IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Wanita Istihadhah saat Puasa, Bagaimana Cara Bersuci dan Shalatnya?

Ahad 12 Mei 2019 19:15 WIB
Share:
Wanita Istihadhah saat Puasa, Bagaimana Cara Bersuci dan Shalatnya?
Ilustrasi (via okaydoc.com)
Istihadhah adalah darah yang keluar di selain hari-hari haid dan nifas. Di antara kasusnya adalah ketika darah terus-menerus keluar melebihi batas maksimal haid, yaitu 15 hari. Perempuan yang mengalaminya disebut dengan mustahadlhh.

Mustahadhah dihukumi sebagai orang yang suci. Ia tetap diwajibkan puasa dan shalat, boleh membaca Al-Qur’an, i’tikaf dan hal-hal lain yang dilarang bagi wanita haid. Ada perbedaan tata cara shalat dan bersuci bagi mustahadhah dibandingkan dengan orang yang normal.

Setiap hendak shalat, ia wajib membasuh bagian kewanitaannya dan menyumbatnya dengan semisal kapas atau jenis pembalut wanita lain yang dapat menghentikan darah atau setidaknya bisa meminimalisasi. Kemudian ia berwudhu dengan niat memperbolehkan shalat, tidak dengan niat menghilangkan hadats. Wudhu harus dilakukan setelah masuk waktu shalat, tidak sah sebelum masuk waktu. Setelah berwudhu ia diwajibkan untuk langsung melaksanakan shalat, tidak boleh diselingi dengan aktivitas lainnya, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan kemaslahatan shalat seperti menanti jamaah, menutup aurat dan lain sebagainya. Setiap kali shalat fardhu, ia berkewajiban mengulangi wudhu dan mengganti pembalutnya.

Al-Imam al-Nawawi mengatakan:

وَالِاسْتِحَاضَةُ حَدَثٌ دَائِمٌ كَسَلَسٍ فَلَا تَمْنَعُ الصَّوْمَ وَالصَّلَاةَ، فَتَغْسِلُ الْمُسْتَحَاضَةُ فَرْجَهَا وَتَعْصِبُهُ، وَتَتَوَضَّأُ وَقْتَ الصَّلَاةِ، وَتُبَادِرُ بِهَا فَلَوْ أَخَّرَتْ لِمَصْلَحَةِ الصَّلَاةِ كَسَتْرٍ وَانْتِظَارِ جَمَاعَةٍ لَمْ يَضُرَّ، وَإِلَّا فَيَضُرُّ عَلَى الصَّحِيحِ. وَيَجِبُ الْوُضُوءُ لِكُلِّ فَرْضٍ، وَكَذَا تَجْدِيدُ الْعِصَابَةِ فِي الْأَصَحِّ 

“Istihadhah adalah hadats yang permanen seperti orang beser, maka ia tidak mencegah puasa dan shalat. Maka mustahadhah (diwajibkan) membasuh vaginanya dan membalutnya. Ia (wajib) berwudhu pada waktu shalat, ia (wajib) segera melaksanakan shalat. Bila mengakhirkannya karena kemaslahatan shalat, seperti menutup (aurat), menanti jamaah, maka tidak bermasalah. Bila bukan karena demikian, maka bermasalah menurut pendapat al-shahih. Wajib berwudhu untuk setiap fardlu, demikian pula memperbarui balutan menurut pendapat al-Ashah,” (al-Imam al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, juz 1, hal. 19).

Problem muncul ketika mustahadhah tengah berpuasa Ramadhan. Satu sisi ia diwajibkan menyumbat bagian kemaluannya dengan sejenis kapas sebagai bagian dari tata cara bersuci dan shalatnya. Namun, di sisi yang lain, ia diwajibkan untuk menjaga puasanya dari hal-hal yang membatalkan. Seperti diketahui, memasukan benda sejenis kapas ke bagian dalam vagina dapat membatalkan puasa. Pertanyaannya kemudian, apa yang seharusnya dilakukan mustahadhah yang tengah berpuasa ketika ia hendak shalat? Manakah yang lebih didahulukan antara kepentingan puasa dan shalatnya?

Ulama menjelaskan bahwa yang wajib ia lakukan adalah tidak menyumbat bagian kewanitaannya. Dalam masalah ini, maslahat puasa lebih didahulukan daripada maslahat shalat. Bila ia tetap menyumbat bagian kewanitaannya, puasanya batal, meski shalatnya tetap sah. Maka solusi yang tepat adalah dengan tidak menyumbat, agar puasa dan shalatnya sah.

Persoalan mustahadhah ini berbeda dengan kasus orang yang menelan benang hingga masuk bagian lambung saat berpuasa. Kasus menelan benang ini juga dilematis. Bila ia tetap membiarkan benangnya tersambung sampai organ dalam, shalatnya tidak sah, sebab termasuk kategori membawa najis dikarenakan benang bersentuhan dengan najis di bagian dalam lambung. Bila ia mengeluarkan benang tersebut, maka puasanya batal, sebab termasuk memuntahkan sesuatu dari dalam perut secara sengaja. Dalam permasalahan ini, ulama lebih mendahulukan maslahat shalat, ia diwajibkan untuk mencabut benang agar shalatnya sah, meski puasanya dinyatakan batal.

Perbedaan yang mendasar antara dua kasus tersebut adalah bahwa istihadhah adalah sebuah penyakit dengan darah mengalir terus-menerus, secara lahiriyah akan terus diderita hingga waktu yang tidak bisa diprediksi, bahkan terkadang sampai bulan puasa habis masih berlanjut. Kondisi demikian akan menyulitkan mustahadhah untuk mengqadha puasanya, sebab ketidakpastian kapan istihadhahnya berhenti. Penyumbatan vagina tidak akan menyelesaikan problem puasanya. Berbeda halnya dengan kasus menelan benang, sekali dicabut masalah sudah teratasi, meski dengan mengorbankan satu hari puasa.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan:

وَإِنْ كَانَتْ صَائِمَةً تَرَكَتْ الْحَشْوَ نَهَارًا وَاقْتَصَرَتْ عَلَى الْعَصْبِ مُحَافَظَةً عَلَى الصَّوْمِ لَا الصَّلَاةِ عَكْسُ مَا قَالُوهُ فِيمَنْ ابْتَلَعَ خَيْطًا؛ لِأَنَّ الِاسْتِحَاضَةَ عِلَّةٌ مُزْمِنَةٌ الظَّاهِرُ دَوَامُهَا فَلَوْ رُوعِيَتْ الصَّلَاةُ رُبَّمَا تَعَذَّرَ قَضَاءُ الصَّوْمِ وَلَا كَذَلِكَ ثَمَّ

“Bila ia berpuasa, maka (wajib) meninggalkan penyumbatan (vagina) di siang hari, cukup mengikatnya. Hal ini karena menjaga (kemaslahatan) puasa, bukan (kemaslahatan) shalat, berkebalikan dengan apa yang diucapkan ulama dalam kasus orang yang menelan benang. Sebab istihadhah adalah penyakit yang permanen, secara lahiriyyah akan terus wujud, bila (kemaslahatan) shalat dijaga, terkadang sulit mengqadha puasa. Alasan demikian ini tidak wujud dalam kasus menelan benang,” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj Hamisy Hasyiyah al-Syarwani, juz 1, hal. 393).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.


Tags:
Share:
Ahad 12 Mei 2019 16:0 WIB
Punya Utang Shalat Fardhu, Bolehkah Shalat Tarawih?
Punya Utang Shalat Fardhu, Bolehkah Shalat Tarawih?
Ilustrasi (viata-libera.co)
Datangnya bulan Ramadhan memberikan efek yang sangat positif. Beberapa perbuatan maksiat setidaknya bisa diminimalisir atau minimal tidak dipertontonkan di bulan penuh berkah ini. Antusias masyarakat begitu tampak dalam mengikuti berbagai kegiatan positif di bulan yang mulia ini. Di antara yang tampak adalah kesemangatan mereka mengikuti jamaah shalat tarawih.

Jamaah yang menghadiri shalat tarawih bermacam-macam latar belakangnya, mulai dari orang tua, pemuda dan anak kecil, bahkan yang memiliki tanggungan mengqadha shalat fardhu, juga turut serta aktif meramaikan syi’ar tarawih.

Ada yang berpendapat bahwa mereka yang masih memiliki tanggungan mengaqadha shalat fardhu, haram mengikuti shalat tarawih. Benarkah demikian? Bagaimana sebenarnya hukumnya menurut fiqih?

Orang mukallaf yang meninggalkan shalat, baik sengaja atau tidak, berkewajiban menggantinya di waktu yang lain. Di dalam fiqih dikenal dengan istilah qadha.  Orang yang berkewajiban mengqadha shalat terbagi menjadi dua klasifikasi. Pertama, kelompok yang meninggalkan shalat karena uzur (alasan yang ditoleransi). Kedua, kelompok yang meninggalkannya tanpa uzur. 

Kelompok pertama contohnya seperti mereka yang melewatkan shalat karena tidur sebelum masuk waktu shalat atau sebab lupa. Bagi kelompok pertama ini, disunahkan segera mengqadha shalat yang ia tinggalkan. Artinya kewajiban mengqadha bagi mereka adalah kewajiban yang boleh ditunda (wajib ‘alat tarakhi). Bagi mereka, sebelum utang shalat itu terpenuhi, diperbolehkan melaksanakan aktivitas lain di luar qadha shalat, termasuk di antaranya shalat sunah tarawih. Dalam perincian yang pertama ini, ulama Syafi’iyyah tidak berbeda pendapat.

Syekh Zainuddin al-Malibari berkata:

ويبادر به ندبا إن فات بعذر كنوم لم يتعد به ونسيان كذلك

“Dan bersegaralah secara sunah mengqadha shalat apabila shalat terlewat dengan uzur seperti tidur yang tidak teledor, demikian pula lupa,” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 32).

Adapun jenis kelompok kedua, seperti orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, lalai karena urusan duniawi, tidur setelah masuk waktu shalat dan lain sebagainya, mengenai status kewajiban mengqadha shalat bagi mereka, ulama berbeda pendapat.

Menurut mayoritas ulama Syafi’iyyah, wajib mengqadha segera, tidak boleh ditunda. Berpijak dari pendapat ini, wajib bagi orang jenis kelompok kedua ini menggunakan seluruh waktunya untuk mengqadha shalat selain urusan-urusan yang dibutuhkan seperti makan, minum, tidur, bekerja menafkahi keluarga dan lain sebagainya. Haram bagi mereka melaksanakan shalat sunah, termasuk shalat tarawih, sebelum utang shalatnya terpenuhi. Meski haram, tapi shalat tarawih yang dilakukan tetap sah, berbeda dengan pendapat Imam al-Zarkasyi yang menyatakan tidak sah.

Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan:

ويبادر من مر بفائت وجوبا إن فات بلا عذر فيلزمه القضاء فورا.

“Bersegeralah orang yang telah disebutkan itu, mengqadha shalat secara wajib apabila shalat terlewat tanpa uzur, maka wajib baginya mengqadha secepatnya.”

 قال شيخنا أحمد بن حجر رحمه الله تعالى: والذي يظهر أنه يلزمه صرف جميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه وأنه يحرم عليه التطوع. انتهى. 

“Berkata guru kami, Syekh Ahmad bin Hajar, semoga Allah merahmatinya. Pendapat yang jelas, wajib baginya (orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur), mengerahkan seluruh waktunya untuk mengqadha selain waktu yang ia butuhkan di dalam urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan haram baginya shalat sunah,”  (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 31-32).

Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatha mengomentari referensi di atas sebagai berikut:

ـ (قوله: وأنه يحرم عليه التطوع) أي مع صحته، خلافا للزركشي

“Ucapan Syekh Zainuddin ‘dan haram baginya shalat sunah’; maksudnya besertaan dengan keabsahannya, berbeda dengan Imam al-Zarkasyi,” (Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal.  32).

Sedangkan menurut Syekh Habib Abdullah al-Haddad, kewajiban qadha bagi kelompok kedua ini boleh ditunda sesuai dengan batas kemampuan asalkan tidak sampai pada taraf menyepelekan. Berpijak dari ini, seseorang bisa melaksanakan aktivitas secara wajar, termasuk shalat tarawih, meski ia masih memiliki tanggungan shalat. Ulama yang menyandang gelar “Quthbud Dakwah wal Irsyad, sang poros dakwah dan petunjuk” tersebut berargumen dengan hadits Nabi “aku di utus membawa agama yang dicondongi dan murah”, “Permudahlah, jangan mempersulit.” 

Pendapat ini oleh Syekh Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur dinilai sebagai solusi yang tepat, dibandingkan dengan pendapat fuqaha lain yang mewajibkan segenap waktunya untuk mengqadha. Habib Abdurrahman menganggap pendapat fuqaha tersebut sangat berat sekali diterapkan di kalangan masyarakat.

Di dalam karyanya yang fenomenal, Bughyah al-Mustarsyidin, Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur berkata:

ومن كلام الحبيب القطب عبد الله الحداد ويلزم التائب أن يقضي ما فرَّط فيه من الواجبات كالصلاة والصوم والزكاة لا بد له منه ، ويكون على التراخي والاستطاعة من غير تضييق ولا تساهل فإن الدين متين 

“Di antara statemen Habib al-Quthb Abdullah al-Haddad adalah, wajib bagi orang yang bertaubat, mengqadha kewajiban-kewajiban yang ia teledor di dalamnya seperti shalat, puasa dan zakat yang diwajibkan baginya. Kewajiban ini atas jalan ditunda dan sesuai kemampuan tanpa memberatkan dan menyepelekan, sesungguhnya agama (Islam) adalah kuat.”

وقد قال : "بعثت بالحنيفية السمحاء". وقال : "يسروا ولا تعسروا" اهـ ، وهذا كما ترى أولى مما قاله الفقهاء من وجوب صرف جميع وقته للقضاء ، ما عدا ما يحتاجه له ولممونه لما في ذلك من الحرج الشديد

Nabi bersabda; “aku diutus dengan membawa agama yang dicondongi, yang murah” “permudahlah, jangan mempersulit,” Pendapat Habib Abdullah al-Haddad ini, seperti yang kamu lihat, lebih utama dari pada apa yang dikatakan fuqaha berupa kewajiban mengerahkan seluruh waktu untuk mengqadha selain waktu yang dibutuhkan untuk dirinya dan keluarga yang wajib ia tanggung, sebab pendapat tersebut terdapat keberatan yang sangat,” (Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 71).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur dan ia belum mengqadhanya, hukum shalat tarawih baginya terdapat ikhtilaf. Menurut mayoritas Syafi’iyyah haram, menurut Habib Abdullah al-Haddad boleh. Berbeda halnya dengan orang yang memiliki tanggungan shalat yang ditinggalkan karena uzur, maka ulama sepakat membolehkan shalat tarawih.

Perbedaan pendapat dalam masalah ini hendaknya disikapi dengan bijaksana. Seperti yang disampaikan Imam Abdul Wahhab al-Syarani di dalam kitab al-Mizan al-Kubra, bahwa pendapat yang berat diperuntukan untuk orang yang kuat imannya, sedangkan pendapat ringan diberikan untuk masyarakat yang lemah imannya. Yang perlu disampaikan juga adalah, bahwa dengan shalat tarawih tidak kemudian kewajiban mengqadha shalat menjadi gugur. Di samping ajakan tarawih, perlu juga penekanan mengenai kewajiban mengqadha shalat. Jangan sampai fatwa di tengah umat menyebabkan hal yang tidak diinginkan, seperti masyarakat justru enggan melaksanakan tarawih. Perlu pendekatan yang baik agar mereka berangsur menjadi manusia yang bertaqwa dengan sempurna. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.

Sabtu 11 Mei 2019 20:45 WIB
Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan
Syarat Wajib dan Rukun Puasa Ramadhan

Syarat Wajib Puasa

Syarat wajib adalah syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum melaksanakan suatu ibadah. Seseorang yang tidak memenuhi syarat wajib, maka gugurlah tuntutan kewajiban kepadanya. Sedangkan rukun adalah hal-hal yang harus dilakukan dalam sebuah ibadah.

Adapun syarat pertama seseorang itu diwajibkan menjalankan ibadah puasa, khususnya puasa Ramadhan, yaitu ia seorang muslim atau muslimah. Karena puasa adalah ibadah yang menjadi keharusan atau rukun keislamannya, sebagaimana termaktub dalam hadits yang diriwayat kan oleh Imam Turmudzi dan Imam Muslim:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ

“Dari Abi Abdurrahman, yaitu Abdullah Ibn Umar Ibn Khattab r.a, berkata: saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Islam didirikan dengan lima hal, yaitu persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, didirikannya shalat, dikeluarkannya zakat, dikerjakannya hajji di Baitullah (Ka’bah), dan dikerjakannya puasa di bulan Ramadhan.” (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 7 dan Muslim: 19)

Syarat yang kedua seseorang itu berkewajiban menjalankan ibadah puasa Ramadhan, yaitu ia sudah baligh, dengan ketentuan ia pernah keluar mani dari kemaluannya baik dalam keadaan tidur atau terjaga, dan khusus bagi perempuan sudah keluar haid. Dan syarat keluar mani dan haid pada batas usia minimal 9 tahun.

Dan bagi yang belum keluar mani dan haid, maka batas minimal ia dikatakan baligh pada usia 15 tahun dari usia kelahirannya. Syarat ketentuan baligh ini menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadhan tidak diwajibkan bagi seorang anak yang belum memenuhi ciri-ciri kebalighan yang telah disebutkan di atas.

Syarat yang ketiga bagi seorang muslim dan baligh itu terkena kewajiban menjalankan ibadah puasa, apabila ia memiliki akal yang sempurna atau tidak gila, baik gila karena cacat mental atau gila disebabkan mabuk.

Seseorang yang dalam keadaan tidak sadar karena mabuk atau cacat mental, maka tidak terkena hukum kewajiban menjalankan ibadah puasa, terkecuali orang yang mabuk dengan sengaja, maka ia diwajibkan menjalankan ibadah puasa di kemudian hari (mengganti di hari selain bulan Ramadhan alias qadha).


رُفِعَ اْلقَلَمُ عَنْ ثَلَاثٍ عَنْ النّائِمِ حَتّى يَسْتَيْقِظُ وَعَنِ اْلمَجْنُوْنِ حَتّى يُفِيْقَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَبْلُغَ

“Tiga golongan yang tidak terkena hukum syar’i: orang yang tidur sapai ia terbagngun, orang yang gila sampai ia sembuh, dan anak-anak sampai ia baligh.” (Hadits Shahih, riwayat Abu Daud: 3822, dan Ahmad: 910. Teks hadits riwayat al-Nasa’i)

Syarat keempat adalah kuat menjalankan ibadah puasa. Selain Islam, baligh, dan berakal, seseorang harus mampu dan kuat untuk menjalankan ibadah puasa. Apabila tidak mampu maka diwajibkan mengganti di bulan berikutnya atau membayar fidyah. Untuk keterangan lebih detailnya akan dijelaskan pada fasal selanjutnya yang insyaallah akan diterangkan pada pasal permasalahan-permasalahan yang berkenaan dengan ibadah puasa.

Syarat kelima Mengetahui Awal Bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan diwajibkan bagi muslim yang memenuhi persyaratan yang telah diuraikan di atas, apabila ada salah satu orang terpercaya (adil) yang mengetahui awal bulan Ramadhan dengan cara melihat hilal secara langsung dengan mata biasa tanpa peralatan alat-alat bantu. Dan persaksian orang tersebut dapat dipercaya dengan terlebih dahulu diambil sumpah, maka muslim yang ada dalam satu wilayah dengannya berkewajiban menjalankan ibadah puasa. Dan apabila hilal tidak dapat dilihat karena tebalnya awan, maka untuk menentukan awal bulan Ramadlon dengan menyempurnakan hitungan tanggal bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

Sebagaimana hadits Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُواعِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ 

“Berpuasa dan berbukalah karena melihat hilal, dan apabila hilal tertutup awan maka sempurnakanlah hitungannya bulan menjadi 30 hari.” (HR. Imam Bukhari)

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: جَاءَ اَعْرَبِيُّ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اِنِّي رَاَيْتُ اْلهِلَالَ فَقَالَ: اَتَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلّاَ اللهَ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: اَتَشْهَدُ اَنْ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ؟ قَالَ: يَا بِلَالُ اَذِّنْ فِى النَّاسِ فَلْيَصُوْمُوْا غَدًا 

“Dari ‘Ikrimah, ia dapatkan dari Ibnu Abbas, berkata: datanglah orang Arab Badui menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ia berkata: sesungguhnya aku telah melihat hilal. Nabi menjawab: apakah kamu akan bersaksi (bersumpah) “sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah”, orang Arab Badui tadi menjawab; “ia”. Lalu Nabi bertanya lagi: apakah kamu akan bersaksi (bersumpah) “ sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah”, dan Orang Arab Badui menjawab “ia”. Lalu Nabi bersabda; “wahai Bilal perdengarkanlah adzan ditengah-tengah kerumunan manusia, dan perintahkanlah mereka untuk mengerjakan puasa pada esok hari,” (Hadits Shahih diriwayatkan oleh lima Imam, kecuali Ahmad).

Baca juga:
10 Amalan Sunnah dalam Berpuasa
Delapan Hal yang Membatalkan Puasa
Rukun Puasa

Adapun rukun puasa hanya dua, pertama niat. Niat puasa Ramadhan merupakan pekerjaan ibadah yang diucapkan dalam hati dengan persyaratan dilakukan pada malam hari dan wajib menjelaskan kefardhuannya didalam niat tersebut, contoh; saya berniat untuk melakukan puasa fardlu bulan Ramadhan, atau lengkapnya dalam bahasa Arab, sebagai berikut:

نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانِ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالىَ

“Saya niat mengerjakan ibadah puasa untuk menunaikan keajiban bulan Ramadhan pada tahun ini, karena Allah s.w.t, semata.”

Sedangkan dalil yang menjelaskan niat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut:


 مَنْ لَمْ يَجْمَعِ الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ 

“Siapa yang tidak membulatkan niat mengerjakan puasa sebelum waktu hajar, maka ia tidak berpuasa,” (Hadits Shahih riwayat Abu Daud: 2098, al-Tirmidz: 662, dan al-Nasa’i: 2293).

Adapun dalil yang menjelaskan waktu mengucapkan niat untuk puasa sunnah, bisa dilakukan setelah terbit fajar, yaitu:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : دَخَلَ عَلَّيَّ رَسُولُ اللهِ صَلِّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ شَيْءٍ ؟ فَقُلْنَا لَا فَقَالَ: فَاِنِّي اِذًنْ صَائِمٌ. ثُمَّ اَتَانَا يَوْمًا اَخَرَ، فَقُلْنَا: يَارَسُوْلَ اللهِ اُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ: اَرِيْنِيْهِ فَلَقَدْ اَصْبَحْتُ صَائِمًا فَاَكَلَ 

“Dari Aisyah r.a, ia menuturkan, suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadaku dan bertanya, “apakah kamu punya sesuatu untuk dimakan?”. Aku menjawab, “Tidak”. Maka Belaiu bersabda, “hari ini aku puasa”. Kemudian pada hari yang lain Beliau dating lagi kepadaku, lalu aku katakana kepadanya, “wahai Rasulullah, kami diberi hadiah makanan (haisun)”. Maka dijawab Rasulullah, “tunjukkan makanan itu padaku, sesungguhnya sejak pagi aku sudah berpuasa” lalu Beliau memekannya.” (Hadits Shahih, riwayat Muslim: 1952, Abu Daud: 2099, al-Tirmidzi; 666, al-Nasa’i: 2283, dan Ahmad: 24549)

Dan rukun kedua adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa. Untuk detailnya apa-apa yang membatalkan puasa akan dijelaskan pada pasal sesuatu yang membatalkan puasa.

فَاْلئَنَ باَشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ اْلخَيْطُ اْلاَبْيَضُ مِنَ اْلخَيْطِ اْلاَسْوَدِ مِنَ اْلفَجْرِ ثُمَّ اَتِّمُوْا الصِّيَامَ اِلَى اللَّيْلِ

“…maka sekarang campurilah, dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu, serta makan dan minumlah sampai waktu fajar tiba dengan dapat membedakan antara benang putih dan hitam. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai waktu malam tiba...(QS. al-Baqarah, 2: 187) 

Wallahu a’lam


(Ustadz Syaifullah Amin)


:::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali pada 10 Juli 2013. Redaksi mengunggahnya kembali pada Ramadhan kali ini dengan sedikit penyuntingan

Sabtu 11 Mei 2019 18:30 WIB
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Witir
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Witir
Ilustrasi (via Pinterest)
Ritual yang tidak bisa dilepaskan dari shalat tarawih adalah tiga rakaat shalat witir yang dilakukan setelahnya. Biasanya, setelah tarawih selesai, dibacakan doa kamilin oleh imam dengan diamini oleh segenap jamaah. Setelah membaca doa kamilin, dikumandangkan seruan shalat witir oleh sang bilal sebagai tanda akan segera dilakukan shalat witir. 

Bacaan surat Al-Qur’an shalat witir bisa berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang membaca Surat al-A’la, sebagian membaca al-Ghasyiyah, dan lain sebagainya. Itu untuk dua rakaat awal. Sedangkan untuk satu rakaat terakhir, hampir di setiap tempat membaca surat al-Iklash, al-Falaq dan an-Nas. Sebenarnya, apa bacaan Surat Al-Qur’an yang dianjurkan dalam shalat witir?

Baca juga: 
Bacaan Surat Al-Qur’an dalam Shalat Tarawih
Bacaan Bilal dan Jawabannya dalam Tarawih
Doa Kamilin, Dibaca Sesudah Shalat Tarawih
Ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat bahwa yang disunnahkan dibaca pada dua rakaat awal shalat witir adalah Surat al-A’la (rakaat pertama) dan al-Kafirun (rakaat kedua).

Sedangkan untuk satu rakaat akhir, terdapat ikhtilaf (perbedaan pendapat). Menurut Syafi’iyyah, yang dibaca adalah Surat al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas), sementara menurut Hanabilah cukup Surat al-Ikhlash, tanpa al-Mu’awwidzatain.

Dasar yang dipakai kalangan Syafi’iyyah adalah hadits riwayat an-Nasai dan Ibnu Majah, ketika Sayyidah Aisyah ditanya, surat apa yang dibaca Nabi di dalam shalat witir, beliau menjawab, rakaat pertama surat al-A’la, rakaat kedua surat al-Kafirun, rakaat ketiga al-Ikhlash dan al-Mu’awwidzatain.

Syekh Zainuddin al-Malibari berkata:

ويسن لمن أوتر بثلاث أن يقرأ في الأولى {سَبِّحِ} وفي الثانية {الْكَافِرُون} وفي الثالثة الإخلاص والمعوذتين للاتباع

“Dan sunnah bagi orang yang berwitir tiga rakaat, membaca surat Sabbihis di rakaat pertama, surat al-Kafirun di rakaat kedua, surat al-Ikhlas dan al-Mu’awwidzatain di rakaat ketiga, karena mengikuti Nabi,” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 290).

Mengomentari referensi tersebut, Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad mengatakan:

ـ (قوله: ويسن لمن أوتر بثلاث أن يقرأ الخ) أي لما رواه النسائي وابن ماجة: سئلت عائشة رضي الله عنها بأي شئ كان يوتر رسول الله - صلى الله عليه وسلم -؟ قالت: كان يقرأ في الأولى بسبح اسم ربك الأعلى، وفي الثانية بقل يا أيها الكافرون، وفي الثالثة بقل هو الله أحد والمعوذتين

“Ucapan Syekh Zainuddin; “dan sunnah bagi orang yang berwitir tiga rakaat dan seterusnya”; karena hadits riwayat Imam an-Nasai dan Ibnu Majah, bahwa Sayyidah Aisyah ditanya, dengan apa Nabi melakukan witir? Aisyah menjawab, Nabi di rakaat pertama membaca Sabbihi Isma rabbikal A’la, di rakaat kedua membaca Qul Ya Ayyuhal Kafirun, dan di rakaat ketiga membaca Qul huwa Alllahu Ahad dan al-Mu’awwidzatain,” (Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad al-Bakri, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 290).

Ulama Hanabilah berargumen dengan hadits riwayat Ubay bin Ka’ab bahwa Nabi membaca di dalam shalat witir surat al-A’la, al-Kafirun dan al-Ikhlash, tanpa menyebutkan al-Mu’awwidzatain. Menurut kalangan Hanabilah, hadits yang disampaikan Syafi’iyyah terdapat Yahya bin Ayyub yang notabenenya lemah riwayatnya.

Syekh Ibnu Quddamah menjelaskan:

فصل: ويستحب أن يقرأ في ركعات الوتر الثلاث، في الأولى ب {سبح} ، وفي الثانية {قل يا أيها الكافرون} [الكافرون: 1] ، وفي الثالثة {قل هو الله أحد} [الإخلاص: 1] . وبه قال الثوري، وإسحاق، وأصحاب الرأي. وقال الشافعي: يقرأ في الثالثة {قل هو الله أحد} [الإخلاص: 1] ، والمعوذتين. وهو قول مالك في الوتر. وقال في الشفع: لم يبلغني فيه شيء معلوم

“Fasal, disunnahkan membaca di beberapa rakaat witir yang tiga, di rakaat pertama membaca surat Sabbihis, rakaat kedua qul ya ayyuhal kafirun dan rakaat ketiga qul huwa Allahu Ahad, ini adalah pendapatnya al-Tsauri, Ishaq dan para pemilik pendapat (Hanafiyyah). Imam al-Syafii berkata, di rakaat ketiga membaca qul huwa Allahu Ahad dan al-Muawwidzatain, ini adalah ucapannya Imam Malik dalam kasus rakaat ganjil. Sedangkan untuk rakaat genap, Imam Malik berkata, tidak ada hadits yang diketahui menerangkan hal tersebut.”

وقد روي عن أحمد، أنه سئل، يقرأ بالمعوذتين في الوتر؟ قال: ولم لا يقرأ، وذلك لما روت عائشة، «أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - كان يقرأ في الركعة الأولى " بسبح "، وفي الثانية " قل يا أيها الكافرون "، وفي الثالثة " قل هو الله أحد "، والمعوذتين» ، رواه ابن ماجه

“Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa beliau ditanya, apakah beliau membaca surat al-Muawwidzatain di dalam witir? Beliau menjawab, kenapa tidak dibaca surat itu? Yang demikian ini berdasarkan hadits Nabi, bahwa Rasulullah membaca di rakaat pertama surat sabbihis dan qul ya ayyuhal kafirun, di rakaat ketiga surat Qul Huwa Allahu Ahad dan al-Muawwidzatain. Hadits diriwayatkan Ibnu Majah.”

ولنا: ما روى أبي بن كعب، قال «كان رسول الله - صلى الله عليه وسلم - يوتر " بسبح اسم ربك الأعلى و " قل يا أيها الكافرون " و " قل هو الله أحد» رواه أبو داود، وابن ماجه. وعن ابن عباس مثله. رواه ابن ماجه

“Dan menunjukan kepada pendapat kami, hadits riwayat Ubay bin Ka’ab beliau berkata; Rasulullah melakukan witir dengan membaca Sabbihisma rabbikal a’la, Qul ya ayyuhal kafirun dan Qul huwa Allahu ahad. Hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah. Dan dari Ibnu Abbas terdapat riwayat yang senada, hadits riwayat Ibnu Majah.”

 وحديث عائشة في هذا لا يثبت؛ فإنه يرويه يحيى بن أيوب، وهو ضعيف. وقد أنكر أحمد ويحيى بن معين زيادة المعوذتين

“Dan haditsnya Aisyah di dalam kasus ini tidak tetap (kesahihannya), sesungguhnya hadits tersebut diriwayatkan oleh Yahya bin Ayyub, dan ia tergolong lemah. Imam Ahmad dan Yahya bin Muin mengingkari penambahan surat al-Muawwidzatain,” (Syekh Ibnu Quddamah, al-Mughni, juz 2, hal. 121).

Demikianlah penjelasan mengenai bacaan surat Al-Qur’an dalam shalat witir. Ikhtilaf ulama dalam hal ini tidak untuk bahan saling menyalahkan. Silakan mengikuti pendapat yang kita yakini benar, tanpa harus mencela pendapat lain. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.