IMG-LOGO
Hikmah

Cara Rasulullah Mendidik Anak Kecil yang Membangkang

Kamis 2 Mei 2019 14:0 WIB
Share:
Cara Rasulullah Mendidik Anak Kecil yang Membangkang
Dalam kitab Sunan Abî Dawud, Imam Abu Dawud Sulaiman memasukkan sebuah riwayat menarik tentang Sayyidina Anas dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut riwayatnya:

قَالَ أَنَسٌ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَذْهَبُ وَفِي نَفْسِي أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, قَالَ: فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي السُّوقِ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَابِضٌ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقَالَ: يَا أُنَيْسُ اذْهَبْ حَيْثُ أَمَرْتُكَ, قُلْتُ: نَعَمْ أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, قَالَ أَنَسٌ: وَاللَّهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ سَبْعَ سِنِينَ أَوْ تِسْعَ سِنِينَ مَا عَلِمْتُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُ هَلَّا فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا

Anas bin Malik berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan pergi (mengerjakan perintahnya).’ Padahal diriku sebenarnya ingin pergi melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku.”

Anas berkata: “Lalu aku keluar (rumah). Aku melewati sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di pasar, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tengkukku dari belakang, aku melihat kepadanya, dan beliau sedang tertawa, kemudian berkata: “Wahai Anas, pergilah sebagaimana yang kuperintahkan padamu (tadi).” Aku menjawab: “Baik, aku akan pergi (melaksanakannya), ya Rasulullah.” 

Anas berkata: “Demi Allah, sudah tujuh atau sembilan tahun aku mengabdi kepadanya, aku tidak pernah (mendengarnya mengomentari) kesalahan yang kulakukan dalam mengerjakan sesuatu dengan berkata: “Kenapa kau melakukannya begini dan begini,” atau mengomentari (kelalaianku) melakukan sesuatu dengan berkata: “Kenapa kau tidak melakukan ini dan ini.” (Imam Abu Dawud, Sunan Abî Dawud, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, tt, juz 4, h. 246-247)

****

Sayyidina Anas bin Malik berasal dari suku Najjar, salah satu klan dari suku Khajraz di Yatsrib (Madinah). Ayahnya bernama Malik bin Nadhr meninggal sebelum memeluk Islam, kemudian ibunya, Ummu Sulaim, menikah lagi dengan Sayyidina Abu Thalhah al-Anshari, seorang sahabat nabi yang turut serta dalam Bai’at al-‘Aqabah yang kedua. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, banyak orang yang memberinya hadiah, tapi Ummu Sulaim tidak mampu mengupayakan itu. Dalam salah satu riwayat diceritakan (HR. Imam al-Turmudzi):

قدم رسول الله المدينة وأنا ابن ثمان سنين، فأخذت أمي بيدي، فانطلقت بي إليه، فقالت: يا رسول الله, لم يبق رجل ولا امرأة من الأنصار إلا وقد أتحفك بتحفة، وإني لا أقدر على ما أتحفك به إلا ابني هذا، فخذه، فليخدمك ما بدا لك, قال: فخدمته عشر سنين، فما ضربني، ولا سبني، ولا عبس في وجهي

“Rasulullah datang ke Madinah saat aku berusia delapan tahun, kemudian ibuku menggandeng tanganku dan membawaku pada Rasulullah, ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidak seorang laki-laki dan perempuan pun dari kaum Anshar yang datang kepadamu kecuali memberi hadiah untukmu, sedang aku tidak mampu memberimu hadiah kecuali anakku ini. Ambillah, agar ia bisa melayanimu.” Anas berkata: “Aku mengabdi pada Rasulullah sepuluh tahun lamanya, tidak pernah sekalipun beliau memukul, mencaci atau berwajam masam kepadaku.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2001, juz 3, h. 399)

Riwayat ini menunjukkan bahwa Sayyidina Anas adalah anak kecil yang memiliki dunianya sendiri, gemar bermain dan bersenang-senang. Andaipun disuruh melakukan sesuatu, tanpa segan ia mengatakan, “tidak”, meski yang menyuruhnya adalah Rasulullah. Ini bukan hal yang aneh, karena begitulah anak kecil. Yang menarik di sini adalah cara bersikap Rasulullah. Mendengar kalimat, “aku tidak akan pergi melakukannya,” beliau tidak menampakkan kemarahan, berwajah masam dan menghardiknya dengan keras, tapi meninggalkannya. Baru kemudian, ketika beliau menjumpai Sayyidina Anas di pasar, beliau memegang tungkuknya dan berkata, “Wahai Anas, pergilah sebagaimana yang kuperintahkan padamu (tadi).”

Dan Sayyidina Anas menjawab, “Baik, aku akan pergi (melaksanakannya), ya Rasulullah.” Ini menarik, karena Rasulullah tidak bertanya, “apa kau sudah melaksanakan perintahku?” Jika Rasulullah menanyakan itu, bisa jadi Sayyidina Anas bingung menjawabnya, karena ia belum melakukannya, bisa saja pertanyaan semacam itu membuatnya terpojok dan akhirnya berbohong. Karena itu, Rasulullah menggunakan pendekatan teladan yang baik dan mudah dimengerti oleh anak kecil, didukung dengan wajah beliau yang sama sekali tidak menunjukkan kemarahan, malah tertawa lepas tanpa beban.

Hal menarik lainnya adalah jeda yang diberikan Rasulullah. Ketika perintahnya ditolak Sayyidina Anas, beliau memberinya ruang agar ia tidak merasa ditekan. Anak kecil tentunya berbeda dengan orang dewasa. Bagi anak kecil, ancaman dirasakan sebagai tekanan, karena fitrahnya memang suka bermain-main. Karena itu, selama sepuluh tahun melayaninya, Rasulullah tidak pernah sekalipun berkata kasar dan menyalahkannya. Sayyidina Anas bercerita (HR. Imam Ahmad):

خدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَمَا كُلُّ أَمْرِي كَمَا يُحِبُّ صَاحِبِي أَنْ يَكُونَ مَا قَالَ لِي فِيهَا أُفٍّ وَلَا قَالَ لِي لِمَ فَعَلْتَ هَذَا وَأَلَّا فَعَلْتَ هَذَا

“Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Tidak semua pekerjaanku sesuai dengan perintah beliau, (tapi) beliau tidak pernah berkata kepadaku (karena ketidak-becusanku) “ah/dasar”, dan tidak pernah (juga) berkata padaku, “kenapa kau lakukan ini?” dan “kenapa tidak kau lakukan (seperti) ini?”

Artinya, Rasulullah sedang mendidik Sayyidina Anas dengan keteladanan, sehingga kesan yang ditangkap olehnya adalah kelembutan pekerti dan kemuliaan akhlak. Sikap Rasulullah inilah yang menumbuhkan rasa tidak enak hati secara alami dalam perasaan Sayyidina Anas. Karena selama bertahun-tahun bersama Rasulullah, ia tidak pernah merasa dipertentangkan dengan keadaan yang membuatnya berbohong, dan dibandingkan dengan anak kecil lainnya hingga menimbulkan perasaan kurang dihargai. Sikap Rasulullah ini menunjukkan bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang tidak bisa dipandang secara menyeluruh dengan perspektif orang dewasa. 

Karena itu, Rasulullah memperlakukan Sayyidina Anas sebagai anak kecil, bukan sebagai orang dewasa, sehingga apapun kesalahan yang dilakukannya, ia tidak menyalahkannya, tapi memberinya contoh yang benar. Nasihat dan kata-kata memang berarti, tapi bagi anak-anak, contoh keteladanan jauh lebih terasa artinya. Ini bisa dilihat dari sekian banyak riwayat yang menceritakan bagaimana Rasulullah bergaul dengan anak kecil, baik cucunya sendiri, maupun orang lain, termasuk Sayyidina Anas.

Pada akhirnya, Sayyidina Anas bin Malik menjadi maha guru. Ia meriwayatkan ribuan hadits, memiliki banyak murid, dan menjadi penjaga ilmu. Menurut satu pendapat, ia meriwayatkan sekitar 2.286 hadits, dengan murid yang sangat banyak. Ia memiliki banyak anak dan umur yang panjang, sebagaimana doa Rasulullah untuknya, saat ibunya meminta Rasulullah mendoakannya, “allahumma aktsir mâlahu wa waladahu wa athil ‘umrahu waghfir dzanbahu—Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, panjangkanlah umurnya, dan ampunilah dosanya.” (Imam Ibnu al-Jauziy, Shifat al-Shafwah, Kairo: Darul Hadits, 2000, juz 1, h. 278)

Sayyidina Anas bin Malik wafat di usia yang sangat tua karena penyakit kusta. Mengenai di usia berapa ia meninggal, para ulama berbeda pendapat. Abu Ubaid, Qatadah, Hamid dan al-Haitsam bin ‘Adi berpendapat Anas meninggal di usia 91 tahun; al-Waqidi berpendapat di usia 92 tahun; Ibnu ‘Aliyah, Sa’id bin ‘Amir, dan Abu Nu’aim berpendapat di usia 93 tahun; pendapat lainnya mengatakan di usia 103 atau 107 tahun (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, 2001, juz 3, h. 406-407).

Intinya, kita harus memperlakukan anak kecil sebagai anak kecil. Jangan paksakan padangan orang dewasa kepada mereka. Karena standar kebenaran anak kecil, belum semapan orang dewasa. Kebenaran bagi mereka masih berganti-ganti, sesuai selera kesenangan mereka. Di samping itu, kita juga harus mengedepankan keteladanan dalam bergaul dengan mereka. Nasihat dan penjelasan tetap harus dilakukan, tapi keteladanan tak bisa ditinggalkan. Bukankah demikian seharusnya? Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.


Share:
Selasa 30 April 2019 22:30 WIB
Kisah Liang Kubur Bicara saat Sayyidah Fatimah Dimakamkan
Kisah Liang Kubur Bicara saat Sayyidah Fatimah Dimakamkan
Dikisahkan bahwa saat Sayyidah Fatimah Az-Zahra wafat, jenazah putri kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu diusung oleh empat orang-orang saleh, yaitu suaminya sendiri Sayyidina Ali, kedua putranya Hasan dan Husain, serta sahabat Abu Dzar al-Ghifari.

Ketika Jenazah Sayyidah Fatimah sudah tiba di samping liang kubur dan siap dikebumikan, Abu Dzar al-Ghifari langsung berkata kepada liang kubur yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Sayyidah Fatimah.

"Wahai kubur, apakah kamu tahu jenazah siapa yang kami bawakan kepadamu?" ucap Abu Dzar al-Ghifari.

Tanpa panjang lebar Abu Dzar al-Ghifari pun melanjutkan ucapannya.

"Ini adalah jenazah Sayyidah Fatimah, putri Rasulullah, istrinya Sayyidina Ali, dan Ibunda Hasan dan Husain," tegas Abu Dzar.

Tidak lama kemudian orang-orang yang mengantar jenazah Sayyidah Fatimah langsung mendengar suara dari dalam kubur:

"Aku bukanlah tempat bagi keturunan orang terhormat, bukan pula tempat bagi keturunan orang kaya. Aku adalah tempat amal saleh, maka tidak akan selamat dariku kecuali orang yang banyak berbuat kebaikan, orang yang hatinya bersih dan orang yang ikhlash dalam beramal.
Kisah ini dikutip dari Durratun Nashihin fil Wa'dzi wal Irsyadi karya Syekh Utsman bin Hasan Al-Khaubawi (Semarang: Toha Putra, tt, hal. 146-147). Hikmah yang bisa dipetik adalah bahwa yang akan menyelematkan kita di alam kubur dan di akhirat kelak bukanlah karena faktor keturunan, melainkan karena amal saleh. Jangankan kita manusia biasa, Sayyidah Fatimah binti Rasulullah pun ketika akan memasuki alam kubur tetap harus melewati prosedur yang telah ditetapkan.

Cerita tersebut kian menegaskan firman Allah bahwa sesungguhnya yang paling mulia di sisi-Nya adalah mereka yang paling bertakwa (QS al-Hujrat:13). Artinya, standar kemuliaan ditentukan oleh kualitas pribadi dalam hal ketakwaan, bukan oleh nasab atau kekayaan.

Soal keadilan ini pun berlaku pada tataran sosial. Rasulullah menolak diskriminasi dengan alasan strata sosial dan ekonomi atau faktor keturunan. Tak heran, saat Rasulullah mendapati para sahabatnya canggung menghukum seorang pencuri dari subklan Bani Makhzum lantaran kebangsawanannya, beliau berdiri dan berpidato di depan khalayak:

"Sungguh orang-orang sebelum kalian hancur lantaran apabila ada bangsawan mencuri, dibiarkan; sementara apabila ada kaum lemah mencuri, dihukum. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya." Demikian diriwayatkan Imam Muslim.

Wallahu a’lam.

(Aiz Luthfi)

Senin 29 April 2019 18:0 WIB
Antara Bakti kepada Sang Ibu dan Punya Istri Muda
Antara Bakti kepada Sang Ibu dan Punya Istri Muda
Ilustrasi (BBC)
Pagi itu Pak Fulan dipanggil ibunya – sebut saja Bu Basuki.  Ada persoalan penting yang akan dibicarakan sang ibu bersama  Pak Fulan sehubungan aduan istri Pak Fulan dan anak-anaknya bahwa Pak Fulan telah memiliki istri muda.  Sang ibu sangat sedih mendengar aduan itu karena berpengaruh langsung terhadap kebahagiaan cucu-cucunya serta seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan  mereka.

“Kemarin istri dan anak-anakmu datang kemari. Mereka menangis sesunggukan mengapa kamu diam-diam menikah lagi. Benar kamu menikah lagi?” tanya Bu Basuki kepada Pak Fulan yang seorang saudagar kaya raya itu. 

“Benar, Bu,” jawab Pak Fulan jujur. 

“Aku memanggilmu kemari  bukan untuk mengajakmu berdebat soal apa hukum poligami. Terus terang, di antara semua anakku, aku menilai kamu adalah anak paling berbakti. Tapi aku sangat sedih kamu punya istri lagi. Sebagai sesama perempuan aku bisa merasakan betapa hancur hati istrimu. Sebagai seorang nenek, aku tak tega melihat cucu-cucuku menangis meratapi nasib ibunya yang dimadu.”

Pak Fulan diam seribu bahasa. Ia memang tak terbiasa membantah kata-kata ibunya. Apa yang diperintahkan ibunya ia jalankan, dan apa yang dilarangnya ia tinggalkan. Bakti Pak Fulan kepada ibunya tak ada yang meragukan. Semua orang tahu itu. Mungkin berkat itulah, Pak Fulan selalu sukses dalam setiap bisnisnya. 

“Saya mohon maaf Bu atas pernikahan kami yang kedua secara diam-diam,” kata Pak Fulan pelan sambil menundukkan kepala. 

“Tidak cukup kamu minta maaf. Kamu juga harus menceraikan istri mudamu,” jawab Bu Basuki tegas. 

“Tetapi kamu tidak boleh menceraikannya begitu saja. Kamu harus memberikan kompensasi yang pantas agar ia tetap memiliki masa depan yang baik. Aku juga perempuan dan bisa membayangkan betapa sakitnya dicerai. Tapi menurutku, itu risiko perempuan mau dijadikan istri kedua.” 

Beberapa hari kemudian Pak Fulan benar-benar menceraikan istri mudanya yang dinikahinya setahun silam dan belum dikaruniai seorang anak. Mereka telah menyepakati perceraian itu dengan kompensasi yang pantas sebagaimana pesan Bu Basuki. Mantan istri muda Pak Fulan mendapatkan rumah indah yang ia tinggali selama ini beserta seluruh isinya, termasuk sebuah mobil baru. Tidak hanya itu ia juga menerima sejumlah uang yang cukup besar untuk membuka sebuah usaha.  Ia optimistis menatap masa depannya. Ia masih muda. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

Senin 29 April 2019 12:0 WIB
Ketika Imam at-Thabari Sedih atas Rendahnya Minat Baca
Ketika Imam at-Thabari Sedih atas Rendahnya Minat Baca
Dalam kitab Thabaqât al-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Imam Tajuddin Abdul Wahhab al-Subki mencantumkan sebuah riwayat gundahnya Imam at-Thabari tentang rendahnya minat baca. Berikut riwayatnya:

وروى أَن أَبَا جَعْفَر قَالَ لأَصْحَابه: أتنشطون لتفسير الْقُرْآن قَالُوا كم يكون قدره فَقَالَ ثَلَاثُونَ ألف ورقة فَقَالُوا هَذَا مِمَّا تفنى الْأَعْمَار قبل تَمَامه, فَاخْتَصَرَهُ فى نَحْو ثَلَاثَة آلَاف ورقة
ثمَّ قَالَ: هَل تنشطون لتاريخ الْعَالم من آدم إِلَى وقتنا هَذَا, قَالُوا كم قدره, فَذكر نَحوا مِمَّا ذكره فى التَّفْسِير, فأجوبوه بِمثل ذَلِك فَقَالَ إِنَّا لله مَاتَت الهمم فَاخْتَصَرَهُ فى نَحْو مَا اختصر التَّفْسِير

Diriwayatkan bahwa Abu Ja’far (at-Thabari) berkata pada teman-temannya: “Apakah kalian senang (mempelajari) tafsir Al-Qur’an?” Mereka menjawab: “Berapa (lembar) kira-kira (tebal)nya?” Abu Ja’far berkata: “Tiga puluh ribu lembar.” Mereka berkata: “Ini akan mengabiskan usia sebelum selesai (membaca)nya.” Maka Abu Ja’far meringkas kitab tafsirnya sekitar tiga ribu lembar saja.

Kemudian ia bertanya (lagi): “Apakah kalian senang (mempelajari) sejarah dunia dari mulai Adam sampai masa kita sekarang ini?”  Mereka menjawab: “Berapa (lembar) kira-kira (tebal)nya?” Abu Ja’far menyebut hampir sama dengan kitab tafsir tadi. Maka jawaban mereka sama persis dengan pertanyaan pertama. Kemudian Abu Ja’far berkata: “Innâ lillâhi, semangat (benar-benar) telah mati.” Maka at-Thabari meringkas kitab sejarahnya sesuai dengan (jumlah halaman) kitab tafsirnya. (Imam Tajuddin al-Subki, Thabaqât al-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Kairo: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, tt, juz 3, h. 123)

****

Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari (224-310 H) adalah seorang mujathid (pendiri mazhab Jariri), mufassir, muhaddits, sejarahwan, ahli fiqih dan cukup menguasai ilmu kedokteran. Ia menulis banyak kitab, sebut saja Tahdzîb al-Atsâr, al-Tabshîrah fî Ma’âlim al-Dîn, Ikhtilâf al-‘Ulamâ’ al-Amshâr fî Ahkâm Syarâ’i’ al-Islâm, al-Fashl bain al-Qirâ’ât, Sharîh al-Sunnah, dan lain sebagainya. 

Di antara kitab-kitabnya, yang paling terkenal adalah Tarîkh al-Umam wa al-Mulûk (Tarîkh at-Thabari, kitab sejarah) dan Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Ayyi al-Qur’ân (Tafsîr at-Thabari, kitab tafsir). Dua kitab inilah yang ditanyakan Imam at-Thabari kepada teman-temannya, tapi jawaban mereka membuatnya mengernyitkan dahi. Hal pertama yang mereka tanyakan adalah seberapa tebal dua kitab itu, bukan pertanyaan ‘seperti apa isinya’, ‘bagaimana metodologi penyusunannya’, atau ‘kenapa penting membacanya’. Tentu saja jawaban mereka membuat Imam at-Thabari kecewa, sampai ia mengatakan, “innâ lillâhi! mâtat al-himam—sungguh kita adalah milik Allah! Semangat benar-benar telah hilang.” Akhirnya, ia memutuskan untuk meringkas dua kitab itu, dan ringkasan itulah yang sampai pada kita sekarang ini.

Bayangkan saja, jika Imam at-Thabari tidak meringkas dua kitab itu, kita akan disuguhi data yang kaya dan melimpah. Wawasan kita tentang tafsir akan bertambah. Informasi kita tentang sejarah akan semakin luas. Kitab yang sampai kepada kita sekarang ini hanya sepuluh persennya saja, tiga ribu lembar dari tiga puluh ribu. Memang sih, tiga ribu halaman sudah cukup berat untuk dibaca, bahkan mungkin kita tidak pernah membacanya sama sekali.

Apalagi sekarang ini, kita berada di masa yang membingungkan. Maksudnya, minat komentar kita lebih besar dari minat baca kita; minat share kita lebih tinggi dari minat meneliti kita; minat menghakimi kita lebih unggul dari minat memahami kita. Jadi, ya ada hikmahnya juga sih Imam at-Thabari meringkas kitabnya, jika tidak, mungkin puluhan ribu halaman itu sekadar tulisan yang tak pernah bertemu mata. Bisa jadi hanya menjadi beban penerbit karena biaya yang dikeluarkan terlalu besar untuk mencetaknya.

Tentunya kita semua tahu, menuntut ilmu hukumnya wajib, dan membaca adalah pintu masuknya. Banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menekankan ini. Rasulullah bersabda (HR. Imam al-Bukhari dan Imam al-Muslim):

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ  أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan (hal-hal yang berkaitan) dunia, maka ia harus (menguasai) ilmu(nya). Barangsiapa yang menginginkan (hal-hal yang berkaitan) akhirat, maka ia harus (menguasai) ilmu(nya). Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka ia harus (menguasai) ilmu(nya).”

Maka dari itu, kita harus mulai menggemarkan diri membaca. Dengan membaca, kita diakrabkan dengan banyak pikiran, sudut pandang dan wawasan. Rene Descrates berkata, “The reading of all good books is like a conversation with the finest minds of past centuries—membaca buku-buku bagus seperti berbincang dengan pikiran terbaik dari masa lalu.” Sebab, dalam buku terdapat banyak misteri, seperti berpetualang dalam hutan, setiap kali kita memasukinya, setiap kali itu pula kita menemukan fenomena baru, pengalaman baru, tempat baru dan suasana baru. Imam al-Muzani mengatakan:

قرأت كتاب الرسالة للشافعي خمسمائة مرة، ما من مرة منها إلا واستفدت فائدة جديدة لم أستفدها في الأخرى

“Aku sudah membaca kitab al-Risalah karya Imam Syafi’i lima ratus kali, setiap kali membacanya, aku menemukan faidah baru (ilmu baru) yang tidak kutemukan (di saat membacanya) di waktu lain.” (Syekh Abdul Halim al-Jundi, Imâm al-Syâfi’i: Nâshir al-Sunnah wa Wâdli’ al-Ushûl, Kairo: Darul Ma’arif, tt, h. 195)

Dengan banyak membaca buku, dan menelaah isinya dengan sungguh-sungguh, kita sedang melakukan proses pendewasaan pikiran, perspektif dan wawasan. Buku adalah pintu masuk pengetahuan sekaligus pintu keluar pengalaman. Artinya, memilih bacaan tak kalah pentingnya dari membaca. Jika sekadar membaca, orang-orang sudah melakukannya dengan membaca status di media sosial dan membuat status agar dibaca orang. 

Karena itu, kita perlu belajar pada Malcolm X, seorang pelaku kriminal yang tidak berpendidikan. Ia, tiba-tiba saja, berubah menjadi orator ulung, ahli diskusi luar biasa, dan intelektual mumpuni. Ia menjadi tokoh Islam yang berpengaruh karena kegemarannya membaca dan belajar. Ia mengatakan, “My alma mater was books, a good library. I could spend the rest of my life reading, just satisfying my curiosity—almamaterku adalah buku, (dan) perpustakaan yang bagus. Aku bisa menghabiskan sisi hidupku membaca, hanya untuk memuaskan keingin-tahuanku.” Jadi, tunggu apa lagi, ayo membaca!

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.