IMG-LOGO
Ramadhan

Mengobati Sariawan, Apakah Bisa Membatalkan Puasa?

Jumat 10 Mei 2019 16:30 WIB
Share:
Mengobati Sariawan, Apakah Bisa Membatalkan Puasa?
Ilustrasi (via Pinterest)
Setiap Muslim pasti menginginkan agar ibadah puasa yang dilakukannya di bulan Ramadhan dapat berjalan dengan lancar tanpa kendala. Namun, seringkali keinginan tersebut berseberangan dengan kenyataan yang terjadi pada dirinya. Sejumlah keadaan fisik kadang mengganggu kelangsungan puasa, salah satu contoh yang sering terjadi adalah sariawan. 

Sariawan ini cukup mengganggu kenyamanan seseorang dalam menjalankan puasa. Tidak jarang sebagian orang memilih untuk megobati sariawan yang dialaminya dengan obat oles atau obat kumur yang dapat menyembuhkan sariawan. Pertanyaannya, apakah hal demikian diperbolehkan dan tidak sampai membatalkan puasa?

Para ulama sepakat bahwa masuknya suatu benda melewati tenggorokan karena tindakan sengaja adalah hal yang dapat membatalkan puasa. Namun jika suatu benda hanya menempel di mulut saja, tanpa adanya cairan atau benda yang masuk melewati tenggorokan, maka hal demikian adalah hal yang ditoleransi dan tidak sampai membatalkan puasa. Hal ini mirip dengan ksus mencicipi rasa suatu makanan atau minuman yang tidak sampai masuk dalam bagian dalam tubuh (jauf), seperti yang ditegaskan dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:

لا خلاف بين الفقهاء في أن الصوم لا يبطل بذوق الصائم طعاما أو شرابا إن لم يصل إلى الجوف . ولكن الأفضل تجنبه

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama bahwa puasa tidak menjadi batal dengan sebab mencicipi makanan atau minuman jika tidak sampai (masuk) pada bagian dalam tubuh (jauf) tapi lebih baik hal demikian dijauhi” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan, Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 21, hal. 293).

Hukum di atas juga berlaku pada orang yang mengobati sariawan, baik dengan cara mengoles luka sariawan atau dengan cara berkumur, selama tidak ada bagian dari obat yang masuk ke dalam perut. Jika ternyata bekas obat sariawan (atsar) terasa dalam tenggorokan, tapi seseorang tidak merasa bahwa ada bagian dari obat (‘ain) yang masuk dalam tenggorokan maka puasanya tetap dihukumi sah. Kenapa? Sebab aktivitas mulut dengan suatu cairan seringkali memang memunculkan bekas rasa tersendiri, seperti halnya gosok gigi dengan menggunakan pasta gigi yang seringkali memunculkan bekas rasa tanpa adanya cairan atau benda yang masuk ke bagian dalam tubuh. Hukum demikian seperti yang dijelaskan dalam kitab Syarah al-Bahjah al-Wardiah:

وخرج بالعين الأثر كوصول الريح بالشم إلى دماغه ، والطعم بالذوق إلى حلقه 

“Dikecualikan dengan perkataan ‘benda’ (yang dapat membatalkan puasa) yakni bekas sesuatu (atsar) seperti halnya terciumnya udara sampai pada bagian dalam kepala dengan dihirup, sampainya rasa (tanpa berwujud benda) pada tenggorokan dengan dicicipi” (Syekh Zakariya al-Anshari, Syarah al-Bahjah al-Wardiah, juz 7, hal. 51).

Namun demikian, obat sariawan akan menyebabkan puasa batal tatkala cairan obat sariawan bercampur dengan air liur lalu ditelan oleh seseorang ke dalam tenggorokan. Sebab dalam keadaan tersebut air liurnya sudah bercampur dengan komponen lain dan membersihkan mulutnya dari obat adalah hal yang mungkin untuk dilakukan. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab Asna al-Mathalib:

لو (ابتلع ريقه الصرف لم يفطر ولو بعد جمعه ويفطر به إن تنجس) كمن دميت لثته أو أكل شيئا نجسا ولم يغسل فمه حتى أصبح وإن ابيض ريقه وكذا لو اختلط بطاهر آخر - كمن فتل خيطا مصبوغا تغير به ريقه

“Jika seseorang menelan air liurnya yang masih murni maka hal tersebut tidak membatalkan puasanya, meskipun air liurnya ia kumpulkan (menjadi banyak). Dan menelan air liur dapat membatalkan puasa ketika air liurnya terkena najis, seperti seseorang yang gusinya berdarah, atau ia mengonsumsi sesuatu yang najis dan mulutnya tidak ia basuh sampai masuk waktu subuh. Bahkan meskipun air liur (yang terkena najis) warnanya masih bening. Begitu juga (puasa menjadi batal ketika menelan) air liur yang bercampur dengan perkara suci yang lain, seperti orang yang membasahi dengan air liur pada benang jahit yang ditenun, lalu air liurnya berubah warna” (Syekh Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 5, hal. 305)

Referensi di atas sekaligus mengingatkan bagi orang yang menderita sariawan saat menjalankan puasa agar tidak menelan air liurnya yang sudah bercampur dengan darah yang muncul akibat penyakit sariawan yang melandanya, sebab menelan air liur yang bercampur dengan darah adalah hal yang dapat membatalkan puasa.  Maka baiknya bagi orang yang sariawan, tatkala dirasa olehnya ada darah sariawan yang bercampur dengan air liurnya, maka hendaknya air liur tersebut segera dibuang (jawa: dilepeh). 

Semua perincian hukum di atas berlaku pada obat sariawan yang digunakan dengan cara dioles pada luka sariawan atau dengan cara dikumurkan dalam mulutnya. Sedangkan obat sariawan yang digunakan dengan cara diminum atau ditelan, merupakan hal yang dapat membatalkan puasa.  Seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Muhadzab:

وإن كانت به جائفة أو آمة فداواها فوصل الدواء إلى الجوف أو الدماغ أو طعن نفسه أوطعنه غيره بإذنه فوصلت الطعنة إلى جوفه بطل صومه

“Jika dalam tubuhnya terdapat lubang atau keretakan, lalu ia mengobatinya dan obatnya sampai pada bagian dalam tubuhnya (jauf) atau otaknya. Atau ia menusuk dirinya atau orang lain menusuknya dengan seizinnya lalu tusukan itu sampai pada bagian dalam tubuhnya maka puasanya menjadi batal” (Syekh Abu Ishaq As-Syairazy, al-Muhadzab, Juz 1, Hal. 324)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengobati luka sariawan bagi orang yang berpuasa adalah hal yang diperbolehkan dan tidak sampai membatalkan puasa selama tidak ada sesuatu (‘ain) yang masuk melewati tenggorokan. Meskipun, yang demikian butuh kehati-hatian tersendiri. Yang lebih aman, pengobatan tersebut sebaiknya dilakukan pada saat jam-jam berbuka atau sahur, sehingga tak ada beban dan kekhawatiran soal risiko yang dapat membatalkan puasa. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 


Tags:
Share:
Jumat 10 Mei 2019 14:35 WIB
Ini Keutamaan Sedekah pada Bulan Ramadhan
Ini Keutamaan Sedekah pada Bulan Ramadhan
Sedekah dianjurkan di setiap waktu selagi kita memiliki kelapangan baik tenaga, pikiran, maupun harta. Tetapi sedekah lebih dianjurkan pada bulan Ramadhan karena memiliki nilai yang istimewa sebagaimana sabda Rasulullah SAW riwayat Imam At-Tirmidzi berikut ini:

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

Artinya, “Dari Anas RA, sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’” (HR At-Tirmidzi).

Para sahabat sendiri menyaksikan kemurahan hati Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Mereka mengatakan bahwa Rasulullah adalah orang paling murah hati. Tetapi di Bulan Ramadhan, kemurahan hati Rasulullah SAW tampak lebih-lebih daripada di bulan lainya.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

Artinya, “Rasulullah SAW adalah orang paling murah hati. Ia semakin murah hati di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak sedekah dan berbuat baik secara umum. Pasalnya, ganjaran kebaikan di Bulan Ramadhan dilipatgandakan sebagaimana keterangan Hasyiyatul Baijuri berikut ini:

ومبادرته لإكثار الصدقة لأنه صلى الله عليه وسلم كان أجود ما يكون في رمضان، وبالجملة فيكثر فيه من أعمال الخير لأن العمل يضاعف فيه على العمل في غيره من بقية الشهور

Artinya, “(Orang berpuasa) dianjurkan segera memperbanyak sedekah karena Rasulullah SAW adalah orang paling murah hati di Bulan Ramadhan. Seseorang dapat melakukan kebaikan secara umum karena ganjaran amal kebaikan apapun bentuknya akan dilipatgandakan dibandingkan ganjaran amal kebaikan yang dilakukan di luar bulan Ramadhan,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 1999 M/1420 H], cetakan kedua, juz I, halaman 562).

Sedekah dapat berbentuk uang, pikiran, maupun tenaga. Walhasil, kontribusi dan kebaikan kita terhadap orang lain akan bernilai dua kali lipat dibanding kebaikan kita di bulan lain. Oleh karena itu, kita sebaiknya mengambil kesempatan Ramadhan ini untuk berbagi dan berbuat baik sebanyak-banyaknya. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Jumat 10 Mei 2019 12:30 WIB
Pergi Jauh Setelah Subuh, Bolehkah Tak Berpuasa Ramadhan?
Pergi Jauh Setelah Subuh, Bolehkah Tak Berpuasa Ramadhan?
Ilustrasi (freepik)
Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam. Sebagaimana pada umumnya kewajiban dalam Islam, tidak ada tekanan sampai di luar kemampuan masing-masing hamba. Orang harus shalat dengan berdiri jika mampu. Apabila tidak, boleh dengan duduk. Duduk tidak kuat, tidur miring boleh, dan seterusnya. 

Begitu pula orang puasa. Bagi orang-orang yang tidak mampu, boleh meninggalkan puasa dengan beberapa ketentuan ibu hamil, menyusui, orang sakit, orang lanjut usia serta orang yang sedang bepergian jauh dengan ukuran jarak minimal masafatul qashri yaitu jarak orang diperbolehkan untuk qashar shalat (88,749 km). 

Di antara dalil yang memberikan toleransi bagi orang yang bepergian jarak jauh diperbolehkan tidak puasa adalah:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ 

Artinya: “Barangsiapa di antara kalian sedang sakit atau perjalanan, maka gantinya adalah pada hari-hari yang lain.” (QS Al-Baqarah: 184) 

Salah satu hadits Rasulullah dari Ka’b bin Ashim juga menyebutkan, Rasulullah ﷺ bersabda: 

لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ

Artinya: “Tidak ada kebaikannya sama sekali puasa bagi orang yang sedang bepergian.” (Sunan Ibni Majah, juz 1, halaman 1664) 

Menurut pengikut mazhab dzahiri, hadits di atas menyatakan orang yang bepergian tidak sah puasanya, tapi mayoritas ulama memandang lain. Menurut mayoritas, puasanya tetap sah karena melihat perilaku Rasulullah ﷺ saat pergi di bulan Ramadhan, beliau terkadang puasa, di lain waktu tidak puasa. Mana yang lebih utama antara puasa atau tidak bagi musafir, ulama berbeda pendapat. Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i menyatakan jika masih kuat, lebih utama puasa. 

وَقَالَ جَمَاهِير الْعلمَاء وَجَمِيع أهل الْفَتْوَى يجوز صَوْمه فِي السّفر وَينْعَقد ويجزيه وَاخْتلفُوا فِي ان الصَّوْم أفضل أم الْفطر أم هما سَوَاء فَقَالَ مَالك وَأَبُو حنيفَة وَالشَّافِعِيّ وَالْأَكْثَرُونَ ان الصَّوْم أفضل لمن اطاقه بِلَا مشقة ظَاهِرَة وَلَا ضَرَر فَإِن تضرر بِهِ فالفطر أفضل

Artinya: “Menurut mayoritas ulama dan semua ahli fatwa, orang musafir boleh berpuasa dan puasanya mengikat keabsahannya. Para ulama hanya berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama antara puasa atau tidak atau masing-masing mempunyai kedudukan hukum yang seimbang bagi orang musafir?. Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i serta mayoritas ulama menyatakan puasa lebih utama bagi orang yang kuat, tidak merasakan kepayahan. Bagi yang tidak kuat, tidak puasa lebih utama.” (Syarah Ibni Majah, halaman 120)

Lalu bagaimana hukum orang yang pergi dengan tujuan jarak jauh, namun berangkatnya dari rumah setelah subuh?

Orang puasa yang bepergian mendapatkan rukhshah (dispensasi) untuk tidak berpuasa apabila memenuhi dua kriteria. Pertama, jaraknya jauh sebagaimana di sebutkan di atas. Kedua, ia sudah meninggalkan rumah minimal sebelum subuh. Hal ini penting diperhatikan supaya orang yang berpuasa tersebut tidak menyandang dua status sekaligus yakni status sebagai orang yang ada di rumah dan bepergian dalam sehari itu. 

Puasa dimulai dari subuh sampai maghrib. Kalau ada orang yang menyandang status sebagai orang mukim di rumah lalu rentang waktu antara subuh sampai maghrib baru pergi di tengah-tengahnya, maka statusnya sebagai musafir tidak penuh. Ada percampuran antara rumah dan pergi. Jika demikian, dimenangkan statusnya di rumah yang mempunyai dampak ia tidak boleh membatalkan puasa walaupun perginya sangat jauh di hari itu juga. 

Contoh, ada orang Jalan Puspanjolo Tengah, Semarang pergi dari rumah menuju Jakarta naik pesawat. Apabila sudah masuk waktu subuh atau siang-siang ia masih di rumah, kemudian pergi meninggalkan rumah, maka ia tidak boleh meninggalkan puasa. Demikian dikatakan Imam Nawawi:

ومن أصبح في الحضر صائما ثم سافر لم يجز له ان يفطر في ذلك اليوم 

Artinya: “Barangsiapa yang memasuki waktu subuh masih di rumah dalam keadaan berpuasa, baru kemudian pergi, maka ia tidak boleh membatalkan puasanya pada hari itu.” (Al-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, [Darul Fikr], juz 6, halaman 260)

Pendapat Al-Muzani berbeda dengan pendapat di atas. Ia mengatakan bahwa orang yang pergi jauh di siang hari, di tengah perjalanan ia boleh membatalkan puasanya. Logikanya menurut Al-Muzani seperti orang yang sedang sakit. Orang yang paginya sehat lalu di tengah hari mendadak sakit, boleh membatalkan puasa. 

وقال المزني له أن يفطر كما لو أصبح الصحيح صائما ثم مرض فله أن يفطر

Artinya: “Al-Muzani berkata ‘Bagi orang yang pergi setelah subuh boleh membatalkan puasa sebagaimana orang yang masuk pada waktu subuh dalam keadaan sehat, kemudian mendadak sakit, boleh membatalkan puasa.” 

Menurut pendapat yang dipilih dalam serapan mazhab Syafi'i adalah yang pertama yang menyatakan tidak boleh. Argumentasinya adalah kasus orang sakit dengan orang pergi tidak bisa disamakan. Orang sakit pijakannya karena darurat. Sedangkan orang pergi tidak. Kecuali kalau memang ada orang pergi yang kemudian sakit, hukumnya adalah hukum orang sakit.

والمذهب الأول والدليل عليه انه عبادة تختلف بالسفر والحضر فإذا بدأ بها في الحضر ثم سافر لم يثبت له رخصة السفر كما لو دخل في الصلاة في الحضر ثم سافر في اثنائها ويخالف المريض فان ذلك مضطر الي الافطار والمسافر مختار

Artinya: “Yang menjadi acuan serapan mazhab adalah yang pertama. Argumentasinya bahwa ibadah bisa berbeda sebab pergi dan di rumah. Apabila dimulai dari rumah kemudian pergi, maka tidak mendapatkan dispensasi bepergian sebagaimana orang yang shalat di rumah lalu pergi di tengah-tengah waktu shalat itu, hukumnya tidak mendapatkan rukhshah. Berbeda dengan orang yang sakit. Orang yang sakit memang terdesak atau darurat untuk membatalkan puasa sedangkan orang yang pergi itu opsional, bisa memilih.” (ibid). 

Sehingga dapat ditarik kesimpulan, orang yang pergi setelah memasuki waktu subuh menurut pendapat yang kuat adalah tidak diperkenankan meninggalkan puasa pada hari itu. Jika perginya dua hari ke atas, maka hari kedua dan seterusnya ia baru boleh meninggalkan puasa selama belum kembali pulang ke rumah. Apabila hari ketiga sampai ke rumah setelah dzuhur sedangkan ia tidak puasa sejak pagi karena pergi, ia tetap wajib imsak (menahan makan minum) sejak ia sampai rumah hingga waktu maghrib. Hal ini sama dengan orang yang haid. Orang haid boleh makan minum selama siang Ramadhan. Namun apabila ia suci di tengah hari, ia juga harus imsak, tapi tetap besok setelah Ramadhan harus qadha penuh sesuai hitungan yang ditinggalkan. Wallahu a’lam


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 

Jumat 10 Mei 2019 12:5 WIB
Ini Lafal Niat Shalat Witir
Ini Lafal Niat Shalat Witir
(Foto: @stratfor.com)
Jumlah maksimal rakaat shalat witir adalah sebelas rakaat. Jumlah minimalnya adalah satu rakaat. Mereka yang ingin mengerjakannya lebih dari satu rakaat dapat melakukannya dengan satu salam per dua rakaat yang ditutup dengan satu rakaat dan satu salam.

ولمن زاد على ركعة الفصل بين الركعات بالسلام بأن يحرم بالوتر ركعتين ركعتين ثم يحرم بالأخيرة وينوي بالأخيرة الوتر

Artinya, “Orang yang melakukan shalat Witir lebih dari satu rakaat harus memisahkan rakaat-rakaat tersebut dengan salam, yaitu dengan takbiratul ihram shalat witir per dua rakaat, kemudian ia melakukan takbiratul ihram untuk satu rakaat terakhir dan meniatkan satu rakaat terakhir dengan sebutan ‘witir’,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], halaman 100).

Adapun niatnya mesti hati-hati sekali terutama terkait niat shalat witir (secara harfiah ganjil) yang dilakukan per dua rakaat sebelum satu rakaat terakhir sebagaimana keterangan Syekh M Nawawi Banten berikut ini:

ويتخير في غيرها بين نية صلاة الليل ومقدمة الوتر وسنته وركعتين من الوتر لأنهما بعضه

Artinya, “Ia dapat memilih pada selain satu rakaat terakhir di antara shalat malam, pendahuluan witir, shalat sunnah malam, dan shalat dua rakaat bagian dari witir; karena dua rakaat tersebut hanya bagian dari witir [yang secara harfiah berarti ganjil],” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], halaman 100).

Shalat witir dua rakaat sebelum satu rakaat terakhir tidak dapat disebut “shalat witir” karena kata “witir” secara harfiah berarti ganjil. Shalat witir dua rakaat ini disebut “shalat malam,” “pendahuluan witir,” “shalat sunnah malam,” atau “shalat dua rakaat bagian dari witir.” Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dalam niat shalat witir dua rakaat.

Adapun lafal niat yang dibaca untuk shalat witir dua rakaat sebagai imam adalah sebagai berikut:

اُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatan minal Witri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah bagian dari shalat Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT.”

Adapun berikut ini adalah lafal niat shalat Witir dua rakaat sebagai makmum: 

اُصَلِّى سُنَّةَ مِنَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatan minal Witri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an makmūman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah bagian dari shalat Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT.”

Sementara berikut ini adalah lafal niat shalat Witir dua rakaat sendirian: 

اُصَلِّى سُنَّةَ مِنَ الوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatan minal Witri rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah bagian dari shalat Witir dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai karena Allah SWT.”

Sebagai alternatif seperti disinggung di awal, seseorang dapat mengganti kata “sunnatan minal Witri” dengan kata “sunnata shalatil layli,” “muqaddimatal Witri,” atau “sunnatal layli” pada niat dan lafal niatnya sebagaimana pandangan mazhab Syafi'i. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)