IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Jalan Ikhlas Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub

Ahad 5 Mei 2019 00:30 WIB
Jalan Ikhlas Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub
(Foto: @istock)
Dalam Kitab Mukâsyafatul Qulûb, Imam Al-Ghazali bercerita, ada seseorang melaksanakan shalat. Ketika ia sampai pada bacaan Surat Al-Fatihah “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih yang mengatakan kepadanya, “Tidak. Engkau tidak menyembah Sang Khalik, tapi engkau menyembah makhluk!” Seketika itu ia menghentikan shalatnya dan mulai menjalani hidup menyendiri (uzlah).

Ia shalat lagi dan ketika sampai pada bacaan “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih, “Tidak. Engkau tidak menyembah Tuhanmu, tapi engkau menyembah hartamu!” Ia lantas menyedekahkan hartanya.

Setelah menyedekahkan hartanya, ia mulai melaksanakan shalat. Ketika sampai pada bacaan “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih yang menyatakan, “Tidak. Engkau tidak menyembah Tuhanmu, tapi engkau menyembah pakaianmu!” Tak ayal, ia segera menyedekahkan semua pakaiannya kecuali sekadar yang ia pakai.

Merasa sudah melepas semuanya, ia segera melaksanakan shalat. Ketika sampai pada bacaan “Hanya kepada-Mu aku menyembah (iyyâka na’budu)", terdengar suara lirih yang terakhir, “Kali ini engkau benar-benar telah menyembah Allah!”...

Kitab Mukâsyafatul Qulûb adalah kitab tasawuf karya Imam Ghazali. Dalam tasawuf, pesan-pesan yang disampaikan sering menggunakan ungkapan metaforik dan menohok. Perlu renungan lebih jauh untuk memahaminya dengan baik agar sesuai dengan kondisi sosial, ekonomi, dan psikologi orang yang serius menjalankan laku tasawuf.

Pesan-pesan dalam tasawuf tidak selalu mudah untuk ditular-nalarkan kepada orang lain, namun jauh lebih berguna jika dihayati sebagai jalan spiritual untuk diri sendiri.

Daripada sering memaki dan menyebar fitnah atas nama Tuhan yang suci, kita jauh lebih baik selalu bersikap mawas merawat batin ini. Inilah pentingnya ilmu tasawuf. Wallahu a'lam.


Penulis adalah KH Muhammad Taufik Damas, Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta.
Tags:
Share: