IMG-LOGO
Trending Now:
Nikah/Keluarga

Calon Istri Dilarang Hadir di Majelis Ijab Kabul?

Kamis 9 Mei 2019 12:0 WIB
Share:
Calon Istri Dilarang Hadir di Majelis Ijab Kabul?
Ilustrasi (thepersonette.wordpress.com)
Sepasang pengantin baru mengeluh ke penghulu yang bertugas mencatat perkawinan mereka. Pasalnya keduanya sangat ingin duduk berdampingan ketika proses ijab kabul namun hal itu tidak diperkenankan oleh penghulu yang hadir. Keinginan keduanya untuk duduk bersanding pada saat akad nikah bukan tanpa alasan, ingin didokumentasikan sebagai kenangan. Namun sang penghulu tetap saja tak mengizinkan pengantin perempuan hadir di majelis akad nikah. Ia bahkan memintanya untuk kembali masuk ke bagian dalam rumah.

Di lain waktu sang penghulu bukan saja tidak mengizinkan mempelai perempuan hadir di majelis akad tapi juga meminta kaum perempuan lainnya untuk tidak berada di majelis tersebut. Tentunya hal ini menjadikan mereka kecewa karena keinginan untuk menyaksikan ijab kabul perkawinan anggota keluarganya tak terwujud.

Permasalahan seperti ini sangat sering terjadi di Indonesia manakala prosesi ijab kabul pernikahan akan dilaksanakan. Mereka yang tidak mengizinkan hadirnya mempelai perempuan bukan saja seorang penghulu tapi juga tokoh agama. Tidak semuanya memang, di beberapa tempat mempelai perempuan dibiarkan duduk bersanding dengan calon suaminya pada saat proses ijab kabul berlangsung. Tidak hanya itu, bahkan kepala keduanya juga ditutupi dengan sehelai kain tipis, layaknya proses pernikahan di banyak sinetron.

Lalu bagaimana sebenarnya fiqih mengatur hal ini, apakah hadirnya mempelai perempuan dan kaum perempuan di majelis akad nikah memang dilarang oleh agama? Apakah kehadiran kaum hawa ini berakibat pada tidak sahnya akad nikah?

Sebelumnya perlu diketahui bahwa di dalam prosesi akad nikah hanya ada 4 (empat) pihak yang harus hadir di majelis tersebut. Keempat pihak itu adalah mempelai laki-laki, wali pengantin perempuan, dan dua orang saksi. Selebihnya tak ada yang wajib hadir pada majelis akad nikah, termasuk pengantin perempuan. Ini sebagaimana dituturkan oleh Abu Bakar Al-Hishni di dalam kitab Kifâyatul Akhyâr:

يشْتَرط فِي صِحَة عقد النِّكَاح حُضُور أَرْبَعَة ولي وَزوج وشاهدي عدل

Artinya: “Disyaratkan dalam sahnya akad nikah hadirnya empat orang, yakni wali, suami, dan dua orang saksi yang adil.” (Abu Bakar Al-Hishni, Kifâyatul Akhyâr, [Bandung: Al-Ma’arif, tt.], juz II, hal. 49)

Dari keterangan di atas maka jelas dapat dipahami bahwa pengantin perempuan tidak wajib hadir dan ada di majelis tempat dilaksanakannya akad nikah. Namun demikian, apakah ketidakharusan hadirnya pengantin perempuan dapat diartikan ketidakbolehannya hadir di majelis itu, hingga ketika ia hendak disandingkan dengan calon suaminya saat akad nikah banyak pihak yang melarangnya?

Bila kita mencermati teks-teks fiqih dalam berbagai kitab ulama terdahulu—sebatas pengetahuan penulis—belum ditemukan teks yang secara jelas melarang hadirnya pengantin perempuan dan kaum perempuan di majelis akad nikah. Pun teks yang secara nyata menetapkan ketidakabsahan akad nikah yang dihadiri oleh kaum hawa, belum ditemukan.

Hanya saja pada bab yang lain banyak ulama membahas tentang tidak diperbolehkannya pencampuran (ikhtilâth) antara laki-laki dan perempuan bila dikhawatirkan akan timbulnya fitnah. Misalnya apa yang disampaikan oleh Imam Bujairami yang mengutip sebuah penjelasan dari kitab Syarhur Raudl:

أَمَّا النَّظَرُ وَالْإِصْغَاءُ لِصَوْتِهَا عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ أَيْ: الدَّاعِي إلَى جِمَاعٍ، أَوْ خَلْوَةٍ، أَوْ نَحْوِهِمَا فَحَرَامٌ 

Artinya: “Adapun memandang dan mendengarkan suara perempuan ketika dikhawatirkan terjadinya fitnah—yakni yang mengundang kepada persetubuhan, bersepian atau yang semisalnya—maka hukumnya haram.” (Sulaiman Al-Bujairami, Hâsyiyah Al-Bujairami ‘alâ Syarhil Minhaj, [Al-Halabi, 1950], juz III, hal. 325)

Bila membaca teks di atas kiranya bisa dipahami bahwa pencampuran laki-laki dan perempuan masih bisa diperbolehkan bila tidak ada kekhawatiran terjadinya fitnah (godaan, red). Pencampuran itu baru dihukumi haram bila ada kekhawatiran timbulnya fitnah tersebut. 
Artinya bila dapat dipastikan tidak akan menimbulkan fitnah maka sah-sah saja hadirnya mempelai perempuan dan perempuan lainnya pada majelis akad nikah.

Pada saat prosesi akad nikah biasanya banyak dihadiri oleh kaum laki-laki baik dari keluarga mempelai perempuan ataupun dari keluarga mempelai laki-laki. Di daerah tertentu bahkan mereka yang hadir dari pihak laki-laki sebagian besar adalah kaum muda yang menjadi teman bermainnya. Dalam kondisi seperti ini keberadaan pengantin perempuan di tengah-tengah majelis akad nikah dikhawatirkan dan sangat dimungkinkan akan menimbulkan fitnah di antara kaum laki-laki itu. Fitnah itu bisa berupa pandangan kaum lelaki kepada pengantin perempuan, condongnya hati kepada apa-apa yang dilarang atau hal-hal lain yang dilarang oleh agama dan yang semestinya tidak terjadi di majelis akad nikah.

Realitas di masyarakat seringkali ditemukan fitnah-fitnah yang dikhawatirkan tersebut. Saat pengantin perempuan keluar menuju tempat akad para hadir yang sebagian besar kaum muda seringkali melakukan aksi-aksi tak pantas seperti bersiul-siul, bersorak sorai menggoda kedua mempelai, dan ungkapan-ungkapan lain yang tak layak yang semestinya tidak terjadi di majelis akad nikah yang sakral.

Barangkali dengan alasan-alasan ini sejumlah pihak tidak mengizinkan pengantin perempuan keluar dan duduk berdampingan dengan calon suaminya sebelum selesainya akad nikah.

Lebih lanjut, sebagaimana disinggung di atas bahwa dalam akad nikah diharuskan hadirnya dua orang saksi yang adil. Sifat adil ini secara sederhana dapat dipahami sebagai sifat tidak fasik atau tidak banyak melakukan perbuatan dosa. Ke-adil-an dua orang saksi ini menjadi salah satu syarat bagi keabsahan akad nikah merujuk pada sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam:

لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

Artinya: “Tidak sah pernikahan kecuali dengan hadirnya wali dan dua orang saksi yang adil.”

Di masa sekarang ini mendapatkan saksi yang benar-benar adil sangatlah sulit. Maka dari itu para ulama menyarankan agar sebelum akad nikah dimulai para hadir yang ada di majelis itu beristighfar bersama dalam rangka bertaubat dari perbuatan-perbuatan dosa yang selama ini dilakukan. Dengan demikian harapannya adalah pada saat prosesi ijab kabul mereka yang hadir tidak berstatus fasik sehingga lebih yakin dalam mendapatkan keabsahan akad nikah.

Hadirnya pengantin perempuan di tengah-tengah majelis akad nikah disamping akan terjadi ikhtilath antara laki-laki dan perempuan dan terjadinya fitnah di antara mereka juga dikhawatirkan akan menumbuhkan kefasikan pada diri para saksi.

Muhammad Ali As-Shabuni dalam kitab Rawâi’ul Bayân Tafsîr âyâtil Ahkâm mengutip pendapat Imam Ibnu Kasir:

وذهب ابن كثير رَحِمَهُ اللَّهُ إلى أن المرأة منهية عن كل شيء يلفت النظر إليها، أو يحرك شهوة الرجال نحوها

Artinya: “Ibnu Katsir rahimahullâh berpendapat bahwa seorang perempuan dilarang dari segala hal yang yang menjadikan pandangan mengarah kepadanya atau menggerakkan syahwat para lelaki padanya.” (Muhammad Ali As-Shabuni, Rawâi’ul Bayân Tafsîr âyâtil Ahkâm, [Beirut: Darul Fikr, tt.], juz II, hal. 167)

As-Shabuni sendiri dalam kitab yang sama menegaskan:

ينبغي على الرجال أن يمنعوا النساء من كل ما يؤدي إلى الفتنة والإغراء، كخروجهن بملابس ضيقة، أو ذات ألوان جذابة

Artinya: “Seyogianya kaum laki-laki mencegah para perempuan dari segala yang mendatangkan fitnah dan godaan, seperti mereka keluar dengan pakaian yang ketat atau memiliki warna yang menarik.” (Muhammad Ali As-Shabuni, Rawâi’ul Bayân Tafsîr âyâtil Ahkâm, [Beirut: Darul Fikr, tt.], juz II, hal. 167)

Bisa digambarkan, ketika pengantin perempuan hadir di majelis akad dengan hiasan dan riasan yang begitu menawan, yang menjadikan ia tampil lebih cantik dari biasanya, terlebih bila ia mengenakan gaun pengantin ala barat yang memperlihatkan sebagian auratnya, tentunya hal itu akan mengundang kekaguman para hadir yang ada. Kecantikannya mampu menawan pandangan para hadir hingga mereka menikmati pemandangan yang ada. Dan pada akhirnya tidak dipungkiri hati mereka akan condong kepada perasaan-perasaan yang tidak semestinya.

Bila ini semua terjadi pada diri para saksi pada saat proses ijab kabul berlangsung itu berarti mereka menjadi saksi dalam keadaan bermaksiat yang bisa jadi menghilangkan sifat ke-adil-an mereka.

Lalu apakah yang demikian dapat mencegah keabsahan akad nikah?

KH Subhan Makmun, salah satu Rais Syuriah PBNU, dalam satu kesempatan menjelaskan bahwa hal itu tidak sampai menjadikan akad nikah tidak sah. Akad nikah tetap sah. Hanya saja adanya saksi yang menyaksikan akad nikah dalam keadaan bersyahwat sebagaimana digambar di atas dapat mengurangi sifat wira’i (kehati-hatian) dalam berakad yang imbasnya akan mengurangi kewira’ian dan adab sang anak dari hasil pernikahan tersebut.

Alhasil, tidak diperkenankannya pengantin perempuan dan para perempuan lain hadir di tengah majelis akad nikah oleh sebagian pihak adalah merupakan satu langkah kehati-hatian agar akad nikah yang menjadi gerbang pertama dan utama sebuah perkawinan dapat benar-benar mengantarkan kedua mempelai pada kehidupan rumah tangga yang sakinah, tidak hanya bahagia bersama di dunia saja tapi juga sampai kelak di akherat. Wallâhu a’lam


Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif sebagai Penghulu di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kota Tegal.

Share:
Sabtu 20 April 2019 18:30 WIB
Hukum Menikah di Bulan Sya’ban
Hukum Menikah di Bulan Sya’ban
Ilustrasi (via Pinterest)
Nabi dalam beberapa hadits menegaskan bahwa menikah adalah bagian dari sunnahnya. Nabi mengatakan bahwa bagi para pemuda agar segera menikah ketika sudah mampu menanggung biaya-biaya nikah. Bagi yang belum mampu, hendaknya menahan diri dengan berpuasa. 

Selanjutnya, secara khusus agama menganjurkan pernikahan sebaiknya dilakukan di bulan Syawal atau Shafar. Hal tersebut berdasarkan sunnah fi’liyyah (perilaku) yang diteladankan oleh Nabi sendiri.

Anjuran menikah di bulan Syawal berdasarkan haditsnya Sayyidah Aisyah:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ

“Dari Asiyah berkata, aku dinikahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Syawal, dan beliau berhubungan denganku di bulan Syawal.” (HR. Muslim).

Sementara untuk anjuran menikah di bulan Shafar berdasarkan hadits:

أَنَّ رَسُولَ الله- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - زَوَّجَ ابْنَتَهُ فَاطِمَةَ عَلِيًّا فِي شَهْرِ صَفَرٍ عَلَى رَأْسِ اثْنَيْ عَشَرَ شَهْرًا مِنْ الْهِجْرَةِ

“Sesungguhnya Rasulullah menikahkan putrinya, Fathimah dengan Ali di bulan Shafar pada 12 bulan awal sejak hijrah menuju Madinah.” (HR. al-Zuhri).

Berlandaskan dalil di atas, para fuqaha (ahli fiqih) merumuskan bahwa hukumnya sunnah menikah di bulan Syawal dan Shafar.

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani mengatakan:

ويسن أن يتزوج في شوال وفي صفر لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم تزوج عائشة رضي الله عنها في شوال وزوج ابنته فاطمة عليا في شهر صفر على رأس اثني عشر شهرا من الهجرة

“Dan sunnah menikah di bulan Syawal dan Shafar, karena Rasulullah menikahi Aisyah di bulan Syawal dan beliau menikahkan putrinya, Fathimah dengan Ali di bulan Shafar pada 12 bulan awal sejak hijrah.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah al-Zain, hal. 300).

Namun demikian, pada kenyataannya banyak juga yang menikah di bulan Sya’ban. Faktornya bervariasi, mulai dari mengharapkan keberkahan Sya’ban, bekal menuju Ramadhan untuk menambah pundi-pundi pahala, momen akhir tahun bagi kalangan santri, kesepakatan keluarga atau kebetulan sesuai dengan kemampuan financial, dan lain-lain. Bagaimana hukum menikah di bulan Sya’ban? Apakah tidak bertentangan dengan anjuran menikah di bulan Syawal dan Shafar?

Syekh Bahnasi, salah satu ulama Syafi’iyyah, sebagaimana dikutip Syekh Ali Syibramalisi, bahwa anjuran menikah di bulan Syawal dan Shafar berlaku apabila memungkinkan menikah di kedua bulan tersebut. Bila tidak memungkinkan, maka anjuran pelaksanaan menikah disesuaikan dengan waktu yang paling memungkinkan, misalnya menyesuaikan kemampuan mengeluarkan biaya menikah.

Syekh Ali Syibramalisi menegaskan: 

وكتب أيضا لطف الله به قوله: ويسن أن يتزوج في شوال أي حيث كان يمكنه فيه وفي غيره على السواء، فإن وجد سبب للنكاح في غيره فعله

“Dan Syekh Bahnasi, semoga Allah mengasihinya, juga menulis, sunnah menikah di bulan Syawal, maksudnya bila memungkinkan menikah di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya secara seimbang. Maka bila ditemukan sebab menikah di selain bulan Syawal, maka hendaknya dilakukan di bulan tersebut.” (Syekh Ali Syibramalisi, Hasyiyah ‘Ala Nihayah al-Muhtaj, juz.6, hal. 185).
Demikian penjelasan mengenai hukum menikah di bulan Sya’ban. Kesimpulannya, tidak ada keharusan untuk menikah di bulan Syawal atau Shafar. Tidak perlu memaksakan diri untuk melaksanakan akad nikah di kedua bulan tersebut. Namun disesuaikan dengan kondisi yang paling memungkinkan.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.

Rabu 27 Maret 2019 9:30 WIB
Pengantin Laki-laki Belum Sunat, Sahkah Akad Nikahnya?
Pengantin Laki-laki Belum Sunat, Sahkah Akad Nikahnya?
Ilustrasi (via aboutIslam.net)
Pernah lihat film Kiamat Sudah Dekat besutan aktor dan sutradara kawakan Dedi Mizwar yang rilis tahun 2003? Sebagian kisahnya menceritakan bahwa ketika Fandi mengungkapkan keinginannya kepada Haji Romli untuk menikahi anaknya Sarah, Haji Romli sempat menanyakan apakah Fandi sudah disunat. Saat itu Fandi yang anak band dan tak pernah mendapatkan pendidikan agama dari orang tuanya sempat kebingungan dan tak mengerti apakah dirinya sudah disunat atau belum.

Di dunia nyata hal ini sempat juga menyinggahi calon pengantin laki-laki yang hendak melangsungkan pernikahan namun—karena ketidaktahuannya—terkendala dengan dirinya yang belum disunat. Ini sering terjadi pada calon pengantin laki-laki yang mualaf yang selama memeluk agama lamanya tidak pernah melakukan sunat.  

Di dalam fiqih Islam para ulama berbeda pendapat tentang hukum dilakukannya khitan atau sunat. Dalam mazhab Syafi’i khitan merupakan satu kewajiban yang mesti dijalani oleh semua kaum muslimin baik laki-laki maupun perempuan. Begitu pula Imam Ahmad mewajibkannya. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menganggap khitan atau sunat sebagai kesunnahan baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Tentang hal ini Imam Nawawi menuturkannya di dalam kitab Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab sebagai berikut:

الْخِتَانُ وَاجِبٌ عَلَى الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ كَثِيرُونَ مِنْ السَّلَفِ كَذَا حَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ وَمِمَّنْ أَوْجَبَهُ أَحْمَدُ وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ سُنَّةٌ فِي حَقِّ الْجَمِيعِ وَحَكَاهُ الرَّافِعِيُّ وَجْهًا لَنَا: وَحَكَى وَجْهًا ثَالِثًا أَنَّهُ يَجِبُ عَلَى الرَّجُلِ وَسُنَّةٌ فِي الْمَرْأَةِ

Artinya: “Bagi kami (ulama Syafi’iyah) khitan itu wajib bagi laki-laki dan perempuan. Demikian pula kebanyakan ulama salaf berpendapat. Hal itu disampaikan oleh Al-Khathabi. Termasuk yang mewajibkan khitan adalah Imam Ahmad. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah berpendapat hukum khitan adalah sunnah bagi semuanya (laki-laki dan perempuan). Imam Rofi’i menuturkan pendapat lain bagi kita, pendapat ketiga bahwa khitan itu wajib bagi laki-laki dan sunnah bagi perempuan.” (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab, [Jedah: Maktabah Al-Irsyad, tt.], juz I, hal. 349)

Dalam mazhab Syafi’i kewajiban bersunat juga berkaitan erat dengan keabsahan shalat seseorang. Ketika seorang yang belum sunat melakukan shalat bisa jadi shalatnya tidak sah dikarenakan ia membawa najis di dalam kulit yang semestinya disunat. Sisa-sisa air seni yang semestinya terbuang semua menumpuk dan menjadi kerak di dinding kulit ujung kelamin yang semestinya dibuang dengan cara sunat. Ini dikarenakan shalat mensyaratkan suci hadas dan najis bagi pelakunya.

Lalu bagaimana dengan akad nikah, adakah hubungan sunat dengan keabsahan akad nikah?

Sebagaimana amalan-amalan pada umumnya untuk mengetahui sah atau tidaknya suatu amalan mesti dilihat dari syarat rukunnya. Terpenuhi atau tidaknya syarat ukun sebuah amalah menentukan sah atau tidaknya amalan tersebut.

Demikian pula dengan akad nikah, sah atau tidaknya dilihat dari terpenuhi atau tidaknya syarat rukun yang telah ditetapkan.

Abu Bakar Al-Hishni dalam kitabnya Kifâyatul Akhyâr menyebutkan:

ـ (فرع) يشْتَرط فِي صِحَة عقد النِّكَاح حُضُور أَرْبَعَة ولي وَزوج وشاهدي عدل

Artinya: “(Cabang) dalam keabsahan akad nikah disyaratkan hadirnya empat orang; wali, suami, dan dua orang saksi.” ( (Abu Bakar Al-Hishni, Kifâyatul Akhyâr, [Damaskus: Darul Basyair, 2001], hal. 426)

Keempat orang yang disebutkan di atas masing-masing memiliki persyaratan tersendiri yang bila salah satu dari persyaratan itu tak terpenuhi maka batallah akad nikah yang dilakukan. 

Berkaitan dengan syarat yang harus dipenuhi oleh calon suami Dr. Musthafa Al-Khin dalam Al-Fiqhul Manhaji (Damaskus, Darul Qalam, 1992, IV: 60) menyebutkan ada 3 (tiga) syarat yang harus dipenuhi seorang calon pengantin laki-laki, yakni:

1. Calon suami adalah orang yang boleh menikahi calon istrinya. Artinya ia mahram calon istrinya.

2. Calon suami orangnya sudah jelas. Bila sang wali dalam ijabnya mengatakan “saya nikahkan anak perempuan saya dengan salah satu laki-laki di antara kalian” maka tidak sah nikahnya karena calon suami tidak jelas.

3. Calon suami adalah orang yang dalam keadaan halal menikah, tidak sedang berihram ibadah haji atau umrah. 

Bila membaca kitab-kitab fiqih yang lain pun bisa kita temukan bahwa para ulama tidak menetapkan sunat atau khitan sebagai salat satu syarat bagi calon pengantin laki-laki untuk menjalani ijab kabul akad pernikahan.

Ini berarti bahwa pengantin laki-laki yang belum disunat bisa melangsungkan pernikahan dengan gadis pujaannya dan akad nikahnya sah dalam pandangan hukum fiqih Islam. Barangkali itu pula sebabnya pada saat proses pemeriksaan calon pengantin petugas di KUA tidak pernah menanyakan apakah calon pengantin laki-laki telah disunat atau belum. Bila sunat menjadi salah satu persyaratan maka tentunya petugas akan menanyakannya dan bahkan meminta dibuktikan dengan SUKET TEKI: Surat Keterangan Telah Khitan. Wallâhu a’lam


Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif sebagai penghulu di lingkungan Kementerian Agama Kota Tegal.


Selasa 26 Maret 2019 19:15 WIB
Ini Keutamaan Bawa Pulang Oleh-oleh atau Tentengan untuk Keluarga
Ini Keutamaan Bawa Pulang Oleh-oleh atau Tentengan untuk Keluarga
(Foto: @shutterstock.com)
Orang tua wajib menafkahi anak-anaknya karena orang tua memiliki lebih berdaya dibanding anak-anaknya. Ketentuan nafkah ini diatur lebih rinci dalam kitab-kitab fiqih. Meski demikian, tidak ada salahnya jika orang tua sesekali membawa pulang oleh-oleh atau sering disebut tentengan untuk keluarga di rumah. Jangan sampai melenggang dengan tangan kosong setiap kali pulang selama sebulan.

Adapun hadits perihal keutamaan nafkah wajib untuk keluarga di luar dari oleh-oleh atau tentengan diriwayatkan antara lain oleh Imam Muslim sebagai berikut:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ دِينَارٍ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُ دِينَارٌ يُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِهِ...

Artinya, “Dari Tsauban RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Harta yang paling utama dibelanjakan oleh seseorang adalah harta yang dibelanjakan untuk keluarganya…,’” (HR Muslim).

Selain nafkah wajib, orang tua juga memuliakan dan mendidik anak-anak mereka secara baik. Pemuliaan dan pendidikan untuk anak-anak ini juga dipesan oleh Rasulullah SAW sebagai bentuk pemuliaan mereka sebagai anak manusia dan pembekalan akhlak mereka di kemudian hari.

حدثنا سعيد بن عمارة أخبرني الحارث بن النعمان سمعت أنس بن مالك يحدث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أكرموا أولادكم وأحسنوا أدبهم

Artinya, “Kami mendapatkan riwayat dari Said bin Imarah, aku dikabarkan oleh Al-Harits bin Nu’man, aku mendengar Anas bin Malik menceritakan dari Rasulullah SAW, ia bersabda, ‘Muliakanlah anak-anakmu dan perbagus akhlak mereka,’” (HR Ibnu Majah).

Penghormatan terhadap anak sebagai anak Adam memiliki keutamaan yang luar biasa. Bahkan pandangan kasih sayang orang tua terhadap anak melahirkan ganjaran yang begitu besar di sisi Allah.

وقال عليه الصلاة والسلام النظر إلى وجه الأولاد بشكر كالنظر إلى وجه نبيه

Artinya, “Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘(Keutamaan) Memandang wajah anak dengan rasa syukur seperti (keutamaan) memandang wajah nabinya,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Tanqihul Qaulil Hatsits fi Syarhi Lubabil Hadits, [Cirebon, Syekh Abdullah Afif wa Syirkah: tanpa catatan tahun], halaman 51).

Beberapa keterangan hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap anak. Perhatian itu diberikan oleh Islam secara proporsional mulai dari kebutuhan dasar mereka berupa nafkah, pendidikan, hingga pemosisian mereka sebagai anak Adam yang patut dihormati.

Atas semua itu, amal para orang tua tidak sia-sia. Amal mereka akan mendapatkan ganjaran yang mulia di sisi Allah SWT. Bahkan, amal orang tua berupa oleh-oleh atau sekadar tentengan yang dibawa pulang ke rumah untuk membahagiakan keluarganya juga tidak luput dari catatan Allah SWT sebagaimana hadits yang dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten berikut ini: 

وقال النبي صلى الله عليه وسلم من اشترى لعياله شيأ ثم حمله بيده إليهم حط الله عنه ذنوب سبعين سنة

Artinya, “Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Siapa saja yang membeli sesuatu untuk keluarganya, lalu ia sendiri membawanya untuk mereka, niscaya Allah menggugurkan dosa 70 tahun,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Uqudul Lujain fi Bayani Huquqiz Zaujain, [Semarang, Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 13).

Dari keterangan ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa Allah tidak menyia-nyiakan perbuatan baik sekecil apapun, termasuk sesekali membawa pulang oleh-oleh atau tentengan sekadar martabak, roti bakar, roti tawar, buah, dan lain sebagainya untuk membahagiakan keluarga di rumah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)