IMG-LOGO
Trending Now:
Shalawat/Wirid

10 Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Membaca Shalawat

Kamis 16 Mei 2019 13:30 WIB
Share:
10 Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Membaca Shalawat
Bagi seorang Muslim, membaca shalawat adalah sebuah amalan yang tak asing lagi. Hal ini sering kita lakukan terutama ketika nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebut. Namun, para ulama sendiri ternyata tidak satu suara terkait hukum membaca shalawat. Para ulama berbeda pendapat terkait hukum membaca shalawat, apakah wajib, sunnah, ataupun mubah.

Ibn Ḥajar al-Asqalani (w. 852 H) menyebutkan bahwa para ulama tidak satu kata dalam memberikan hukum membaca shalawat. Ibn Ḥajar membagi perdebatan hukum shalawat ini menjadi sepuluh kelompok (lihat: Ibn Ḥajar al-Asqalânî, Fatḥ al-Bârî Syarḥ Shaḥiḥ al-Bukharî, (Beirut: Dâr al-Fikr, T.T), j. 11, h. 152.)

Kelompok pertama menyatakan bahwa hukum membaca shalawat adalah sunnah. Salah satu ulama yang mendukung pendapat ini adalah Ibn Jarir at-Thabari. At-Thabari menyebutkan bahwa pendapat ini sudah menjadi kesepakatan para ulama. 

Kedua, pendapat yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib tanpa ada batasan apa pun. Salah satu pendukung pendapat ini adalah Ibn al-Qishar. 

Ketiga, pendapat Abu Bakr al-Razi, salah satu ulama Hanafiyah, dan Ibn Ḥazm yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib, sebagaimana wajibnya kalimat tauhid, yang harus diucapkan pada waktu melakukan shalat wajib dan shalat sunnah. Pendapat ini juga didukung oleh al-Qurthubi dan Ibn ʽAthiyyah. 

Keempat, pendapat Imam al-Syafiʽi dan para pengikutnya, yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib, namun hanya pada waktu duduk di akhir shalat (duduk tahiyyat akhir), antara ucapan tasyahud dan salam. 

Kelima, pendapat al-Syaʽbi dan Ishaq ibn Rahawaih, yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib pada saat tasyahud shalat. 

Keenam, pendapat Abu Jaʽfar al-Baqir yang menyatakan bahwa hukum shalawat adalah wajib pada saat shalat tanpa batasan. Sehingga dalam pendapat ini shalawat bisa dibaca kapanpun, asalkan dalam keadaan shalat. 

Ketujuh, pendapat Abu Bakr bin Bukair, ulama Malikiyyah, yang menyebutkan bahwa diwajibkan memperbanyak shalawat tanpa batasan jumlah. 

Kedelapan, pendapat Imam al-Thahawi, Ibn ʽAraby, al-Zamakhsyari dan beberapa ulama lain, yang menyebutkan bahwa diharuskan membaca shalawat saat nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam disebutkan, ini sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi saat ada yang menyebut nama Rasulullah kita diharuskan untuk membaca shalawat. 

Kesembilan, pendapat al-Zamakhsyari, yang menyebutkan bahwa wajib membaca shalawat satu kali di setiap majelis, walaupun dalam majelis itu, kita sering menyebut nama Rasulullah berulang-ulang. 

Kesepuluh, membaca shalawat diwajibkan dalam setiap doa yang kita panjatkan, hal ini juga disebutkan oleh al-Zamakhsyarî.

Perbedaan pendapat ini dipengaruhi oleh hadits-hadits yang dijadikan sebagai rujukan. Al-Ityûbi (l. 1366 H) misalnya, menyebutkan bahwa ia lebih menguatkan pendapat yang kedelapan (wajib saat disebutkan nama Rasulullah) karena didukung oleh sebuah hadits riwayat Abu Hurairah. 

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rasulullah bercakap-cakap dengan seorang laki-laki yang merupakan perwujudan dari Jibril. Saat itu Jibril berkata kepada Rasulullah bahwa jika ada orang yang mendengar nama Rasulullah disebut, tapi ia tidak bershalawat kepada Rasul, maka ketika ia meninggal dunia, ia masuk neraka. Hadits ini bisa ditemukan dalam kitab Sahih Ibn Hibban. (Lihat: Muhammad ibn Ḥibbân, Shaḥîḥ Ibn Hibbân, [Beirut: Muassasah al-Risâlah, 1993], j. 2, h. 140.) 

Al-Ityubi berpendapat bahwa ancaman neraka yang diberikan oleh Jibril dan diaminkan oleh Rasul menunjukkan bahwa hal itu akan diberikan kepada orang yang meninggalkan kewajiban. Artinya, membaca shalawat, dalam hadits tersebut, wajib ketika nama Rasulullah disebutkan. (Muhammad ibn ʽAlî ibn Adam al-Ityûbî, Dakhîrah al-Uqbâ fi Syarḥ al-Mujtabâ, (T.K: Dâr Alî Barûm, 2003), j. 15, h. 149.)

Imam al-Syafi’i yang memiliki pendapat berbeda, yaitu memilih pendapat yang keempat dalam pembagian Ibn Ḥajar, juga mendasarkan argumentasinya pada sebuah hadits lain riwayat Abu Mas’ud al-Badri,

أَقْبَلَ رَجُلٌ حَتَّى جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَنَحْنُ عِنْدَهُ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَمَّا السَّلاَمُ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا فِي صَلاَتِنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ ؟ قَالَ : فَصَمَتَ حَتَّى أَحْبَبْنَا أَنَّ الرَّجُلَ لَمْ يَسْأَلْهُ ، ثُمَّ قَالَ : إِذَا أَنْتُمْ صَلَّيْتُمْ عَلَيَّ فَقُولُوا : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya, “Seorang laki-laki menghadap Rasul Saw hingga ia duduk di depan Rasulullah Saat itu kami (para sahabat) berada di sampingnya. Kemudian laki-laki itu bertanya, “Wahai Rasulullah Adapun salam kepadamu kami sudah tahu. Lalu bagaimana dengan shalawat kepadamu saat kami melakukan shalat?” Rasul kemudian diam, hingga kami menyukai sesungguhnya laki-laki itu tidak bertanya (lagi) kepada Rasulullah Rasul kemudian menjawab, “Ketika kalian membaca shalawat kepadaku, maka ucapkanlah: “Ya allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya karena engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Penyayang Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya karena engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Penyayang. (Lihat: Abu Bakr al-Bayhaqi, Sunan al-Bayhâqî, [Heyderbad: Majelis Dairah al-Maʽârif, 1344 H], j. 2, h. 378.) Selain al-Bayhaqi, beberapa ulama juga meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya, seperti: Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, al-Daruqutni, dan Imam Ahmad.

Sighat amar dalam hadits di atas, dijadikan sebagai dalil kewajiban mengucapkan shalawat pada saat shalat. Mengingat konteks pertanyaan yang disampaikan seorang laki-laki dalam hadits di atas adalah shalawat dalam keadaan shalat, bahkan Imam al-Syafii, sebagaimana disebutkan Ibn ʽAbd al-Bar, bahwa tanpa mengucapkan shalawat di tasyahud akkhir, maka diwajibkan untuk mengulangi shalat. (Lihat: Ḥamzah Muhammad Qâsim, Manâr al-Qârî Syarḥ Muḥtaṣar Shaḥiḥ al-Bukharî, [Damaskus: Dâr al-Bayân, 1990], j. 5, h. 67.)

Hadits ini, oleh al-Qurthûbî dijadikan sebagai penjelas (tafsir) atas firman Allah subhanahu wata'ala surat al-Ahzab: 56: 

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab: 56).

Al-Qurthubî menyebutkan, karena anjuran shalawat dalam ayat ini hanya disebutkan secara umum, maka hadits di atas menjadi penafsirnya. (Lihat: Al-Qurthubî, al-Jâmi’ li-Aḥkâm al-Qur’ân, [Kairo: Dar Kutub al-Miṣriyyah, 1964], j. 14, h. 234.)

Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan 10 kelompok di atas, sudah selayaknya kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw. selalu membaca dengan istiqamah shalawat kepadanya. Bukan karena hukumnya, baik wajib atau sekedar sunnah, tapi lebih kepada penghormatan kita kepada Nabi Agung Muhammad Saw. yang mulia akhlaknya serta pemberi syafaat kita kelak di hari kiamat. Wallahu a’lam


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah
Share:
Senin 21 Januari 2019 13:30 WIB
Tambahan Kata ‘Sayyidina’ dalam Shalawat Nabi
Tambahan Kata ‘Sayyidina’ dalam Shalawat Nabi
Salah satu hal yang sejak dahulu sampai saat ini menjadi perdebatan di kalangan umat Islam adalah penambahan kata sayyidinâ yang bisa diartikan sebagai tuan atau baginda dalam bershalawat kepada Nabi atau dalam menuturkan nama mulia beliau di luar shalawat. Sebagian kaum muslimin enggan menambahkan kata sayyidinâ di depan nama Muhammad dan sebagian yang lain lebih suka menambahkan kata tersebut sebelum mengucapkan nama sang nabi.

Salah satu alasan bagi mereka yang enggan menambahkan kata sayyidinâ adalah karena Rasulullah tidak menyebutkan kata itu ketika mengajarkan bacaan shalawat kepada para sahabat. Mereka ingin mengamalkan apa yang diajarkan oleh beliau apa adanya tanpa tambahan apa pun.

Sebagaimana diketahui bahwa ketika sahabat menanyakan perihal bacaan shalawat maka Rasulullah mengajarkan sebuah bacaan shalawat dengan kalimat yang tidak ada kata sayyidinâ di dalamnya. Saat itu Rasulullah bersabda:

قُولُوا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

Artinya: “Ucapkanlah Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad.” (Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim, [Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.], juz IV, hal. 305)

Atas dasar ajaran dan perintah Rasulullah inilah mereka tidak menambahkan kata sayyidinâ dalam bershalawat, pun dalam menyebutkan nama beliau di luar shalawat.

Adapun kelompok yang menambahkan kata sayyidinâ mereka tidak hanya melihat pada satu dalil hadits di atas namun juga memperhatikan banyak dasar dan alasan yang mendukungnya.

Di antara beberapa dalil yang menjadi rujukan mereka adalah sebagai berikut:

Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Saya adalah sayid (tuan)-nya anak Adam di hari kiamat.” (Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim, [Indonesia: Maktabah Dahlan, tt.], juz IV, hal. 1782)

Dalam riwayat yang lain--sebagaimana dituturkan Imam Nawawi dalam Al-Minhaj—ada tambahan kalimat wa lâ fakhra (tidak sombong) untuk menjelaskan bahwa penuturan Rasul tentang ke-sayyid-annya bukan sebagai sikap kesombongan. Pernyataan Rasulullah tentang ke-sayyid-annya ini disampaikan kepada umatnya sebagai rasa syukur kepada Allah atas pemberian nikmat berupa kedudukan yang agung ini. Sebagaimana Allah memerintahkan agar menceritakan nikmat yang diberikan-Nya kepada orang lain; wa ammâ bi ni’mati Rabbika fa haddits. Pengakuan Rasulullah ini menjadi perlu agar kita sebagai umatnya memahami pangkat dan kedudukan beliau kemudian memperlakukan beliau sebagaimana mestinya serta mengagungkannya sesuai dengan pangkat dan kedudukannya yang tinggi itu. (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Minhâj, [Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2008], jil. VIII, Juz XV, hal. 36)

Sementara Allah di dalam Surat Al-Fath ayat 8-9 menyatakan:

 إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengagungkan dan memuliakannya.”

Setidaknya dengan hadits dan ayat di atas menjadi layak dan semestinya bila sebagai umat memuliakan dan mengagungkan Rasulullah dengan menyertakan kata saayyidinâ saat bershalawat dan menyebut nama beliau. Rasulullah memang tidak menuturkan kata itu saat mengajari para sahabat perihal bacaan shalawat, namun sebagai umat tidakkah bersikap tahu diri dengan bersopan santun kepadanya?

Sebagai gambaran kecil, ketika seorang yang jauh lebih tua usianya atau seorang yang semestinya dihormati oleh kita memperkenalkan diri dengan menyebut namanya saja akankah kemudian kita memanggilnya dengan hanya menyebut namanya saja sebagaimana yang ia kenalkan, tanpa tambahan kata Bapak atau Ibu sebagai bentuk sopan santun dan penghormatan kepadanya? Tentu tidak!

Maka, bila sekadar kepada orang yang lebih tua saja kita mesti menghormatinya dengan panggilan yang layak, bagaimana dengan Rasulullah yang kedudukan dan kemuliannya sangat diagungkan oleh Allah? Ketika orang lain melecehkannya kita begitu marah, lalu mengapa untuk sekadar memanggil dan menyebutnya secara mulia kita enggan melakukannya? Wallâhu a’lam.


(Ustadz Yazid Muttaqin)

Selasa 11 Desember 2018 4:0 WIB
Apakah Nabi Muhammad Ambil Manfaat dari Bacaan Shalawat Kita?
Apakah Nabi Muhammad Ambil Manfaat dari Bacaan Shalawat Kita?
Allah memerintahkan manusia untuk membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Allah dan malaikat juga mengucapkan shalawat. Tetapi untuk apa manfaat shalawat yang bermakna rahmat bagi Allah dan doa bagi malaikat dan manusia untuk Nabi Muhammad SAW, padahal ia sudah tidak lagi memerlukannya karena sudah sempurna?

Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang sempurna. Meskipun demikian, ia tetap menerima manfaat atas bacaan shalawat untuknya. Hanya saja, orang yang bershalawat tidak selayaknya bermaksud demikian terhadap Nabi Muhammad SAW.

واعلم أن النبي ينتفع بصلاتنا عليه لكن لا ينبغي للمصلي أن يقصد ذلك وإنما يقصد نفع نفسه كما يزداد نفعه بتكرر العمل بالأحكام الشرعية الواردة عنه وكذلك الشيخ إذا علم إنسانا حكما فصار يعمل به ويعلمه للناس فإنه يزداد نفعه بتكرر العمل به كما قاله القطب الدسوقي وغيره

Artinya, “Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad SAW menerima manfaat atas bacaan shalawat kita, tetapi orang yang bershalawat tidak boleh meniatkan shalawatnya untuk itu. Yang ia niatkan adalah manfaat yang berpulang untuk dirinya sendiri sebagaimana manfaat untuk dirinya bertambah dengan memperbanyak amal-ibadah yang sesuai dengan hukum syariat. Hal serupa adalah ketika seorang guru mengajarkan sebuah hokum kepada seseorang, lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya, maka manfaat untuknya akan semakin bertambah dengan memperbanyak pengamalan ilmu tersebut sebagaimana dikatakan oleh Al-Quthub Ad-Dasuqi dan ulama lain,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 14).

Dengan maksud memberikan manfaat, bisa jadi kita menggunakan logika “perhitungan” terhadap Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, maksud demikian dalam membaca shalawat sebaiknya dihindari.

Orang yang bershalawat sebaiknya meniatkan shalawat sebagai ibadah seperti perintah Allah yang bernilai ibadah sebagamana Surat Al-Ahzab ayat 33 berikut ini:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيما

Artinya, “Sungguh Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawat salamlah kepadanya,” (Surat Al-Ahzab ayat 33).

Sebagaimana diketahui bahwa shalawat dari Allah bermakna rahmat, shalawat dari malaikat atau manusia bermakna doa.

Syekh Ismail Al-Hamidi juga menegaskan soal manfaat shalawat bagi Nabi Muhammad SAW dan orang yang membaca shalawat sebagaimana dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten berikut ini:

فالجواب أن المقصود بصلاتنا عليه طلب رحمة لم تكن فإنه ما من وقت إلا وهناك رحمة لم تحصل له فلا يزال يترقى في الكمالات إلى ما لا نهاية له فهو ينتفع بصلاتنا عليه على الصحيح لكن لا ينبغي أن يقصد المصلي ذلك بل يقصد التوسل إلى ربه في نيل مقصوده

Artinya, “Jawabannya, tujuan shalawat (doa) kita untuk Nabi Muhammad SAW adalah permohonan rahmat baru yang belum ada karena tiada satu waktu yang berlalu kecuali di situ terdapat rahmat Allah yang belum didapat oleh Rasulullah. Dengan shalawat, derajat Nabi Muhammad SAW selalu naik dalam kesempurnaan tak terhingga. Jadi, Rasulullah SAW jelas menerima manfaat atas shalawat kita kepadanya, menurut pendapat ulama yang shahih. Tetapi orang yang bershalawat tidak seharusnya bermaksud demikian, tetapi bermaksud tawasul kepada Allah (melalui shalawat) dalam mewujudkan harapannya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Dari penjelasan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa benar adanya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok sempurna yang kesempurnaannya terus meningkat. Ia tetap mendapat manfaat atas bacaan shalawat kita.

Namun, kita sebaiknya tidak meniatkan lafal shalawat dengan maksud kesempurnaan Nabi Muhammad SAW, tetapi meniatkannya sebagai ibadah, doa, tawasul atas hajat kita, atau puncaknya (adab) adalah rasa syukur kita atas kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai asal penciptaan alam semesta. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 9 Desember 2018 16:30 WIB
Renungan Menyentuh dari Qasidah Burdah
Renungan Menyentuh dari Qasidah Burdah
Qasidah Burdah sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Maulaya shalli wa sallim dâiman abada seakan-akan menjadi shalawat yang nyaris tak ditinggalkan di setiap pembacaan maulid Baginda Besar Muhammad ﷺ. Qasidah ini dikarang oleh Imam al-Busiri (610 H), yang wafat pada tahun 695 Hijriah. 

Imam al-Bushiri merupakan seorang penyair andal pada masanya. Beliau juga adalah seorang kaligrafer yang memiliki tulisan yang indah. Gurunya yang terkenal adalah Abdul ‘Abbas al-Mursi.

Baca juga:
Jubah Warisan Rasulullah
Saat Gus Dur Menikmati Syair Qasidah Burdah Al-Bushiri
Ini Keterangan Syair Ya Rabbi bil Mushtafa Balligh Maqashidana
Qasidah Burdah terdiri dari 160 bait. Setiap baitnya mengandung nilai sastra yang tinggi, lembut, dan menyentuh pembacanya yang mengerti sastra Arab. Imam al-Bushiri mengisahkan kehidupan Nabi di dalam Qasidahnya. Lebih menariknya, sebelum menceritakan sirah Nabi, terdapat renungan indah yang dapat menyentak jiwa para pembacanya. Tepatnya di dalam pasal kedua, mengenai bahayanya hawa nafsu.

فَإِنّ أَمّارَتِ بِالسّـوءِ مَا اتّعَظَتْ        ۞     مِنْ جَهْلِهَا بِنَذِيرِ الشّيْبِ وَالَهَرَمِ

Sungguh nafsu amarahku tak dapat menerima nasihat, karena ketidaktahuannya.
Akan peringatan berupa uban di kepala, dan ketidakberdayaan tubuh akibat umur senja.

Dalam bait ini, al-Bushiri menegaskan bahwa hampir saja semua manusia tidak sadar akan hawa nafsu yang mengelabuinya sepanjang hidup. Bahkan di usia senja, tak dapat dijamin hidayah akan datang kecuali melalui ‘inayah Allah ﷻ kepadanya. Padahal tanda-tanda maut bakal menjemput sudah ada, yaitu uban yang tumbuh pada rambutnya.

مَنْ لِي بِرَدِّ جِمَاحٍ مِنْ غَوَايَتِهَا    ۞     كَمَا يُرَدُّ جِمَاحُ الَخَيْلِ بِاللُّجُمِ

Siapakah gerangan yang sanggup mengendalikan nafsuku dari kesesatan
Sebagaimana kuda liar yang terkendalikan dengan tali kekangan

Teringat dengan kisah pasca-Rasulullah ﷺ pulang dari perang Badar, beliau ﷺ berujar, “Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar.” Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, "Jihad (memerangi) hawa nafsu.”

Artinya, betapa besarnya kekuatan hawa nafsu, hingga Rasulullah pun menggambarkannya sedemikian rupa.

فَلاَ تَرُمْ بِالْمَعَاصِيْ كَسْرَ شَهْوَتِهَا      ۞     إِنّ الطَّعَامَ يُقَوِّيْ شَهْوَةَ النَّهِمِ

Jangan kau berharap, dapat mematahkan nafsu dengan maksiat.
Karena makanan justru bisa perkuat bagi si rakus makanan lezat.

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞     حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap suka menyusu.
Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri

Sebagian orang menganggap, dengan mengikuti hawa nafsunya, rasa itu akan menghilang karena habis dilampiaskan. Namun ternyata tidak begitu, hawa nafsu akan menjadi-jadi ketika dituruti, bak orang yang rakus jika diberi makanan maka ia malah bertambah kerakusannya. 

Imam al-Bushiri menyerupakan nafsu dengan seorang anak bayi. Apabila seorang anak bayi tidak disapih, maka sampai besar ia akan hobby menyusu pada ibunya, dan tentunya itu amat membahayakan.

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ       ۞     إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ

Maka palingkanlah nafsumu, takutlah jangan sampai ia menguasai-nya
Sesungguhnya nafsu, jikalau berkuasa maka akan membunuhmu dan membuatmu tercela

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَآئِمَةٌ       ۞     وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ

Dan gembalakanlah nafsu, karena dalam amal nafsu bagaikan hewan ternak.
Jika nafsu merasa nyaman dalam kebaikan, maka tetap jaga dan jangan kau lengah

Dalam dua bait diatas, Imam al-Bushiri menghimbau kita untuk mengolah hawa nafsu supaya menjadi teratur dan tidak liar. Kemudian beliau mengingatkan kita bahwa tidak semua sesuatu yang kita anggap indah, hakikatnya juga indah. Bisa jadi ia adalah racun yang terkandung di dalam makanan yang lezat, sebagaimana dalam syairnya:

كَمْ حَسّنَتْ لَذّةً لِلْمَـــــــرْءِ قَاتِلَةً         ۞     مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنّ السَّمَّ فِي الدَّسَمِ

Betapa banyak kelezatan, justru membawa kematian bagi seseorang
Karena tanpa diketahui, adanya racun tersimpan dalam makanan

Kemudian, setelah merenungi nafsu yang menjangkiti kita. Kita dianjurkan pula untuk meminta ampunan pada Allah SWT dari perkataan kita yang tidak disertai dengan ucapan. Tentunya ini menjadi cerminan bagi kita, bahwa selama ini amal perbuatan kita tidak sebaik dari perkataan yang terlontar dari lisan kita maupun unggahan kita di media sosial.

أَسْتَغْفِرُ الَّلهَ مِنْ قَوْلٍ بِلاَعَمَــلٍ        ۞     لَقَدْ نَسَبْتُ بِهِ نَسْلً لِذِي عُقُمِ

Aku mohon ampun kepada Allah dari ucapan tanpa disertai  amal # Aku telah menasabkan diriku dengan perkataan itu, bagaikan seorang yang mandul mengharap keturunan

Semoga kita dianugerahi kesempatan untuk bertafakur dan muhasabah akan kesalahan dan dosa yang ada dalam diri kita, sehingga kita pun luput dari banyak menghukumi kesalahan orang lain. Wallahu a'lam(Amien Nurhakim)