IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Jalan Ikhlas Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub

Ahad 5 Mei 2019 0:30 WIB
Share:
Jalan Ikhlas Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub
(Foto: @istock)
Dalam Kitab Mukâsyafatul Qulûb, Imam Al-Ghazali bercerita, ada seseorang melaksanakan shalat. Ketika ia sampai pada bacaan Surat Al-Fatihah “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih yang mengatakan kepadanya, “Tidak. Engkau tidak menyembah Sang Khalik, tapi engkau menyembah makhluk!” Seketika itu ia menghentikan shalatnya dan mulai menjalani hidup menyendiri (uzlah).

Ia shalat lagi dan ketika sampai pada bacaan “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih, “Tidak. Engkau tidak menyembah Tuhanmu, tapi engkau menyembah hartamu!” Ia lantas menyedekahkan hartanya.

Setelah menyedekahkan hartanya, ia mulai melaksanakan shalat. Ketika sampai pada bacaan “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih yang menyatakan, “Tidak. Engkau tidak menyembah Tuhanmu, tapi engkau menyembah pakaianmu!” Tak ayal, ia segera menyedekahkan semua pakaiannya kecuali sekadar yang ia pakai.

Merasa sudah melepas semuanya, ia segera melaksanakan shalat. Ketika sampai pada bacaan “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih yang terakhir, “Kali ini engkau benar-benar telah menyembah Allah!”...

Kitab Mukâsyafatul Qulûb adalah kitab tasawuf karya Imam Ghazali. Dalam tasawuf, pesan-pesan yang disampaikan sering menggunakan ungkapan metaforik dan menohok. Perlu renungan lebih jauh untuk memahaminya dengan baik agar sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan psikologi orang yang serius menjalankan laku tasawuf.

Pesan-pesan dalam tasawuf tidak selalu mudah untuk ditular-nalarkan kepada orang lain, namun jauh lebih berguna jika dihayati sebagai jalan spiritual untuk diri sendiri.

Daripada sering memaki dan menyebar fitnah atas nama Tuhan yang suci, kita jauh lebih baik selalu bersikap mawas merawat batin ini. Inilah pentingnya ilmu tasawuf. Wallahu a'lam.


Penulis adalah KH Muhammad Taufik Damas, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta.
Tags:
Share:
Senin 22 April 2019 20:3 WIB
Janji Rasulullah yang Belum Sempat Dipenuhi Hingga Wafatnya
Janji Rasulullah yang Belum Sempat Dipenuhi Hingga Wafatnya
(Foto: @bbc)
Rasulullah SAW adalah manusia biasa yang juga mengalami wafat. Tetapi siapa yang mengira Rasulullah masih menyisakan janji dengan sahabatnya yang belum sempat dipenuhi hingga ia wafat. Hal ini dikisahkan dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

Rasulullah SAW suatu ketika pernah menjanjikan sebagian harta jizyah dari Bahrain kepada sahabat Jabir bin Abdillah RA. Ternyata hingga Rasulullah SAW wafat, sahabat Al-Ala Al-Hadhrami yang ditugasi oleh Rasulullah di sana tidak juga mengirimkan harta jizyah ke Madinah sebagaimana kisah lengkapnya berikut ini.

وعن جابر - رضي الله عنه - ، قال : قال لي النبي - صلى الله عليه وسلم - : (لو قد جاء مال البحرين أعطيتك هكذا وهكذا وهكذا) فلم يجئ مال البحرين حتى قبض النبي - صلى الله عليه وسلم - ، فلما جاء مال البحرين أمر أبو بكر - رضي الله عنه - فنادى : من كان له عند رسول الله - صلى الله عليه وسلم - عدة أو دين فليأتنا ، فأتيته وقلت له : إن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال لي كذا وكذا ، فحثى لي حثية فعددتها ، فإذا هي خمسمائة ، فقال لي : خذ مثليها . متفق عليه

Artinya, “Dari Jabir RA, ia berkata, Nabi Muhammad SAW pernah berkata kepadaku, ‘Kalau harta dari Bahrain datang, Aku akan berikan kepadamu segini, segini, segini.’ Harta dari Bahrain itu tak kunjung tiba hingga Rasulullah SAW wafat. Ketika harta itu datang, Khalifah Abu Bakar RA berseru, ‘Siapa yang pernah terikat janji atau piutang dengan Rasulullah, silakan datangi kami.’ Aku lalu menemui Abu Bakar RA dan mengatakan, ‘Rasulullah SAW pernah mengatakan kepadaku demikian, demikian.’ Abu Bakar RA lalu meraup harta tersebut untukku. Setelah kuhitung, ternyata ada 500. Ia berkata kepadaku, ‘Ambillah dua kali darinya,’” (HR Imam Bukahri dan Muslim).

Kisah ini mengajarkan umat Islam agar seseorang dan juga sahabat atau penerusnya untuk istiqamah dalam memenuhi janji atau kesepakatan yang pernah dibuat. Kisah Rasulullah dan sahabat Abu Bakar RA merupakan cerita teladan bagi umat Islam sepanjang zaman.

Oleh karena itu, pihak keluarga musibah di masyarakat kita pada saat penshalatan jenazah lazim mengumumkan kepada jamaah di masjid bahwa masalah utang, piutang, dan masalah muamalah lainnya yang berkaitan dengan jenazah akan berurusan dengan pihak keluarga. Hal ini sejalan dengan pengamalan hadits Rasulullah SAW berikut ini:

وعن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما : أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قال : (أربع من كن فيه كان منافقا خالصا ، ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها : إذا اؤتمن خان، وإذا حدث كذب، وإذا عاهد غدر، وإذا خاصم فجر) متفق عليه.

Artinya, “Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika ada empat tanda ini pada diri seseorang, maka ia seorang munafik murni. Siapa saja yang terdapat salah satu tanda ini padanya, maka unsur kemunafikan ada padanya hingga ia meninggalkan tanda tersebut: jika diberikan amanat, ia mengkhianatinya. Jika berbicara, ia berdusta. Jika menyepakati perjanjian, ia melanggarnya. Jika bertikai, ia melakukan kebatilan,’” (HR Imam Bukhari dan Muslim).

Keteladanan yang dilakukan para sahabat Rasulullah SAW dan apa yang dilakukan oleh masyarakat terkait jenazah tidak berlebihan karena pemenuhan janji sesama manusia akan terbawa meski yang terlibat telah wafat.

Semua hal yang berkaitan dengan pemenuhan janji, kesepakatan, dan kontrak akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak.

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

Artinya, “Tepatilah janji (kesepakatan/kontrak) karena janji itu dimintakan pertanggungjawabannya,” (Surat Al-Isra ayat 34).

Semua keterangan ini dikutip oleh Imam An-Nawawi dalam Kitab Riyadhus Shalihin. Keterangan-keterangan ini mengingatkan umat Islam untuk teguh dan konsisten dalam memenuhi janji, menerima (konsekuensi) sebuah kesepakatan, dan mematuhi segala bentuk kontrak atau ikatan yang dibuat bersama. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Ahad 21 April 2019 18:35 WIB
Ini Beda Nasionalis Tulen dan Nasionalis Gadungan
Ini Beda Nasionalis Tulen dan Nasionalis Gadungan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut kata “nasionalis” dengan dua pengertian, pertama, pecinta nusa dan bangsa sendiri dan kedua, orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya; patriot. Sedangkan patriot adalah pencinta (pembela) tanah air.

Adapun patriotisme adalah nama lain dari semangat cinta tanah air. Dalam KBBI, patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya; semangat cinta tanah air.

Tetapi tiada sesuatu yang membuat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, salah seorang pemerhati bahasa dan sastra Arab (1886 M-1944 M) yang tinggal di Beirut, Libanon, daripada orang yang mengaku sebagai seorang nasionalis yang menebus kejayaan tanah airnya dengan darah dan hartanya, tetapi justru dia yang paling kuat meruntuhkan sendi-sendi kebangsaan dengan pelbagai kezaliman dan potensi yang ada padanya.

Dalam Kitab Izhatun Nasyi’in (Nasihat untuk Para Pemuda), karya yang ditulis di Beirut pada 1913 M, Syekh Musthafa Al-Ghalayaini menyimpulkan bahwa seorang anak bangsa yang mengaku sebagai seorang nasionalis pada kenyataannya juga dapat berbohong melalui pernyataan palsu karena tidak cocok dengan perilakunya.

ليس كل من ينادي بالوطنية وطنيا حتى تراه عاملا للوطن بما يحييه باذلا ما عز وهان في سبيل ترقيه يسعى مع الساعين في إعلاء شأنه وينصب مع الناصبين في حفظ كيانه

Artinya, “Tidak setiap orang yang mendakwakan diri sebagai seorang nasionalis adalah nasionalis sejati kecuali kau menyaksikan dia berbuat sesuatu untuk menghidupkan tanah airnya, mendermakan barang berharga miliknya, rela terhina untuk meninggikan harkat bangsanya, terlibat bersama rekan seperjuangan demi mengangkat negerinya, dan rela bersusah payah dan letih bersama yang lain dalam menjaga eksistensi tanah airnya,” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 81).

Menurut Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, tidak sedikit anak bangsa yang berteriak kencang sebagai nasionalis sejati. Ternyata ia adalah seorang nasionalis gadungan karena perilakunya justru seperti kanker yang menggerogoti keutuhan negara dan bangsanya.

أما من يسعى فيما يفت في عضده ويكسر في ساعده فقد بعد ما بينه وبين الوطنية ولو رفع عقيرته وملأ الأقطار صراخا ونادى في الأمة أن أني من الوطنيين المخلصين

Artinya, “Adapun orang yang berupaya mencerai-beraikan kekuatan negaranya dan menghancurkan pilar-pilar bangsanya, maka ia jauh dari sikap nasionalisme meski teriakannya lantang memenuhi kolong langit setiap pelosok negerinya dan meski dia berkata di tengah rakyat, ‘Saya seorang nasionalis tulen,’” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 81).

Syekh Musthafa Al-Ghalayaini pada karyanya terutama tema Al-Wathaniyyah (Nasionalisme) menjelaskan sikap seorang nasionalis sejati. Menurutnya, seorang nasionalis tulen akan mengorbankan diri demi kemaslahatan negeri dan rakyatnya.

الوطنية الحق هي حب إصلاح الوطن والسعي في خدمته، والوطني كل الوطني من يموت ليحيا وطنه ويمرض لتصح أمته.

Artinya, “Sikap nasionalisme sejati adalah semangat memperbaiki tanah air dan berupaya mengabdikan diri untuknya. Sedangkan seorang nasionalis tulen adalah orang yang rela mengorbankan nyawanya demi kejayaan tanah airnya dan rela sakit menderita demi keselamatan rakyatnya,” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 82).

Syekh Musthafa Al-Ghalayaini yang juga penulis kitab nahwu Jami‘ud Durus Al-Arabiyyah, sebuah kitab nahwu rujukan di kampus-kampus Islam negeri di Indonesia, mengingatkan para pemuda akan kewajiban-kewajiban anak bangsa terhadap tanah airnya.

ألا إن للوطن على أبنائه حقوقا فكما لا يكون الابن ابنا حقيقيا حتى يقوم بواجب الأبوة فكذلك ابن الوطن لا يكون ابنا بارا حتى ينهض بأعباء خدمته ويدفع عن حماه المؤذين ويذود عن حياضه المدلسين 

Artinya, “Ketauhilah bahwa anak bangsa atau putra tanah air memiliki kewajiban. Seseorang tidak dapat dikatakan berbakti sebelum ia menjalankan kewajiban khidmat terhadap orang tuanya. Demikian juga seorang anak bangsa. Ia takkan disebut anak bangsa yang berbakti sebelum bangkit berkhidmat memikul beban negerinya, membela kedaulatan negaranya dari ancaman pihak-pihak yang jahat, dan melindungi sumber daya bangsanya dari para penipu,” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 82).

Meski Kitab Izhatun Nasyi’in berarti Nasihat untuk Para Pemuda, pesan-pesan Syekh Musthafa Al-Ghalayaini ini layak diperhatikan oleh semua elemen bangsa dari pelbagai usia dan latar belakang agama, suku, rasa, dan antargolongan.

Pesan-pesan Syekh Musthafa Al-Ghalayaini dalam Bahasa Arab ini memang ditulis di Beirut pada 1913 M silam. Meski demikian, semangat nasionalisme yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan relevan untuk semua anak bangsa di dunia, termasuk anak bangsa Indonesia saat ini karena cinta tanah air berkaitan erat dengan keimanan seseorang. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Ahad 21 April 2019 11:15 WIB
Keutamaan Sikap Waras dan Eling Umat Islam di Tengah Zaman Edan
Keutamaan Sikap Waras dan Eling Umat Islam di Tengah Zaman Edan
(Foto: @pinterest)
Allah dan Rasul-Nya telah berpesan agar umat Islam tetap fokus beramal saleh saat akhlak terpuji dan nilai-nilai etik diabaikan yaitu bertebarnya bidah, rendahnya penghormatan terhadap manusia, fitnah, hoaks, provokasi, distorsi informasi, dan ujaran kebencian.

Keduanya mengingatkan bahwa ada kalanya akhlak terpuji dan nilai etik tidak lagi dijunjung sebagian masyarakat karena ada kepentingan tertentu.

Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 105 berpesan agar umat Islam tetap istiqamah dalam menjalankan amal saleh dan menjaga akhlak dan adab serta menjunjung nilai-nilai etik yang disepakati sebagaimana mestinya di tengah keedanan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya, “Wahai orang yang beriman, jagalah diri kalian. Takkan memudharatkan kalian oleh orang yang sesat bila kalian telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah tempat kembali kalian semua, dan Dia kelak mengabarkan kalian atas apa yang pernah kalian lakukan,” (Surat Al-Maidah ayat 105).

Keutamaan istiqamah dan amal saleh seorang Muslim di tengah keedanan sebagian masyarakat disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

عَنْ أَبِي أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا ثَعْلَبَةَ كَيْفَ تَقُولُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ رواه ابن ماجه والترمذي وقال حديث حسن غريب وأبو داود وَزَادَ قِيْلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Artinya, “Dari Abu Umayyah As-Sya’bani, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah Al-Khusyani. Kubilang, ‘Wahai Abu Tsa’labah, apa pendapatmu perihal ‘Jagalah dirimu,’ [Surat Al-Maidah ayat 105]?’ Ia menjawab, ‘Aku pernah menanyakan ini kepada Rasul yang bersifat awas. Rasulullah SAW menjawab, ‘Hendaklah kalian mematuhi perbuatan baik, dan menahan diri dari perbuatan mungkar sampai kalian melihat keinginan bakhil yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dunia yang diutamakan, dan orang yang sombong dengan pendapatnya sendiri. Kamu wajib menjaga diri. Abaikan orang awam karena setelah itu kelak terdapat hari-hari yang harus dijalani dengan kesabaran. Keutamaan sabar kelak setara dengan genggaman bara api [di kegelapan]. Orang yang beribadah di tengah mereka itu saat demikian seperti pahala 50 orang yang mengamalkan ibadah yang sama,’’’ HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi bilang, ‘Hadits ini hasan gharib.’ Dalam riwayat Abu Dawud terdapat tambahan, ‘Wahai Rasulullah, apakah pahala 50 kami atau mereka?’ Rasulullah menjawab, ‘Pahala 50 orang dari kalian,’” (Lihat Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz IV, halaman 24).

Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif memasukkan hadits ini dengan judul “At-Targhib fil Amalis Shalih inda Fasadiz Zaman”/Keutamaan Beramal Saleh di Tengah Zaman Edan.

Sabar dalam arti istiqamah dalam amal saleh dan menahan diri dari kemungkaran dan nafsu kemarahan yang tengah melanda banyak orang memiliki arti yang besar sehingga dijanjikan oleh Rasulullah SAW dengan keutamaan yang besar.

Sedangkan berikut ini adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan beberapa perawi dengan redaksi serupa yang juga dikutip dalam At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif. Berikut ini adalah hadits riwayat Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

عن معقل بن يسار قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ رواه مسلم والترمذي وابن ماجه.

Artinya, “Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘[Keutamaan] Ibadah di masa pembunuhan setara dengan hijrah kepadaku,’” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Imam An-Nawawi dalam syarah Shahih Muslimnya menjelaskan pengertian kata “al-harj” atau masa konflik berdarah. Menurutnya, masa tersebut adalah masa kekacauan di mana nyawa manusia tidak berharga dan kebanyakan manusia ketika itu lebih mengutamakan pelampiasan hawa nafsu dibanding aktivitas ibadah dan amal saleh.

المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس وسبب كثرة فضل العبادة فيه أن الناس يغفلون عنها ويشتغلون عنها ولايتفرغ لها إلا أفراد

Artinya, “Maksud dari kata ‘masa pembunuhan’ di sini adalah fitnah atau kekacauan, ketidakjelasan urusan masyarakat [antara yang hak dan batil]. Sebab banyaknya keutamaan ibadah di saat-saat demikian adalah kelalaian masyarakat dari ibadah dan sibuk pada aktivitas di luar ibadah. Hanya segelintir orang saja yang menyempatkan diri untuk beribadah,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajul Muslim bi Syarhi Shahih Muslim, [Kairo, Darul Hadits: 1998 M/1419 H], cetakan ketiga, juz IX, halaman 313).

Adapun berikut ini adalah redaksi yang tersebut dalam riwayat Imam Ahmad. Riwayat ini menyebutkan kata “amal”, bukan “ibadah”. 

عن معقل بن يسار المزني قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الْعَمَلُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ رواه أحمد

Artinya, “Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘[Keutamaan] amal di masa pembunuhan/konflik berdarah setara dengan hijrah kepadaku,’” (HR Ahmad).

Sedangkan berikut ini adalah redaksi yang tersebut dalam riwayat Imam At-Thabarani. Riwayat ini menyebutkan kata “al-fitnah” setelah kata “al-harj”. 

عن معقل بن يسار المزني قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الْعَمَلُ فِي الْهَرْجِ وَالفِتْنَةِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ رواه الطبراني

Artinya, “Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘[Keutamaan] amal di masa pembunuhan/konflik berdarah dan fitnah setara dengan hijrah kepadaku,’” (HR At-Thabarani).

Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri menyebutkan bahwa istiqamah seseorang pada ibadah dan amal saleh di tengah zaman edan memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana dikatakan dalam hadits Rasulullah SAW. 

قوله الهرج هو الاختلاف والفتن وقد فسر في بعض الأحاديث بالقتل لأن الفتن والاختلاف من أسبابه فأقيم المسبب مقام السبب 

Artinya, “Perkataan ‘Al-harj’ adalah pertikaian dan fitnah/kekacauan. Kata ini pada sebagian hadits diartikan sebagai konflik berdarah/pembunuhan karena pertikaian dan fitnah/kekacauan merupakan sebab konflik berdarah sehingga kata ‘al-harj’ sebagai akibat ditempatkan di posisi sebab,” (Lihat Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz IV, halaman 25).

Beberapa keterangan Al-Quran, hadits, dan pandangan ulama ini mengingatkan agar umat Islam tetap istiqamah menjaga tali Allah dan tali manusia. Semua itu mengamanatkan agar umat Islam tidak terhanyut dan terseret dalam arus keedanan yang mengancam kemanusiaan berupa konflik berdarah.

Dengan kata lain, umat Islam diimbau agar tidak terhanyut dalam pusaran kebencian, kepentingan berkuasa, dan nafsu kemarahan yang diekspresikan melalui provokasi, hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian yang menjadi sebab pertikaian.

Semua ekspresi kemarahan itu mengancam keutuhan berbangsa, persatuan, persaudaraan karena dapat menciptakan suasana saling curiga dan saling membenci hingga puncaknya konflik berdarah, perang saudara, baku hantam, dan saling membunuh.

Sebaliknya, justru umat Islam diminta untuk menjaga kewarasan di tengah pusaran nafsu dan keedanan.

Umat Islam dituntut berpartisipasi dan berkontribusi nyata menciptakan suasana dan semangat persaudaraan sesama Muslim, sesama warga negara Indonesia, dan sesama warga dunia.

Hanya dengan jalan demikian, umat Islam akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)