IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Pernah Keluar dari Surga, Bagaimana soal Kemaksuman Nabi Adam?

Jumat 3 Mei 2019 13:0 WIB
Share:
Pernah Keluar dari Surga, Bagaimana soal Kemaksuman Nabi Adam?
Dalam kitab ‘Ishmah al-Anbiyâ’, terdapat pembahasan menarik soal kemaksuman para nabi. Imam Fakhruddin al-Razi (544-606 H) mengumpulkan berbagai pendapat yang ia sebut “syubhat”, karena mempertanyakan kemaksuman para nabi, terkhusus Nabi Adam ‘alaihissalam. Salah satu kelompok yang berpendapat demikian adalah sebagian kecil dari sekte Khawarij dan Rafidah. Imam Fakhruddin al-Razi menulis:

واجتمعت الأمة علي أن الأنبياء معصومون عن الكفر والبدعة إلا الفُضَيْلية من الخوارج فإنهم يجوزون الكفر علي الأنبياء عليهم الصلاة والسلام, وذلك لأن عندهم يجوز صدور الذنوب عنهم, وكل ذنب فهو كفر عندهم, فبهذا الطريق جوزوا صدور الكفر عنهم, والروافض فإنهم يجوزون عليهم إظهار كلمة الكفر علي سبيل التقية

“Umat Islam telah sepakat bahwa para nabi terjaga dari kekufuran dan bid’ah kecuali kelompok kecil dari Khawarij. Mereka berpendapat para nabi bisa saja melakukan kekufuran, (alasan pendapat) tersebut adalah, karena para nabi dapat melakukan dosa. Bagi kelompok ini, setiap dosa adalah kekufuran. Dengan cara berpikir (semacam ini), maka kekufuran bisa terjadi pada para nabi, sementara kelompok Rafidah berpendapat bahwa para nabi boleh menampakkan ucapan kekufuran dalam rangka taqiyah.” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, Kairo: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, 1986, h. 39)

Dua kelompok di atas ini sekadar contoh saja. Sebenarnya banyak kelompok lain yang memiliki pendapat sama meski dalam kerangka berbeda. Fokus pembahasan kali ini hanya pada kemaksuman Nabi Adam agar tidak melebar terlalu jauh. Perihal kemaksuman Nabi Adam, penentangan mereka berdasarkan enam aspek sebagai landasan argumentasinya. Pertama, Adam adalah orang yang durhaka berdasarkan firman Allah (QS. Thâhâ: 121): “wa ‘ashâ adamu rabbahu faghawâ—dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia.” Kedua, “annahu tâ’ib wal tâ’ib mudznib—Adam bertaubat, dan orang yang bertaubat adalah pendosa,” sebagaimana firman Allah (QS. Thâhâ: 121): “Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 49)

Ketiga, “annahu irtikabal manhâ ‘anhu—Adam telah melanggar larangan,” sebagaimana firman Allah (QS. Al-A’raf: 22): “Bukankah telah kularang kamu berdua dari pohon kayu itu.” Keempat, “annahu ta’âlâ sammâhu dhâliman—Allah menamakan Adam sebagai orang zalim,” dalam firman-Nya (QS. Al-Baqarah: 35): “Yang menyebabkanmu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” Kelima, “annahu i’tarafa bi annahu lawlâ maghfiratullah ta’âlâ lahu lakâna khâsiran—Adam mengakui jika bukan karena ampunan Allah untuknya, ia termasuk orang yang merugi,” dalam firmanNya (QS. Al-A’raf: 23): “Dan jika Kau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” Keenam, “annahu akhraja minal jannah bi sababi waswasatis syaitân—Adam dikeluarkan dari surga karena mengikuti bisikan syaitan.” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 49-50)

Menanggapi pendapat-pendapa di atas, Imam Fakruddin al-Razi mengatakan, “anna dzalika kâna qablan nubuwwah, falâ yakûnu wâridan ‘alaina—sesungguhnya semua rangkain tersebut terjadi sebelum masa kenabian, maka tidak bisa diterapkan pada kita semua.” (Imam Fakruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 50). Karena Nabi Adam adalah manusia pertama yang beriman kepada Allah secara langsung, sehingga belum mempunyai objek dakwahnya sebagai nabi. Jadi, menurut Imam Fakhruddin al-Razi, enam argumentasi di atas tidak bisa diterapkan atau dijadikan dalil untuk mempertanyakan konsep kemaksuman, terkhusus kemaksuman Nabi Adam.

Meski demikian, menggunakan standar logika yang sama, ia mengurai satu persatu enam argumentasi tersebut. Secara singkat dapat dirangkum sebagai berikut:

Pertama, mereka berkata, “al-ma’shiyyah mukhâlafatul amr—kemaksiatan adalah menyalahi perintah,” tapi “amr” (perintah) tidak melulu berarti kewajiban, bisa jadi sekadar sunnah atau anjuran. Karena itu, menurutnya, kedurhakaan tidak bisa disandangkan kepada Nabi Adam, sebab dalam skema logika ini, Nabi Adam hanya meninggalkan anjuran, bukan kewajiban. Kedua, mereka berkata, “annahu tâ’ib—Adam melakukan taubat.” Harus dipahami bahwa taubat tidak disyaratkan harus berdosa terelebih dahulu, bahkan bagi ulama yang meyakini kemaksuman secara mutlak, bahwa sebaik-baiknya taubat dilakukan tanpa harus berdosa terlebih dahulu. Dalilnya adalah riwayat doa, “allahummaj’alnâ minat tawwâbîn—ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang bertaubat.” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 50-52).

Ketiga, mereka berkata, “fahuwa irtikâb al-manhâ—Adam melanggar larangan.” Imam Fakhruddin al-Razi berpendapat bahwa larangan tidak hanya mengarah pada pengharaman saja, tapi juga “musytarak bainat tahrîm wat tanzîh—gabungan antara pengharaman dan pensucian.” Artinya, sisi meninggalkan (melakukan sesuatu) lebih diberatkan dari mengerjakan sesuatu. Imam al-Razi menerima bahwa larangan lebih sering mengarah pada pengharaman. Hanya saja, jika menggunakan dasar logika mereka, bisa saja dikatakan Nabi Adam melakukannya dalam keadaan lupa, sebagaimana firman Allah (QS. Thâhâ: 115: “’azman lahû najid wa lam fanasiya—maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.” Karena itu, ia tidak berdosa karena taklif (beban agama) diangkat dari orang yang lupa. (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 52).

Keempat, mereka mengatakan, “annallaha ta’âlâ sammâhu dhâliman—Allah ta’ala menyebutnya sebagai orang zalim.” Dalam pandangan orang-orang yang memegang teguh kemaksuman para nabi, zalim tidak melulu orang yang melakukan dosa. Bagi mereka, “anna tarkal awlâ dhulmun—meninggalkan perbuatan yang utama adalah zalim.” Karena ia telah menyampingkan dirinya sendiri dari melakukan perbuatan utama yang mendatangkan pahala. Orang tersebut, menurut mereka, laik disebut orang yang zalim terhadap dirinya sendiri. Sebab, menurut mereka, “li anna haqîqatal dhulmi wadl’usy syai’ fî ghairi maudli’ihi—hakikat zalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.” (Imam Fakruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 53).

Kelima, jawabannya sudah tergambar dari rangkain jawaban sebelumnya, terutama soal meninggalkan perbuatan yang utama. Keenam, jawaban argumentasi ini tidak ada dalam ayat (annahu laisa fîl âyah), kata Imam al-Razi. Baginya, keluarnya Adam dari surga bukan karena mengikuti bisikan setan, tapi keberaniannya melakukan perbuatan tersebut. Ia mendasarkan argumentasinya pada rencana Allah menciptakan khalifah di muka bumi sebelum menciptakan Adam. Jika tujuan utama penciptaan Adam adalah menjadi khalifah di muka bumi, bagaimana bisa ada orang yang mengatakan, “innahu waqa’a dzalika ‘uqubah was tikhfâfan—keluarnya Adam sebagai bentuk realisasi hukuman dan peremehan(nya atas ketetapan Allah).” (Imam Fakhruddin al-Razi, ‘Ishmah al-Anbiyâ’, 1986, h. 53-54).

Itulah sebagian uraian singkat perihal kemaksuman Nabi Adam. Sebenarnya masih banyak argumentasi yang diajukan kelompok penentang kemaksuman, dan banyak juga uraian yang diberikan Imam Fakhruddin al-Razi. Yang ditampilkan di sini sekadar rangkuman singkat yang mengambil garis lurusnya saja. Karena pada dasarnya, inti dari bantahan Imam Fakhruddin al-Razi terletak pada pernyataan awalnya, bahwa semua rangkaian perbuatan Nabi Adam terjadi sebelum adanya masa kenabian, sehingga enam argumentasi tersebut tidak bisa diterapkan padanya. Di samping itu, Adam bukan rasul pertama yang diutus Allah untuk umat manusia. Dalam salah satu riwayat (HR. Imam al-Bukhari) diceritakan, ketika orang-orang mukmin berkumpul pada hari kiamat, mereka mendatangi Adam dan meminta syafaatnya. Adam menjawab bahwa ia tidak berhak memberikan syafaat karena telah melakukan kesalahan, kemudian ia berkata:

وَلَكِنِ ائْتُوا نُوحًا، فَإِنَّهُ أَوَّلُ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ

“Tetapi datanglah pada Nuh, karena sesungguhnya dia adalah rasul pertama yang diutus Allah kepada penduduk bumi.” (HR. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim)

Meski demikian, Imam Fakhruddin al-Razi tetap mengurai satu persatu dari enam argumentasi tersebut, dengan menggunakan pendekatan yang kurang lebih sama dengan mereka. Paling tidak, uraiannya dapat memberikan gambaran singkat dari sudut pandang yang lain.

Selain itu, jika poin enam dari uraian Imam al-Razi diperlebar, keluarnya Adam dari surga memang sudah ditetapkan, karena Allah ingin menempatkan khalifah-Nya di muka bumi. Jika Adam tetap di surga, ia tidak bertemu dengan maksud penciptaannya. Menurut Syekh Ahmad Sam’ani dalam Rauh al-Arwâh fi Syarh Asmâ’ al-Mulk al-Fattâh, Adam diturunkan dari surga bukan karena kesalahannya. Andaipun ia tidak berbuat salah, ia tetap akan diturunkan. 

Artinya, bisa jadi seluruh rangkain kejadian tersebut adalah pertunjukan keteladanan sebagai percontohan agar manusia menjadi makhluk yang baik (khalifatullah fil ardl). Keteladanan membutuhkan contoh, dan sudah sepantasnya manusia pertama memberikan contohnya. Sepanjang hidupnya, bisa dikatakan, ia telah mengalami segalanya. Bercengkerama langsung dengan Tuhannya; mendapatkan pelajaran dari-Nya; menikmati keindahan surga-Nya; merasai cinta kepada sesamanya (Hawa); mendapatkan kehormatan dari makhluk lainnya (disujudi); ditentang makhluk lainnya (Iblis); mengalami cinta pada Tuhannya; mengalami rasa bersalah pada Tuhannya (memohon ampun); menggoda istrinya; tergoda oleh selainnya; terlempar dari surga; merasakan nikmatnya diampuni; merasakan perpisahan panjang dari kekasihnya; memiliki anak yang baik sekaligus yang buruk; mengalami kematian anaknya; berhadapan dengan anaknya yang saling membunuh; dan seterusnya. Seakan-akan, kehidupan Adam adalah gambaran dari berbagai keadaan yang akan dialami manusia, dan berbagai watak yang melingkupinya.

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesasntren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Tags:
Share:
Sabtu 27 April 2019 15:0 WIB
Definisi Umat Islam dalam Kitab ‘al-Farq bain al-Firaq’
Definisi Umat Islam dalam Kitab ‘al-Farq bain al-Firaq’
Kitab al-Farq bain al-Firaq ditulis oleh ulama bermazhab Asy’ari dalam aqidah, dan Syafi’i dalam fiqih, bernama Abu Manshur Abdul Qahir al-Baghdadi (w. 429 H), berisi tentang penjelasan doktrinal berbagai sekte dalam Islam. Ditulis sebagai uraian terhadap hadits yang berbicara soal terpecahnya umat Islam dalam tujuh puluh tiga firqah (sekte), dan hanya satu yang selamat. Kitab ini menjabarkan semua sekte yang berkembang pada saat itu disertai dengan penjelasan tentang keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah yang benar.

Dalam salah satu babnya, kitab ini secara spesifik membahas “siapa umat Islam” atau “siapa orang yang bisa diberi predikat Muslim.” Imam Abdul Qahir al-Baghdadi mengatakan, terjadi perbedaan pendapat mengenai siapa yang secara umum bisa disebut beragama Islam. Ia mengutip banyak pendapat dari berbagai sekte, diawali dengan pendapat Abu al-Qasim al-Ka’bi (273-319 H), salah satu ulama Mu’tazilah yang pandangannya tentang tauhid banyak berbeda dengan pandangan umum Mu’tazilah, pengikutnya biasa disebut “al-Ka’biyyah.” Abu al-Qasim al-Ka’bi berkata:

أَن قَول الْقَائِل أمة الاسلام تقع على كل مقرّ بنبوة مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وان كل مَا جَاءَ بِهِ حق 

“Sesungguhnya perkataan umat Islam merujuk pada setiap orang yang mengakui (mengikrarkan) kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan (meyakini) setiap yang datang darinya adalah kebenaran.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, Kairo: Maktabah Ibnu Sina, tt, h. 29)

Pandangan lain dikemukakan oleh kelompok “al-Karrâmiyyah”, sebuah sekte mujassimah Khurasan. Namanya dinisbatkan pada pendirinya Muhammad bin Karrâm. Kelompok “al-Karrâmiyyah” terpecah menjadi tiga golongan: Haqâ’iqiyyah, Tharâ’iqiyyah, dan Ishâqiyyah. Ketiga golongan ini tidak saling mengafirkan satu sama lain, tapi mereka memvonis kafir seluruh umat Islam yang di luar sektenya. Mereka berkata:

أَن امة الاسلام جَامِعَة لكل من أقرّ بشهادتي الاسلام لفظا وَقَالُوا كل من قَالَ لَا اله الا الله مُحَمَّد رَسُول الله فَهُوَ مُؤمن حَقًا وَهُوَ من أهل مِلَّة الاسلام سَوَاء كَانَ مخلصا فِيهِ أَو منافقا مُضْمر الْكفْر فِيهِ والزندقة وَلِهَذَا زَعَمُوا أَن الْمُنَافِقين فِي عهد رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم كَانُوا مُؤمنين حَقًا وَكَانَ ايمانهم كايمان جِبْرِيل وميكائيل والانبياء وَالْمَلَائِكَة مَعَ اعْتِقَادهم النِّفَاق وَإِظْهَار الشَّهَادَتَيْنِ

“Sesungguhnya umat Islam adalah komunitas untuk setiap orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat dengan ucapan.’ Mereka (juga) mengatakan: ‘setiap orang yang mengucapkan, ‘tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah’, dia adalah orang yang beriman secara hakiki, dan termasuk pemeluk agama Islam, entah dia orang yang tulus dalam (memeluk)nya atau seorang munafik yang menyembunyikan kekufurannya, serta zindiq.’ Mereka berpendapat, ‘orang-orang munafik di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang beriman secara hakiki. Iman mereka seperti imannya Jibril, Mikail, para nabi dan para malikat, yang keimanannya dibarengi kemunafikan dan menampakkan (pengikraran) dua syahadat.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 29)

Pendapat ini, menurut Imam Abdul Qahir al-Baghdadi terbantahkan oleh pendapat yang dikemukakan kalangan ‘Iswiyyah, sekte Yahudi Isfahan, yang didirikan oleh Abu ‘Isa Ishaq bin Ya’qub al-Asfahani yang hidup di masa kepemimpinan Marwan bin Muhammad (w. 132 H) dari Dinasti Umayyah, dan sekte Yahudi lainnya, Musykâniyyah. Imam Abdul Qahir al-Baghdadi menulis:

فانهم يقرونَ بنبوة نَبينَا مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم وَبِأَن كل مَا جَاءَ بِهِ حق وَلَكنهُمْ زَعَمُوا انه بعث الى الْعَرَب لَا الى بنى اسرائيل وَقَالُوا: ايضا مُحَمَّد رَسُول الله وَمَا هم معدودين فِي فرق الاسلام

“Mereka (kelompok ‘Iswiyyah) mengakui kenabian nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meyakini setiap yang datang darinya adalah kebenaran, tapi mereka berpandangan bahwa Nabi Muhammad (hanya) diutus untuk bangsa Arab, tidak untuk Bani Israil.’ Mereka juga mengatakan bahwa Muhammad adalah rasulullah. (Meski demikian) mereka tidak termasuk dalam sekte Islam.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 29-30)

وَقوم من موشكانية الْيَهُود حكوا عَن زعيمهم الْمَعْرُوف بمشكان أَنه قَالَ: إن مُحَمَّدًا رَسُول الله الى الْعَرَب والى سَائِر النَّاس مَا خلا الْيَهُود, وَأَنه قَالَ: إن الْقُرْآن حق وكل الاذان وَالْإِقَامَة والصلوات الْخمس وَصِيَام شهر رَمَضَان وَحج الْكَعْبَة كل ذَلِك حق غير أَنه مَشْرُوع للْمُسلمين دون الْيَهُود, وَرُبمَا فعل ذَلِك بعض الموشكانية, وقد أقرُّوا بشهادتي أَن لَا اله الا الله وَأَن مُحَمَّدًا رَسُول الله, واقروا بِأَن دينه حق, وَمَا هم مَعَ ذَلِك من أمة الاسلام لقَولهم بَان شَرِيعَة الاسلام لَا تلزمهم

“Satu kelompok dari Yahudi Muskaniyyah menuturkan pandangan (pemimpin) mereka yang dikenal dengan Musykan, ia berkata: ‘Sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah untuk bangsa Arab dan seluruh manusia di dunia kecuali Yahudi.’ Ia (juga) berkata: ‘Sesungguhnya Al-Qur’an adalah benar. Setiap azan, iqamah, shalat lima waktu, puasa ramadan, dan pergi haji ke Baitullah, semuanya adalah benar, (dan) disyariatkan untuk umat islam, tapi tidak untuk orang Yahudi.’ (Bahkan), terkadang sebagian pengikut al-Musykaniyyah mengamalkan (ibadah-ibadah umat Islam) yang disebut di atas. Mereka (juga) mengikrarkan dua syahadat bahwa, ‘sesungguhnya tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.’ Mereka (juga) meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang benar. (Meski demikian), dengan berbagai (keyakinan)nya, mereka tidak termasuk umat Islam karena ucapan mereka bahwa syariat Islam tidak menetapi mereka.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 30)

Dua pandangan sekte Yahudi tersebut, bagi Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, merupakan bantahan terhadap dua pendapat awal, bahwa menjadi Muslim tidak cukup hanya dengan mengikrarkan syahadat dan meyakini kebenarannya, tanpa mempertimbangkan banyak aspek lainnya. Jika menjadi Muslim cukup dengan itu, maka dua sekte Yahudi di atas sudah bisa dianggap sebagai Muslim, karena mereka mengikrarkan syahadat dan meyakini kebenaran risalah yang dibawanya, bahkan sebagian dari mereka mengamalkan ibadah Islam. 


Baca juga:
Menurut Aswaja, Sejauh Mana Menganggap Kafir Diperbolehkan?
Mazhabnya Syafi'i tapi Aqidahnya Asy'ari?
Hoaks tentang Aqidah Asy'ariyah dalam Masalah Keimanan
Dengan memasukkan pendapat dua sekte Yahudi, Imam Abdul Qahir al-Baghdadi ingin mengatakan bahwa ia tidak sependapat dengan dua pendapat di atas. Di paragraf berikutnya, ia mengungkapkan pendapatnya sendiri. Ia menulis:

وَالصَّحِيح عندنَا أَن أمة الاسلام تجمع المقرين بحدوث الْعَالم وتوحيد صانعه وَقدمه وَصِفَاته وعدله وحكمته وَنفى التَّشْبِيه عَنهُ وبنبوة مُحَمَّد صلى الله عَلَيْهِ وَسلم ورسالته الى الكافة وبتأييد شَرِيعَته وَبِأَن كل مَا جَاءَ بِهِ حق وَبِأَن الْقُرْآن منبع أَحْكَام الشَّرِيعَة وَأَن الْكَعْبَة هِيَ الْقبْلَة الَّتِي تجب الصَّلَاة اليها فَكل من أقرّ بذلك كُله وَلم يشبه ببدعة تُؤَدّى الى الْكفْر فَهُوَ السنى الموحد 

“Dan yang benar menurut kami, bahwa umat Islam adalah umat yang meyakini (berikrar) atas baharunya alam semesta, keesaan Penciptanya, keqadiman-Nya, sifat-sifat-Nya, keadilan-Nya, hukum-hukum-Nya, peniadaan menyamakan-Nya, dan (meyakini) kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta risalahnya secara menyeluruh, (meyakini) tetapnya syariat-Nya, (meyakini) bahwa setiap yang dibawanya adalah benar. (Meyakini) Al-Qur’an adalah sumber hukum-hukum syariat, dan Ka’bah adalah kiblat yang diwajibkan shalat menghadapnya. Maka, setiap orang yang meyakini (berikrar) dengan semua itu, dan tidak terkontaminasi dengan bid’ah yang bisa membawa pada kekufuran, dia adalah Ahlussunnah yang mengesakan Tuhan.” (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 30)

Perkataan Imam Abdul Qahir al-Baghdadi di atas adalah aqidah dalam bentuk teori, meski terkesan sama dengan pendapat-pendapat sebelumnya, tapi sebenarnya ada perbedaan yang cukup mencolok. Imam Abdul Qahir menguraikan pengertian “umat Islam” lebih terperinci, dari meyakini bahwa alam semesta ini baharu karena tidak ada yang qadim selain Allah, hingga meyakini Al-Qur’an sebagai sumber hukum-hukum syariat. Artinya, aqidah dibawa masuk ke dalam banyak aspek, termasuk fiqih atau syariat. 

Selain itu, Imam Abdul Qahir al-Baghdadi juga memberi batasan, yaitu tidak melakukan bid’ah yang bisa membawa pada kekufuran. Bid’ah yang dimaksud oleh Imam Abdul Qahir al-Baghdadi adalah bid’ah teologis (aqidah), bukan bid’ah syariah yang dimensinya sangat luas. Ia membagi bid’ah teologis dalam dua kelompok besar: pertama, kelompok yang tidak termasuk umat Islam, seperti Bathiniyyah, Bayaniyyah, atau kelompok yang meyakini sisi ketuhanan para Imam, mempercayai titisan, atau bid’ahnya mazhab al-Maimuniyyah dari Khawarij yang membolehkan menikahi cucu perempuan dan cucu laki-laki dari anak perempuan, atau bid’ahnya mazhab al-Yazidiyyah dari sekte Ibadiyah yang meyakini bahwa syariat Islam akan terhapus di akhir zaman, dan masih banyak yang lainnya. (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 31)

Kedua, kelompok yang sebagian ajarannya masih termasuk umat Islam, dan sebagian lagi tidak, seperti Mu’tazilah, Khawarij, Najjariyyah, Jahmiyyah, Mujassimah dan lain sebagainya. Mereka masih termasuk umat Islam dalam sebagian hukum, sehingga mereka berhak dikuburkan di perkuburan Islam, boleh shalat di masjid, dan seterusnya. Begitu juga sebaliknya, mereka tidak termasuk umat Islam dalam bagian hukum yang lain, contohnya mereka tidak diperbolehkan menjadi imam, dan lain sebagainya. (Imam Abdul Qahir al-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 31)

Sebagai penutup, terlepas dari pembahasan teologis di atas, seorang Muslim harus memahami konsekuensi mengikat dari dua kalimat syahadat. Jika hanya mencukupkan diri dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat, ia sekadar Muslim, tapi tidak sampai pada cita-cita kesalehan yang diharapkan, apalagi jika ikrarnya tidak diikuti keimanan di hatinya, seperti kaum munafik di zaman nabi. Karena itu, banyak sekali hadits yang diawali dengan, “lâ yu’minu ahadukum—tidak dianggap beriman salah satu dari kalian,” dan, “man amana billlahi wal yaumil akhir—barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” Hal ini menunjukkan bahwa wilayah kerja iman sangat luas, tidak sekadar berkutat di area keyakinan. Sebab, banyak orang beriman tapi masih bermaksiat; banyak orang beriman tapi tetap berbuat dosa. Inilah pentingnya iman dijadikan sebagai motor penggerak, agar manusia bergerak ke arah kebaikan yang dicita-citakan Al-Qur’an dan al-Sunnah.

Wallahu a’lam bi al-shawwab


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan PP. Al-Islam, Kaliketing, Doro, Pekalongan

Selasa 16 April 2019 16:0 WIB
Mengapa Allah Menciptakan Manusia sehingga Harus Sengsara?
Mengapa Allah Menciptakan Manusia sehingga Harus Sengsara?
Ilustrasi (IslamicSunrays.com)
Mengapa Allah menciptakan manusia padahal manusia tidak pernah meminta untuk diciptakan? Mengapa manusia harus tercipta sehingga menanggung berbagai penderitaan dalam hidup? Bukankah lebih baik manusia tak tercipta sehingga tak harus merasakan kesengsaraan? 

Pertanyaan semacam ini kerap muncul di benak sebagian orang yang mengalami berbagai kesulitan dalam hidup. Meskipun pertanyaan ini sederhana tapi akan memerlukan jawaban yang agak panjang. Kali ini kita akan membahas pertanyaan semacam ini secara agak detail dengan berpedoman pada firman Allah sendiri dan sabda Rasulullah Muhammad ﷺ.

Sebagai pendahuluan, harus diketahui bahwa sebenarnya dalam Al-Qur’an kita diajari untuk tidak menanyakan tentang perbuatan Allah kenapa begini dan kenapa begitu, tetapi harusnya kita sibuk mempertanyakan tindakan kita sendiri, apakah sudah tepat atau belum. Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Allah tak bisa ditanya tentang apa yang diperbuatnya, merekalah yang dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Anbiya’: 23)

Tindakan Allah sebagai Tuhan yang memiliki semesta alam adalah mutlak dan tak perlu persetujuan siapa pun. Bila mau dibuat perbandingan, kita sebagai manusia terbiasa memelihara hewan ternak, mengembangbiakkannya lalu menyembelihnya sebagai makanan tanpa merasa bersalah sedikit pun sebab merasa berhak melakukannya. Padahal, kuasa kita pada hewan ternak itu amatlah sedikit sebab bukan kita yang memberi dan menjamin kehidupan hewan itu tetapi semuanya dilakukan hanya oleh Allah. Namun anehnya manusia kerap kali merasa begitu spesial sehingga seolah Tuhan sekalipun harus meminta persetujuannya padahal dirinya sendiri adalah seutuhnya mutlak milik Tuhan sehingga Tuhan berhak melakukan apa pun terhadap dirinya. 

Kekuasaan mutlak Allah untuk melakukan apa pun sesuai kehendak-Nya disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali dengan berbagai redaksi. Salah satunya adalah sebagai berikut:

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ 

“Sesungguhnya Tuhanmu Maha-Melakukan apa yang Ia kehendaki.” (QS Hud: 107)

Kekuasaan Allah untuk melakukan apa pun tanpa meminta persetujuan siapa pun dan tak bisa ditentang siapa pun adalah bukti kesempurnaan-Nya. Bila Allah masih bisa dimintai pertanggung-jawaban, masih bisa ditanya kenapa dan mengapa, masih butuh persetujuan pihak lain atau perlu bermusyawarah tentang apa yang perlu dilakukan dan apa yang tidak, maka itu berarti Allah tak sempurna dan karena itu bukan Tuhan. Ketuhanan Allah yang tak diragukan lagi dan Kemahasempurnaan yang dimiliki-Nya menjamin Allah bebas dari semua itu dan bebas melakukan apa pun. 

Karena itulah, ayat-ayat yang berbicara mengenai penciptaan hampir selalu diikuti dengan pernyataan “apa yang dikehendaki Allah” sebagai isyarat kebebasan kehendak Allah. Perhatikan ayat-ayat berikut:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha-Suci Allah dan Maha-Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)." (QS. Al-Qashash: 68)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha-Mengetahui lagi Maha-Kuasa.” (QS. Ar-Rum: 54).

Penjelasan tentang kebebasan Tuhan untuk melakukan apa pun yang Ia kehendaki di atas adalah kaidah pokok dalam pembahasan perbuatan Allah. Kebebasan mutlak ini dikenal sebagai sifat irâdah yang merupakan salah satu dari sekian banyak sifat yang pasti dimiliki oleh sosok Tuhan yang benar. Keberadaan sifat irâdah ini berkonsekuensi pada peniadaan adanya keharusan, larangan, dan intervensi apa pun terhadap tindakan Tuhan sehingga tindakan-Nya tak bisa ditanya mengapa?

Namun demikian, kita beruntung sebab ternyata Allah mau memberikan informasi tentang tujuan penciptaan manusia agar pertanyaan di benak kita hilang. Tujuan tersebut adalah: 

1. Sebagai pengurus (khalifah) bagi planet bumi, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌۭ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةًۭ 

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". (QS. Al-Baqarah: 30)

2. Untuk menyembah Allah sebagaimana dalam firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat: 56)

Mengomentari ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir menjelaskan tafsir ayat itu adalah:

إِنَّمَا خَلَقْتُهُمْ لِآمُرَهُمْ بِعِبَادَتِي، لَا لِاحْتِيَاجِي إِلَيْهِمْ ... وَمَعْنَى الْآيَةِ: أَنَّهُ تَعَالَى خَلَقَ الْعِبَادَ لِيَعْبُدُوهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَمَنْ أَطَاعَهُ جَازَاهُ أَتَمَّ الْجَزَاءِ، وَمِنْ عَصَاهُ عَذَّبَهُ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Sesungguhnya Aku menciptakan mereka hanyalah supaya Aku memerintah mereka menyembahku, bukan karena Aku butuh terhadap mereka. ... Makna ayat itu adalah bahwa Allah menciptakan manusia supaya menyembah Dia saja, tak menyekutukan dengan yang lain. Siapa yang taat pada Allah, maka Allah akan membalasnya dengan balasan yang sempurna. Siapa yang bermaksiat pada-Nya, Allah akan menyiksanya dengan parah.” (Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, VII, 425)

3. Supaya manusia tahu kemahakuasaan Allah, sebagaimana firman Allah:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا 

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha-Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS at-Thalaq: 12)

4. Sebagai bukti kelayakan untuk ditempatkan di tempat mana di akhirat. Akhirat mempunyai dua tempat yang bertolak belakang, yakni surga dan neraka. Allah bisa saja langsung menciptakan manusia untuk seketika ditempatkan di keduanya tanpa alasan apa pun, tetapi Allah tak melakukannya. Allah memilih membuat manusia hidup di dunia terlebih dahulu untuk melihat sendiri amal perbuatannya sehingga layak di tempat mana. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

“Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan bumi, agar Ia membalas orang-orang yang berbuat buruk sebab apa yang mereka kerjakan dan membalas orang-orang yang berbuat baik dengan kebaikan.” (QS. An-Najm: 31)

Dari kemenangan dan kesabaran menghadapi berbagai kesusahan itulah kita dapat membuktikan “kelayakan” kita untuk menjadi penghuni surga. Meskipun sebenarnya amal perbuatan manusia tak cukup untuk menebus surga yang begitu sempurna, namun kemurahan Allah membuat kita tahu bahwa melakukan amal kebaikan, bersyukur terhadap nikmat dan bersabar terhadap musibah adalah hal yang dapat membuat kita mendapat balasan surga.

Itulah di antara alasan yang dinyatakan secara eksplisit dari Al-Qur’an tentang kenapa Allah menciptakan manusia. Dari informasi itu, kita jadi tahu tujuan hidup di dunia ini untuk apa dan seharusnya kita fokus untuk memenuhinya dan tak ada opsi lain bagi manusia. 

Adapun segala kesusahan dan kesulitan yang menimpa manusia sebagai konsekuensi dari hidup, itu tak lepas dari hikmah yang besar. Setiap sakit, bahkan sekecil apa pun, akan diganti dengan pengampunan dosa dan pahala. Rasulullah bersabda:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya." (HR. Bukhari)

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ، فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ، كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Tak seorang pun muslim yang tertimpa kesusahan berupa sakit atau lainnya, kecuali Allah menggugurkan kesalahannya sebab hal itu seperti halnya pohon yang menggugurkan daunnya.” (HR Muslim)

Dengan demikian kita tahu bahwa segala yang terjadi pada diri seorang muslim itu sejatinya adalah jalan baginya menuju surga. Susah dan bahagia seluruhnya dapat menjadi sebab mendapat surga bila ia tahu caranya. Rasulullah bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin bahwa segala situasinya adalah kebaikan baginya. Itu tak terjadi kecuali bagi seorang mukmin. Bila ia mendapat kebahagiaan, ia bersyukur sehingga menjadi kebaikan baginya. Bila ia mendapat kesusahan, ia bersabar sehingga menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dengan menyadari kenyataan ini, maka bersyukurlah kita sudah tercipta di dunia. Bila kita tak tercipta, maka tak mungkin kita mendapat potensi untuk kekal di surga. Bertahun-tahun kesengsaraan di dunia tak ada apa-apanya bila itu diganjar dengan sebuah kebahagiaan yang abadi. 

Semoga ulasan ini bermanfaat.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur

Selasa 9 April 2019 8:0 WIB
Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad Penyembah Berhala?
Benarkah Orang Tua Nabi Muhammad Penyembah Berhala?
Semua orang Islam sepakat bahwa Nabi adalah manusia mulia, tidak ada keraguan untuk hal ini. Namun yang masih ditemukan kekeliruan adalah tentang bagaimana memahami kemuliaan Nabi secara utuh, utamanya berkaitan dengan kedua orang tua beliau. Karena hidup pada masa pra-risalah Nabi Muhammad, sebagian kalangan beranggapan bahwa ayah dan ibunda Nabi adalah penyembah berhala. Menurut mereka, kedua orang tua Nabi kelak berada di neraka bersama orang-orang yang celaka. Benarkah anggapan tersebut?

Ada beberapa dalil yang menunjukan bahwa kedua orang tua Nabi adalah pribadi yang beriman, meyakini agama tauhid yang dibawa nenek moyangnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm.

Di antaranya firman Allah dalam menceritakan doanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.” (QS Ibrahim: 40)

Di dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim meminta beliau dan anak cucunya rajin mendirikan shalat. Sebagaimana maklum diketahui bahwa tidak ada yang menjalankan shalat kecuali orang yang beriman.

Doa Nabi Ibrahim tersebut diijabah oleh Allah, menurut riwayat Shahih dari Ibnu al-Mundzir bahwa dari keturunan Nabi Ibrahim terdapat kelompok manusia yang senantiasa menyembah-Nya.

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

وقد أخرج ابن المنذر في « تفسيره » بسند صحيح عن ابن جرير في قوله تعالى حكاية عن إبراهيم عليه السلام رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي  قال : لا يزال من ذرية إبراهيم عليه السلام ناسٌ على الفطرة يعبدون الله

“Dan Ibnu al-Mundzir meriwayatkan di dalam tafsirnya dengan sanad yang shahih dari Ibnu Jarir tentang dalam firman Allah yang menceritakan doanya Nabi Ibrahim, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat’, Ibnu Jarir berkata dari keturunan Nabi Ibrahim senantiasa terdapat kelompok manusia yang menetapi kesucian, mereka menyembah Allah.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 6)

Lebih dari itu, al-Imam al-Suyuthi menegaskan bahwa yang paling layak masuk dalam doa Nabi Ibrahim adalah nenek moyang garis keturunan Nabi Muhammad yang diberi keistimewaan membawa “Nur Muhammad” dari satu keturunan menuju keturunan berikutnya.

Salah satu pembesar ulama mazhab Syafi’i tersebut mengatakan:

فعرف أن كل ما ذكر عن ذرية إبراهيم، فإن أولى الناس به سلسلة الأجداد الشريفة الذين خصوا بالاصطفاء، وانتقل إليهم نور النبوة واحدا بعد واحد، فهم أولى بأن يكونوا هم البعض المشار إليهم في قوله  رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي  

“Maka diketahui bahwa apa yang telah dijelaskan tentang keturunan Nabi Ibrahim, yang lebih layak masuk dari golongan mereka adalah silsilah nenek moyang Nabi Muhammad yang suci, mereka yang diberi kekhususan dengan dipilih, cahaya kenabian berpindah dari mereka dari satu orang menuju yang lain. Maka mereka lebih utama untuk masuk dalam sebagian keturunan Nabi Ibrahim yang diisyaratkan dalam firman Allah, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat’.”
 
وأخرج ابن أبي حاتم عن سفيان بن عيينة أنه سئل: هل عبد أحد من ولد إسماعيل الأصنام، قال: لا، ألم تسمع قوله وَاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ 

“Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sufyan bin Uyaynah bahwa beliau ditanya, apakah salah seorang dari anak turunnya Nabi Isma’il menyembah berhala? Sufyan menjawab, tidak. Bukankah engkau tidak mendengar firman Allah, “Dan jauhkanlah aku dan anaku dari menyembah berhala-berhala?” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 262)

Di dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

وَإِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَراءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku’. Dan (lbrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Al-Zukhruf: 26-28).

Ayat ini oleh al-Imam al-Suyuthi dinilai sebagai dalil yang paling jelas akan keimanan nenek moyang Nabi. Selanjutnya di dalam kitab “al-Hawi li al-Fatawi” al-Suyuthi mengutip banyak riwayat tentang interpretasi dari ayat di atas. Dari sekian tafsir tersebut menyimpulkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim senantiasa mengikrarkan kalimat syahadat (beriman).

Berikut ini penjelasan lengkap al-Imam al-Suyuthi:

الأمر الثاني مما ينتصر به لهذا المسلك، آيات وآثار وردت في ذرية إبراهيم وعقبه، الآية الأولى - وهي أصرحها - قوله تعالى وَإِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَراءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 

“Perkara yang kedua, di antara yang mendukung argumentasi ini terdapat beberapa ayat dan atsar (perkataan sahabat Nabi) yang menjelaskan tentang keturunan Nabi Ibrahim. Ayat yang pertama dan ini adalah dalil yang paling jelas adalah firman Allah, Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah. Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku; karena Sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku". Dan (Ibrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu.”

 أخرج عبد بن حميد في تفسيره بسنده عن ابن عباس في قوله وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ قال: لا إله إلا الله، باقية في عقب إبراهيم 

“Abd bin Humaid meriwayatkan dalam tafsirnya dengan sanad dari Ibnu Abbas tentang firman Allah ‘Dan (lbrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya’, Ibnu Abbas berkata, itu adalah kalimat Lâ Ilâha Illa-Llâh, kalimat yang kekal untuk keturunan Nabi Ibrahim.”

وقال عبد بن حميد: حدثنا يونس عن شيبان عن قتادة في قوله وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ  قال شهادة أن لا إله إلا الله والتوحيد، لا يزال في ذريته من يقولها من بعده

“Abd bin Humaid berkata, kami mendapat berita dari Yunus dari Syayban dari Qatadah tentang firman Allah, “Dan (lbrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya”, Qatadah berkata, kalimat tersebut adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kalimat tauhid. Senantiasa dari keturunan Nabi Ibrahim terdapat orang yang mengucapkannya.”

وقال عبد الرزاق في تفسيره عن معمر عن قتادة في قوله وَجَعَلَها كَلِمَةً باقِيَةً فِي عَقِبِهِ  قال: الإخلاص والتوحيد، لا يزال في ذريته من يوحد الله ويعبده، أخرجه ابن المنذر 

“Abdur Razzaq berkata dalam tafsirnya, diriwayatkan dari Ma’mar dari Qatadah tentang firman Allah, “Dan (Ibrahim ‘alaihissalâm) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya”, Qatadah berkata, itu adalah kalimat ikhlas dan tauhid. Senantiasa dari keturunan Nabi Ibrahim terdapat orang yang mengesakan Allah dan menyembahNya. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Mundzir.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 261)

Di samping ayat Al-Qur’an, terdapat beberapa hadits Nabi yang menjadi argumentasi tentang masalah ini.

Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahihnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا، حَتَّى بُعِثْتُ مِنَ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ» ـ

“Dari Abu Hurairah beliau berkata, Nabi bersabda, aku diutus dari sebaik-baiknya masa anak Adam, dari satu masa ke masa berikutnya, hingga aku diutus dari masa yang aku berada di dalamnya.” (HR. al-Bukhari).

Imam Muslim dan al-Tirmidzi meriwayatkan hadits shahih berikut ini:

عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيمَ إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ بَنِي كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ» .

“Dari Watsilah bin Asqa’ beliau berkata, Nabi bersabda, sesungguhnya Allah memilih Isma’il dari anak Ibrahim, dan dari anak Isma’il memilih Bani Kinanah, dan dari Bani Kinanah memilih Quraisy, dan dari Quraisy memilih Bani Hasyim, dan dari Bani Hasyim memilihku.” (HR. Muslim dan al-Tirmidzi).

Abu Nu’aim meriwayatkan dalam kitab Dalail al-Nubuwwah dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَأَخْرَجَ أبو نعيم فِي " دَلَائِلِ النُّبُوَّةِ " مِنْ طُرُقٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَمْ يَزَلِ اللهُ يَنْقُلُنِي مِنَ الْأَصْلَابِ الطَّيِّبَةِ إِلَى الْأَرْحَامِ الطَّاهِرَةِ مُصَفًّى مُهَذَّبًا، لَا تَنْشَعِبُ شُعْبَتَانِ إِلَّا كُنْتُ فِي خَيْرِهِمَا» ـ

"Dari Ibnu Abbas, Nabi bersabda, Allah senantiasa memindahku dari tulang rusuk yang suci kepada rahim-rahim yang suci, seraya dijerbihkan dan dibersihkan. Tidaklah bercabang dua cabang (garis keturunan) kecuali aku berada di (keturunan) yang terbaik". (HR Abu Nu'aim)

Dalam hadits yang diriwayatkan dan diberi predikat hadits Hasan oleh al-Tirmidzi disebutkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ حِينَ خَلَقَنِي جَعَلَنِي مِنْ خَيْرِ خَلْقِهِ، ثُمَّ حِينَ خَلَقَ الْقَبَائِلَ جَعَلَنِي مِنْ خَيْرِهِمْ قَبِيلَةً، وَحِينَ خَلَقَ الْأَنْفُسَ جَعَلَنِي مَنْ خَيْرِ أَنْفُسِهِمْ، ثُمَّ حِينَ خَلَقَ الْبُيُوتَ جَعَلَنِي مَنْ خَيْرِ بُيُوتِهِمْ، فَأَنَا خَيْرُهُمْ بَيْتًا وَخَيْرُهُمْ نَفْسًا» ـ

“Dari Ibnu Abbas bin Abdil Muthallib beliau berkata, Nabi bersabda, sesungguhnya ketika Allah menciptakanku, Ia jadikan aku dari makhluknya yang terbaik, saat Allah menciptakan kabilah-kabilah, Ia jadikan aku dari sebaik-baiknya kabilah, ketika Allah menciptakan jiwa-jiwa, Ia jadikan aku dari sebaik-baiknya jiwa, ketika Allah menciptakan rumah-rumah, Ia jadikan aku dari sebaik-baiknya rumah mereka. Maka aku adalah sebaik-baiknya mereka, rumah dan jiwanya.” (HR al-Tirmidzi dan al-Baihaqi)

Beberapa hadits di atas menegaskan bahwa nenek moyang Nabi adalah garis keturunan yang dipilih oleh Allah. Mereka diberi keutamaan yang tidak dimiliki orang lain. Sangat tidak rasional bila kebaikan, kemuliaan, dan keutamaan dianugerahkan oleh Allah untuk rahim dan darah daging yang musyrik.

Syekh Jalaluddin al-Suyuthi menegaskan:

ومن المعلوم أن الخيرية والاصطفاء والاختيار من الله، والأفضلية عنده لا تكون مع الشرك

“Dan termasuk yang diketahui adalah kebaikan, penyaringan dan pemilihan dari Allah serta keutamaan di sisiNya tidak terjadi besertaan dengan kesyirikan.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 256)

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

وهل يعقل أن يقرَّ الله الرّوح الطّاهر الطيّب بأصلاب المشركين وأرحام المشركات ويجعلها أصله في التّكوين والتّصوير وهو القائل  إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ  والقائل أيضًا الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ 

“Dan apakah bisa dinalar Allah menitipkan ruh yang suci kepada tulang rusuk orang-orang musyrik dan rahimnya wanita-wanita musyrik? Dan Allah jadikan ruh itu dasar dari sebuah perwujudan alam semesta, padahal Allah berfirman, ‘Orang-orang musyrik adalah kotor’, ‘Wanita-wanita yang hina untuk laki-laki yang hina. Laki-laki yang hina untuk perempuan yang hina’.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 11).

Masih banyak lagi hadits yang senada selain yang telah disebutkan di atas, hingga al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa tanda-tanda kesahihan sangat tampak di dalam matan hadits yang menjelaskan kemuliaan nasab Nabi. 

Ibnu Hajar al-Asqalani sebagaimana dikutip al-Suyuthi menegaskan:

قال الحافظ ابن حجر في أماليه لوائح الصحة ظاهرة على صفحات هذا المتن

“Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam kitab Amalinya, isyarat-isyarat kesahihan tampat pada lembaran-lembaran matan hadits ini.” (Syekh Jalaluddin al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi, juz 2, hal. 256)

Dari banyak hadits Nabi, al-Imam al-Suyuthi menyimpulkan bahwa nenek moyang Nabi sampai Adam dan Hawa disucikan dari kesyirikan dan kekufuran.

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

قال السّيوطي اعلم أنّ الأحاديث يصرح أكثرها لفظًا وكلها معنًى أن آباء النبي - صلى الله عليه وسلم - وأمهاته آدم وحواء مطهّرون من دنس الشِّرك والكفر، ليس فيهم كافر؛ لأنه لا يقال في حق الكافر أنّه مختار ولا طاهر ولا مصفًى، بل يقال نجس. قال تعالى إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ.

“Al-Imam al-Suyuthi berkata, ketahuilah sesungguhnya mayoritas redaksi hadits dan keseluruhan maknanya menjelaskan bahwa nenek moyang Nabi hingga Adam dan Hawa disucikan dari kotoran syirik dan kekufuran, tidak ada dari mereka orang kafir, sebab tidak bisa diucapkan untuk orang kafir ia adalah pilihan, suci dan bersih, bahkan diucapkan untuknya kotor. Allah berfirman, orang-orang musyrik adalah kotor.”

فوجب أن لا يكون في أجداده مشرك، فما زال منقولاً من الأصلاب الطّاهرة إلى الأرحام الطّاهرة، وما زال ينتقل نوره من ساجد إلى ساجد.

“Maka wajib di antara nenek moyang Nabi tidak ada satupun orang musyrik. Nabi senantiasa dipindah dari tulang rusuk yang suci menuju Rahim-rahim yang suci. Cahaya Nabi senantiasa berpindah dari orang yang bersujud kepada orang yang bersujud.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 21).

Dari beberapa penjelasan di atas dapat dipahami, anggapan bahwa orang tua Nabi adalah penyembah berhala adalah sebuah kesalahan. Anggapan tersebut tidak hanya keliru, namun sangat fatal dan berbahaya. Sebab sudah mencederai kemuliaan Nabi. Menurut Syekh Ibnu al-Arabi, tidak ada perbuatan yang lebih menyakiti Nabi dari pada mengatakan bahwa kedua orang tua Nabi kelak akan masuk neraka. 

Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini menegaskan:

وقد زلّت قدم بعض الناس فنسب أبويه إلى الشرك. والحذَر الحذَر من ذكرهما بنقص فإنَّ ذلك يؤذيه - صلى الله عليه وسلم - لحديث الطبراني  لا تؤذوا الأحياء بسب الأموات 

“Dan telah terpeleset sebagian manusia. Ia menisbatkan kedua orang tua Nabi kepada kesyirikan. Jauhi dan jauhilah betul menyebutkan kedua orang tua Nabi dengan sifat kurang, sebab hal tersebut dapat menyakiti Nabi, karena haditsnya Imam al-Thabrani, janganlah menyakiti orang hidup dengan mencela orang mati.”

قال القاضي ابن العربي المالكي ولا أذى أعظم له - صلى الله عليه وسلم - من أن يقال أن أبويه في النار. والله سبحانه وتعالى يقول إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ 

“Al-Qadli Ibnu al-‘Arabi al-Maliki berkata, tidak ada perbuatan yang lebih menyakiti Nabi dari pada menyebut kedua orang tua Nabi berada di neraka. Sedangkan Allah berfirman, sesungguhnya mereka yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan akhirat.” (Syekh Sayyid Ishaq Azur al-Husaini, al-Hujaj al-Wadlihat fi Najati al-Abawaini wa al-Ajdad wa al-Ummahat, hal. 20).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga kita terhindar dari ucapan, keyakinan atau perbuatan yang dapat mencederai derajat keagungan Nabi Muhammad Saw dan nenek moyangnya.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat