IMG-LOGO
Ekonomi Syariah

Mau Ikut Asuransi? Tata Dulu Niat Anda!

Jumat 3 Mei 2019 15:30 WIB
Mau Ikut Asuransi? Tata Dulu Niat Anda!
Rasulullah shalla llahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Umar ibn Khattab radliyallahu ‘anhu:

إنَّما الأَعمالُ بالنِّيَّات، وإِنَّمَا لِكُلِّ امرئٍ مَا نَوَى، فمنْ كانَتْ هجْرَتُهُ إِلَى الله ورَسُولِهِ فهجرتُه إلى الله ورسُولِهِ، ومنْ كاَنْت هجْرَتُه لدُنْيَا يُصيبُها، أَو امرَأَةٍ يَنْكحُها فهْجْرَتُهُ إلى ما هَاجَر إليْهِ» )متَّفَقٌ عليه( ـ

Artinya: “Sesungguhnya amal itu harus dengan niat dan sesungguhnya seseorang tergantung apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang bisa didapatinya, atau perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang menjadi tempat tujuannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sempurnanya amal seorang hamba adalah bergantung pada derajat bagusnya niat. Hijrah pada jaman Baginda Rasulullah adalah sebuah perjuangan menuju kepada kejayaan Islam. Seluhur-luhurnya pelaksanaan hijrah karena diperintahkan oleh Rasulullah, namun karena niatnya salah, maka para sahabat bisa berbelok menjadi karena niat keduniaan. Niat keduniaan inilah yang tidak dikehendaki oleh Rasulullah. Maka dari itu beliau menyabdakan dengan didahului lafadh innamâ, yang menunjukkan faedah li al-hashr, yaitu membatasi. Sehingga, seolah beliau hendak menegaskan bahwa sesungguhnya sempurnanya amal adalah tergantung kepada niatnya. 

Fokus pada niat, maka asuransi dengan niatan awal sebagai upaya mensistemkan tolong-menolong antar-sesama anggota yang menjadi peserta asuransi, dapat berbelok arah menjadi niat keduniaan. Seluruhnya adalah bergantung kepada peserta saat pertama kali memutuskan ikut serta dalam asuransi. Maka dari itu, tak heran bila kemudian ada pernyataan dari sejumlah pihak, seperti berikut: 

“Seakan-akan masa depan seseorang selalu suram. Akan terjadi kecelakaan, rumah tidak aman dan bisa saja terbakar atau terjadi pencurian, perusahaan pun tidak bisa dijamin berjalan terus, pendidikan anak bisa jadi tiba-tiba membutuhkan biaya besar di tahun-tahun mendatang. Itulah gambaran yang digembosi pihak asuransi. Yang digambarkan adalah masa depan yang selalu suram. Tidak ada rasa tawakal dan tidak percaya akan janji Allah yang akan selalu memberi pertolongan dan kemudahan.”

Pernyataan seperti ini sering kita temui. Maka tidak heran pula, jika di kemudian hari muncul pandangan hukum, seperti: “Ada unsur judi (maysîr) dan menipu (gharar) disebabkan ketidakjelasan produk dalam asuransi.” Bisa jadi, hal semacam ini juga muncul di benak pembaca. Penulis sarankan, jika benar hal ini terjadi, maka lakukanlah untuk bermuhasabah (introspeksi) terhadap niat Anda ketika membidik produk asuransi! Anda telah salah dalam niat. 

Jika kita telusuri lebih jauh, titik tolak munculnya pandangan maisîr (unsur judi) pada asuransi ini pada dasarnya diawali dari kekeliruan pada saat menilai bahwa nasib baik dan buruk di masa yang akan datang adalah tidak pasti. Dengan ikut asuransi, maka seolah peserta sedang membidik kemungkinan nasib buruk itu menimpanya. Misalnya, seorang peserta ikut asuransi kendaraan. Maka menurut pihak yang memandang adanya unsur judi dalam asuransi ini adalah bahwa peserta seolah memilih “sisi kecelakaan di masa yang akan datang,” sehingga ia butuh dana untuk perbaikan atau keamanan kendaraan. Jika ternyata di masa mendatang, tidak terjadi kecelakaan, maka ia dipandang lose (kalah), karena uang premi yang dibayarkannya secara rutin tidak dapat kembali. Sementara itu, jika benar-benar terjadi kecelakaan, maka ia gain (beruntung), karena ia mendapatkan kembalian yang lebih besar dari total premi yang dibayarkan. Posisi antara gain dan lose inilah, letak unsur judi itu disematkan pada asuransi sehingga oleh mereka dipandang sebagai haram. 

Baca juga:
Mengenal Prisip dan Manfaat Asuransi dalam Islam
Beda Menabung, Investasi, dan Asuransi
Lantas di mana letak unsur menipunya (gharar)? Masih menurut mereka, ketidakpastian besaran uang santunan yang diberikan kepada anggota yang menjadi korban kecelakaan, adalah masuk unsur gharar. Harusnya, uang yang diberikan adalah sebesar total premi yang dibayarkan setiap bulannya. 

Menurut Anda, berdasar dua uraian maisir dan gharar ini, di mana letak kesalahannya? Iya tepat. Letak kesalahannya adalah pada kacamata yang digunakan untuk memandang. Kebanyakan mereka yang terjebak pada tuduhan maisir dan gharar pada semua lembaga asuransi ini adalah beranggapan bahwa:

1. Mereka menyamakan asuransi dengan menabung. Padahal jelas berbeda antara asuransi dan menabung. Asuransi dibangun dengan basis tolong-menolong, sementara menabung dibangun dengan basis menitipkan harta. Sudah pasti perlakuan terhadap member dari kedua produk ini akan berbeda. 

2. Kesalahan dalam memahami dasar didirikannya asuransi ini menjadikan salah dalam niatan ikut serta menjadi member di dalamnya. Ikut asuransi dengan niat judi, atau ikut asuransi dengan niat menitipkan harta. Ya jelas salah kalau seperti ini. Orang yang ikut asuransi dengan niat menitipkan harta akan berasumsi bahwa dia akan mendapatkan hartanya kembali saat kecelakaan terjadi. Sementara itu orang yang ikut asuransi dengan niat judi akan merasa merugi saat premi yang dibayarkannya secara rutin tidak bisa kembali. 

3. Kesalahan berikutnya adalah memandang bahwa dalam asuransi terdapa praktik riba. Membayar premi selama 10 bulan dengan besar kewajiban 70 ribu rupiah, lalu mendapatkan santunan kecelakaan sebesar 10 juta rupiah. Padahal akumulasi premi seharusnya masih berkisar 700 ribu rupiah. Selisih antara 10 juta dengan 700 ribu dianggap sebagai riba. Pemahaman ini tak ubahnya juga berangkat dari hal yang sama yakni menabung lalu dapat bunga sehingga uangnya bertambah. Tambahan ini dianggap sebagai riba. 

Sekali lagi bahwa memaknai dengan tepat “apa itu asuransi?” sangat berguna sekali dalam membantu terbitnya kesadaran dan niat yang baik sebagai member asuransi. Jadi, sebagai solusi terakhir bagi pembaca adalah: “perbaiki niat Anda ketika hendak ikut asuransi! Ingat bahwa Anda tidak sedang menabung! Jadi, jangan heran manakala santunan yang diberikan kepada Anda—saat Anda mengalami hal yang tidak diinginkan —santunan itu lebih besar atau bahkan lebih kecil dari total premi yang pernah Anda bayarkan! Saat Anda memilih produk asuransi, maka di saat itulah Anda sebenarnya sedang terjalin dalam sistem saling tolong-menolong dan gotong royong dalam menanggung beban sesama anggota peserta asuransi. Anda tidak sedang bertaruh. Anda juga tidak sedang menabung. Ini adalah kunci utama pemahaman. Dengan begitu, Anda akan terjauhkan dari asumsi gagal faham memandang asuransi sebagai maisir, qimar, gharar dan riba. Wallâhu a’lam biish shawâb.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBMNU PWNU Jawa Timur

Kamis 2 Mei 2019 20:0 WIB
Beda Menabung, Investasi, dan Asuransi
Beda Menabung, Investasi, dan Asuransi
Ilustrasi (via npost.tw)
Terkadang kita menemui pihak yang beranggapan bahwa menabung itu adalah sama dengan investasi, dan investasi adalah bagian dari asuransi. Itulah sebabnya banyak yang kemudian berusaha mempermasalahkan ketiga istilah ini. Bahkan ada yang bilang: “Saya setiap bulan setor uang sekian ribu ke pihak jasa asuransi, akan tetapi ketika saya mengalami kecelakaan, saya kok hanya dapat segini, lebih kecil dibanding total premi yang sudah saya bayarkan.”

Tak pelak lagi, akhirnya mereka menjelek-jelekkan perusahaan asuransi sebagai yang telah berlaku menipu (gharar). Sejatinya, permasalahan ini dapat diatasi asalkan mau mempelajari apa itu konsep menabung, investasi, dan asuransi. Jangan sampai ketidakpahaman ini justru malah memelencengkan dari tujuan semula berdirinya lembaga tempat menabung, investasi, dan asuransi. Dan jika hal ini justru terjadi pada akad asuransi yang sudah kita ambil, tak pelak lagi, maka akad tersebut menjadi batal dan justru menjadi haram buat sosok peserta asuransi tersebut untuk ikut terus dalam produk asuransi. 

Perlu diketahui bahwa ada perbedaan mendasar antara apa itu menabung, investasi dan asuransi. Menabung dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan istilah saving (pengamanan). Yang diamankan adalah harta kita, yang daripada disimpan sendiri lantas bisa hilang dicuri orang, atau menjadikan pola tabiat hemat kita menjadi hilang bila disimpan secara cash di laci almari rumah, maka perlu agar rasa hemat itu bisa kembali muncul, maka harus dipicu dengan jalan menitipkan harta kita pada perbankan. Menitipkan ini dalam istilah perbankan syariah dikenal dengan istilah akad wadî’ah.  

Karena menabung pada dasarnya adalah mengikut akad wadî’ah, maka sudah pasti uang yang dititipkan bisa diambil kembali. Besarnya sudah pasti juga sesuai dengan besaran uang yang kita tabungkan. Mungkin bisa jadi berkurang sedikit akibat biaya administrasi bulanan yang sudah disepakati antara nasabah dan perbankan, tapi tidak menutup pula uang tersebut bertambah, mengikut derajat inflasi mata uang yang direpresentasikan dalam bentuk bunga bank.

Ingat bahwa, bunga bank yang berasal dari tabungan ini pada hakikatnya hanyalah sebuah strategi atau metode pemasaran yang dilakukan oleh bank. Tujuannya hanya memancing, membujuk, merayu dan menarik calon nasabah agar mau menabung di bank tersebut. hakikatnya, bunga berfungsi menjaga nilai inflasi, mengikut pada ketentuan yang dikeluarkan oleh bank sentral. Bank sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia.

Baca juga:
Mengenal Prisip dan Manfaat Asuransi dalam Islam
Hukum Mengonsumsi Uang Deposito Bank
Ragam Pendapat Ulama tentang Hukum Bunga Bank
Berbeda halnya dengan investasi. Investasi dalam istilah fikihnya adalah sama dengan produk kemitraan, yang mana nasabah selaku rabbu al-mâl (pemilik harta) berhak mendapatkan nisbah bagi hasil dari uang yang diinvestasikannya melalui produk perbankan yang diambil. Adakalanya lewat deposito, dan adakalanya pula lewat reksadana. Karena di dalam investasi dibutuhkan waktu bagi penggunaan harta, maka sudah pasti pula, uang yang diikutkan produk investasi hanya bisa diambil manakala sudah mencapai hitungan periode tertentu. Misalkan, periode triwulan, periode trimester, 6 bulanan, bahkan satu tahunan. Di luar itu, dana nasabah tidak bisa diambil. Inilah investasi. 

Adapun asuransi, tidaklah sama dengan akad investasi atau bahkan tabungan. Basis dari akad asuransi adalah proteksi (perlindungan/takâful) dan ta’awun (tolong-menolong). Ada yang mendefinisikan bahwa asuransi adalah pengorbanan untuk sekarang, demi kemungkinan adanya risiko tak terduga di masa yang akan datang. Namun definisi ini cenderung sering disalahartikan, bahwa dengan asuransi, maka hakikatnya kita sama dengan menabung untuk risiko yang akan datang. Ini adalah pengertian yang salah namun kaprah. Kaprahnya kesalahan ini sering berakibat pada salahnya niat peserta dalam mengambil program asuransi yang dikehendaki. 

Seseorang yang mengambil asuransi kecelakaan untuk 1 bulan ke depan, bukan berarti kita berharap terjadinya kecelakaan pada diri kita. Dalam pelayaran dan pengapalan barang, pihak perusahaan perkapalan yang mengambil inisiatif Insurance Claim All Risk (IC A), bukan berarti ia berharap terjadinya kecelakaan selama perjalanan pengapalan barang. Jika risiko kecelekaan ini pada akhirnya tidak terjadi, lantas di akhir asuransi, ia bergegas mengambil premi yang sudah dibayarkan. Tidak demikian berlakunya. Memang ada beberapa produk asuransi menyandingkan produknya dengan beberapa unit yang terhubung dengan reksadana sehingga nasabah pengguna jasa sekaligus menjadi dua peserta, yaitu asuransi dan investasi. Namun, percayalah bahwa ini hanya gimmick pemasaran semata. Itu hanya strategi pemasaran dari perusahaan jasa asuransi. Dalam praktiknya tidak begitu. 

Jadi, sekali lagi, penting bagi kita memahami perbedaan di antara ketiga istilah menabung, investasi dan asuransi. Dengan memahami ketiganya, besar kemungkinan kita tidak menjadi salah dalam mengartikan dan khususnya salah dalam niat ketika mengikut masing-masing produk. Semula produk ditujukan untuk ta’âwun, e... malah menjadi bisnis. Atau semula produk ditujukan untuk fasilitator ibadah sosial, e malah dianggap sebagai lembaga investasi. Itu salah. Anda keliru. Belajarlah!


Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBMNU PWNU Jawa Timur

Rabu 1 Mei 2019 20:0 WIB
Mengenal Prisip dan Manfaat Asuransi dalam Islam
Mengenal Prisip dan Manfaat Asuransi dalam Islam
Kehidupan tak selalu mulus. Usia tak selalu muda. Badan tak selalu sehat dan kuat bekerja. Sudah berhati-hati di jalan, e... kecelakaan juga. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Demikianlah sebuah pepatah bilang, menggambarkan liku-liku kehidupan seorang insan yang mungkin akan dihadapinya kelak. Semua itu membutuhkan penyikapan. 

Manusia diciptakan dalam kondisi lemah. Karena kelemahannya itu, maka ia dianjurkan agar senantiasa memperhatikan hari esok. Ia harus mengantisipasi perjalanan usianya. Ia tidak selalu muda, dan selalu kuat bekerja. Demikian juga ia tidak selalu sehat, adakalanya dia harus menghadapi sakit. Jika sakitnya masih di usia muda, ada harapan untuk pulih kembali secara normal dan kembali berkarya. Namun tidak jarang pula, ia tidak dapat pulih. Bagi yang tidak mampu mengantisipasi dan menghargai waktu, dia kelak akan menyesal dan merugi. Isi hidupnya akan dipenuhi dengan rasa frustasi. Itulah sebabnya, Allah subhanahu wata‘ala mengingatkan dalam QS. Al-‘Ashr: 1-4:

وَالْعَصْر إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia ada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling berwasiat dalam perkara haq dan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Tahapan hidup manusia itu pada dasarnya ada empat, yaitu: (1) tahap anak-anak, (2) tahap remaja, (3) tahap berkeluarga, dan (4) tahap usia tua. Dari empat periode hidup ini, tahap yang paling produktif adalah tahap remaja dan tahap berkeluarga. Tahap ini ada pada kisaran usia 15 tahun sampai dengan usia 50 tahun. Masing-masing individu berbeda dalam siklus hidupnya. Adakalanya usia produktif itu baru terjadi pada kisaran usia 21 tahun, sementara akhir dari usia produktifnya 50 tahun. Ada pula, individu yang sampai usia 60 tahun, terbukti masih produktif. Adanya perbedaan pada usia produktif ini membutuhkan kearifan dalam menyikapi. Jangan sampai terlambat dalam menyikapinya, karena penyesalan itu selalu ada di akhir kemudian. Allah subhanahu wata‘ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah, dan hendaknya setiap jiwa mengantisipasi apa yang akan terjadi besok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Dzat Yang Maha Pemberi Kabar terhadap apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini secara tegas menyarankan agar tiap-tiap individu (tanpa kecuali) agar memperhatikan kehidupan hari esoknya. Jangan hanya berburu kesenangan sesaat, akan tetapi senantiasa waspadalah terhadap kemungkinan yang tak terduga. Pada saat itu kita membutuhkan: (1) pertolongan orang lain, (2) membutuhkan biaya pengobatan, (3) membutuhkan biaya menyekolahkan dan memondokkan putra-putri, dan lain-lain. Masih banyak yang tidak bisa disebutkan. 

Sudah barang tentu, untuk mendapatkan pertolongan terhadap orang lain, kita butuh sikap sosial yang baik. Kita perlu menjalin silaturahim dengan sesama. Bersedekah kepada orang yang lemah. Bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Menunaikan kewajiban zakat juga merupakan bagian dari realitas ibadah membina relasi sosial terhadap sesama. Namun, yang lebih mengena, biasanya adalah sedekah, infaq, uluran tangan, bantu membantu, ini merupakan senjata yang paling ampuh guna mewujudkan ibadah berupa membina kerukunan sosial itu. Sebagaimana hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadits:

عنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ : كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَصْبَحَتْ يَوْمًا قَرِيبًا مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ ، فَقَالَ : أَلا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ ، وَصَلاةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ

Artinya: “Dari Mu’adz Ibn Jabal, ia berkata: Suatu ketika aku bersama Nabi SAW dalam sebuah perjalanan. Dan suatu hari aku berjalan berada sangat dekat dengan Rasulullah, lalu beliau bersabda: “Mahukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa ibarat tameng, sedekah dapat melebur kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan bara, dan sholatnya seorang laki-laki tatkala tengah malam.” (Ibn Rajab al-Hanbaly, Syurûh al-Hadîts Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hukm, Beirut: Muassisah al-Risâlah, 2001: 134)

Di dalam naskah hadits di atas, Rasulullah menyampaikan bahwa sedekah dapat memadamkan bara api akibat kesalahan. Sebagai seorang insan, kita tidak luput dari kesalahan, bukan? Leburlah kesalahan itu dengan sedekah, insyaallah keridhaan akan senantiasa mengiringi langkah kita dari orang yang tidak sengaja menerima imbas akibat kesalahan kita itu. 

Lebih dari itu, bagaimana apabila sedekah ini disistemkan? Di dalam QS. Al-Mâidah: 2, Allah SWT memerintahkan:

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان واتقوا الله إن الله شديد العقاب

Artinya: “Dan saling tolong-menolonglah kalian dalam perbuatan baik dan ketakwaan, dan janganlah kalian saling tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Takutlah kalian kepada Allah! Sesungguhnya Allah Dzat Yang Maha Pedih siksa-Nya.” (QS. Al-Mâidah: 2)

Ayat ini mengandung makna perintah agar saling tolong-menolong dalam perbuatan baik dan taqwa. Ada sebuah fakta di masyarakat, bahwa tolong-menolong adalah bagian dari tradisi masyarakat kita. Misalnya, ada orang yang sedang menikahkan anaknya, dan ia tidak punya harta untuk melakukan resepsinya. Kadang para tetangga tidak segan datang ke rumah orang yang bersangkutan dengan membawa uang 10 ribu sampai dengan 20 ribu guna meringankan kebutuhan shahibu al-hajat. Ada tetangga meninggal, tak segan dan tanpa diminta, para tetangga datang dengan membawa beras untuk keperluan ta’ziyah dan meringankan beban dari tuan rumah yang tengah dirundung duka. Semua ini adalah gambaran tolong-menolong. Alangkah sangat bagusnya bila hal ini dikembangkan dalam ranah yang lain. Misalnya apabila ada tetangga yang sakit, kita bantu dengan memberikan uluran bantuan biaya pengobatan. Apabila hal ini dijadikan sebagai sebuah kegiatan rutin iuran bulanan sesama warga masyarakat, dengan niat kelak apabila ada warga yang dilanda sakit, maka akan diambilkan dari kas yang terkumpul untuk membantu meringankan biaya pengobatannya, betapa sangat mulia sekali perilaku seperti ini. Ini adalah sebuah gambaran upaya membina kerukunan di tengah warga melalui prinsip tolong-menolong. Tentu saja dalam hal ini sangat membantu sekali terhadap tugas perangkat desa dalam menjaga kerukunan di antara warganya. Indah sekali, bukan?

Demikianlah kiranya gambaran asuransi secara sederhana. Ada upaya untuk saling menanggung beban derita di antara sesama pesertanya. Sudah barang pasti, tidak sesederhana apa yang dicontohkan di atas, karena contoh di atas adalah berangkat dari sebuah upaya mensistemkan sedekah yang diperuntukkan untuk tolong-menolong saja. Dalam asuransi ada gambaran sistem yang lebih kompleks, yang kelak kita akan bahas dan kupas satu per satu. Insyaallah. 

Ilustrasi Lembaga Asuransi Sederhana

Di desa Sumber Makmur, Pak Kepala Desa mengadakan iuran rutin bersama warganya. Hasil dari iuran yang terkumpul, dicatat dan dilaporkan setiap tahunnya oleh petugas yang diserahi untuk mengumpulkan. Sudah pasti, ada gaji sebagai pengganti uang lelah bagi petugas tersebut yang diambil dari kas yang terkumpul setiap bulan. Dari hasil musyawarah desa, ditetapkan bahwa gaji petugas pengumpul adalah 500 ribu rupiah. Maklum, perangkat desa bukan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ia hanya rakyat biasa yang dipercaya untuk mengurusi warganya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membantu warga yang menjadi peserta iuran rutin ketika ia dilanda sakit.

Sejak awal didirikan, Pak Kepala Desa selaku pembina dari perkumpulan tersebut sudah memberitahukan bahwa: Pertama, dana tersebut digunakan hanya untuk menolong warga peserta perkumpulan yang tengah kesulitan dalam pengobatan akibat sakit keras, seperti karena kecelakaan atau operasi. Sudah barang tentu dalam hal ini, jika sakitnya hanya sekedar sakit ringan (misal sakit kepala), maka claim yang diberikan warga tidak akan diterima. Jadi, ada syarat ketentuan jenis sakitnya. Kedua, agar dana yang terkumpul tetap aman, maka dana tersebut sebagian didepositokan atau ditabungkan ke sebuah bank. Ketiga, untuk mengantisipasi bilamana terjadi hal yang sekira mendadak membutuhkan pengambilan dana, maka sebagian dari dana yang terkumpul, dibelikan emas dan dititipkan ke pegadaian. Semua ketentuan ini disampaikan dalam forum musyawarah desa dan disetujui oleh masyarakat. 

Untuk menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam pengajuan klaim, maka diatur syarat-syarat pengajuan, misalnya: 

1. Warga yang mengajukan klaim biaya pengobatan karena sakit keras, harus menyertakan surat atau resep dokter ke bendahara dan diketahui oleh kepala desa

2. Klaim boleh diajukan selama yang bersangkutan (pihak yang sakit) masih berada di rumah sakit, dan diwakili oleh keluarganya. 

3. Besar biaya yang bisa diberikan diatur dan disepakati secara bersama-sama dalam forum musyawarah desa. Misalnya, untuk warga yang sakit karena operasi, maka diberikan santunan sebesar 2 juta rupiah. Untuk warga yang mengalami kecelakaan sehingga mengalami cacat, maka diberi santunan sebesar 5 juta. Untuk warga yang mengalami kecelakaan dan besar kemungkinan bisa kembali normal, maka diberi santunan 2 juta. 

Semua contoh di atas merupakan contoh praktis dari proses asuransi sederhana. Berdasar contoh di atas, ada unsur ta’awun (saling tolong-menolong), dan ada juga unsur kafâlah (pengambil alihan tanggung jawab korban atas biaya pengobatan oleh petugas yang diwakili oleh Kepala Desa). Sederhana, bukan? 

Karena di dalam asuransi ada kafâlah, maka lembaga asuransi sering disebut juga sebagai takâful. Prinsip takâful syarî’ah adalah ta’âwun (saling tolong-menolong). Dengan begitu, tidak boleh ada harapan bagi peserta untuk menarik kembali dana yang sudah diserahkan. Dana yang diserahkan ke petugas penarik selama satu bulan sekali, dalam istilah asuransi modern, dikenal sebagai premi. Umumnya besarnya premi ini ditentukan oleh pihak lembaga asuransi. Misalnya, premi ditarik sebesar 70 ribu sebulan. Untuk kasus asuransi sederhana di desa, sudah barang tentu tidak sebesar ini. Tentu pihak Kepala Desa menentukannya atas dasar kemampuan ekonomi masyarakat yang dipimpinnya. Namun untuk lembaga asuransi modern, premi ini biasanya ditetapkan agak sedikit lebih tinggi. 

Setiap premi yang dibayarkan kepada petugas, selalu dicatat dalam sebuah dokumen. Dokumen ini disebut dengan istilah polis asuransi. Kalau tingkatan desa, mungkin setara dengan kwitansi. Dari premi yang terkumpul inilah, akad kafâlah bisa dilakukan oleh Pak Kepala Desa terhadap korban yang memiliki kewajiban membayar biaya pengobatan sesuai dengan yang sudah disepakati. 

Ada kalanya, besaran biaya premi itu ditentukan berdasarkan besar kecilnya risiko yang dimiliki oleh seseorang. Pak Raden sering berada di perjalanan, sudah pasti dia lebih besar risikonya untuk mengalami kecelakaan dibanding Pak Ogah yang setiap harinya berada di sawah. Karena risiko Pak Raden lebih besar dibanding Pak Ogah, maka Pak Raden bisa dipungut biaya premi bulanan lebih tinggi dibanding Pak Ogah. Ini adalah bagian dari prinsip keadilan. Untuk itu, petugas harus pandai-pandai dalam melakukan stratifikasi dan mengenali risiko pihak yang menjadi peserta. Stratifikasi premi ini bisa dikelompokkan berdasar kelas masyarakat. Misalnya seperti ini: 

- Masyarakat Kelas Karyawan/Pegawai: Sering berada di jalan dan memakai kendaraan
- Masyarakat Kelas Pedagang: Sering di jalan, namun tidak sesering kelas karyawan/pegawai
- Masyarakat Petani: Tidak sering di jalan

Berdasarkan tingkat keseringan ini, besaran premi bisa dipungut dengan besaran yang berbeda antara kelas satu dengan kelas lainnya. 

Terkadang premi kesehatan juga ditetapkan berdasarkan risiko yang sering muncul. Orang dengan kebiasaan merokok akan lebih rentan terserang penyakit jantung dibanding orang yang tidak merokok. Untuk itu, premi perokok lebih tinggi dibanding premi bukan perokok. Orang yang sering panjat tebing, atau berolahraga tinju dan bela diri, akan lebih rentan melakukan operasi dibanding orang yang kerja hariannya ada di kantor. Itulah sebabnya, premi masing-masing pihak ini senantiasa ditetapkan dan dipungut berbeda dibanding peserta lainnya. Model pemungutan demikian ini sudah diterapkan sejak lama oleh lembaga asuransi modern. 

Demikianlah umumnya premi dipungut untuk setiap produk asuransi. Bahkan asuransi rumah, kendaraan, seluruhnya menggunakan prinsip yang sama, yaitu berbasis risiko. Semakin besar risiko yang mungkin terjadi, semakin besar pula biaya premi asuransi yang dibayarkan oleh peserta yang mengambil program tersebut. Bagaimana kiranya dengan asuransi jiwa? Asuransi Pendidikan? Apakah juga mengikut prinsip yang sama? 

الخراج بالضمان

Artinya: “Pengeluaran berbanding lurus dengan tanggung jawab risiko.”

Wallâhu a’lam bish shawâb.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh PP Hasan Jufri Putri P. Bawean dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBMNU PWNU Jawa Timur

Selasa 26 Februari 2019 14:30 WIB
Politik Pangan dan Pengaruhnya terhadap Impor Indonesia
Politik Pangan dan Pengaruhnya terhadap Impor Indonesia
Ilustrasi (via bangkokpost.com)
Pemasaran produk dalam pasar bebas (free market) menciptakan timbulnya iklim persaingan. Karena di dalam pasar ada kemungkinan ditemui produk-produk yang memiliki kemiripan atau bahkan sama, maka timbullah yang dinamakan strategi pemasaran. Strategi yang baik adalah strategi yang dikelola. Upaya pengelolaan strategi pemasaran diwadahi dalam satu divisi tersendiri oleh sebuah organisasi perusahaan, yang dalam perkembangannya, dikenal sebagai manajemen pemasaran (marketing management). 

Ada empat komponen utama penyusun manajemen, antara lain: (1) kebijakan organisasi, (2) manajemen pengetahuan, (3) berfikir skenario dan (4) strategi eksekusi di lapangan. 

Sebuah strategi lahir pasti didahului oleh sebuah skenario. Dasar dari skenario ini adalah bahwa di dalam sebuah aksi, maka akan terbentuk yang dinamakan reaksi yang merupakan landasan bagi aksi selanjutnya. Inilah skenario itu. 

Sebagai contoh misalnya tahun 1968, Presiden Soeharto pernah menelurkan kebijakan impor terigu dari Amerika Serikat. Awal mulanya impor dilakukan hanya sebesar 390 ribu ton saja sebagai antisipasi kebutuhan sandang dan pangan jelang lebaran. 

Maksud utama pemerintah saat itu dalam menerapkan kebijakan impor ini adalah baik, yaitu sebagai faktor pengendali harga pangan di pasaran. Banyak dipuji, bahwa kebijakan tersebut dinilai berhasil mengendalikan harga terigu di pasaran. Namun, disadari atau tidak, justru jumlah inilah rupanya yang menjadi stimulan bagi impor gandum ke Indonesia secara besar-besaran pasca tahun 1970. 

Gandum merupakan bahan baku terigu. Ia dipergunakan sebagai bahan dasar pembuat roti dan mie instan. Semula Indonesia memanfaatkan bahan dasar roti dari tapioka yang memiliki bahan dasar berupa tepung singkong. Dengan masuknya terigu ke Indonesia, yang saat itu dijual lebih murah dari tapioka, apalagi terigu memiliki cita rasa yang hampir mirip dengan beras yang merupakan bahan dasar makanan pokok Indonesia, maka dengan mudah terigu menjadi diterima oleh cita rasa lidah Indonesia. Lambat laun, tapioka menjadi terpinggirkan dan tergantikan oleh terigu yang berbahan dasar gandum. 

Dengan alasan ilmiah, yaitu menjaga stabilitas harga terigu di Indonesia, maka Amerika Serikat mengirimkan para pakar pengetahuannya untuk meyakinkan para pembuat keputusan dan kaum teknokrat bahwa jumlah pasokan gandum di dunia sangatlah besar. Tidak hanya dari Amerika, melainkan juga dari Timur Tengah. Seolah tidak ada skenario monopoli di sini. Inilah awal bagi manajemen pengetahuan. Meyakinkan pemimpin negara tertentu dengan argumentasi ilmiah dan sistematis namun berbasis skenario. Apa skenarionya? Produk gandum Amerika Serikat menemukan pasar baru.

Dengan motif pertama berupa hibah lunak harga terigu ditambah mulai didirikannya tiga buah pabrik pengolahan biji gandum, pada tahun 1970, maka mulailah sedikit demi sedikit bantuan hibah Amerika tersebut dikurangi. Jadilah kemudian, Indonesia bertindak selaku konsumen pengimpor gandum yang besar. Besarnya impor ini dari tahun ke tahun naik sekitar 5-6% seiring perubahan demografi penduduk Indonesia yang lahir dari darah gandum. Bagaimana hal ini terjadi?

Substitusi pengetahuan tentang gandum lewat pakar pangan Amerika rupanya mempengaruhi banyak para akademisi dan teknokrat Indonesia untuk mendorong pengembangan inovasi produk dengan bahan baku gandum. Popularitas gandum ini semakin naik seiring muncul produk-produk baru berbahan baku gandum, salah satunya adalah mie instan.. Makanan cepat saji ini menjadi tidak asing lagi bagi lidah masyarakat Indonesia. Bahkan menurut data yang dihimpun oleh World Instant Noodles Association (WINA), total kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap mie instan ini mencapai 14,8 Miliar bungkus, pada tahun 2016. Angka konsumsi ini dikabarkan meningkat sebesar 13,2 Miliar bungkus dibanding tahun sebelumnya. Tahun 2017 saat itu diprediksi akan terjadi peningkatan sebesar 16 miliar bungkus. Padahal kita tahu, bahwa mie instan ini berbahan baku tidak dari hasil pertanian Indonesia. 

Pergeseran gandum, dari semula sebagai produk kelas tersier sebagai substitusi pengendalian harga tapioka di pasaran jelang lebaran (yang berbahan baku singkong) menjadi produk kelas utama dan harian, menjadikan Indonesia merupakan negara yang harus mengikuti skenario politik pangan gandum negara pengekspor lainnya, dalam hal ini adalah Amerika Serikat (USA). 

Permintaan pasar yang tinggi terhadap produk turunan gandum mendorong impor gandum dari hari ke hari menjadi semakin meningkat. Padahal, kita tahu bahwa gandum bukan termasuk jenis tanaman yang bisa diproduksi di wilayah subtropis dan jenis tanah alluvial seperti di Indonesia. Akibatnya, meskipun Indonesia sudah menggiatkan diri melakukan alternatif penelitian dan upaya inokulasi penanaman gandum, namun angka yang mampu diproduksinya tidak bisa sesukses di negeri-negeri produsen aslinya. Impor pada akhirnya tidak bisa dihindari. 

Data tahun 2016 yang dipublikasikan oleh Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) menyebutkan bahwa impor gandum pada paruh 2016 telah mencapai 8,2 juta ton. Prediksi impor ini akan meningkat di tahun 2017 yakni sebesar 5-6%, sehingga berkisar antara 8,7-8,8 juta ton , di tahun 2017. Dengan demikian, pada tahun 2018, perkiraan angka impor gandum terjadi sebesar 9,3-9,4 juta ton, dan tahun 2019 mencapai 9,9-10 juta ton per tahun. Terakhir, angka produksi gandum Indonesia, hanya mencapai 500 ribu ton per tahun. Angka impor ini masih diprediksi akan terus meningkat seiring berdirinya industri baru pembuat tepung berbahan baku gandum. 

Kita bersyukur, hari ini sudah mulai dilakukan penelitian pangan dengan tema dasar mencari alternatif pengganti gandum. Penelitian dilakukan terhadap beberapa jenis tanaman pokok yang mampu hidup dengan baik di Indonesia. Beberapa di antaranya ada yang memfokuskan diri pada cassava (ubi kayu). Segi keuntungan dari penelitian ini adalah selain cassava merupakan tanaman endemik Indonesia, keberadaannya selama ini masih kurang maksimal dimanfaatkan oleh masyarakat. Sampai di sini, kita berharap bahwa penelitian ini berhasil dilakukan sebagai solusi mengurangi impor gandum. 


Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jatim