IMG-LOGO
Ramadhan

Kata Nabi Muhammad soal Orang Junub Berpuasa

Sabtu 11 Mei 2019 7:0 WIB
Kata Nabi Muhammad soal Orang Junub Berpuasa
Nabi Muhammad menjadi tempat bertanya bagi para sahabatnya jika mereka menemui hal-hal yang muskil terkait dengan ajaran agama Islam. Salah satu persoalan yang mengganjal hati seorang sahabatnya –sehingga dia menanyakan langsung kepada Nabi Muhammad- adalah puasa bagi orang yang sedang junub (berhadats besar karena keluar mani atau berhubungan badan).

Suatu ketika, Nabi Muhammad sedang berada di rumah Sayyidina Aisyah. Tiba-tiba, ada salah seorang sahabat beliau yang mengetuk pintu. Nabi Muhammad kemudian langsung keluar dan menemui tamunya itu. Semula sahabat tersebut sedikit sungkan untuk mengungkapkan persoalannya karena tahu Sayyidah Aisyah sedang di dalam. Dia malu jika Ummahatul Mukminin itu sampai mendengar dan tahu persoalannya itu.   

Setelah menenangkan mentalnya, sahabat tersebut lantas menyampaikan permasalahanny kepada Nabi Muhammad dengan suara yang agak pelan. Katanya, persoalan tersebut sebetulnya sudah terjadi pada bulan Ramadhan yang belum lama berlalu. Namun kasus tersebut terus membuatnya gelisah dan resah hingga waktu itu. 

Sahabat tersebut kemudian menceritakan jika pada bulan Ramadhan lalu dia sedang junub. Entah tidak sempat atau lupa atau tidak cukup waktunya, dia belum mandi besar. Sementara waktu Shalat Shubuh sudah masuk. Katanya, apakah berpuasa dalam keadaan junub seperti itu diperbolehkan?

“Wahai sahabatku, engkau tidak usah gelisah. Akupun pernah mengalami kejadian serupa yang engkau alami itu. Engkau tak usah ragu, puasamu tidak batal. Aku saat itu tetap berpuasa meski dalam keadaan junub,” jawab Nabi Muhammad, dikutip buku Pesona Ibadah Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015).

Sahabat tersebut ‘tidak langsung menerima’ jawaban Nabi Muhammad. Dia tidak puas. Katanya, dirinya dengan Nabi Muhammad berbeda, tidak sama. Nabi Muhammad adalah seorang Rasul Allah. Dosa-dosanya, baik di masa lalu, di masa kini, dan di masa depan pasti diampuni Allah. Sementara dirinya adalah hamba biasa.

“Sahabatku! Sungguh aku selalu berharap menjadi orang yang paling takut kepada Allah dan menjadi orang yang paling mengetahui cara-cara bertakwa,” timpal Nabi Muhammad. 

Begitulah jawaban Nabi Muhammad saat adalah salah seorang sahabatnya yang meminta jawaban atas puasa bagi orang junub. Beliau menegaskan bahwa puasa bagi orang junub tetap sah, tidak batal, karena beliau sendiri juga pernah mengalami kasus yang sama. 

Dalam salah satu hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Sayyidah Aisyah dan Sayyidah Ummu Salamah berkata: “Rasulullah di saat subuh dalam keadaan junub setelah bersetubuh, bukan karena mimpi, beliau tidak membatalkan puasanya dan tidak meng-qadha’nya.

Menurut keterangan Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam kitab Ibanatul Ahkam, dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang sedang junub boleh menunda mandi besar hingga waktu setelah terbit fajar. Kendati demikian, yang lebih utama adalah menyegerakan mandi sebelum waktu subuh tiba.

“Orang yang berpuasa boleh menunda mandi junub hingga waktu setelah fajar terbit. Tetapi yang lebih utama adalah ia menyegerakan mandi wajib sebelum terbit fajar atau sebelum Subuh,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 313). (A Muchlishon Rochmat)
Sabtu 11 Mei 2019 20:45 WIB
Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan
Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan

Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib adalah syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum melaksanakan suatu ibadah. Seseorang yang tidak memenuhi syarat wajib, maka gugurlah tuntutan kewajiban kepadanya. Sedangkan rukun adalah hal-hal yang harus dilakukan dalam sebuah ibadah.

Adapun syarat pertama seseorang itu diwajibkan menjalankan ibadah puasa, khususnya puasa Ramadhan, yaitu ia seorang muslim atau muslimah. Karena puasa adalah ibadah yang menjadi keharusan atau rukun keislamannya, sebagaimana termaktub dalam hadits yang diriwayat kan oleh Imam Turmudzi dan Imam Muslim:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ

“Dari Abi Abdurrahman, yaitu Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab r.a, berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Islam didirikan dengan lima hal, yaitu persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, didirikannya shalat, dikeluarkannya zakat, dikerjakannya hajji di Baitullah (Ka’bah), dan dikerjakannya puasa di bulan Ramadhan.” (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 7 dan Muslim: 19)

Syarat yang kedua seseorang itu berkewajiban menjalankan ibadah puasa Ramadhan, yaitu ia sudah baligh, dengan ketentuan ia pernah keluar mani dari kemaluannya baik dalam keadaan tidur atau terjaga, dan khusus bagi perempuan sudah keluar haid. Dan syarat keluar mani dan haid pada batas usia minimal 9 tahun.

Dan bagi yang belum keluar mani dan haid, maka batas minimal ia dikatakan baligh pada usia 15 tahun dari usia kelahirannya. Syarat ketentuan baligh ini menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadhan tidak diwajibkan bagi seorang anak yang belum memenuhi ciri-ciri kebalighan yang telah disebutkan di atas.

Syarat yang ketiga bagi seorang muslim dan baligh itu terkena kewajiban menjalankan ibadah puasa, apabila ia memiliki akal yang sempurna atau tidak gila, baik gila karena cacat mental atau gila disebabkan mabuk.

Seseorang yang dalam keadaan tidak sadar karena mabuk atau cacat mental, maka tidak terkena hukum kewajiban menjalankan ibadah puasa, terkecuali orang yang mabuk dengan sengaja, maka ia diwajibkan menjalankan ibadah puasa di kemudian hari (mengganti di hari selain bulan Ramadhan alias qadha).


رُفِعَ اْلقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النّائِمِ حَتّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ اْلمَجْنُوْنِ حَتّى يُفِيْقَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَبْلُغَ

“Tiga golongan yang tidak terkena hukum syar’i: orang yang tidur sapai ia terbagngun, orang yang gila sampai ia sembuh, dan anak-anak sampai ia baligh.” (Hadits Shahih, riwayat Abu Daud: 3822, dan Ahmad: 910. Teks hadits riwayat al-Nasa’i)

Syarat keempat adalah kuat menjalankan ibadah puasa. Selain Islam, baligh, dan berakal, seseorang harus mampu dan kuat untuk menjalankan ibadah puasa. Apabila tidak mampu maka diwajibkan mengganti di bulan berikutnya atau membayar fidyah. Untuk keterangan lebih detailnya akan dijelaskan pada fasal selanjutnya yang insyaallah akan diterangkan pada pasal permasalahan-permasalahan yang berkenaan dengan ibadah puasa.

Syarat kelima Mengetahui Awal Bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan diwajibkan bagi muslim yang memenuhi persyaratan yang telah diuraikan di atas, apabila ada salah satu orang terpercaya (adil) yang mengetahui awal bulan Ramadhan dengan cara melihat hilal secara langsung dengan mata biasa tanpa peralatan alat-alat bantu. Dan persaksian orang tersebut dapat dipercaya dengan terlebih dahulu diambil sumpah, maka muslim yang ada dalam satu wilayah dengannya berkewajiban menjalankan ibadah puasa. Dan apabila hilal tidak dapat dilihat karena tebalnya awan, maka untuk menentukan awal bulan Ramadlon dengan menyempurnakan hitungan tanggal bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

Sebagaimana hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُواعِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ 

“Berpuasa dan berbukalah karena melihat hilal, dan apabila hilal tertutup awan maka sempurnakanlah hitungannya bulan menjadi 30 hari.” (HR. Imam Bukhari)

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَاءَ اَعْرَبِيُّ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِنِّي رَاَيْتُ اْلهِلَالَ فَقَالَ: اَتَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلّاَ اللهَ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: اَتَشْهَدُ اَنْ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: يَا بِلَالُ اَذِّنْ فِى النَّاسِ فَلْيَصُوْمُوْا غَدًا 

“Dari ‘Ikrimah, ia dapatkan dari Ibnu Abbas, berkata: datanglah orang Arab Badui menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ia berkata: sesungguhnya aku telah melihat hilal. Nabi menjawab: apakah kamu akan bersaksi (bersumpah) “sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah”, orang Arab Badui tadi menjawab; “ia”. Lalu Nabi bertanya lagi: apakah kamu akan bersaksi (bersumpah) “ sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah”, dan Orang Arab Badui menjawab “ia”. Lalu Nabi bersabda; “wahai Bilal perdengarkanlah adzan ditengah-tengah kerumunan manusia, dan perintahkanlah mereka untuk mengerjakan puasa pada esok hari,” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh lima Imam, kecuali Ahmad).

Baca juga:
10 Amalan Sunnah dalam Berpuasa
Delapan Hal yang Membatalkan Puasa
Rukun Puasa

Adapun rukun puasa hanya dua, pertama niat. Niat puasa Ramadhan merupakan pekerjaan ibadah yang diucapkan dalam hati dengan persyaratan dilakukan pada malam hari dan wajib menjelaskan kefardhuannya didalam niat tersebut, contoh; saya berniat untuk melakukan puasa fardlu bulan Ramadhan, atau lengkapnya dalam bahasa Arab, sebagai berikut:

نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانِ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالىَ

“Saya niat mengerjakan ibadah puasa untuk menunaikan keajiban bulan Ramadhan pada tahun ini, karena Allah s.w.t, semata.”

Sedangkan dalil yang menjelaskan niat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:


 مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ 

“Siapa yang tidak membulatkan niat mengerjakan puasa sebelum waktu hajar, maka ia tidak berpuasa,” (Hadits Shahih riwayat Abu Daud: 2098, al-Tirmidz: 662, dan al-Nasa’i: 2293).

Adapun dalil yang menjelaskan waktu mengucapkan niat untuk puasa sunnah, bisa dilakukan setelah terbit fajar, yaitu:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : دَخَلَ عَلَّيَّ رَسُولُ اللهِ صَلِّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ شَيْءٍ ؟ فَقُلْنَا لَا فَقَالَ: فَاِنِّي اِذًنْ صَائِمٌ. ثُمَّ اَتَانَا يَوْمًا اَخَرَ، فَقُلْنَا: يَارَسُوْلَ اللهِ اُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ: اَرِيْنِيْهِ فَلَقَدْ اَصْبَحْتُ صَائِمًا فَاَكَلَ 

“Dari Aisyah r.a, ia menuturkan, suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadaku dan bertanya, “apakah kamu punya sesuatu untuk dimakan?”. Aku menjawab, “Tidak”. Maka Belaiu bersabda, “hari ini aku puasa”. Kemudian pada hari yang lain Beliau dating lagi kepadaku, lalu aku katakana kepadanya, “wahai Rasulullah, kami diberi hadiah makanan (haisun)”. Maka dijawab Rasulullah, “tunjukkan makanan itu padaku, sesungguhnya sejak pagi aku sudah berpuasa” lalu Beliau memekannya.” (Hadits Shahih, riwayat Muslim: 1952, Abu Daud: 2099, al-Tirmidzi; 666, al-Nasa’i: 2283, dan Ahmad: 24549)

Dan rukun kedua adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa. Untuk detailnya apa-apa yang membatalkan puasa akan dijelaskan pada pasal sesuatu yang membatalkan puasa.

فَاْلئَنَ باَشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلاَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلاَسْوَدِ مِنَ اْلفَجْرِ ثُمَّ اَتِّمُوْا الصِّيَامَ اِلَى اللَّيْلِ

“…maka sekarang campurilah, dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, serta makan dan minumlah sampai waktu fajar tiba dengan dapat membedakan antara benang putih dan hitam. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai waktu malam tiba...(QS. al-Baqarah, 2: 187) 

Wallahu a’lam


(Ustadz Syaifullah Amin)


:::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali pada 10 Juli 2013. Redaksi mengunggahnya kembali pada Ramadhan kali ini dengan sedikit penyuntingan

Sabtu 11 Mei 2019 18:30 WIB
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Witir
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Witir
Ilustrasi (via Pinterest)
Ritual yang tidak bisa dilepaskan dari shalat tarawih adalah tiga rakaat shalat witir yang dilakukan setelahnya. Biasanya, setelah tarawih selesai, dibacakan doa kamilin oleh imam dengan diamini oleh segenap jamaah. Setelah membaca doa kamilin, dikumandangkan seruan shalat witir oleh sang bilal sebagai tanda akan segera dilakukan shalat witir. 

Bacaan surat Al-Qur’an shalat witir bisa berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang membaca Surat al-A’la, sebagian membaca al-Ghasyiyah, dan lain sebagainya. Itu untuk dua rakaat awal. Sedangkan untuk satu rakaat terakhir, hampir di setiap tempat membaca surat al-Iklash, al-Falaq dan an-Nas. Sebenarnya, apa bacaan Surat Al-Qur’an yang dianjurkan dalam shalat witir?

Baca juga: 
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Tarawih
Bacaan Bilal dan Jawabannya dalam Tarawih
Doa Kamilin, Dibaca Sesudah Shalat Tarawih
Ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat bahwa yang disunnahkan dibaca pada dua rakaat awal shalat witir adalah Surat al-A’la (rakaat pertama) dan al-Kafirun (rakaat kedua).

Sedangkan untuk satu rakaat akhir, terdapat ikhtilaf (perbedaan pendapat). Menurut Syafi’iyyah, yang dibaca adalah Surat al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas), sementara menurut Hanabilah cukup Surat al-Ikhlash, tanpa al-Mu’awwidzatain.

Dasar yang dipakai kalangan Syafi’iyyah adalah hadits riwayat an-Nasai dan Ibnu Majah, ketika Sayyidah Aisyah ditanya, surat apa yang dibaca Nabi di dalam shalat witir, beliau menjawab, rakaat pertama surat al-A’la, rakaat kedua surat al-Kafirun, rakaat ketiga al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain.

Syekh Zainuddin al-Malibari berkata:

ويسن لمن أوتر بثلاث أن يقرأ في الأولى {سَبِّحِ} وفي الثانية {الْكَافِرُون} وفي الثالثة الإخلاص والمعوذتين للاتباع

“Dan sunnah bagi orang yang berwitir tiga rakaat, membaca surat Sabbihis di rakaat pertama, surat al-Kafirun di rakaat kedua, surat al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain di rakaat ketiga, karena mengikuti Nabi,” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 290).

Mengomentari referensi tersebut, Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad mengatakan:

ـ (قوله: ويسن لمن أوتر بثلاث أن يقرأ الخ) أي لما رواه النسائي وابن ماجة: سئلت عائشة رضي الله عنها بأي شئ كان يوتر رسول الله - صلى الله عليه وسلم -؟ قالت: كان يقرأ في الأولى بسبح اسم ربك الأعلى، وفي الثانية بقل يا أيها الكافرون، وفي الثالثة بقل هو الله أحد والمعوذتين

“Ucapan Syekh Zainuddin; “dan sunnah bagi orang yang berwitir tiga rakaat dan seterusnya”; karena hadits riwayat Imam an-Nasai dan Ibnu Majah, bahwa Sayyidah Aisyah ditanya, dengan apa Nabi melakukan witir? Aisyah menjawab, Nabi di rakaat pertama membaca Sabbihi Isma rabbikal A’la, di rakaat kedua membaca Qul Ya Ayyuhal Kafirun, dan di rakaat ketiga membaca Qul huwa Alllahu Ahad dan al-Mu’awwidzatain,” (Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad al-Bakri, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 290).

Ulama Hanabilah berargumen dengan hadits riwayat Ubay bin Ka’ab bahwa Nabi membaca di dalam shalat witir surat al-A’la, al-Kafirun dan al-Ikhlash, tanpa menyebutkan al-Mu’awwidzatain. Menurut kalangan Hanabilah, hadits yang disampaikan Syafi’iyyah terdapat Yahya bin Ayyub yang notabenenya lemah riwayatnya.

Syekh Ibnu Quddamah menjelaskan:

فصل: ويستحب أن يقرأ في ركعات الوتر الثلاث، في الأولى ب {سبح} ، وفي الثانية {قل يا أيها الكافرون} [الكافرون: 1] ، وفي الثالثة {قل هو الله أحد} [الإخلاص: 1] . وبه قال الثوري، وإسحاق، وأصحاب الرأي. وقال الشافعي: يقرأ في الثالثة {قل هو الله أحد} [الإخلاص: 1] ، والمعوذتين. وهو قول مالك في الوتر. وقال في الشفع: لم يبلغني فيه شيء معلوم

“Fasal, disunnahkan membaca di beberapa rakaat witir yang tiga, di rakaat pertama membaca surat Sabbihis, rakaat kedua qul ya ayyuhal kafirun dan rakaat ketiga qul huwa Allahu Ahad, ini adalah pendapatnya al-Tsauri, Ishaq dan para pemilik pendapat (Hanafiyyah). Imam al-Syafii berkata, di rakaat ketiga membaca qul huwa Allahu Ahad dan al-Muawwidzatain, ini adalah ucapannya Imam Malik dalam kasus rakaat ganjil. Sedangkan untuk rakaat genap, Imam Malik berkata, tidak ada hadits yang diketahui menerangkan hal tersebut.”

وقد روي عن أحمد، أنه سئل، يقرأ بالمعوذتين في الوتر؟ قال: ولم لا يقرأ، وذلك لما روت عائشة، «أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - كان يقرأ في الركعة الأولى " بسبح "، وفي الثانية " قل يا أيها الكافرون "، وفي الثالثة " قل هو الله أحد "، والمعوذتين» ، رواه ابن ماجه

“Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau ditanya, apakah beliau membaca surat al-Muawwidzatain di dalam witir? Beliau menjawab, kenapa tidak dibaca surat itu? Yang demikian ini berdasarkan hadits Nabi, bahwa Rasulullah membaca di rakaat pertama surat sabbihis dan qul ya ayyuhal kafirun, di rakaat ketiga surat Qul Huwa Allahu Ahad dan al-Muawwidzatain. Hadits diriwayatkan Ibnu Majah.”

ولنا: ما روى أبي بن كعب، قال «كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يوتر " بسبح اسم ربك الأعلى و " قل يا أيها الكافرون " و " قل هو الله أحد» رواه أبو داود، وابن ماجه. وعن ابن عباس مثله. رواه ابن ماجه

“Dan menunjukan kepada pendapat kami, hadits riwayat Ubay bin Ka’ab beliau berkata; Rasulullah melakukan witir dengan membaca Sabbihisma rabbikal a’la, Qul ya ayyuhal kafirun dan Qul huwa Allahu ahad. Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah. Dan dari Ibnu Abbas terdapat riwayat yang senada, hadits riwayat Ibnu Majah.”

 وحديث عائشة في هذا لا يثبت؛ فإنه يرويه يحيى بن أيوب، وهو ضعيف. وقد أنكر أحمد ويحيى بن معين زيادة المعوذتين

“Dan haditsnya Aisyah di dalam kasus ini tidak tetap (kesahihannya), sesungguhnya hadits tersebut diriwayatkan oleh Yahya bin Ayyub, dan ia tergolong lemah. Imam Ahmad dan Yahya bin Muin mengingkari penambahan surat al-Muawwidzatain,” (Syekh Ibnu Quddamah, al-Mughni, juz 2, hal. 121).

Demikianlah penjelasan mengenai bacaan surat Al-Qur’an dalam shalat witir. Ikhtilaf ulama dalam hal ini tidak untuk bahan saling menyalahkan. Silakan mengikuti pendapat yang kita yakini benar, tanpa harus mencela pendapat lain. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.

Sabtu 11 Mei 2019 17:30 WIB
Imsak Itu Ibarat Lampu Kuning
Imsak Itu Ibarat Lampu Kuning
Tepat pukul 04.21 dini hari tadi, dari masjid terdengar suara bilal menyerukan, “Imsak! Imsak!” 

Mendengar itu, istri dan kedua anakku segera menyudahi sahurnya. Mereka segera minum air putih cukup banyak untuk mencegah terlalu haus di siang hari sekaligus mengurangi bau tak sedap selama puasa. 

Saat itu aku masih tenang-tenang dengan memegang botol berisi air putih. Kutanyakan pada si bungsu apakah masih boleh minum. Ia menjawab tidak boleh karena sudah imsak. Istriku bilang masih boleh hingga adzan Shubuh. 

“Seruan imsak itu bukan lampu merah,” jawabku kepada si bungsu. “Tetapi apa...?” 

“Lampu kuning, Pak,” sahut si sulung.

“Betul,” jawabku. “Sedang lampu merah adalah saat...?”

“Ya saat Shubuh, Pak. Tetapi kan lebih baik dan aman kalau udah lampu kuning kita cepat-cepat dengan tancap rem seperti kebiasaan kita mengendara di jalan,” sahut si sulung sekali lagi. Ia benar. 

-------

Itulah cuplikan perbincangan di keluarga kami lima tahun lalu yang kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami”, terbit tahun 2016. 

Perbicangan tentang batas sahur sebagaimana digambarkan dalam kutipan diatas merujuk pada kapan puasa harus dimulai sebagaimana dijelaskan Syekh Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi, dalam kitabnya berjudul Al-Iqna' Fil Fiqhi Asy-Syafi'i (Teheran: Dar Ihsan, 1420 H) hal. 74, sebagai berikut:

وزمان الصّيام من طُلُوع الْفجْر الثَّانِي إِلَى غرُوب الشَّمْس لَكِن عَلَيْهِ تَقْدِيم الامساك يَسِيرا قبل طُلُوع الْفجْر 

Artinya, “Waktu berpuasa adalah dari terbitnya fajar kedua sampai tenggelamnya matahari. Akan tetapi (akan lebih baik bila) orang yang berpuasa melakukan imsak (menghentikan makan dan minum) sedikit lebih awal sebelum terbitnya fajar.” 

Dari penjelasan Syekh Al-Mawardi di atas dapat dipastikan bahwa batas makan sahur atau imsak adalah pada saat terbit fajar yang itu artinya saat Shubuh. Jadi bukan pada saat diserukan “imsak” dari mushala ataupun masjid. 

Para ulama memang bijak dengan menetapkan waktu imsak 10 menit sebelum Shubuh. Hal ini dapat dibuktikan pada jadwal imsakiyah resmi yang beredar di masyarakat di mana selisih waktu yang tertera antara imsak dan Shubuh adalah 10 menit. Misal, jika waktu imsak jatuh pada pukul 04.11, maka waktu Shubuh jatuh pada pukul 04.21. 

Kebijaksanaan tersebut untuk memberikan masa transisi dari saat sahur menuju saat imsak yang sebenarnya - saat mana makan dan minum membatalkan puasa. Ibarat rambu lalu lintas, jika perubahan dari lampu hijau langsung ke lampu merah tanpa ada lampu kuning, pasti akan membahayakan para pengendara. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta