IMG-LOGO
Ramadhan

Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Tarawih

Kamis 9 Mei 2019 15:30 WIB
Share:
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Tarawih
Shalat tarawih sunnah dilakukan secara berjamaah. Waktunya adalah setelah shalat Isya, seperti waktu shalat Witir. Dilaksanakan sebanyak 20 rakaat, dengan 10 kali salam (salam setiap dua rakaat). 

Sebagaimana shalat yang lain, di dalam tarawih juga dianjurkan membaca surat dari Al-Qur’an setelah membaca Surat al-Fatihah. Dalam fenomena shalat tarawih di masyarakat, ada banyak macam surat yang dibaca. Sebagian membaca satu halaman Al-Qur’an di setiap rakaatnya, urut mulai dari awal Surat  al-Baqarah. Dengan metode ini, setiap malamnya mereka bisa mendapat satu juz, sehingga bisa khatam Al-Qur’an sampai 30 juz jika dilakukan 30 malam berturut-turut.

Sebagian memakai pola surat pendek, di mulai dari Surat at-Takatsur sampai Surat al-Masad atau al-Lahab (surat ke-102 sampai ke111), masing-masing dilakukan di setiap rakaat pertama. Sedangkan untuk rakaat kedua membaca Surat al-Ikhlas. Dan masih banyak lagi teknis pembacaan surat selain yang telah disebutkan. Pertanyaannya adalah, bacaan Al-Qur’an apa yang sebaiknya dibaca saat shalat tarawih?

Pada dasarnya, tidak ada larangan dari syariat untuk membaca surat apa pun di dalam pelaksanaan shalat tarawih. Surat apa pun yang dibaca, sudah mendapat pahala pokok kesunnahan membaca surat.

Namun demikian, yang paling utama dibaca adalah metode tajziah (membaca satu juz) di setiap hari pelaksanaan tarawih. Teknisnya seperti yang dijelaskan di atas, yaitu membaca satu halaman Al-Qur’an di setiap rakaat, hingga purna satu juz pada rakaat ke-19. Demikian dilakukan secara urut mulai dari awal Surat al-Baqarah, sehingga di akhir Ramadhan bisa khatam sampai Surat an-Nas.

Syekh Ibrahim al-Bajuri mengatakan:

وَفِعْلُهَا بِالْقُرْآنِ فِيْ جَمِيْعِ الشَّهْرِ بِأَنْ يَقْرَأَ كُلَّ لَيْلَةٍ جُزْأً أَفْضَلُ مِنْ تَكْرِيْرِ سُوْرَةِ الرَّحْمَنِ أَوْ هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ أَوْ سُوْرَةِ الْإِخْلَاصِ بَعْدَ كُلِّ سُوْرَةٍ مِنَ التَّكَاثُرِ إِلَى الْمَسَدِّ كَمَا اعْتَادَهُ أَهْلُ مِصْرَ

“Dan melaksanakan tarawih di keseluruhan bulan (Ramadhan), dengan membaca satu juz di setiap malam, lebih utama daripada mengulang-ulang Surat ar-Rahman atau Hal Atâ ‘alal Insan atau Surat al-Ikhlas setelah masing-masing surat mulai dari at-Takatsur sampai al-Masad seperti yang ditradisikan penduduk Mesir,” (Syekh Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘Ala Ibni Qasim, juz 1, hal. 260).

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan landasan keutamaan tajziah dalam al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra sebagai berikut:

وَقَدْ أَفْتَى ابْنُ عَبْدِ السَّلَامِ وَابْنُ الصَّلَاحِ وَغَيْرُهُمَا بِأَنَّ قِرَاءَةَ الْقَدْرِ الْمُعْتَادِ فِي التَّرَاوِيحِ هُوَ التَّجْزِئَةُ الْمَعْرُوفَةُ بِحَيْثُ يُخْتَمُ الْقُرْآنُ جَمِيعُهُ فِي الشَّهْرِ أَوْلَى مِنْ سُورَةٍ قَصِيرَةٍ وَعَلَّلُوهُ بِأَنَّ السُّنَّةَ الْقِيَامُ فِيهَا بِجَمِيعِ الْقُرْآنِ، وَاقْتَضَاهُ كَلَامُ الْمَجْمُوعِ وَاعْتَمَدَ ذَلِكَ الْإِسْنَوِيُّ وَغَيْرُهُ

“Syekh Ibnu Abdissalam, Syekh Ibnus Shalah, dan lainnya berfatwa bahwa membaca kadar bacaan yang ditradisikan di dalam tarawih yang dikenal dengan tajziah, dengan mengkhatamkan keseluruhan Al-Qur’an di dalam satu bulan, lebih utama daripada membaca surat pendek. Para ulama memberikan alasan bahwa kesunnahan di dalam tarawih adalah membaca keseluruhan Al-Qur’an. Hal ini seperti yang ditunjukan oleh statemennya kitab al-Majmu’, dipegangi pula oleh Imam al-Asnawi dan lainnya,” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 1, hal. 184).

Adapun tradisi-tradisi yang berbeda dengan metode tajziah ini, tidak bisa dihukumi makruh, apalagi haram. Sebab tidak ada larangan khusus dari syariat yang mencegahnya. Hal ini sebagaimana penegasan Syekh Ibnu Hajar tentang tradisi pengulangan Surat al-Ikhlas di setiap rakaat tarawih. Kata beliau, tradisi tersebut tidak disunnahkan, namun tidak pula dikatakan makruh.

Ulama yang dikenal sangat tajam daya analisisnya tersebut menegaskan dalam himpunan fatwanya sebagai berikut:

تَكْرِيرُ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْإِخْلَاصِ أَوْ غَيْرِهَا فِي رَكْعَةٍ أَوْ كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْ التَّرَاوِيحِ لَيْسَ بِسُنَّةٍ، وَلَا يُقَالُ: مَكْرُوهٌ عَلَى قَوَاعِدِنَا. لِأَنَّهُ لَمْ يَرِدْ فِيهِ نَهْيٌ مَخْصُوصٌ

“Mengulang-ulang bacaan surat al-Ikhlas atau lainnya di dalam satu rakaat atau setiap rakaat tarawih tidak sunnah, tidak pula dikatakan makruh sesuai kaidah-kaidah kami, sebab di dalamnya tidak ada larangan khusus” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 1, hal. 184).

Demikian penjelasan mengenai bacaan Al-Qur’an yang dianjurkan di dalam shalat tarawih. Banyak ragam “ijtihad” para masyayikh dan kiai dalam memilih bacaan surat shalat tarawih. Mungkin di lingkungan masyarakat yang kuat diajak tarawih lama, pilihan membaca satu juz di setiap malam adalah langkah yang ideal. Namun, ketika dihadapkan dengan masyarakat yang masih labil, bersedia tarawih saja sudah baik, maka membaca surat-surat yang lebih pendek lebih bijak, untuk menghindari mudarat keengganan mereka mengikuti tarawih, sesuai dengan prinsip kaidah fiqh “dar’ul mafâsid muqaddamun ‘alâ jalbil mashâlih” (menghindari kemudaratan lebih didahulukan atas menarik kemashlahatan). Karena itu, hendaknya tidak mudah memvonis keliru terhadap tradisi bacaan tarawih di masyarakat, masing-masing tokoh bisa jadi memiliki pertimbangan yang belum tentu sama dengan kondisi masyarakat di daerah lain. Wallahu a’lam. 


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.

Tags:
Share:
Kamis 9 Mei 2019 17:15 WIB
Menelusuri Makna ‘Shaum’, ‘Shiyam’, dan ‘Ramadhan’
Menelusuri Makna ‘Shaum’, ‘Shiyam’, dan ‘Ramadhan’
Bagi umat Islam, puasa tidak sekadar kewajiban, tetapi juga aktivitas sosial budaya. Sejak leluhur kita, puasa menciptakan berbagai macam fenomena sosial di kalangan masyarakat Indonesia, misalnya ziarah kubur, silaturahmi, munggahan, nyorog, dugderan, malamang, bersih-bersih masjid, tadarus, jaburan, tarawih, dan pasaran atau pasanan yang dilaksanakan di pesantren-pesantren. Tradisi-tradisi ini menjadi simbol aktivitas penyucian jiwa dan peningkatan kualitas diri di hadapan Allah dalam menyambut bulan suci Ramadhan dan melaksanakan ibadah puasa.

Di leluhur kita, istilah puasa memiliki ragam sebutan sesuai dengan daerah dan wilayah masing-masing. Namun, istilah shaum atau shiyam menjadi yang populer digunakan lantaran kedua kata ini merupakan diksi asli dari perintah kewajiban berpuasa, sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an. Disebutkan dalam buku al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadzil Quranil Karim karya Muhammad Fuad Abdul Baqi (1882-1968 M), bahwa kata shaum tersebut satu kali dalam Al-Qur’an, yaitu pada Surat Maryam: 26, sedangkan kata shiyam diulang sebanyak delapan kali. 

Kata shiyam tersebar di Surat al-Baqarah: 184, 187, 196 (dua kali), an-Nisa: 92, al-Maidah: 89 dan 95, serta al-Mujadilah: 4. Sebaran kata shiyam ini memiliki tujuan yang beragam, baik sebagai kewajiban membayar fidiah, diat, atau kafarat. Sementara itu, kata shiyam yang merujuk kepada puasa Ramadhan terdapat pada Surat al-Baqarah 184 dan 187. Ayat 184 menyatakan kewajiban puasa Ramadhan, sedangkan ayat 187 menjelaskan aturan aktivitas puasa. Selain dua kata tersebut, Al-Qur’an juga memuat derivasi lain dari kata shaum dan shiyam, yaitu tashûmû (al-Baqarah: 185) dan falyasumh (al-Baqarah: 185), yang termasuk kategori fiil mudhari’, kata kerja bermakna sedang atau akan, serta asshâimin dan as-Shâimât (Alahzab: 95) yang merujuk pada pelaku puasa bentuk plural untuk pria dan perempuan.

Secara etimologi, sebagaimana dalam kamus al-’Ayn, kamus pertama dalam peradaban Islam karya Khalil bin Ahmad Al-Farahidi (718 – 789 M), shaum ataupun shiyam terbentuk dari akar kata صام – يصوم yang berarti imsâk (menahan), shamt (diam tidak bicara), rukûd (diam tidak bergerak), dan wuqûf (berhenti). Jadi kedua kata tersebut secara bahasa berarti meninggalkan atau tidak makan-minum, tidak berbicara, dan tidak melakukan aktivitas apapun. Makna harfiah ini kemudian menjadi makna pakem yang melekat pada istilah shaum dan shiyam sampai saat ini, sebagaimana yang termaktub dalam kamus kontemporer al-Mu’jam al-Wasîth karya Majma’ul Lughah al-Arabiyah Mesir.

Jika dua kata di atas memiliki rujukan makna literal yang sama, mengapa Al-Qur’an lebih memilih kata syiam untuk menunjukkan makna aktivitas kewajiban puasa pada Surat al-Baqarahayat 184 dan 187? Dalam disiplin ilmu shorof atau morfologi Arab, ada teori yang mengatakan bahwa زيادة المعنى تدلّ على زيادة المعنى (bentuk kata menunjukkan karakter makna). Kata صوم memiliki tiga huruf, sedangkan صيامterdiri dari empat huruf. Oleh karena itu, kata shiyam memiliki makna yang lebih dalam daripada kata shaum. Bahkan ada sebagian kalangan yang membedakan kandungan arti kedua kata tersebut. 

Sebagimana dikutip oleh Alhasan bin Abdillah bin Sahl bin Said, yang terkenal dengan panggilan Abu Hilal Al’askari (920 – 1005 M) dalam al-Furuq fi al-Lughah, kata shiyam memiliki arti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan (makan, minum, jimak) dengan dibarengi niat, sedangkan kata shaum bermakna meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa atautidak berbicara. Perbedaan ini berdasar pada Surat Maryam ayat 26, yaitu:

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا

“Maka, makanlah (buah kurma itu), dan minumlah (dari air telaga itu) serta bersenang hatilah (dengan kelahiran anakmu). Jika engkau (Maryam as.) melihat seorang manusia (dan bertanya kepadamu tentang keadaanmu), maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa (tidak berbicara) untuk Tuhan Yang Maha Pemberi Kasih, maka aku tidak akan berbicara dengan (seorang) manusia (pun) pada hari ini.”

Berdasar ayat di atas, bahkan pembedaan kedua kata di atas sering menjadi tajam. Shiyam merupakan istilah khusus untuk puasa tidak makan-minum, sedangkan shaum untuk puasa tidak berbicara, sehingga penyebutan puasa Ramadhan dengan shaum terkadang dianggap salah. Sejatinya, kata shaum pada ayat di atas bermakna netral, tidak condong ke arti tidak makan-minum atau tidak berbicara. Hanya saja makna tidak berbicara terdapat pada kalimat setelahnya dan juga didukung oleh kalimat di awal ayat. Maka dari itu,membatasi kata shaum dengan makna puasa berbicara sepertinya kurang tepat. 

Dalam sabda-sabdanya, Rasulullah Saw. tak jarang menggunakan istilah shaum dan shiyam untuk merujuk makna aktivitas puasa Ramadhan yang kita kenal seperti sekarang. Beberapa riwayat menunjukkan hal tersebut, seperti contoh pada redaksi hadits-hadits berikut:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ .....  (رواه البخاري ومسلم) ـ

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ..... (رواه البخاري) ـ

“Setiap amal perbuatan manusia demi dirinya sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.”

صُمْ أَفْضَلَ الصَّوْمِ، صَوْمَ دَاوُدَ، صِيَامَ يَوْمٍ وَإِفْطَارَ يَوْمٍ ..... (رواه البخاري) ـ

“Puasalah dengan puasa terbaik, yaitu puas Nabi Daud; puasa sehari dan tidak puasa sehari.”

Pada redaksi hadits di atas, baik dalam dua riwayat yang berlainan maupun yang satu riwayat, kata shaum dan shiyam digunakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk merujuk kepada makna aktivitas menahan lapar dan dahaga serta perkara yang membatalkan puasa lainnya. Kitab Muaththa` Imam Malik, Musnad Imam Syafi’i, dan Sahih Imam Muslim cenderung lebih memilih kata shiyam (كتاب الصيام) untuk menamai judul atau bab mengenai puasa, sementara Sahih Imam Bukhari dan Musnad Imam Ahmad (yang telah disusun sesuai bab fiqih) memilih diksi shaum (كتاب الصوم) dalam penamaannya. Meskipun begitu, kitab-kitab tersebut tetap menggunakan kedua diksi tersebut dalam sub-sub judul tentang puasa, tentu dengan kadar yang berbeda-beda.

Ragam pemaknaan ini sebenarnya bisa diurai titik temunya dengan melihat makna dasar kedua kata tersebut sebagaimana telah dijelaskan di atas. Kata shaum bersifat umum, apapun bentuk puasa bisa disebut shaum, sedangkan shiyam lebih bersifat khusus dalam aspek ruh maknanya. Hal ini perlu ditekankan karena perbedaan makna tetap saja ada dalam sinonim sekalipun, tetapi bukan pada redaksi pemaknaannya, tetapi pada aspek puasayang syari’dengan segala aturannya sehingga digunakan Allah Swt. dalam Al-Baqarah ayat 183 dan 187. 

Berbeda dengan makna shaum atau shiyam secara etimologi, dalam lingkup syri’at atau disiplin fiqih, kedua kata tersebut secara istilah tidak menimbulkan perbedaan yang berarti. Shaum atau shiyam dalam fiqih Islam dimaknai sebagai aktivitas menahan diri, dengan disertai niat, dari makan, minum, berhubungan badan, dan segala hal yang membatalkan sejak terbitnya fajar sampai terbenam matahari. Mungkin saja dari sudut pandang tasawuf berbeda dan lebih dalam dengan menyentuh aspek etik sufistik, tetapi hal tersebut tidak dapat melepaskan diri dari makna puasa di atas yang lebih bersifat fisik. 

Ramadhan

Puasa dalam Islam memiliki banyak ragamnya, tetapi hanya puasa Ramadhan yang menyimpan segala macam kepentingan nilai politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Puasa Ramadhan juga mampu menciptakan kondisi psikologis jiwa-jiwa manusia yang “berbeda” dalam kurun waktu sebulan saja dan mayoritas dari mereka kembali ke “habitat”karakter aslinya di sebelas bulan lainnya. Oleh karena itu, Ramadhan merupakan bulan “perbaikan diri”, untuk menghindari dari label negatif sebagai bulan kepura-puraan

Tradisi puasa bukan hanya dalam Islam, sudah ada sejak sebelum Islam hadir. Bahkan sebagai mana pada kutipan hadits di atas, Nabi Daud memiliki tradisi sehari puasa sehari tidak. Bangsa Mesir, Yunani, Romawi, Cina, dan lainnya juga memiliki tradisi puasa dengan tata cara dan tujuan yang berbeda-beda. Begitu pula kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka memiliki tradisi puasa juga. Kaum Quraisy pada masa Jahiliyah juga melakukan puasa ‘Asyura sebagaimana kaum Yahudi. 

Puasa ‘Asyura juga dilakukan oleh Rasulullah sebelum saat di Makkah dan di Madinah. Namun, setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura menjadi sebuah kesunnahan saja. Puasa Ramadhan dalam Islam diwajibkan pada tahun 621 Masehi atau tahun kedua setelah hijrah atau tahun ke-14 pasca kenabian. Ini ditandai dengan turunnya Surat al-Baqarah ayat 183 di Madinah, sebagaimana termaktub dalam kitab Tarikh Tasyri’ Alislamy karya Muhammad bin ‘Afifi al-Bajury, yang dikenal nama Muhammad Khudory Bik (1872–1927 M).

Bulan Ramadhan yang tersebut satu kali di dalam Al-Qur’an, sudah ada sebelum Islam datang atau masa Jahiliyah karena penamaan bulan-bulan hijriah mengadopsi dari tradisi penanggalan bangsa Arab pra-Islam. Bulan Ramadhan pada masa Jahiliyah merupakan bulan mulia bagi masyarakat Jazirah Arab. Kholil Abdul Karim (1930-2002 M) dalam al-Judzûr at-Aurikhiyah lis Syariu’ah al-Islâmiyah mengatakan bahwa kakek Rasulullah dan paman Umar bin Khattab, yaitu ‘Abdul Muththalib dan Zaid bin Amr bin Nufail selalu ber-tahnnus (ibadah) di gua Hira pada sertiap bulan Ramadhan, bersedekah, dan berderma makanan. Tradisi tahannuts ‘Abdul Muththalib ini kemudian ditiru oleh cucunya sampai datangnya wahyu pertama kali, yang juga turun pada saat bulan Ramadhan. 

Secara bahasa, dalam kamus al-’Ayn dan al-Mu’jam Al-Wasith, Ramadhan berasal dari kata رَمَضَ yang berarti panasnya batu karena sengatan sinar matahari, panas yang membakar, dan hujan yang turun sebelum musim gugur. Jadi Ramadhan lekat dengan arti panas karena memang penamaan bulan-bulan Arab pra-Islam didasarkan pada realitas sosial dan cuaca geografisnya. Sekitar dua abad sebelum Islam, Kilab bin Murroh, salah satu leluhur Nabi Muhammad mengusulkan penamaan bulan-bulan dalam sistem penanggalan bangsa Arab.

Salah satu dari nama bulan tersebut adalah Ramadhan. Ahmad Arif Hijazi Abdul Alim (1959 – sekarang) dalam Asmâus Syuhur al-’Arabiyah berpendapat bahwa, penamaan bulan-bulan hijriyah ada yang berlatar belakang religi (Muharam dan Dzul Hijjah), sosial (Safar, Sya’ban, Syawwal, Dzul Qa’dah), sosial-religi (Rajab), sosial-ekologis (Rabiul Awal, Rabuil Akhir, Jumada Ula, Jumada Tsaniyah). 

Sementara itu, latar belakang penamaan bulan Ramadhan bersifat ekologis-geografis, sesuai dengan kondisi cuaca musim panas di kawasan Arab waktu itu yang dikenal dengan istilah ramdha, satu akar kata dengan Ramadhan. Selain itu, mengutip Imam Qurthubi, Ramadhan juga disebut sebagai bulan pemanasan dengan mengasah senjata sebagai persiapan untuk perang di bulan Syawal, sebelum masuk tiga bulan suci setelahnya yang disepakati haram perang. 

Alasan-alasan penamaan Ramadhan di atas dipandang lebih rasional karena bersumber dari realitas geografis dan sosial bangsa Arab pra-Islam meskipun tidak sesuai dengan realitas masa kini. Ramadhan zaman kiwari tidak selalu bertepatan dengan pada musim panas karena Ramadhan berpatokan pada pergerakan bulan, bukan matahari. Oleh karena itu, agar makna Ramadhan memiliki korelasi dengan makna dasarnya, ada beberapa alasan baru yang cenderung agamis karena kewajiban puasa di bulan tersebut, meskipun secara bahasa dapat diterima. 

Di antara argumentasi tersebut adalah karena Ramadhan merupakan bulan pelebur dan pembakar dosa-dosa atau karena pencernaan orang yang berpuasa terasa panas lantaran lapar dan dahaga, dan ada pula yang menganggap bahwa Ramadhan adalah salah satu nama Allah Swt., sehingga masyarakat Arab pra-Islam sangat hati-hati dan menghindari penggunaan kata Ramadhan disandingkan dengan diksi syahr (bulan). 


M.I. Sofwan Yahya, penerima Beasiswa Eka Tjipta Foundation di SPs UIN Jakarta

Kamis 9 Mei 2019 15:46 WIB
Ini Susunan Wirid Setelah Shalat Witir
Ini Susunan Wirid Setelah Shalat Witir
(Foto: @voanews.com)
Setelah salam dari Shalat Witir, kita dianjurkan untuk tidak segera bangun meninggalkan lokasi. Kita dianjurkan untuk membaca doa dan wirid sejenak sebagaimana keterangan berikut ini:

يُسَنُّ أَنْ يَقُولَ بَعْدَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ وَأَنْ يَقُولَ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاك مِنْ سَخَطِك وَبِمُعَافَاتِك مِنْ عُقُوبَتِك وَأَعُوذُ بِك مِنْك لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسِك

Artinya, “Seseorang dianjurkan setelah shalat witir membaca tiga kali, ‘Subhānal malikil quddūs,’ kemudian membaca, ‘Allāhumma inī a‘ūdzu bi ridhāka min sakhathika, wa bi mu‘āfātika min ‘uqūbatika. Wa a‘ūdzu bika minka, lā uhshī tsanā’an alayka anta kamā atsnayta ‘alā nafsika,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], halaman 101).

Adapun susunan bacaan setelah selesai shalat Witir adalah sebagai berikut:

1. Syahadat.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Asyhadu an lā ilāha illallāh.

Artinya, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah.”

2. Istighfar.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ

Astaghfirullāh.

Artinya, “Aku memohon ampunan Allah.”

3. Permohonan ridha dan surga Allah.

أَسْأَلُك رِضَاك وَالْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِك مِنْ سَخَطِك وَالنَّارِ

Allāhumma innī as’aluka ridhāka wal jannah, wa a‘ūdzu bika min sakhathika wan nār.

Artinya, “Tuhanku, aku memohon ridha dan surga-Mu. Aku juga berlindung kepada (rahmat)-Mu dari murka dan neraka-Mu.”

4. Poin 1-3 diulang sebanyak 3 kali.

5. Tasbih (3 kali).

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

Subhānal malikil quddūs.

Artinya, “Mahasuci Tuhan yang kudus,” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

6. Pujian kesucian.

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّنَا وَرَبُّ المَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ

Subbūhun, quddūsun, rabbunā wa rabbul malā’ikati war rūh.

Artinya, “Suci dan qudus Tuhan kami, Tuhan para malaikat dan Jibril,” (HR Al-Baihaqi dan Ad-Daruqutni).

7. Pujian atas keluasan ampunan (3 kali).

اللَّهُمَّ إنَّك عَفْوٌ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allāhumma innaka ‘afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa, fa‘fu ‘annī.

Artinya, “Tuhanku, sungguh Kau maha pengampun lagi pemurah. Kau menyukai ampunan, oleh karenanya ampunilah aku.”

8. Pujian atas kemurahan dan kasih-sayang Allah.

يَا كَرِيْمُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Yā karīmu, bi rahmatika yā arhamar rāhimīna.

Artinya, “Wahai Zat yang maha pemurah, (aku memohon) atas berkat rahmat-Mu, wahai Zat yang paling penyayang dari segenap penyayang.”

9. Permohonan ampunan dan keselamatan.

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِرِضَاك مِنْ سَخَطِك وَبِمُعَافَاتِك مِنْ عُقُوبَتِك وَأَعُوذُ بِك مِنْك لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْك أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْت عَلَى نَفْسِك

Allāhumma inī a‘ūdzu bi ridhāka min sakhathika, wa bi mu‘āfātika min ‘uqūbatika. Wa a‘ūdzu bika minka, lā uhshī tsanā’an alayka anta kamā atsnayta ‘alā nafsika.

Artinya, “Tuhanku, aku berlindung kepada ridha-Mu dari murka-Mu dan kepada afiat-Mu dari siksa-Mu. Aku meminta perlindungan-Mu dari murka-Mu. Aku tidak (sanggup) membilang pujian-Mu sebanyak Kau memuji diri-Mu sendiri,” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah). 

10. Doa setelah shalat pada umumnya.

11. Doa shalat witir.

أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْاَلُكَ إِيْمَانًا دَاِئمًا وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Artinya, "Ya Allah, kami mohon pada-Mu, iman yang langgeng, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar,amal yang saleh, agama yang lurus, kebaikan yang banyak.kami mohon kepada-Muampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, kami mohon kepada-Mu bersyukur atas karunia kesehatan, kami mohon kepada-Mu kecukupan terhadap sesaama manusia. Ya Allah, tuhan kami terimalah dari kami: shalat, puasa, ibadah, kekhusyu'an, rendah diri dan ibadaha kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya allah, Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Dan semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad SAW, demikian pula keluarga dan para sahabatnya secara keseluruhan. Serta segala puji milik Allah Tuhan semestra alam.”

12. Surat Al-Fatihah.

13. Doa pendek penutup.

14. Niat puasa Ramadhan.

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat untuk berpuasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

Adapun bila doa dan wirid dilaksanakan berjamaah, kita dapat mengganti kata ganti (dhamir) mufrad atau tunggal dengan dhamir jamak atau plural. Semoga Allah menerima permohonan kita. Amiiin. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 9 Mei 2019 14:30 WIB
Puasa Syariat dan Puasa Tarekat Syekh Abdul Qadir al-Jilani
Puasa Syariat dan Puasa Tarekat Syekh Abdul Qadir al-Jilani
Ilustrasi (mokashfiya.net)
Dalam memandang puasa, Syeikh Abdul Qadir al-Jilani membaginya dalam dua kategori, shaum al-syarî’ah (puasa syariat) dan shaum al-tharîqah (puasa tarekat), atau bisa juga disebut sebagai “puasa berstandar fiqih” dan “puasa berstandar tasawuf”. Syeikh Abdul Qadir menjelaskan bahwa puasa syariat adalah:

أَن يمسك عن الْمأكولات والمشروبات وعن وقاع النساء في النهار

“Menahan diri dari makanan, minuman, dan bersetubuh di waktu siang.” (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, Damaskus: Darul Sanabil, 1994, h. 112).

Dari sudut pandang syariat, yang membatalkan puasa—secara umum—hanya makan, minum dan bersetubuh di siang hari. Selama bisa menahan diri dari tiga hal tersebut, puasa kita sah dalam sudut pandang fiqih. Hal ini berbeda dengan puasa tarekat. Syeikh Abdul Qadir mengatakan:

أن يمسك عن جميع أعضائه المحرّمات والمناهي والذمائم مثل العُجب والكبر والبخل وغير ذلك، ظاهر وباطنا، فكلُها يبطل صوم الطريقة

“Menahan seluruh anggota tubuhnya dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan dan dilarang, menjauhi sifat-sifat tercela seperti ujub, sombong, kikir dan selainnya secara lahir dan batin. Setiap melakukan hal-hal tersebut membatalkan puasa tarekatnya.” (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, 1994, h. 112).

Perbedaan mendasarnya terletak pada titik berat puasa tarekat yang lebih luas dari puasa syariat. Hal-hal yang membatalkannya pun lebih beragam, tidak seperti puasa syariat. Selama seseorang berhasil memenuhi syarat dan rukunnya, tidak melanggar tiga larangan seperti yang disebutkan di atas, puasanya sah secara fiqih, meskipun dia menggunjing, marah, pelit, dan sombong. Tapi tetap saja, dia mendapatkan dosa dari perbuatannya itu. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai beliau bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang bangun malam (untuk beribadah) yang tidak mendapatkan dari bangun malamnya kecuali begadang.” (HR Imam Ibnu Majah)

Puasa tarekat memasukkan karakter negatif manusia dalam daftar pembatalan puasanya. Namun, perlu diingat, sistem pembatalan puasa tarekat tidak berimplikasi langsung terhadap batalnya puasa menurut fiqih. Sebab, puasa tarekat bermain di wilayah “tazkiyatun nufûs—penjernihan diri” atau “tashfiyyatul qulûb—pembersihan hati,” yang bisa disebut dengan pembangunan spiritual. Wilayah yang digarap puasa tarekat adalah efek daripada pelaksanaan puasa itu sendiri, apa puasa sekadar ibadah tahunan dengan iming-iming pahala yang melimpah, atau sebuah proses perbaikan diri yang berkelanjutan. Sederhananya begini, puasa dalam perspektif tasawuf (tarekat) bisa dianggap sebagai “saringan” bagi pengamalnya, yang semula dipenuhi dengan kebencian, setelah menjalankan ibadah puasa, kebenciannya perlahan-lahan berkurang. Begitu pula dengan karakter-karakter negatif lainnya.

Perbedaan lainnya adalah perihal waktu. Puasa syariat ditentukan waktunya atau mempunyai waktu tertentu (muwaqqat), sedangkan puasa tarekat tidak mempunyai waktu tertentu (muabbad fi jamî’i ‘umrih—sepanjang hidup manusia). (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, 1994, hlm 112). Karena puasa tarekat adalah puasa jiwa, sehingga tidak terikat dengan bulan, waktu atau jarak tertentu. Ketika pengamalnya mulai berlaku sombong atau melakukan perbuatan yang diharamkan, puasanya batal secara tarekat.

Hal menarik lainnya dari puasa tarekat adalah masuknya, “menahan seluruh anggota tubuh dari melakukan perbuatan yang diharamkan,” sebagai salah satu perilaku yang membatalkan puasa. Ini menarik, karena dapat membuat orang yang menjalankan puasa tarekat menghindari sekuat tenaga perbuatan-perbuatan yang diharamkan agama, hingga timbul anggapan bahwa menahan diri dari hal-hal tersebut tidak kalah pentingnya dengan menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh ketika berpuasa. Apalagi pengamalan puasa tarekat tidak terbatasi oleh waktu tertentu. Artinya, jika semua orang berhasil mengamalkannya, maka keseimbangan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial bukan sekadar isapan jempol belaka. 

Kemudian Syeikh Abdul Qadir al-Jilani mengutip hadits Qudsi dalam kitabnya, Sirr al-Asrâr, yang mengatakan:

يَصيْرُ لِلْصائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ الْإِفْطَارِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ رُؤْيَةِ جَمَالِي

“Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa: (1). Ketika berbuka, dan (2). Ketika melihat Allah (makna ahli hakikat).”

Para ahli syariat (fiqih) menafsirkan hadits qudsi tersebut sesuai makna dasarnya, bahwa yang dimaksud dengan “farhah ‘inda al-ifthâr—kebahagian ketika berbuka” adalah makan ketika matahari tenggelam (al-akl ‘inda ghurûb al-syams) dan yang dimaksud dengan “farhah ‘inda ru’yah jamâlî—kebahagiaan melihat jamâlî” adalah melihat hilal di malam idul fitri (ru’yah al-hilâl fi lailah al-‘îd) (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, 1994, h. 113).

Sementara para ahli hakikat menafsirkan hadits di atas dengan makna yang lebih dalam, bahwa kebahagiaan ketika berbuka adalah kebahagiaan memasuki surga dengan memakan banyak kenikmatan di dalamnya (dukhûl al-jannah bi al-akl mimmâ fîhâ min al-na’îm), dan kebagiaan yang kedua benar-benar dimaknai dengan kabahagiaan bertemu Allah di hari kiamat (liqâ’ Allah yaum al-qiyâmah) (Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Sirr al-Asrar, 1994, h. 113).

Kesimpulannya, dalam berpuasa kita harus mempertimbangkan aspek ruhaniah juga, tidak sekadar melihat mana yang membatalkan puasa dan mana yang tidak secara hukum. Boleh jadi puasa kita sah secara hukum karena berhasil menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh di waktu siang. Namun, apakah kita benar-benar berhasil mengambil manfaat puasa untuk hidup kita, dan melestarikan penahanan diri dari hal-hal yang dilarang sepanjang hidup kita, tidak hanya di bulan suci Ramadan saja. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus Kritig, Petanahan, Kebumen