IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Nabi Musa Bingung Cara Bersyukur kepada Allah

Rabu 15 Mei 2019 16:30 WIB
Share:
Ketika Nabi Musa Bingung Cara Bersyukur kepada Allah
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat sebuah riwayat tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang kebingungan bersyukur. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا أبِي، أَخْبَرَنَا هَاشِمٌ، أَخْبَرَنَا صَالِحٌ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ أَبِي الْجَلْدِ قَالَ: قَالَ مُوسَى: إِلَهِي، كَيْفَ أَشْكُرُكَ وَأَصْغَرُ نِعْمَةٍ وَضَعْتَهَا عِنْدِي مِنْ نِعَمِكَ لَا يُجَازِي بِهَا عَمَلِي كُلُّهُ؟ قَالَ: فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنْ يَا مُوسَى، الْآنَ شَكَرْتَنِي

Abdullah bercerita, Ayahku mengabarkan, Hasyim mengabarkan, Shalih mengabarkan, dari Abu ‘Imran, dari Abu al-Jald, ia berkata:

“Musa berkata: “Tuhanku, bagaimana cara(ku) bersyukur kepada-Mu, sedangkan nikmat terkecil yang Kau letakkan di sisiku, termasuk nikmat-nikmat-Mu yang tidak mungkin berbalas dengan semua amalku?”

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, (Allah berfirman): “Wahai Musa, sekarang ini kau sudah bersyukur kepada-Ku.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 85)

****
Dalam beragama banyak hal yang perlu diperbincangkan, termasuk “syukur”. Allah berfirman (QS. Ibrahim: 7):

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ, وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami tambah nikmat kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat pedih.”

Namun, banyak orang yang tidak tahu bagaimana seharusnya ekspresi syukur itu, karena kadar nikmat yang Allah berikan kepada kita tidak mungkin diimbangi dengan semua amal baik kita. Belum lagi dosa yang semakin menjauhkan kita. Sampai Nabi Musa ‘alaihissalam bingung bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah yang sedemikian banyak, bahkan yang terkecilnya saja tidak sanggup diimbangi oleh semua amalnya.

Di sinilah Allah menunjukkan kasih sayangNya. Salah satu nama-Nya (al-Asmâ’ al Husnâ) adalah, “al-Syakûr—Yang Maha Mensyukuri”, yaitu Allah mengapresiasi semua amal yang dilakukan hambaNya. Bahasa zaman sekarangnya, Allah itu Maha Mengapresiasi, dan menerima amal hamba-Nya, sekecil apapun itu. Dalam sebuah hadits diceritakan (HR. Imam Muslim):

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلي الله عليه وسلم قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيْقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ فَاَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ، فَغَفَرَ اللهُ لَهُ

“Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Suatu ketika ada laki-laki yang berjalan di sebuah jalan, ia menemukan dahan berduri lalu menyingkirkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya (menerima amalnya), kemudian Allah mengampuninya.”

Dalam hadits di atas, ada kalimat, “syakarallahu lahu—Allah berterima kasih kepadanya,” yang mengindikasikan diterimanya amal laki-laki tersebut. Artinya, setiap kali ada hamba-Nya yang beramal, Allah akan berterima kasih dengan cara menerima amalnya. Dan, kisah di atas merupakan gambaran termudah dari sifat “al-Syakûr” Allah.

Kita pun harus tahu, bahwa kebingungan Sayyidina Musa adalah kebingungan yang bernilai tinggi. Kebingungan yang berasal dari ketaatan dan kesalehannya. Bukan kebingungan sembarangan. Karena tidak banyak orang yang memandang dirinya terlebih dahulu sebelum bersyukur. Mereka hanya bersyukur saja, tanpa repot mentafakkuri begitu melimpahnya nikmat Allah, yang jika dibahasakan tidak ada kalimat yang bisa melukiskan keberlimpahannya.

Dalam kebingungannya itu, Sayyidina Musa ‘alaihissalam menampilkan penghambaannya. Karena ia tahu begitu banyak nikmat Allah di sekelilingnya, hingga ia merasa tak pantas “berterima kasih”. Jika yang terkecil saja masih terlalu besar andai ditimbang dengan semua amalnya, apalagi nikmat-Nya yang terbesar. Inilah yang dimaksud kebingungan yang berasal dari kesalehan, karena orang saleh terbiasa mengukur dirinya sendiri terlebih dahulu; apakah ia laik atau tidak. Oleh sebab itu, tidak sedikit para wali yang kebingungan dalam bersyukur, hingga sebagian dari mereka berdoa:

اللهمّ إِنَّكَ تَعْمَلُ عَجْزِي عَنْ مَوَاضِعِ شُكْرِكَ، فَاشْكُرْ نَفْسَكَ عَنِّي

“Ya Allah, sungguh Kau mengetahui ketidak-mampuanku bersyukur sesuai dengan (semua karunia)-Mu, maka bersyukurlah pada DiriMu sendiri sebab (ketidak-mampuan)ku (itu).” (Imam Abu Bakr Muhammad al-Kalabadzi, Kitâb al-Ta’arruf li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, Kairo: Maktabah al-Khanji, tt, h. 71)

Akan tetapi, bukan berarti kita berhenti bersyukur. Kita harus tetap bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Jika kita berhenti bersyukur karena alasan di atas, artinya kita telah menyamakan diri kita dengan Nabi Musa; kita telah menyamakan kualitas kesalehan kita dengannya. Padahal, Nabi Musa, dalam kisah di atas, sedang mempersembahkan syukur dalam level tertingginya. Hadirnya perasaan “tak pantas” yang dirasakannya bukanlah rekayasa, dibuat-buat atau dipelajari, melainkan ketulusan rasa yang dihasilkan dari tafakkur diri dan sekitarnya. 

Paling tidak, kita bisa mensyukuri nikmat Allah dengan berusaha istiqamah mengingat-Nya di hati, lisan dan perbuatan; mengenali pemberian-Nya dan memanfaatkannya di jalan kebaikan, seperti yang dikatakan Imam Ibnu Mandhur, “’irfânul ihsân wa nasyruhu—(syukur adalah) mengetahui kebaikan dan menyebarkannya.” (Imam Abu al-Fadl Jamaluddin Muhammad bin Mandhur al-Anshari, Lisân al-‘Arab, Kairo: Darul Ma’arif, tt, juz 4, h. 2305). Dalam bahasa hadits dikatakan, “khairunnâs anfa’uhum linnâs—sebaik-baiknya mansuia adalah yang paling bermanfaat untuk lainnya.” 

Sebagai penutup, kita perlu menghayati doa Nabi Musa di bawah ini, karena bedoa juga termasuk bentuk syukur kepada Allah. Bila perlu, kita seringkan membaca doa di bawah ini:

اللَّهُمَّ لَيِّنْ قَلْبِي بِالتَّوْبَةِ، وَلَا تَجْعَلْ قَلْبِي قَاسِيًا كَالْحَجَرِ

“Ya Allah, lunakkan hatiku dengan taubat, dan jangan jadikan hatiku mengeras seperti batu.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 85)

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
 
Share:
Rabu 15 Mei 2019 15:0 WIB
Jangan Mubazir, apalagi di Bulan Puasa!
Jangan Mubazir, apalagi di Bulan Puasa!
Waktu itu pukul 03.45. Semua orang di keluargaku mau bangun, tetapi si sulung hanya bangun sebentar untuk minum air putih dan kemudian kembali tidur. Sedangkan si bungsu meskipun terlihat masih ngantuk, ia mau makan bersama kedua orang tuanya. 

Si bungsu mencoba mencicipi oseng kikil, tapi tidak menunjukkan seleranya. Katanya, rasanya beda dari biasanya. Ia memilih makan dengan mie goreng. Aku duduk di sebelah kanannya dan makan mie soto tanpa nasi. Aku tak meminati oseng kikil itu karena anak-anak bilang rasanya beda.

“Amis gimana to Jo, kikilnya?” tanyaku pada istriku.

“Bukannya amis Jo, tapi ini rasanya sangit. Mbakarnya pasti gak bener ini. Aku beli dari Yune kemarin,” istriku menjelaskan. 

“O, gitu. Ya sudah,” kataku.

Meski istriku merasakan dan mengakui rasa oseng kikil itu tidak wajar, ia tetap makan sahur dengan sayur itu. Ia berpikir jangan sampai mubazir. Ia makan nasi dengan kikil itu hingga beberapa menit menjelang imsak. 

Istriku benar. Selama oseng kikil itu masih sehat dan baik kondisinya, ya sebaiknya dimakan. Soal rasanya beda dari biasanya, ya harus disikapi dengan sabar. Lagian ini menyangkut sikap bagaimana harus menghargai usaha dan jerih payah kita sendiri. Kikil itu didapat dengan mengeluarkan uang. Untuk menjadikannya sayur oseng, dibutuhkan tenaga, waktu dan pikiran yang tak boleh disia-siakan. 

***
Itulah ringkasan cerita dari salah satu kegiatan sahur di keluarga kami lima tahun lalu, atau tepatnya pada tanggal 14 Ramadhan 1435 H/12 Juli 2014. Cerita itu kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami” (2016). 

Apa yang dilakukan istri saya, yakni tetap mempertahankan sayur oseng kikil dan mau mengonsumsinya patut diapresiasi mengingat kondisinya yang masih baik atau sehat sehingga layak konsumsi.

Dilihat dari sisi ekonomi, hal itu menunjukkan usahanya untuk menghindari pemborosan uang dan tenaga yang tidak perlu. Dilihat dari etika agama, hal itu sesuai dengan apa yang diamanatkan di dalam Al-Qurán Surat Al-Isra, Ayat 27 sebagai berikut:

 إن المبذرين كانوا إخوان الشياطين

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah suadara setan dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Ayat di atas memang dimaksudkan untuk mengingatkan orang-orang yang suka menyia-nyiakan atau berbuat sia-sia seperti pemborosan atau pemhamburan. Hal ini biasa disebut tabdzir, dan pelakunya disebut mubadzir(in). Oleh Al-Quran perbuatan seperti ini disetarakan dengan perbuatan setan sebab menimbulkan dampak negatif seperti pemborosan sumber-sumber dan tiadanya sikap penghargaan atas apa yang diberikan óleh Allah. 

Pemborosan bahan-bahan makanan misalnya seperti pada kasus di atas, bisa berdampak pada percepatan proses menjadi sampah sekaligus meningkatnya jumlah sampah dalam waktu relatif singkat. Apa bila hal ini dilakukan di bulan Puasa, maka nilai keburukannya lebih besar. Padahal menahan diri untuk tidak berbuat buruk di satu sisi di bulan Puasa, dan upaya memperbanyak perbuatan baik di sisi lain, adalah salah satu esensi ibadah puasa itu sendiri. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

Rabu 15 Mei 2019 4:0 WIB
Kerikil Tajam di Sepatu Pengemis
Kerikil Tajam di Sepatu Pengemis
Ilustrasi (Ist.)

Suatu hari dua orang kakak dan adik shalat di sebuah masjid di dekat pasar. Setelah selesai shalat, sang adik berkata kepada kakaknya ingin berbuat iseng agar suasana segar penuh canda dan tawa. Sang kakak pun menanyakan keisengan apa yang akan dilakukan sang adik.

Kebetulan ada seorang pengemis tua masuk ke masjid untuk melaksanakan shalat. Pengemis itu mengenakan sepatu lusuh yang ia letakkan di depan pintu masuk. Seketika sang adik berkata kepada kakaknya bahwa ia punya ide.

"Aha.. gini, Kak. Gimana kalau aku masukin beberapa kerikil ke sepatu pengemis itu? Kita lihat reaksinya," kata sang adik sambil bergegas mencari kerikil di luar masjid, tak sempat memberi waktu kepada kakaknya untuk mengomentari idenya.

Sejurus kemudian dimasukkannya kerikil itu ke dalam sepasang sepatu yang nampaknya menjadi satu-satunya alas kaki yang dipakai pengemis itu setiap hari.

Keduanya pun menunggu sang pengemis keluar masjid dari tempat tersembunyi untuk melihat reaksi saat ia memakai sepatu. Sang pengemis pun keluar dari masjid. Terdengar jeritan saat kakinya masuk ke dalam sepatu.

"Ya Allah... apa ini?," teriaknya sambil mengeluarkan kakinya kembali dari sepatu dan mengeluarkan isinya. Ia menemukan beberapa kerikil tajam ukuran kecil yang ternyata mampu membuat kakinya berdarah akibat tergesek kerikil tersebut.

"Ya Allah. Teganya orang memasukkan kerikil ini. Saya doakan semoga dibalas setimpal apa yang telah ia lakukan. Semoga hidupnya selalu dalam masalah karena telah membuat masalah. Selalu sulit karena memyulitkan orang lain," gumamnya lirih sambil menahan rasa sakit.

Kakak dan adik yang melihat reaksi pengemis tua itu pun saling bertatap mata. Rencana yang awalnya hanya sebuah keisengan dan untuk mencairkan suasana namun berubah menjadi perasaan bersalah. Keduanya pun tak tega untuk tertawa atas keisengan sang adik.

Keesokan harinya kedua kakak-adik ini kembali ke masjid tersebut. Sengaja, mereka shalat di masjid itu lagi untuk menunggu sang pengemis yang kemarin mereka isengi. Tepat sekali. Sang pengemis kembali ke masjid itu untuk shalat.

Berjalan sambil terpincang-pincang akibat kerikil yang melukai kakinya kemarin, ia melepas sepatunya dan meletakkannya tepat di depan pintu. Saat sang pengemis shalat, sang kakak berkata kepada adiknya.

"Untuk menebus kesalahan kemarin, sekarang kakak akan memasukkan ini ke dalam sepatunya," kata sang kakak kepada adiknya sambil mengambil sesuatu yang ia lipat kecil-kecil dari sakunya dan segera memasukkannya kedalam kedua sepatu pengemis itu.

Tak lama sang pengemis pun keluar masjid dan segera mengenakan sepatunya. Alangkah terkejutnya sang pengemis karena ia kembali merasakan ada sesuatu yang mengganjal di kalinya. Ia pun sempat menghela nafas, sedikit kesal dengan kejadian tersebut.

"Apa lagi ini, ya Allah," ujarnya sambil melepas kembali sepatunya dan membaliknya untuk mengeluarkan isi yang ada di dalamnya.

Alangkah terkejutnya ia, saat benda yang di dalam sepatunya keluar. Ia melihat uang kertas pecahan 100 ribu, 50 ribu, 20 ribu, dan 10 ribu terlipat kecil-kecil.

"Ya Allah.. siapa yang memasukkan ini ke sepatuku? Apakah ini rezekiku? Kalau iya, siapapun yang memasukkan uang ini ke sepatuku, ku doakan lancar rezekinya, panjang umurnya, dan selalu dilindungi Allah SWT," ucapnya sambil melihat ke kanan dan ke kiri tak ada satu pun orang yang ia lihat.

Dari tempat yang tak terlihat sang pengemis, ke dua kakak adik ini pun senyum. Mereka pun mengambil hikmah dari dua perbuatan yang sudah mereka lakukan.

"Adikku... sekecil apa pun kesalahan kita kepada orang lain, maka kita akan menanggung dosanya. Sekecil apapun kebaikan kita kepada orang lain, maka kita akan mendapat pahalanya," katanya kepada adiknya.

"Perbuatan jelek kepada orang lain akan dibalas dengan doa jelek. Perbuatan baik kepada orang lain juga akan dibalas dengan doa baik. Jadi, jika kita bisa membahagiakan orang lain, kenapa menyusahkannya? Jika bisa memudahkan urusan orang lain, kenapa malah mempersulit orang lain?," tambahnya.

Kita tidak tahu dari mulut siapa doa akan terkabul. Pasti kita ingin doa yang baik terucap dari orang lain. Semoga Allah selalu mengabulkan doa-doa baik orang lain untuk kita. Amin.

Muhammad Faizin, Redaktur NU Online

Selasa 14 Mei 2019 15:0 WIB
Nasihat Nabi Isa agar Tak Menjadi Orang yang Sok Suci
Nasihat Nabi Isa agar Tak Menjadi Orang yang Sok Suci
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat satu riwayat yang berisi wasiat atau nasihat yang diberikan Nabi Isa kepada para pengikutnya. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أبِي، حَدَّثَنَا هَاشِمٌ، أَخْبَرَنَا صَالِحٌ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ أَبِي الْجَلْدِ أَنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَوْصَى الْحَوَارِيِّينَ: لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَتَقْسُوَ قُلُوبُكُمْ، وَإِنَّ الْقَاسِيَ قَلْبُهُ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى ذُنُوبِ النَّاسِ كَأَنَّكُمْ أَرْبَابٌ وَلَكِنَّكُمُ انْظُرُوا فِي ذُنُوبِكُمْ كَأَنَّكُمْ عَبِيدٌ، وَالنَّاسُ رَجُلَانِ: مُعَافًى وَمُبْتَلًى، فَارْحَمُوا أَهْلَ الْبَلَاءِ فِي بَلِيَّتِهِمْ، وَاحْمَدُوا اللَّهَ عَلَى الْعَافِيَةِ

Abdullah bercerita, ayahku bercerita, Hasyim bercerita, Shaleh mengabarkan padaku, dari Abu ‘Imran al-Jauniy, dari Abu al-Jald, bahwa sesungguhnya Isa bin Maryam ‘alaihissalam berwasiat kepada hawari-hawarinya (sahabat/murid):

“Janganlah kalian banyak bicara tanpa mengingat Allah ‘Azza wa Jalla, karena hati kalian akan membatu. Sesungguhnya orang yang membatu hatinya jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla, tetapi dia tidak mengetahuinya. Janganlah kalian memandang dosa-dosa manusia seakan-akan kalian adalah tuhan. Sebaliknya, kalian harus memandang dosa-dosa kalian seakan-akan kalian adalah budak. Manusia itu ada dua: (1) orang yang diberi kesehatan, dan (2) orang yang diuji (dengan musibah). Maka, berkasih-sayanglah pada orang-orang yang diuji karena musibah (yang menimpa) mereka, dan pujilah Allah atas (anugerah) sehat (yang diberikan-Nya).” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 73)

****

Nasihat Sayyidina Isa ‘alaihissalam di atas adalah penyejuk. Ia tak menyukai kekerasan. Ucapannya adalah penanda, bahwa perkataan tanpa hati yang tertaut dengan Allah mudah tergelincir dan menggelincirkan, apalagi jika perkataan itu berjumlah-jumlah. Karena itu, ia menempatkan dzikir (ingat) kepada Allah sebagai pembatasnya. Ia takut perlahan-lahan hati manusia akan mengeras. Ketika hati manusia sudah mengeras, ia akan jauh dari Allah, tapi mereka tak merasakannya. 

Sayyidina Isa berkata: “Sesungguhnya orang yang membatu hatinya jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla tapi dia tidak mengetahuinya.” Kata, “lâ ya’lamu—tidak mengetahuinya,” ini agak berbahaya. Karena mereka tidak merasa jauh dari Allah, bahkan terkadang merasa dekat dengan-Nya. Akibatnya, mereka mudah menilai orang lain, apalagi jika yang dinilainya adalah seorang pendosa, mereka akan berlagak selaiknya tuhan. Ini yang ditakuti Sayyidina Isa ‘alaihissalam dari murid-muridnya, para hawari itu. Sebab, mereka adalah orang yang mempelajari ilmu kebenaran. Ilmu yang bisa membedakan kebaikan dan keburukan, sehingga akan sangat terang bagi mereka, mana perbuatan dosa dan amal; mana pendosa dan ahli ibadah.

Karena itu, Sayyidina Isa menambahkan nasihatnya: “Janganlah kalian memandang dosa-dosa manusia seakan-akan kalian adalah tuhan. Sebaliknya, kalian harus memandang dosa-dosa kalian seakan-akan kalian adalah budak.” Nasihat ini digunakan sebagai penghidup kesadaran mereka. Sayyidina Isa ingin menjauhkan murid-muridnya dari perasaan unggul dalam amal, yang bisa menyebabkan kebencian terhadap pelaku dosa, bukan terhadap dosanya. Ketika kebencian telah menggunung, kasih sayang akan tenggelam ke dasarnya. Untuk menghindari itu, Sayyidina Isa menekankan pentingnya melihat ke dalam diri, melakukan perjalanan ruhani, menelusuri lekuk-lekuk jiwa, dan meraba terbolak-baliknya hati. Dengan cara menganggap dosa-dosa mereka sendiri laiknya budak, yang tidak memiliki kuasa apa-apa dan dikuasai, hingga mereka merasa rendah sekaligus merasa berhak dikasihani Tuhan.

Dengan menggunakan kata “budak”, Sayyidina Isa mengembalikan manusia ke tempatnya semula, sebagai yang dinilai (objek), bukan yang menilai. Hanya Allah lah yang berhak menilai, dan manusia hanyalah makhluk yang dinilai. Karena itu, Sayyidina Isa ‘alaihissalam memerintahkan murid-muridnya jangan banyak bicara dan menilai dosa orang lain seakan-akan diri kalian adalah tuhan. Jika mereka melakukannya, tidak hanya mereka telah menyerobot hak Tuhan, tapi juga merenggangkan ruang dakwah yang seharusnya dimasuki.

Apa yang dikatakan Sayyidina Isa bukan tanpa dasar. Sebagai seorang nabi, tentu Sayyidina Isa mendapat petunjuk langsung dari Allah. Dalam satu riwayat dikatakan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا أبِي، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ قَالَ: أَوْحَى اللَّهُ إِلَى عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ يَا عِيسَى عِظْ نَفْسَكَ، فَإِنِ اتَّعَظْتَ فَعِظِ النَّاسَ، وَإِلَّا فَاسْتَحِ مِنِّي

“Abdullah bercerita, ayahku bercerita, Sayyar bercerita, Ja’far bercerita, Malik bin Dinar bercerita kepada kami, ia berkata: “Allah mewahyukan kepada Isa ‘alaihissalam. (Dia berfirman): “Wahai Isa, nasihatilah dirimu sendiri (terlebih dahulu). Jika kau sudah menasihati dirimu (sendiri) maka nasihatilah manusia, (jika kau belum melakukannya) maka malulah kepada-Ku.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 71)

Nabi yang tugas utamanya menyampaikan pesan-pesan Allah (berdakwah) diharuskan menasihati dirinya sendiri sebelum menasihati orang lain, apalagi kita. Namun, kita seringkali lupa kedudukan kita sebagai yang “dinilai”. Kita terlalu sibuk menilai orang lain, hingga kita lupa meraba diri sendiri. Padahal, kebaikan dan keburukan ada di setiap manusia. Sebaik-baiknya manusia pasti pernah berdosa, dan sejahat-jahatnya manusia pasti pernah berpahala. Jika syarat untuk menasihati orang lain saja harus menasihati diri sendiri, apalagi menilai. Syarat apa yang dibutuhkan sampai Nabi Isa sendiri tak terlalu berani melakukannya, bahkan Allah memerintahkannya untuk “tahu malu”, apalagi kita manusia biasa.

Pada kalimat selanjutnya Sayyidina Isa memberitahu murid-muridnya bahwa manusia terbagi dua; pertama, orang yang diberi kesehatan (mu’âfan), dan kedua, orang yang diuji dengan musibah (mubtalan). Dua pembagian tersebut bukan predikat pasti, melainkan perputaran roda kehidupan; terkadang di atas, terkadang di bawah. Setiap manusia pasti mengalami “ganti peran” dalam kehidupannya. Beberapa tahun lalu ia masuk kategori pertama, beberapa tahun kemudian ia masuk kategori kedua. Karena seringnya manusia berganti peran, Nabi Isa memerintahkan murid-muridnya untuk mengasihi dan bersyukur, sesuai dengan peran yang tengah dijalaninya, bukan malah saling memaki dan menjatuhkan.

Dengan mengatakan, “maka, berkasih-sayanglah pada orang-orang yang diuji karena musibah (yang menimpa) mereka, dan pujilah Allah atas (anugerah) sehat (yang diberikan-Nya),” Sayyidina Isa ‘alaihissalam ingin membangun pergaulan hidup selaras. Baginya, keberuntungan bukan alat untuk menghina dan merendahkan orang lain, dan kemalangan bukan keadaan yang perlu disesali berlebihan. Karena “mu’âfan” dan “mubtalan” adalah kategorisasi keadaan, bukan sebuah predikat pemanen. Artinya, siapapun orangnya pasti mengalami dua keadaan tersebut. Karena itu, Sayyidina Isa menghendaki manusia belajar dari hidupnya yang seperti roda, dan merasai kenyamanan dan kesusahannya sekaligus, kemudian mulai memandang orang lain dari kacamata yang lebih luas, tidak hanya dari “keberuntungan” dan “kemalangan”. Tujuannya adalah, agar tercipta budaya saling asuh, tolong menolong dan maju bersama. Mungkinkah itu terjadi? Wallahu a’lam bish shawwab.

Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen