IMG-LOGO
Ramadhan

Bacaan Tahiyat yang Paling Ringkas untuk Tarawih

Senin 13 Mei 2019 19:30 WIB
Share:
Bacaan Tahiyat yang Paling Ringkas untuk Tarawih
Ilustrasi (iStock)
Imam shalat tarawih di Indonesia kadang menghadapi kondisi di mana masyarakat menginginkan tarawih berlangsung ringkas dan cepat. Hal ini barangkali karena kepentingan dan kebutuhan masyarakat yang berbeda-beda. Ada yang tergesa-gesa ingin istirahat karena seharian capek kerja atau mungkin ada urusan lain yang juga penting. Saat shalat tarawih dengan tempo pelan, sang imam tak jarang dianggap tidak mengakomodasi kepentingan masyarakat secara luas. 

Shalat tarawih dengan bacaan yang lebih panjang dan kondisi yang lebih tenang tentu lebih utama dan menambah pahala. Tapi shalat dengan tempo yang lebih ringkas juga sah-sah saja asal memperhatikan beberapa catatan berikut ini. Pertama, rukun-rukun fi’li (gerakan fisik) harus tetap dilakukan secara thuma’nînah (tenang), yakni semua anggota badan terdiam tenang dengan waktu minimal selama orang mengucapkan kalimat tasbih subhânallâh. Rukun fi'li itu meliputi: berdiri (bila mampu), ruku', i'tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk untuk tasyahud akhir.

Kedua, rukun-rukun qauli berupa bacaan takbiratul ihram, Surat al-Fatihah, tasyahud (tahiyat) akhir, shalawat Nabi setelah tasyahud akhir, dan salam, harus sesuai tajwid. Aturan ini penting supaya orang tidak shalat dengan cara semaunya sendiri. 

Dalam masalah tahiyat misalnya, dikatakan dalam kitab Fathul Mu’in sebagai berikut:
 
فلو أظهر النون المدغمة في اللام في أن لا إله إلا الله أبطل لتركه شدة منه كما لو ترك إدغام [تنوين] دال محمد في راء رسول الله

Artinya: “Apabila ada orang yang shalat membaca idh-har dari nun yang seharusnya dibaca idgham pada kalimat ‘al lâilâha illallâh’ maka hal tersebut membatalkan shalat sebab meninggalkan tasydid di situ sebagaimana jika ada orang yang meninggalkan membaca idgham tanwin ‘dal’-nya ‘muhammad’ pada kalimat ‘muhammadar rasulullâh’. (Syekh Zainudin Al-Malyabari, Fathul Muin, [Dâr Ibnu Hazm], halaman 119). 

Baca juga:
Bacaan-bacaan yang Wajib Ada dalam Shalat
Inilah Rukun-rukun dalam Shalat
Terkait fokus dari tulisan ini, bagaimana caranya membaca tahiyat dengan cara cepat?

Dalam ilmu tajwid, metode bacaan dibagi menjadi tiga tingkatan kecepatan, yaitu tartil (tempo pelan), tadwir (sederhana), hadr (cepat). Pada pembagian yang terakhir yakni hadr tersebut, walaupun cepat, harus mengikuti aturan mîzân atau keseimbangan panjang pendek bacaan.

Selain tahiyat boleh dibaca cepat dengan huruf-hurufnya yang jelas terbaca, juga ada cara dalam membaca tahiyat supaya lebih cepat, yaitu membaca tahiyat dengan memilih kalimat yang wajib-wajib saja. Dalam kitab Fathul Muin dijelaskan kalimat yang ringkas dalam tahiyat minimal sebagai berikut teks lengkapnya:

فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين 
 وعاشرها: تشهد أخير وأقله ما رواه الشافعي والترمذي [الأذكار الأرقام: ٣٦٨- ٣٩١] : التيحات لله إلى آخره تتمته: سلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته سلام علينا وعلى عباد الله الصالحين أشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله

Artinya: “Rukun shalat yang kesepuluh adalah tasyahud akhir. Minimal bacaan dalam tasyahhud akhir sebagaimana yang diriwayatkan oleh As-Syafi’i dan At-Tirmidzi adalah bacaan At-tahiyyâtu lillâh, salâmun alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullâhi wa barakâtuh, salâmun 'alainâ wa ‘alâ ibâdillâhis shâlihîn. Asyhadu al-lâilâha illallâh, wa anna muhammadar rasûlullâh. (Syekh Zainuddin Al-Malyabari, Fathul Muin, halaman: 118) 

Setelah tasyahud di atas, baru kemudian membaca shalawat:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ 

Dengan demikian, bagi para makmum yang sering ketinggalan dengan imam yang cepat, bisa mengikuti alternatif minimal bacaan tasyahud tersebut. Pada kondisi normal, disarankan untuk membaca tasyahud yang panjang supaya mendapatkan banyak keutamaan dan pahala yang banyak. Wallahu a’lam.  


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 
Tags:
Share:
Senin 13 Mei 2019 13:15 WIB
Menelan Air Liur yang Bercampur Darah Gusi saat Puasa
Menelan Air Liur yang Bercampur Darah Gusi saat Puasa
Fenomena munculnya darah gusi dalam mulut adalah hal yang sering terjadi pada masyarakat. Kondisi ini sering menjadi kendala bagi keberlangsungan aktivitas keseharian, terlebih di saat menjalankan ibadah Ramadhan. Bahkan darah itu kadang tiba-tiba tertelan bersama dengan air liur kala menjalankan ibadah puasa. Hal demikian jelas menimbulkan kebimbangan tersendiri. Masihkah ibadah puasanya dihukumi sah dengan menelan air liur yang bercampur dengan darah gusi? Atau puasanya langsung dihukumi batal seketika itu juga?

Ditegaskan dalam mazhab Syafi’i bahwa menelan air liur adalah sesuatu yang tidak sampai membatalkan puasa jika air liur yang tertelan adalah air liur yang murni tanpa tercampur apa pun, baik itu perkara yang suci ataupun perkara najis. Sebaliknya, jika air liur sudah tidak murni lagi, tapi telah tercampur dengan perkara yang suci, seperti ingus misalnya. Atau tercampur dengan perkara najis, seperti darah gusi, maka menelan air liur dalam keadaan demikian adalah hal yang dapat membatalkan puasa. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Asna al-Mathalib:

لو (ابتلع ريقه الصرف لم يفطر ولو بعد جمعه ويفطر به إن تنجس) كمن دميت لثته أو أكل شيئا نجسا ولم يغسل فمه حتى أصبح وإن ابيض ريقه وكذا لو اختلط بطاهر آخر – كمن فتل خيطا مصبوغا تغير به ريقه

“Jika seseorang menelan air liurnya yang masih murni maka hal tersebut tidak membatalkan puasanya, meskipun air liurnya ia kumpulkan (menjadi banyak). Dan menelan air liur dapat membatalkan puasa ketika air liurnya terkena najis, seperti seseorang yang gusinya berdarah, atau ia mengonsumsi sesuatu yang najis dan mulutnya tidak ia basuh sampai masuk waktu subuh. Bahkan meskipun air liur (yang terkena najis) warnanya masih bening. Begitu juga (puasa menjadi batal ketika menelan) air liur yang bercampur dengan perkara suci yang lain, seperti orang yang membasahi dengan air liur pada benang jahit yang ditenun, lalu air liurnya berubah warna” (Syekh Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 5, Hal. 305)

Namun demikian, batalnya puasa ketika menelan air liur yang bercampur dengan gusi dalam referensi di atas rupanya tidak berlaku secara umum. Sebab hukum di atas dikecualikan dalam satu kasus, yakni ketika seseorang terkena cobaan berupa mengalirnya darah gusi secara terus-menerus, atau darah gusi ini mengalir pada sebagian besar waktu yang digunakan untuk menjalankan ibadah puasa. Maka dalam keadaan demikian, hal yang wajib baginya adalah mengeluarkan darah semampunya, jika ternyata masih terdapat bekas darah yang sulit untuk dibuang atau sulit untuk dihindari (yasyuqqu al-ihtiraz) lalu tertelan bersamaan dengan air liurnya maka hal demikian tidak sampai membatalkan puasa, seperti yang dijelaskan dalam syarah dari referensi di atas:

ـ (قوله كمن دميت لثته) قال الأذرعي لا يبعد أن يقال من عمت بلواه بدم لثته بحيث يجري دائما أو غالبا أنه يتسامح بما يشق الاحتراز عنه ويكفي بصقه الدم ويعفى عن أثره ولا سبيل إلى تكليفه غسله جميع نهاره إذا الفرض أنه يجري دائما أو يترشح وربما إذا غسله زاد جريانه .

Kesimpulan yang sama juga dijelaskan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj:

“Imam al-Adzra’i berkata: “tidak jauh untuk diucapkan bahwa seseorang yang sering dikenai cobaan berupa gusi berdarah yang terus mengalir atau pada umumnya waktu (puasa) maka ditoleransi (ma’fu) kadar (darah gusi) yang sulit untuk dihindari, cukup baginya untuk membuang darah tersebut dan di hukumi ma’fu bekas darah yang tersisa. (sebab) tidak ada jalan untuk menuntutnya agar membasuh darah ini pada seluruh waktu siang, sebab kenyataannya darah ini terus-menerus mengalir atau meresap, dan terkadang ketika dibasuh justru darah gusi semakin bertambah mengalir” (Syekh Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 5, hal. 305).

ـ (أو) ابتلعه (متنجسا) بدم أو غيره وإن صفا (أفطر) ؛ لأنه بانفصاله واختلاطه وتنجسه صار كعين أجنبية ويظهر العفو عمن ابتلع بدم لثته بحيث لا يمكنه الاحتراز عنه

“Atau seseorang menelan air liur yang terkena najis dengan sebab terkena darah atau cairan lain, meskipun berwarna bening, maka hal demikian dapat membatalkan puasa, sebab dengan terpisahnya air liur, bercampurnya air liur dan terkena najisnya air liur, maka air liur tersebut seperti benda lain. dan sangat jelas sekali bahwa dihukumi ma’fu (tidak batal) bagi orang yang menelan air liur yang bercampur dengan darah gusinya. Sekiranya tidak mungkin baginya untuk menghindari (munculnya) darah” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtaj, juz 13, hal. 332).

Sedangkan yang dimaksud dengan orang yang terkena cobaan berupa seringnya munculnya darah gusi pada pengecualian di atas, yakni sekiranya darah gusi yang mengalir  lebih sering terjadi pada dirinya dibanding dengan tidak munculnya darah tersebut. Dalam hal ini Syekh Sulaiman al-Bujairami menjelaskan:

والمراد بالابتلاء بذلك أن يكثر وجوده بحيث يقل خلوه عنه

“Yang dimaksud dengan ‘terkena cobaan berupa mengalirnya darah gusi’ adalah sekiranya munculnya darah ini lebih sering. Sekiranya jarang sekali tidak munculnya darah (dalam mulut) pada dirinya” (Syekh Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami, juz 1, hal. 410)

Bagi orang yang tidak dalam kriteria di atas, maka ketika ia benar-benar tahu bahwa ada darah gusi yang ia telan, maka puasanya dihukumi batal, walaupun komponen darah gusinya hanya sedikit. Berbeda ketika ia tidak merasakan tertelannya darah gusi yang bercampur dengan air liur yang masuk pada tenggorokannya, misalkan ia hanya sebatas ragu-ragu apakah air liur yang tertelan bercampur dengan darah gusi atau tidak, maka dalam keadaan ini puasanya tetap dihukumi sah, seperti yang ditegaskan dalam kitab Mausu’ah al-Fiqhiyaah al-Kuwaitiyyah:

ومذهب الشافعية والحنابلة : الإفطار بابتلاع الريق المختلط بالدم ، لتغير الريق ، والدم نجس لا يجوز ابتلاعه وإذا لم يتحقق أنه بلع شيئا نجسا لا يفطر ، إذ لا فطر ببلع ريقه الذي لم تخالطه النجاسة

“Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpandangan bahwa menelan air liur yang bercampur dengan darah dapat membatalkan puas, hal ini disebabkan berubahnya air liur, sedangkan darah adalah benda najis yang tidak boleh untuk ditelan. Jika tidak benar-benar nyata bahwa dirinya telah menelan sesuatu yang najis, maka tidak dihukumi batal puasanya, sebab menelan air liur yang tidak tercampur najis adalah hal yang tidak membatalkan puasa” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan, Mausu’ah al-Fiqhiyaah al-Kuwaitiyyah, juz 28, hal. 64)

Sedangkan jika darah gusi hanya sebatas tampak pada sela-sela gigi atau menempel pada gusi tanpa mengalir ke bagian lain, dan tidak sampai tertelan dalam tenggorokan maka hal demikian jelas tidak sampai membatalkan puasa, namun sebaiknya darah tersebut cepat dibersihkan dengan berkumur lalu membuangnya, agar tidak tertelan dalam bagian tenggorokannya. 

Walhasil, menelan air liur yang bercampur darah gusi adalah hal yang dapat membatalkan puasa, kecuali bagi orang yang terkena cobaan berupa keluarnya darah pada gusinya secara terus-menerus atau pada sebagian besar waktu puasanya. 

Sehingga sebaiknya bagi orang yang mengetahui gusinya berdarah, maka sesegera mungkin agar membersihkannya dengan cara berkumur atau cara lain yang dapat menghilangkan darah gusi tersebut. Hal ini tak lain dilakukan agar menghindari tertelannya darah tersebut menuju tenggorokan yang jelas-jelas dapat membatalkan puasanya. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 
Ahad 12 Mei 2019 19:15 WIB
Wanita Istihadhah saat Puasa, Bagaimana Cara Bersuci dan Shalatnya?
Wanita Istihadhah saat Puasa, Bagaimana Cara Bersuci dan Shalatnya?
Ilustrasi (via okaydoc.com)
Istihadhah adalah darah yang keluar di selain hari-hari haid dan nifas. Di antara kasusnya adalah ketika darah terus-menerus keluar melebihi batas maksimal haid, yaitu 15 hari. Perempuan yang mengalaminya disebut dengan mustahadlhh.

Mustahadhah dihukumi sebagai orang yang suci. Ia tetap diwajibkan puasa dan shalat, boleh membaca Al-Qur’an, i’tikaf dan hal-hal lain yang dilarang bagi wanita haid. Ada perbedaan tata cara shalat dan bersuci bagi mustahadhah dibandingkan dengan orang yang normal.

Setiap hendak shalat, ia wajib membasuh bagian kewanitaannya dan menyumbatnya dengan semisal kapas atau jenis pembalut wanita lain yang dapat menghentikan darah atau setidaknya bisa meminimalisasi. Kemudian ia berwudhu dengan niat memperbolehkan shalat, tidak dengan niat menghilangkan hadats. Wudhu harus dilakukan setelah masuk waktu shalat, tidak sah sebelum masuk waktu. Setelah berwudhu ia diwajibkan untuk langsung melaksanakan shalat, tidak boleh diselingi dengan aktivitas lainnya, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan kemaslahatan shalat seperti menanti jamaah, menutup aurat dan lain sebagainya. Setiap kali shalat fardhu, ia berkewajiban mengulangi wudhu dan mengganti pembalutnya.

Al-Imam al-Nawawi mengatakan:

وَالِاسْتِحَاضَةُ حَدَثٌ دَائِمٌ كَسَلَسٍ فَلَا تَمْنَعُ الصَّوْمَ وَالصَّلَاةَ، فَتَغْسِلُ الْمُسْتَحَاضَةُ فَرْجَهَا وَتَعْصِبُهُ، وَتَتَوَضَّأُ وَقْتَ الصَّلَاةِ، وَتُبَادِرُ بِهَا فَلَوْ أَخَّرَتْ لِمَصْلَحَةِ الصَّلَاةِ كَسَتْرٍ وَانْتِظَارِ جَمَاعَةٍ لَمْ يَضُرَّ، وَإِلَّا فَيَضُرُّ عَلَى الصَّحِيحِ. وَيَجِبُ الْوُضُوءُ لِكُلِّ فَرْضٍ، وَكَذَا تَجْدِيدُ الْعِصَابَةِ فِي الْأَصَحِّ 

“Istihadhah adalah hadats yang permanen seperti orang beser, maka ia tidak mencegah puasa dan shalat. Maka mustahadhah (diwajibkan) membasuh vaginanya dan membalutnya. Ia (wajib) berwudhu pada waktu shalat, ia (wajib) segera melaksanakan shalat. Bila mengakhirkannya karena kemaslahatan shalat, seperti menutup (aurat), menanti jamaah, maka tidak bermasalah. Bila bukan karena demikian, maka bermasalah menurut pendapat al-shahih. Wajib berwudhu untuk setiap fardlu, demikian pula memperbarui balutan menurut pendapat al-Ashah,” (al-Imam al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin, juz 1, hal. 19).

Problem muncul ketika mustahadhah tengah berpuasa Ramadhan. Satu sisi ia diwajibkan menyumbat bagian kemaluannya dengan sejenis kapas sebagai bagian dari tata cara bersuci dan shalatnya. Namun, di sisi yang lain, ia diwajibkan untuk menjaga puasanya dari hal-hal yang membatalkan. Seperti diketahui, memasukan benda sejenis kapas ke bagian dalam vagina dapat membatalkan puasa. Pertanyaannya kemudian, apa yang seharusnya dilakukan mustahadhah yang tengah berpuasa ketika ia hendak shalat? Manakah yang lebih didahulukan antara kepentingan puasa dan shalatnya?

Ulama menjelaskan bahwa yang wajib ia lakukan adalah tidak menyumbat bagian kewanitaannya. Dalam masalah ini, maslahat puasa lebih didahulukan daripada maslahat shalat. Bila ia tetap menyumbat bagian kewanitaannya, puasanya batal, meski shalatnya tetap sah. Maka solusi yang tepat adalah dengan tidak menyumbat, agar puasa dan shalatnya sah.

Persoalan mustahadhah ini berbeda dengan kasus orang yang menelan benang hingga masuk bagian lambung saat berpuasa. Kasus menelan benang ini juga dilematis. Bila ia tetap membiarkan benangnya tersambung sampai organ dalam, shalatnya tidak sah, sebab termasuk kategori membawa najis dikarenakan benang bersentuhan dengan najis di bagian dalam lambung. Bila ia mengeluarkan benang tersebut, maka puasanya batal, sebab termasuk memuntahkan sesuatu dari dalam perut secara sengaja. Dalam permasalahan ini, ulama lebih mendahulukan maslahat shalat, ia diwajibkan untuk mencabut benang agar shalatnya sah, meski puasanya dinyatakan batal.

Perbedaan yang mendasar antara dua kasus tersebut adalah bahwa istihadhah adalah sebuah penyakit dengan darah mengalir terus-menerus, secara lahiriyah akan terus diderita hingga waktu yang tidak bisa diprediksi, bahkan terkadang sampai bulan puasa habis masih berlanjut. Kondisi demikian akan menyulitkan mustahadhah untuk mengqadha puasanya, sebab ketidakpastian kapan istihadhahnya berhenti. Penyumbatan vagina tidak akan menyelesaikan problem puasanya. Berbeda halnya dengan kasus menelan benang, sekali dicabut masalah sudah teratasi, meski dengan mengorbankan satu hari puasa.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan:

وَإِنْ كَانَتْ صَائِمَةً تَرَكَتْ الْحَشْوَ نَهَارًا وَاقْتَصَرَتْ عَلَى الْعَصْبِ مُحَافَظَةً عَلَى الصَّوْمِ لَا الصَّلَاةِ عَكْسُ مَا قَالُوهُ فِيمَنْ ابْتَلَعَ خَيْطًا؛ لِأَنَّ الِاسْتِحَاضَةَ عِلَّةٌ مُزْمِنَةٌ الظَّاهِرُ دَوَامُهَا فَلَوْ رُوعِيَتْ الصَّلَاةُ رُبَّمَا تَعَذَّرَ قَضَاءُ الصَّوْمِ وَلَا كَذَلِكَ ثَمَّ

“Bila ia berpuasa, maka (wajib) meninggalkan penyumbatan (vagina) di siang hari, cukup mengikatnya. Hal ini karena menjaga (kemaslahatan) puasa, bukan (kemaslahatan) shalat, berkebalikan dengan apa yang diucapkan ulama dalam kasus orang yang menelan benang. Sebab istihadhah adalah penyakit yang permanen, secara lahiriyyah akan terus wujud, bila (kemaslahatan) shalat dijaga, terkadang sulit mengqadha puasa. Alasan demikian ini tidak wujud dalam kasus menelan benang,” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj Hamisy Hasyiyah al-Syarwani, juz 1, hal. 393).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.


Ahad 12 Mei 2019 16:0 WIB
Punya Utang Shalat Fardhu, Bolehkah Shalat Tarawih?
Punya Utang Shalat Fardhu, Bolehkah Shalat Tarawih?
Ilustrasi (viata-libera.co)
Datangnya bulan Ramadhan memberikan efek yang sangat positif. Beberapa perbuatan maksiat setidaknya bisa diminimalisir atau minimal tidak dipertontonkan di bulan penuh berkah ini. Antusias masyarakat begitu tampak dalam mengikuti berbagai kegiatan positif di bulan yang mulia ini. Di antara yang tampak adalah kesemangatan mereka mengikuti jamaah shalat tarawih.

Jamaah yang menghadiri shalat tarawih bermacam-macam latar belakangnya, mulai dari orang tua, pemuda dan anak kecil, bahkan yang memiliki tanggungan mengqadha shalat fardhu, juga turut serta aktif meramaikan syi’ar tarawih.

Ada yang berpendapat bahwa mereka yang masih memiliki tanggungan mengaqadha shalat fardhu, haram mengikuti shalat tarawih. Benarkah demikian? Bagaimana sebenarnya hukumnya menurut fiqih?

Orang mukallaf yang meninggalkan shalat, baik sengaja atau tidak, berkewajiban menggantinya di waktu yang lain. Di dalam fiqih dikenal dengan istilah qadha.  Orang yang berkewajiban mengqadha shalat terbagi menjadi dua klasifikasi. Pertama, kelompok yang meninggalkan shalat karena uzur (alasan yang ditoleransi). Kedua, kelompok yang meninggalkannya tanpa uzur. 

Kelompok pertama contohnya seperti mereka yang melewatkan shalat karena tidur sebelum masuk waktu shalat atau sebab lupa. Bagi kelompok pertama ini, disunahkan segera mengqadha shalat yang ia tinggalkan. Artinya kewajiban mengqadha bagi mereka adalah kewajiban yang boleh ditunda (wajib ‘alat tarakhi). Bagi mereka, sebelum utang shalat itu terpenuhi, diperbolehkan melaksanakan aktivitas lain di luar qadha shalat, termasuk di antaranya shalat sunah tarawih. Dalam perincian yang pertama ini, ulama Syafi’iyyah tidak berbeda pendapat.

Syekh Zainuddin al-Malibari berkata:

ويبادر به ندبا إن فات بعذر كنوم لم يتعد به ونسيان كذلك

“Dan bersegaralah secara sunah mengqadha shalat apabila shalat terlewat dengan uzur seperti tidur yang tidak teledor, demikian pula lupa,” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 32).

Adapun jenis kelompok kedua, seperti orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, lalai karena urusan duniawi, tidur setelah masuk waktu shalat dan lain sebagainya, mengenai status kewajiban mengqadha shalat bagi mereka, ulama berbeda pendapat.

Menurut mayoritas ulama Syafi’iyyah, wajib mengqadha segera, tidak boleh ditunda. Berpijak dari pendapat ini, wajib bagi orang jenis kelompok kedua ini menggunakan seluruh waktunya untuk mengqadha shalat selain urusan-urusan yang dibutuhkan seperti makan, minum, tidur, bekerja menafkahi keluarga dan lain sebagainya. Haram bagi mereka melaksanakan shalat sunah, termasuk shalat tarawih, sebelum utang shalatnya terpenuhi. Meski haram, tapi shalat tarawih yang dilakukan tetap sah, berbeda dengan pendapat Imam al-Zarkasyi yang menyatakan tidak sah.

Syekh Zainuddin al-Malibari mengatakan:

ويبادر من مر بفائت وجوبا إن فات بلا عذر فيلزمه القضاء فورا.

“Bersegeralah orang yang telah disebutkan itu, mengqadha shalat secara wajib apabila shalat terlewat tanpa uzur, maka wajib baginya mengqadha secepatnya.”

 قال شيخنا أحمد بن حجر رحمه الله تعالى: والذي يظهر أنه يلزمه صرف جميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه وأنه يحرم عليه التطوع. انتهى. 

“Berkata guru kami, Syekh Ahmad bin Hajar, semoga Allah merahmatinya. Pendapat yang jelas, wajib baginya (orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur), mengerahkan seluruh waktunya untuk mengqadha selain waktu yang ia butuhkan di dalam urusan yang tidak bisa ditinggalkan. Dan haram baginya shalat sunah,”  (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in Hamisy I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 31-32).

Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatha mengomentari referensi di atas sebagai berikut:

ـ (قوله: وأنه يحرم عليه التطوع) أي مع صحته، خلافا للزركشي

“Ucapan Syekh Zainuddin ‘dan haram baginya shalat sunah’; maksudnya besertaan dengan keabsahannya, berbeda dengan Imam al-Zarkasyi,” (Syekh Sayyid Abu Bakr bin Muhammad Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal.  32).

Sedangkan menurut Syekh Habib Abdullah al-Haddad, kewajiban qadha bagi kelompok kedua ini boleh ditunda sesuai dengan batas kemampuan asalkan tidak sampai pada taraf menyepelekan. Berpijak dari ini, seseorang bisa melaksanakan aktivitas secara wajar, termasuk shalat tarawih, meski ia masih memiliki tanggungan shalat. Ulama yang menyandang gelar “Quthbud Dakwah wal Irsyad, sang poros dakwah dan petunjuk” tersebut berargumen dengan hadits Nabi “aku di utus membawa agama yang dicondongi dan murah”, “Permudahlah, jangan mempersulit.” 

Pendapat ini oleh Syekh Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur dinilai sebagai solusi yang tepat, dibandingkan dengan pendapat fuqaha lain yang mewajibkan segenap waktunya untuk mengqadha. Habib Abdurrahman menganggap pendapat fuqaha tersebut sangat berat sekali diterapkan di kalangan masyarakat.

Di dalam karyanya yang fenomenal, Bughyah al-Mustarsyidin, Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur berkata:

ومن كلام الحبيب القطب عبد الله الحداد ويلزم التائب أن يقضي ما فرَّط فيه من الواجبات كالصلاة والصوم والزكاة لا بد له منه ، ويكون على التراخي والاستطاعة من غير تضييق ولا تساهل فإن الدين متين 

“Di antara statemen Habib al-Quthb Abdullah al-Haddad adalah, wajib bagi orang yang bertaubat, mengqadha kewajiban-kewajiban yang ia teledor di dalamnya seperti shalat, puasa dan zakat yang diwajibkan baginya. Kewajiban ini atas jalan ditunda dan sesuai kemampuan tanpa memberatkan dan menyepelekan, sesungguhnya agama (Islam) adalah kuat.”

وقد قال : "بعثت بالحنيفية السمحاء". وقال : "يسروا ولا تعسروا" اهـ ، وهذا كما ترى أولى مما قاله الفقهاء من وجوب صرف جميع وقته للقضاء ، ما عدا ما يحتاجه له ولممونه لما في ذلك من الحرج الشديد

Nabi bersabda; “aku diutus dengan membawa agama yang dicondongi, yang murah” “permudahlah, jangan mempersulit,” Pendapat Habib Abdullah al-Haddad ini, seperti yang kamu lihat, lebih utama dari pada apa yang dikatakan fuqaha berupa kewajiban mengerahkan seluruh waktu untuk mengqadha selain waktu yang dibutuhkan untuk dirinya dan keluarga yang wajib ia tanggung, sebab pendapat tersebut terdapat keberatan yang sangat,” (Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 71).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang meninggalkan shalat tanpa uzur dan ia belum mengqadhanya, hukum shalat tarawih baginya terdapat ikhtilaf. Menurut mayoritas Syafi’iyyah haram, menurut Habib Abdullah al-Haddad boleh. Berbeda halnya dengan orang yang memiliki tanggungan shalat yang ditinggalkan karena uzur, maka ulama sepakat membolehkan shalat tarawih.

Perbedaan pendapat dalam masalah ini hendaknya disikapi dengan bijaksana. Seperti yang disampaikan Imam Abdul Wahhab al-Syarani di dalam kitab al-Mizan al-Kubra, bahwa pendapat yang berat diperuntukan untuk orang yang kuat imannya, sedangkan pendapat ringan diberikan untuk masyarakat yang lemah imannya. Yang perlu disampaikan juga adalah, bahwa dengan shalat tarawih tidak kemudian kewajiban mengqadha shalat menjadi gugur. Di samping ajakan tarawih, perlu juga penekanan mengenai kewajiban mengqadha shalat. Jangan sampai fatwa di tengah umat menyebabkan hal yang tidak diinginkan, seperti masyarakat justru enggan melaksanakan tarawih. Perlu pendekatan yang baik agar mereka berangsur menjadi manusia yang bertaqwa dengan sempurna. Demikian semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.