IMG-LOGO
Shalat

Shalat Fajar, Maksudnya Shalat Subuh atau Qabliyah Subuh?

Sabtu 18 Mei 2019 2:0 WIB
Share:
Shalat Fajar, Maksudnya Shalat Subuh atau Qabliyah Subuh?
Shalat fajar sebenarnya merujuk pada waktu pelaksanaan shalat yang dilakukan kala fajar telah terbit, sehingga shalat tahajud, shalat tarawih, shalat witir, dan shalat-shalat lain yang dilakukan mulai selepas isya’ hingga sebelum masuk waktu subuh tidak termasuk dalam kategori penamaan shalat fajar, melainkan shalat malam.

Hanya ada dua shalat yang terkhusus dilakukan kala fajar telah terbit, yakni shalat sunnah qabliyah subuh dan shalat subuh. Lantas sebenarnya makna dari shalat fajar apakah merujuk pada shalat subuh atau qabliyah subuh? Atau justru mencakup kedua-duanya?

Dalam beberapa hadits dijelaskan berbagai keutamaan melaksanakan shalat fajar. Hadits yang cukup masyhur adalah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah ‘Aisyah berikut:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat shalat fajar lebih utama dari dunia dan seisinya” (HR. Muslim).

Imam Abu Hasan al-Mubarakfuri mengartikan dua rakaat shalat fajar pada hadits di atas pada makna shalat sunnah fajar, sehingga yang dimaksud adalah shalat qabliyah subuh. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam karya beliau, Mir’ah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih:

قوله (ركعتا الفجر) أي سنة الفجر هي المشهورة بهذا الاسم 

“Makus dari perkataan ‘dua rakaat shalat fajar’ (dalam hadits) adalah shalat sunnah (qabliyah) fajar. Penyebutannya memang masyhur dengan nama ini” (Abu al-Hasan al-Mubarakfuri, Mir’ah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih, juz 4, hal. 137).

Pemaknaan shalat fajar sebagai shalat qabliyyah subuh juga dikuatkan dengan berbagai kata “rak‘atai-l-fajr” (dua rakaat shalat fajar) yang terdapat dalam beberapa hadits, misalnya dalam dua hadits berikut ini:

عن حفصة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي ركعتي الفجر قبل الصبح في بيتي يخففهما جدا

“Diriwayatkan dari Sayyidah Hafshah, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat dua rakaat fajar sebelum melaksanakan shalat subuh di rumahku dengan sangat cepat” (HR. Ahmad).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

“Diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, beliau berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah dalam melakukan shalat sunnah lebih diperhatikan dari dua rakaat fajar” (HR. Bukhari)

Sedangkan dalam beberapa redaksi hadits yang lain, makna shalat fajar tidak merujuk pada shalat sunnah, tapi justru merujuk pada shalat subuh yang merupakan shalat fardhu, misalnya seperti dalam hadits berikut:

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ جَلَسَ فِى مُصَلاَّهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَسَنًا

“Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Samurah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika telah melaksanakan shalat fajar, beliau duduk di tempat shalatnya sampai matahari terbit dengan terang” (HR. Muslim).

Makna hadits di atas dapat dipastikan merujuk pada shalat subuh, dengan berdasarkan indikasi (qarinah) lafadz setelahnya yang tidak menjelaskan bahwa Nabi Muhammad melaksanakan shalat yang lain kecuali shalat subuh. 

Dalam beberapa hadits yang lain juga dijelaskan pemaknaan shalat fajar sebagai shalat subuh, dengan melihat pada hadits yang semakna namun dari riwayat yang berbeda, misalnya seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Munawi berikut ini:

ـ (من صلى الفجر) أي صلاة الفجر بإخلاص وفي رواية صلاة الصبح (فهو في ذمة الله) ـ

“Barangsiapa melaksanakan shalat fajar dengan ikhlas—dalam sebagian riwayat diungkapkan dengan kata shalat subuh—maka dia berada dalam jaminan Allah” (Al-Munawi, Faid al-Qadir, juz 6, hal. 213).

Sedangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Sahabat Abdullah bin ‘Umar, secara tegas memaknai redaksi ‘shalat al-fajar” dengan makna shalat subuh, berikut hadits tersebut:

لا صَلاةَ بَعْدَ الْفَجْرِ، إِلا الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاةِ الْفَجْرِ

“Tidak ada shalat setelah (terbit) fajar kecuali dua raka’at sebelum shalat fajar” (HR. Thabrani)

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ketika shalat fajar diredaksikan dengan kata “rak’atai-l-fajr” (dua rakaat fajar) maka makna yang dimaksud adalah shalat sunnah qabliyah subuh. Sedangkan ketika shalat fajar diredaksikan dengan kata “shalla-l-fajr” atau dengan kata “shalat al-fajr” maka makna yang dimaksud adalah shalat subuh.

Demikian bila kita memaknainya berdasarkan pada analisis berbagai hadits Nabi. Sedangkan jika meninjaunya dari segi ‘urf lughat (keumuman bahasa) yang berlaku dalam masyarakat Arab, mereka umumnya memaknai shalat fajar sebagai shalat subuh. Hal ini dapat kita amati ketika memperhatikan berbagai redaksi dalam berbagai kitab turats saat menjelaskan tentang shalat subuh yang biasanya menggunakan redaksi kata “shalat al-fajr”, sama persis dengan pelafalan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani di atas. Sedangkan ketika membahasakan shalat qabliyah subuh, maka umumnya orang Arab dalam berbagai redaksi menggunakan kata “rak’atai-l-fajr”. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 


Tags:
Share:
Rabu 15 Mei 2019 12:35 WIB
Ini Lafal Wirid Syekh Abu Bakar bin Salim RA Setiap Hari
Ini Lafal Wirid Syekh Abu Bakar bin Salim RA Setiap Hari
(Foto: @via iqraa.com)
Berikut ini adalah lafal wirid Syekh Abu Bakar bin Salim RA. Lafal ini berisi pujian dan doa penting kepada Allah. Lafal wirid ini biasa dibaca setelah sembahyang lima waktu dan even-even keagamaan lainnya. Lafal wirid ini lazim dibaca di kalangan masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Berikut ini lafal wirid Syekh Abu Bakar bin Salim RA:

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ شُكْرًا، وَلَكَ المَنُّ فَضْلًا، (وَأَنْتَ رَبُّنَا حَقًّا)، وَنَحْنُ عَبِيْدُكَ رِقًّا، وَأَنْتَ لَمْ تَزَلْ لِذَلِكَ أَهْلًا

Allāhumma lakal hamdu syukrā, wa lakal mannu fadhlā, (wa anta rabbunā haqqā, pada sebagian riwayat), wa nahnu ‘abīduka riqqā, wa anta lam tazal lidzālika ahlā.

Artinya, “Tuhan kami, segala puji hanya bagi-Mu sebagai syukur, hanya milik-Mu segala pemberian sebagai kelebihan, (Kau Tuhan kami sebenarnya, pada sebagian riwayat), kami adalah hamba-Mu sebagai sahaya, dan Kau selalu pantas untuk semua itu.”

اللَّهُمَّ يَا مُيَسِّرَ كُلِّ عَسِيْرٍ، وَيَا جَابِرَ كُلِّ كَسِيْرٍ، وَيَا صَاحِبَ كُلِّ فَرِيْدٍ، وَيَا مُغْنِيَ كُلِّ فَقِيْرٍ، وَيَا مُقْوِيَ كُلِّ ضَعِيْفٍ، وَيَا مَأْمَنَ كُلِّ مَخِيْفٍ، يَسِّرْ عَلَيْنَا كُلَّ عَسِيْرٍ، فَتَيْسِيْرُ العَسِيْرِ عَلَيْكَ يَسِيْرٌ، اللَّهُمَّ يَا مَنْ لَا يَحْتَاجُ إِلَى البَيَانِ وَالتَّفْسِيْرِ، حَاجَاتُنَا إِلَيْكَ كَثِيْرٌ، وَأَنْتَ عَالِمٌ بِهَا وَبَصِيْرٌ.

Allāhumma yā muyassira kulli ‘asīr, wa yā jābira kulli kasīr, wa yā shāhiba kulli farīd, wa yā mughniya kulli faqīr, wa yā muqwiya kulli dha‘īf, wa yā ma’mana kulli makhīf, yassir ‘alaynā kulla ‘asīr, fa taysīrul ‘asīr ‘alayka yasīr, allāhumma yā man lā yahtāju ilal bayāni wat tafsīr, hājātunā ilayka katsīr, wa anta ‘ālimun bihā wa bashīr.

Artinya, “Tuhan kami, wahai Zat yang memudahkan mereka yang kesulitan, wahai Zat yang menggenapkan mereka yang patah hati, wahai Zat yang menemani mereka yang dalam kesendirian, wahai Zat yang mencukupi mereka yang fakir, wahai Zat yang menguatkan mereka yang daif, wahai Zat tempat aman dari segala ketakutan, mudahkanlah segala kendala yang menyulitkan kami. Sedangkan ‘upaya’ pembalikan yang sulit menjadi mudah bagi-Mu adalah sesuatu yang mudah. Tuhan kami, wahai Zat yang tidak memerlukan penjelasan dan tafsir, hajat kami kepada-Mu begitu banyak. Sedangkan Kau maha tahu dan maha lihat atas itu.”

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَخَافُ مِنْكَ، وَأَخَافُ مِمَّنْ يَخَافُ مِنْكَ، وَأَخَافُ مِمَّنْ لَا يَخَافُ مِنْكَ. اللَّهُمَّ بِحَقِّ مَنْ يَخَافُ مِنْكَ، نَجِّنِيْ مِمَّنْ لَا يَخَافُ مِنْكَ بِحُرْمَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، احْرُسْنِيْ بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لَا تَنَامُ، وَاكْنُفْنِيْ بِكَنَفِكَ الَّذِيْ لَا يُرَامُ، وَارْحَمْنِيْ بِقُدْرَتِكَ عَلَيَّ، فَلَا تُهْلِكْنِيْ وَأَنْتَ رَجَائِيْ بِرَحْمَتِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Allāhumma innī akhāfu minka, wa akhāfu mimman yakhāfu minka, wa akhafu mimman lā yakhāfu minka. Allāhumma bi haqqi man yakhāfu minka, najjinī mimman lā yakhāfu minka bi hurmati Muhammadin shallallāhu 'alayhi wa sallam, uhrusnī bi ‘aynikal latī lā tanām, waknufnī b kanafikal ladzī lā yurām, warhamnī bi qudratika ‘alayya, fa lā tuhliknī, wa anta rajā’ī bi rahmatika, yā arhamar rāhimīn.

Artinya, “Tuhanku, aku takut kepada-Mu, aku takut kepada mereka yang juga takut kepada-Mu, dan aku takut kepada mereka yang tidak takut kepada-Mu. Tuhanku, berkat pangkat mereka yang takut kepada-Mu, aku mohon selamatkanlah aku dari mereka yang tidak takut kepada-Mu, dengan kehormatan Nabi Muhammad SAW. Jagalah diriku dengan ‘mata’-Mu yang tidak pernah terpejam. Lindungilah diriku dengan perlindungan-Mu yang tiada henti. Berikanlah rahmat-Mu untukku. Dengan kuasa-Mu atasku, janganlah kau binasakan diriku. Sedangkan Kau adalah harapanku, dengan rahmat-Mu waha Zat yang maha pengasih.”

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ البَشِيْرِ النَّذِيْرِ السِّرَاجِ المُنِيْرِ، وَالحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.  

Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ālihī wa shahbihī wa sallamal basyīrin nadzīr, as-sirājil munīr, walhamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn.

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW yang membawa kabar gembira dan peringatan serta lentera penerang, keluarga, dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Lafal wirid ini dikutip dari Kitab Ini Wiridku di Waktu Malam atau Siang Hari pada halaman 24-26, karya KH Abdullah Syafi’i, Bali Matraman, Tebet, Jakarta Selatan. Karya ini selesai ditulis pada Jumat, 4 Sya’ban 1375 H atau 16 Maret 1956 M.

Adapun teks terjemahannya kami sadur dari terjemahan dari Kitab Ini Wiridku di Waktu Malam atau Siang Hari. Hanya saja kami mengubah beberapa teks terjemahannya dengan sedikit penyesuaian. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 13 Mei 2019 15:35 WIB
Ini Lafal Shalawat Nur Fathimah
Ini Lafal Shalawat Nur Fathimah
Berikut ini adalah lafal shalawat yang kerap dibaca jamaah shalat Subuh sebagai pengiring jabat tangan sebelum mereka membubarkan diri. Shalawat Nur Fathimah ini berisi lafal shalawat, pujian kepada Allah, dan permohonan agar wafat dalam keadaan sebagai Muslim atau Muslimah.

Berikut ini lafal Shalawat Nur Fathimah:

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ

Shallallāhu ‘alā Muhammad.

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan shalawat-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.”

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.”

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ

Shallallāhu ‘alā Muhammad.

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan shalawat-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.”

يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَاِم

Yā dzal jalāli wal ikrām.

Artinya, “Wahai Zat yang maha besar dan maha mulia.”

أَمِتْنَا عَلَى دِيْنِ الإِسْلَامِ

Amitnā ‘alā dīnil Islām.

Artinya, “Wafatkanlah kami atas agama Islam.”

صَلُّوْا عَلَى نُوْرِ فَاطِمَةَ

Shallū ‘alā nūri Fāthimah.

Artinya, “Bershalawatlah kamu untuk Nur Fathimah.”

يَا رَسُوْلَ اللهِ، المُصْطَفَى

Yā Rasūlallāh, Al-Musthafā.

Artinya, “Wahai Rasulullah, Al-Musthafa.”

اللهُ يَا رَبَّنَا، اللهُ يَا رَبَّنَا، اسْتَجِبْ دُعَاءَنَا

Allāhu yā rabbanā, Allāhu yā rabbanā, istajib du‘ā’anā.

Artinya, “Ya Allah, Tuhan kami. Ya Allah, Tuhan kami, penuhilah doa kami.”

يَا رَبَّنَا، اللهُ يَا رَبَّنَا، تَقَبَّلْ دُعَاءَنَا

Yā rabbanā, Allāhu yā rabbanā, taqabbal du‘ā’anā.

Artinya, “Ya Tuhan kami. Ya Allah, Tuhan kami, terimalah doa kami.”

اللهُ رَبُّ العَالَمِيْنَ

Allāhu rabbul ‘ālamīn.

Artinya, “Allah Tuhan sekalian alam.”

أَوْلِيَاء أَجْمَعِيْنَ

Auliyā ajma‘īn.

Artinya, “(Dan) sekalian para wali Allah.”

Lafal shalawat ini biasa dibaca ketika jamaah shalat Subuh berjabat tangan setelah wirid dan doa. Lafal shalawat ini merupakan pengiring jabat tangan jamaah shalat Subuh. Lafal shalawat ini juga kerap dibaca sebagai pengiring jamaah shalat Tarawih sebagai pengiring jabat tangan sebelum membubarkan diri setelah mereka merampungkan wirid, doa, dan zikir shalat witir.

Lafal ini diamalkan secara lisan dan turun-temurun di masjid-masjid di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, khususnya di Masjid Dakwatul Islamiyyah, Pondok Pinang, Kebayoran Lama. Masyarakat tidak pernah memberikan nama pada shalawat ini. Tetapi penulis memberikan nama shalawat ini dengan sebutan "Shalawat Nur Fathimah" untuk memudahkan pemberian judul artikel. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 5 Mei 2019 18:50 WIB
Ini Lafal Niat Shalat Tarawih Berjamaah
Ini Lafal Niat Shalat Tarawih Berjamaah
(Foto: @reuters)
Shalat Tarawih adalah shalat sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Oleh karena itu kami menyiapkan lafal niat shalat Tarawih secara berjamaah berikut ini.

Berikut ini adalah lafal niat yang dibaca oleh imam shalat Tarawih.

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT.”

Adapun berikut ini adalah lafal niat yang dibaca oleh makmum shalat Tarawih.

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT.”

Lafal niat shalat ini dikutip dari pelbagai sumber, yaitu Kitab Irsyadul Anam karya Sayyid Utsman bin Yahya (1822 M-1913 M) dan Perukunan Melayu dengan penyesuaian sejumlah redaksional.

Adapun berikut ini adalah pandangan mazhab Syafi’i perihal pelaksanaan shalat Tarawih. Pandangan mazhab Syafi’i ini dikutip dari Kitab Nihayatuz Zein karya Syekh M Nawawi Banten.

من النفل المؤقت الذي تسن فيه الجماعة صلاة (التراويح) …ولا يصح أن يصلي أربعا منها بسلام بل لا بد أن يكون كل ركعتين منها بسلام لأنها وردت كذلك

Artinya, “Salah satu shalat sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah adalah shalat (Tarawih)… Shalat Tarawih tidak sah dilakukan empat rakaat dengan satu salam, tetapi harus dua rakaat dengan satu salam sebagaimana riwayat hadits menyatakan demikian,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], halaman 112).

Lafal niat shalat Tarawih dibaca sebelum takbiratul ihram. Semoga lafal niat shalat Tarawih membantu kekhusyukan kita dalam menata niat shalat Tarawih di dalam hati. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)