IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Istri Cuti Bulanan, Suami Gantikan Urus Sahur Keluarga

Ahad 12 Mei 2019 20:0 WIB
Share:
Ketika Istri Cuti Bulanan, Suami Gantikan Urus Sahur Keluarga
Dini hari tadi aku bangun tepat pada pukul 03.00 sesuai dengan pengaturan alarm di ponselku. Hal pertama yang aku lakukan setelah bangun adalah ke kamar mandi lalu berwudhu. Dari kamar mandi aku menuju dapur. Aku periksa magic com apakah nasi cukup untuk sahur bertiga, yakni kedua anakku dan aku sendiri. Akhirnya aku putuskan tidak menanak nasi.

Tepat pukul 03.05 aku mulai menyiapkan lauk pauk. Aku ambil daging ayam yang sudah dikasih bumbu oleh istriku sebelum ia tidur kemarin malam. Daging itu disimpannya di kulkas. Aku hitung ada 6 potong. Lalu aku siapkan kompor dan wajan untuk menggorengnya. 

Setelah kira-kira 15 menit, gorengan daging ayam selesai. Aku tiris dulu minyaknya di atas wajan hingga cukup kering. Sambil menunggu proses itu aku menyiapkan teh manis sebanyak tiga gelas. Juga peralatan makan seperti piring, sendok, lepek, centong, dan sebagainya aku siapakan dengan menatanya di meja makan. Yang belum ada tinggal nasi. Lalu aku ambil nasi sepiring besar dan penuh. 

Sekitar pukul 03.45, semua hidangan untuk makan sahur sudah tersaji dan tertata rapi di atas meja makan. Ada ayam goreng, sayur lodeh, gereh, sambal pedas, sambal kecap, sambal bangkok, dan sebagainya. Lalu aku bangunkan anak-anakku. Mula-mula si sulung dan kemudian si bungsu yang tidur di kamarku. 

Segera setelah itu, si sulung mulai ambil nasi. Cukup banyak. Kemudian si bungsu. Ia juga ambil cukup banyak hingga tersisa hanya sedikit. Yang sedikit itu bagianku. Ketika si sulung sudah menghabiskan nasinya, ia minta agar si bungsu mau memberikan sebagian nasi padanya. Ia merasa kurang. Si bungsu menolak.

“Gimana, saya buatkan mie goreng?” tanyaku pada si sulung menawarkan solusi.

“Tidak,” jawabnya. Ia menolak dibuatkan mie goreng bukan karena belum kenyang, tetapi di piring masih tersedia 2 potong daging ayam. 

Peristiwa “rebutan” nasi ini menjadi catatan penting di hari pertama santap sahur tanpa istri. Bukan istriku yang salah tetapi aku yang kurang perhitungan. 

Tepat pukul 04.23 seruan imsak dikumadangkan dari masjid. Tak lama setelah itu kami pun menyudahi makan sahur hari ini. 

***

Itulah ringkasan cerita dari kegiatan sahur di keluarga kami lima tahun lalu yang kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami”, terbit tahun 2016. 

Apa yang saya lakukan selama istri saya cuti bulanan (haid), yakni memberinya kebebasan untuk tidak bangun di waktu sahur, dan selanjutnya segala sesuatu terkait dengan kegiatan ini merupakan tanggung saya sebagai suami, sebenarnya bukan sesuatu tanpa dasar. Menurut fiqih mazhab Syafi’iyah, Hanabilah dan sebagaian Malikiyah, pada dasarnya pekerjaan rumah tangga bukan merupakan kewajiban istri. 

Tugas istri hanyalah sebatas membantu suami sesuai porsi yang diberikan atau disepakti. Dalam praktiknya seringkali istri menjadi ujung tombak dan seolah-olah hukumnya wajib dalam menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyapu, mencuci dan sebagainya.

Tetapi menurut para fuqaha, hal tersebut tidak menjadi persoalan dan bahkan baik sepanjang ia ridha melakukannya jika itu sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Hal ini sebagaimana penjelasan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, (Kuwait: Thibaah Dzatis Salasil, 1990) Cetakan ke-2, Juz 19, hal. 44 sebagai berikut:

فذهب الجمهور (الشافعية والحنابلة وبعض المالكية) الى أن خدمة الزوج لاتجب عليها لكن الأولى لها فعل ما جارت العاجة به

Artinya, “ Jumhur ulama (Syafiiyyah, Hanabilah dan sebagian Malikiyah) berpendapat bahwa tidak wajib bagi istri melayani suamianya (dalam urusan pekerjaan rumah tangga). Tetapi lebih baik jika melakukan seperti apa yang berlaku (membantu).”

Oleh karena “kewajiban” istri hanyalah sebatas membantu, maka porsi pekerjaan rumah tangga yang sebaiknya ia lakukan adalah sebesar porsi yang diberikan atau disepakati bersama, apakah sebagian besar, sebagian kecil, atau bahkan seluruhnya. 

Dalam konteks keluarga saya, khususnya terkait kegiatan sahur keluarga, yang kami sepakati adalah istri bebas untuk bangun atau tidak di waktu sahur ketika ia sedang cuti bulanan.

Hari itu di hari ke-18 Ramadhan 1435 H istri saya memilih tidak bangun dan saya mempersilakannya. Saya berpikir jika shalat dan puasa saja yang merupakan kewajiban dari Allah harus ia tinggalkan, maka apa salahnya saya memberinya kebebasan di waktu sahur selama ia cuti bulanan? Biarlah ia istirahat.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

Tags:
Share:
Ahad 12 Mei 2019 15:0 WIB
Ketika Imam Sufyan ats-Tsauri Ditampar Penuntun Unta
Ketika Imam Sufyan ats-Tsauri Ditampar Penuntun Unta
Ilustrasi (via vipis.org)
Dalam kitab Tarîkh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-A’lâm, Imam Abu Abdullah al-Dzahabi memasukkan kisah Imam ats-Tsauri yang ditampar seseorang. Berikut kisahnya:

وَقَالَ صَالِحُ بْنُ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعِجْلِيُّ، حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: أَجَّرَ سُفْيَانُ نَفْسَهُ مِنْ جَمَّالٍ إِلَى مَكَّةَ، فَأَمَرُوهُ أَنْ يَعْمَلَ لهم خبزة فلم تجيء جَيِّدَةً، فَضَرَبَهُ الْجَمَّالُ، فَلَمَّا قَدِمُوا مَكَّةَ دَخَلَ الْجَمَّالُ، فَرَأَى النَّاسَ حَوْلَ سُفْيَانَ، فَسَأَلَ فَقَالُوا: هَذَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، فَلَمَّا انْفَضَّ النَّاسُ، تَقَدَّمَ الْجَمَّالُ إِلَى سُفْيَانَ وَاعْتَذَرَ، فَقَالَ: مَنْ يُفْسِدُ طعام النّاس يصبه أكثر من ذلك.

Shalih bin Ahmad bin Abdillah al-‘Ijliy berkata: ‘ayahku bercerita kepadaku, ia berkata: “Sufyan (ats-Tsauri) menyewa penuntun unta (ketika hendak pergi) ke Makkah. (Di perjalanan) penuntun unta tersebut menyuruhnya mencari roti (untuk dimakan), (setelah mencari-cari, Sufyan ats-Tsauri) tidak menemukan roti (makanan) yang baik, kemudian penuntun unta tersebut menamparnya.

Sesampainya di Makkah, si penuntun unta memasuki (masjid), ia melihat banyak orang mengelilingi Sufyan, kemudian ia bertanya (kepada mereka). Mereka menjawab: “Beliau adalah Sufyan ats-Tsauri.” Ketika orang-orang tersebut bubar, penuntun unta itu menghadap Sufyan ats-Tsauri dan meminta maaf. Lalu Sufyan ats-Tsauri berkata: “Barangsiapa yang merusak (hidangan) makan orang lain (seperti yang aku lakukan kepadamu), ia akan tertimpa (keburukan) yang lebih besar.” (Imam Abu Abdullah al-Dzahabi, Tarîkh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-A’lâm, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2006, juz 4, h. 401-402)

****

Membicarakan para salafus shalih tidak akan ada habisnya. Hikmah yang mereka pancarkan, entah disengaja atau tidak, seumpama lautan yang tak pernah kering. Keteladanan bagi mereka seperti hidangan yang tersaji begitu gampang, dan begitu sukar bagi kita. Setiap kali kita membaca kisah-kisah mereka, bibir ini tak kuasa menahan “oh” yang keluar begitu saja. Kisah-kisah mereka membuat kita takjub sekaligus malu. Takjub karena cara berperilaku mereka yang kadang tidak terpikirkan oleh manusia pada umumnya. Malu karena di waktu yang sama menguliti kebebalan kita sebagai manusia. 

Imam Sufyan ats-Tsauri (97-161 H) adalah seorang ahli fiqih, muhaddits, mufassir, dan mujtahid yang mendirikan Mazhab Tsauri. Ia banyak meriwayatkan hadits dan memiliki banyak murid, seperti Abdullah bin Mubarak (118-181 H), Abdurrazaq al-Shan’ani (126-211 H), Sufyan bin ‘Uyainah (107-198 H) dan lain sebagainya. Kedudukannya di kalangan ulama sangat tinggi, baik yang sezaman dengannya maupun yang tidak. Hampir semuanya memuji kualitas intelektual dan kesalehannya. Imam Yahya bin Said al-Qattan (w. 198 H) mengatakan: “Sufyân ats-Tsauri fauq Mâlik fî kulli syai’in—Sufyan ats-Tsauri berada di atas Malik (bin Anas) di segala hal.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassassah al-Risalah, 2001, juz 7, h. 247). Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “al-imâm Sufyân ats-Tsauri lâ yataqaddamuhu ahadun fî qalbî—Imam Sufyan al-Tsauri, tidak ada seorang pun yang (kedudukannya) mendahuluinya di hatiku.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 7, h. 241). Dan masih banyak pujian ulama kepadanya.

Dalam kisah di atas, Imam Sufyan ats-Tsauri mengakrabkan kita pada keteladanan yang mudah dicerna; keteladanan yang sederhana tapi tak terlintas pikiran kita. Ia mempersembahkan dirinya sebagaimana yang dipelajarinya. Citra dirinya adalah pengetahuannya. Sebagai pembelajar, ia belajar hingga nafas meninggalkannya. Berpindah dari satu guru ke guru lainnya; mendengar dari satu syekh ke syekh lainnya. Jumlah gurunya sangat banyak. Menurut pendapat yang masyhur lebih dari enam ratus syekh. Imam al-Dzahabi menulis:

إن عدد شيوخه ست مائة شيخ، وكبارهم الذين حدثوه عن أبي هريرة، وجرير بن عبد الله، وابن عباس، وأمثالهم

“Sesungguhnya jumlah guru-gurunya (sekitar) enam ratus syekh, dan guru-guru utamanya menyampaikan kepadanya (hadits) dari Abu Hurairah, Jarir bin Abdullah, (Abdullah) bin Abbas, dan lain sebagainya.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 7, h. 235)

Kisah di atas adalah citra dirinya, ia menerima tamparan sang penuntun unta dengan suka rela. Ia bahkan menganggapnya sebagai balasan yang pantas diterimanya. Baginya, orang yang merusak kenikmatan makan orang lain, akan mendapatkan musibah atau keburukan yang lebih besar, sehingga ia tidak merasakan sakit hati sedikit pun, meski ia seorang ulama besar, karena memang itulah yang diyakininya. Sebagai orang yang menghafal dan meriwayatkan banyak hadits, Imam Sufyan ats-Tsauri tentu tahu hadits nabi yang mengatakan (HR. Imam Abu Ya’la):

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

“Bukanlah seorang mukmin (sejati), orang yang kenyang sementara tetangga di sampingnya kelaparan.” (Imam al-Munawi, Faidl al-Qadîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Beirut: Darul Ma’rifah, tt, juz 5, 360)

Dan hadits yang mengatakan (HR. Imam Muslim):

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ، فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ

“Jika kau memasak, perbanyaklah kuahnya, lalu perhatikan penghuni rumah tetanggamu, dan berikan sebagian masakan itu kepada mereka dengan cara yang ma’ruf (santun).” (Imam al-Nawawi, Syarh al-Nawawî ‘alâ Muslim, Beirut: Darul Kitab al-Ilmiyyah, 2017, juz 15, h. 145)

Jika tetangga yang tidak dimintanya menjadi “tetangga” saja diberikan hak sedemikian rupa oleh Allah, bagaimana dengan orang yang dipekerjakannya? Sudah tentu ia berada di bawah tanggungannya. Dan ternyata, karena beberapa keadaan tertentu—mungkin tempat yang tidak mendukung atau sebagainya—ia tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya dengan sempurna, hingga ditampar oleh orang yang dipekerjakannya. Baginya itu wajar, karena penuntun unta itu memiliki haknya sebagai pekerja, meski tindakannya terbilang keterlaluan.

Lebih menarik lagi, ketika penuntun unta itu meminta maaf, Imam Sufyan ats-Tsauri tidak menjawabnya dengan, “aku memaafkanmu,” tidak. Ia merasa tidak berhak dan pantas memberikan maaf. Ia merasa, ia lah yang lebih membutuhkan maaf karena tidak bisa memberikan makanan yang laik selama perjalanan ke Makkah. Ia menjawab, “Barangsiapa yang merusak (hidangan) makan orang lain (seperti yang aku lakukan kepadamu), ia akan tertimpa (keburukan) yang lebih banyak.” Seakan-akan Imam Sufyan ats-Tsauri hendak mengatakan, “akulah yang salah, dan aku laik menerima tamparan itu.”

Keluhuran pekerti semacam ini sukar dimengerti umumnya manusia, apalagi mengamalkannya. Dalam pandangan sederhana, Imam Sufyan ats-Tsauri telah memenuhi tanggung jawabnya dengan memberikan roti (makanan) terbaik yang tersedia waktu itu, tapi rupanya si penuntun unta tidak puas. Bagi orang-orang berjiwa lapang, tanggung jawab baru dianggap tertunaikan jika objeknya merasa puas dan menerima. Tentu ini sulit dan tidak adil bagi orang umum, karena memenuhi kepuasan orang lain tidak mungkin dilakukan tanpa batasan tertentu, apalagi jika bertemu dengan orang rakus, kadar kepuasannya sangat sukar untuk dipenuhi. Namun, bagi para nabi dan wali, bukan “fair” atau “tidak fair” yang dijadikan standarnya, karena mereka melakukannya sebagai bentuk pengabdian, hingga nyawa pun tak mereka pedulikan.

Orang-orang semacam ini tidak lahir dari ruang hampa. Mereka terdidik oleh ilmu pengetahuan, dan tercerahkan oleh keteladanan. Mereka menjumpai guru-guru yang berilmu sekaligus berteladan. Ilmu menjadikan mereka tahu. Teladan menjadikan mereka pengamal ilmu yang baik. Karena itu, salah satu ucapan Imam Sufyan ats-Tsauri yang paling terkenal adalah:

زينوا العلم والحديث بأنفسكم، ولا تتزينوا به

“Hiasilah ilmu dan hadits dengan diri kalian, dan jangan (jadikan) ilmu dan hadits penghias (diri) kalian.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 7, h. 245)

Maksudnya adalah, agar manusia menghiasi ilmu dan hadits dengan mengamalkannya, bukan untuk terlihat pintar; agar manusia menjadi pelayan ilmu, bukan menjadikan ilmu pelayannya; agar manusia berperilaku dengan ilmu, bukan memperlakukan ilmu untuk kemasyhurannya; agar manusia menjalani kehidupan dengan ilmu, bukan menjalankan ilmu untuk kepentingan kehidupannya. 

Singkatnya, Imam Sufyan ats-Tsauri menghendaki manusia melayani ilmu dan tidak menjadikan ilmu dan hadits sebagai pelayannya. Kata kuncinya, mengutip perkataan Imam Ibrahim bin Adham:

أطلبوا العلم للعمل فإن أكثر النّاس قد غلطوا حتي صار علمهم كالجبال وعملهم كالذر

“Carilah ilmu untuk diamalkan, karena kebanyakan manusia keliru, hingga menjadikan ilmunya setinggi gunung tapi amalnya sekecil debu.” (Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani, Thabaqât al-Kubrâ, Kairo: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, 2005, h. 129)

Semoga kita bisa meneladaninya. Rabbi zidnî ‘ilma warzuqnî fahma, amin. Wallahu a’lam bish shawwab..


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Sabtu 11 Mei 2019 8:0 WIB
Perempuan yang Menangis di Sudut Mushala Mal
Perempuan yang Menangis di Sudut Mushala Mal
Ilustrasi (123rf.com)
Didampingi seorang keponakanku seusai menghadiri sebuah pertemuan aku menyempatkan diri untuk memenuhi pesanan istriku membeli wajan teflon. Maka kuarahkan kendaraanku menuju sebuah supermarket di kotaku yang khusus menjual perangkat dapur dan perkakas rumah tangga.

Dengan menggunakan sarung dan berpeci sebagaimana lazimnya, aku berpakaian aku menyusuri rak demi rak mencari pesanan istriku itu. Namun, aku sedikit terkejut saat melihat jam di ponselku menunjukan pukul 16.45. Aku belum shalat ashar. Maka segera aku menuju ke mushala supermarket itu.

Memasuki mushala itu suasana begitu sepi. Aku hanya melihat seorang perempuan di sudut ruang yang duduk berkerubut mukena warna biru muda. Dari balik mukena itu aku mendengar isak tangis dibarengi suara istighfar. Sambil menunggu shalat berjamaah dengan keponakanku yang sedang ke toilet aku terdiam di atas sajadahku. Keponakanku tak kunjung datang.

Istighfar dan isak tangis dari mulut perempuan itu masih terus aku dengar. Kurasa ia begitu khusyuk menikmatinya, ia begitu memahami istighfarnya, hingga kedatangan dan keberadaanku tak ia hiraukan. Kekagumanku menarik mataku untuk meliriknya saat ia telah menyelesikan munajatnya. Ia memasuki ruang ganti. Dan saat keluar aku melihatnya telah mengenakan pakaian ketat di atas lutut dengan model “you can see”.

Aku makin penasaran. Usai shalat aku kembali mengelilingi supermarket berharap bisa bertemu lagi dengan perempuan itu. Bukan untuk menyapanya, tapi untuk mencari tahu perihal kehidupan ini. Benar saja, aku melihatnya lagi. Ia seorang penjaga stan barang mewah yang lazimnya berpakaian minim. Kulihat matanya masih sembab. Dan aku melewatinya begitu saja.

Melihat ini semua, dalam jalanku yang pelan aku berbisik, “Gusti Allah, terus apa makna peciku, sarungku, dan serbanku?” (Yazid Muttaqin)


Diceritakan kepada penulis oleh KH. Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, Februari 2015


======
NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id

Jumat 10 Mei 2019 17:30 WIB
Ketika Abdullah bin Umar Hendak Menghukum Pembantunya yang Bersalah
Ketika Abdullah bin Umar Hendak Menghukum Pembantunya yang Bersalah
Dalam kitab al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Imam Abul Fida’ Isma’il ibnu Katsir mencatat sebuah kisah menarik tentang Sayyidina Abdullah bin Umar dan budaknya, berikut riwayatnya:

أَنَّ خَادِمًا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَذْنَبَ فَأَرَادَ ابْنُ عُمَرَ أَنْ يُعَاقِبَهُ عَلَى ذَنْبِهِ فَقَالَ: يَا سَيِّدِي أَمَا لَكَ ذَنْبٌ تخاف من الله فيه؟ قال: بلى، قال: بالذي أَمْهَلَكَ لَمَّا أَمْهَلْتَنِي، ثُمَّ أَذْنَبَ الْعَبْدُ ثَانِيًا فَأَرَادَ عُقُوبَتَهُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَعَفَا عَنْهُ، ثُمَّ أَذْنَبَ الثَّالِثَةَ فَعَاقَبَهُ وَهُوَ لَا يَتَكَلَّمُ فَقَالَ لَهُ ابْنُ عُمَرَ: مَا لَكَ لم تقل مثل مَا قُلْتَ فِي الْأَوَّلَتَيْنِ؟ فَقَالَ: يَا سَيِّدِي حَيَاءً مِنْ حِلْمِكَ مَعَ تَكْرَارِ جُرْمِي, فَبَكَى ابْنُ عُمَرَ وَقَالَ: أَنَا أَحَقُّ بِالْحَيَاءِ مِنْ رَبِّي، أَنْتَ حرٌّ لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya pembantu (budak) Abdullah bin Umar telah berbuat salah. Abdullah bin Umar berencana menghukumnya atas kesalahannya, kemudian budak itu berkata: “Wahai tuanku, tidakkah tuan pernah melakukan kesalahan yang membuat tuan takut kepada Allah?” Abdullah bin Umar menjawab: “Tentu pernah.” Budak itu berkata: “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?”

Lalu budaknya kembali berbuat salah untuk kedua kalinya. Abdullah bin Umar kembali berencana menghukumnya, maka budaknya mengatakan hal yang sama kepadanya, dan Abdullah bin Umar memaafkannya (kembali). Kemudian budak tersebut mengulangi kesalahannya untuk ketiga kalinya, (kali ini) ia diam saja. Abdullah bin Umar bertanya kepadanya: “Kenapa kau tidak berkata seperti yang kau katakan di dua kesalahanmu terdahulu?”

Budak itu menjawab: “Wahai tuanku, (aku) malu pada kemurahan-hatimu menyikapi kesalahanku yang berulang-ulang.” Kemudian Abdullah bin Umar menangis dan berkata: “Aku lebih berhak untuk malu kepada Tuhanku, kau kubebaskan karena Allah ta’ala.” (Imam Ibnu Katsir, al- Bidâyah wa al-Nihâyah, Beirut: Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1988, juz 13, h. 205)

****

Tidak ada manusia yang selalu benar. Berbuat salah sudah menjadi kebiasaan manusia sejak dulu. Yang membuat manusia berharga adalah kemampuannya dalam menyesali kesalahannya, dan kehendak dalam memperbaikinya. Persoalannya adalah, terkadang kemampuan menyesali dan kehendak memperbaiki kalah dari kelalaian dan kerakusan. Semakin sering seseorang melakukan kesalahan, semakin mengecil kesadarannya. Beruntunglah budak dalam kisah di atas memiliki tuan seperti Sayyidina Abdullah bin Umar, yang tindakannya selalu bercermin dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Artinya, budak tersebut setiap hari melihat pertunjukkan akhlak dan kesalehan yang diamalkan Sayyidina Abdullah bin Umar. Sekeras apapun hatinya, sesering apapun kesalahannya, setiap kali berjumpa tuannya, kesadarannya disegarkan kembali. Sampai pada akhirnya, ia memutuskan diam, tidak melakukan pembelaaan diri dengan mengatasnamakan Tuhan. Sebelumnya ia selalu mengatasnamakan Tuhan untuk menghindari hukuman tuannya. Ia tahu betul bahwa tuannya sangat takut dan hormat setiap kali nama Tuhan disebut. Ia pun dengan pintar memainkan itu, katanya: “Wahai tuanku, tidakkah tuan pernah melakukan kesalahan yang membuat tuan takut kepada Allah?” Sayyidina Abdullah bin Umar menjawab, “tentu pernah.” Budak itu berkata lagi, “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?

Penundaan hukuman yang dilakukan Sayyidina Abdullah bin Umar, bukan berarti ia tidak tahu akal bulus budaknya, ia tahu. Tapi, ketakutan dan pengagungannya kepada Allah jauh lebih besar dari itu. Lagipula, apa yang dikatakan budaknya tidak sepenuhnya salah. Setiap maksiat yang dilakukan manusia, pengadilannya akan dilakukan di akhirat kelak, tidak langsung di dunia ini. Ini juga mengindikasikan bahwa kesalahan yang dilakukan budaknya tidak terlalu besar, mungkin.

Selain itu, bisa jadi Sayyidina Abdullah bin Umar sedang memberi ruang perenungan kepada budaknya. Sebab, tidak mungkin orang bodoh bisa memainkan logikanya sampai berkata, “Demi Zat yang menunda (hukuman) atasmu, maka (kenapa) kau tidak menunda (hukuman)ku?” Dari kalimat itu, kita bisa tahu bahwa ia adalah budak yang cerdas. Orang cerdas memiliki kemampuan mencerap pengetahuan lebih tinggi, sehingga ia mudah diajari dengan sikap, teladan dan tindak-tanduk. Bisa jadi ini yang sedang dilakukan putera Khalifah Umar bin Khattab ini.

Tentu saja, kesadaran yang terlahir pada diri budak tersebut tidak dihasilkan secara instan. Tidak sesederhana seperti yang digambarkan kisah di atas, melainkan dihasilkan dari perjumpaan panjang antara kelalaiannya dengan kemurahan hati tuannya. Kemurahan hati yang tidak dicitrakan, tapi berasal dari kepribadiannya yang asli. Kemurahan hati yang tidak pernah membekaskan singgung, tapi meninggalkan jejak kesadaran. 

Setiap hari budak itu bergaul dengan Sayyidina Abdullah bin Umar, setiap hari pula ia menyaksikan kontinuitas akhlak dan kesalehan. Karena itu, setiap kali berbuat salah, kemurahan hatinya seakan menampar kesadaran, tanpa harus dimarahi dan dinasihati. Akhlak mulianya memojokkan hatinya. Ia pun resah, hingga perlahan-lahan rasa malunya menguat. Bagaimana tidak, berulang kali ia bersalah, berulang kali pula ia beralasan, tak sekalipun Sayyidina Abdullah bin Umar menampakkan ketidak-sukaan, dan mendaratkan hardikan. 

Oleh sebab itu, kata yang digunakan sang budak ketika merasa malu adalah, “hilmika—kemurahan hatimu/toleransimu.” Artinya, selama ia mengabdi kepada Sayyidina Abdullah bin Umar, ia tidak pernah diperlakukan buruk; ia tidak pernah dihardik; ia tidak pernah dicemooh. Setiap kali ia bersalah, tanpa basa-basi, Sayyidina Abdullah bin Umar berkeinginan langsung menghukumnya. Tapi, karena budak tersebut mengetahui kemurahan hati Sayyidina Abdullah bin Umar, ia dengan santai mengajukan keberatan dan alasan. Andai Sayyidina Abdullah bin Umar orang yang keras, tentu budaknya tidak akan berani membela diri, apalagi keberatan dengan hukuman yang diberikan.

Ya, kita memang tidak tahu hukuman seperti apa yang hendak diberikan Sayyidina Abdullah bin Umar, dan kesalahan apa yang dilakukan budaknya. Kita hanya bisa mengira-ngira yang belum pasti kebenarannya. Tapi yang pasti, keberanian seorang budak mengajukan keberatan dan alasan adalah bukti, bahwa keluhuran pekerti dan kemurahan hati kerap kali dimanfaatkan, seperti seorang murid yang enggan menghafal karena tahu gurunya terlalu baik untuk menghukumnya. Namun, kemurahan hati yang tidak dicitrakan dan tulus, pada akhirnya akan memberi dampak besar bagi orang di sekitarnya. Karena sebenarnya ia tahu sedang dipandang remeh dan dimanfaatkan. Oleh sebab itu, ia memberinya ruang untuk merenung dan bertafakur.

Setelah budaknya berhasil melintasi jembatan kelalaian, dan berujar malu karena kemurahan hatinya, Sayyidina Abdullah bin Umar justru menangis dan berkata, ia yang lebih berhak malu kepada Allah. “Berhak malu” di sini bisa dipahami sebagai penyesalannya karena terlambat mengenali perubahan budaknya, ia pun memerdekakannya saat itu juga. 

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.