IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Cashback pada Aplikasi Dompet Digital, Apakah Masuk Riba?

Senin 13 Mei 2019 14:45 WIB
Share:
Cashback pada Aplikasi Dompet Digital, Apakah Masuk Riba?
Assalamu 'alaikum,
Yth. Redaksi NU Online. Saya seorang penjual pulsa yang memakai aplikasi dompet digital. Yang mau saya tanyakan bagaimana hukumnya kalau dapat cashback dari aplikasi dompet digital 50% misalnya dengan max cashback 25.000 ribu rupiah dan saya pakai cashback itu saat ada pembeli pulsa 50.000 ribu rupiah, jadi saya bayar ke aplikasi dompet digital 25.000 ribu rupiah namun yang saya dapat dari pembeli uang tunai 45.000 sampai 50.000 ribu rupiah. Jadi keuntungan saya 20.000 sampai 25.000 rupiah saat ada cashback. Apakah transaksi seperti ini termasuk riba atau bukan? Sebelumnya terima kasih atas jawabannya. Salam. (M Arifin, Warga NU Desa Gampang)

Jawaban

Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh
Penanya yang budiman, semoga rahmat Allah subhanahu wata’ala senantiasa tercurah kepada kita sehingga kita senantiasa diberi kelancaran dalam menjalani rutinitas sehari-hari. 

Pada intinya, pertanyaan Saudara bisa saya petakan sebagai berikut:

1. Hukum cashback dari penggunaan aplikasi digital
2. Hukum saat cashback tersebut dipergunakan untuk transaksi jual beli pulsa
3. Apakah dari kedua transaksi ini ada unsur ribanya?

Hukum cashback penggunaan aplikasi digital

Saudara penanya yang dirahmati Allah! Saat kita bertransaksi belanja dengan menggunakan aplikasi tertentu, misalnya lewat Tokopedia atau Lazada, dan aplikasi semisalnya, kadang setelah selesai transaksi kita mendapatkan kembalian berupa cashback yang diberikan langsung oleh admin masing-masing pengembang aplikasi. Cashback ini langsung masuk ke dalam dompet saldo deposit kita, sehingga berwujud sebagai uang digital yang bisa kita pakai apa saja untuk melakukan transaksi kembali. 

Hukum cashback ini adalah halal, statusnya sama dengan cashback yang kita terima akibat adanya program diskon di Supermarket atau mal di Jakarta atau kota besar lainnya. Jadi, sampai di sini statusnya jelas khusus untuk cashback ini. Persis sama dengan ketika Anda jual beli secara langsung tatap muka, lalu Anda mendapatkan uang kembalian karena kebetulan ada program diskon.

Baca juga:
Adakah Unsur Riba pada Aplikasi GoPay, OVO dan GoFood?
Hukum Aparat Mematok Tarif dan Membatasi Gerak Taksi Online
Cashback yang masuk ke dalam dompet deposit

Status cashback yang masuk dalam dompet saldo deposit adalah berstatus duyun (utang perusahaan ke nasabah). Ia kedudukannya sama dengan status hukum uang virtual yang terdapat di dalam kartu e-tol dan sejenisnya. Dengan demikian, uang itu adalah uang user (pengguna/retailer). Ia bisa menggunakan kapan saja. 

Apakah statusnya ada ribanya? Riba bisa diputuskan manakala ada pengurangan atau penambahan jumlahnya akibat pengelolaan dari admin. Dan selama ini, yang dijumpai oleh penulis, saldo deposit itu tidak bertambah ataupun berkurang. Dengan demikian, positif tidak ada ribanya. 

Saat saldo deposit ditambah oleh user untuk belanja pulsa

Pada saat user memutuskan penambahan saldo deposit pada dompet deposit yang dimiliki, pada dasarnya akad yang dipergunakan oleh user adalah akad wadi'ah yadu al dlammânah (titip dengan jaminan dapat diambil sesuai jumlahnya, kapan saja). Status deposit yang terkumpul adalah duyun (utang admin ke user). 

Jika total deposit awal adalah sebesar 20 ribu rupiah, sementara penambahan deposit adalah sebesar 35 ribu rupiah maka total deposit adalah sebesar 55 ribu rupiah. 

Dan jika nilai pulsa yang dijual sebesar 50 ribu rupiah, dengan harga jual pulsa senilai 52 ribu rupiah, maka pada dasarnya nilai 52 ribu ini bukan tukar menukar uang 52 ribu dengan 50 ribu, melainkan akad sewa "manfaat" pulsa senilai 50 ribu dengan besar nilai sewa 52 ribu. Jadi, transaksi ini tidak masuk dalam transaksi ribawi melainkan transaksi ijarah (sewa menyewa manfaat). 

Apakah pulsa merupakan manfaat? Iya, pulsa adalah manfaat. Oleh karenanya ia masuk dalam rumpun harta. Ingat bahwa yang dimaksud dengan harta adalah kadang berupa barang wujud dan kadang berupa manfaat. Itulah sebabnya, pulsa menempati maqam "harta". 

Jika pulsa 50 ribu, saudara penanya jual dengan harga 45 ribu dengan memanfaatkan saldo deposit, maka itu masuk akad bai'u al-khassârah (banting harga). Apakah boleh? Boleh. Bahkan andaikan saudara jual dengan harga 30 ribu dengan memanfaatkan saldo deposit pun juga boleh. Sudah pasti kerugian ada pada saudara. Dan ini bukan termasuk akad riba. 

Demikian jawaban dari kami, semoga jawaban singkat ini dapat membantu memecah pemahaman saudara. Wallahu a'lam bish shawab


Ustadz Muhammad Syamsudin, Sekretaris Bidang Maudlu'iyah LBM PWNU Jawa Timur; Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Share:
Ahad 12 Mei 2019 18:45 WIB
Hukum Jual Beli Produk KW
Hukum Jual Beli Produk KW
(Foto: @via bpn.ge)
Assalamu alaikum.
Saya mau tanya. Apakah boleh kita menjual barang kw “kawe” (baju, jaket dan lain-lain). Barang kw yang saya maksud adalah meniru merknya saja, dari segi kualitas bahan, sablon, design mungkin sangat berbeda dengan yang original, hanya saja barangnya ber-merk sama, rata-rata merk yang digunakan dari luar negeri seperti dari New York, Rusia dan lain-lain, seperti baju distroan/toko-toko pada umumnya.

Kualitas barang yang saya jual termasuk bagus, karena menggunakan bahan pilihan. Saya juga menjelaskan bahwa barang yang saya jual itu premium (kw dengan kualitas super), baik ketika ada pembeli yang bertanya ataupun di deskripsi produk saya.

Soalnya mencari yang asli susah sekali, yang asli harganya juga selangit dan susah tersentuh oleh konsumen. Bagaimana hukum jual beli barang kw? Mengingat semua barang sekarang ada kw dan tidaknya, susah sekali untuk mencari ide untuk berdagang karena hampir semua barang itu kw, hanya beberapa persennya asli, dan itu sangat sulit sekali dicari. Terima kasih. (Achmad Ashrofi)

Jawaban
Wa’alaikumussalam wr.wb.
Saudara penanya dan pembaca yang budiman, semoga mendapatkan pemahaman agama yang baik, serta usaha yang lancar dan berkah.

Jual beli produk kw yang telah memenuhi syarat dan rukunnya adalah sah, tetapi haram dan berdosa, karena dharar, yakni dapat menimbulkan kerugian pihak lain, dalam hal ini penjual dan/atau produsen produk originalnya. Hal ini karena tidak ada izin atau toleransi dari produsen dan/atau penjual produk original tersebut. Jual beli produk kw demikian termasuk ke dalam jenis jual beli yang dilarang oleh syara’.

Jual beli yang dilarang oleh syara’ secara garis besar ada dua macam. Pertama, jual beli yang dilarang syara’ karena sebab internal (entitas/’ain), yaitu ada larangan syara’ terhadap jual beli tersebut. Kedua, jual beli yang dilarang syara’ karena sebab eksternal (di luar entitas).

Jual beli yang ada larangan internal, seperti riba dan jual beli yang mengandung gharar, merupakan jenis jual beli yang fâsid, yakni rusak atau tidak sah (batal). Adapun jual beli yang ada larangan sebab eksternal, seperti menimbulkan dharar (kerugian) terhadap orang/pihak lain, merupakan jenis jual beli yang tidak fâsid (tidak rusak), artinya tetap sah bila telah memenuhi syarat dan rukunnya, tetapi hukumnya haram.

Ibnur Rusyd (520-595 H) dalam Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid mengatakan bahwa:

وأما التي ورد النهي فيها لأسباب من خارج; فمنها الغش; ومنها الضرر; ...

والجمهور على أن النهي إذا ورد لمعنى في المنهي عنه أنه يتضمن الفساد مثل النهي عن الربا والغرر، وإذا ورد الأمر من خارج لم يتضمن الفساد

Artinya, “Adapun jual beli yang ada larangan syara’ terhadapnya karena sebab-sebab dari luar (sebab eksternal) maka termasuk dalam jenis jual beli ini adalah jual beli yang mengandung manipulasi, pemalsuan atau tipu daya ghasysy), dan jual beli yang mengandung dharar, yakni merugikan terhadap diri sendiri atau orang/pihak lain... Jumhur ulama menyatakan bahwa larangan terhadap jual beli bila merupakan larangan karena substansi atau entitas obyek (barang) yang dilarang itu sendiri maka berakibat hukum fasad, yakni rusak atau tidak sahnya jual beli (batal), seperti larangan riba dan jual beli obyek gharar (ketidakjelasan, seperti jual beli ikan di dalam lautan --pen); tetapi bila larangan itu karena ada sebab dari luar (aspek eksternal), maka jual beli tersebut tidak berakibat hukum rusaknya jual beli. (Lihat Al-Imâm Al-Qâdhî Abû Walîd Muhammad Ibnur Rusyd ,Bidâyatul Mujtahid wa Nihâyatul Muqtashid [Beirut, Dârul Ma‘rifah: 1982 M], juz II, halaman 125, dan 167).

Jual beli fâsid misalnya, jual beli najasy, yaitu seseorang melakukan penawaran harga yang lebih tinggi terhadap suatu barang, padahal tidak bermaksud untuk membelinya, tetapi untuk aspek memberikan manfaat (keuntungan) bagi si penjual dan mengakibatkan kerugian si pembeli. Jual beli ini, menurut mazhab Hanafiyah dan Syafiiyah hukumnya boleh (sah), tetapi pelakunya berdosa.

Kaidah yang berkaitan dengan masalah jual beli barang kw adalah kaidah yang dikemukakan oleh kelompok Hanbali dan para fuqaha yang menyatakan bahwa:

اَلْأَصْلُ فِي الْعُقُوْدِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهَا مِنْ شُرُوْطٍ اَلْإبِاَحَةُ مَا لَمْ يَمْنَعْهَا الشَّرْعُ أَوْ تُخَالِفْ نُصُوْصَ الشَّرْعِ.

Artinya, ”Prinsip dasar di dalam akad dan segala hal yang berhubungan dengannya, termasuk syarat, adalah boleh selama tidak dilarang oleh syara’ atau bertentangan dengan nash-nash syara,’” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islâmî wa Adillatuhu, [Beirut, Dârul Fikr: 2009 M], juz IX, halaman 194).

Dengan demikian, jual beli barang kw termasuk ke dalam jual beli yang bertentangan dengan nash-nash syara’, dalam hal ini nash mengenai larangan berbuat dharar (madharat, merugikan), terhadap diri sendiri dan/atau orang/pihak lain. Maka jual beli produk kw sedapat mungkin harus dihindarkan.

Untuk itu kami sarankan kepada setiap orang yang berbisnis agar bisa kreatif dan inovatif dalam membuat produk dan brand tersendiri.

Demikian penjelasan ini semoga dapat dipahami dengan baik. Kami terbuka menerima masukan dari pembaca yang budiman.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu ’alaikum wr.wb.


(Ustadz Ahmad Ali MD, Pengurus Lembaga Dakwah PBNU)
Sabtu 11 Mei 2019 14:10 WIB
Kondisi Junub hingga Pagi karena Tertidur, Apakah Puasa Bisa Dilanjutkan?
Kondisi Junub hingga Pagi karena Tertidur, Apakah Puasa Bisa Dilanjutkan?
(Foto: @qz.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, bagaimana jika dalam kondisi junub atau berhadats besar, terus tertidur hingga pagi tanpa sempat sahur dan mandi junub? Pakah puasanya bisa dilanjutkan? Mohon penjelasannya. Wassalamu alaikum wr. wb. (Hamba Allah/Jakarta)

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Puasa merupakan ibadah yang menuntut seseorang untuk menahan diri dari syahwat makanan-minuman dan syahwat kelamin selama waktu puasa, dari terbit fajar sampai matahari terbenam. Dengan dmeikian, selama waktu puasa seseorang dilarang untuk melakukan aktivitas makan, minum, dan aktivitas seksual dalam pengertian hubungan badan.

Lalu bagaimana jika seseorang memiliki hadats besar atau dalam kondisi junub/janabah di malam yang mengharuskannya mandi junub, lalu tertidur hingga pagi yang menjadi bagian dari waktu ibadah puasa?

Kami pada kesempatan ini merujuk pada hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Riwayat keduanya menceritakan pengalaman Rasulullah SAW yang masih dalam kondisi junub di pagi hari puasa sebagaimana keterangan istrinya.

عن عائشة وأم سلمة رضي الله عنهما "أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ جِمَاعٍ ثُمَّ يَغْتَسِلُ ويَصُومُ" متفق عليه وزاد مسلم في حديث أم سلمة "وَلَا يَقْضِي

Artinya, “Dari Aisyah RA dan Ummu Salamah RA, Nabi Muhammad SAW pernah berpagi hari dalam kondisi junub karena jimak, kemudian beliau mandi, dan terus berpuasa,” (HR Muttafaq Alaih.) Imam Muslim dalam riwayat dari Ummu Salamah RA menyebutkan, “Rasulullah SAW tidak mengaqadha.”

Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki menerangkan, redaksi “Rasulullah SAW tidak mengaqadha” mengisyaratkan bahwa puasa yang dijalani oleh Rasulullah SAW di hari tersebut tidak berkekurangan sesuatu apapun.

ولا يقضي أ ي صوم ذلك اليوم لأنه صوم صحيح لا خلل فيه

Artinya, “’ Rasulullah SAW tidak mengaqadha’ maksudnya adalah tidak mengqadha puasa hari tersebut di bulan lainnya karena puasanya hari itu tetap sah tanpa cacat sedikitpun di dalamnya,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 312).

Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki menjelaskan, dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa orang yang berhadats besar boleh menunda mandi junub hingga pagi hari.

جواز تأخير الغسل من الجنابة للصائم إلى ما بعد طلوع الفجر والأفضل التعجيل بالغسل قبل الفجر

Artinya, “Orang yang berpuasa boleh menunda mandi junub hingga waktu setelah fajar terbit. Tetapi yang lebih utama adalah ia menyegerakan mandi wajib sebelum terbit fajar atau sebelum Subuh,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 313).

Dari penjelasan singkat ini, kita dapat menarik simpulan bahwa orang dalam keadaan janabah yang tertidur hingga pagi hari sehingga lupa mandi junub harus terus melanjutkan ibadah puasanya. Ia cukup mandi junub lalu berpuasa hingga matahari tenggelam. Puasanya terbilang sah tanpa perlu mengqadhanya.

Islam membolehkan orang yang junub untuk menunda mandi wajibnya di bulan Ramadhan maupun di luar bulan Ramadhan. Tetapi kami menyarankan orang yang junub sebaiknya segera melakukan mandi wajib agar ia menjalani ibadah puasa seharian dalam keadaan suci dari hadats besar.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Ahad 5 Mei 2019 11:0 WIB
Hukum Memakai Softlens saat Puasa
Hukum Memakai Softlens saat Puasa
(Foto: @girlisme.com)
Assalamu alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, saya salah seorang pengguna softlens, lensa mata, atau lensa kontak karena mengalami masalah pada penglihatan. Yang saya tanyakan bagaimana bila saya menggunakan softlens pada saat saya berpuasa? Apakah puasa saya tetap sah? Terima kasih. Wassalamu alaikum wr. wb. (Rahmi Nurul Aini/Jakarta Selatan).

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam ibadah puasa adalah menjaga diri agar tidak ada benda yang masuk ke dalam tubuh melalui lubang-lubang di tubuh yang tersedia, seperti mulut, hidung, telinga, dan dua lubang kemaluan.

Adapun mata yang dilekatkan softlens tidak termasuk lubang yang perlu dijaga saat puasa. Hal ini disebutkan oleh Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin dari Mazhab Syafi’i dalam Busyral Karim berikut ini:

قوله )الرابع الإمساك عن دخول عين جوفا كباطن الأذن والإحليل بشرط دخوله من منفذ مفتوح(… و )خرج( بمن منفذ مفتوح وصولها من منفذ  غير مفتوح

Artinya, “(Keempat adalah menahan diri dari masuknya suatu benda ke dalam lubang seperti bagian dalam telingan dan lubang kemaluan dengan syarat masuk melalui lubang terbuka)... Di luar dari pengertian ‘melalui lubang terbuka’, masuknya sebuah benda melalui lubang yang tidak terbuka,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim bi Syarhil Muqaddimah Al-Hadhramiyyah, [Beirut, Darul Fikr: 1433-1434 H/2012 M], juz II, halaman 460-461).

Dalam kasus softlens atau benda yang masuk ke dalam mata saat puasa, para ulama berbeda pendapat. Perbedaan pandangan ulama diulas oleh Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam Ibanatul Ahkam ketika membahas hadits berikut ini:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا, - أَنَّ اَلنَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - اِكْتَحَلَ فِي رَمَضَانَ, وَهُوَ صَائِمٌ - رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَهْ بِإِسْنَادٍ ضَعِيفٍ. قَالَ اَلتِّرْمِذِيُّ: لَا يَصِحُّ فِيهِ شَيْءٌ

Artinya, “Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bercelak di Bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa,” (HR Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif. At-Tirmidzi mengatakan, perihal ini tidak ada kabar yang shahih).

Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki menyebutkan bahwa mata bukan lubang di tubuh yang harus dipelihara. Menurut keduanya, tindakan bercelak bagi orang yang berpuasa tidak membatalkan puasanya.

يفطر الصائم مما يدخل إلى جوفه من منفذ كفمه وأنفه ولذا كرهت المبالغة في المضمضة والاستنشاق للصائم أما العين فإنها ليست بمنفذ معتاد ولهذا فلو اكتحل الصائم لا يكون مفطرا 

Artinya, “Puasa seseorang menjadi batal karena sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya melalui lubang seperti mulut dan hidung. Oleh karena itu, hukum tindakan berlebihan dalam berkumur dan menghirup air ke dalam hidung makruh bagi orang yang berpuasa. Sedangkan mata bukan lubang yang lazim. Oleh karenanya, tindakan bercelak oleh orang yang berpuasa tidak membatalkan puasanya,’” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 303).

Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki mengangkat perbedaan pendapat ulama perihal bercelak di siang hari saat puasa sebagai berikut ini: 

جواز اكتحال الصائم نهارا قالت الشافعية والحنفية الاكتحال للصائم جائز ولا يفطر سواء أوجد طعمه في حلقه أم لا، ولكنه عند الشافعية خلاف الأولى. وقالت المالكية والحنابلة يفسد الصوم بالاكتحال نهارا إذا وجد طعمه في فمه ويكره إذا لم يجد طعمه في فمه 

Artinya, “Perihal bercelak mata di siang hari, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanafi mengatakan, orang yang sedang berpuasa boleh bercelak mata. Puasanya tidak batal baik celak itu terasa di tenggorokan atau tidak terasa. Tetapi menurut ulama Syafi’iyah, bercelak saat puasa di siang hari menyalahi keutamaan. Sedangkan Mazhab Maliki dan Mazhab Hanbali menyatakan, puasa seseorang batal karena bercelak siang bila terdapat bahan materialnya terasa di lidah. Tetapi tindakan itu dimakruh [tanpa membatalkan puasa] bila materialnya tidak terasa di lidah,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 303-304).

Dari pelbagai keterangan di atas, kita dapat menarik simpulan bahwa para ulama berbeda pendapat perihal penggunaan softlens saat puasa. Tetapi masyarakat Indonesia yang mayoritas pengikut Mazhab Syafi’i dapat mengikuti pandangan ulama syafi’iyah perihal pemakaian softlens di siang hari saat puasa. Hanya kami menyarankan agar softlens dipakai saat malam hari agar menghindari khilaful aula/menyalahi keutamaan.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)