IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Abdullah bin Umar Hendak Menghukum Pembantunya yang Bersalah

Jumat 10 Mei 2019 17:30 WIB
Share:
Ketika Abdullah bin Umar Hendak Menghukum Pembantunya yang Bersalah
Dalam kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Imam Abul Fida’ Isma’il ibnu Katsir mencatat sebuah kisah menarik tentang Sayyidina Abdullah bin Umar dan budaknya, berikut riwayatnya:

أَنَّ خَادِمًا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَذْنَبَ فَأَرَادَ ابْنُ عُمَرَ أَنْ يُعَاقِبَهُ عَلَى ذَنْبِهِ فَقَالَ: يَا سَيِّدِي أَمَا لَكَ ذَنْبٌ تخاف من الله فيه؟ قال: بلى، قال: بالذي أَمْهَلَكَ لَمَّا أَمْهَلْتَنِي، ثُمَّ أَذْنَبَ الْعَبْدُ ثَانِيًا فَأَرَادَ عُقُوبَتَهُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَعَفَا عَنْهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ الثَّالِثَةَ فَعَاقَبَهُ وَهُوَ لَا يَتَكَلَّمُ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ: مَا لَكَ لم تقل مثل مَا قُلْتَ فِي الْأَوَّلَتَيْنِ؟ فَقَالَ: يَا سَيِّدِي حَيَاءً مِنْ حِلْمِكَ مَعَ تَكْرَارِ جُرْمِي, فَبَكَى ابْنُ عُمَرَ وَقَالَ: أَنَا أَحَقُّ بِالْحَيَاءِ مِنْ رَبِّي، أَنْتَ حرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya pembantu (budak) Abdullah bin Umar telah berbuat salah. Abdullah bin Umar berencana menghukumnya atas kesalahannya, kemudian budak itu berkata: “Wahai tuanku, tidakkah tuan pernah melakukan kesalahan yang membuat tuan takut kepada Allah?” Abdullah bin Umar menjawab: “Tentu pernah.” Budak itu berkata: “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?”

Lalu budaknya kembali berbuat salah untuk kedua kalinya. Abdullah bin Umar kembali berencana menghukumnya, maka budaknya mengatakan hal yang sama kepadanya, dan Abdullah bin Umar memaafkannya (kembali). Kemudian budak tersebut mengulangi kesalahannya untuk ketiga kalinya, (kali ini) ia diam saja. Abdullah bin Umar bertanya kepadanya: “Kenapa kau tidak berkata seperti yang kau katakan di dua kesalahanmu terdahulu?”

Budak itu menjawab: “Wahai tuanku, (aku) malu pada kemurahan-hatimu menyikapi kesalahanku yang berulang-ulang.” Kemudian Abdullah bin Umar menangis dan berkata: “Aku lebih berhak untuk malu kepada Tuhanku, kau kubebaskan karena Allah ta’ala.” (Imam Ibnu Katsir, al- Bidâyah wa al-Nihâyah, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1988, juz 13, h. 205)

****

Tidak ada manusia yang selalu benar. Berbuat salah sudah menjadi kebiasaan manusia sejak dulu. Yang membuat manusia berharga adalah kemampuannya dalam menyesali kesalahannya, dan kehendak dalam memperbaikinya. Persoalannya adalah, terkadang kemampuan menyesali dan kehendak memperbaiki kalah dari kelalaian dan kerakusan. Semakin sering seseorang melakukan kesalahan, semakin mengecil kesadarannya. Beruntunglah budak dalam kisah di atas memiliki tuan seperti Sayyidina Abdullah bin Umar, yang tindakannya selalu bercermin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Artinya, budak tersebut setiap hari melihat pertunjukkan akhlak dan kesalehan yang diamalkan Sayyidina Abdullah bin Umar. Sekeras apapun hatinya, sesering apapun kesalahannya, setiap kali berjumpa tuannya, kesadarannya disegarkan kembali. Sampai pada akhirnya, ia memutuskan diam, tidak melakukan pembelaaan diri dengan mengatasnamakan Tuhan. Sebelumnya ia selalu mengatasnamakan Tuhan untuk menghindari hukuman tuannya. Ia tahu betul bahwa tuannya sangat takut dan hormat setiap kali nama Tuhan disebut. Ia pun dengan pintar memainkan itu, katanya: “Wahai tuanku, tidakkah tuan pernah melakukan kesalahan yang membuat tuan takut kepada Allah?” Sayyidina Abdullah bin Umar menjawab, “tentu pernah.” Budak itu berkata lagi, “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?

Penundaan hukuman yang dilakukan Sayyidina Abdullah bin Umar, bukan berarti ia tidak tahu akal bulus budaknya, ia tahu. Tapi, ketakutan dan pengagungannya kepada Allah jauh lebih besar dari itu. Lagipula, apa yang dikatakan budaknya tidak sepenuhnya salah. Setiap maksiat yang dilakukan manusia, pengadilannya akan dilakukan di akhirat kelak, tidak langsung di dunia ini. Ini juga mengindikasikan bahwa kesalahan yang dilakukan budaknya tidak terlalu besar, mungkin.

Selain itu, bisa jadi Sayyidina Abdullah bin Umar sedang memberi ruang perenungan kepada budaknya. Sebab, tidak mungkin orang bodoh bisa memainkan logikanya sampai berkata, “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?” Dari kalimat itu, kita bisa tahu bahwa ia adalah budak yang cerdas. Orang cerdas memiliki kemampuan mencerap pengetahuan lebih tinggi, sehingga ia mudah diajari dengan sikap, teladan dan tindak-tanduk. Bisa jadi ini yang sedang dilakukan putera Khalifah Umar bin Khattab ini.

Tentu saja, kesadaran yang terlahir pada diri budak tersebut tidak dihasilkan secara instan. Tidak sesederhana seperti yang digambarkan kisah di atas, melainkan dihasilkan dari perjumpaan panjang antara kelalaiannya dengan kemurahan hati tuannya. Kemurahan hati yang tidak dicitrakan, tapi berasal dari kepribadiannya yang asli. Kemurahan hati yang tidak pernah membekaskan singgung, tapi meninggalkan jejak kesadaran. 

Setiap hari budak itu bergaul dengan Sayyidina Abdullah bin Umar, setiap hari pula ia menyaksikan kontinuitas akhlak dan kesalehan. Karena itu, setiap kali berbuat salah, kemurahan hatinya seakan menampar kesadaran, tanpa harus dimarahi dan dinasihati. Akhlak mulianya memojokkan hatinya. Ia pun resah, hingga perlahan-lahan rasa malunya menguat. Bagaimana tidak, berulang kali ia bersalah, berulang kali pula ia beralasan, tak sekalipun Sayyidina Abdullah bin Umar menampakkan ketidak-sukaan, dan mendaratkan hardikan. 

Oleh sebab itu, kata yang digunakan sang budak ketika merasa malu adalah, “hilmika—kemurahan hatimu/toleransimu.” Artinya, selama ia mengabdi kepada Sayyidina Abdullah bin Umar, ia tidak pernah diperlakukan buruk; ia tidak pernah dihardik; ia tidak pernah dicemooh. Setiap kali ia bersalah, tanpa basa-basi, Sayyidina Abdullah bin Umar berkeinginan langsung menghukumnya. Tapi, karena budak tersebut mengetahui kemurahan hati Sayyidina Abdullah bin Umar, ia dengan santai mengajukan keberatan dan alasan. Andai Sayyidina Abdullah bin Umar orang yang keras, tentu budaknya tidak akan berani membela diri, apalagi keberatan dengan hukuman yang diberikan.

Ya, kita memang tidak tahu hukuman seperti apa yang hendak diberikan Sayyidina Abdullah bin Umar, dan kesalahan apa yang dilakukan budaknya. Kita hanya bisa mengira-ngira yang belum pasti kebenarannya. Tapi yang pasti, keberanian seorang budak mengajukan keberatan dan alasan adalah bukti, bahwa keluhuran pekerti dan kemurahan hati kerap kali dimanfaatkan, seperti seorang murid yang enggan menghafal karena tahu gurunya terlalu baik untuk menghukumnya. Namun, kemurahan hati yang tidak dicitrakan dan tulus, pada akhirnya akan memberi dampak besar bagi orang di sekitarnya. Karena sebenarnya ia tahu sedang dipandang remeh dan dimanfaatkan. Oleh sebab itu, ia memberinya ruang untuk merenung dan bertafakur.

Setelah budaknya berhasil melintasi jembatan kelalaian, dan berujar malu karena kemurahan hatinya, Sayyidina Abdullah bin Umar justru menangis dan berkata, ia yang lebih berhak malu kepada Allah. “Berhak malu” di sini bisa dipahami sebagai penyesalannya karena terlambat mengenali perubahan budaknya, ia pun memerdekakannya saat itu juga. 

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Share:
Jumat 10 Mei 2019 10:30 WIB
Tangis Sang Kiai atas Kematian Burungnya
Tangis Sang Kiai atas Kematian Burungnya
Ilustrasi (Ist.)
Seorang kiai memiliki seekor burung Beo yang sangat cerdas. Burung itu mampu menirukan berbagai macam suara termasuk mampu berkata-kata layaknya manusia. Sang kiai pun melatih burung kesayangannya untuk mengucapkan kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah.

Dalam waktu singkat burung kesayangannya ini mampu mengucapkan kalimat tauhid dengan fasih dan lancar. Setiap hari pun sang burung terus mengucapkan kalimat tauhid dan menghiasi hari-hari kediaman sang kiai. Suasana pun semakin sejuk dan semakin menjadikan sang kiai tambah cinta kepada sang burung.

Namun tiba-tiba suatu hari terdengar suara "keak… keak… keak!!" yang terdengar oleh sang kiai. Bergegas ia menuju sumber suara yang terdengar dari tempat biasa ia menempatkan burung Beo nya setiap hari. Alangkah kagetnya sang kiai. Seekor kucing  telah menerkam dan memakan burung kesayangannya sampai terdengar suara parau terakhir dari sang burung.

Sejak kematian burung Beo nya, sang kiai pun jadi sering terlihat murung. Ia pun sering mengunci dirinya dalam kamar pribadinya dan jarang mengajak para santrinya berbicara. Kondisi ini membuat para santri heran dan bersedih.

Akhirnya, para santri pun sepakat untuk mencari ganti burung Beo kesayangan kiai dengan burung lainnya yang lebih bagus. Mereka sepakat untuk mengumpulkan uang dan membelikannya di pasar burung agar sang kiai tidak bersedih dan bermuram durja.

"Pak kiai...," ucap salah satu santri tertua mengawali niatnya menyampaikan hasil kesepakatan bersama para santri lainnya.

"Kami sangat bersedih dengan kematian burung Beo pak kiai... izinkanlah kami membeli burung Beo yang baru agar pak kiai tidak terus menerus bersedih hati!” ungkap sang santri sambil menundukkan kepala karena merasa takut apabila sang kiai tidak berkenan.

Sang kiai menghela nafas seolah ingin melepaskan beban yang ia rasakan selama ini. Kemudian ia pun memberikan penjelasan kenapa ia murung dan mengunci diri dalam kamar setelah kematian burung Beo nya.

"Wahai para santriku... bukannya aku sedih dengan matinya burung beo kesayanganku. Bukannya aku tidak ingin mencari ganti burung beo yang lebih baik dan lebih pintar. Terus terang aku tidak sesedih itu dengan matinya burung Beo itu," kata sang kiai yang membuat semakin heran para santrinya.

Setelah terdiam beberapa lama, sang kiai melanjutkan ungkapan hatinya kepada para santri yang memenuhi aula tempat mereka biasanya mengaji.

"Yang aku sedihkan adalah isyarat yang diberikan Allah SWT lewat kematian burung Beo itu. Coba kalian renungkan, burung Beo itu telah fasih mengatakan Laa Ilaha Illallah. Tetapi saat diterkam kucing dan mati, yang terakhir keluar dari mulutnya adalah bunyi keak.. keak.. keak!" ungkapnya.

"Aku takut jika nasibku nanti ketika dipanggil Allah kembali kepadaNya akan seperti burung Beo itu. Semasa hidup biasa mendzikirkan kalimat tayyibah itu, tetapi ketika meninggal dunia mulut ini tidak mengucapankan kalimat itu. Malah mengucapkan yang lainnya,” sambungnya.

Para santri pun tertunduk semua sembari merenungi perkataan sang kiai. Tak terasa air mata para santri keluar sambil lirih terdengar suara istighfar di ruang tersebut.

Semoga kita diberikan rahmat Allah SWT dan kembali kepadaNya dalam keadaan Husnul Khatimah. Amin.

(Disarikan dari ceramah KH Munawar Kholil, Ketua MWCNU Kecamatan Banyumas, Pringsewu, Lampung pada Acara Safari Ramadhan Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu, Kamis, 9 Mei 2019)
Kamis 9 Mei 2019 16:0 WIB
Hikayat Ahli Ibadah yang Gemar Menakut-nakuti
Hikayat Ahli Ibadah yang Gemar Menakut-nakuti
Dahulu ada seorang yang begitu rajin beribadah. Ia giatkan dirinya untuk melakukan banyak peribadatan kepada Allah baik di siang maupun malam hari. Sebagian besar waktu hidupya benar-benar ia habiskan untuk berdekat-dekat dengan Tuhannya.

Hanya saja ada satu sikap yang tak baik dari ahli ibadah itu; ia suka membuat orang berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah subhânahû wa ta’âlâ. Terhadap orang-orang yang masih suka bermaksiat ia suka menakut-nakutinya dengan siksaan api neraka. Kepada mereka ia sampaikan bahwa Allah tak mau mengampuni dosa mereka, mereka jauh dari rahmat Allah, mereka adalah ahli maksiat yang tak termaafkan, dan lain sebagainya.

Singkat cerita ketika sang ahli ibadah ini meninggal dunia ia bertanya kepada Allah, “Tuhanku, apa bagianku dari sisi-Mu?”

Allah menjawab, “Bagianmu adalah neraka!”

Mendengar jawaban Allah ini sang ahli ibadah protes, “Neraka? Di mana ibadah-ibadahku? Ke mana kesungguhanku dalam mengabdikan diri kepada-Mu? Mengapa semua itu dibalas dengan neraka?”

Atas protesnya ini Allah menjawab, “Wahai hamba-Ku, dulu waktu engkau hidup di dunia engkau memang begitu bersemangat beribadah kepadaku. Namun di sisi lain engkau begitu suka memutus-asakan orang-orang dari mendapatkan rahmat-Ku. Maka sekarang Aku putusasakan kamu dari mendapatkan rahmat-Ku.”

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah, “Seorang yang ahli maksiat yang mengharap rahmat Allah lebih dekat kepada Allah dari pada seorang ahli ibadah yang memutusasakan orang dari rahmat Allah.” Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)


Kisah ini dikutip dari kitab "Al-Mawâ’idh Al-‘Ushfûriyyah" karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar.

Rabu 8 Mei 2019 17:0 WIB
Sejarah Kelompok Khawarij (6-Habis): Ringkasan Nalar Khawarij
Sejarah Kelompok Khawarij (6-Habis): Ringkasan Nalar Khawarij
Ilustrasi (via ok.ru)
Pada artikel sebelumnya telah dibahas sejarah singkat para Khawarij mulai dari embrionya hingga perkembangan dan perpecahannya. Saat ini sebagai penutup serial Khawarij ini, penulis ingin meringkas tentang bagaimana pola pikir para Khawarij tersebut hingga mereka menjadi ekstremis dalam tubuh umat Islam.

1. Sangat tekun beribadah tanpa dibarengi dengan pemahaman yang baik.

Ketekunan Khawarij dalam beribadah secara ekstrem membuat bekas secara fisik. Abdullah bin Abbas menceritakan kondisi mereka ketika ia menemuinya sebagai berikut:

فدخلت عَلَى قوم لم أر قط أشد منهم اجتهادا جباههم قرحة من السجود وأياديهم كأنها ثفن الإبل وعليهم قمص مرحضة مشمرين مسهمة وجوههم من السهر

“Maka aku memasuki suatu kaum yang belum pernah aku lihat hebatnya mereka dalam beribadah. Dahi mereka menghitam karena sujud. Tangan-tangan mereka kasar seperti lutut onta. Mereka memakai gamis yang murah dan kumal. Wajah mereka pucat karena begadang ibadah di waktu malam.” (Ibnul Jauzi, TalbîsIblîs, 83)

Ibadah luar biasa itu sayangnya tak diimbangi dengan pemahaman yang baik terhadap ajaran islam. Akhirnya mereka merasa lebih adil dari Rasulullah seperti dilakukan Dzul Khuwaishirah, merasa berhak membunuh Khalifah Utsman serta merasa jauh lebih mengerti Al-Qur’an dibandingkan Khalifah Ali bin Abi Thalib, yang tak lain adalah mujtahid dari kalangan sahabat Nabi, dan lebih alim dibandingkan seluruh sahabat Rasulullah.

2. Merasa siapa pun yang menentang mereka sebagai penentang kitabullah. 

Khawarij hampir selalu berpedoman pada ayat Al-Qur’an dalam tindakan mereka, tetapi ayat tersebut dipahami secara dangkal sehingga mereka sama sekali tak membuka ruang untuk penafsiran yang berbeda yang sebenarnya justru merupakan penafsiran yang tepat. Misalnya, ketika melakukan pemberontakan pada penguasa, mereka membawa ayat-ayat tentang amar ma’ruf nahi munkar. Ketika mengajak pada arbitrase, mereka memakai ayat yang mengajak kembali pada Al-Qur’an. Ketika menolak hasil arbitrase, mereka menyalahkan kedua kubu sebab mengangkat manusia sebagai hakim, bukan menjadikan Al-Qur’an sebagai hakim. Padahal perintah arbitrase (mengangkat hakam) juga ada dalam Al-Qur’an. Wajar saja mereka selalu membawa-bawa Al-Qur’an sebagai lebitimasi sebab Ibnu Katsir mengatakan bahwa Khawarij pertama yang bermarkas di Harura’ terdiri dari 8.000 orang yang ahli membaca Al-Qur’an (qurrâ’ an-nâs). (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah, X, 565). 

Sayangnya mereka hanya pandai membaca Al-Qur’an tetapi tak mampu memahami maknanya dengan benar sehingga Al-Qur’an yang seharusnya menjadi inspirasi persatuan justru dijadikan propaganda perpecahan. Fenomena ini pernah diramalkan sejak masa sahabat awal seperti terlihat dalam dialog Umar bin Khattab dengan Ibnu Abbas berikut:

وَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخُطَّابِ لِابْنِ عَبَّاسٍ: كَيْفَ يَخْتَلِفُونَ وَإِلَهُهُمْ وَاحِدٌ وَقَبِيلَتُهُمْ وَاحِدَةٌ؟ فَقَالَ: إِنَّهُ سَيَجِيئُ قَوْمٌ لَا يَفْهَمُونَ الْقُرْآنَ كَمَا نَفْهَمُ فَيَخْتَلِفُونَ فِيهِ، فَإِذَا اخْتَلَفُوا اقْتَتَلُوا.

“Umar bin Khattab berkata pada Ibnu Abbas: Bagaimanakah kaum muslimin bisa terpecah belah sedangkan Tuhan mereka satu dan kiblat mereka pun satu? Ibnu Abbas menjawab: Sesungguhnya akan datang suatu kaum yang tak memahami Al-Qur’an seperti bagaimana kita memahaminya sehingga mereka saling berbeda pendapat. Bila telah berbeda pendapat, maka mereka saling berperang”. (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah, X, 553). 

Karena secara gegabah merasa dirinya sebagai representasi Al-Qur’an, maka secara otomatis siapa pun yang berbeda pendapat dengan mereka dianggap menentang Al-Qur’an itu sendiri. Akhirnya, vonis kafir, musyrik dan halal dibunuh secara mudah keluar dari mereka pada siapa pun yang berbeda, tak terkecuali kalangan internal mereka sendiri.

3. Mencela kaum muslimin dengan ayat-ayat yang sebenarnya ditujukan pada non-muslim.

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits tentang komentar sahabat Ibnu Umar kepada Khawarij sebagai berikut:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ اللَّهِ، وَقَالَ: إِنَّهُمُ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الكُفَّارِ، فَجَعَلُوهَا عَلَى المُؤْمِنِينَ

“Ibnu Umar menganggap mereka adalah makhluk Allah yang buruk. Ia berkata: Para Khawarij mengambil ayat-ayat yang turun mencela orang kafir, lalu mereka terapkan itu pada kaum mukminin.” (HR. Bukhari)

Mereka tak mampu membedakan bagaimana sikap seorang mukmin terhadap mukmin lainnya dan kepada orang kafir yang memang selalu memerangi umat Islam saat itu. Bagi mereka, semua orang dianggap memerangi umat Islam sebab mereka sendiri umat Islam itu sendiri hanya kelompok mereka saja.

4. Meragukan keislaman orang lain sehingga gemar memberikan ujian.

Di antara ciri khas Khawarij adalah merasa paling Islam dan paling beriman dari muslim di luar golongan mereka. Hal itu membuat mereka gemar menguji keimanan orang lain dengan beberapa pertanyaan. Imam Ibnu Sirin berkata:

سؤالُ الرجل أخاه: أمؤمنٌ أنت؟ محنة بدعة، كما يمتحن الخوارج

“Pertanyaan seseorang pada saudaranya “Apakah kamu seorang mukmin?” adalah ujian yang bid’ah seperti halnya para Khawarij yang gemar memberikan ujian”. (al-Lalika’i, Syarh Ushûl I’tiqâd Ahli as-Sunnah, V, 1060)

5. Mewajibkan pemberontakan pada penguasa karena berbeda pandangan.

Meskipun Khawarij terpecah menjadi banyak faksi, namun di antara ajaran universal mereka adalah wajib memberontak pada penguasa yang mereka anggap menyalahi sunnah. Asy-Syahrastani menerangkan perihal ini sebagai berikut:

ويجمعهم القول بالتبري من عثمان وعلي رضي الله عنهما، ويقدمون ذلك على كل طاعة، ولا يصححون المناكحات إلا على ذلك، ويكفرون أصحاب الكبائر ويرون الخروج على الإمام إذا خالف السنة حقا واجبا.

“Mereka semua dikumpulkan dalam satu pendapat yang sama: dengan berlepas dari Utsman dan Ali radiyallahu ‘anhuma, mendahulukan hal tersebut dari semua ketaatan, tidak menganggap sah sebuah pernikahan kecuali atas berlepas diri itu, mengafirkan pelaku dosa besar dan menganggap memberontak pada Imam ketika berlawanan dengan sunnah sebagai suatu kebenaran yang wajib dilakukan.” (asy-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, I, 115).

Sedangkan menurut Ahlussunnah wal Jama’ah, memberontak pada penguasa adalah haram selama penguasa tersebut tak menampakkan kekafiran yang nyata. Hal ini berdasarkan hadits:

فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Ubadah melanjutkan; di antara janji yang beliau ambil dari kami adalah, agar kami berbaiat kepada beliau untuk senantiasa mendengar dan taat, saat giat maupun malas, dan saat kesulitan maupun kesusahan, lebih mementingkan urusan bersama, serta agar kami tidak mencabut wewenang dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang pada kalian mempunyai alasan yang jelas dari Allah.” (HR. Bukhari)

Bahkan penguasa yang zalim dan korup sekalipun dianggap masih lebih baik daripada terjadi pertumpahan darah (fitnah) yang berlangsung lama. Sahabat Nabi Amr bin Ash berkata pada putranya:

يا بني سلطان عادل خير من مطر وابل وأسد حطوم خير من سلطان ظلوم وسلطان غشوم ظلوم خير من فتنة تدوم

“Hai Nak, penguasa yang adil itu lebih baik dari hujan yang turun deras, singa menerkamitu lebih baik dari penguasa yang zalim, penguasa zalim masih lebih baik dari pertumpahan darah yang berkepanjangan.” (Ibnu Asakir, Târîkh Dimasyq, XLVI, 184).

Demikian akhir ulasan sejarah Khawarij ini. Semoga kita bisa memetik pelajaran darinya. Wallahua’lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.