IMG-LOGO
Shalat

Batasan Bolehnya Menggaruk-garuk saat Shalat

Sabtu 27 April 2019 19:30 WIB
Share:
Batasan Bolehnya Menggaruk-garuk saat Shalat
Ilustrasi (via wtop.com)
Salah satu hal yang membatalkan shalat adalah bergeraknya bagian tubuh seseorang (di luar gerakan shalat) dalam jumlah yang banyak. Para ulama mazhab Syafi’i menjelaskan, gerakan dianggap banyak ketika berlangsung tiga kali secara beriringan serta tanpa jeda yang cukup lama. 

Berbeda halnya ketika tiga gerakan tersebut dilaksanakan secara terpisah atau dengan jeda cukup lama—sekiranya gerakan pertama dianggap sudah terputus dari gerakan kedua, maka gerakan yang pertama sudah tidak dihitung lagi. Terputusnya suatu gerakan dalam shalat, menurut Imam Al-Baghawi adalah ketika terdapat jeda sekitar satu rakaat shalat. Ketentuan ini seperti halnya yang dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam kitabnya, Raudhah at-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin:

وحد التفريق أن يعد الثاني منقطعا عن الأول وقال في التهذيب عندي أن يكون بينهما قدر ركعة 

“Batasan suatu gerakan dianggap terpisah adalah saat gerakan kedua dianggap terputus dari gerakan pertama. Imam al-Baghawi berkata dalam kitab at-Tahdzib, ‘Menurutku (dua gerakan dianggap terputus itu) sekiranya di antara kedua gerakan berjarak sekitar satu rakaat.” (Syekh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Raudhah at-Thalibien wa ‘Umdah al-Muftin, juz 1, hal. 108)

Perincian tentang penghitungan jumlah gerakan dalam shalat, misalnya seperti yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

وإمرار اليد وردها على التوالي بالحك مرة واحدة، وكذا رفعها عن صدره ووضعها على موضع الحك مرة واحدة
أي إن اتصل أحدهما بالآخر، وإلا فكل مرة، على ما استظهره شيخنا. 251

“Menggerakkan tangan dan mengembalikannya secara beriringan dihitung satu hitungan, begitu juga mengangkat tangan dari dada dan meletakkan tangan di tempat menggaruk dihitung satu hitungan jika dilaksanakan secara langsung (ittishal), jika tidak langsung maka setiap jeda dihitung satu kali hitungan. Ketentuan ini berdasarkan penjelasan yang dijelaskan oleh guruku (Imam Ibnu Hajar).” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 251)

Namun demikian, ketentuan di atas tidak berlaku bagi gerakan-gerakan kecil, seperti gerakan jari-jari, bibir dan lidah. Sehingga, menggaruk dengan jari-jari pada bagian tubuh yang gatal walaupun dilakukan berulang-ulang dan lebih dari hitungan tiga kali tetap dianggap sebagai hal yang diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat, selama telapak tangan tidak ikut bergerak. Hanya saja menggerakkan jari-jari dengan jumlah yang banyak ini dihukumi makruh. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in

ـ )لا( تبطل )بحركات خفيفة( وإن كثرت وتوالت، بل تكره، )كتحريك( أصبع أو )أصابع( في حك أو سبحة مع قرار كفه، )أو جفن( أو شفة أو ذكر أو لسان، لانها تابعة لمحالها المستقرة كالاصابع

“(Shalat) tidak batal dengan gerakan yang ringan, meskipun dalam jumlah yang banyak dan dilakukan beriringan, hanya saja dihukumi makruh. Seperti menggerakkan satu jari atau beberapa jari untuk menggaruk (kulit) atau bertasbih besertaan tetapnya (tidak bergeraknya) telapak tangan. Atau bergeraknya pelupuk mata, bibir, zakar, dan lisan, karena bagian tubuh tersebut mengikuti terhadap tempat menetapnya, seperti jari-jari (mengikuti tangan).” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 250)

Bagaimana jika rasa gatal sulit untuk ditahan dan membutuhkan garukan lewat gerakan telapak tangan lebih dari tiga kali? Ukuran "sulit ditahan" di sini menurut adat alias umumnya masyarakat. Dalam keadaan demikian gerakan telapak tangan dalam jumlah yang banyak dianggap sebagai hal yang dimaafkan (ma’fû) dan tidak membatalkan shalat. Kondisi tersebut masuk masuk kategori darurat. Berbeda halnya ketika rasa gatal masih bisa ditahan, maka dalam keadaan tersebut cukup dengan gerakan jari-jari saja, tanpa perlu menggerakkan telapak tangan dalam jumlah yang banyak.

Hal yang sama juga berlaku ketika gerakan muncul secara refleks, tanpa disengaja, seperti gerakan-gerakan yang terjadi ketika sedang kedinginan atau ketika kaget. Gerakan-gerakan ini pun dimaafkan dan tidak membatalkan shalat. Tentang hal ini Syekh Zainuddin al-Maliabari menjelaskan:

وخرج بالأصابع الكف، فتحريكها ثلاثا ولاء مبطل، إلا أن يكون به جرب لا يصبر معه عادة على عدم الحك فلا تبطل للضرورة.
قال شيخنا: ويؤخذ منه أن من ابتلي بحركة اضطرارية ينشأ عنها عمل كثير سومح فيه.

“Dikecualikan dengan perkataan ‘jari-jari’ yakni telapak tangan, maka menggerakkan telapak tangan tiga kali secara beriringan dapat membatalkan shalat, kecuali ketika seseorang merasa gatal-gatal yang tidak sabar secara adat untuk tidak menggaruknya, maka dalam keadaan demikian (menggerak-gerakkan telapak tangan) tidak membatalkan shalat karena dianggap darurat. Guruku (Ibnu Hajar al-Haitami) berkata: ‘Berdasarkan hal tersebut maka orang yang diberi cobaan berupa gerakan refleks (idtirari) yang memunculkan perbuatan yang banyak maka dianggap sebagai hal yang dimaafkan.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 251)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menggerakkan jari-jari untuk menggaruk bagian tubuh yang gatal dapat dilakukan dalam jumlah gerakan yang banyak selama telapak tangan seseorang tidak ikut bergerak, hanya saja hal tersebut dihukumi makruh. Sedangkan menggerakkan telapak tangan lebih dari tiga dianggap sebagai hal yang dimaafkan dalam shalat, ketika dilaksanakan untuk menggaruk bagian tubuh yang sudah tidak bisa ditahan lagi secara adat. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 
Tags:
Share:
Kamis 18 April 2019 9:0 WIB
Sahkah Shalat Makmum yang Mendahului atau Menyamai Imam?
Sahkah Shalat Makmum yang Mendahului atau Menyamai Imam?
Di antara sejumlah persyaratan bermakmum adalah mengikuti imam dan tidak mendahuluinya. Pertanyaannya, bagaimana jika ada makmum yang menyalahi ketentuan itu? Bagaimana pula keabsahan shalat dan keutamaan berjamaahnya?

Secara umum, mendahului dan menyamai imam dapat dirinci ke dalam tiga hal: (1) dalam posisi; (2) dalam takbiratul ihram; (3) selain dalam posisi dan takbiratul ihram.

Pertama, mendahului dan menyamai imam dalam posisi. Syekh Sa‘id bin Muhammad dalam Syarhul Muqaddimah Al-Hadramiyyah, (Terbitan Darul Minhaj, Jeddah, Cetakan Pertama, 2004, jilid I, halaman 338) menyatakan, jika seorang makmum yakin bahwa posisinya mendahului imam maka shalatnya tidak sah, kecuali dalam kondisi darurat seperti ketakutan atau terancam.

Lebih lanjut, Syekh Sai‘id ibn Muhammad mengatakan, adapun yang menjadi acuan dalam menentukan posisi makmum adalah tumit yang jadi tumpuan beban tubuhnya. Posisi ini biasanya dilakukan tatkala makmum masih seorang diri, sehingga disunahkan berdiri di sebelah kanan imam.

Dalam posisi ini, tumit makmum tidak boleh lebih depan dari tumit imam. Sebab posisi itu menyebabkan shalatnya tidak sah. Sedangkan yang menjadi acuan bagi makmum yang shalat sambil duduk adalah kedua pantatnya; lambung bagi makmum yang shalatnya sambil tidur miring; dan kepala bagi makmum yang shalatnya telentang.

Berikut adalah petikan pernyataan Syekh Sa‘id ibn Muhammad yang dikemukakan dalam Syarhul Muqaddimah Al-Hadramiyyah:

فإن تقدم يقيناً عليه في غير شد خوف .. لم تصح؛ لخبر: "إنما جعل من الإمام ليؤتم به" و (الائتمام): الاتباع، أما لو شك فيه .. فلا يضر سواء جاء من خلفه، أم من أمامه. والعبرة في التقدم في القائم (بعقبه) أي التي اعتمد عليها من رجليه أو إحداهما، وهو مؤخر القدم مما يلي الأرض (أو بأليتيه إن صلى قاعداً) ولو راكباً (أو بجنبه إن صلى مضطجعاً) أو برأسه إن صلى مستلقياً

Artinya, “Jika makmum yakin mendahului imam, di luar situasi ketakuatan, maka tidak shalatnya, berdasarkan hadits, ‘Imam itu dibentuk hanya untuk dimakmumi (diikuti).’ Sehingga makmum yang ragu apakah posisinya mendahului atau tidak, adalah tidak mengapa, baik dirinya datang dari belakang imam atau dari depannya. Adapun yang menjadi acuan mendahului imam bagi makmum yang shalat berdiri adalah tumit. Maksudnya, tumit kedua kaki atau salah satu kaki yang dijadikan tumpuan. Tumit sendiri yakni bagian belakang telapak kaki yang menyentuh tanah. Atau, yang menjadi acuan adalah kedua pantat bagi makmum yang shalat sambil duduk, meskipun duduknya di atas sesuatu (seperti kursi, pen.); lambung bagi makmum yang shalat sambil tidur miring; kepala bagi makmum yang shalat sambil tidur telentang.”

Pertanyaan berikutnya, bagaimana jika posisi makmum menyamai posisi imam? Jawabannya, walau tidak sampai membatalkan shalat, tetapi hal itu makruh dialakukan. Sedangkan perkara makruh yang dilakukan makmum saat berjamaah akan menghilangkan keutamaan berjamaah, kendati status makruhnya hanya pada bagian yang disamainya saja. Demikian menurut penulis Syarhul Muqaddimah Al-Hadramiyyah:

فإن ساواه كره كراهة مفوتة لفضيلة الجماعة فيما ساواه فيه فقط وكذا يقال في كل مكروه من حيث الجماعة

Artinya, “Jika posisi makmum dan imam sama, maka hukumnya makruh, sedangkan makruh dapat menghilangkan keutamaan berjamaah, meskipun status makruhnya hanya pada bagian yang mereka samai saja. Bahkan ada yang mengatakan, setiap perkara makruh yang dilakukan dalam berjamaah bisa menghilangkan keutamaan berjamaah.”

Untuk itu, agar shalatnya sah dan tidak makruh, maka makmum sendirian hendaknya berdiri di sebelah kanan imam lalu mundur sedikit, atau boleh juga mundur agak jauh selama tidak lebih dari tiga siku.

Kedua, mendahului imam dalam takbiratul ihram. Dalam Hâsyiyatul Bâjûrî, (Terbitan Maktabah Al-‘Ulumiyyah, Semarang, Tanpa Tahun, jilid I, halaman 197), Syekh Ibnu Qasim menyatakan, siapa pun yang mendahului takbiratul imam, maka shalatnya tidak sah. Demikian halnya membarengi imam.

Ini artinya, jika menyamai imam dalam hal posisi hanya sekadar makruh dan menghilangkan keutamaan berjamaah, namun menyamai imam dalam takbiratul ihram tidak ditolelir dan dapat membatalkan shalat.

Demikian pula jika seorang makmum ragu-ragu, apakah takbiratul ihramnya menyamai imam atau setelah imam, kemudian diyakini bahwa takbirnya setelah imam, namun ternyata setelah berselang lama dugaannya salah dan takbirnya mendahului imam, maka itu pun shalatnya batal. Karenanya, wajar jika Rasulullah saw. mewanti-wanti dalam urusan ini, “Janganlah kalian tergesa-gesa mengikuti imam. Setelah imam bertakbir, barulah kalian bertakbir.”

Alasannya, makmum yang takbiratul ihram sebelum imam, sejatinya bermakmum kepada orang yang belum masuk shalat. Sedangkan, masuknya shalat ditandai dengan sempurnanya takbiratul ihram. Adapun fatwa Imam Al-Baghawi yang menyatakan bahwa seorang yang takbiratul ihram dan belakangan ternyata diketahui imamnya belum takbir, maka shalatnya sah secara munfarid, adalah fatwa yang lemah.

Ketiga, mendahului dan menyamai imam selain dalam posisi dan takbiratul ihram. Maksudnya adalah mendahului atau menyamai imam dalam gerakan dan bacaan. Kembali dikemukakan oleh Syekh Ibnu Qasim, mendahului gerakan imam dua rukun berturut-turut, walaupun keadaan rukunnya adalah rukun pendek, seperti rukuk dan i‘tidal, tanpa ada alasan yang dibenarkan, maka menyebabkan shalatnya menjadi batal. Kecuali bila mendahuluinya tanpa disengaja, seperti tidak tahu gerakan imam atau karena lupa, maka itu ditolelir dan tidak menyebabkan batal.

Sama halnya  dengan mendahului adalah meninggalkan diri dua rukun berturut-turut dari imam tanpa ada alasan yang dibenarkan, maka itu pun juga menyebabkan batal. Berbeda halnya dengan mengakhirkan diri disertai alasan, seperti bacaannya kendor, sedangkan bacaan Fatihahnya belum selesai dan dia juga bukan makmum masbûq (ketinggalan), maka mengakhirkan diri yang demikian, selama tidak ketinggalan tiga rukun yang panjang, tidak sampai membatalkan shalat.  

Hanya saja, walau menyamai gerakan imam tidak sampai membatalkan shalat, tetapi makruh hukumnya. Sedangkan perkara makruh yang dilakukan makmum saat berjamaah dapat menghilangkan keutaman berjamaahnya, kendati kehilangannya hanya pada rukun yang disamainya, tidak pada seluruh shalat.

Demikian juga menyamai imam dalam bacaan, seperti bacaan Surah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama shalat jahr dan salam, sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Ibnu Qasim dalam Hâsyiyatul Bâjûrî, (Terbitan Maktabah al-‘Ulumiyyah, Semarang, Tanpa Tahun, jilid I, halaman 199) berikut ini.

ولا تضر مساواته لإمامه أى في صحة الإقتداء وإن كانت مكروهة مفوتة لفضيلة الجماعة فيما ساوى فيه كما لو قارنه في شيء من أقوال الصلاة وأفعالها التى يطلب فيها عدم المقارنة كالفاتحة والأولتين والسلام وجميع أفعال الصلاة في ابتدائها كأن يبتدئ الركوع معه ويبتدئ السجود معه وهكذا بخلاف دوامها ومعلوم أن التحرم لا بد أن يتأخر فيه عن إمامه احتياطا له

Artinya, “Tidak masalah makum menyamai imamnya. Dalam arti, tidak merusak keabsahan shalatnya. Hanya saja hal itu makruh dan menyebabkan hilangnya fadilah berjamaah, meskipun status makruhnya pada bagian yang disamainya saja. Demikian juga makruh andai makmum menyamai imam pada bacaan atau gerakan shalat yang dituntut untuk tidak membarengi imam dalam mengawalinya seperti pada bacaan Fatihah pada dua rakaat pertama, salam, dan semua gerakan shalat. Misalnya, dia mengawali rukuk atau mengawali sujud bareng dengan imam.  Dan seterusnya. Bahkan, tidak dikatakan makruh lagi jika makmum selamanya membarengi imamnya. Apalagi, sudah dimaklumi bahwa dalam takbiratul ihram, makmum wajib mengakhirkan diri dari takbiratul ihram imam, sebagai bentuk kehati-hatian bagi dirinya.” 

Berdasar petikan di atas, selayaknya seorang makmum, selain dalam takbiratul ihram, tidak mengawali gerakannya sebelum imam mengawalinya. Sebab, sebagaimana yang telah disampaikan, mengawali takbiratul ihram sebelum imam, atau juga membarenginya, dapat membatalkan shalat. Selain itu, imam sendiri ditetapkan untuk diikuti oleh makmum, sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW, “Imam sendiri dibuat untuk diikuti (makmum). Karena itu, janganlah kalian menyalahinya,” (HR Malik).

Tak hanya itu, setiap makmum hendaknya takut akan peringatan Rasulullah SAW dalam hadits lainnya, “Apakah salah seorang di antara kalian yang mengangkat kepalanya saat imam masih sujud, tidak takut kepalanya diganti dengan kepala seekor himar?” (HR Ahmad).

Demikian uraian singkat tentang konsekuensi mendahului dan menyamai imam dalam shalat berjamaah. Semoga bermanfaat. Insya Allah, sejumlah persyaratan lain dalam berjamaah yang belum teruraikan di sini akan diuraikan pada kesempatan berikutnya. Wallahu a’lam.


Ustadz M Tatam Wijaya, Pengasuh Majelis Taklim Syubbanul Muttaqin, Desa Jayagiri, Kecamatan Sukanagara, Cianjur Selatan, Jawa Barat.
Senin 15 April 2019 21:5 WIB
Ke Mana Arah Kiblat Shalat di Dalam Ka’bah?
Ke Mana Arah Kiblat Shalat di Dalam Ka’bah?
(Foto: @pixabay)
Setiap shalat kita diharuskan menghadap ke arah kiblat, yaitu bangunan Ka’bah dari penjuru mana pun kita berada. Ulama menetapkan bahwa menghadap ke arah kiblat menjadi bagian dari syarat sah shalat. Lalu bagaimana dengan arah shalat yang dilakukan di dalam Ka’bah?

Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan bahwa secara syariat kita dalam melaksanakan shalat diharuskan menghadap ke arah kiblat. Sedangkan tata cara pelaksanaan shalat di dalam Ka’bah telah ditulis oleh para ulama.

عرفنا أنه لا بد شرعاً من استقبال جزء من الكعبة… وقد أقر الفقهاء مشروعية الصلاة في جوف الكعبة

Artinya, “Kita mengetahui bersama bahwa [orang yang shalat di dalam Ka’bah] secara syar’i harus menghadap salah satu bagian Ka’bah… Ahli fiqih telah menetapkan pelaksanaan shalat di dalam Ka’bah,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 602).

Mazhab Syafi’i berpendapat perihal arah kiblat bagi orang yang shalat di dalam Ka’bah. Menurut mazhab ini, orang yang shalat di dalam Ka’bah dapat menghadap pintu atau dinding Ka’bah sebagai arah kiblat baginya.

مَنْ صَلَّى فِي الْكَعْبَةِ، وَاسْتَقْبَلَ جِدَارَهَا أَوْ بَابَهَا مَرْدُودًا أَوْ مَفْتُوحًا مَعَ ارْتِفَاعِ عَتَبَتِهِ ثُلُثَيْ ذِرَاعٍ أَوْ عَلَى سَطْحِهَا مُسْتَقْبِلاً مِنْ بِنَائِهَا مَا سَبَقَ جَازَ

Artinya, “Siapa yang shalat di dalam ka’bah dan menghadap dindingnya atau pintunya yang tertutup maupun terbuka disertai ketinggian ambang pintunya tiga hasta, atau di atas atapnya sambil menghadap salah satu bangunannya yang telah lalu, maka boleh,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajut Thalibin pada Hamisy Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 224).

Bagi Mazhab Syafi’i, arah mana pun yang dihadapi oleh orang di dalam Ka’bah adalah bagian dari Ka’bah sehingga orang yang shalat di dalam Ka’bah tidak perlu khawatir akan keabsahan shalatnya.

لأنه متوجه إلى جزء من الكعبة أو إلى ما هو كالجزء منها

Artinya, “Karena pada hakikatnya ia menghadap ke salah satu bagian dari Ka’bah atau ke salah satu benda yang seakan menjadi bagian dari Ka’bah,” (Lihat Syekh As-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 224).

Ulama berbeda pendapat perihal shalat mana yang sah di dalam Kabah. Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat yang sah dilakukan di dalam Kabah adalah shalat sunnah, bukan shalat fardhu.

Sebagian ulama lain mengatakan bahwa shalat berjamaah fardhu maupun sunnah tetap sah di dalam Kabah. Masalah rincian ini dapat dipelajari lebih lanjut di kitab-kitab fiqih. Yang pasti, shalat di dalam Ka’bah sah dilakukan menghadap ke arah bagian mana pun dari bangunan Ka’bah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Rabu 10 April 2019 16:0 WIB
Ketentuan Fiqih soal Shalat Fardhu di Kursi
Ketentuan Fiqih soal Shalat Fardhu di Kursi
Ilustrasi (mrkenjikwok.com)
Salah satu kewajiban dalam melaksanakan shalat fardhu adalah melaksanakannya dengan cara berdiri. Kewajiban berdiri pada shalat fardhu ini berlaku bagi setiap orang yang mampu berdiri secara normal tanpa disertai rasa sakit. Sedangkan bagi orang yang tak mampu berdiri atau mampu berdiri tapi disertai rasa sakit yang berat, boleh untuk shalat fardhu dengan cara duduk. Ketentuan ini merupakan salah satu implementasi dari sebuah hadits:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ، وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Jika aku melarang kalian suatu hal maka jauhilah, dan jika aku memerintahkan kalian suatu perkara maka lakukanlah semampu kalian.” (HR Bukhari)

Lalu bolehkah menggunakan perantara kursi pada saat shalat dengan duduk ketika seseorang  tidak mampu berdiri?

Para ulama berpandangan bahwa duduk bagi orang yang tidak mampu berdiri adalah hal yang diperbolehkan dengan ketentuan ketika ia memang benar-benar tidak mampu berdiri atau tidak mampu untuk duduk secara manual di lantai dan tetap melakukan rukun-rukun yang lain seperti sujud dan ruku’ secara sempurna selama rukun-rukun tersebut masih dapat dilakukan tanpa adanya rasa sakit. 

Hal demikian seperti yang dijelaskan oleh Syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam salah satu kumpulan fatwa-fatwanya:

مسألة الصلاة على الكرسي يعود حكمه إلى ما يقوله الطبيب الموثوق به للمريض، فإن منعه من الصلاة قاعداً، أي منعه من ثني ركبتيه على الأرض، فليس أمامه إلا الصلاة على الكرسي عندما يهوي للسجود، وصلاته عندئذ صحيحة على كل المذاهب، وإن منعه من الصلاة قائماً لسبب ما ولم يمنعه من الحالات الأخرى، أي لم يمنعه من السجود على الأرض بوضع جبهته عليها، وجب عليه ذلك ولم تصح صلاته على الكرسي، إلا إن هوى عند السجود على الأرض كغيره وخصوصية الكرسي لا معنى لها ولا حاجة إليها عندئذ

“Permasalahan. Shalat di atas kursi hukumnya kembali pada keterangan dokter yang terpercaya bagi orang yang sakit. Jika dokter melarangnya untuk duduk dengan menekuk dua lututnya di tanah maka ia harus menyiapkan kursi di depannya ketika hendak turun untuk sujud. Shalat demikian dihukumi sah menurut seluruh mazhab. Jika dokter melarangnya untuk berdiri karena suatu sebab, tapi ia tidak melarang untuk melakukan sujud dengan meletakkan dahinya di tanah, maka wajib baginya untuk sujud dan tidak sah shalat yang ia lakukan di kursi kecuali jika melakukan sujud di tanah, seperti halnya rukun yang lain. Mengkhususkan kursi tidak ada artinya dan tidak dibutuhkan pada keadaan demikian.” (Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, Istifta’at an-Nas lil Imam as-Syahid al-Bhuti, hal. 99)

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa melaksanakan shalat fardhu dengan cara duduk di kursi bagi orang yang masih mampu untuk berdiri adalah hal yang tidak diperbolehkan, bahkan menimbulkan dosa bila dilakukan dengan sengaja dan sembrono terhadap salah satu kewajiban shalat fardhu. Hal demikian ditegaskan oleh Imam An-Nawawi:

وأما الفرض فإن الصلاة قاعدا مع قدرته على القيام لم يصح فلا يكون فيه ثواب بل يأثم به قال أصحابنا وإن استحله كفر وجرت عليه أحكام المرتدين كما لو استحل الزنى والربا أو غيره من المحرمات الشائعة التحريم

“Shalat fardhu yang dilaksanakan dengan duduk padahal dia mampu berdiri adalah tidak sah, bahkan ia terkena dosa. Para Ashab (ulama Syafi’iyah) berkata, ‘Jika ia menganggap halal melakukan shalat fardhu dengan duduk, padahal masih bisa bediri maka ia menjadi kafir dan berlaku baginya hukum-hukumnya orang yang murtad, sebagaimana orang yang menghalalkan zina, riba, dan perkara haram lain yang telah masyhur keharamannya.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarah an-Nawawi ala Muslim, juz 6, hal. 14)

Sedangkan dalam konteks shalat sunnah, melaksanakan shalat dengan cara duduk, baik itu secara langsung di lantai atau dengan perantara kursi adalah hal yang diperbolehkan. Mengapa? Sebab berdiri dalam shalat sunnah bukanlah suatu kewajiban tapi merupakan kesunnahan. Meski begitu orang yang melaksanakan shalat sunnah dengan cara duduk hanya mendapatkan pahala setengah dibanding orang yang melaksanakan shalat sunnah dengan berdiri. Ketentuan ini berdasarkan hadits:

مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَائِمِ، وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ القَاعِدِ

“Barangsiapa yang shalat (sunnah) dengan berdiri maka lebih utama, barangsiapa yang shalat dengan duduk maka baginya setengah dari pahala orang yang berdiri dan barangsiapa yang shalat dengan tidur maka baginya setengah pahala dari orang yang duduk.” (HR. Bukhari)

Baca juga:
Cara Mengqadha Shalat yang Terlewat
Tata Cara Shalat di Kereta Api
Walhasil, melaksanakan shalat fardhu dengan cara duduk di kursi hanya diperbolehkan bagi orang yang tidak mampu untuk berdiri. Selain itu, tidak diperbolehkan melaksanakan shalat fardhu dengan duduk di kursi, jika masih tetap dilakukan maka shalatnya tidak sah dan wajib untuk mengulanginya dengan cara berdiri secara sempurna. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember