Sufyan berhasil mengumpulkan pasukan dan amunisi tempur yang banyak dan melimpah; sekitar 1000 unta, 1500 dinar, 3000 pasukan kafir Quraisy terlatih serta 200 pasukan kavaleri.

Pada bulan Syawal tahun ke-3 H atau 625 M, pasukan kafir Quraisy berangkat ke arah Madinah. Mereka berjalan kaki dari Makkah hingga sampai di Lembah Sabkhah, wilayah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Madinah. Semula umat Islam tidak tahu kalau pasukan kafir Quraisy akan membalas dendam dan jaraknya sudah begitu dekat. 

Paman Rasulullah yang masih ada di Makkah, Abbas bin Abdul Muthalib, mengirimkan surat tentang rencana balas dendam kafir Quraisy tersebut. Rasulullah meminta Ubay bin Ka’ab untuk membacakannya. Rasulullah kemudian mengirimkan beberapa orang untuk mengecek keberadaan pasukan kafir Quraisy. Ternyata apa yang disampaikan Abbas benar, pasukan kafir Quraisy hendak melancarkan balas dendam dan saat ini sedang membuat kemah di pinggiran Madinah.

Rasulullah segera mengumpulkan para sahabatnya. Mereka berdiskusi tentang bagaimana seharusnya menghadapi pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya besar dan amunisi perangnya cukup lengkap. Sebagian sahabat berpendapat, sebaiknya umat Islam tidak menyerang sampai mereka tiba di Madinah. Sebagian yang lain berpandangan, mereka harus dihadapi di luar kota Madinah.

“Rasulullah, kami tidak ingin bertempur di jalan-jalan Madinah. Pada zaman jahiliyah kami selalu menjaga agar hal itu tidak terjadi. Jadi, ada baiknya setelah kedatangan Islam, hal itu tetap dilestarikan,” kata seorang sahabat Nabi. Setelah terjadi diskusi yang panjang, akhirnya diputuskan bahwa pasukan umat Islam akan keluar kota Madinah dan menghadapi mereka di pegunungan Uhud. 

Singkat cerita, dengan strategi yang diterapkan Rasulullah, awalnya pasukan umat Islam berhasil memenangkan peperangan di Uhud itu. Meski jumlah mereka hanya sekitar 700 orang, sementara pasukan kafir Quraisy mencapai 3000 orang. Kejadian berbalik ketika pasukan pemanah yang ada di atas bukit dan bertugas melindungi pasukan umat Islam di medan perang meninggalkan posnya. Setelah melihat pasukan musuh yang dianggap sudah kalah, mereka turun ke bawah untuk mengambil harta rampasan perang (ghanimah).

Akan tetapi prediksi mereka meleset, pasukan musuh ternyata belum benar-benar kalah. Keunggulan jumlah pasukan dimanfaatkan betul oleh pasukan musuh, hingga akhirnya mereka lah yang menjadi pemenangnya di akhir peperangan. Umat Islam menderita kekalahan dan banyak dari mereka yang gugur dalam peperangan di Uhud itu. Diantaranya adalah Abdullah bin Jahsy, Hanzhalah, dan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah. 

Namun tahukah kamu, sebelum perang Uhud berkecamuk, Rasulullah ternyata bermimpi. Mimpi seorang Nabi bukanlah mimpi biasa. Ada informas atau isyarat dari Allah yang terkandung di dalamnya. Begitupun dengan mimpin Rasulullah sebelum perang Uhud ini. Dikisahkan bahwa sebelum perang Uhud, Rasulullah bermimpi melihat ada seekor sapi yang disembelih dan di ujung pedang beliau sedikit retak. Dalam mimpinya itu, Rasulullah juga menghunus pedang namun pegangan pedangnya lepas. Kemudian Rasulullah menghunus pedangnya lagi, kali ini pegangan pedangnya kembali utuh. 

Lalu apa arti atau makna dari mimpi Rasulullah itu? Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), dalam sebuah riwayat, Rasulullah memberikan tafsiran atas mimpinya itu. Sapi yang disembelih mengisyaratkan bahwa ada sahabat beliau yang gugur. Sementara ujung pedang beliau yang retak dimaknai bahwa ada salah seorang keluarganya yang akan wafat. Benar saja, pada saat perang Uhud, paman Rasulullah, Hamzah, gugur setelah ditombak Wahsyi. Beberapa pasukan umat  Islam -yang notabennya sahabat Rasulullah- juga wafat dalam peperangan itu. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Jumat 26 April 2019 18:0 WIB
Abdullah bin Rawahah, Sahabat Nabi yang Tegas Tolak Suap
Abdullah bin Rawahah, Sahabat Nabi yang Tegas Tolak Suap
Iustrasi suap (greekreporter.com).
”Allah melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap,” kata Nabi Muhammad dalam sebuah hadits riwayat Ahmad. 

Abdullah bin Rawahah adalah sahabat Nabi Muhammad saw. dari kalangan Anshar. Abdullah adalah seorang penyair yang cakap. Rangkaian kata-kata dalam syair-syair yang dibuatnya begitu indah dan kuat sehingga Nabi Muhammad saw. sangat menyukai dan menikmatinya. Nabi Muhammad saw. bahkan mendorongnya agar lebih tekun membuat syair. Semenjak masuk  Islam, dia membaktikan kemampuan bersyairnya untuk kejayaan Islam. 

Abdullah bin Rawahah berbaiat kepada Nabi Muhammad saw. pada saat Baiat Aqabah Pertama (Ula). Pada saat itu, Abdullah bersama 12 orang dari Madinah datang ke Makkah secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kafir Quraisy. Mereka kemudian menyatakan diri untuk menerima ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Mereka inilah yang nantinya menjadi pendakwah Islam pertama di Madinah dan membukakan jalan bagi hijrahnya Nabi Muhammad saw. 

Seiring dengan berjalannya waktu, Islam berkembang pesat di Madinah, terutama setelah Nabi Muhammad saw. hijrah ke sana. Abdullah bin Rawahah menjadi salah satu sahabat kepercayaan Nabi Muhammad saw. Dia ditugaskan untuk melakukan banyak hal. Salah satunya adalah untuk mengecek harta benda masyarakat Khaibar untuk keperluan penarikan jizyah.

Merujuk buku Akhlak Rasul menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), suatu ketika Nabi Muhammad saw. menugaskan Abdullah bin Rawahah datang ke wilayah Khaibar untuk menaksir jumlah kurma yang dimiliki masyarakat sana. Pengecekan itu dimaksudkan untuk keperluan penetapan jumlah jizyah (pajak bagi penduduk non-Muslim). Memang, Khaibar adalah wilayah dimana penduduk Yahudi tinggal. Sesuai kesepakatan, mereka harus membayar pajak (jizyah) karena tinggal di wilayah kekuasaan Islam. 

Sesuai dengan perintah Nabi Muhammad saw., Abdullah bin Rawahah memeriksa jumlah kurma yang masih menggantung di atas pohon di Khaibar. Namun tidak disangka-sangka, penduduk Khaibar –yang notabennya etnis Yahudi- mengumpulkan perhiasannya dan menemui Abdullah bin Rawahah. Penduduk Khaibar menyerahkan perhiasannya itu kepada Abdullah bin Rawahah dengan harapan utusan Nabi itu mengurangi taksirannya dan memberikan keringanan dalam hal jizyah.

Abdullah bin Rahawah dengan tegas langsung menolak suap yang ditawarkan penduduk Khaibar itu. Dia menegaskan, harta suap adalah harta haram. Oleh karena itu, dia tidak mau mengambilnya barang sedikitpun. 

“Harta sogokan (risyhwah) yang kalian tawarkan kepadaku adalah harta haram. Kami tidak akan memakannya,” tegas Abdullah bin Rawahah. Setelah penolakan itu, masyarakat Khaibar berpendapat kalau sikap tegas Abdillah bin Rawahah itulah yang menyebabkan bumi dan langit masih tegak. 

Begitulah teladan dari Abdullah bin Rawahah, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Dia menunjukkan sikap amanah meski dihadapkan pada godaan harta benda yang berlimpah. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 26 April 2019 6:0 WIB
Materi Ajaran Rasulullah saat Dakwah di Makkah
Materi Ajaran Rasulullah saat Dakwah di Makkah
Mula-mula Rasulullah mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi kepada sanak keluarganya. Sedikit demi sedikit jangkauan dakwahnya diperluas hingga ke kerabat dan tetangganya. Kemudian setelah turun perintah Allah maka Rasulullah mendakwahkan Islam kepada masyarakat Makkah secara luas dan terang-terangan.

Banyak penduduk Makkah yang menentang dan memusuhi dakwah Rasulullah pada masa-masa awal. Ada banyak alasan dan motif yang mendasari mengapa mereka tidak mau menerima Islam. Mulai dari masalah teologi, kedudukan sosial, pengaruh hingga masalah ekonomi. Mereka khawatir jika masuk Islam maka apa yang mereka miliki itu akan lenyap. 

Mereka juga menunjukkan permusuhan yang nyata pada masa-masa awal Islam. Berbagai macam cara mereka tempuh untuk menghentikan dakwah Islam yang dibawa Rasulullah. Mulai dari penyiksaan, ancaman pembunuhan, hingga tawaran harta benda. Semua upaya telah dilakukan kafir Makkah, namun tidak berhasil. Rasulullah tetap saja mendakwahkan Islam di Makkah hingga 13 tahun lamanya, meski nyawanya dan nyawa umatnya menjadi taruhannya.

Lantas, apa saja yang didakwahkan Rasulullah selama 13 tahun di Makkah? Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Rasulullah menekankan pada sisi kepercayaan selama berdakwah di Makkah. Ada dua sisi kepercayaan yang menjadi titik berat Rasulullah.

Pertama, kepercayaan tentang keesaan Allah. Pada saat itu, masyarakat Arab dijangkiti ‘penyakit syirik.’ Mereka tidak lagi menyembah Allah Yang Satu sebagaimana yang diajarkan nabi dan rasul terdahul, akan tetapi mereka menyembah banyak berhala. Jadi mereka menyembah apa yang mereka buat sendiri. Memang ada orang yang menyembah Allah Yang Satu (hanif), namun jumlahnya tidak banyak dan mereka ‘tidak memiliki kekuatan’. Oleh sebab itu, Rasulullah menyerukan kepada masyarakat Makkah untuk kembali ke ajaran tauhid. Menyembah hanya satu Tuhan, Allah.  

Salah satu strategi Rasulullah ketika menyerukan tauhid kepada masyarakat Makkah adalah dengan mengajak mereka untuk memperhatikan alam raya dan keteraturannya. Merujuk pada QS. Al-Anbiya’ ayat 22, Rasulullah menjelaskan kepada mereka bahwa kalau seandainya di dunia dan langit ada tuhan-tuhan selain Allah, maka keduanya tentu hancur berantakan. Sementara untuk mengajak mereka meninggalkan sesembahannya, Rasulullah mengingatkan bahwa berhala yang mereka sembah tidak memiliki kekuatan apapun. 

“Hai manusia, telah dibuatkan perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj: 73)

Kedua, kepercayaan hari akhirat. Selama di Makkah, materi lain yang ditekankan Rasulullah adalah soal hari kiamat, kebangkitan manusia setelah kematian, dan hisab (pertanggungjawaban amal selama hidup di dunia). Di dalam dakwahnya, Rasulullah menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan kebangkitan setelah kematian dan hari kiamat. Namun kafir Makkah tetap tidak mau percaya. Mereka malah menuntut Nabi Muhammad saw. agar menghidupkan kembali nenek-moyang mereka yang sudah meninggal. Mereka juga menuntut untuk diberi tahu tentang kedatangan hari kiamat. Mereka mengacuhkan bukti-bukti yang dipaparkan di dalam Al-Qur’an.

Diantara orang yang tidak percaya akan hari kebangkitan adalah Ubay bin Khalaf dan al-Ash bin Wail. Mereka berkeyakinan bahwa kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang tidak logis dan menganggap hal itu khayalan belaka. Bagi mereka, kehidupan hanya ada di dunia ini saja.

Di samping dua hal di atas, ajakan untuk berbudi pekerti luhur dan membantu yang lemah juga menjadi materi yang ditekankan Rasulullah selama berdakwah di Makkah. Itulah materi ajaran yang menjadi inti dari dakwah Rasulullah di Makkah. Penolakan dan penentangan tidak membuat Rasulullah mundur dan berhenti untuk mendakwahkan Islam bagi masyarakat Makkah. (Muchlishon)
Kamis 25 April 2019 21:0 WIB
Tujuh Metode Rasulullah dalam Mendidik Sahabatnya
Tujuh Metode Rasulullah dalam Mendidik Sahabatnya
“…Sesungguhnya aku diutus untuk memberikan pengajaran…,” kata Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat ad-Darimi.

Rasulullah adalah seorang pengajar dan pendidik. Beliau memberikan pengajaran dan pendidikan tentang makna dan maksud ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an, hikmah (as-Sunnah), dan berbagai hal yang belum diketahui sahabatnya. Di samping memberikan pengajaran tentang perilaku positif melalui teladan yang baik dan pengajaran tentang keesaan Allah. 

Dalam sebuah hadits riwayat ad-Darimi disebutkan, suatu ketika Rasulullah melewati dua majelis di dalam masjid. Majelis pertama berisikan para sahabat yang sedang berdoa kepada Allah. Sedangkan di majelis kedua, para sahabat tengah melaksanakan aktivitas belajar mengajar. Kata Rasulullah, kedua majelis tersebut bagus, namun yang kedua lah yang lebih utama. Kemudian Rasulullah duduk di majelis yang sedang mengadakan aktivitas belajar-mengajar.

Sebagai seorang pendidik, Rasulullah dibekali Allah dengan tiga hal sehingga membantunya mencapai keberhasilan dalam melaksanakan tugasnnya. Pertama, empati, kasih sayang, dan ambisi akan keberhasilan dan kesuksesan umatnya. Rasulullah mendidik umatnya dengan landasan empati dan kasih sayang. Ambisi beliau hanya satu, yaitu bagaimana agar umatnya berhasil dan sukses di dunia dan di akhirat.

Kedua, berkata benar (shiddiq) dan dapat dipercaya (al-amin). Apa yang disampaikan Rasulullah adalah kebenaran. Beliau tidak pernah menyampaikan apa yang tidak diwahyukan kepadanya. Sifat inilah yang seharusnya dimiliki seorang pendidik. Menyampaikan atau mengajarkan apa yang diketahui, bukan sesuatu yang tidak diketahui. Ketiga, berjuang tanpa pamrih. Rasulullah tidak pernah memikirkan imbalan atas pengajaran yang diberikan kepada para sahabatnya. 

Lantas, bagaimana dan apa saja metode yang digunakan Rasulullah untuk mendidik para sahabatnya? Mengutip buku Ash-Shuffah (Yakhsyallah Mansur, 2015), setidaknya ada tujuh metode yang digunakan Rasulullah untuk mendidik para sahabatnya, khususnya Ahlus-Shuffah –sahabat Nabi yang tinggal di emperan Masjid Nabawi.

Pertama, metode lingkaran (halaqah). Metode ini memungkinkan para sahabat membentuk setengah lingkaran dan mengelilingi Rasulullah. Dengan metode ini, maka Rasulullah bisa mengawasi para sahabatnya dengan lebih cermat karena jarak keduanya yang lumayan dekat. Kedekatan jarak pendidik dan anak didik juga membuat hubungan emosi mereka lebih dekat. Metode model ini juga menampilkan bagaimana pendidikan Islam begitu egaliter. 

“Maka Rasulullah saw. duduk di tengah kami, agar jarak antara dirinya dengan kami seimbang. Kemudian beliau memberikan isyarat dengan tangannya agar mereka duduk melingkar sehingga wajah mereka tampak oleh beliau,” kata Abu Sa’id al-Khudri dalah hadits riwayat Abi Dawud.

Kedua, metode dialog dan diskusi (al-hiwar wa al-mujadalah). Sesuai riwayat Abu Nuaim al-Asfihani, suatu ketika Rasulullah mendatangi para sahabatnya yang tinggalnya di emperan Masjid Nabawi. Semula Rasulullah bertanya perihal kondisi mereka. Namun kemudian Rasulullah menyampaikan suatu hal, mereka kemudian menjawabnya. Dan begitu seterusnya. Rasulullah dan mereka saling menimpali.

Metode pendidikan seperti itu membuat guru dan anak didik menjadi aktif. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuannya saja, tapi juga merangsang dan mendorong agar anak didiknya bisa mengeluarkan pemikiran dan pendapatnya tanpa rasa takut karena mendapatkan kesempatan.

Ketiga, metode ceramah (al-khutbah). Mungkin ini metode yang lazim digunakan Rasulullah. Ketika mendapatkan wahyu, Rasulullah menyampaikannya dengan cara ceramah. Begitu pun ketika memberikan pengajaran dan pendidikan kepada para sahabatnya. Meski demikian, Rasulullah menggunakan beberapa ‘trik’ ketika menyampaikan materi dengan metode ceramah. Seperti memulai ceramah dengan kalimat yang menimbulkan empati, menyampaikan ceramah dengan singkat, padat, dan langsung ke intinya, serta memberikan contoh atau perumpamaan yang menarik dan logis sehingga materinya mudah diterima dan dipahami.

Keempat, metode kisah (al-qishshah). Dalam menyampaikan pendidikan dan pengajaran, Rasulullah juga tidak jarang menyelipkan kisah-kisah yang terkait dengan materinya. Rasulullah sengaja menyertakan kisah atau cerita dalam pengajarannya untuk membantu menjelaskan suatu pemikiran dan mengungkapkan suatu masalah. 

Kelima, metode penugasan (at-tathbiq). Rasulullah juga kerap kali melakukan penugasan kepada para sahabatnya dalam proses belajar pembelajaran. Para sahabat yang dianggap sudah mahir dalam suatu hal dikirim untuk memberikan pengajaran kepada mereka yang belum tahu. 

Sesuai hadits riwayat Muslim, Anas bin Malik berkata bahwa suatu ketika beberapa orang mendatangi Rasulullah. Mereka meminta Rasulullah untuk mengirimkan orang-orang yang dapat mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah kepada mereka. Maka Rasulullah mengirimkan 70 orang dari kalangan Anshar untuk memberikan pengajaran kepada mereka. 

“Nabi mengirimkan mereka untuk memenuhi permintaan orang-orang di atas. Namun sebelum sampai di tempat tujuan mereka dihadap dan dibunuh,” kata Anas bin Malik.

Keenam, metode teladan dan panutan (al-uswah dan al-qudwah). Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa di dalam diri Rasulullah terdapat sifat-sifat suri teladan yang baik. Rasulullah pasti menerapkan apa yang disampaikanya dalam laku sehari-hari. Ketika Rasulullah memerintahkan kepada sahabatnya untuk melakukan suatu hal, maka sudah barang pasti beliau juga melakukannya. Begitu pun ketika beliau memerintahkan untuk menjauhi suatu hal. Maka dengan demikian, Rasulullah mengedepankan metode teladan dalam pengajaran dan pendidikannya. Karena bagaimanapun, metode teladan merupakan metode yang paling efektif dan baik dalam proses pembelajaran. Murid tidak hanya menerima pengetahuan, tapi juga mendapatkan teladan.

Ketujuh, metode perumpamaan (dharb al-amtsal). Biasanya metode perumpamaan digunakan untuk memudahkan menyampaikan materi. Dengan memberikan perumpamaan-perumpamaan, Rasulullah berharap apa yang disampaikannya bisa diterima dengan baik oleh para pasahabatnya.

Dikisahkan, suatu ketika Rasulullah menemui para sahabatnya di emperan masjid. Beliau bertanya, siapa diantara sahabatnya itu yang suka pergi ke lembah Batha’ dan al-Aqiq dan membawa pulang dua unta dengan punggung besar. Para sahabat menjawa, mereka suka melakukan itu. 

“Mengapa salah seorang dari kalian tidak pergi ke masjid lalu belajar dan membaca dua ayat Kitabullah yang itu lebih baik dari dari pada dua ekor unta,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Nu’aim.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah mengumpamakan kegiatan belajar dengan unta yang gemuk. Melalui perumpamaan itu, Rasulullah mendorong agar para sahabatnya terus semangat dalam menuntut ilmu. (Muchlishon)