IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Teguran Allah atas Sikap Diskriminatif di Zaman Rasulullah

Selasa 30 April 2019 6:0 WIB
Share:
Teguran Allah atas Sikap Diskriminatif di Zaman Rasulullah
Ilustrasi (employeesos.co.uk)
“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa….” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ada manusia yang menganggap ras dan sukunya lah yang paling unggul, sementara ras selainnya tidak. Ada juga yang berpandangan, manusia dengan kedudukan dan jabatan lah yang mulia, sementara mereka yang tidak memiliki itu semua tidak. Begitupun dengan manusia yang mempunyai kekayaan. Terkadang mereka bersikap diskriminatif (membeda-bedakan) dan menganggap rendah terhadap mereka yang tidak punya.

Kejadian-kejadian seperti itu juga pernah terjadi pada zaman Rasulullah sehingga Allah menurunkan wahyu dan menegurnya. Diantaranya adalah beberapa sahabat Rasulullah yang menganggap rendah Bilal bin Rabah karena statusnya budak dan berkulit hitam. Memang, Bilal bin Rabah merupakan salah seorang sahabat Nabi yang berkulit hitam dan berasal dari Habasyah (Ethiopia).

Merujuk buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), Bilal bin Rabah ditunjuk Rasulullah untuk mengumandangkan adzan di atas Ka’bah pada saat pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah). Rupanya ada beberapa sahabat Nabi –seperti Al-Harits bin Hisyam, Sahl bin Amr, dan Khalid bin Usaid- yang tidak suka dengan hal itu sehingga mengeluarkan komentar yang bernada diskriminatif. Mereka tidak terima kalau Bilal bin Rabah yang mantan budak dan berkulit hitam diberi tugas untuk mengumandangkan adzan.

“Mengapa yang mengumandangkan adzan budak hitam ini (Bilal bin Rabah)?” kata mereka.

Setelah kejadian itu, Allah kemudian menurunkan QS. al-Hujurat ayat 13: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa….” (QS. Al-Hujurat: 13)

Turunnya ayat tersebut di atas merupakan teguran Allah kepada mereka yang berbuat diskriminatif dan rasis. Melalui ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa yang paling mulia di hadapan-Nya adalah orang yang paling bertakwa, bukan yang memiliki warna kulit tertentu dan status sosial yang tinggi.

Kejadian diskriminatif juga pernah terjadi kepada ahlu Shuffah, sahabat miskin Nabi yang tinggal di emperan Masjid Nabawi seperti Ammar bin Yasir, Abu Hurairah, Abi Dzar, Salman, Suhaib, Khabbab bin Irt, dan Bilal. Suatu ketika, beberapa sahabat Nabi yang kaya –seperti Abbas bin Mirdas as-Sulami, Uyainah bin Hishn al-Fazari, dan al-Aqra bin Habis at-Tamimi- mengajukan usul kepada Rasulullah agar menyelenggarakan dua majelis pengajaran; yang satu untuk mereka dan yang satunya lagi untuk sahabat ahlu Shuffah. Mereka beralasan, pemisahan itu dimaksudkan agar mereka tidak terganggu dengan aroma tidak sedap sahabat-sahabat fakir tersebut.

Rasulullah menganggap, keberadaan beberapa sahabatnya yang bergelimangan harta itu akan membuat Islam semakin kuat. Bukan karena sebab lainnya. Oleh sebab itu, semula Rasulullah sepakat dengan usulan tersebut. Akan tetapi, kemudian Allah menurunkan al-Kahfi ayat 28-29. Inti dari ayat tersebut adalah Rasulullah diperintahkan untuk bersabar bersama dengan orang-orang yang menyeru Allah dengan mengharap ridha-Nya. Rasulullah juga diperingatkan agar tidak berpaling dari mereka karena mengharap harta benda duniawi. 

“Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” (QS. Al-Hujurat: 28)

Demikian lah prinsip persamaan dalam Islam. Islam sangat menekankan persamaan untuk terwujudnya keadilan. Oleh sebab itu, Islam tidak membenarkan tindakan atau sikap diskriminatif, berdasarkan apapun itu. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Selasa 30 April 2019 22:0 WIB
Nabi Muhammad, Perihal Nama-nama, dan Optimisme
Nabi Muhammad, Perihal Nama-nama, dan Optimisme
Nabi Muhammad saw. kerap kali memberikan nama kepada barang-barang yang dimiliki dan dipakainya. Mulai dari hewan yang dikendarai, barang-barang yang digunakan setiap harinya, hingga alat-alat perang yang digunakannya ketika berperang. Qashwa adalah salah satunya. Unta kesayangan Nabi Muhammad saw. yang dibeli dari Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq. Ia diberi nama seperti itu karena cepatnya ketika berjalan.

Nabi Muhammad saw. menunggangi Qashwa ketika hijrah ke Madinah. Selain menaiki untuk hijrah ke Madinah, Rasulullah juga menunggangi Qashwa dalam beberapa peristiwa penting lainnya seperti Perang Badar, Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah), Perjanjian Hudaibiyah, dan Haji Wada’.

Nabi Muhammad saw. juga memiliki kuda yang bernama ath-Thirf. Diberi nama demikian karena kuda itu mampu berlari dengan cepat, secepat kedipan mata. Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga memiliki kuda yang digunakan untuk perlombaan. Namanya as-Sakbu (kuda yang berlari kencang bagaikan air yang mengalir). Dulu kuda ini miliki seorang Badui dan bernama adh-Dharsu (kuda yang sulit dikendalikan dan berkelakuan jelek). Kemudian Nabi mengubah namanya menjadi as-Sakbu. Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga memiliki beberapa kuda lainya yang diberi nama al-Wardu (kemerah-merahan), Sabhatun (kuda yang jalannya begitu kencang), dan yang lainnya. 

Hal yang sama juga Nabi Muhammad saw. lakukan kepada seperangkat alat perangnya. Diantaranya bendera yang digunakan Nabi Muhammad saw. untuk berperang yang diberi nama al-Uqab. Sementara untuk pedang, Nabi Muhammad saw. memiliki beberapa seperti Zul Fiqar, al-Mihzam (pemenggal), ar-Rusuub (tajam hingga bisa menembus daging), al-Battar (tajam), al-Qal’iy (benteng), al-Qadhiib (pemenggal), al-Adhab (tajam), dan al-Hatf (yang membuat binasa). Semuanya alat-alat perang Nabi Muhammad saw. dinamai dengan nama-nama yang indah dan bermakna.

Ada makna tertentu dibalik pemberian nama benda-benda tersebut dengan penamaan yang indah dan baik. Merujuk buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), penamaan seperangkat alat perang dengan nama khusus tersebut membuat benda-benda itu seakan-akan hidup dan menjadi teman setia Nabi Muhammad saw. setiap kali mengikuti peperangan. Nama-nama itu juga menunjukkan semangat keberanian dan tidak perlu ada yang ditakuti kecuali Allah.

Nabi Muhammad saw. yakin, nama-nama yang baik atau kalimat yang indah bisa dijadikan sarana untuk menumbuhkan semangat dan optimisme. Bahwa nama-nama baik tersebut bisa menjadi pendorong agar manusia berusaha lebih keras lagi. Sehingga apa yang diharapkan dan dicita-citakannya bisa terwujud.

Hal seperti itu pernah dialami Nabi Muhammad saw. ketika peristiwa di Hudaibiyah. Pada saat itu, baik pihak Nabi maupun pihak musyrik Makkah saling mengirim utusan untuk berunding. Pihak musyrik Makkah semula mengirim Budail bin Warqa al-Khuza’i, kemudian Urwah bin Mas’ud, kemudian al-Hullais bin Alqamah, dan kemudian Mukriz bin Hafsh. Semuanya tidak membuahkan hasil atau gagal.  

Selanjutnya, tokoh musyrik Makkah mengutus Suhail bin Amr untuk menemui Nabi Muhammad saw. Ketika mengetahui Suhail yang diutus, Nabi Muhammad saw. optimis akan ada titik temu antara pihak Muslim dan pihak musyrik Makkah. Beliau ‘mendasarkan’ atau 'mengaitkan' sikap optimismenya itu dengan nama Suhail –seakar dengan kata sahl- yang berarti mudah.

“Telah dipermudah (sahula) untuk kalian urusan kalian,” kata Nabi Muhammad saw. meyakinkan para sahabatnya, sebagaimana dikutip buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018).

Betul saja, setelah berunding panjang pihak Muslim dan pihak musyrik –yang diketuai Suhail bin Amr- akhirnya setuju dengan dicetuskannya Perjanjian Hudaibiyah (Shulhul Hudaibiyah). Sebuah perjanjian yang dinilai menguntungkan pihak musyrik dan merugikan umat Islam. Namun setelah mendengarkan penjelasan dari Nabi Muhammad saw., akhirnya sahabat yang keberatan dengan isi perjanjian itu mau menerima perjanjian itu meski dengan berat hati. 

“Bersabarlah dan ikhlaslah, karena Allah akan memberimu dan memberi orang-orang lemah jalan keluar,” kata Nabi Muhammad saw. 

Di tengah perjalanan balik ke Madinah, Nabi Muhammad saw. menerima wahyu dari Allah QS. al-Fath (kemenangan). Melalui perjanjian itu, Allah memberikan kemenangan yang nyata kepada umat Islam. Ternyata, butir-butir Perjanjian Hudaibiyah yang dinilai merugikan justru malah menguntungkan umat Islam nantinya. Begitulah Nabi Muhammad saw. yang seringkali menjadikan nama sesuatu yang baik atau kalimat yang indah sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap optimisme. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 30 April 2019 13:0 WIB
Lima Butir Perjanjian Hudaibiyah
Lima Butir Perjanjian Hudaibiyah
Ilustrasi.
Pada abad ke-6 Hijriyah, Nabi Muhammad saw. mengajak semua sahabatnya untuk melaksanakan umrah di Makkah. Setelah semua persiapan beres, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya –satu riwayat menyebut ada 1.400 orang- berangkat menuju ke Makkah pada hari Senin awal bulan Dzulqa’dah. Mereka tidak membawa senjata –kalaupun bawa tidak diperlihatkan, karena sesuai ajakan Nabi Muhammad saw., mereka ke Makkah untuk ibadah, bukan untuk berperang.

Namun, Nabi Muhammad saw. dan rombongan ‘dicegat’ kelompok musyrik Quraisy  Makkah ketika sampai di Hudaibiyah, sebuah wilayah yang terletak 20 kilometer dari Makkah. Mereka bertanya perihal maksud dan tujuan Nabi Muhammad saw. dan umatnya datang ke Makkah. Nabi Muhammad saw. menjawab dan meyakinkan bahwa tujuan mereka adalah untuk beribadah, bukan berperang.

Tokoh Makkah tidak langsung percaya dengan hal itu. Kemudian dikirimkanlah utusan untuk mengecek kebenarannya. Begitupun Nabi Muhammad saw. yang mengutus sahabatnya untuk meyakinkan para pemuka Makkah. Kedua belah pihak beberapa kali melakukan diplomasi, namun gagal. Hingga akhirnya pemuka Makkah mengirim Suhail bin Amr dan Mukriz dengan mandat penuh. Keduanya boleh membuat kesepakatan apapun dengan umat Islam, namun ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu Nabi Muhammad saw. dan rombongan umat Islam tidak boleh masuk Makkah. 

Setelah terjadi diskusi dan perundingan yang alot, kedua belah pihak akhirnya setuju untuk membuat kesepakatan bersama. Sebuah perjanjian yang disebut Shulhul Hudaibiyah (Perjanjian Hudaibiyah). Mengutip buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), ada lima butir Perjanjian Hudaibiyah. Berikut poin-poinnya:

Pertama, gencatan senjata selama 10 tahun. Tiada permusuhan dan tindakan buruk terhadap masing-masing dari kedua belah pihak selama masa tersebut. 

Kedua, siapa yang datang dari kaum musyrik kepada Nabi, tanpa izin keluarganya, harus dikembalikan ke Makkah, tetapi bila ada di antara kaum Muslim yang berbalik dan mendatangi kaum Musyrik, maka ia tidak akan dikembalikan.

Ketiga, diperkenankan siapa saja di antara suku-suku Arab untuk mengikat perjanjian damai dan menggabungkan diri kepada salah satu dari kedua pihak. Ketika itu, suku Khuza’ah menjalin kerja sama dan mengikat perjanjian pertahanan bersama dengan Nabi Muhammad saw. dan Bani Bakar memihak kaum musyrik.

Keempat, tahun ini Nabi Muhamamad saw. dan rombongan belum diperkenankan memasuki Makkah, tetapi tahun depan dan dengan syarat hanya bermukim tiga hari tanpa membawa senjata kecuali pedang yang tidak dihunus.

Kelima, perjanjian ini diikat atas dasar ketulusan dan kesediaan penuh untuk melaksanakannya, tanpa penipuan atau penyelewengan. 


Perjanjian itu disaksikan kedua belah pihak. Di pihak Muslim, ada Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq, Sayyidina Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Muhammad bin Salamah, dan Abdurrahman bin Suhail. Sayyidina Ali bin Abi Thalib bertugas sebagai sekretaris. Sementara di pihak kaum musyrik ada Suhail bin Amr dan Mikraz bin Hafzh. 

Beberapa sahabat –termasuk Sayyidina Umar bin Khattab dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib- keberatan dengan isi perjanjian tersebut, terutama butir kedua dan keempat. Namun setelah menerima penjelasan dari Nabi Muhammad saw., akhirnya mereka menerimanya meski dengan hati yang berat. 

Nabi Muhammad saw. dan rombongan umat Islam kemudian kembali ke Madinah setelah 19 atau 20 hari berada di Hudaibiyah. Sebelum balik ke Madinah, Nabi Muhammad saw. memerintahkan semua umat Islam yang ada dalam rombongan berihram dan bertakhallul (mencukur rambut). Kemudian dilanjutkan dengan menyembelih unta. Diriwayatkan, ada 70 ekor unta yang disembelih pada saat itu. (A Muchlishon Rochmat)
Senin 29 April 2019 19:0 WIB
Tsuwaibah, Budak Abu Lahab yang Pernah Menyusui Nabi Muhammad
Tsuwaibah, Budak Abu Lahab yang Pernah Menyusui Nabi Muhammad
Tsuwaibah merupakan salah seorang budak perempuan Abu Lahab bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad saw. Tsuwaibah memiliki peran yang ‘cukup strategis’ ketika Nabi Muhammad saw. baru saja dilahirkan. Dia lah orang yang pertama kali memberikan kabar tentang kelahiran Nabi Muhammad saw. kepada Abdul Muthalib –dimana kakek Nabi itu tengah thawaf di Ka’bah pada saat itu. Dia juga yang mengabari Abu Lahab mengenai kelahiran Nabi Muhammad saw. Abu Lahab kemudian memerdekakan Tsuwaibah karena gembira keponakannya baru saja lahir.

Tidak hanya itu, mengutip buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury, 2012) Tsuwaibah adalah wanita pertama –setelah Sayyidah Aminah- yang menyusui Nabi Muhammad saw. Sebelumnya, Tsuwaibah juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muthallib –paman Nabi- dan Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi. 

Memang, masyarakat Arab memiliki tradisi untuk menyusukan anak-anaknya kepada wanita lain, terutama kepada mereka yang tinggal di desa. Tujuannya adalah untuk menjauhkan anak dari penyakit yang ada di kota. Juga agar anak memiliki fisik dan jiwa yang kuat, serta fasih dalam berbahasa. 

Disebutkan buku Muhammad Rahmat bagi Wanita (Samiyah Menisi, 2016), Tsuwaibah menyusui Nabi Muhammad saw. selama beberapa hari setelah kelahirannya –menurut satu riwayat selama seminggu. Baru setelah itu, Nabi Muhammad saw. disusui Halimah as-Sa’diyah dan tinggal di desa Bani Sa’ad selama beberapa tahun. 

Karena jasanya itu, Nabi Muhammad saw. tidak pernah melupakan Tsuwaibah. Nabi Muhammad saw. terus mencari dan menjalin hubungan baik dengan Tsuwaibah selama di Makkah. Begitupun Sayyidah Khadijah yang begitu menghormati Tsuwaibah. Bahkan, sebagaimana keterangan dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), Nabi Muhammad saw. mengirimkan segala kebutuhan Tsuwaibah, mulai dari makanan hingga pakaian, hingga ia wafat tahun ke-7 H.

Tsuwaibah hanya memiliki satu anak, yaitu Masruh. Pada saat Tsuwaibah meninggal, Nabi Muhammad saw. sedang berada di Khaibar. Setelah mendapatkan kabar wafatnya Tsuwaibah, Nabi Muhammad saw. menanyakan keadaan Masruh. “Apa saja yang dikerjakan anaknya, Masruh,” kata Nabi Muhammad saw. Namun ternyata, Masruh telah meninggal lebih dahulu. Sehingga ketika meninggal, Tsuwaibah tidak memiliki keluarga. 

Demikian cara Nabi Muhammad saw. menghormati dan membalas orang yang berjasa dalam hidupnya. Beliau begitu menghormati, berlaku lemah lembuh, menjalin hubungan baik, dan bahkan memenuhi kebutuhannya selama hidupnya. Itu dilakukan Nabi Muhammad saw. karena Tsuwaibah pernah menyusuinya sewaktu kecil. (Muchlishon)