IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kisah Nabi Yusuf dan Keutamaan Ramadhan

Selasa 7 Mei 2019 3:0 WIB
Share:
Kisah Nabi Yusuf dan Keutamaan Ramadhan
Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an diabadikan dalam beberapa fragmen, yang kemudian disatukan dalam surat khusus, yakni Surat Yusuf. Ini menandakan nilai pentingnya kisah tersebut untuk diambil pelajaran terutama tentang keluarga, keteguhan dalam bertauhid, visi dan kebajikan seorang pemimpin dan sebagainya. 

Di tangan Muhammad ibn Husain, penulis Asrar al-Muhibbin fi Ramadhan, sebagian fragmen dari kisah Nabi Yusuf tersebut, dianalogikan dengan keutamaan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.

Nabi Yusuf lebih dicintai ayahnya, Nabi Ya’kub, dibanding sebelas anak kandung lainnya sebagaimana tersirat dalam dialog sebelas saudara Nabi Yusuf berikut ini:

إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya, “Ketika itu, saudara saudara Yusuf berkata: Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita dibanding diri kita, meskipun kita sangat banyak. Sungguh, Ayah kita itu berada dalam kesesatan yang nyata” (QS. Yusuf [12]: 8).

Kecintaan Nabi Ya’kub terhadap Nabi Yusuf dibanding anak kandung lainnya, menurut Muhammad ibn Husain, sama halnya dengan Ramadhan yang lebih dicintai Allah dibanding bulan lainnya. 

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ 

Artinya, “Bulan Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa Ramadhan. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibanding seribu” bulan (HR. Ahmad).

Saat sebelas saudaranya memohon Nabi Yusuf agar memenuhi kebutuhan hidup mereka, yang waktu itu dilanda kelaparan, Nabi Yusuf sebagai pemimpin Mesir, mengabulkan permohonannya. Nabi Yusuf memberikan mereka makan dan memenuhi perbekalan hidup lainnya. 

وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ

Artinya, “Dan ketika Yusuf menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dia berkata “(jika kalian datang ke sini lagi), bawalah kepadaku saudara kalian yang seayah dengan kalian”. Tidakkah kalian melihat bahwa aku telah memberikan (kepada kalian) takaran yang penuh dan telah menjadi tuan rumah yang terbaik?” (QS. Yusuf [12]:59).

Nabi Yusuf yang membantu dan memenuhi kebutuhan sebelas saudaranya tersebut sama halnya dengan bulan Ramadhan yang menjadi pengganti kekurangan seorang hamba ketika tidak maksimal menjalankan kebaikan di bulan sebelas bulan lainya. Ramadhan menjadi bulan pelipatgandaan dan rapelan pahala, yang menjadi pelengkap ketidaksempurnaan seorang hamba dalam menjalankan ibadah di bulan sebelas lainnya. 

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

Artinya, “Setiap kebaikan yang dilakukan manusia dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan semisal sampai tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman: kecuali amalan puasa. Amalan puasa itu untukku dan aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia meninggalkan makanan dan syahwatnya karenaku” (HR. Muslim).

Nabi Yusuf menghapus dendam, memberi maaf untuk sebelas saudaranya dan Allah mengampuni mereka, meski waktu dulu mereka membuang Yusuf kecil ke Sumur. 

قَالَ لاَ تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Artinya, “Yusuf berkata: pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Semoga Allah mengampuni kalian. Sebab Dialah yang paling penyayang di antara para penyayang” (QS. Yusuf [12]: 93).

Pemberian maaf Nabi Yusuf kepada sebelas saudaranya tersebut dianalogikan dengan Ramadhan yang dijadikan khusus oleh Allah sebagai bulan pengampunan, penuh berkah dan kebaikan, yang berbeda dengan sebelas bulan lainnya. 

Dari dua belas anak, sebelas anaknya tidak mampu mengobati kesedihan, keburaman penglihatan Nabi Ya’kub karena kedukaan yang mendalam. Hanyalah Yusuf yang mampu menghapus luka dan mengembalikan penglihatan Ya’kub.

اذْهَبُوا بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا وَأْتُونِي بِأَهْلِكُمْ أَجْمَعِينَ 

Artinya, “Pergi dan bawalah baju gamis milikku ini dan letakkanlah ia ke wajah ayahku, niscaya penglihatannya akan pulih kembali dan kemudian datanglah kepadaku bersama seluruh keluarga kalian” (QS. Yusuf [12]: 93).

Nabi Yusuf sebagai pengobat satu-satunya luka yang diderita Nabi Ya’kub dianalogikan dengan Ramadhan sebagai bulan pengampunan dan kesempatan bagi hamba yang penuh dosa dengan bekal iman dan berharap hanya kepada Allah untuk membasuh kesalahan yang sudah diperbuat di sebelas bulan lainnya. 

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر الله ما تقدّم من ذنبه

“Siapa pun orangnya yang berpuasa bulan Ramadhan dengan bekal keimanan dan berharap hanya kepada Allah, maka Allah mengampuni dosa-dosa yang telah lalu.”

Waallahu ‘Alam


Fuad Nawawi, Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Share:
Selasa 7 Mei 2019 20:0 WIB
Kisah Nabi Khidir dan Kota yang Berubah
Kisah Nabi Khidir dan Kota yang Berubah
Ilustrasi (via blenderartists.org)
Dihikayatkan bahwa Nabi Khidhir 'alaihis salam suatu saat ditanya, "Apa yang paling mengherankan yang pernah engkau lihat selama umurmu?"

Beliau kemudian menjawab, "Yang paling mengherankan yang pernah aku lihat,  bahwasanya suatu saat  aku pernah melewati sebuah gurun yang kering nan gersang. Kemudian aku meninggalkannya selama lima ratus tahun. 

Kemudian aku melewatinya kembali. Ternyata aku melihatnya menjadi kota yang megah dan menakjubkan, yang dipenuhi pohon-pohonan dan sungai-sungai."

Kemudian aku bertanya kepada salah satu penduduknya, "Sudah berapa tahun kota ini menjadi seramai ini?"

Ia menjawab, "Maha Suci Allah. Kami, ayah-ayah kami dan kakek-kakek kami tidak mengetahuinya kecuali sudah seperti ini."

Lalu aku meninggalkannya selama lima ratus tahun lagi. Kemudian aku melewatinya lagi. Ternyata kota itu menjadi lautan yang luas dan aku melihat seorang nelayan di situ, lalu aku bertanya kepadanya, "Wahai orang laki-laki! Di mana kota yang dulu ada di sini?"

Kemudian dia menjawab, "Mahasuci Allah. Apakah di sini ada kota? Kami, ayah-ayah kami, dan kakek-kakek kami belum pernah mendengarnya."

Lalu aku meninggalkannya selama lima ratus tahun lagi. Kemudian aku melewatinya lagi. Ternyata ia menjadi kota yang ramai sebagaimana semula.

Mahasuci Dzat yang tidak akan sirna dan tidak akan berubah. Allah Mahakuasa untuk mengubah keadaan. Yang senantiasa berada dalam kondisi tertentu, tidaklah mesti ia tetap seperti itu. Boleh jadi ia berubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. 

Kisah ini juga bagian dari narasi kenyataan yang dipercayai oleh mayoritas ulama bahwa memang ada nabi yang berusia panjang, yaitu Nabi Khidir 'alaihis salam. Dengan usia panjangnya itu, beliau mampu menyaksikan perubahan keadaan.

Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa usia Nabi Khidir itu ditangguhkan hingga beliau menjumpai zaman munculnya pembohong besar, yaitu Dajal dan beliau mendustakan dajal itu. (Yusuf Suharto)


Cerita ini dikutip kitab “An-Nawadir” karya al-Qalyubi, cetakan Al-Haramain, h. 119

Selasa 7 Mei 2019 16:0 WIB
Sejarah Kelompok Khawarij (5): Perpecahan Internal Khawarij
Sejarah Kelompok Khawarij (5): Perpecahan Internal Khawarij
Sebagaimana disinggung di awal bahasan, kelompok Khawarij terpecah menjadi beberapa faksi. Hal ini bisa dimaklumi sebab nalar mereka memang mengafirkan siapa pun yang berbeda pendapat dengan mereka, akhirnya mereka sendiri pun pecah dan saling mengafirkan satu sama lain atau paling tidak saling berlepas diri dan berperang. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai faksi-faksi tersebut dan sekelumit pola pikir mereka. 

1. Al-Muhakkimahal-Ula

Meskipun nalar Khawarij bisa kita lacak keberadaannya sejak masa Rasulullah hingga masa Khalifah Utsman, tapi kebanyakan sejarawan secara resmi mencatat Khawarij pertama adalah golongan yang keluar menentang Ali sebagaimana dijelaskan pada artikel sebelumnya. Merekalah yang kemudian disebut sebagai al-Muhakkimahal-Ula atau golongan yang berkata “tak ada hukum kecuali milik Allah” yang pertama. Tentu saja, slogan tersebut hanyalah apologi sebab sebenarnya maksud mereka adalah tak ada hukum kecuali hukum versi mereka sendiri. 

Seorang Khawarij bernama Urwah berkata: 

تحكمون فِي أمر اللَّه الرجال لا حكم إلا اللَّه 

“Kalian berhukum dalam hal ajaran Allah pada manusia [saat arbitrase]. Tak ada hukum kecuali milik Allah” (Ibnu al-Jauzi, TalbîsIblîs, 82).

Pasca-arbitrase, Ali dan pasukannya memasuki kota Kufah sedangkan Khawarij menuju Harura’. Pimpinan mereka adalah Abdullah bin al-Kawa’, Itab bin al-A’war, Abdullah bin Wahbar-Rasibi, Urwah bin Jarir, Yazid bin Ashim dan Hurqush bin Zuhair. Jumlah mereka sekitar 12.000 orang yang kesemuanya meneriakkan jargon “tidak ada hukum kecuali milik Allah” sebagai bentuk perlawanan pada arbitrase yang dianggap menjadikan manusia sebagai penentu hukum. Mereka adalah para ahli ibadah yang sayangnya merasa lebih paham agama daripada Ali bin Abi Thalib sehingga sulit disadarkan (asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, I, 115; Ibnu al-Jauzi, TalbîsIblîs, 82).

Kesemua Khawarij ini terbunuh oleh pasukan Sayyidina Ali di suatu daerah yang bernama Nahrawan hingga tak tersisa kecuali tak lebih dari sepuluh orang saja. Dua di antara mereka lari ke Amman, dua lagi ke Kerman, dua ke Sijistan, dua ke jazirah, dua ke Yaman. Di tempat-tempat itulah faksi Khawarij berikutnya bermunculan (asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, I, 115). Di antara yang terbunuh di Nahrawan ini adalah Dzul Khuwaishirah, Khawarij pertama yang merasa lebih adil dari Nabi Muhammad yang kisahnya telah diulas pada artikel sebelumnya.

2. Azariqah

Mereka adalah para pengikut Nafi’ bin Azraq. Faksi ini adalah Khawarij terkuat dan terbanyak jumlahnya yang pernah ada. Jumlah mereka lebih dari 20.000 orang. Mereka menganggap siapa pun di luar mereka sebagai kaum musyrik, berbeda dengan al-Muhakkimahal-Ula yang menganggap para musuhnya sebagai kafir. Yang lebih parah dari Muhakkimah, kalangan Azariqah ini menganggap musyrik kalangan mereka sendiri yang tak mau mengangkat senjata. Mereka mempunyai kebiasaan menguji “keimanan” calon anggota mereka dengan cara menyodorkan tawanan dari kalangan muslimin non Khawarij padanya. Bila calon anggota tersebut mau membunuh tawanan tersebut maka mereka menerimanya. Namun bila ia enggan membunuhnya, maka mereka menyebutnya munafik dan musyrik lalu membunuhnya. Sebagian mereka memperbolehkan membunuh istri dan anak para penentangnya dan berpendapat bahwa anak-anak adalah musyrik. Mereka memastikan anak non-Khawarij berada kekal di neraka.  Dalam hal fikih, mereka mengingkari hukum rajam dan memperbolehkan mengingkari amanat. Selain itu mereka memotong tangan pencuri tanpa peduli seberapa kecil barang yang dicurinya sebab mereka tak memberlakukan batas minimal pencurian (Abdul Qahiral-Baghdadi, al-Farq bain al-Firaq, h. 62-64). Ibnul Jauzi menceritakan bahwa di antara perkataan mereka adalah: “Kami tak mengenal ada satu pun orang islam [di luar mereka]” (Ibnul Jauzi, TalbîsIblîs, h. 19).

3. An-Najdat

Ketika Nafi’ bin Azraq mulai mengafirkan anggotanya yang enggan mengangkat senjata dan menyebut mereka sebagai musyrikin serta menghalalkan pembunuhan atas istri dan anak lawan politiknya, maka sebagian orang yang dipimpin oleh Abu Qudail, Athiyah al-Hanafi, Rasyid at-Thawil dan Ayyub al-Azraq memisahkan diri. Mereka pergi ke Yamamah hingga bertemu dengan Najdah bin Amir al-Hanafi berserta pasukannya di perjalanan. Najdah sebenarnya ingin bergabung dengan para Azariqah, namun ketika mendengar kisah dari orang-orang Azariqah yang memisahkan diri itu, ia pun mengurungkan diri. 

Pasukan Najdah bin Amir al-Hanafi beserta mantan Azariqah itu kemudian berbaiat pada Najdah. Inilah sebab mereka disebut sebagai an-Najdat. Mereka mengafirkan para Azariqah yang menghalalkan darah orang-orang khawarij yang tak mau mengangkat senjata. Namun setelah putra Najdah beserta pasukannya membunuh penduduk Qathif dan mengambil rampasan perang tanpa terlebih dahulu dilakukan pembagian, maka kelompok ini terpecah: Sebagian mendukung Najdah yang mengampuni tindakan putranya itu dengan alasan mereka masih tidak tahu bahwa itu terlarang serta mengafirkan siapa pun yang menganggapnya salah. Sedangkan sebagian lagi menentang dan mengafirkannya karena mendukung aksi pasukan putranya tersebut (asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, h. 123-124)

Uniknya, suatu ketika Najdah saling berkorespondensi dengan Khalifah Abdul Malik bin Marwan  dari dinasti Umayyah dan ia menampakkan kecondongan padanya. Akhirnya dia dikritik oleh anak buahnya dan diminta bertobat. Akhirnya Najdah pun bertobat dari itu. Setelah itu sebagian anak buahnya merasa bersalah karena telah memaksa imam mereka bertobat sehingga mereka pun bertobat karena itu. Najdah lagi-lagi dipaksa untuk bertobat dari tobatnya terdahulu, bila tidak maka ia akan dilengserkan dan akhirnya Najdah pun bertobat dari tobatnya. (asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, h. 124).

Di antara pengikut Najdah yang memisahkan diri darinya adalah Athiyah dan Abu Fudaik. Pendukung Athiyyah dikenal sebagai Athawiyah dan pendukung Abu Fudaik disebut Fudaikiyah. Meskipun keduanya sama-sama sempalan Najdat, tapi keduanya saling berperang satu sama lain. Kekuasaan Athawiyah mencakup Sijistan, Khurasan, Kerman dan Qihistan. Pada perkembangannya, dari Athawiyah muncul sempalan lagi bernama Ajaridah. (asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, 124).

4. Ajaridah

Mereka adalah pengikut Abdul Karim bin Ajrad. Secara umum pendapat mereka sama dengan faksi Najdat sebelumnya. Akan tetapi mereka mengafirkan pelaku dosa besar dan mengingkari keberadaan surat Yusuf sebagai bagian dari Al-Qur’an. Alasannya, kisah cinta tak mungkin merupakan ayat Al-Qur’an.  Selain itu mereka berpendapat bahwa anak-anak orang musyrik kekal di neraka bersama orang tuanya. Dalam perkembangannya, Ajaridah terpecah kembali gegara perbedaan pendapat dalam hal fikih dan akidah. Di antara sempalannya adalah Shalthiyah, Maimuniyah, Hamziyah, Khalfiyah, Athrafiyah, Syu’aibiyah dan Hazimiyah. 

Di antara sempalan Ajaridah paling besar adalah Tsa’alibah yang merupakan kaum pengikut Tsa’labah bin Amir. Tsa’alibah ini kemudian terpecah lagi menjadi beberapa golongan, yakni: Akhnasiyah, Ma’badiyah, Rasyidiyah, Syaibaniyah, Mukrimiyah, Ma’lumiyah wal Majhuliyah, dan Bid’iyah.

Selain keempat faksi besar di atas, ada juga faksi yang tergolong lebih kecil, yaitu Baihasiyah dan Ibadliyah. Kesemuanya mempunyai pendapat khas dalam fikih dan sebagian akidah yang menyimpang dari keyakinan Ahlussunnah wal Jama’ah. Ketika mereka berbeda pendapat, maka langsung saja mereka terpecah belah dan saling berlepas diri, bahkan saling mengafirkan.

Bersambung...

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Selasa 7 Mei 2019 0:0 WIB
Sejarah Kelompok Khawarij (4): Pemberontakan terhadap Sayyidina Ali
Sejarah Kelompok Khawarij (4): Pemberontakan terhadap Sayyidina Ali
Pasca terbunuhnya Khalifah Utsman di rumahnya sendiri akibat ulah Khawarij, sebagaimana diceritakan dalam artikel sebelumnya, kaum Muslimin membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat. Secara umum, Ali dianggap sebagai al-khulafâ’ ar-râsyidîn terakhir yang secara de jure merupakan satu-satunya pemimpin tertinggi seluruh umat Islam.

Namun demikian, secara de facto, kekuasaan Ali tak pernah mencakup wilayah Syam, daerah yang sudah lama dipimpin oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan (Muhammad Khaldun, Ta’addudal-Khulafâ’ wa Wahdatal-Ummah Fiqhanwa Târîkhanwa Mustaqbalan, 74). Hal ini disebabkan oleh tindakan Mu’awiyah yang menuntut Khalifah Ali agar menghukum para Khawarij yang terlibat dalam pembunuhan Utsman. 

Gagalnya kubu Khalifah Ali dengan kubu Mu’awiyah untuk mencapai kesepakatan akhirnya menimbulkan perang saudara yang dikenal sebagai perang Shiffin. Perang besar antar sesama kaum muslimin ini bisa dibilang imbang sehingga hanya menyebabkan korban besar berjatuhan dari kedua kubu. Akhirnya atas inisiatif Amr bin Ash, pasukan dari Syam yang berada di kubu Mu’awiyah mengangkat mushaf di ujung tombaknya dan berkata:

هَذَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ قَدْ فَنِيَ النَّاسُ فَمَنْ لِلثِّغُورِ؟ وَمَنْ لِجِهَادِ الْمُشْرِكِينَ وَالْكُفَّارِ

“Inilah yang terjadi di antara kita; Orang-orang telah terbunuh. Maka siapa yang menjaga pos pertahanan? Siapa yang akan berjihad melawan kaum musyrik dan orang kafir?” (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah, VII, 272)

Gayung pun bersambut, pasukan dari Iraq di kubu Ali mengiyakan ajakan arbitrase tersebut meskipun Khalifah Ali tegas menolak gagasan tersebut. Bagi Khalifah Ali, seruan arbitrase tak lebih dari siasat perang dari kubu Mu’awiyah dan Amr. Baginya, justru perang itu sendiri dilakukan untuk menegakkan hukum Allah yang dilanggar oleh Mu’awiyah dan sekutunya dengan pemberontakan mereka. Namun, sebagaimana diceritakan Ibnu Katsir, para penghafal Al-Qur’an (qurrâ’) melawan khalifah Ali dan bahkan mengancamnya sebagai berikut:

فَقَالَ لَهُ مسعر بن فدكي التميمي وزيد بن حصين الطائي ثم السبائى فِي عِصَابَةٍ مَعَهُمَا مِنَ الْقُرَّاءِ الَّذِينَ صَارُوا بَعْدَ ذَلِكَ خَوَارِجَ، يَا عَلِيُّ أَجِبْ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ إِذْ دُعِيتَ إِلَيْهِ وَإِلَّا دَفَعْنَاكَ بَرُمَّتِكَ إِلَى الْقَوْمِ أَوْ نَفْعَلُ بِكَ مَا فعلنا بابن عفان، إنه غلبنا أن يعمل بكتاب الله فقتلناه، وَاللَّهِ لَتَفْعَلَنَّهَا أَوْ لَنَفْعَلَنَّهَا بِكَ

“Mus’in bin Fadakiat-Tamimi dan Zaid bin Hushainat-Tha’i as-Siba’i dan kelompoknya masing-masing, dari kalangan para penghafal Al-Qur’an yang dikemudian hari menjadi Khawarij, berkata: “Hai Ali Terimalah kita berlima Ketika engkau diajak kepadanya. Kalau tidak, kami akan menyerahkanmu seutuhnya kepada musuh atau kami akan melakukan kepadamu apa yang telah kami lakukan kepada Utsman bin Affan. Dahulu Utsman menolak kami untuk beramal dengan kitabullah sehingga kami membunuhnya. Demi Allah kami akan menyerahkanmu atau membunuhmu.” (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah, VII, 273)

Selang beberapa lama, ketika Khalifah Ali hendak mengutus Abu Musa al-Asy’ari atas desakan mereka, ada dua orang Khawarij bernama Zur'ah bin al-Barajat-Tha'i dan Hurqush bin Zuhair as-Sa'di mendatanginya yang berusaha membatalkan arbitrase. Terjadilah dialog sebagaimana diceritakan oleh at-Thabari berikut:

Keduanya berkata pada Ali: "Tidak ada hukum kecuali milik Allah.”

"Tidak ada hukum kecuali milik Allah," kata Ali.

"Bertobatlah engkau dari kesalahanmu dan cabut kembali keputusanmu dan keluarlah bersama kami kepada musuh kita untuk kita perangi sampai kita bertemu dengan Tuhan," kata Hurqush.

Ali menjawab: "Aku sudah berkehendak seperti itu tetapi kalian membangkang terhadapku dan sekarang kita telah mengadakan perjanjian antara kita dengan mereka, telah mensyaratkan beberapa syarat dan kita pun telah berjanji beberapa hal. Allah telah berfirman: "Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamuperbuat."

Hurqush berkata: "Itulah dosa yang mesti engkau tobati."

Ali menjawab: "Itu bukan dosa melainkan ketidakmampuan berpikir dan kelemahan dalam bertindak. Aku sudah membahas itu dan melarangnya sebelumnya".

Kemudian Zur'ah bin al-Barajberkata: "Demi Allah, wahai Ali! Apabila engkau tak meninggalkan mengangkat hakim atas kitabullah, maka aku akan memerangimu. Dengan hal itu aku akan mencari keridhaan Allah." (at-Thabari, Tarikh at-Thabari, V, 72)

Namun Khalifah Ali tetap melanjutkan arbitrase sebab telah ada perjanjian yang disetujui kedua belah pihak. Kemudian terjadilah arbitrase yang ternyata menghasilkan keputusan untuk mengangkat Mu’awiyah sebagai khalifah berikutnya. (As-Suyuthi, Târîkhal-Khulafâ’, 15). Melihat kenyataan itu, kaum Khawarij lagi-lagi tak menepati komitmen mereka. Mereka menolak hasil arbitrase dan memerangi semua pihak yang kemudian menerima hasil tersebut yang sejatinya adalah desakan mereka sendiri. Imam Abu Musa al-Asy’ari menceritakan perkataan mereka kepada Sayyidina Ali sebagai berikut:

وقالوا: قال الله تعالى: فقاتلوا التي تبغي حتى تفيء إلى أمر الله ولم يقل حاكموهم وهم البغاة فإن عدت إلى قتالهم وأقررت على نفسك بالكفر إذ أجبتهم إلى التحكيم وإلا نابذناك وقاتلناك

“Mereka berkata: “Allah berfirman ‘hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah’, bukan berfirman maka angkatlah hakam, padahal mereka adalah pemberontak. Kamu harus kembali memerangi mereka dan mengaku telah kafir ketika kamu menyetujui arbitrase. Bila tidak, maka kami akan menurunkanmu dan memerangimu.” (Abu Musa al-Asy’ari, Maqâlâtal-Asy’âriyyîn, 4)
Puncak aksi Khawarij itu adalah majunya seorang Khawarij bernama Abdullah bin Muljam untuk membunuh Sayyidina Ali. Ia menyerang Ali yang hendak shalat subuh dan berhasil melukai dahi beliau hingga parah dan akhirnya meninggal. Ketika dieksekusi, Ibnu Muljam sama sekali tak mengeluh sakit ketika kedua tangan dan kakinya dimutilasi dan matanya ditusuk. Ia malah membaca Surat al-‘Alaq hingga khatam. Kemudian tatkala lidahnya hendak dipotong, barulah ia mengeluh lantaran merasa sedih tak bisa mati dalam keadaan berdzikir pada Allah. Dahi Ibnu Muljam terlihat hitam sebab banyak sujud. (Ibnul Jauzi, TalbîsIblîs, 85). Bagi para Khawarij lainnya, Ibnu Muljam bagaikan sosok pahlawan. Mereka memuji aksi Ibnu Muljam tersebut dan menganggapnya sebagai orang yang menjual dirinya sendiri demi menggapai ridha Allah. (asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, I, 120).

Dari kejadian tersebut nampak sekali bahwa Al-Qur’an bagi Khawarij hanya menjadi tameng bagi nafsu politiknya saja. Mereka memaksa agar Khalifah Ali menerima arbitrase atas nama al-Qur’an tetapi memaksa beliau mengurungkan dan menolak hasil arbitrase juga atas nama al-Qur’an. Semuanya disertai ancaman bunuh sebab bagi mereka penentang pendapat mereka sudah kafir. Dalam nalar mereka, tindakan seperti itu adalah perjuangan yang bisa menghasilkan ridha Allah. Mereka sama sekali tak berpikir bahwa Khalifah Ali yang mereka lawan jauh lebih memahami al-Qur’an dari mereka. Mereka juga lupa bahwa para sahabat yang mereka kafirkan jauh lebih layak merepresentasikan ajaran kitabullah daripada mereka. 

Ketika penafsiran ulama ahli ilmu tentang al-Qur’an dianggap sesat oleh orang-orang yang hanya tekun beribadah saja namun tak menguasai ilmu-ilmu al-Qur’an, ketika orang-orang awam sudah merasa kelompoknya sebagai satu-satunya representasi al-Qur’an, ketika vonis kafir dengan mudahnya muncul sebab perbedaan ijtihad politik, maka saat itulah nalar Khawarij nampak. Itulah nalar-nalar Khawarij yang layak diwaspadai keberadaannya di setiap masa. 

Bersambung...

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.