IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Nabi Muhammad, Muadz bin Jabal, dan Sebuah Pesan Rahasia

Jumat 3 Mei 2019 18:0 WIB
Share:
Nabi Muhammad, Muadz bin Jabal, dan Sebuah Pesan Rahasia
Nabi Muhammad saw. adalah orang yang sangat memahami dan mengetahui keadaan sahabatnya. Beliau memberikan sebuah pengajaran atau informasi kepada mereka sesuai dengan kadar pemahaman masing-masing. Nabi Muhammad tidak memberikan materi yang berat kepada sahabat yang baru bergabung di majelisnya. Begitupun sebaliknya.

Nabi Muhammad terkadang juga memberikan pesan atau informasi khusus kepada salah seorang sahabatnya. Karena suatu hal, Nabi Muhammad melarang sahabatnya itu untuk memberitahukan pesan atau informasi itu kepada sahabatnya yang lain. Hal ini pernah dialami salah seorang sahabat senior Nabi, Muadz bin Jabal. 

Suatu ketika Nabi Muhammad naik unta bersama dengan Muadz bin Jabal dalam sebuah perjalanan. Tiba-tiba beliau memanggil Muadz bin Jabal hingga tiga kali. Muadz bin Jabal menjawab panggilan Nabi Muhammad. Setelah Muadz berkonsentrasi, Nabi Muhammad kemudian menyampaikan sebuah pesan tentang orang yang diharamkan Allah dari siksa api neraka.

“Tiada seorang pun hamba yang bersaksi dengan sungguh-sungguh dari dalam hatinya bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, kecuali Allah akan haramkan dirinya disentuh api neraka,” kata Nabi Muhammad dalam kita al-Ilm karya Bukhari, sebagaimana dikutip dari buku Muhammad Sang Guru (Abdul Fattah Abu Ghuddah, 2015).

Muadz bin Jabal gembira dengan pesan yang disampaikan Nabi Muhammad itu. Hingga kemudian dia meminta izin untuk menyebarluaskan kabar gembira itu kepada para sahabat yang lainnya agar mereka juga ikut senang. Namun, Nabi Muhammad langsung melarangnya. Beliau berdalih, jika kabar itu diberitahukan kepada sahabat yang lainnya maka dikhawatirkan mereka akan ‘mengandalkan’ informasi itu.

Lalu mengapa Nabi Muhammad melarang Muadz bin Jabal untuk memberitahukan kabar gembira itu kepada yang lainnya? Para ulama berpendapat, Muadz bin Jabal dilarang menyampaikan itu agar orang-orang tidak bergantung dan mengandalkan dua kalimat syahadat itu. Pendapat lain menyebutkan, hadits-hadits yang memuat tentang keringanan (rukshah) seperti agar tidak disampaikan kepada orang awam. Dikhawatirkan, mereka akan salah memahami dari maksud yang terkandung dari hadits tersebut.

Semula Muadz bin Jabal memegang erat sabda Nabi Muhammad itu untuk dirinya sendiri. Hingga suatu ketika menjelang hari wafatnya, Muadz bin Jabal tidak sanggup lagi menyimpan informasi itu. Ia kemudian membocorkan ‘pesan rahasia’ dari Nabi Muhammad kepasa yang lainnya. Hal itu dilakukan karena Muadz bin Jabal ingin menghindari dosa karena telah menyimpan ilmu pengetahuan untuk dirinya sendiri.

Tidak hanya Muadz bin Jabal, para sahabat dan ulama setelahnya juga melakukan hal yang sama. Yaitu tidak menyampaikan suatu ilmu pengetahuan kepada semua orang, terutama orang awam, karena dikhawatirkan akan menimbulkan kesalahpahaman. Sikap seperti itu sudah menjadi kebiasaan diantara mereka. Wallahu ‘Alam. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Kamis 2 Mei 2019 21:0 WIB
Syaima, Saudara Sepersusuan Nabi Muhammad yang Ditawan Pasukan Muslim
Syaima, Saudara Sepersusuan Nabi Muhammad yang Ditawan Pasukan Muslim
Nabi Muhammad saw. memiliki beberapa saudara sepersusuan dari Halimah as-Sa’diyah. Salah satunya adalah Syaima. Sebagai anak tertua Halimah, Syaima ditugaskan untuk menjaga dan memperhatikan Muhammad kecil. Mereka berdua kerap kali menghabiskan waktu bersama untuk bermain, layaknya anak-anak pada zaman itu.  

Kadang Muhammad kecil menarik dan mendorongnya. Kemudian Syaima membalasnya. Mereka main-main dengan riang gembira. Hingga suatu ketika, Nabi Muhammad saw. menggigit punggung Syaima lantaran saudara sepersusuannya itu menginjak kakinya. Syaima kesakitan dan kemudian mengadu kepada ibundanya, Halimah. 

“Memangnya kau apakan Muhammad sampai ia menggigit punggungmu?” respons Halimah sambil tertawa-tawa setelah mendengar aduan Syaima, seperti dikutip Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah (Nizar Abazhah, 2011).

Nabi Muhammad tinggal bersama Halimah di kampung Bani Sa’ad hingga usianya lima tahun. Banyak pengalaman dan kenangan manis yang dilalui Nabi Muhammad bersama dengan Halimah dan anak-anaknya –termasuk Syaima. Nabi Muhammad selalu mengingat perlakuan baik Halimah dan keluarganya. Juga membalas mereka dengan kebaikan-kebaikan serupa. 

Suatu ketika Halimah datang ke pernikahan Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah. Mereka saling bercengkerama dan bertanya tentang kabar masing-masing. Halimah bercerita kalau keluarganya sedang dalam keadaan kelaparan karena paceklik. Seketika itu Nabi Muhammad memberinya hadiah 10 ekor kambing dan beberapa ekor unta. Maka kemudian Halimah pulang dengan membawa hadiah dari Nabi Muhammad dan Sayyidah Khadijah dengan menunggangi unta –yang juga merupakan hadiah dari anak asuhnya itu.

Pada saat perang Hunain, Nabi Muhammad kembali bertemu dengan salah seorang keluarga Halimah, Syaima. Ketika itu Nabi Muhammad memerintahkan pasukan Muslim untuk menangkap Bujad dari Bani Sa’ad karena tindakannya yang menakutkan umat Islam. Singkat cerita, Bujad dan seluruh anggota keluarganya berhasil ditawan pasukan Muslim. Mereka kemudian diarak untuk menghadap Nabi Muhammad.

Salah seorang wanita dari kabilah Bujad yang ikut ditawan adalah Syaima. Dia mengaduh kesakitan karena diperlakukan dengan keras oleh prajurit Muslim. Dia kemudian memprotes dan mendeklarasikan bahwa dirinya adalah saudara sepersusuan Nabi Muhammad. Para prajurit tidak percaya dengan pernyataan perempuan tersebut. Mereka menganggap apa yang dilakukan perempuan itu hanya sebagai siasat belaka agar diperlakukan lebih baik.

Saat rombongan tiba di hadapan Nabi Muhammad, Syaima kembali mengaku kalau dirinya adalah saudara sepersusuannya, anak Halimah. Nabi Muhammad tidak langsung percaya dan meminta buktinya. Maklum, Nabi dan saudara sepersusuannya itu sudah 50 tahun lebih tidak bertemu. Mungkin beliau lupa dengan muka saudarinya itu.

“Ingatkah kau, Nabi Allah, ketika aku memukul pangkal pahamu, kita bermain di dekat tenda, tenda keluarga kita Bani Sa’ad. Ketika kau naik ke punggungku dan menggigitku dengan gigitan kasih sayang?” kata Syaima mencoba menggugah ingatan Nabi Muhammad, dikutip buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018).

Nabi Muhammad langsung teringat dengan Syaima seketika itu juga. Beliau kemudian melepaskan dan memperlakukan Syaima dengan penuh hormat. Bahkan, Nabi Muhammad memberikan tawaran kepada Syaima untuk tinggal bersamanya. Akan tetapi, Syaima memilih pulang dan tinggal bersama dengan keluarganya di kampung Bani Sa’ad. Nabi Muhammad kemudian memberikan hadiah empat orang budak untuk Syaima sebelum melepas saudarinya itu pulang. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 1 Mei 2019 21:30 WIB
Para Perempuan Mulia yang Menyusui Nabi Muhammad
Para Perempuan Mulia yang Menyusui Nabi Muhammad
Dalam tradisi Arab ketika itu (Quraisy), hampir semua orang tua menitipkan anaknya di perkampungan (Badui). Di sana anak-anak disusui beberapa tahun lamanya, sebagai gantinya mereka menerima bayaran dari pihak keluarga, termasuk Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya, dalam setiap tradisi yang hidup, ada penyebab yang melatar-belakanginya. Di samping alasan menghindari wabah menular yang biasa menjangkiti daerah perkotaan (Makkah), Imam al-Suhaili mengemukakan beberapa alasan lain. Ia menulis:

لِيَنْشَأَ الطّفْلُ فِي الْأَعْرَابِ، فَيَكُونَ أَفْصَحَ لِلِسَانِهِ وَأَجْلَدَ لِجِسْمِهِ 

Supaya anak-anak tumbuh di lingkungan pedesaan (Badui) yang membuatnya lebih fasih dalam bertutur kata dan menguatkan fisiknya.” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, Kairo: Darul Hadits: 2008, juz 1, h. 318)

Saat itu, kefasihan bertutur orang Arab Badui jauh lebih murni (asli) dibandingkan Arab Hadlar (kota, Makkah). Ini dibuktikan dengan beberapa informasi yang ditulis oleh Imam al-Suhaili. Paling tidak ia menulis dua informasi penting mengenai hal ini. Informasi pertama adalah ketika Sayyidina Abu Bakr al-Shiddiq berkata kepada Rasulullah: “mâ ra’aytu afshaha minka yâ Rasûlullah (aku tidak melihat orang yang lebih fasih darimu, ya Rasulullah).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “mâ yamni’unî, wa ana min quraisy wa urdli’tu fî banî sa’d? (apa yang membatasiku, aku berasal dari Quraisy dan disusui (dan tumbuh) di Bani Sa’d?)” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, 2008, juz 1, h. 318)

Informasi kedua adalah kecintaan Abdul Malik bin Marwan kepada anaknya yang bernama Walid, sehingga ia menjadi orang yang sering salah berucap (lahhân), baik dari pelafalan maupun i’rab-nya (gramatika), sedangkan anaknya yang lain, Sulaiman, sangat fasih berucap. Imam al-Suhaili mengatakan:

لِأَنّ الْوَلِيدَ أَقَامَ مَعَ أُمّهِ وَسُلَيْمَانُ وَغَيْرُهُ مِنْ إخْوَتِهِ سَكَنُوا الْبَادِيَةَ

(Hal itu terjadi) karena al-Walid tinggal bersama ibunya, sedangkan Sulaiman dan saudara-saudaranya yang lain tinggal di wilayah perkampungan (Arab Badui).” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, 2008, juz 1, h. 318-319)

Fasih di sini tidak sekadar benar dalam bunyi pelafalan yang dikeluarkan, tapi mencakup semua aspeknya, dari mulai gramatika, kekayaan kosakata, ketepatan lafal, sampai mampu menggubah syair yang menawan. Tidak heran jika orang Arab Quraisy melahirkan banyak sastrawan hebat, karena mereka berhasil menggabungkan kekayaan bahasa asli orang Arab Badui dengan realitas sosial kehidupan perkotaan (Arab Hadlar). Karena itu, banyak orang-orang berada dari suku Quraisy menitipkan anak-anaknya di perkampungan Arab Badui.

Tsuaibah al-Aslamiyyah

Menurut sebagian besar riwayat, ketika baru lahir Rasulullah disusui oleh ibunya sendiri selama tujuh hari, lalu dilanjutkan oleh Tsuaibah al-Aslamiyyah, budak wanita Abu Lahab. Dalam al-Mukhtashar al-Kabîr dijelaskan:

لَمَّا وَلَدَتْهُ صلي الله عليه وسلم أُمُّهُ أَرْضَعَتْهُ سَبْعَةَ أَيَّامٍ, ثُمَّ أَرْضَعَتْهُ ثُوَيْبَةُ الْأَسْلَمِيَّةُ مَوْلَاةُ أَبِي لَهْبٍ أَيَّامًا

Ketika Ibunya (Sayyidah Aminah) melahirkan Rasulullah SAW, ibunya menyusuinya selama tujuh hari, kemudian Tsuwaybah al-Aslamiyyah, budak Abu Lahab menyusuinya selama beberapa hari....” (Imam ‘Izzuddin bin Badruddin bin Jama’ah al-Kinani, al-Mukhtashar al-Kabîr fi Sîrah al-Rasûl, 1993, h. 23)

Selain menyusui Rasulullah, Tsuwaybah al-Aslamiyyah juga menyusui Sayyidina Hamzah bin Abdul Muttalib (paman Nabi), Abdullah bin Jahs, dan Masruh (anaknya sendiri). Ini menjadikan mereka saudara sepersusuan dengan Rasulullah. Imam al-Suhaili menyebutkan:

وَأَرْضَعَتْهُ—صلي الله عليه وسلم—ثُوَيْبَةُ قَبْلَ حَلِيْمَةَ, أَرْضَعَتْهُ وَعَمَّهُ حَمْزَةَ وَعَبْدَ اللهِ بن جَحش

Tsuwaybah menyusui Rasulullah SAW sebelum Halimah. Dia pun menyusui paman nabi, (Sayyidina) Hamzah dan Abdullah bin Jahsy.....” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, Kairo: Darul Hadits, 2008, juz 1, h. 315)

Perihal keislamannya, para ulama berbeda pendapat. Imam Abu Nu’aim mengatakan, “tidak ada seorang pun yang menyebutkan keislamannya.” Yang jelas, Rasulullah sangat memuliakan Tsuwaybah, sampai istri beliau, Sayyidah Khadijah turut memuliakannya, “kânat khadîjah tukrimuhâ (Khadijah (sangat) menghormati Tsuwaybah).” Bahkan Rasulullah sering mengirimnya pakaian, selimut dan lain sebagainya sampai Tsuwaybah wafat di tahun ke-7 Hijriah. (Khairuddin al-Zirkili, al-A’lâm: Qâmûs Tarâjim, Beirut: Darul Ilm lil Malayin, 2002, juz 2, h. 102)

Ulama juga berbeda pendapat tentang kapan Tsuwaybah dimerdekakan oleh Abu Lahab. Sebagian berpendapat setelah ia mengabarkan kelahiran Muhammad kepadanya, sebagian lagi berpendapat setelah Rasulullah hijrah ke Makkah. Pendapat pertama, bertepatan dengan kelahiran, didasarkan pada riwayat (HR. Imam al-Bukhari):

قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

Urwah (bin Zubair) berkata: “Tsuwaybah adalah budak Abu Lahab. Abu Lahab memerdekakannya, kemudian ia menyusui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di saat Abu Lahab meninggal, sebagian dari keluarganya bermimpi melihatnya mendapat siksa yang buruk. Abu Lahab ditanya: “Apa yang kau temui?” Abu Lahab menjawab: “Aku tidak menemukan apapun sepeninggal kalian selain aku diberi minum karena memerdekakan Tsuwaybah.” 

Sementara pendapat yang mengatakan Tsuwaybah dimerdekakan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah didasarkan pada riwayat lain: 

وَكَانَت خديجةُ تُكرمها، وَقيل: إِنَّهَا سَأَلت أَبَا لَهَبٍ فِي أنْ تبتاعها مِنْهُ لتِعتقِها فَلم يفعل، فلمّا هَاجر رَسُول الله إِلَى الْمَدِينَة أَعتقها

Khadijah sangat memuliakan Tsuwaybah. Diriwayatkan bahwa Khadijah meminta Abu Lahab menjual Tsuwaybah kepadanya agar ia bisa memerdekannya, tapi Abu Lahab tidak (mau) melakukannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, Abu Lahab memerdekakannya.” (Imam ‘Izzuddin bin Badruddin bin Jama’ah al-Kinani, al-Mukhtashar al-Kabîr fi Sîrah al-Rasûl, 1993, h. 23)

Meski demikian, Imam al-Suhaili lebih mempercayai riwayat yang pertama, begitu pun dengan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, bahwa, “anna ‘itqahâ kâna qabl al-irdlâ’—Tsuwaybah dimerdekakan sebelum menyusui (Rasul).” (Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bârî bi Syarh Shahîh al-Bukhârî, juz 9, h. 48). 

Dalam riwayat yang dicatat Imam al-Suhaili, Rasulullah mendengar kabar kewafatan Tsuwaybah di saat umat Islam berhasil membebaskan Makkah. Ketika itu beliau menanyakan keadaan Tsuwaybah dan anaknya, Masruh. Imam al-Suhaili menulis:

وَكَانَ رَسُولُ اللهِ يَعْرِفُ ذَلِكَ لِثُوَيْبَةَ وَيَصِلُهَا مِنْ الْمَدِينَةِ، فَلَمّا افْتَتَحَ مَكّةَ سَأَلَ عَنْهَا وَعَنْ ابْنِهَا مَسْرُوحٍ، فَأُخْبِرَ أَنّهُمَا مَاتَا، وَسَأَلَ عَنْ قَرَابَتِهَا، فَلَمْ يَجِدْ أَحَدًا مِنْهُمْ حَيّا

Rasulullah tahu bahwa Tsuwaybah (menyusuinya di saat beliau kecil), karenanya beliau sering mengiriminya (sesuatu) dari Madinah. Ketika Makkah dibebaskan (ditaklukkan), Rasulullah bertanya tentangnya dan anaknya, Masruh, lalu dikabarkan padanya bahwa mereka berdua telah meninggal. Rasulullah bertanya tentang kerabatnya, namun tak seorang pun yang berhasil menemukan mereka yang masih hidup.” (Imam al-Muhaddits Abdurrahman al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf fi Syarh al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam, 2008, juz 1, h. 315)

Haliman al-Sa’diyyah

Setelah disusui Tsuwaybah beberapa hari, Sayyidah Aminah menitipkan Rasulullah kepada Halimah binti Abu Dzuaib dari Bani Sa’d. Awalnya Halimah menolak membawa Nabi Muhammad karena ia yatim, tapi setelah ke sana-kemari tidak mendapatkan anak yang akan dibawanya pulang, ia kembali ke rumah Sayyidah Aminah dan menerimanya dengan terpaksa. Dengan jelas ia mengatakan pada suaminya:

وَاَللهِ إنّي لَأَكْرَهُ أَنْ أَرْجِعَ مِنْ بَيْنِ صَوَاحِبِي وَلَمْ آخُذْ رَضِيعًا، وَاَللهِ لَأَذْهَبَنّ إلَى ذَلِكَ الْيَتِيمِ فَلَآخُذَنّهُ

Demi Allah, sesungguhnya aku benci kembali bersama rombongan tanpa membawa anak untuk disusui. Demi Allah, sungguh akan kudatangi lagi anak yatim itu, dan benar-benar mengambilnya sebagai anak susuan.” (Imam Ibnu Atsîr, al-Kâmil fî al-Tarîkh, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, 1987, juz 1, h. 357)

Dan ternyata, anak yatim itu memberi keberkahan luar biasa kepada Halimah al-Sa’diyyah dan keluarganya. Di musim paceklik semacam ini, mereka tidak pernah merasa kenyang sebelumnya, anak-anaknya terus menangis karena lapar (tidak mendapat ASI yang cukup), tiba-tiba kenyang menyusu kepadanya dan tertidur pulas. Unta yang semula kurus seketika penuh air susunya, hingga mereka berdua menikmati hari yang indah setelah membawa anak bernama Muhammad itu. Semuanya kenyang, hingga suaminya, al-Harits bin Abdul Uzza mengatakan:

تَعْلَمِينَ وَاَللهِ يَا حَلِيمَةُ لَقَدْ أَخَذْت نَسَمَةً مُبَارَكَةً, فَقُلْت: وَاَللهِ إنّي لَأَرْجُو ذَلِكَ

Demi Allah, kau tahu, Halimah, sungguh kau telah mengambil anak yang diberkahi.” Aku (Halimah) berkata: “Demi Allah, itulah yang kuharapkan.” (Imam Ibnu Atsîr, al-Kâmil fî al-Tarîkh, 1987, juz 1, h. 357)

Semenjak Rasulullah tinggal bersamanya, Haliman al-Sa’diyyah tidak pernah kekurangan apapun, semuanya dimudahkan. Air susunya yang biasanya terbatas menjadi melimpah. Binatang ternaknya sehat dan produktif. Ia mengatakan, “sungguh tidak ada tanah yang lebih gersang dari tanahnya Bani Sa’d, tapi kambingku selalu pulang dengan air susu penuh. Kami memerah dan meminumnya, sementara kaumku yang lain tidak mendapatkan setetes susu pun dari kambing-kambing mereka.” Fenomena itu sampai membuat orang-orang dari kaumnya meminta kambingnya digembalakan bersama dengan kambing-kambing milik Halimah al-Sa’diyyah dan al-Harits bin Abdul Uzza, tapi tetap saja, kambing-kambing mereka tidak mengeluarkan setetes pun susu. (Imam Ibnu Atsîr, al-Kâmil fî al-Tarîkh, 1987, juz 1, h. 357)

Setelah Rasulullah berusia dua tahun, Halimah al-Sa’diyyah membawanya ke Makkah untuk mengembalikannya pada ibunya. Tapi, Halimah merasa berat berpisah dengan Rasul. Ia pun membujuk Sayyidah Aminah agar diberi izin beberapa tahun lagi mengasuhnya. Akhirnya, Sayyidah Aminah memberikan izinnya, dan Rasulullah kembali tinggal bersama Halimah al-Sa’diyyiah dan keluarganya.

Menurut beberapa riwayat, Halimah al-Sa’diyyah memeluk agama Islam tapi tidak langsung dari rasulullah karena situasinya yang tidak mendukung (susah bertemu). Sebelum wafat, Halimah berhasil menjumpai Rasulullah:

عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقْسِمُ لَحْمًا بِالْجِعْرَانَةِ فَجَاءَتْهُ امْرَأَةٌ بَدْوِيَّةٌ فَبَسَطَ لَهَا رِدَاءَهُ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذِهِ؟ قَالُوا: هَذِهِ أُمُّهُ الَّتِي كَانَتْ تُرْضِعُهُ

Dari Abu Thufail radiyallahu ‘anhu, ia berkata: “aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membagi-bagikan daging di sekitar Ji’ronah, kemudian datang seorang wanita desa. Tiba-tiba Rasulullah membentangkan jubahnya untuknya.” Lalu aku bertanya: “Siapa ini?” Mereka (teman-teman Rasulullah) menjawab: “Dia adalah ibu yang menyusuinya.” (Imam Abu Bakr Ahmad, Musnad al-Bazzar, Madinah al-Munawwarah: Maktabah al-Ulum wa al-Hikam, 2009, juz 7, h. 208)

Halimah wafat di tahun 9/10 Hijriah, dan dikebumikan di Baqi’. Ia meninggalkan tiga orang anak dari pernikahannya dengan al-Harits bin Abdul Uzza. Anak-anaknya adalah Abdullah bin al-Harits, Anisah bin al-Harits, dan Hudafah bin al-Harits (Syaima’). Nama terakhir ini cukup berperan dalam pelestarian agama Islam di jazirah Arab. Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallah wafat, banyak kabilah di Arab yang memberontak dan menyatakan keluar dari Islam, termasuk Bani Sa’d. Hudafah bin al-Harits (Syaima’) tampil membela Islam dengan segala upaya dan keberanian, hingga perlahan-lahan fitnah itu berlalu dari kaumnya. Ketiga anak Halimah adalah saudara sepersusuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka bermain bersama sejak kecil dan ketika dewasa, mereka semua memeluk Islam. Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Rabu 1 Mei 2019 14:0 WIB
Alasan Rasulullah Menjawab Beda soal Ciuman saat Berpuasa
Alasan Rasulullah Menjawab Beda soal Ciuman saat Berpuasa
Rasulullah adalah seorang guru yang handal. Beliau sangat memahami dan mengerti keadaan pada sahabatnya –yang menjadi muridnya. Sehingga ada ajaran atau materi yang disampaikan Rasulullah kepada seluruh sahabatnya sehingga mereka semua bisa mengamalkannya. Ada juga pengetahuan yang hanya diberikan kepada sahabat tertentu karena alasan tertentu pula. ‘Pemilahan’ seperti itu dilakukan Rasulullah berdasarkan keadaan, pemahaman, kecerdasan, dan inteletualitas yang dimiliki sahabat.  

Rasulullah juga tidak jarang memberikan jawaban yang berbeda atas satu kasus yang sama, termasuk soal boleh atau tidaknya ciuman suami-istri ketika sedang berpuasa. Rasulullah memberikan dua jawaban yang berbeda ketika ada dua sahabatnya yang bertanya mengenai hal itu (boleh atau tidak ciuman suami-istri saat berpuasa).

Sebagaimana riwayat Imam Ahmad –dalam kitab Musnad-nya- dari Abdullah bin Amru bin Ash, dikisahkan bahwa suatu ketika ada seorang pemuda mendatangi Rasulullah. Pemuda tersebut kemudian bertanya kepada Rasulullah perihal boleh atau tidaknya mencium istrinya ketika sedang berpuasa. Seketika itu juga, Rasulullah dengan tegas menjawab tidak boleh.  

Beberapa saat setelah itu, ada seorang sahabat Nabi yang berusia sudah tua menanyakan hal yang sama. Yakni boleh atau tidak mencium istri saat berpuasa. Kali ini Rasulullah mengizinkan. Maksudnya, Rasulullah membolehkan jika sahabat tuanya itu mencium istrinya ketika sedang berpuasa. Para sahabat yang saat itu sedang bersama Rasulullah merasa heran dan saling menatap mata antar satu dengan yang lainnya.

“Aku tahu kenapa kalian saling tatap. Ketahuilah, sungguh orang tua itu lebih bisa menguasai diri (hawa nafsunya),” kata Rasulullah, dikutip buku Muhammad Sang Guru (Abdul Fattah Abu Ghuddah, 2015). Para sahabat lantas menjadi paham mengapa Rasulullah memberikan jawaban yang berbeda atas satu kasus yang sama.

Begitulah jawaban Rasulullah terhadap hukum ciuman suami-istri saat berpuasa. Beliau menjawab sesuai dengan keadaan orang yang bertanya. Rasulullah melarang pemuda melakukan ciuman saat berpuasa kepada istrinya karena itu dikhawatirkan akan memicu kepada tindakan yang lebih lanjut, yaitu hubungan intim. Mengingat pemuda yang kerap kali kerepotan mengendalikan hawa nafsunya. 

Sementara sahabat tua diperbolehkan melakukan hal itu (ciuman suami-istri saat berpuasa) karena Rasulullah meyakini dia akan bisa mengendalikan dirinya. Sehingga tidak dikhawatirkan puasanya akan rusak karena tergoda melakukan hal-hal yang lebih jauh, yakni hubungan suami-istri. (Muchlishon)