IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Perempuan yang Menangis di Sudut Mushala Mal

Sabtu 11 Mei 2019 8:0 WIB
Share:
Perempuan yang Menangis di Sudut Mushala Mal
Ilustrasi (123rf.com)
Didampingi seorang keponakanku seusai menghadiri sebuah pertemuan aku menyempatkan diri untuk memenuhi pesanan istriku membeli wajan teflon. Maka kuarahkan kendaraanku menuju sebuah supermarket di kotaku yang khusus menjual perangkat dapur dan perkakas rumah tangga.

Dengan menggunakan sarung dan berpeci sebagaimana lazimnya, aku berpakaian aku menyusuri rak demi rak mencari pesanan istriku itu. Namun, aku sedikit terkejut saat melihat jam di ponselku menunjukan pukul 16.45. Aku belum shalat ashar. Maka segera aku menuju ke mushala supermarket itu.

Memasuki mushala itu suasana begitu sepi. Aku hanya melihat seorang perempuan di sudut ruang yang duduk berkerubut mukena warna biru muda. Dari balik mukena itu aku mendengar isak tangis dibarengi suara istighfar. Sambil menunggu shalat berjamaah dengan keponakanku yang sedang ke toilet aku terdiam di atas sajadahku. Keponakanku tak kunjung datang.

Istighfar dan isak tangis dari mulut perempuan itu masih terus aku dengar. Kurasa ia begitu khusyuk menikmatinya, ia begitu memahami istighfarnya, hingga kedatangan dan keberadaanku tak ia hiraukan. Kekagumanku menarik mataku untuk meliriknya saat ia telah menyelesikan munajatnya. Ia memasuki ruang ganti. Dan saat keluar aku melihatnya telah mengenakan pakaian ketat di atas lutut dengan model “you can see”.

Aku makin penasaran. Usai shalat aku kembali mengelilingi supermarket berharap bisa bertemu lagi dengan perempuan itu. Bukan untuk menyapanya, tapi untuk mencari tahu perihal kehidupan ini. Benar saja, aku melihatnya lagi. Ia seorang penjaga stan barang mewah yang lazimnya berpakaian minim. Kulihat matanya masih sembab. Dan aku melewatinya begitu saja.

Melihat ini semua, dalam jalanku yang pelan aku berbisik, “Gusti Allah, terus apa makna peciku, sarungku, dan serbanku?” (Yazid Muttaqin)


Diceritakan kepada penulis oleh KH. Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, Februari 2015


======
NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Share:
Jumat 10 Mei 2019 17:30 WIB
Ketika Abdullah bin Umar Hendak Menghukum Pembantunya yang Bersalah
Ketika Abdullah bin Umar Hendak Menghukum Pembantunya yang Bersalah
Dalam kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Imam Abul Fida’ Isma’il ibnu Katsir mencatat sebuah kisah menarik tentang Sayyidina Abdullah bin Umar dan budaknya, berikut riwayatnya:

أَنَّ خَادِمًا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَذْنَبَ فَأَرَادَ ابْنُ عُمَرَ أَنْ يُعَاقِبَهُ عَلَى ذَنْبِهِ فَقَالَ: يَا سَيِّدِي أَمَا لَكَ ذَنْبٌ تخاف من الله فيه؟ قال: بلى، قال: بالذي أَمْهَلَكَ لَمَّا أَمْهَلْتَنِي، ثُمَّ أَذْنَبَ الْعَبْدُ ثَانِيًا فَأَرَادَ عُقُوبَتَهُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَعَفَا عَنْهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ الثَّالِثَةَ فَعَاقَبَهُ وَهُوَ لَا يَتَكَلَّمُ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ: مَا لَكَ لم تقل مثل مَا قُلْتَ فِي الْأَوَّلَتَيْنِ؟ فَقَالَ: يَا سَيِّدِي حَيَاءً مِنْ حِلْمِكَ مَعَ تَكْرَارِ جُرْمِي, فَبَكَى ابْنُ عُمَرَ وَقَالَ: أَنَا أَحَقُّ بِالْحَيَاءِ مِنْ رَبِّي، أَنْتَ حرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya pembantu (budak) Abdullah bin Umar telah berbuat salah. Abdullah bin Umar berencana menghukumnya atas kesalahannya, kemudian budak itu berkata: “Wahai tuanku, tidakkah tuan pernah melakukan kesalahan yang membuat tuan takut kepada Allah?” Abdullah bin Umar menjawab: “Tentu pernah.” Budak itu berkata: “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?”

Lalu budaknya kembali berbuat salah untuk kedua kalinya. Abdullah bin Umar kembali berencana menghukumnya, maka budaknya mengatakan hal yang sama kepadanya, dan Abdullah bin Umar memaafkannya (kembali). Kemudian budak tersebut mengulangi kesalahannya untuk ketiga kalinya, (kali ini) ia diam saja. Abdullah bin Umar bertanya kepadanya: “Kenapa kau tidak berkata seperti yang kau katakan di dua kesalahanmu terdahulu?”

Budak itu menjawab: “Wahai tuanku, (aku) malu pada kemurahan-hatimu menyikapi kesalahanku yang berulang-ulang.” Kemudian Abdullah bin Umar menangis dan berkata: “Aku lebih berhak untuk malu kepada Tuhanku, kau kubebaskan karena Allah ta’ala.” (Imam Ibnu Katsir, al- Bidâyah wa al-Nihâyah, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1988, juz 13, h. 205)

****

Tidak ada manusia yang selalu benar. Berbuat salah sudah menjadi kebiasaan manusia sejak dulu. Yang membuat manusia berharga adalah kemampuannya dalam menyesali kesalahannya, dan kehendak dalam memperbaikinya. Persoalannya adalah, terkadang kemampuan menyesali dan kehendak memperbaiki kalah dari kelalaian dan kerakusan. Semakin sering seseorang melakukan kesalahan, semakin mengecil kesadarannya. Beruntunglah budak dalam kisah di atas memiliki tuan seperti Sayyidina Abdullah bin Umar, yang tindakannya selalu bercermin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Artinya, budak tersebut setiap hari melihat pertunjukkan akhlak dan kesalehan yang diamalkan Sayyidina Abdullah bin Umar. Sekeras apapun hatinya, sesering apapun kesalahannya, setiap kali berjumpa tuannya, kesadarannya disegarkan kembali. Sampai pada akhirnya, ia memutuskan diam, tidak melakukan pembelaaan diri dengan mengatasnamakan Tuhan. Sebelumnya ia selalu mengatasnamakan Tuhan untuk menghindari hukuman tuannya. Ia tahu betul bahwa tuannya sangat takut dan hormat setiap kali nama Tuhan disebut. Ia pun dengan pintar memainkan itu, katanya: “Wahai tuanku, tidakkah tuan pernah melakukan kesalahan yang membuat tuan takut kepada Allah?” Sayyidina Abdullah bin Umar menjawab, “tentu pernah.” Budak itu berkata lagi, “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?

Penundaan hukuman yang dilakukan Sayyidina Abdullah bin Umar, bukan berarti ia tidak tahu akal bulus budaknya, ia tahu. Tapi, ketakutan dan pengagungannya kepada Allah jauh lebih besar dari itu. Lagipula, apa yang dikatakan budaknya tidak sepenuhnya salah. Setiap maksiat yang dilakukan manusia, pengadilannya akan dilakukan di akhirat kelak, tidak langsung di dunia ini. Ini juga mengindikasikan bahwa kesalahan yang dilakukan budaknya tidak terlalu besar, mungkin.

Selain itu, bisa jadi Sayyidina Abdullah bin Umar sedang memberi ruang perenungan kepada budaknya. Sebab, tidak mungkin orang bodoh bisa memainkan logikanya sampai berkata, “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?” Dari kalimat itu, kita bisa tahu bahwa ia adalah budak yang cerdas. Orang cerdas memiliki kemampuan mencerap pengetahuan lebih tinggi, sehingga ia mudah diajari dengan sikap, teladan dan tindak-tanduk. Bisa jadi ini yang sedang dilakukan putera Khalifah Umar bin Khattab ini.

Tentu saja, kesadaran yang terlahir pada diri budak tersebut tidak dihasilkan secara instan. Tidak sesederhana seperti yang digambarkan kisah di atas, melainkan dihasilkan dari perjumpaan panjang antara kelalaiannya dengan kemurahan hati tuannya. Kemurahan hati yang tidak dicitrakan, tapi berasal dari kepribadiannya yang asli. Kemurahan hati yang tidak pernah membekaskan singgung, tapi meninggalkan jejak kesadaran. 

Setiap hari budak itu bergaul dengan Sayyidina Abdullah bin Umar, setiap hari pula ia menyaksikan kontinuitas akhlak dan kesalehan. Karena itu, setiap kali berbuat salah, kemurahan hatinya seakan menampar kesadaran, tanpa harus dimarahi dan dinasihati. Akhlak mulianya memojokkan hatinya. Ia pun resah, hingga perlahan-lahan rasa malunya menguat. Bagaimana tidak, berulang kali ia bersalah, berulang kali pula ia beralasan, tak sekalipun Sayyidina Abdullah bin Umar menampakkan ketidak-sukaan, dan mendaratkan hardikan. 

Oleh sebab itu, kata yang digunakan sang budak ketika merasa malu adalah, “hilmika—kemurahan hatimu/toleransimu.” Artinya, selama ia mengabdi kepada Sayyidina Abdullah bin Umar, ia tidak pernah diperlakukan buruk; ia tidak pernah dihardik; ia tidak pernah dicemooh. Setiap kali ia bersalah, tanpa basa-basi, Sayyidina Abdullah bin Umar berkeinginan langsung menghukumnya. Tapi, karena budak tersebut mengetahui kemurahan hati Sayyidina Abdullah bin Umar, ia dengan santai mengajukan keberatan dan alasan. Andai Sayyidina Abdullah bin Umar orang yang keras, tentu budaknya tidak akan berani membela diri, apalagi keberatan dengan hukuman yang diberikan.

Ya, kita memang tidak tahu hukuman seperti apa yang hendak diberikan Sayyidina Abdullah bin Umar, dan kesalahan apa yang dilakukan budaknya. Kita hanya bisa mengira-ngira yang belum pasti kebenarannya. Tapi yang pasti, keberanian seorang budak mengajukan keberatan dan alasan adalah bukti, bahwa keluhuran pekerti dan kemurahan hati kerap kali dimanfaatkan, seperti seorang murid yang enggan menghafal karena tahu gurunya terlalu baik untuk menghukumnya. Namun, kemurahan hati yang tidak dicitrakan dan tulus, pada akhirnya akan memberi dampak besar bagi orang di sekitarnya. Karena sebenarnya ia tahu sedang dipandang remeh dan dimanfaatkan. Oleh sebab itu, ia memberinya ruang untuk merenung dan bertafakur.

Setelah budaknya berhasil melintasi jembatan kelalaian, dan berujar malu karena kemurahan hatinya, Sayyidina Abdullah bin Umar justru menangis dan berkata, ia yang lebih berhak malu kepada Allah. “Berhak malu” di sini bisa dipahami sebagai penyesalannya karena terlambat mengenali perubahan budaknya, ia pun memerdekakannya saat itu juga. 

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Jumat 10 Mei 2019 10:30 WIB
Tangis Sang Kiai atas Kematian Burungnya
Tangis Sang Kiai atas Kematian Burungnya
Ilustrasi (Ist.)
Seorang kiai memiliki seekor burung Beo yang sangat cerdas. Burung itu mampu menirukan berbagai macam suara termasuk mampu berkata-kata layaknya manusia. Sang kiai pun melatih burung kesayangannya untuk mengucapkan kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah.

Dalam waktu singkat burung kesayangannya ini mampu mengucapkan kalimat tauhid dengan fasih dan lancar. Setiap hari pun sang burung terus mengucapkan kalimat tauhid dan menghiasi hari-hari kediaman sang kiai. Suasana pun semakin sejuk dan semakin menjadikan sang kiai tambah cinta kepada sang burung.

Namun tiba-tiba suatu hari terdengar suara "keak… keak… keak!!" yang terdengar oleh sang kiai. Bergegas ia menuju sumber suara yang terdengar dari tempat biasa ia menempatkan burung Beo nya setiap hari. Alangkah kagetnya sang kiai. Seekor kucing  telah menerkam dan memakan burung kesayangannya sampai terdengar suara parau terakhir dari sang burung.

Sejak kematian burung Beo nya, sang kiai pun jadi sering terlihat murung. Ia pun sering mengunci dirinya dalam kamar pribadinya dan jarang mengajak para santrinya berbicara. Kondisi ini membuat para santri heran dan bersedih.

Akhirnya, para santri pun sepakat untuk mencari ganti burung Beo kesayangan kiai dengan burung lainnya yang lebih bagus. Mereka sepakat untuk mengumpulkan uang dan membelikannya di pasar burung agar sang kiai tidak bersedih dan bermuram durja.

"Pak kiai...," ucap salah satu santri tertua mengawali niatnya menyampaikan hasil kesepakatan bersama para santri lainnya.

"Kami sangat bersedih dengan kematian burung Beo pak kiai... izinkanlah kami membeli burung Beo yang baru agar pak kiai tidak terus menerus bersedih hati!” ungkap sang santri sambil menundukkan kepala karena merasa takut apabila sang kiai tidak berkenan.

Sang kiai menghela nafas seolah ingin melepaskan beban yang ia rasakan selama ini. Kemudian ia pun memberikan penjelasan kenapa ia murung dan mengunci diri dalam kamar setelah kematian burung Beo nya.

"Wahai para santriku... bukannya aku sedih dengan matinya burung beo kesayanganku. Bukannya aku tidak ingin mencari ganti burung beo yang lebih baik dan lebih pintar. Terus terang aku tidak sesedih itu dengan matinya burung Beo itu," kata sang kiai yang membuat semakin heran para santrinya.

Setelah terdiam beberapa lama, sang kiai melanjutkan ungkapan hatinya kepada para santri yang memenuhi aula tempat mereka biasanya mengaji.

"Yang aku sedihkan adalah isyarat yang diberikan Allah SWT lewat kematian burung Beo itu. Coba kalian renungkan, burung Beo itu telah fasih mengatakan Laa Ilaha Illallah. Tetapi saat diterkam kucing dan mati, yang terakhir keluar dari mulutnya adalah bunyi keak.. keak.. keak!" ungkapnya.

"Aku takut jika nasibku nanti ketika dipanggil Allah kembali kepadaNya akan seperti burung Beo itu. Semasa hidup biasa mendzikirkan kalimat tayyibah itu, tetapi ketika meninggal dunia mulut ini tidak mengucapankan kalimat itu. Malah mengucapkan yang lainnya,” sambungnya.

Para santri pun tertunduk semua sembari merenungi perkataan sang kiai. Tak terasa air mata para santri keluar sambil lirih terdengar suara istighfar di ruang tersebut.

Semoga kita diberikan rahmat Allah SWT dan kembali kepadaNya dalam keadaan Husnul Khatimah. Amin.

(Disarikan dari ceramah KH Munawar Kholil, Ketua MWCNU Kecamatan Banyumas, Pringsewu, Lampung pada Acara Safari Ramadhan Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu, Kamis, 9 Mei 2019)
Kamis 9 Mei 2019 16:0 WIB
Hikayat Ahli Ibadah yang Gemar Menakut-nakuti
Hikayat Ahli Ibadah yang Gemar Menakut-nakuti
Dahulu ada seorang yang begitu rajin beribadah. Ia giatkan dirinya untuk melakukan banyak peribadatan kepada Allah baik di siang maupun malam hari. Sebagian besar waktu hidupya benar-benar ia habiskan untuk berdekat-dekat dengan Tuhannya.

Hanya saja ada satu sikap yang tak baik dari ahli ibadah itu; ia suka membuat orang berputus asa dari mendapatkan rahmat Allah subhânahû wa ta’âlâ. Terhadap orang-orang yang masih suka bermaksiat ia suka menakut-nakutinya dengan siksaan api neraka. Kepada mereka ia sampaikan bahwa Allah tak mau mengampuni dosa mereka, mereka jauh dari rahmat Allah, mereka adalah ahli maksiat yang tak termaafkan, dan lain sebagainya.

Singkat cerita ketika sang ahli ibadah ini meninggal dunia ia bertanya kepada Allah, “Tuhanku, apa bagianku dari sisi-Mu?”

Allah menjawab, “Bagianmu adalah neraka!”

Mendengar jawaban Allah ini sang ahli ibadah protes, “Neraka? Di mana ibadah-ibadahku? Ke mana kesungguhanku dalam mengabdikan diri kepada-Mu? Mengapa semua itu dibalas dengan neraka?”

Atas protesnya ini Allah menjawab, “Wahai hamba-Ku, dulu waktu engkau hidup di dunia engkau memang begitu bersemangat beribadah kepadaku. Namun di sisi lain engkau begitu suka memutus-asakan orang-orang dari mendapatkan rahmat-Ku. Maka sekarang Aku putusasakan kamu dari mendapatkan rahmat-Ku.”

Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah, “Seorang yang ahli maksiat yang mengharap rahmat Allah lebih dekat kepada Allah dari pada seorang ahli ibadah yang memutusasakan orang dari rahmat Allah.” Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)


Kisah ini dikutip dari kitab "Al-Mawâ’idh Al-‘Ushfûriyyah" karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar.