IMG-LOGO
Hikmah

Cara Nabi Ayyub Menegur Prasangka Buruk Saudaranya pada Allah

Senin 13 Mei 2019 17:30 WIB
Share:
Cara Nabi Ayyub Menegur Prasangka Buruk Saudaranya pada Allah
Dalam kitab Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Imam al-Hafidz Ibnu Katsir menulis sebuah riwayat menarik tentang Nabi Ayyub ‘alaihissalam dan dua saudaranya. Berikut riwayatnya:

وحدثنا أبي، حدثنا أبو سلمة، حدثنا جرير بن حازم، عن عبد الله بن عبيد بن عمير قال: كان لأيوب، عليه السلام، أخوان فجاءا يوما، فلم يستطيعا أن يدنوا منه، من ريحه، فقاما من بعيد، فقال أحدهما للآخر: لو كان الله علم من أيوب خيرا ما ابتلاه بهذا، فجزع أيوب من قولهما جزعا لم يجزع من شيء قط، فقال: اللهم، إن كنت تعلم أني لم أبت ليلة قط شبعان وأنا أعلم مكان جائع، فصدقني، فصدق من السماء وهما يسمعان، ثم قال: اللهم، إن كنت تعلم أني لم يكن لي قميصان قط، وأنا أعلم مكان عار، فصدقني، فصدق من السماء وهما يسمعان، اللهم بعزتك ثم خر ساجدا، ثم قال: اللهم بعزتك لا أرفع رأسي أبدا حتى تكشف عني، فما رفع رأسه حتى كشف عنه

Ayahku bercerita, Abu Salamah bercerita, Jarir bin Hazim bercerita, dari ‘Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: “Ayyub ‘alaihissalam mempunyai dua orang saudara. Suatu hari keduanya mengunjunginya. Mereka tidak kuat berdekatan dengan Ayyub karena baunya. Keduanya berdiri dari kejauhan. Salah satu dari keduanya berkata: “Andai Allah mengetahui kebaikan Ayyub, ia tidak akan tertimpa musibah ini.”

Ayyub pun sedih karena ucapan dua saudaranya itu, dengan kesedihan yang tidak pernah dirasakan olehnya. Kemudian ia berdoa: “Ya Allah, kiranya Kau tahu bahwa aku tidak pernah tidur (dalam keadaan) kenyang, padahal aku tahu (bagaimana susahnya) keadaan orang kelaparan, maka benarkanlah aku.” Allah membenarkannya dari langit, dan kedua saudaranya mendengarnya.

Kemudian Ayyub berdoa (lagi): “Ya Allah, kiranya Kau tahu bahwa aku tidak memiliki pakaian, padahal aku tahu (bagaimana susahnya) keadaan orang telanjang, maka benarkanlah aku.” Allah membenarkannya (lagi) dari langit, dan kedua saudaranya mendengarnya.

“Ya Allah, dengan keagungan-Mu,” lalu Ayyub bersujud dan melanjutkan doanya, “Ya Allah, dengan keagungan-Mu aku tidak akan mengangkat kepalaku selamanya hingga Kau hilangkan (musibah ini) dariku.” Kemudian Ayyub tidak mengangkat kepalanya hingga Allah menghilangkan (musibah/penyakit) darinya. (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 2000, h. 1246)

****

Sebelum membahas kisah di atas, kita perlu tahu terlebih dahulu bahwa Sayyidina Ayyub ‘alaihissalam terkena sakit menahun yang luar biasa parahnya. Menurut Imam Qatadah, lamanya sekitar tujuh tahun, “sab’a sinîna wa asyhâran—tujuh tahun beberapa bulan,” yang tersisa dari tubuhnya tinggal mata, hati, jantung dan lidahnya. Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dikatakan, “mâ kâna baqiya min Ayyûb illâ ‘ainâhu wa qalbuhu wa lisânuhu—tidak tersisa dari (tubuh) Ayyub kecuali mata, hati dan lidahnya.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 54). Menurut Imam Wahb bin Munabbih, “makatsa fîl balâ’i tsalâtsa sinîna—Ayyub mengalami bala’ tiga belas tahun.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, 2000, h. 1245). Penggunaan kata “al-bala’” menunjukkan bahwa yang menimpanya tidak hanya penyakit, tapi berbagai macam musibah.

Imam Ibnu Katsir ketika menafsiri Surah al-Anbiyâ’ ayat 83: “dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang,” mengatakan:

يذكر تعالى عن أيوب، عليه السلام، ما كان أصابه من البلاء، في ماله وولده وجسده

“Allah menyebut kisah Ayyub ‘alaihissalam, yaitu kisah ketika ia terkena musibah dalam harta, anak dan jasadnya.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, 2000, h. 1244-45)

Sebelum terkena musibah, Sayyidina Ayyub ‘alaihissalam memiliki banyak anak dan harta melimpah, dari mulai binatang ternak sampai rumah yang nyaman. Lalu perlahan-lahan semuanya hilang, hingga kusta menguasai sekujur tubuhnya (bil jadzâm fî sâ’iri badanihi). (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, 2000, h. 1244-45).

Namun, tak pernah sekalipun ia mengeluh. Ia tegar menjalani hidupnya. Sabar dengan segala timpaan musibah. Kesabarannya tidak hanya ditunjukkan dengan tanpa mengeluh, tapi juga dengan terus beribadah yang tak kurang intensitasnya ketika tubuhnya masih sehat. Ketika isterinya memintanya berdoa kepada Allah agar disembuhkan (ud’ullaha fayusyfîka), Sayyidina Ayyub ‘alaihissalam tidak melakukannya (faja’ala lâ yad’û). Ia tetap teguh menerima semuanya, hingga suatu kejadian terjadi, yaitu ketika dua saudaranya berkunjung dan mengatakan sesuatu yang memberatkan hatinya. Ia sangat sedih mendengar ucapan kedua saudaranya, bukan karena susahnya keadaannya, tapi karena prasangka buruk mereka kepada Allah.

Ia pun berdoa dengan melantangkan suaranya agar keduanya mendengar. Ia berseru kepadaNya, “Ya Allah, kiranya Kau tahu bahwa aku tidak pernah tidur (dalam keadaan) kenyang, padahal aku tahu (bagaimana susahnya) keadaan orang kelaparan, maka benarkanlah aku,” dan berikutnya ia berdoa, “Ya Allah, kiranya Kau tahu bahwa aku tidak memiliki pakaian, padahal aku tahu (bagaimana susahnya) keadaan orang telanjang, maka benarkanlah aku.” Lalu ia mengakhiri doanya dengan kalimat, “Ya Allah, dengan keagungan-Mu aku tidak akan mengangkat kepalaku selamanya hingga Kau hilangkan (musibah ini) dariku.”

Rangkain doa di atas menunjukkan beberapa hal penting. Pertama, keyakinan Sayyidina Ayyub akan kasih sayang Allah. Meski bertahun-tahun lamanya ia sakit, tak sekalipun ia meragukan kasih sayang Allah. Diselamatkannya mata, lidah dan hati sangat disyukuri olehnya. Dengan itu, ia masih bisa berzikir, bersyukur dan beribadah kepadaNya. Karena itu ia sangat yakin, kapanpun ia minta disembuhkan, dengan kasih sayang-Nya yang maha luas, Allah pasti menyembuhkannya.

Kedua, jika Sayyidina Ayyub mau, musibahnya akan berakhir seketika itu juga. Poin kedua ini berkaitan erat dengan poin yang pertama, bahwa ia sangat yakin akan disembuhkan Allah jika memintanya. Persoalannya, ia tidak mau memintanya. Seringkali isterinya memintanya berdoa kepada Allah agar disembuhkan, tapi ia selalu menolak. Bagi Sayyidina Ayyub, sembuh atau tidak sekedar pilihan, dan ia memilih menjalani musibah yang diujikan Allah kepadanya.

Ketiga, sebagai cara Sayyidina Ayyub menyelamatkan saudaranya. Ini menarik, karena ia menampakkan proses dikabulkannya doa secara langsung kepada dua saudaranya. Selain sebagai bantahan atas perkataan mereka, juga penanaman benih iman dan taubat di hati mereka. Tentunya Sayyidina Ayyub sebagai seorang nabi tidak mau kedua saudaranya menjadi pendosa karena prasangka buruk mereka kepada Allah. Setelah ditampakkan dengan jelas, akhirnya mereka tahu, bahwa pandangan mereka tentang Tuhan sepenuhnya salah. 

Dan keempat, ketidak-terimaan Sayyidina Ayyub atas prasangka buruk manusia kepada Allah. Sebelum menguraikannya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu riwayat lain soal ini. Berikut riwayatnya:

مَرَّ نَفَرٌ مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ بِأَيُّوْبَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالُوْا: مَا أَصَابَهُ مَا أَصَابَهُ إِلَّا بِذَنْبٍ عَظِيْمٍ أَصَابَهُ قَالَ: فَسَمِعَهَا أَيُّوْبُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَعِنْدَ ذَلِكَ قَالَ: مَسَّنِيَ الضُّرُّ، وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ، قَالَ: وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ لَا يَدْعُوْ

“Beberapa orang dari Bani Israel melintasi (rumah) Ayyub ‘alaihissalam, mereka berkata: “Penyakit yang menimpanya tidak lain karena dosa besar yang dilakukannya.” Ayyub ‘alaihissalam mendengar perkataan itu dan berdoa (QS. Al-Anbiya’: 83): “(Tuhanku) aku telah terkena penyakit, dan Kau adalah Tuhan yang Maha Pengasih di antara semua pengasih.” Sebelumnya Ayyub tidak pernah berdoa. (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 54)

Ini artinya, doa Sayyidina Ayyub memohon kesembuhan tidak didasari karena kepayahan dan keputus-asaannya menjalani hidup, tapi ketidak-relaannya. Sebab, orang-orang yang berprasangka buruk kepada Allah mulai bermunculan ketika itu. Di riwayat pertama, prasangka buruk dilakukan oleh saudaranya sendiri, dan di riwayat kedua, prasangka buruk dilakukan oleh orang yang melintasi rumahnya. Mereka mengatakan, penyakit Ayyub karena dosa-dosanya. Perkataan semacam itu, bagi Sayyidina Ayyub, tidak bisa diterima. Bukan karena menyakiti perasaaannya, tapi karena prasangka buruk mereka kepada Allah, sehingga Sayyidina Ayyub tidak bisa mendiamkannya. Ia tidak peduli orang akan menghardiknya sedemikian rupa.

Dengan mengatakan, “penyakit yang menimpanya tidak lain karena dosa besar yang dilakukannya,” secara tidak langsung mereka berprasangka buruk kepada Allah. Karena menyempitkan rahmat-Nya yang luas dan kasih sayang-Nya yang tak berhingga. Seakan-akan Tuhan itu mudah marah dan pendendam, padahal tidak. 

Atas pertimbangan tersebut, Sayyidina Ayyub ‘alaihissalam memanjatkan doa kepada Allah minta disembuhkan. Ia tidak mau lagi mendengar prasangka buruk kepada Tuhan. Ia ingin semua orang terhindar dari dua dosa sekaligus; pertama, dosa bermaksiat kepada Allah, dan dua, bermaksiat kepada sesama manusia. Logika sederhananya begini, setelah sakit menahun, perlahan-lahan penyakitnya berubah menjadi sumber prasangka, baik kepada Tuhan maupun dirinya sendiri. Itu artinya penyakit yang dideritanya telah menjadi penyebab dua maksiat sekaligus bagi yang berprasangka.

Oleh karena itu, tanpa peristiwa-peristiwa tersebut, ia bisa saja melanjutkan ujiannya, karena ujian adalah madrasah bagi manusia, apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan, para nabi adalah kelompok manusia yang paling berat cobaannya (HR. Imam Ahmad):

أشد الناس بلاء الأنبياء، ثم الصالحون، ثم الأمثل فالأمثل

“Manusia yang paling berat cobaan/musibahnya adalah para nabi, kemudian orang-orang shaleh, lalu yang semisal (dengan itu) dan yang semisal.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, 2000, h. 1244-45)

Wallahu a’lam bish shawwab


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darrussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan

Share:
Ahad 12 Mei 2019 20:0 WIB
Ketika Istri Cuti Bulanan, Suami Gantikan Urus Sahur Keluarga
Ketika Istri Cuti Bulanan, Suami Gantikan Urus Sahur Keluarga
Dini hari tadi aku bangun tepat pada pukul 03.00 sesuai dengan pengaturan alarm di ponselku. Hal pertama yang aku lakukan setelah bangun adalah ke kamar mandi lalu berwudhu. Dari kamar mandi aku menuju dapur. Aku periksa magic com apakah nasi cukup untuk sahur bertiga, yakni kedua anakku dan aku sendiri. Akhirnya aku putuskan tidak menanak nasi.

Tepat pukul 03.05 aku mulai menyiapkan lauk pauk. Aku ambil daging ayam yang sudah dikasih bumbu oleh istriku sebelum ia tidur kemarin malam. Daging itu disimpannya di kulkas. Aku hitung ada 6 potong. Lalu aku siapkan kompor dan wajan untuk menggorengnya. 

Setelah kira-kira 15 menit, gorengan daging ayam selesai. Aku tiris dulu minyaknya di atas wajan hingga cukup kering. Sambil menunggu proses itu aku menyiapkan teh manis sebanyak tiga gelas. Juga peralatan makan seperti piring, sendok, lepek, centong, dan sebagainya aku siapakan dengan menatanya di meja makan. Yang belum ada tinggal nasi. Lalu aku ambil nasi sepiring besar dan penuh. 

Sekitar pukul 03.45, semua hidangan untuk makan sahur sudah tersaji dan tertata rapi di atas meja makan. Ada ayam goreng, sayur lodeh, gereh, sambal pedas, sambal kecap, sambal bangkok, dan sebagainya. Lalu aku bangunkan anak-anakku. Mula-mula si sulung dan kemudian si bungsu yang tidur di kamarku. 

Segera setelah itu, si sulung mulai ambil nasi. Cukup banyak. Kemudian si bungsu. Ia juga ambil cukup banyak hingga tersisa hanya sedikit. Yang sedikit itu bagianku. Ketika si sulung sudah menghabiskan nasinya, ia minta agar si bungsu mau memberikan sebagian nasi padanya. Ia merasa kurang. Si bungsu menolak.

“Gimana, saya buatkan mie goreng?” tanyaku pada si sulung menawarkan solusi.

“Tidak,” jawabnya. Ia menolak dibuatkan mie goreng bukan karena belum kenyang, tetapi di piring masih tersedia 2 potong daging ayam. 

Peristiwa “rebutan” nasi ini menjadi catatan penting di hari pertama santap sahur tanpa istri. Bukan istriku yang salah tetapi aku yang kurang perhitungan. 

Tepat pukul 04.23 seruan imsak dikumadangkan dari masjid. Tak lama setelah itu kami pun menyudahi makan sahur hari ini. 

***

Itulah ringkasan cerita dari kegiatan sahur di keluarga kami lima tahun lalu yang kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami”, terbit tahun 2016. 

Apa yang saya lakukan selama istri saya cuti bulanan (haid), yakni memberinya kebebasan untuk tidak bangun di waktu sahur, dan selanjutnya segala sesuatu terkait dengan kegiatan ini merupakan tanggung saya sebagai suami, sebenarnya bukan sesuatu tanpa dasar. Menurut fiqih mazhab Syafi’iyah, Hanabilah dan sebagaian Malikiyah, pada dasarnya pekerjaan rumah tangga bukan merupakan kewajiban istri. 

Tugas istri hanyalah sebatas membantu suami sesuai porsi yang diberikan atau disepakti. Dalam praktiknya seringkali istri menjadi ujung tombak dan seolah-olah hukumnya wajib dalam menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyapu, mencuci dan sebagainya.

Tetapi menurut para fuqaha, hal tersebut tidak menjadi persoalan dan bahkan baik sepanjang ia ridha melakukannya jika itu sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Hal ini sebagaimana penjelasan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, (Kuwait: Thibaah Dzatis Salasil, 1990) Cetakan ke-2, Juz 19, hal. 44 sebagai berikut:

فذهب الجمهور (الشافعية والحنابلة وبعض المالكية) الى أن خدمة الزوج لاتجب عليها لكن الأولى لها فعل ما جارت العاجة به

Artinya, “ Jumhur ulama (Syafiiyyah, Hanabilah dan sebagian Malikiyah) berpendapat bahwa tidak wajib bagi istri melayani suamianya (dalam urusan pekerjaan rumah tangga). Tetapi lebih baik jika melakukan seperti apa yang berlaku (membantu).”

Oleh karena “kewajiban” istri hanyalah sebatas membantu, maka porsi pekerjaan rumah tangga yang sebaiknya ia lakukan adalah sebesar porsi yang diberikan atau disepakati bersama, apakah sebagian besar, sebagian kecil, atau bahkan seluruhnya. 

Dalam konteks keluarga saya, khususnya terkait kegiatan sahur keluarga, yang kami sepakati adalah istri bebas untuk bangun atau tidak di waktu sahur ketika ia sedang cuti bulanan.

Hari itu di hari ke-18 Ramadhan 1435 H istri saya memilih tidak bangun dan saya mempersilakannya. Saya berpikir jika shalat dan puasa saja yang merupakan kewajiban dari Allah harus ia tinggalkan, maka apa salahnya saya memberinya kebebasan di waktu sahur selama ia cuti bulanan? Biarlah ia istirahat.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

Ahad 12 Mei 2019 15:0 WIB
Ketika Imam Sufyan ats-Tsauri Ditampar Penuntun Unta
Ketika Imam Sufyan ats-Tsauri Ditampar Penuntun Unta
Ilustrasi (via vipis.org)
Dalam kitab Tarîkh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-A’lâm, Imam Abu Abdullah al-Dzahabi memasukkan kisah Imam ats-Tsauri yang ditampar seseorang. Berikut kisahnya:

وَقَالَ صَالِحُ بْنُ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعِجْلِيُّ، حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: أَجَّرَ سُفْيَانُ نَفْسَهُ مِنْ جَمَّالٍ إِلَى مَكَّةَ، فَأَمَرُوهُ أَنْ يَعْمَلَ لهم خبزة فلم تجيء جَيِّدَةً، فَضَرَبَهُ الْجَمَّالُ، فَلَمَّا قَدِمُوا مَكَّةَ دَخَلَ الْجَمَّالُ، فَرَأَى النَّاسَ حَوْلَ سُفْيَانَ، فَسَأَلَ فَقَالُوا: هَذَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، فَلَمَّا انْفَضَّ النَّاسُ، تَقَدَّمَ الْجَمَّالُ إِلَى سُفْيَانَ وَاعْتَذَرَ، فَقَالَ: مَنْ يُفْسِدُ طعام النّاس يصبه أكثر من ذلك.

Shalih bin Ahmad bin Abdillah al-‘Ijliy berkata: ‘ayahku bercerita kepadaku, ia berkata: “Sufyan (ats-Tsauri) menyewa penuntun unta (ketika hendak pergi) ke Makkah. (Di perjalanan) penuntun unta tersebut menyuruhnya mencari roti (untuk dimakan), (setelah mencari-cari, Sufyan ats-Tsauri) tidak menemukan roti (makanan) yang baik, kemudian penuntun unta tersebut menamparnya.

Sesampainya di Makkah, si penuntun unta memasuki (masjid), ia melihat banyak orang mengelilingi Sufyan, kemudian ia bertanya (kepada mereka). Mereka menjawab: “Beliau adalah Sufyan ats-Tsauri.” Ketika orang-orang tersebut bubar, penuntun unta itu menghadap Sufyan ats-Tsauri dan meminta maaf. Lalu Sufyan ats-Tsauri berkata: “Barangsiapa yang merusak (hidangan) makan orang lain (seperti yang aku lakukan kepadamu), ia akan tertimpa (keburukan) yang lebih besar.” (Imam Abu Abdullah al-Dzahabi, Tarîkh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-A’lâm, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2006, juz 4, h. 401-402)

****

Membicarakan para salafus shalih tidak akan ada habisnya. Hikmah yang mereka pancarkan, entah disengaja atau tidak, seumpama lautan yang tak pernah kering. Keteladanan bagi mereka seperti hidangan yang tersaji begitu gampang, dan begitu sukar bagi kita. Setiap kali kita membaca kisah-kisah mereka, bibir ini tak kuasa menahan “oh” yang keluar begitu saja. Kisah-kisah mereka membuat kita takjub sekaligus malu. Takjub karena cara berperilaku mereka yang kadang tidak terpikirkan oleh manusia pada umumnya. Malu karena di waktu yang sama menguliti kebebalan kita sebagai manusia. 

Imam Sufyan ats-Tsauri (97-161 H) adalah seorang ahli fiqih, muhaddits, mufassir, dan mujtahid yang mendirikan Mazhab Tsauri. Ia banyak meriwayatkan hadits dan memiliki banyak murid, seperti Abdullah bin Mubarak (118-181 H), Abdurrazaq al-Shan’ani (126-211 H), Sufyan bin ‘Uyainah (107-198 H) dan lain sebagainya. Kedudukannya di kalangan ulama sangat tinggi, baik yang sezaman dengannya maupun yang tidak. Hampir semuanya memuji kualitas intelektual dan kesalehannya. Imam Yahya bin Said al-Qattan (w. 198 H) mengatakan: “Sufyân ats-Tsauri fauq Mâlik fî kulli syai’in—Sufyan ats-Tsauri berada di atas Malik (bin Anas) di segala hal.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassassah al-Risalah, 2001, juz 7, h. 247). Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “al-imâm Sufyân ats-Tsauri lâ yataqaddamuhu ahadun fî qalbî—Imam Sufyan al-Tsauri, tidak ada seorang pun yang (kedudukannya) mendahuluinya di hatiku.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 7, h. 241). Dan masih banyak pujian ulama kepadanya.

Dalam kisah di atas, Imam Sufyan ats-Tsauri mengakrabkan kita pada keteladanan yang mudah dicerna; keteladanan yang sederhana tapi tak terlintas pikiran kita. Ia mempersembahkan dirinya sebagaimana yang dipelajarinya. Citra dirinya adalah pengetahuannya. Sebagai pembelajar, ia belajar hingga nafas meninggalkannya. Berpindah dari satu guru ke guru lainnya; mendengar dari satu syekh ke syekh lainnya. Jumlah gurunya sangat banyak. Menurut pendapat yang masyhur lebih dari enam ratus syekh. Imam al-Dzahabi menulis:

إن عدد شيوخه ست مائة شيخ، وكبارهم الذين حدثوه عن أبي هريرة، وجرير بن عبد الله، وابن عباس، وأمثالهم

“Sesungguhnya jumlah guru-gurunya (sekitar) enam ratus syekh, dan guru-guru utamanya menyampaikan kepadanya (hadits) dari Abu Hurairah, Jarir bin Abdullah, (Abdullah) bin Abbas, dan lain sebagainya.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 7, h. 235)

Kisah di atas adalah citra dirinya, ia menerima tamparan sang penuntun unta dengan suka rela. Ia bahkan menganggapnya sebagai balasan yang pantas diterimanya. Baginya, orang yang merusak kenikmatan makan orang lain, akan mendapatkan musibah atau keburukan yang lebih besar, sehingga ia tidak merasakan sakit hati sedikit pun, meski ia seorang ulama besar, karena memang itulah yang diyakininya. Sebagai orang yang menghafal dan meriwayatkan banyak hadits, Imam Sufyan ats-Tsauri tentu tahu hadits nabi yang mengatakan (HR. Imam Abu Ya’la):

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

“Bukanlah seorang mukmin (sejati), orang yang kenyang sementara tetangga di sampingnya kelaparan.” (Imam al-Munawi, Faidl al-Qadîr Syarh al-Jâmi’ al-Shaghîr, Beirut: Darul Ma’rifah, tt, juz 5, 360)

Dan hadits yang mengatakan (HR. Imam Muslim):

إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ، فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ

“Jika kau memasak, perbanyaklah kuahnya, lalu perhatikan penghuni rumah tetanggamu, dan berikan sebagian masakan itu kepada mereka dengan cara yang ma’ruf (santun).” (Imam al-Nawawi, Syarh al-Nawawî ‘alâ Muslim, Beirut: Darul Kitab al-Ilmiyyah, 2017, juz 15, h. 145)

Jika tetangga yang tidak dimintanya menjadi “tetangga” saja diberikan hak sedemikian rupa oleh Allah, bagaimana dengan orang yang dipekerjakannya? Sudah tentu ia berada di bawah tanggungannya. Dan ternyata, karena beberapa keadaan tertentu—mungkin tempat yang tidak mendukung atau sebagainya—ia tidak dapat memenuhi tanggung jawabnya dengan sempurna, hingga ditampar oleh orang yang dipekerjakannya. Baginya itu wajar, karena penuntun unta itu memiliki haknya sebagai pekerja, meski tindakannya terbilang keterlaluan.

Lebih menarik lagi, ketika penuntun unta itu meminta maaf, Imam Sufyan ats-Tsauri tidak menjawabnya dengan, “aku memaafkanmu,” tidak. Ia merasa tidak berhak dan pantas memberikan maaf. Ia merasa, ia lah yang lebih membutuhkan maaf karena tidak bisa memberikan makanan yang laik selama perjalanan ke Makkah. Ia menjawab, “Barangsiapa yang merusak (hidangan) makan orang lain (seperti yang aku lakukan kepadamu), ia akan tertimpa (keburukan) yang lebih banyak.” Seakan-akan Imam Sufyan ats-Tsauri hendak mengatakan, “akulah yang salah, dan aku laik menerima tamparan itu.”

Keluhuran pekerti semacam ini sukar dimengerti umumnya manusia, apalagi mengamalkannya. Dalam pandangan sederhana, Imam Sufyan ats-Tsauri telah memenuhi tanggung jawabnya dengan memberikan roti (makanan) terbaik yang tersedia waktu itu, tapi rupanya si penuntun unta tidak puas. Bagi orang-orang berjiwa lapang, tanggung jawab baru dianggap tertunaikan jika objeknya merasa puas dan menerima. Tentu ini sulit dan tidak adil bagi orang umum, karena memenuhi kepuasan orang lain tidak mungkin dilakukan tanpa batasan tertentu, apalagi jika bertemu dengan orang rakus, kadar kepuasannya sangat sukar untuk dipenuhi. Namun, bagi para nabi dan wali, bukan “fair” atau “tidak fair” yang dijadikan standarnya, karena mereka melakukannya sebagai bentuk pengabdian, hingga nyawa pun tak mereka pedulikan.

Orang-orang semacam ini tidak lahir dari ruang hampa. Mereka terdidik oleh ilmu pengetahuan, dan tercerahkan oleh keteladanan. Mereka menjumpai guru-guru yang berilmu sekaligus berteladan. Ilmu menjadikan mereka tahu. Teladan menjadikan mereka pengamal ilmu yang baik. Karena itu, salah satu ucapan Imam Sufyan ats-Tsauri yang paling terkenal adalah:

زينوا العلم والحديث بأنفسكم، ولا تتزينوا به

“Hiasilah ilmu dan hadits dengan diri kalian, dan jangan (jadikan) ilmu dan hadits penghias (diri) kalian.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, juz 7, h. 245)

Maksudnya adalah, agar manusia menghiasi ilmu dan hadits dengan mengamalkannya, bukan untuk terlihat pintar; agar manusia menjadi pelayan ilmu, bukan menjadikan ilmu pelayannya; agar manusia berperilaku dengan ilmu, bukan memperlakukan ilmu untuk kemasyhurannya; agar manusia menjalani kehidupan dengan ilmu, bukan menjalankan ilmu untuk kepentingan kehidupannya. 

Singkatnya, Imam Sufyan ats-Tsauri menghendaki manusia melayani ilmu dan tidak menjadikan ilmu dan hadits sebagai pelayannya. Kata kuncinya, mengutip perkataan Imam Ibrahim bin Adham:

أطلبوا العلم للعمل فإن أكثر النّاس قد غلطوا حتي صار علمهم كالجبال وعملهم كالذر

“Carilah ilmu untuk diamalkan, karena kebanyakan manusia keliru, hingga menjadikan ilmunya setinggi gunung tapi amalnya sekecil debu.” (Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani, Thabaqât al-Kubrâ, Kairo: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, 2005, h. 129)

Semoga kita bisa meneladaninya. Rabbi zidnî ‘ilma warzuqnî fahma, amin. Wallahu a’lam bish shawwab..


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Sabtu 11 Mei 2019 8:0 WIB
Perempuan yang Menangis di Sudut Mushala Mal
Perempuan yang Menangis di Sudut Mushala Mal
Ilustrasi (123rf.com)
Didampingi seorang keponakanku seusai menghadiri sebuah pertemuan aku menyempatkan diri untuk memenuhi pesanan istriku membeli wajan teflon. Maka kuarahkan kendaraanku menuju sebuah supermarket di kotaku yang khusus menjual perangkat dapur dan perkakas rumah tangga.

Dengan menggunakan sarung dan berpeci sebagaimana lazimnya, aku berpakaian aku menyusuri rak demi rak mencari pesanan istriku itu. Namun, aku sedikit terkejut saat melihat jam di ponselku menunjukan pukul 16.45. Aku belum shalat ashar. Maka segera aku menuju ke mushala supermarket itu.

Memasuki mushala itu suasana begitu sepi. Aku hanya melihat seorang perempuan di sudut ruang yang duduk berkerubut mukena warna biru muda. Dari balik mukena itu aku mendengar isak tangis dibarengi suara istighfar. Sambil menunggu shalat berjamaah dengan keponakanku yang sedang ke toilet aku terdiam di atas sajadahku. Keponakanku tak kunjung datang.

Istighfar dan isak tangis dari mulut perempuan itu masih terus aku dengar. Kurasa ia begitu khusyuk menikmatinya, ia begitu memahami istighfarnya, hingga kedatangan dan keberadaanku tak ia hiraukan. Kekagumanku menarik mataku untuk meliriknya saat ia telah menyelesikan munajatnya. Ia memasuki ruang ganti. Dan saat keluar aku melihatnya telah mengenakan pakaian ketat di atas lutut dengan model “you can see”.

Aku makin penasaran. Usai shalat aku kembali mengelilingi supermarket berharap bisa bertemu lagi dengan perempuan itu. Bukan untuk menyapanya, tapi untuk mencari tahu perihal kehidupan ini. Benar saja, aku melihatnya lagi. Ia seorang penjaga stan barang mewah yang lazimnya berpakaian minim. Kulihat matanya masih sembab. Dan aku melewatinya begitu saja.

Melihat ini semua, dalam jalanku yang pelan aku berbisik, “Gusti Allah, terus apa makna peciku, sarungku, dan serbanku?” (Yazid Muttaqin)


Diceritakan kepada penulis oleh KH. Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, Februari 2015


======
NU Online mengajak kepada pembaca semua untuk berbagi kisah inspiratif penuh hikmah baik tentang diri sendiri atau orang lain. Silakan kirim ke email: redaksi@nu.or.id