IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Tawar-menawar Penduduk Tsaqif dengan Nabi Muhammad usai Masuk Islam

Ahad 12 Mei 2019 21:0 WIB
Tawar-menawar Penduduk Tsaqif dengan Nabi Muhammad usai Masuk Islam
Nabi Muhammad saw dan beberapa sahabatnya hijrah ke Thaif, tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Mereka hendak meminta perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat Thaif dari penindasan kaum musyrik Makkah. Namun, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya malah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif –yang saat itu menjadi penguasa wilayah Thaif- melempari Nabi Muhammad saw. dengan batu hingga kakinya terluka.

Setelah beberapa tahun berlalu, umat Islam semakin kuat. Mereka berhasil mendirikan negara Madinah dan menghimpun kekuatan yang semakin hari semakin besar. Orang-orang Arab tidak memiliki kekuatan lagi untuk berperang melawan umat Islam. Semuanya sudah berbaiat dan memeluk Islam. Hanya tinggal beberapa suku saja yang belum menerima Islam. 

Rupanya keadaan ini membuat penduduk Tsaqif ‘ciut’. Tidak ingin mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, akhirnya penduduk Tsaqif mengirim utusan yang dipimpin Kinanah bin Abdul Yalil untuk menemui Nabi Muhammad di Madinah. Kejadian itu berlangsung pada bulan Ramadhan, beberapa saat setelah Nabi Muhammad pulang dari Tabuk.  

Utusan Tsaqif tersebut membangun tenda-tenda. Mereka tinggal di Madinah beberapa hari agar bisa mengetahui aktifitas umat Islam sehari-harinya. Diceritakan Ibnu Sa’ad, Nabi Muhammad menemui utusan Tsaqif tersebut setiap malam setelah Shalat Isya. Nabi Muhammad dan mereka terlibat dialog yang cukup intens. Mereka bertanya tentang Islam, Nabi Muhammad memberikan penjelasan.

Diantara pertanyaan yang mereka lontarkan kepada Nabi Muhammad adalah "Bagaimana menurutmu tentang zina karena kami gemar berzina? Bagaimana menurutkmu tentang riba, seluruh harta kami berasal dari riba? Bagaimana pendapatmu tentang khamar, pendapatan kami dari khamar? Dan bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat?"

Nabi Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan tegas. Singkatnya kata Nabi Muhammad, baik riba, zina, dan khamar itu adalah sesuatu yang diharamkan Allah. Larangan berbuat zina ada dalam QS al-Isra: 32. Sementara ayat yang mengharamkan praktik riba dan khamar tertera –berturut-turut- dalam QS Surat al-Baqarah: 278 dan al-Maidah: 90. 

“Tidak ada kebaikan dalam Islam tanpa shalat,” jawab Nabi Muhammad terkait pertanyaan orang yang meninggalkan shalat. 

Setelah mendengarkan dakwah dan penjelasan Nabi Muhammad tentang Islam, utusan Tsaqif tersebut akhirnya memeluk Islam. Kendati demikian, mereka mengajukan permintaan kepada Nabi Muhammad. Dikutip buku The Great Episodes of Muhammad saw (Said Ramadhan al-Buthy, 2017), mereka meminta agar Latta, berhala yang pernah disembah penduduk Tsaqif, tidak dihancurkan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

Nabi Muhammad langsung menolak permintaan itu dengan tegas. Kemudian mereka memangkas waktunya menjadi dua tahun. Nabi juga Menolak. Tidak menyerah, mereka mengajukan lagi permohonan kepada Nabi Muhammad agar Latta tidak dihancurkan hingga sebulan lamanya terhitung sejak mereka tiba di Madinah. Lagi-lagi Nabi menolak. 

“Jika demikian, pergilan Anda untuk menghancurkannya. Kami tidak mau menghancurkannya,” kata utusan Tsaqif kepada Nabi Muhammad. Mereka akhirnya menyerah. Tidak lagi mengajukan permohonan agar Latta tidak dihancurkan.

Nabi Muhammad kemudian mengirimkan utusan yang dipimpin Khalid bin Walid ke Tsaqif untuk menghancurkan berhala Latta di Tsaqif. Diriwayatkan bahwa ketika Latta dihancurkan, kaum perempuan Tsaqif menangis.

Ada alasan tersendiri mengapa utusan Tsaqif meminta kepada Nabi Muhammad agar Latta tidak langsung dihancurkan, namun ditunda sebulan, dua tahun, dan tiga tahun sesuai permintaan mereka. Menurut Ibnu Ishaq, utusan Tsaqif khawatir dengan ancaman dari para pemimpin, istri, dan keturunan mereka nanti jika Latta langsung dihancurkan. Mereka juga tidak ingin mencerca kaumnya dengan menghancurkan berhala yang selama ini menjadi sesembahan. Sebaliknya, utusan Tsaqif tersebut ingin agar kaumnya sendiri lah yang nantinya menghancurkan Latta manakala Islam sudah masuk ke dalam hatinya yang paling dalam. 

Nabi Muhammad memiliki sikap terkait hal ini. Beliau tegas jika sudah menyangkut prinsip Islam. Terlebih, hal itu berkaitan dengan berhala yang selama ini disembah dan menjadi sekutu Allah, Tuhan sekalian alam. Beliau tidak akan memberikan toleransi sedikitpun terkait hal itu. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 12 Mei 2019 22:0 WIB
Alasan Wasiat Nabi Muhammad Berbeda-beda
Alasan Wasiat Nabi Muhammad Berbeda-beda
Suatu ketika Abu Dzar al-Gifari meminta wasiat kepada Nabi Muhammad saw. Kemudian beliau memberikan wasiat agar Abu Dzar bertakwa kepada Allah dimanapun dan kapanpun ia berada, melakukan perbuatan baik setelah setiap kali mengerjakan perbuatan buruk, dan bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik.

Dalam sebuah riwayat Abu Hurairah disebutkan, ada seorang lelaki yang mendatangi dan meminta wasiat kepada Nabi Muhammad. Ia minta satu wasiat saja agar bisa mengingat dan memikirkannya. Lantas Nabi Muhammad mewasiatinya agar jangan marah. Beliau mengulang wasiat singkatnya itu sebanyak tiga kali.

Pada kesempatan lain, ada seorang Badui yang meminta wasiat agar dirinya bisa masuk surga setelah melakukan wasiat itu. Kata Nabi Muhammad kepada Badui tersebut, jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dirikan shalat wajib lima waktu, tunaikan zakat wajib, dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Lelaki Badui itu berjanji akan melakukan apa yang diwasiatkan Nabi itu, tanpa menambahi atau mengurangi barang sedikit pun.

Di hari lainnya, Abdullah bin Yusr mencertikan bahwa ada seorang lelaki mengadu kepada Nabi Muhammad. Menurutnya, syariat Islam sudah sangat banyak. Ia mengaku sudah banyak melakukannya. Namun, dia meminta wasiat kepada Nabi Muhammad tentang satu saja dari syariat Islam yang bisa diandalkannya. Nabi Muhammad pun hanya menjawab singkat. 

“Hendaklah lidahmu selalu basah karena berdzikir,” jawab Nabi Muhammad.

Di samping beberapa kisah di atas, tentu masih ada banyak lagi kisah tentang sahabat yang meminta wasiat kepada Nabi Muhammad. Dan menariknya, jawaban yang dikemukakan Nabi Muhammad selalu tidak sama. Lantas apa faktor atau alasan yang mendasari Nabi Muhammad memberikan wasiat yang berbeda-beda kepada para sahabatnya?

Merujuk buku Muhammad Sang Guru (Abdul Fattah Abu Ghuddah, 2015), wasiat yang disampaikan Nabi Muhammad kepada satu sahabatnya dengan sahabat lainnya berbeda karena menyesuaikan dengan kondisi masing-masing peminta wasiat. Maksdunya, jika peminta wasiat itu susah menghapal dan gampang lupa, maka wasiat yang diberikan Nabi Muhammad juga singkat namun mengena. Seperti wasiat kepada lelaki di atas, yaitu ‘Jangan marah.’

Jika peminta wasiat kurang bertakwa kepada Allah, maka Nabi Muhammmad mewasiatinya agar meningkatkan ketakwaannya kepada Allah. Begitupun jika yang meminta wasiat kurang atau tidak berbakti kepada orang tuanya, maka wasiat yang diberikan Nabi Muhammad pasti agar mereka berbakti kepada orang tua. Dan begitulah seterusnya.

Dengan demikian, Nabi Muhammad adalah orang sangat memahami dan mengerti keadaan dan kondisi masing-masing sahabatnya. Sehingga apa yang disampaikan atau diwasiatkan Nabi Muhammad merupakan 'kebutuhan' sang peminta wasiat. 

Begitupun ketika Nabi Muhammad mengajarkan suatu ilmu kepada para sahabatnya. Ada ilmu yang disampaikan kepada semua sahabatnya. Juga ada ilmu yang hanya diberikan kepada sahabat tertentu saja. Bukan karena diskriminasi, namun ‘pemilahan’ seperti itu dilakukan Nabi Muhammad berdasarkan keadaan, pemahaman, kecerdasan, dan intelektualitas yang dimiliki para sahabat. (Muchlishon)
Ahad 5 Mei 2019 6:0 WIB
Zaid bin Haritsah, Memilih Tinggal Bersama Rasulullah daripada Orang Tuanya
Zaid bin Haritsah, Memilih Tinggal Bersama Rasulullah daripada Orang Tuanya
Pada saat usianya delapan tahun, Zaid bin Haritsah al-Ka’by diajak ibundanya, Su’da binti Tsa’labah untuk mengunjungi kaumnya, Bani Ma’in, di suatu wilayah yang lumayan jauh. Satu riwayat menerangkan, mereka dirampok di tengah jalan. Riwayat lainnya menyebutkan kalau mereka tiba di Bani Ma’in dengan selamat. Namun ketika mereka baru tiba di kampung kaumnya, Bani al-Qain menyerang Bani Ma’in. 

Bani al-Qain menjarah semua harta benda dan menawan anak-anak –termasuk Zaid bin Haritsah-di kampung Bani Ma’in. Anak-anak tersebut kemudian dibawa ke pasar Ukaz untuk dijual. Zaid sendiri dibeli oleh Hakim bin Hizam bin Khuwailid dengan harga 400 dirham. Kemudian Hakim bin Hizam memberikan Zaid bin Haritsah kepada bibinya, Sayyidah Khadijah, sebagai hadiah. Riwayat lain, Sayyidah Khadijah sendiri lah yang membeli Zaid di pasar Ukaz.

Singkat cerita, Sayyidah Khadijah menghadiahkan Zaid bin Haritsah kepada Nabi Muhammad sesaat setelah mereka menikah (saat itu beliau belum diangkat menjadi Nabi). Maka sejak saat itu, Zaid menjadi pelayan dan tinggal bersama dengan Nabi Muhammad. Seiring dengan berjalannya waktu, Zaid bin Haritsah menjadi salah satu sahabat Nabi yang paling istimewa. Bahkan, nantinya Nabi Muhammad mengangkat Zaid bin Haritsah menjadi anak angkatnya. 

Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), semula Zaid menangis karena teringat dengan bapak dan ibundanya. Tapi lama-lama Zaid menjadi nyaman bersama Nabi Muhammad. Perlakuan Nabi Muhammad yang lembut dan penuh kasih sayang lah yang membuat Zaid betah tinggal dengannya. Dia memiliki nasib yang beruntung karena bisa mengenal dan melayani Nabi Muhammad. 

Namun di sisi lain, orang tua Zaid dirundung kesedihan yang mendalam. Ibunda Zaid, Su’ad binti Tsa’labah, terus-terusan menangis meratapi nasib anaknya yang hilang. Kesedihannya bertambah karena dirinya tidak tahu apakah Zaid masih hidup atau sudah mati. Begitupun dengan ayah Zaid, Haritsah. Dia tidak pernah berhenti mencari anaknya ke seluruh penjuru kawasan. Dia juga bertanya kepada kafilah yang ditemuinya. Saking sedihnya, Haritsah menumpahkan perasaannya itu melalui bait-bait syair.

“Oh hidupku (maksudnya putranya, Zaid), aku rela mengorbankan nyawaku demi kami, karena setiap orang pasti akan mati, meskipun dia terbuai dengan angan-angan,” kata Haritsah dalam syairnya, dikutp buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018)

Orang tua Zaid terus bersedih hingga akhirnya ada kabar kalau anaknya masih hidup. Saat itu, ada sekelompok orang dari kaum Zaid bin Haritsah menunaikan haji di Makkah. Pada saat thawaf, mereka berpapasan dengan Zaid. Keduanya berbincang-bincang dan menanyakan kabar masing-masing. Setelah kembali, rombongan tersebut langsung memberi tahu Haritsah dan Su’ad perihal keadaan dan tempat tinggal anaknya yang pernah hilang dulu. 

Haritsah mengajak saudaranya, Ka’ab, untuk menemui Nabi Muhammad dan menjemput pulang Zaid. Mereka tidak lupa menyiapkan sejumlah uang untuk menebus anaknya. Sesampai di Makkah, mereka langsung menemui Nabi Muhammad. Mereka meminta izin agar anaknya dikembalikan. Tidak lupa mereka menyodorkan sejumlah uang dibawanya sebagai tebusan untuk anak mereka. 

Nabi Muhammad tidak langsung menolak ataupun menerima tawaran orang tua Zaid tersebut. Beliau kemudian memanggil Zaid untuk memilih sendiri; Apakah memilih tetap bersama Nabi Muhammad atau memilih pulang dan tinggal bersama orang tuanya. Nabi Muhammad tidak mengharapkan uang tebusan itu manakala Zaid lebih memilih orang tuanya.

“Anda sungguh-sungguh berlaku adil,” kata mereka kepada Nabi Muhammad. 

Zaid langsung ketika menangis melihat ayah dan pamannya. Ia tidak kuasa menahan isak tangisnya itu. Setelah kondisi Zaid cukup tenang, Nabi Muhammad menyampaikan maksud kedatangan ayahnya dan kemudian melontarkan dua pilihan tadi. Zaid tidak langsung menjawab. Baginya, itu adalah sebuah pilihan yang tidak mudah. Namun setelah lama berpikir, Zaid akhirnya menjawab untuk tetap bersama Nabi Muhammad.

Seketika itu, Haritsah mengucapkan sumpah serapah kepada anaknya. Dia tidak terima anaknya lebih memilih menjadi budak dan menolak pulang bersamanya. Nabi Muhammad kemudian mencoba menenangkan Haritsah. Beliau mengajaknya ke Hijir Ismail yang berada di sisi Ka’bah. Di sana, Nabi Muhammad mendeklarasikan bahwa mulai saat itu Zaid adalah anak angkatnya.

“Wahai segenap yang hadir di sini, saksikanlah bahwa ia –Zaid- adalah anakku. Dia adalah ahli warisku,” kata Nabi Muhammad. 

Hati Haritsah dan Ka’ab menjadi tenang setelah mendengar ‘deklarasi’ Nabi Muhammad itu. Mereka menjadi maklum dan bisa menerima keputusan Zaid yang lebih memilih bersama Nabi Muhammad daripada dirinya. Mereka tahu, anaknya memiliki kedudukan mulia di Makkah. Mereka pun kembali dengan hati lega, tenang, dan puas. (A Muchlishon Rochmat)
Sabtu 4 Mei 2019 15:0 WIB
Saat Nabi Muhammad Menegur Sayyidah Fatimah
Saat Nabi Muhammad Menegur Sayyidah Fatimah
Nabi Muhammad saw. bisa saja hidup bermewah-mewahan, sebagaimana kehidupan raja atau pemimpin lainnya pada saat itu. Namun itu tidak dilakukan. Beliau lebih memilih hidup sehari-harinya dalam kesederhanaan. Nabi Muhammad bahkan mengerjakan pekerjaannya sendiri seperti menyulam bajunya yang robek dan memperbaiki sendalnya yang rusak.

Hal yang sama juga Nabi Muhammad tanamkan kepada anak-anaknya. Beliau tidak ingin taraf hidup anaknya berada di atas orang lain. Nabi ingin agar anak-anaknya dalam menjalani kehidupan itu biasa saja, sebagaimana umumnya manusia lainnya. Tidak berlebih-lebihan dan tidak bermewah-mewahan. Nabi Muhammad tidak segan-segan memberikan teguran manakala ada anaknya yang hidup bermewah-mewahan. 

Dikisahkan, suatu hari Nabi Muhammad berkunjung ke rumah salah satu anaknya, Sayyidah Fatimah. Beliau melihat Sayyidah Fatimah sedang memakai gelang emas. Mengetahui ayahandanya memperhatikannya, Sayyidah Fatimah langsung memberikan penjelasan bahwa gelang yang dipakaianya itu merupakan hadiah dari suaminya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Seketika itu juga, Nabi Muhammad langsung ‘menegur’ putrinya itu. 

“Wahai Fatimah, senangkah kau bila orang-orang mengatakan, ‘Lihat, itu putri Nabi mengenakan gelang neraka?” kata Nabi Muhammad, dikutip buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018).

Mendengar perkataan ayahandanya seperti itu, Sayyidah Fatimah cepat-cepat langsung melepaskan gelangnya itu. Kemudian dia keluar rumah dan meminta seseorang untuk menjual gelangnya itu. Sayyidah Fatimah juga membeli seorang budak dan kemudian memerdekakannya. Nabi Muhammad gembira dengan apa yang dilakukan puteri kesayangannya itu. Beliau lantas mendoakannya.

Begitulah sikap Nabi Muhammad kepada anak-anaknya. Beliau tidak ingin anak-anaknya hidup dalam kemewahan, sementara banyak umat Muslim yang hidup dalam kesengsaraan dan kekurangan. Beliau ingin agar keluarganya menjadi teladan bagi seluruh umat Islam, terutama dalam hal ini adalah soal sederhana dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Nabi Muhammad juga tidak ingin anak-anaknya mengandalkannya. Dalam artian, apapun yang mereka lakukan di dunia ini pasti akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak. Mereka tidak bisa meminta jaminan kepada ayahandanya –yang notabennya adalah seorang Nabi dan Rasul Allah- agar terbebas dari semua itu.

“Sedikitpun tidak ada yang bisa kubebaskan kau dari Allah,” tegas Nabi Muhammad kepada Sayyidah Fatimah. (Muchlishon)