IMG-LOGO
Hikmah

Nasihat Nabi Isa agar Tak Menjadi Orang yang Sok Suci

Selasa 14 Mei 2019 15:0 WIB
Share:
Nasihat Nabi Isa agar Tak Menjadi Orang yang Sok Suci
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat satu riwayat yang berisi wasiat atau nasihat yang diberikan Nabi Isa kepada para pengikutnya. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أبِي، حَدَّثَنَا هَاشِمٌ، أَخْبَرَنَا صَالِحٌ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ أَبِي الْجَلْدِ أَنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَوْصَى الْحَوَارِيِّينَ: لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَقْسُوَ قُلُوبُكُمْ، وَإِنَّ الْقَاسِيَ قَلْبُهُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى ذُنُوبِ النَّاسِ كَأَنَّكُمْ أَرْبَابٌ وَلَكِنَّكُمُ انْظُرُوا فِي ذُنُوبِكُمْ كَأَنَّكُمْ عَبِيدٌ، وَالنَّاسُ رَجُلَانِ: مُعَافًى وَمُبْتَلًى، فَارْحَمُوا أَهْلَ الْبَلَاءِ فِي بَلِيَّتِهِمْ، وَاحْمَدُوا اللَّهَ عَلَى الْعَافِيَةِ

Abdullah bercerita, ayahku bercerita, Hasyim bercerita, Shaleh mengabarkan padaku, dari Abu ‘Imran al-Jauniy, dari Abu al-Jald, bahwa sesungguhnya Isa bin Maryam ‘alaihissalam berwasiat kepada hawari-hawarinya (sahabat/murid):

“Janganlah kalian banyak bicara tanpa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, karena hati kalian akan membatu. Sesungguhnya orang yang membatu hatinya jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi dia tidak mengetahuinya. Janganlah kalian memandang dosa-dosa manusia seakan-akan kalian adalah tuhan. Sebaliknya, kalian harus memandang dosa-dosa kalian seakan-akan kalian adalah budak. Manusia itu ada dua: (1) orang yang diberi kesehatan, dan (2) orang yang diuji (dengan musibah). Maka, berkasih-sayanglah pada orang-orang yang diuji karena musibah (yang menimpa) mereka, dan pujilah Allah atas (anugerah) sehat (yang diberikan-Nya).” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 73)

****

Nasihat Sayyidina Isa ‘alaihissalam di atas adalah penyejuk. Ia tak menyukai kekerasan. Ucapannya adalah penanda, bahwa perkataan tanpa hati yang tertaut dengan Allah mudah tergelincir dan menggelincirkan, apalagi jika perkataan itu berjumlah-jumlah. Karena itu, ia menempatkan dzikir (ingat) kepada Allah sebagai pembatasnya. Ia takut perlahan-lahan hati manusia akan mengeras. Ketika hati manusia sudah mengeras, ia akan jauh dari Allah, tapi mereka tak merasakannya. 

Sayyidina Isa berkata: “Sesungguhnya orang yang membatu hatinya jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla tapi dia tidak mengetahuinya.” Kata, “lâ ya’lamu—tidak mengetahuinya,” ini agak berbahaya. Karena mereka tidak merasa jauh dari Allah, bahkan terkadang merasa dekat dengan-Nya. Akibatnya, mereka mudah menilai orang lain, apalagi jika yang dinilainya adalah seorang pendosa, mereka akan berlagak selaiknya tuhan. Ini yang ditakuti Sayyidina Isa ‘alaihissalam dari murid-muridnya, para hawari itu. Sebab, mereka adalah orang yang mempelajari ilmu kebenaran. Ilmu yang bisa membedakan kebaikan dan keburukan, sehingga akan sangat terang bagi mereka, mana perbuatan dosa dan amal; mana pendosa dan ahli ibadah.

Karena itu, Sayyidina Isa menambahkan nasihatnya: “Janganlah kalian memandang dosa-dosa manusia seakan-akan kalian adalah tuhan. Sebaliknya, kalian harus memandang dosa-dosa kalian seakan-akan kalian adalah budak.” Nasihat ini digunakan sebagai penghidup kesadaran mereka. Sayyidina Isa ingin menjauhkan murid-muridnya dari perasaan unggul dalam amal, yang bisa menyebabkan kebencian terhadap pelaku dosa, bukan terhadap dosanya. Ketika kebencian telah menggunung, kasih sayang akan tenggelam ke dasarnya. Untuk menghindari itu, Sayyidina Isa menekankan pentingnya melihat ke dalam diri, melakukan perjalanan ruhani, menelusuri lekuk-lekuk jiwa, dan meraba terbolak-baliknya hati. Dengan cara menganggap dosa-dosa mereka sendiri laiknya budak, yang tidak memiliki kuasa apa-apa dan dikuasai, hingga mereka merasa rendah sekaligus merasa berhak dikasihani Tuhan.

Dengan menggunakan kata “budak”, Sayyidina Isa mengembalikan manusia ke tempatnya semula, sebagai yang dinilai (objek), bukan yang menilai. Hanya Allah lah yang berhak menilai, dan manusia hanyalah makhluk yang dinilai. Karena itu, Sayyidina Isa ‘alaihissalam memerintahkan murid-muridnya jangan banyak bicara dan menilai dosa orang lain seakan-akan diri kalian adalah tuhan. Jika mereka melakukannya, tidak hanya mereka telah menyerobot hak Tuhan, tapi juga merenggangkan ruang dakwah yang seharusnya dimasuki.

Apa yang dikatakan Sayyidina Isa bukan tanpa dasar. Sebagai seorang nabi, tentu Sayyidina Isa mendapat petunjuk langsung dari Allah. Dalam satu riwayat dikatakan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أبِي، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ قَالَ: أَوْحَى اللَّهُ إِلَى عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ يَا عِيسَى عِظْ نَفْسَكَ، فَإِنِ اتَّعَظْتَ فَعِظِ النَّاسَ، وَإِلَّا فَاسْتَحِ مِنِّي

“Abdullah bercerita, ayahku bercerita, Sayyar bercerita, Ja’far bercerita, Malik bin Dinar bercerita kepada kami, ia berkata: “Allah mewahyukan kepada Isa ‘alaihissalam. (Dia berfirman): “Wahai Isa, nasihatilah dirimu sendiri (terlebih dahulu). Jika kau sudah menasihati dirimu (sendiri) maka nasihatilah manusia, (jika kau belum melakukannya) maka malulah kepada-Ku.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 71)

Nabi yang tugas utamanya menyampaikan pesan-pesan Allah (berdakwah) diharuskan menasihati dirinya sendiri sebelum menasihati orang lain, apalagi kita. Namun, kita seringkali lupa kedudukan kita sebagai yang “dinilai”. Kita terlalu sibuk menilai orang lain, hingga kita lupa meraba diri sendiri. Padahal, kebaikan dan keburukan ada di setiap manusia. Sebaik-baiknya manusia pasti pernah berdosa, dan sejahat-jahatnya manusia pasti pernah berpahala. Jika syarat untuk menasihati orang lain saja harus menasihati diri sendiri, apalagi menilai. Syarat apa yang dibutuhkan sampai Nabi Isa sendiri tak terlalu berani melakukannya, bahkan Allah memerintahkannya untuk “tahu malu”, apalagi kita manusia biasa.

Pada kalimat selanjutnya Sayyidina Isa memberitahu murid-muridnya bahwa manusia terbagi dua; pertama, orang yang diberi kesehatan (mu’âfan), dan kedua, orang yang diuji dengan musibah (mubtalan). Dua pembagian tersebut bukan predikat pasti, melainkan perputaran roda kehidupan; terkadang di atas, terkadang di bawah. Setiap manusia pasti mengalami “ganti peran” dalam kehidupannya. Beberapa tahun lalu ia masuk kategori pertama, beberapa tahun kemudian ia masuk kategori kedua. Karena seringnya manusia berganti peran, Nabi Isa memerintahkan murid-muridnya untuk mengasihi dan bersyukur, sesuai dengan peran yang tengah dijalaninya, bukan malah saling memaki dan menjatuhkan.

Dengan mengatakan, “maka, berkasih-sayanglah pada orang-orang yang diuji karena musibah (yang menimpa) mereka, dan pujilah Allah atas (anugerah) sehat (yang diberikan-Nya),” Sayyidina Isa ‘alaihissalam ingin membangun pergaulan hidup selaras. Baginya, keberuntungan bukan alat untuk menghina dan merendahkan orang lain, dan kemalangan bukan keadaan yang perlu disesali berlebihan. Karena “mu’âfan” dan “mubtalan” adalah kategorisasi keadaan, bukan sebuah predikat pemanen. Artinya, siapapun orangnya pasti mengalami dua keadaan tersebut. Karena itu, Sayyidina Isa menghendaki manusia belajar dari hidupnya yang seperti roda, dan merasai kenyamanan dan kesusahannya sekaligus, kemudian mulai memandang orang lain dari kacamata yang lebih luas, tidak hanya dari “keberuntungan” dan “kemalangan”. Tujuannya adalah, agar tercipta budaya saling asuh, tolong menolong dan maju bersama. Mungkinkah itu terjadi? Wallahu a’lam bish shawwab.

Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Share:
Selasa 14 Mei 2019 3:0 WIB
Kisah Hikmah Ubaidillah bin Umar Al-Qawariry tentang Shalat Berjamaah
Kisah Hikmah Ubaidillah bin Umar Al-Qawariry tentang Shalat Berjamaah
Ilustrasi (via worldbulletin.net)
Sudah menjadi maklum di kalangan umat Islam bahwa shalat berjamaah memiliki keutamaan 27 derajat dibanding shalat sendirian. Bila hanya dibaca dan dipahami secara tekstual saja mungkin ketika seseorang tidak shalat berjamaah ia hanya menghitung bahwa pahala yang di dapatnya sekadar lebih sedikit dari mereka yang berjamaah, selesai.

Namun bagi mereka yang diberi penglihatan batiniah oleh Allah, keutamaan 27 derajat bukan semata soal jumlah angka belaka.

Ubaidillah bin Umar Al-Qawariry, sebagaimana diceritakan oleh Sayid Al-Bakri,  menuturkan:

Tak pernah aku tertinggal shalat jamaah di masjid. Seumur-umur aku selalu melakukan shalat wajibku di masjid dengan berjamaah. Sampai suatu ketika, aku kedatangan seorang tamu yang membuatku terlambat shalat Isya’. Saat tamu itu pergi aku berusaha mendatangi beberapa masjid barangkali masih ada yang belum menunaikan shalat Isya’. Namun ternyata semua masjid telah selesai berjemaah dan telah dikunci.

Aku sangat menyesalinya. Baru kali ini aku tak shalat berjamaah. Teringat hadits Rasul bahwa shalat berjamaah itu 27 derajat lebih baik dari shalat sendirian, maka malam itu juga aku melakukan shalat Isya’ 27 kali untuk mengganti shalat jamaahku yang hilang.

Saat aku tidur malam harinya aku bermimpi. Aku mengendarai kuda bersama sekumpulan orang. Mereka begitu cepat mengendarai kudanya hingga jauh mendahuluiku. Aku berusaha untuk mengejarnya namun tak pernah bisa. Salah satu dari mereka menoleh kepadaku seraya berkata, "Hai Ubaidillah, kau tak akan pernah bisa mengejar kami."

"Mengapa?" tanyaku.

Orang itu menjawab, "Karena kami melakukan shalat Isya’ berjamaah, sedangkan kamu tidak." 

(Yazid Muttaqin)



Kisah ini dinukil dari kitab "I'ânatut Thâlibîn" karya Sayyid Al-Bakri bin Muhammad Syatha Al-Dimyathi, juz 2, hal. 5

Senin 13 Mei 2019 17:30 WIB
Cara Nabi Ayyub Menegur Prasangka Buruk Saudaranya pada Allah
Cara Nabi Ayyub Menegur Prasangka Buruk Saudaranya pada Allah
Dalam kitab Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Imam al-Hafidz Ibnu Katsir menulis sebuah riwayat menarik tentang Nabi Ayyub ‘alaihissalam dan dua saudaranya. Berikut riwayatnya:

وحدثنا أبي، حدثنا أبو سلمة، حدثنا جرير بن حازم، عن عبد الله بن عبيد بن عمير قال: كان لأيوب، عليه السلام، أخوان فجاءا يوما، فلم يستطيعا أن يدنوا منه، من ريحه، فقاما من بعيد، فقال أحدهما للآخر: لو كان الله علم من أيوب خيرا ما ابتلاه بهذا، فجزع أيوب من قولهما جزعا لم يجزع من شيء قط، فقال: اللهم، إن كنت تعلم أني لم أبت ليلة قط شبعان وأنا أعلم مكان جائع، فصدقني، فصدق من السماء وهما يسمعان، ثم قال: اللهم، إن كنت تعلم أني لم يكن لي قميصان قط، وأنا أعلم مكان عار، فصدقني، فصدق من السماء وهما يسمعان، اللهم بعزتك ثم خر ساجدا، ثم قال: اللهم بعزتك لا أرفع رأسي أبدا حتى تكشف عني، فما رفع رأسه حتى كشف عنه

Ayahku bercerita, Abu Salamah bercerita, Jarir bin Hazim bercerita, dari ‘Abdullah bin ‘Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: “Ayyub ‘alaihissalam mempunyai dua orang saudara. Suatu hari keduanya mengunjunginya. Mereka tidak kuat berdekatan dengan Ayyub karena baunya. Keduanya berdiri dari kejauhan. Salah satu dari keduanya berkata: “Andai Allah mengetahui kebaikan Ayyub, ia tidak akan tertimpa musibah ini.”

Ayyub pun sedih karena ucapan dua saudaranya itu, dengan kesedihan yang tidak pernah dirasakan olehnya. Kemudian ia berdoa: “Ya Allah, kiranya Kau tahu bahwa aku tidak pernah tidur (dalam keadaan) kenyang, padahal aku tahu (bagaimana susahnya) keadaan orang kelaparan, maka benarkanlah aku.” Allah membenarkannya dari langit, dan kedua saudaranya mendengarnya.

Kemudian Ayyub berdoa (lagi): “Ya Allah, kiranya Kau tahu bahwa aku tidak memiliki pakaian, padahal aku tahu (bagaimana susahnya) keadaan orang telanjang, maka benarkanlah aku.” Allah membenarkannya (lagi) dari langit, dan kedua saudaranya mendengarnya.

“Ya Allah, dengan keagungan-Mu,” lalu Ayyub bersujud dan melanjutkan doanya, “Ya Allah, dengan keagungan-Mu aku tidak akan mengangkat kepalaku selamanya hingga Kau hilangkan (musibah ini) dariku.” Kemudian Ayyub tidak mengangkat kepalanya hingga Allah menghilangkan (musibah/penyakit) darinya. (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 2000, h. 1246)

****

Sebelum membahas kisah di atas, kita perlu tahu terlebih dahulu bahwa Sayyidina Ayyub ‘alaihissalam terkena sakit menahun yang luar biasa parahnya. Menurut Imam Qatadah, lamanya sekitar tujuh tahun, “sab’a sinîna wa asyhâran—tujuh tahun beberapa bulan,” yang tersisa dari tubuhnya tinggal mata, hati, jantung dan lidahnya. Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dikatakan, “mâ kâna baqiya min Ayyûb illâ ‘ainâhu wa qalbuhu wa lisânuhu—tidak tersisa dari (tubuh) Ayyub kecuali mata, hati dan lidahnya.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 54). Menurut Imam Wahb bin Munabbih, “makatsa fîl balâ’i tsalâtsa sinîna—Ayyub mengalami bala’ tiga belas tahun.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, 2000, h. 1245). Penggunaan kata “al-bala’” menunjukkan bahwa yang menimpanya tidak hanya penyakit, tapi berbagai macam musibah.

Imam Ibnu Katsir ketika menafsiri Surah al-Anbiyâ’ ayat 83: “dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang,” mengatakan:

يذكر تعالى عن أيوب، عليه السلام، ما كان أصابه من البلاء، في ماله وولده وجسده

“Allah menyebut kisah Ayyub ‘alaihissalam, yaitu kisah ketika ia terkena musibah dalam harta, anak dan jasadnya.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, 2000, h. 1244-45)

Sebelum terkena musibah, Sayyidina Ayyub ‘alaihissalam memiliki banyak anak dan harta melimpah, dari mulai binatang ternak sampai rumah yang nyaman. Lalu perlahan-lahan semuanya hilang, hingga kusta menguasai sekujur tubuhnya (bil jadzâm fî sâ’iri badanihi). (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, 2000, h. 1244-45).

Namun, tak pernah sekalipun ia mengeluh. Ia tegar menjalani hidupnya. Sabar dengan segala timpaan musibah. Kesabarannya tidak hanya ditunjukkan dengan tanpa mengeluh, tapi juga dengan terus beribadah yang tak kurang intensitasnya ketika tubuhnya masih sehat. Ketika isterinya memintanya berdoa kepada Allah agar disembuhkan (ud’ullaha fayusyfîka), Sayyidina Ayyub ‘alaihissalam tidak melakukannya (faja’ala lâ yad’û). Ia tetap teguh menerima semuanya, hingga suatu kejadian terjadi, yaitu ketika dua saudaranya berkunjung dan mengatakan sesuatu yang memberatkan hatinya. Ia sangat sedih mendengar ucapan kedua saudaranya, bukan karena susahnya keadaannya, tapi karena prasangka buruk mereka kepada Allah.

Ia pun berdoa dengan melantangkan suaranya agar keduanya mendengar. Ia berseru kepadaNya, “Ya Allah, kiranya Kau tahu bahwa aku tidak pernah tidur (dalam keadaan) kenyang, padahal aku tahu (bagaimana susahnya) keadaan orang kelaparan, maka benarkanlah aku,” dan berikutnya ia berdoa, “Ya Allah, kiranya Kau tahu bahwa aku tidak memiliki pakaian, padahal aku tahu (bagaimana susahnya) keadaan orang telanjang, maka benarkanlah aku.” Lalu ia mengakhiri doanya dengan kalimat, “Ya Allah, dengan keagungan-Mu aku tidak akan mengangkat kepalaku selamanya hingga Kau hilangkan (musibah ini) dariku.”

Rangkain doa di atas menunjukkan beberapa hal penting. Pertama, keyakinan Sayyidina Ayyub akan kasih sayang Allah. Meski bertahun-tahun lamanya ia sakit, tak sekalipun ia meragukan kasih sayang Allah. Diselamatkannya mata, lidah dan hati sangat disyukuri olehnya. Dengan itu, ia masih bisa berzikir, bersyukur dan beribadah kepadaNya. Karena itu ia sangat yakin, kapanpun ia minta disembuhkan, dengan kasih sayang-Nya yang maha luas, Allah pasti menyembuhkannya.

Kedua, jika Sayyidina Ayyub mau, musibahnya akan berakhir seketika itu juga. Poin kedua ini berkaitan erat dengan poin yang pertama, bahwa ia sangat yakin akan disembuhkan Allah jika memintanya. Persoalannya, ia tidak mau memintanya. Seringkali isterinya memintanya berdoa kepada Allah agar disembuhkan, tapi ia selalu menolak. Bagi Sayyidina Ayyub, sembuh atau tidak sekedar pilihan, dan ia memilih menjalani musibah yang diujikan Allah kepadanya.

Ketiga, sebagai cara Sayyidina Ayyub menyelamatkan saudaranya. Ini menarik, karena ia menampakkan proses dikabulkannya doa secara langsung kepada dua saudaranya. Selain sebagai bantahan atas perkataan mereka, juga penanaman benih iman dan taubat di hati mereka. Tentunya Sayyidina Ayyub sebagai seorang nabi tidak mau kedua saudaranya menjadi pendosa karena prasangka buruk mereka kepada Allah. Setelah ditampakkan dengan jelas, akhirnya mereka tahu, bahwa pandangan mereka tentang Tuhan sepenuhnya salah. 

Dan keempat, ketidak-terimaan Sayyidina Ayyub atas prasangka buruk manusia kepada Allah. Sebelum menguraikannya, kita perlu mengetahui terlebih dahulu riwayat lain soal ini. Berikut riwayatnya:

مَرَّ نَفَرٌ مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ بِأَيُّوْبَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَقَالُوْا: مَا أَصَابَهُ مَا أَصَابَهُ إِلَّا بِذَنْبٍ عَظِيْمٍ أَصَابَهُ قَالَ: فَسَمِعَهَا أَيُّوْبُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَعِنْدَ ذَلِكَ قَالَ: مَسَّنِيَ الضُّرُّ، وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ، قَالَ: وَكَانَ قَبْلَ ذَلِكَ لَا يَدْعُوْ

“Beberapa orang dari Bani Israel melintasi (rumah) Ayyub ‘alaihissalam, mereka berkata: “Penyakit yang menimpanya tidak lain karena dosa besar yang dilakukannya.” Ayyub ‘alaihissalam mendengar perkataan itu dan berdoa (QS. Al-Anbiya’: 83): “(Tuhanku) aku telah terkena penyakit, dan Kau adalah Tuhan yang Maha Pengasih di antara semua pengasih.” Sebelumnya Ayyub tidak pernah berdoa. (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 54)

Ini artinya, doa Sayyidina Ayyub memohon kesembuhan tidak didasari karena kepayahan dan keputus-asaannya menjalani hidup, tapi ketidak-relaannya. Sebab, orang-orang yang berprasangka buruk kepada Allah mulai bermunculan ketika itu. Di riwayat pertama, prasangka buruk dilakukan oleh saudaranya sendiri, dan di riwayat kedua, prasangka buruk dilakukan oleh orang yang melintasi rumahnya. Mereka mengatakan, penyakit Ayyub karena dosa-dosanya. Perkataan semacam itu, bagi Sayyidina Ayyub, tidak bisa diterima. Bukan karena menyakiti perasaaannya, tapi karena prasangka buruk mereka kepada Allah, sehingga Sayyidina Ayyub tidak bisa mendiamkannya. Ia tidak peduli orang akan menghardiknya sedemikian rupa.

Dengan mengatakan, “penyakit yang menimpanya tidak lain karena dosa besar yang dilakukannya,” secara tidak langsung mereka berprasangka buruk kepada Allah. Karena menyempitkan rahmat-Nya yang luas dan kasih sayang-Nya yang tak berhingga. Seakan-akan Tuhan itu mudah marah dan pendendam, padahal tidak. 

Atas pertimbangan tersebut, Sayyidina Ayyub ‘alaihissalam memanjatkan doa kepada Allah minta disembuhkan. Ia tidak mau lagi mendengar prasangka buruk kepada Tuhan. Ia ingin semua orang terhindar dari dua dosa sekaligus; pertama, dosa bermaksiat kepada Allah, dan dua, bermaksiat kepada sesama manusia. Logika sederhananya begini, setelah sakit menahun, perlahan-lahan penyakitnya berubah menjadi sumber prasangka, baik kepada Tuhan maupun dirinya sendiri. Itu artinya penyakit yang dideritanya telah menjadi penyebab dua maksiat sekaligus bagi yang berprasangka.

Oleh karena itu, tanpa peristiwa-peristiwa tersebut, ia bisa saja melanjutkan ujiannya, karena ujian adalah madrasah bagi manusia, apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan, para nabi adalah kelompok manusia yang paling berat cobaannya (HR. Imam Ahmad):

أشد الناس بلاء الأنبياء، ثم الصالحون، ثم الأمثل فالأمثل

“Manusia yang paling berat cobaan/musibahnya adalah para nabi, kemudian orang-orang shaleh, lalu yang semisal (dengan itu) dan yang semisal.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, 2000, h. 1244-45)

Wallahu a’lam bish shawwab


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darrussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan

Ahad 12 Mei 2019 20:0 WIB
Ketika Istri Cuti Bulanan, Suami Gantikan Urus Sahur Keluarga
Ketika Istri Cuti Bulanan, Suami Gantikan Urus Sahur Keluarga
Dini hari tadi aku bangun tepat pada pukul 03.00 sesuai dengan pengaturan alarm di ponselku. Hal pertama yang aku lakukan setelah bangun adalah ke kamar mandi lalu berwudhu. Dari kamar mandi aku menuju dapur. Aku periksa magic com apakah nasi cukup untuk sahur bertiga, yakni kedua anakku dan aku sendiri. Akhirnya aku putuskan tidak menanak nasi.

Tepat pukul 03.05 aku mulai menyiapkan lauk pauk. Aku ambil daging ayam yang sudah dikasih bumbu oleh istriku sebelum ia tidur kemarin malam. Daging itu disimpannya di kulkas. Aku hitung ada 6 potong. Lalu aku siapkan kompor dan wajan untuk menggorengnya. 

Setelah kira-kira 15 menit, gorengan daging ayam selesai. Aku tiris dulu minyaknya di atas wajan hingga cukup kering. Sambil menunggu proses itu aku menyiapkan teh manis sebanyak tiga gelas. Juga peralatan makan seperti piring, sendok, lepek, centong, dan sebagainya aku siapakan dengan menatanya di meja makan. Yang belum ada tinggal nasi. Lalu aku ambil nasi sepiring besar dan penuh. 

Sekitar pukul 03.45, semua hidangan untuk makan sahur sudah tersaji dan tertata rapi di atas meja makan. Ada ayam goreng, sayur lodeh, gereh, sambal pedas, sambal kecap, sambal bangkok, dan sebagainya. Lalu aku bangunkan anak-anakku. Mula-mula si sulung dan kemudian si bungsu yang tidur di kamarku. 

Segera setelah itu, si sulung mulai ambil nasi. Cukup banyak. Kemudian si bungsu. Ia juga ambil cukup banyak hingga tersisa hanya sedikit. Yang sedikit itu bagianku. Ketika si sulung sudah menghabiskan nasinya, ia minta agar si bungsu mau memberikan sebagian nasi padanya. Ia merasa kurang. Si bungsu menolak.

“Gimana, saya buatkan mie goreng?” tanyaku pada si sulung menawarkan solusi.

“Tidak,” jawabnya. Ia menolak dibuatkan mie goreng bukan karena belum kenyang, tetapi di piring masih tersedia 2 potong daging ayam. 

Peristiwa “rebutan” nasi ini menjadi catatan penting di hari pertama santap sahur tanpa istri. Bukan istriku yang salah tetapi aku yang kurang perhitungan. 

Tepat pukul 04.23 seruan imsak dikumadangkan dari masjid. Tak lama setelah itu kami pun menyudahi makan sahur hari ini. 

***

Itulah ringkasan cerita dari kegiatan sahur di keluarga kami lima tahun lalu yang kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami”, terbit tahun 2016. 

Apa yang saya lakukan selama istri saya cuti bulanan (haid), yakni memberinya kebebasan untuk tidak bangun di waktu sahur, dan selanjutnya segala sesuatu terkait dengan kegiatan ini merupakan tanggung saya sebagai suami, sebenarnya bukan sesuatu tanpa dasar. Menurut fiqih mazhab Syafi’iyah, Hanabilah dan sebagaian Malikiyah, pada dasarnya pekerjaan rumah tangga bukan merupakan kewajiban istri. 

Tugas istri hanyalah sebatas membantu suami sesuai porsi yang diberikan atau disepakti. Dalam praktiknya seringkali istri menjadi ujung tombak dan seolah-olah hukumnya wajib dalam menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyapu, mencuci dan sebagainya.

Tetapi menurut para fuqaha, hal tersebut tidak menjadi persoalan dan bahkan baik sepanjang ia ridha melakukannya jika itu sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Hal ini sebagaimana penjelasan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, (Kuwait: Thibaah Dzatis Salasil, 1990) Cetakan ke-2, Juz 19, hal. 44 sebagai berikut:

فذهب الجمهور (الشافعية والحنابلة وبعض المالكية) الى أن خدمة الزوج لاتجب عليها لكن الأولى لها فعل ما جارت العاجة به

Artinya, “ Jumhur ulama (Syafiiyyah, Hanabilah dan sebagian Malikiyah) berpendapat bahwa tidak wajib bagi istri melayani suamianya (dalam urusan pekerjaan rumah tangga). Tetapi lebih baik jika melakukan seperti apa yang berlaku (membantu).”

Oleh karena “kewajiban” istri hanyalah sebatas membantu, maka porsi pekerjaan rumah tangga yang sebaiknya ia lakukan adalah sebesar porsi yang diberikan atau disepakati bersama, apakah sebagian besar, sebagian kecil, atau bahkan seluruhnya. 

Dalam konteks keluarga saya, khususnya terkait kegiatan sahur keluarga, yang kami sepakati adalah istri bebas untuk bangun atau tidak di waktu sahur ketika ia sedang cuti bulanan.

Hari itu di hari ke-18 Ramadhan 1435 H istri saya memilih tidak bangun dan saya mempersilakannya. Saya berpikir jika shalat dan puasa saja yang merupakan kewajiban dari Allah harus ia tinggalkan, maka apa salahnya saya memberinya kebebasan di waktu sahur selama ia cuti bulanan? Biarlah ia istirahat.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.