IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Alasan Rasulullah Menjawab Beda soal Ciuman saat Berpuasa

Rabu 1 Mei 2019 14:0 WIB
Share:
Alasan Rasulullah Menjawab Beda soal Ciuman saat Berpuasa
Rasulullah adalah seorang guru yang handal. Beliau sangat memahami dan mengerti keadaan pada sahabatnya –yang menjadi muridnya. Sehingga ada ajaran atau materi yang disampaikan Rasulullah kepada seluruh sahabatnya sehingga mereka semua bisa mengamalkannya. Ada juga pengetahuan yang hanya diberikan kepada sahabat tertentu karena alasan tertentu pula. ‘Pemilahan’ seperti itu dilakukan Rasulullah berdasarkan keadaan, pemahaman, kecerdasan, dan inteletualitas yang dimiliki sahabat.  

Rasulullah juga tidak jarang memberikan jawaban yang berbeda atas satu kasus yang sama, termasuk soal boleh atau tidaknya ciuman suami-istri ketika sedang berpuasa. Rasulullah memberikan dua jawaban yang berbeda ketika ada dua sahabatnya yang bertanya mengenai hal itu (boleh atau tidak ciuman suami-istri saat berpuasa).

Sebagaimana riwayat Imam Ahmad –dalam kitab Musnad-nya- dari Abdullah bin Amru bin Ash, dikisahkan bahwa suatu ketika ada seorang pemuda mendatangi Rasulullah. Pemuda tersebut kemudian bertanya kepada Rasulullah perihal boleh atau tidaknya mencium istrinya ketika sedang berpuasa. Seketika itu juga, Rasulullah dengan tegas menjawab tidak boleh.  

Beberapa saat setelah itu, ada seorang sahabat Nabi yang berusia sudah tua menanyakan hal yang sama. Yakni boleh atau tidak mencium istri saat berpuasa. Kali ini Rasulullah mengizinkan. Maksudnya, Rasulullah membolehkan jika sahabat tuanya itu mencium istrinya ketika sedang berpuasa. Para sahabat yang saat itu sedang bersama Rasulullah merasa heran dan saling menatap mata antar satu dengan yang lainnya.

“Aku tahu kenapa kalian saling tatap. Ketahuilah, sungguh orang tua itu lebih bisa menguasai diri (hawa nafsunya),” kata Rasulullah, dikutip buku Muhammad Sang Guru (Abdul Fattah Abu Ghuddah, 2015). Para sahabat lantas menjadi paham mengapa Rasulullah memberikan jawaban yang berbeda atas satu kasus yang sama.

Begitulah jawaban Rasulullah terhadap hukum ciuman suami-istri saat berpuasa. Beliau menjawab sesuai dengan keadaan orang yang bertanya. Rasulullah melarang pemuda melakukan ciuman saat berpuasa kepada istrinya karena itu dikhawatirkan akan memicu kepada tindakan yang lebih lanjut, yaitu hubungan intim. Mengingat pemuda yang kerap kali kerepotan mengendalikan hawa nafsunya. 

Sementara sahabat tua diperbolehkan melakukan hal itu (ciuman suami-istri saat berpuasa) karena Rasulullah meyakini dia akan bisa mengendalikan dirinya. Sehingga tidak dikhawatirkan puasanya akan rusak karena tergoda melakukan hal-hal yang lebih jauh, yakni hubungan suami-istri. (Muchlishon)
Share:
Rabu 1 Mei 2019 21:30 WIB
Para Perempuan Mulia yang Menyusui Nabi Muhammad
Para Perempuan Mulia yang Menyusui Nabi Muhammad
Dalam tradisi Arab ketika itu (Quraisy), hampir semua orang tua menitipkan anaknya di perkampungan (Badui). Di sana anak-anak disusui beberapa tahun lamanya, sebagai gantinya mereka menerima bayaran dari pihak keluarga, termasuk Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya, dalam setiap tradisi yang hidup, ada penyebab yang melatar-belakanginya. Di samping alasan menghindari wabah menular yang biasa menjangkiti daerah perkotaan (Makkah), Imam al-Suhaili mengemukakan beberapa alasan lain. Ia menulis:

لِيَنْشَأَ الطّفْلُ فِي الْأَعْرَابِ، فَيَكُونَ أَفْصَحَ لِلِسَانِهِ وَأَجْلَدَ لِجِسْمِهِ 

Supaya anak-anak tumbuh di lingkungan pedesaan (Badui) yang membuatnya lebih fasih dalam bertutur kata dan menguatkan fisiknya.” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, Kairo: Darul Hadits: 2008, juz 1, h. 318)

Saat itu, kefasihan bertutur orang Arab Badui jauh lebih murni (asli) dibandingkan Arab Hadlar (kota, Makkah). Ini dibuktikan dengan beberapa informasi yang ditulis oleh Imam al-Suhaili. Paling tidak ia menulis dua informasi penting mengenai hal ini. Informasi pertama adalah ketika Sayyidina Abu Bakr al-Shiddiq berkata kepada Rasulullah: “mâ ra’aytu afshaha minka yâ Rasûlullah (aku tidak melihat orang yang lebih fasih darimu, ya Rasulullah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “mâ yamni’unî, wa ana min quraisy wa urdli’tu fî banî sa’d? (apa yang membatasiku, aku berasal dari Quraisy dan disusui (dan tumbuh) di Bani Sa’d?)” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, 2008, juz 1, h. 318)

Informasi kedua adalah kecintaan Abdul Malik bin Marwan kepada anaknya yang bernama Walid, sehingga ia menjadi orang yang sering salah berucap (lahhân), baik dari pelafalan maupun i’rab-nya (gramatika), sedangkan anaknya yang lain, Sulaiman, sangat fasih berucap. Imam al-Suhaili mengatakan:

لِأَنّ الْوَلِيدَ أَقَامَ مَعَ أُمّهِ وَسُلَيْمَانُ وَغَيْرُهُ مِنْ إخْوَتِهِ سَكَنُوا الْبَادِيَةَ

(Hal itu terjadi) karena al-Walid tinggal bersama ibunya, sedangkan Sulaiman dan saudara-saudaranya yang lain tinggal di wilayah perkampungan (Arab Badui).” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, 2008, juz 1, h. 318-319)

Fasih di sini tidak sekadar benar dalam bunyi pelafalan yang dikeluarkan, tapi mencakup semua aspeknya, dari mulai gramatika, kekayaan kosakata, ketepatan lafal, sampai mampu menggubah syair yang menawan. Tidak heran jika orang Arab Quraisy melahirkan banyak sastrawan hebat, karena mereka berhasil menggabungkan kekayaan bahasa asli orang Arab Badui dengan realitas sosial kehidupan perkotaan (Arab Hadlar). Karena itu, banyak orang-orang berada dari suku Quraisy menitipkan anak-anaknya di perkampungan Arab Badui.

Tsuaibah al-Aslamiyyah

Menurut sebagian besar riwayat, ketika baru lahir Rasulullah disusui oleh ibunya sendiri selama tujuh hari, lalu dilanjutkan oleh Tsuaibah al-Aslamiyyah, budak wanita Abu Lahab. Dalam al-Mukhtashar al-Kabîr dijelaskan:

لَمَّا وَلَدَتْهُ صلي الله عليه وسلم أُمُّهُ أَرْضَعَتْهُ سَبْعَةَ أَيَّامٍ, ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ ثُوَيْبَةُ الْأَسْلَمِيَّةُ مَوْلَاةُ أَبِي لَهْبٍ أَيَّامًا

Ketika Ibunya (Sayyidah Aminah) melahirkan Rasulullah SAW, ibunya menyusuinya selama tujuh hari, kemudian Tsuwaybah al-Aslamiyyah, budak Abu Lahab menyusuinya selama beberapa hari....” (Imam ‘Izzuddin bin Badruddin bin Jama’ah al-Kinani, al-Mukhtashar al-Kabîr fi Sîrah al-Rasûl, 1993, h. 23)

Selain menyusui Rasulullah, Tsuwaybah al-Aslamiyyah juga menyusui Sayyidina Hamzah bin Abdul Muttalib (paman Nabi), Abdullah bin Jahs, dan Masruh (anaknya sendiri). Ini menjadikan mereka saudara sepersusuan dengan Rasulullah. Imam al-Suhaili menyebutkan:

وَأَرْضَعَتْهُ—صلي الله عليه وسلم—ثُوَيْبَةُ قَبْلَ حَلِيْمَةَ, أَرْضَعَتْهُ وَعَمَّهُ حَمْزَةَ وَعَبْدَ اللهِ بن جَحش

Tsuwaybah menyusui Rasulullah SAW sebelum Halimah. Dia pun menyusui paman nabi, (Sayyidina) Hamzah dan Abdullah bin Jahsy.....” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, Kairo: Darul Hadits, 2008, juz 1, h. 315)

Perihal keislamannya, para ulama berbeda pendapat. Imam Abu Nu’aim mengatakan, “tidak ada seorang pun yang menyebutkan keislamannya.” Yang jelas, Rasulullah sangat memuliakan Tsuwaybah, sampai istri beliau, Sayyidah Khadijah turut memuliakannya, “kânat khadîjah tukrimuhâ (Khadijah (sangat) menghormati Tsuwaybah).” Bahkan Rasulullah sering mengirimnya pakaian, selimut dan lain sebagainya sampai Tsuwaybah wafat di tahun ke-7 Hijriah. (Khairuddin al-Zirkili, al-A’lâm: Qâmûs Tarâjim, Beirut: Darul Ilm lil Malayin, 2002, juz 2, h. 102)

Ulama juga berbeda pendapat tentang kapan Tsuwaybah dimerdekakan oleh Abu Lahab. Sebagian berpendapat setelah ia mengabarkan kelahiran Muhammad kepadanya, sebagian lagi berpendapat setelah Rasulullah hijrah ke Makkah. Pendapat pertama, bertepatan dengan kelahiran, didasarkan pada riwayat (HR. Imam al-Bukhari):

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

Urwah (bin Zubair) berkata: “Tsuwaybah adalah budak Abu Lahab. Abu Lahab memerdekakannya, kemudian ia menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di saat Abu Lahab meninggal, sebagian dari keluarganya bermimpi melihatnya mendapat siksa yang buruk. Abu Lahab ditanya: “Apa yang kau temui?” Abu Lahab menjawab: “Aku tidak menemukan apapun sepeninggal kalian selain aku diberi minum karena memerdekakan Tsuwaybah.” 

Sementara pendapat yang mengatakan Tsuwaybah dimerdekakan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah didasarkan pada riwayat lain: 

وَكَانَت خديجةُ تُكرمها، وَقيل: إِنَّهَا سَأَلت أَبَا لَهَبٍ فِي أنْ تبتاعها مِنْهُ لتِعتقِها فَلم يفعل، فلمّا هَاجر رَسُول الله إِلَى الْمَدِينَة أَعتقها

Khadijah sangat memuliakan Tsuwaybah. Diriwayatkan bahwa Khadijah meminta Abu Lahab menjual Tsuwaybah kepadanya agar ia bisa memerdekannya, tapi Abu Lahab tidak (mau) melakukannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, Abu Lahab memerdekakannya.” (Imam ‘Izzuddin bin Badruddin bin Jama’ah al-Kinani, al-Mukhtashar al-Kabîr fi Sîrah al-Rasûl, 1993, h. 23)

Meski demikian, Imam al-Suhaili lebih mempercayai riwayat yang pertama, begitu pun dengan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, bahwa, “anna ‘itqahâ kâna qabl al-irdlâ’—Tsuwaybah dimerdekakan sebelum menyusui (Rasul).” (Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bârî bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, juz 9, h. 48). 

Dalam riwayat yang dicatat Imam al-Suhaili, Rasulullah mendengar kabar kewafatan Tsuwaybah di saat umat Islam berhasil membebaskan Makkah. Ketika itu beliau menanyakan keadaan Tsuwaybah dan anaknya, Masruh. Imam al-Suhaili menulis:

وَكَانَ رَسُولُ اللهِ يَعْرِفُ ذَلِكَ لِثُوَيْبَةَ وَيَصِلُهَا مِنْ الْمَدِينَةِ، فَلَمّا افْتَتَحَ مَكّةَ سَأَلَ عَنْهَا وَعَنْ ابْنِهَا مَسْرُوحٍ، فَأُخْبِرَ أَنّهُمَا مَاتَا، وَسَأَلَ عَنْ قَرَابَتِهَا، فَلَمْ يَجِدْ أَحَدًا مِنْهُمْ حَيّا

Rasulullah tahu bahwa Tsuwaybah (menyusuinya di saat beliau kecil), karenanya beliau sering mengiriminya (sesuatu) dari Madinah. Ketika Makkah dibebaskan (ditaklukkan), Rasulullah bertanya tentangnya dan anaknya, Masruh, lalu dikabarkan padanya bahwa mereka berdua telah meninggal. Rasulullah bertanya tentang kerabatnya, namun tak seorang pun yang berhasil menemukan mereka yang masih hidup.” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, 2008, juz 1, h. 315)

Haliman al-Sa’diyyah

Setelah disusui Tsuwaybah beberapa hari, Sayyidah Aminah menitipkan Rasulullah kepada Halimah binti Abu Dzuaib dari Bani Sa’d. Awalnya Halimah menolak membawa Nabi Muhammad karena ia yatim, tapi setelah ke sana-kemari tidak mendapatkan anak yang akan dibawanya pulang, ia kembali ke rumah Sayyidah Aminah dan menerimanya dengan terpaksa. Dengan jelas ia mengatakan pada suaminya:

وَاَللهِ إنّي لَأَكْرَهُ أَنْ أَرْجِعَ مِنْ بَيْنِ صَوَاحِبِي وَلَمْ آخُذْ رَضِيعًا، وَاَللهِ لَأَذْهَبَنّ إلَى ذَلِكَ الْيَتِيمِ فَلَآخُذَنّهُ

Demi Allah, sesungguhnya aku benci kembali bersama rombongan tanpa membawa anak untuk disusui. Demi Allah, sungguh akan kudatangi lagi anak yatim itu, dan benar-benar mengambilnya sebagai anak susuan.” (Imam Ibnu Atsîr, al-Kâmil fî al-Tarîkh, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1987, juz 1, h. 357)

Dan ternyata, anak yatim itu memberi keberkahan luar biasa kepada Halimah al-Sa’diyyah dan keluarganya. Di musim paceklik semacam ini, mereka tidak pernah merasa kenyang sebelumnya, anak-anaknya terus menangis karena lapar (tidak mendapat ASI yang cukup), tiba-tiba kenyang menyusu kepadanya dan tertidur pulas. Unta yang semula kurus seketika penuh air susunya, hingga mereka berdua menikmati hari yang indah setelah membawa anak bernama Muhammad itu. Semuanya kenyang, hingga suaminya, al-Harits bin Abdul Uzza mengatakan:

تَعْلَمِينَ وَاَللهِ يَا حَلِيمَةُ لَقَدْ أَخَذْت نَسَمَةً مُبَارَكَةً, فَقُلْت: وَاَللهِ إنّي لَأَرْجُو ذَلِكَ

Demi Allah, kau tahu, Halimah, sungguh kau telah mengambil anak yang diberkahi.” Aku (Halimah) berkata: “Demi Allah, itulah yang kuharapkan.” (Imam Ibnu Atsîr, al-Kâmil fî al-Tarîkh, 1987, juz 1, h. 357)

Semenjak Rasulullah tinggal bersamanya, Haliman al-Sa’diyyah tidak pernah kekurangan apapun, semuanya dimudahkan. Air susunya yang biasanya terbatas menjadi melimpah. Binatang ternaknya sehat dan produktif. Ia mengatakan, “sungguh tidak ada tanah yang lebih gersang dari tanahnya Bani Sa’d, tapi kambingku selalu pulang dengan air susu penuh. Kami memerah dan meminumnya, sementara kaumku yang lain tidak mendapatkan setetes susu pun dari kambing-kambing mereka.” Fenomena itu sampai membuat orang-orang dari kaumnya meminta kambingnya digembalakan bersama dengan kambing-kambing milik Halimah al-Sa’diyyah dan al-Harits bin Abdul Uzza, tapi tetap saja, kambing-kambing mereka tidak mengeluarkan setetes pun susu. (Imam Ibnu Atsîr, al-Kâmil fî al-Tarîkh, 1987, juz 1, h. 357)

Setelah Rasulullah berusia dua tahun, Halimah al-Sa’diyyah membawanya ke Makkah untuk mengembalikannya pada ibunya. Tapi, Halimah merasa berat berpisah dengan Rasul. Ia pun membujuk Sayyidah Aminah agar diberi izin beberapa tahun lagi mengasuhnya. Akhirnya, Sayyidah Aminah memberikan izinnya, dan Rasulullah kembali tinggal bersama Halimah al-Sa’diyyiah dan keluarganya.

Menurut beberapa riwayat, Halimah al-Sa’diyyah memeluk agama Islam tapi tidak langsung dari rasulullah karena situasinya yang tidak mendukung (susah bertemu). Sebelum wafat, Halimah berhasil menjumpai Rasulullah:

عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقْسِمُ لَحْمًا بِالْجِعْرَانَةِ فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ بَدْوِيَّةٌ فَبَسَطَ لَهَا رِدَاءَهُ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذِهِ؟ قَالُوا: هَذِهِ أُمُّهُ الَّتِي كَانَتْ تُرْضِعُهُ

Dari Abu Thufail radiyallahu ‘anhu, ia berkata: “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi-bagikan daging di sekitar Ji’ronah, kemudian datang seorang wanita desa. Tiba-tiba Rasulullah membentangkan jubahnya untuknya.” Lalu aku bertanya: “Siapa ini?” Mereka (teman-teman Rasulullah) menjawab: “Dia adalah ibu yang menyusuinya.” (Imam Abu Bakr Ahmad, Musnad al-Bazzar, Madinah al-Munawwarah: Maktabah al-Ulum wa al-Hikam, 2009, juz 7, h. 208)

Halimah wafat di tahun 9/10 Hijriah, dan dikebumikan di Baqi’. Ia meninggalkan tiga orang anak dari pernikahannya dengan al-Harits bin Abdul Uzza. Anak-anaknya adalah Abdullah bin al-Harits, Anisah bin al-Harits, dan Hudafah bin al-Harits (Syaima’). Nama terakhir ini cukup berperan dalam pelestarian agama Islam di jazirah Arab. Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallah wafat, banyak kabilah di Arab yang memberontak dan menyatakan keluar dari Islam, termasuk Bani Sa’d. Hudafah bin al-Harits (Syaima’) tampil membela Islam dengan segala upaya dan keberanian, hingga perlahan-lahan fitnah itu berlalu dari kaumnya. Ketiga anak Halimah adalah saudara sepersusuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka bermain bersama sejak kecil dan ketika dewasa, mereka semua memeluk Islam. Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Selasa 30 April 2019 22:0 WIB
Nabi Muhammad, Perihal Nama-nama, dan Optimisme
Nabi Muhammad, Perihal Nama-nama, dan Optimisme
Nabi Muhammad saw. kerap kali memberikan nama kepada barang-barang yang dimiliki dan dipakainya. Mulai dari hewan yang dikendarai, barang-barang yang digunakan setiap harinya, hingga alat-alat perang yang digunakannya ketika berperang. Qashwa adalah salah satunya. Unta kesayangan Nabi Muhammad saw. yang dibeli dari Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq. Ia diberi nama seperti itu karena cepatnya ketika berjalan.

Nabi Muhammad saw. menunggangi Qashwa ketika hijrah ke Madinah. Selain menaiki untuk hijrah ke Madinah, Rasulullah juga menunggangi Qashwa dalam beberapa peristiwa penting lainnya seperti Perang Badar, Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah), Perjanjian Hudaibiyah, dan Haji Wada’.

Nabi Muhammad saw. juga memiliki kuda yang bernama ath-Thirf. Diberi nama demikian karena kuda itu mampu berlari dengan cepat, secepat kedipan mata. Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga memiliki kuda yang digunakan untuk perlombaan. Namanya as-Sakbu (kuda yang berlari kencang bagaikan air yang mengalir). Dulu kuda ini miliki seorang Badui dan bernama adh-Dharsu (kuda yang sulit dikendalikan dan berkelakuan jelek). Kemudian Nabi mengubah namanya menjadi as-Sakbu. Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga memiliki beberapa kuda lainya yang diberi nama al-Wardu (kemerah-merahan), Sabhatun (kuda yang jalannya begitu kencang), dan yang lainnya. 

Hal yang sama juga Nabi Muhammad saw. lakukan kepada seperangkat alat perangnya. Diantaranya bendera yang digunakan Nabi Muhammad saw. untuk berperang yang diberi nama al-Uqab. Sementara untuk pedang, Nabi Muhammad saw. memiliki beberapa seperti Zul Fiqar, al-Mihzam (pemenggal), ar-Rusuub (tajam hingga bisa menembus daging), al-Battar (tajam), al-Qal’iy (benteng), al-Qadhiib (pemenggal), al-Adhab (tajam), dan al-Hatf (yang membuat binasa). Semuanya alat-alat perang Nabi Muhammad saw. dinamai dengan nama-nama yang indah dan bermakna.

Ada makna tertentu dibalik pemberian nama benda-benda tersebut dengan penamaan yang indah dan baik. Merujuk buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), penamaan seperangkat alat perang dengan nama khusus tersebut membuat benda-benda itu seakan-akan hidup dan menjadi teman setia Nabi Muhammad saw. setiap kali mengikuti peperangan. Nama-nama itu juga menunjukkan semangat keberanian dan tidak perlu ada yang ditakuti kecuali Allah.

Nabi Muhammad saw. yakin, nama-nama yang baik atau kalimat yang indah bisa dijadikan sarana untuk menumbuhkan semangat dan optimisme. Bahwa nama-nama baik tersebut bisa menjadi pendorong agar manusia berusaha lebih keras lagi. Sehingga apa yang diharapkan dan dicita-citakannya bisa terwujud.

Hal seperti itu pernah dialami Nabi Muhammad saw. ketika peristiwa di Hudaibiyah. Pada saat itu, baik pihak Nabi maupun pihak musyrik Makkah saling mengirim utusan untuk berunding. Pihak musyrik Makkah semula mengirim Budail bin Warqa al-Khuza’i, kemudian Urwah bin Mas’ud, kemudian al-Hullais bin Alqamah, dan kemudian Mukriz bin Hafsh. Semuanya tidak membuahkan hasil atau gagal.  

Selanjutnya, tokoh musyrik Makkah mengutus Suhail bin Amr untuk menemui Nabi Muhammad saw. Ketika mengetahui Suhail yang diutus, Nabi Muhammad saw. optimis akan ada titik temu antara pihak Muslim dan pihak musyrik Makkah. Beliau ‘mendasarkan’ atau 'mengaitkan' sikap optimismenya itu dengan nama Suhail –seakar dengan kata sahl- yang berarti mudah.

“Telah dipermudah (sahula) untuk kalian urusan kalian,” kata Nabi Muhammad saw. meyakinkan para sahabatnya, sebagaimana dikutip buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018).

Betul saja, setelah berunding panjang pihak Muslim dan pihak musyrik –yang diketuai Suhail bin Amr- akhirnya setuju dengan dicetuskannya Perjanjian Hudaibiyah (Shulhul Hudaibiyah). Sebuah perjanjian yang dinilai menguntungkan pihak musyrik dan merugikan umat Islam. Namun setelah mendengarkan penjelasan dari Nabi Muhammad saw., akhirnya sahabat yang keberatan dengan isi perjanjian itu mau menerima perjanjian itu meski dengan berat hati. 

“Bersabarlah dan ikhlaslah, karena Allah akan memberimu dan memberi orang-orang lemah jalan keluar,” kata Nabi Muhammad saw. 

Di tengah perjalanan balik ke Madinah, Nabi Muhammad saw. menerima wahyu dari Allah QS. al-Fath (kemenangan). Melalui perjanjian itu, Allah memberikan kemenangan yang nyata kepada umat Islam. Ternyata, butir-butir Perjanjian Hudaibiyah yang dinilai merugikan justru malah menguntungkan umat Islam nantinya. Begitulah Nabi Muhammad saw. yang seringkali menjadikan nama sesuatu yang baik atau kalimat yang indah sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap optimisme. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 30 April 2019 13:0 WIB
Lima Butir Perjanjian Hudaibiyah
Lima Butir Perjanjian Hudaibiyah
Ilustrasi.
Pada abad ke-6 Hijriyah, Nabi Muhammad saw. mengajak semua sahabatnya untuk melaksanakan umrah di Makkah. Setelah semua persiapan beres, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya –satu riwayat menyebut ada 1.400 orang- berangkat menuju ke Makkah pada hari Senin awal bulan Dzulqa’dah. Mereka tidak membawa senjata –kalaupun bawa tidak diperlihatkan, karena sesuai ajakan Nabi Muhammad saw., mereka ke Makkah untuk ibadah, bukan untuk berperang.

Namun, Nabi Muhammad saw. dan rombongan ‘dicegat’ kelompok musyrik Quraisy  Makkah ketika sampai di Hudaibiyah, sebuah wilayah yang terletak 20 kilometer dari Makkah. Mereka bertanya perihal maksud dan tujuan Nabi Muhammad saw. dan umatnya datang ke Makkah. Nabi Muhammad saw. menjawab dan meyakinkan bahwa tujuan mereka adalah untuk beribadah, bukan berperang.

Tokoh Makkah tidak langsung percaya dengan hal itu. Kemudian dikirimkanlah utusan untuk mengecek kebenarannya. Begitupun Nabi Muhammad saw. yang mengutus sahabatnya untuk meyakinkan para pemuka Makkah. Kedua belah pihak beberapa kali melakukan diplomasi, namun gagal. Hingga akhirnya pemuka Makkah mengirim Suhail bin Amr dan Mukriz dengan mandat penuh. Keduanya boleh membuat kesepakatan apapun dengan umat Islam, namun ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu Nabi Muhammad saw. dan rombongan umat Islam tidak boleh masuk Makkah. 

Setelah terjadi diskusi dan perundingan yang alot, kedua belah pihak akhirnya setuju untuk membuat kesepakatan bersama. Sebuah perjanjian yang disebut Shulhul Hudaibiyah (Perjanjian Hudaibiyah). Mengutip buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), ada lima butir Perjanjian Hudaibiyah. Berikut poin-poinnya:

Pertama, gencatan senjata selama 10 tahun. Tiada permusuhan dan tindakan buruk terhadap masing-masing dari kedua belah pihak selama masa tersebut. 

Kedua, siapa yang datang dari kaum musyrik kepada Nabi, tanpa izin keluarganya, harus dikembalikan ke Makkah, tetapi bila ada di antara kaum Muslim yang berbalik dan mendatangi kaum Musyrik, maka ia tidak akan dikembalikan.

Ketiga, diperkenankan siapa saja di antara suku-suku Arab untuk mengikat perjanjian damai dan menggabungkan diri kepada salah satu dari kedua pihak. Ketika itu, suku Khuza’ah menjalin kerja sama dan mengikat perjanjian pertahanan bersama dengan Nabi Muhammad saw. dan Bani Bakar memihak kaum musyrik.

Keempat, tahun ini Nabi Muhamamad saw. dan rombongan belum diperkenankan memasuki Makkah, tetapi tahun depan dan dengan syarat hanya bermukim tiga hari tanpa membawa senjata kecuali pedang yang tidak dihunus.

Kelima, perjanjian ini diikat atas dasar ketulusan dan kesediaan penuh untuk melaksanakannya, tanpa penipuan atau penyelewengan. 


Perjanjian itu disaksikan kedua belah pihak. Di pihak Muslim, ada Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq, Sayyidina Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Muhammad bin Salamah, dan Abdurrahman bin Suhail. Sayyidina Ali bin Abi Thalib bertugas sebagai sekretaris. Sementara di pihak kaum musyrik ada Suhail bin Amr dan Mikraz bin Hafzh. 

Beberapa sahabat –termasuk Sayyidina Umar bin Khattab dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib- keberatan dengan isi perjanjian tersebut, terutama butir kedua dan keempat. Namun setelah menerima penjelasan dari Nabi Muhammad saw., akhirnya mereka menerimanya meski dengan hati yang berat. 

Nabi Muhammad saw. dan rombongan umat Islam kemudian kembali ke Madinah setelah 19 atau 20 hari berada di Hudaibiyah. Sebelum balik ke Madinah, Nabi Muhammad saw. memerintahkan semua umat Islam yang ada dalam rombongan berihram dan bertakhallul (mencukur rambut). Kemudian dilanjutkan dengan menyembelih unta. Diriwayatkan, ada 70 ekor unta yang disembelih pada saat itu. (A Muchlishon Rochmat)