IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Sayyidina Abu Darda' Mengasihi Ahli Maksiat

Sabtu 4 Mei 2019 7:0 WIB
Share:
Sayyidina Abu Darda' Mengasihi Ahli Maksiat
Ilustrasi (via viralpos.info)
Dalam kitab al-Jâmi’ li Syu’ab al-Îmân, Imam al-Baihaqi (384-458 H) mencantumkan salah satu riwayat yang menceritakan Sayyidina Abu Darda’ yang mengasihi pelaku maksiat. Berikut riwayatnya:

وعن أبي قلابة ان أبا الدرداء مرّ على رجل قد أصاب ذنباً فكانوا يسبونه، فقال: ارأيتم لو وجتموه في قليب الم تكونوا تستخرجنه؟ قالوا: بلى، قال: فلا تسبوا اخاكم وأحمدوا الله عز وجل الذي عافاكم. قالوا: افلا تبغضه؟ قال: إنما ابغض عمله، فإذا تركه فهو أخي

Dari Abu Qilabah bahwa sesungguhnya Abu Darda’ bertemu dengan seorang laki-laki yang telah berbuat dosa. Orang-orang ramai mencela laki-laki itu. Abu Darda’ berkata: “Tidakkah kalian lihat, andai kalian mendapatinya (terjebak) di dalam sumur, tidakkah kalian akan mengeluarkannya dari sumur?” Mereka menjawab: “Tentu saja.”

Abu Darda’ berkata: “Janganlah kalian mencela saudara kalian, dan pujilah Allah ‘azza wa jalla yang memberikan kesehatan kepada kalian.” Mereka berkata: “Bukankah kita (harus) membencinya?” Abu Darda’ berkata: “Yang harus dibenci adalah perbuatannya. Jika ia meninggalkan perbuatan (buruknya), ia adalah saudaraku.” (Imam al-Baihaqi, al-Jâmi’ li Syu’ab al-Îmân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2000, juz 5, h. 290-291)

****

Kita, sebagai manusia, jangan sampai memakai hak prerogatif Tuhan dalam menilai orang lain, “mâliki yaumid dîn—Tuhan yang menguasai hari pembalasan.” Karena “lagak” menggunakan hak itu akan berdampak pada beberapa hal secara tidak disadari. Salah satu yang paling berbahaya adalah, seakan-akan menutup pintu taubat Tuhan. Padahal, pintu taubat Tuhan terbuka lebar untuk dimasuki siapa pun. 

Dengan melaknat dan menghakimi orang lain, seakan-akan kita telah mendahului Tuhan dan memastikan predikat buruk orang tersebut. Kita lupa bahwa ia adalah orang hidup, yang terus berubah dan berkembang. Bisa saja di suatu hari ia akan meninggalkan semua perilaku buruknya dan memperbaiki dirinya. Apalagi rahmat Allah tidak bisa diprediksi dengan banyak atau sedikitnya amal. Indikator masuk-tidaknya orang ke surga pun penuh dengan misteri. Contohnya seorang pelacur wanita yang diampuni seluruh dosanya gara-gara satu amalnya yang tulus. Rasulullah bersabda (HR. Imam al-Bukhari):

غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ

“Seorang pelacur diampuni (dosa-dosanya). Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di tepi sumur. Anjing itu hampir mati kehausan, kemudian wanita (pelacur itu) melepaskan sepatunya lalu mengikatnya dengan penutup kepalanya dan mengambilkan air untuk anjing tersebut. Maka Allah mengampuni (dosa-dosanya) dengan sebab perbuatannya itu.”

Seorang pelacur yang bergelimang dosa, dengan satu amalnya terhadap seekor anjing, ia mendapatkan ampunan dari Allah. Ini menunjukkan ampunan Allah tidak terbatas, dan bisa mengenai siapa saja, seburuk dan sebaik apapun orang tersebut. Karena tidak ada yang benar-benar pasti dalam kehidupan. Selama kita hidup, kita selalu bertemu dua kemungkinan; meninggal dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik), atau meninggal dalam keadaan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Jadi, sebanyak apapun amal seseorang, ia harus terus menjaga dirinya, termasuk dari mencela para pelaku dosa, apalagi jika celaannya didasarkan pada rasa “lebih baik” dari pelaku dosa tersebut.

Karena itu, Sayyidina Abu Darda’ (w. 32 H) mengajukan pertanyaan menarik. Ia bertanya, “Tidakkah kalian lihat, andai kalian mendapatinya (terjebak) di dalam sumur, tidakkah kalian akan mengeluarkannya dari sumur?” Meski terkesan biasa, sebenarnya pertanyaan ini mengandung makna luar biasa. Dengan bertanya seperti itu, Sayyidina Abu Darda’ masih meyakini kebaikan yang ada di hati orang-orang tersebut, selain juga menyadarkan orang-orang tersebut bahwa ada kebaikan di hati mereka. Itu terbukti dengan jawaban mereka, “Tentu saja.” 

Setelah sisi kebaikan itu sedikit terbangun, Sayyidina Abu Darda’ mulai masuk dengan memberi nasihat, “Janganlah kalian mencela saudara kalian, dan pujilah Allah ‘azza wa jalla yang memberikan kesehatan kepada kalian.” Kalimat “kesahatan kepada kalian” juga mengandung daya tarik tersendiri, seakan-akan Sayyidina Abu Darda’ ingin menyadarkan mereka bahwa tanpa kesehatan “kalian tidak akan bisa mencela” dan “berpikir untuk menilai orang lain”. Jadi, lebih baik kesehatan itu digunakan untuk memuji Allah dan mendoakan orang yang melakukan dosa tersebut.

Kemudian mereka bertanya, “Bukankah kita (harus) membencinya?” Pertanyaan ini menunjukkan kesadaran mereka mulai terbangun, karena mereka tidak mengatakan, “kita harus membencinya, dia seorang pendosa.” Di samping itu, pertanyaan tersebut juga menunjukkan bahwa mereka perlahan-lahan mulai mengakui kesalahannya. Setelah setting siap, Sayyidina Abu Darda’ masuk ke inti persoalan dengan mengatakan, “Yang harus dibenci adalah perbuatannya. Jika ia meninggalkan perbuatan (buruknya), ia adalah saudaraku.” Beginilah seharusnya kita bersikap, memandang semua orang dengan kasih, sebagaimana yang diajarkan Sayyidina Abu Darda’, sahabat nabi yang mulia.

Sebab, jika kita memandang seseorang hanya dari keburukannya, perlahan-lahan pikiran kita tidak sehat, secara tidak sadar kita sedang menumpuk kebencian, yang semakin lama, semakin menggunung. Bisa jadi ini adalah salah satu penyebab ekstremisme dalam beragama. Salah satu contoh yang menarik adalah dialog Syekh Mutawalli al-Sya’rawi (1911-1998 M) dengan seorang ekstrimis muda (syâb mutasyaddid). Syekh al-Sya’rawi bertanya: “Apa agama membolehkan pengeboman klub malam?” Pemuda itu menjawab: “Tentu saja. Membunuh mereka itu boleh.” Syekh al-Sya’rawi berkata: “Seandainya kau membunuh mereka dalam keadaan mereka bermaksiat kepada Allah, di manakah mereka akan ditempatkan?”

“Tentu saja di neraka,” jawab pemuda itu. Syekh al-Sya’rawi berkata: “Artinya kau dan setan memiliki tujuan yang sama, memasukkan orang ke dalam neraka.” Karena secara tidak langsung, dengan membunuh mereka, ia telah menutup kemungkinan para pelaku maksiat itu menjadi orang baik. Dan yang paling diuntungkan dalam peristiwa ini adalah setan.

Dengan demikian, kita harus mulai meningkatkan kesadaran dan menahan diri dalam mencela dan menghakimi. Yang harus kita benci adalah perbuatannya, bukan orangnya. Dengan cara pandang seperti ini, kita akan terus berupaya memisahkan keburukan darinya, dengan cara yang santun dan ma’ruf. Jika perasaan hendak mencela datang, kita harus bergegas memohon ampun, memberishkan ruang hati, dan berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari merasa “lebih baik” dari orang lain. Tidak mudah, tapi tidak mustahil untuk dilakukan.

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen. 

Share:
Kamis 2 Mei 2019 14:0 WIB
Cara Rasulullah Mendidik Anak Kecil yang Membangkang
Cara Rasulullah Mendidik Anak Kecil yang Membangkang
Dalam kitab Sunan Abî Dawud, Imam Abu Dawud Sulaiman memasukkan sebuah riwayat menarik tentang Sayyidina Anas dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut riwayatnya:

قَالَ أَنَسٌ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ فَقُلْتُ وَاللَّهِ لَا أَذْهَبُ وَفِي نَفْسِي أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, قَالَ: فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي السُّوقِ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَابِضٌ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقَالَ: يَا أُنَيْسُ اذْهَبْ حَيْثُ أَمَرْتُكَ, قُلْتُ: نَعَمْ أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللَّهِ, قَالَ أَنَسٌ: وَاللَّهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ سَبْعَ سِنِينَ أَوْ تِسْعَ سِنِينَ مَا عَلِمْتُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُ هَلَّا فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا

Anas bin Malik berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Suatu hari beliau mengutusku untuk suatu keperluan, aku berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan pergi (mengerjakan perintahnya).’ Padahal diriku sebenarnya ingin pergi melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku.”

Anas berkata: “Lalu aku keluar (rumah). Aku melewati sekumpulan anak-anak yang sedang bermain di pasar, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tengkukku dari belakang, aku melihat kepadanya, dan beliau sedang tertawa, kemudian berkata: “Wahai Anas, pergilah sebagaimana yang kuperintahkan padamu (tadi).” Aku menjawab: “Baik, aku akan pergi (melaksanakannya), ya Rasulullah.” 

Anas berkata: “Demi Allah, sudah tujuh atau sembilan tahun aku mengabdi kepadanya, aku tidak pernah (mendengarnya mengomentari) kesalahan yang kulakukan dalam mengerjakan sesuatu dengan berkata: “Kenapa kau melakukannya begini dan begini,” atau mengomentari (kelalaianku) melakukan sesuatu dengan berkata: “Kenapa kau tidak melakukan ini dan ini.” (Imam Abu Dawud, Sunan Abî Dawud, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, tt, juz 4, h. 246-247)

****

Sayyidina Anas bin Malik berasal dari suku Najjar, salah satu klan dari suku Khajraz di Yatsrib (Madinah). Ayahnya bernama Malik bin Nadhr meninggal sebelum memeluk Islam, kemudian ibunya, Ummu Sulaim, menikah lagi dengan Sayyidina Abu Thalhah al-Anshari, seorang sahabat nabi yang turut serta dalam Bai’at al-‘Aqabah yang kedua. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, banyak orang yang memberinya hadiah, tapi Ummu Sulaim tidak mampu mengupayakan itu. Dalam salah satu riwayat diceritakan (HR. Imam al-Turmudzi):

قدم رسول الله المدينة وأنا ابن ثمان سنين، فأخذت أمي بيدي، فانطلقت بي إليه، فقالت: يا رسول الله, لم يبق رجل ولا امرأة من الأنصار إلا وقد أتحفك بتحفة، وإني لا أقدر على ما أتحفك به إلا ابني هذا، فخذه، فليخدمك ما بدا لك, قال: فخدمته عشر سنين، فما ضربني، ولا سبني، ولا عبس في وجهي

“Rasulullah datang ke Madinah saat aku berusia delapan tahun, kemudian ibuku menggandeng tanganku dan membawaku pada Rasulullah, ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidak seorang laki-laki dan perempuan pun dari kaum Anshar yang datang kepadamu kecuali memberi hadiah untukmu, sedang aku tidak mampu memberimu hadiah kecuali anakku ini. Ambillah, agar ia bisa melayanimu.” Anas berkata: “Aku mengabdi pada Rasulullah sepuluh tahun lamanya, tidak pernah sekalipun beliau memukul, mencaci atau berwajam masam kepadaku.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 2001, juz 3, h. 399)

Riwayat ini menunjukkan bahwa Sayyidina Anas adalah anak kecil yang memiliki dunianya sendiri, gemar bermain dan bersenang-senang. Andaipun disuruh melakukan sesuatu, tanpa segan ia mengatakan, “tidak”, meski yang menyuruhnya adalah Rasulullah. Ini bukan hal yang aneh, karena begitulah anak kecil. Yang menarik di sini adalah cara bersikap Rasulullah. Mendengar kalimat, “aku tidak akan pergi melakukannya,” beliau tidak menampakkan kemarahan, berwajah masam dan menghardiknya dengan keras, tapi meninggalkannya. Baru kemudian, ketika beliau menjumpai Sayyidina Anas di pasar, beliau memegang tungkuknya dan berkata, “Wahai Anas, pergilah sebagaimana yang kuperintahkan padamu (tadi).”

Dan Sayyidina Anas menjawab, “Baik, aku akan pergi (melaksanakannya), ya Rasulullah.” Ini menarik, karena Rasulullah tidak bertanya, “apa kau sudah melaksanakan perintahku?” Jika Rasulullah menanyakan itu, bisa jadi Sayyidina Anas bingung menjawabnya, karena ia belum melakukannya, bisa saja pertanyaan semacam itu membuatnya terpojok dan akhirnya berbohong. Karena itu, Rasulullah menggunakan pendekatan teladan yang baik dan mudah dimengerti oleh anak kecil, didukung dengan wajah beliau yang sama sekali tidak menunjukkan kemarahan, malah tertawa lepas tanpa beban.

Hal menarik lainnya adalah jeda yang diberikan Rasulullah. Ketika perintahnya ditolak Sayyidina Anas, beliau memberinya ruang agar ia tidak merasa ditekan. Anak kecil tentunya berbeda dengan orang dewasa. Bagi anak kecil, ancaman dirasakan sebagai tekanan, karena fitrahnya memang suka bermain-main. Karena itu, selama sepuluh tahun melayaninya, Rasulullah tidak pernah sekalipun berkata kasar dan menyalahkannya. Sayyidina Anas bercerita (HR. Imam Ahmad):

خدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَمَا كُلُّ أَمْرِي كَمَا يُحِبُّ صَاحِبِي أَنْ يَكُونَ مَا قَالَ لِي فِيهَا أُفٍّ وَلَا قَالَ لِي لِمَ فَعَلْتَ هَذَا وَأَلَّا فَعَلْتَ هَذَا

“Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Tidak semua pekerjaanku sesuai dengan perintah beliau, (tapi) beliau tidak pernah berkata kepadaku (karena ketidak-becusanku) “ah/dasar”, dan tidak pernah (juga) berkata padaku, “kenapa kau lakukan ini?” dan “kenapa tidak kau lakukan (seperti) ini?”

Artinya, Rasulullah sedang mendidik Sayyidina Anas dengan keteladanan, sehingga kesan yang ditangkap olehnya adalah kelembutan pekerti dan kemuliaan akhlak. Sikap Rasulullah inilah yang menumbuhkan rasa tidak enak hati secara alami dalam perasaan Sayyidina Anas. Karena selama bertahun-tahun bersama Rasulullah, ia tidak pernah merasa dipertentangkan dengan keadaan yang membuatnya berbohong, dan dibandingkan dengan anak kecil lainnya hingga menimbulkan perasaan kurang dihargai. Sikap Rasulullah ini menunjukkan bahwa dunia anak-anak adalah dunia yang tidak bisa dipandang secara menyeluruh dengan perspektif orang dewasa. 

Karena itu, Rasulullah memperlakukan Sayyidina Anas sebagai anak kecil, bukan sebagai orang dewasa, sehingga apapun kesalahan yang dilakukannya, ia tidak menyalahkannya, tapi memberinya contoh yang benar. Nasihat dan kata-kata memang berarti, tapi bagi anak-anak, contoh keteladanan jauh lebih terasa artinya. Ini bisa dilihat dari sekian banyak riwayat yang menceritakan bagaimana Rasulullah bergaul dengan anak kecil, baik cucunya sendiri, maupun orang lain, termasuk Sayyidina Anas.

Pada akhirnya, Sayyidina Anas bin Malik menjadi maha guru. Ia meriwayatkan ribuan hadits, memiliki banyak murid, dan menjadi penjaga ilmu. Menurut satu pendapat, ia meriwayatkan sekitar 2.286 hadits, dengan murid yang sangat banyak. Ia memiliki banyak anak dan umur yang panjang, sebagaimana doa Rasulullah untuknya, saat ibunya meminta Rasulullah mendoakannya, “allahumma aktsir mâlahu wa waladahu wa athil ‘umrahu waghfir dzanbahu—Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, panjangkanlah umurnya, dan ampunilah dosanya.” (Imam Ibnu al-Jauziy, Shifat al-Shafwah, Kairo: Darul Hadits, 2000, juz 1, h. 278)

Sayyidina Anas bin Malik wafat di usia yang sangat tua karena penyakit kusta. Mengenai di usia berapa ia meninggal, para ulama berbeda pendapat. Abu Ubaid, Qatadah, Hamid dan al-Haitsam bin ‘Adi berpendapat Anas meninggal di usia 91 tahun; al-Waqidi berpendapat di usia 92 tahun; Ibnu ‘Aliyah, Sa’id bin ‘Amir, dan Abu Nu’aim berpendapat di usia 93 tahun; pendapat lainnya mengatakan di usia 103 atau 107 tahun (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, 2001, juz 3, h. 406-407).

Intinya, kita harus memperlakukan anak kecil sebagai anak kecil. Jangan paksakan padangan orang dewasa kepada mereka. Karena standar kebenaran anak kecil, belum semapan orang dewasa. Kebenaran bagi mereka masih berganti-ganti, sesuai selera kesenangan mereka. Di samping itu, kita juga harus mengedepankan keteladanan dalam bergaul dengan mereka. Nasihat dan penjelasan tetap harus dilakukan, tapi keteladanan tak bisa ditinggalkan. Bukankah demikian seharusnya? Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.


Selasa 30 April 2019 22:30 WIB
Kisah Liang Kubur Bicara saat Sayyidah Fatimah Dimakamkan
Kisah Liang Kubur Bicara saat Sayyidah Fatimah Dimakamkan
Dikisahkan bahwa saat Sayyidah Fatimah Az-Zahra wafat, jenazah putri kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu diusung oleh empat orang-orang saleh, yaitu suaminya sendiri Sayyidina Ali, kedua putranya Hasan dan Husain, serta sahabat Abu Dzar al-Ghifari.

Ketika Jenazah Sayyidah Fatimah sudah tiba di samping liang kubur dan siap dikebumikan, Abu Dzar al-Ghifari langsung berkata kepada liang kubur yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Sayyidah Fatimah.

"Wahai kubur, apakah kamu tahu jenazah siapa yang kami bawakan kepadamu?" ucap Abu Dzar al-Ghifari.

Tanpa panjang lebar Abu Dzar al-Ghifari pun melanjutkan ucapannya.

"Ini adalah jenazah Sayyidah Fatimah, putri Rasulullah, istrinya Sayyidina Ali, dan Ibunda Hasan dan Husain," tegas Abu Dzar.

Tidak lama kemudian orang-orang yang mengantar jenazah Sayyidah Fatimah langsung mendengar suara dari dalam kubur:

"Aku bukanlah tempat bagi keturunan orang terhormat, bukan pula tempat bagi keturunan orang kaya. Aku adalah tempat amal saleh, maka tidak akan selamat dariku kecuali orang yang banyak berbuat kebaikan, orang yang hatinya bersih dan orang yang ikhlash dalam beramal.
Kisah ini dikutip dari Durratun Nashihin fil Wa'dzi wal Irsyadi karya Syekh Utsman bin Hasan Al-Khaubawi (Semarang: Toha Putra, tt, hal. 146-147). Hikmah yang bisa dipetik adalah bahwa yang akan menyelematkan kita di alam kubur dan di akhirat kelak bukanlah karena faktor keturunan, melainkan karena amal saleh. Jangankan kita manusia biasa, Sayyidah Fatimah binti Rasulullah pun ketika akan memasuki alam kubur tetap harus melewati prosedur yang telah ditetapkan.

Cerita tersebut kian menegaskan firman Allah bahwa sesungguhnya yang paling mulia di sisi-Nya adalah mereka yang paling bertakwa (QS al-Hujrat:13). Artinya, standar kemuliaan ditentukan oleh kualitas pribadi dalam hal ketakwaan, bukan oleh nasab atau kekayaan.

Soal keadilan ini pun berlaku pada tataran sosial. Rasulullah menolak diskriminasi dengan alasan strata sosial dan ekonomi atau faktor keturunan. Tak heran, saat Rasulullah mendapati para sahabatnya canggung menghukum seorang pencuri dari subklan Bani Makhzum lantaran kebangsawanannya, beliau berdiri dan berpidato di depan khalayak:

"Sungguh orang-orang sebelum kalian hancur lantaran apabila ada bangsawan mencuri, dibiarkan; sementara apabila ada kaum lemah mencuri, dihukum. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya." Demikian diriwayatkan Imam Muslim.

Wallahu a’lam.

(Aiz Luthfi)

Senin 29 April 2019 18:0 WIB
Antara Bakti kepada Sang Ibu dan Punya Istri Muda
Antara Bakti kepada Sang Ibu dan Punya Istri Muda
Ilustrasi (BBC)
Pagi itu Pak Fulan dipanggil ibunya – sebut saja Bu Basuki.  Ada persoalan penting yang akan dibicarakan sang ibu bersama  Pak Fulan sehubungan aduan istri Pak Fulan dan anak-anaknya bahwa Pak Fulan telah memiliki istri muda.  Sang ibu sangat sedih mendengar aduan itu karena berpengaruh langsung terhadap kebahagiaan cucu-cucunya serta seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan  mereka.

“Kemarin istri dan anak-anakmu datang kemari. Mereka menangis sesunggukan mengapa kamu diam-diam menikah lagi. Benar kamu menikah lagi?” tanya Bu Basuki kepada Pak Fulan yang seorang saudagar kaya raya itu. 

“Benar, Bu,” jawab Pak Fulan jujur. 

“Aku memanggilmu kemari  bukan untuk mengajakmu berdebat soal apa hukum poligami. Terus terang, di antara semua anakku, aku menilai kamu adalah anak paling berbakti. Tapi aku sangat sedih kamu punya istri lagi. Sebagai sesama perempuan aku bisa merasakan betapa hancur hati istrimu. Sebagai seorang nenek, aku tak tega melihat cucu-cucuku menangis meratapi nasib ibunya yang dimadu.”

Pak Fulan diam seribu bahasa. Ia memang tak terbiasa membantah kata-kata ibunya. Apa yang diperintahkan ibunya ia jalankan, dan apa yang dilarangnya ia tinggalkan. Bakti Pak Fulan kepada ibunya tak ada yang meragukan. Semua orang tahu itu. Mungkin berkat itulah, Pak Fulan selalu sukses dalam setiap bisnisnya. 

“Saya mohon maaf Bu atas pernikahan kami yang kedua secara diam-diam,” kata Pak Fulan pelan sambil menundukkan kepala. 

“Tidak cukup kamu minta maaf. Kamu juga harus menceraikan istri mudamu,” jawab Bu Basuki tegas. 

“Tetapi kamu tidak boleh menceraikannya begitu saja. Kamu harus memberikan kompensasi yang pantas agar ia tetap memiliki masa depan yang baik. Aku juga perempuan dan bisa membayangkan betapa sakitnya dicerai. Tapi menurutku, itu risiko perempuan mau dijadikan istri kedua.” 

Beberapa hari kemudian Pak Fulan benar-benar menceraikan istri mudanya yang dinikahinya setahun silam dan belum dikaruniai seorang anak. Mereka telah menyepakati perceraian itu dengan kompensasi yang pantas sebagaimana pesan Bu Basuki. Mantan istri muda Pak Fulan mendapatkan rumah indah yang ia tinggali selama ini beserta seluruh isinya, termasuk sebuah mobil baru. Tidak hanya itu ia juga menerima sejumlah uang yang cukup besar untuk membuka sebuah usaha.  Ia optimistis menatap masa depannya. Ia masih muda. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.