IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Sebaik-baik Lelaki adalah yang Terbaik Sikapnya terhadap Istri

Sabtu 18 Mei 2019 14:0 WIB
Share:
Sebaik-baik Lelaki adalah yang Terbaik Sikapnya terhadap Istri
Ilustrasi (via funytv.ir)
Dini hari itu sewaktu bilal di masjid sedang membangunkan warga sekitar dengan pengeras suara, aku sudah bangun seperti biasa. Saat itu aku sedang menyiapkan teh manis dengan memanaskan ulang cem-ceman teh. 

Segera setelah itu, teh ginasthel telah siap di atas meja makan. Tetapi aku lihat persediaan air putih tidak mencukupi. Aku bergegas merebus air. Kompor gas segera aku nyalakan dan aku tinggalkan sejenak untuk menyiapkan nasi dan lauk. 

Kira-kira pukul 04.10, anakku yang sulung keluar dari kamarnya. Ia bangun sendiri tanpa keterlibatanku. Itu adalah kali pertama selama bulan puasa ia bangun sendiri. Aku anggap itu perkembangan yang baik karena berarti ia makin mandiri.

Sambil mendengarkan tarhim dari masjid, aku menikmati makan sahur bersama si sulung. Sudah tiga hari ini kami sahur dan berbuka tanpa ada istri di rumah. Ia bersama si bungsu sudah lebih dulu mudik untuk segera berkumpul dengan kedua orang tua yang makin sepuh. 

Aku memang berusaha untuk tidak terlalu bergantung pada istri dalam urusan pekerjaan rumah tangga agar tidak terlalu membebaninya. Selain itu, agar aku bisa selalu siap melayani anak-anaku. 

*** 

Itulah ringkasan cerita kegiatan sahur di keluargku lima tahun lalu, atau tepatnya pada 26 Ramadhan 1435 H/24 Juli 2014. Cerita itu kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami” (2016).

Berbicara tentang keluarga, istri adalah orang pertama setelah suami. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 خيركم خيركم لأهله، وأنا خيركم لأهلي 

“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik sikapnya terhadap keluarga. Dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR Ibnu Majah)

Hadits ini dapat dimaknai bahwa sebaik-baik laki-laki adalah yang terbaik sikapnya terhadap istri. Dan Nabi adalah laki-laki terbaik dalam memperlakukan istri. 

Hadits itulah yang telah menginspirasi saya untuk bisa bersikap baik kepada istri. Banyak kesempatan saya dapatkan untuk melakukan hal itu di bulan Ramadhan seperti membolehkan tidak bangun di waktu sahur ketika ia sedang cuti bulanan (haid). Selain itu adalah mengizinkannya mendahului mudik agar bisa segera berkumpul bersama kedua orang tua yang makin sepuh. Mereka berdua telah mengizinkan saya menikahi putrinya itu puluhan tahun yang lalu. 

Dengan dia mendahului mudik, otomatis pekerjaan rumah tangga harus saya selesaikan sendiri. Itu konsekuensi logis dan harus saya terima. Pertanyaannya adalah apakah pantas seorang suami menyelesaikan pekerjaan rumah tangga? 

Pertanyaan itu bisa dijawab dengan hadits Rasulullah sebagaimana diriwayatkan dari Al-Aswad radhiallahu anhu berikut ini: 

سألت عائشة ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يصنع في أهله قالت كان في مهنة أهله فإذا حضرت الصلاة قام إلى الصلاة

Artinya, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah: Apa yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di rumahnya? Aisyah berkata: Beliau membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, maka apabila telah masuk waktu shalat beliau keluar untuk shalat.” (HR. Al-Bukhari)

Oleh karena itu sangat keliru jika ada penilaian di masyarakat bahwa seorang suami tidak pantas melakukan pekerjaan rumah tangga karena Rasulullah sendiri sebagai manusia paling mulia di jagad ini juga melakukannya sebagai wujud kasih sayangnya kepada keluarga. Selain itu, secara fiqih pada dasarnya pekerjaan rumah tangga bukan kewajiban istri. 

Jadi apa yang saya lakukan selama ini kepada istri saya sesungguhnya bukan karena saya takut kepadanya (baca ISTI = Ikatan Suami Takut Istri). Saya hanya ingin mengikuti jejak beliau sependek yang saya mampu. Tidak lebih dari itu. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Share:
Sabtu 18 Mei 2019 20:0 WIB
Debat Nabi Isa dan Iblis La'natullah
Debat Nabi Isa dan Iblis La'natullah
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan sebuah riwayat tentang perbincangan Nabi Isa ‘alaihissalam dan Iblis. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُثَنَّى قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ يُونُسَ قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ قَالَ: قَالَ إِبْلِيسُ لِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّكَ لَا يُصِيبُكَ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكَ قَالَ: أَجَلْ يَا عَدُوَّ اللَّهِ قَالَ: فَارْقَ هَذَا الْجَبَلَ فَارْمِ بِنَفْسِكَ أَنْظُرُ تَمُوتُ، قَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا عَدُوَّ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَبْتَلِي عَبْدَهُ وَالْعَبْدُ لَا يَبْتَلِي رَبَّهُ

Abdullah bercerita, Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin al-Mutsanna bercerita kepada kami, ia berkata: Anas bin ‘Iyadl bercerita dari Yunus, ia berkata: Ibnu Syihab bercerita, ia berkata:

Iblis berkata kepada ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam: “Wahai anak Maryam, sesungguhnya tidak ada yang menimpamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah padamu.” Isa menjawab: “Benar, wahai musuh Allah.”

Iblis berkata (lagi): “Naikilah gunung ini, lalu jatuhkan dirimu sendiri, aku ingin melihat kau mati (atau tidak?).” ‘Isa ‘alaihissalam menjawab: “Wahai musuh Allah, sesungguhnya hanya Allah yang (berhak) menguji hamba-Nya, dan seorang hamba tidak (berhak) menguji Tuhannya.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 306)

****

Kita sering membaca kisah terusirnya Iblis dari surga. Salah satu penyebabnya adalah ia selalu merasa lebih mulia dari makhluk Allah lainnya. Ketika Allah memerintahkannya bersujud kepada Adam, ia menolak dengan menjawab, “ana khairum minhu, khalaqtanî min nâr wa khalaqtahu min thîn—aku lebih baik darinya, Kau ciptakan aku dari api, sementara Kau ciptakan Adam dari tanah.” 

Jawaban Iblis menunjukkan bahwa ia suka mendefinisikan kemuliaannya sendiri. Ia menggunakan “asal” penciptaannya sebagai argumentasi, “Kau ciptakan aku dari api.” Ia mengukur dan mengultuskan kemuliaannya sendiri. Tanpa segan menggunakan kalimat, “Kau ciptakan,” padahal hanya Tuhan lah yang berhak menentukan kemuliaan seseorang, dan Iblis dengan lancang mendeklarasikan kemuliaannya di hadapan Tuhan dengan cara yang sangat buruk, menentang perintahNya.

Dalam kisah di atas, Iblis sedang memprovokasi Nabi Isa dengan tantangan yang rumit. Ia memulainya dengan mengatakan, “Wahai anak Maryam, sesungguhnya tidak ada yang menimpamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah padamu.” Kemudian, ia menantang Nabi Isa melompat dari gunung untuk mengetahui apakah ia mati atau tidak. Di satu sisi, Iblis berbicara tentang ketetapan Allah. Di sisi lain, ia menantang Isa untuk mengetahui ketetapan Allah tentangnya, jika ia melompat, apakah Allah menetapkannya mati atau tidak, dan itu hanya bisa diketahui jika Nabi Isa benar-benar melompat.

Tapi Nabi Isa ‘alaihissalam tidak kalah cerdas, ia menjawab tantangan Iblis dengan berkata, “Wahai musuh Allah, sesungguhnya hanya Allah yang (berhak) menguji hamba-Nya, dan seorang hamba tidak (berhak) menguji Tuhannya.” Artinya, jika ia menuruti tantangan Iblis, ia sedang menguji Tuhannya. Padahal, hanya Tuhan lah yang berhak menguji hambanya, bukan sebaliknya. Tugas seorang hamba adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, bukan menguji dan mempertanyakan keputusannya. 

Karena itu, Nabi Isa pernah menasihati murid-muridnya agar mengamalkan ibadah terbaik. Lalu murid-muridnya bertanya, “mâ afdlalul ‘ibâdah yâ rûhallah—apa ibadah terbaik itu, wahai rûhullah?” Nabi Isa menjawab, “al-tawâdlu’ lillahi ‘azza wa jalla—tawadu’ kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 73-74). 

Dengan menanamkan ketawadukan di dalam hati, manusia akan terjaga dari menyombongkan amal ibadahnya, dan selalu merasa butuh akan rahmat Allah. Berbeda dengan Iblis yang disombongkan oleh ibadahnya ribuan tahun. Ia memandang rendah makhluk selainnya karena tidak ada yang beribadah segiat dia. Tiba-tiba, Tuhan memerintahkannya menghormati Adam, tentu ia menolak. Dengan penolakannya, secara tidak langsung ia mempertanyakan keputusan Tuhan dan meragukan kebenarannya. Jika pun kita anggap perintah Allah kepada Iblis (sujud kepada Nabi Adam) adalah ujian, Iblis tidak hanya gagal, tapi juga bermaksiat karena membangkang.

Padahal Allah akan menguji semua hamba-Nya, termasuk Adam ‘alaihissalam. Semakin saleh seorang hamba, semakin berat ujiannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَاللَّهِ، لَا يُعَذِّبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَبِيبَهُ، وَلَكِنْ قَدْ يَبْتَلِيهِ فِي الدُّنْيَا

“Dari Hasan, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mengazab kekasih-Nya, tetapi Dia akan sungguh-sungguh mengujinya di dunia.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 71)

Objek pembicaraan dalam hadits di atas adalah “kekasih-Nya.” Dalam memahami “kekasih-Nya” kita bisa menggunakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan hamba ke Tuhan, dan kedua, pendekatan Tuhan ke hamba.

Maksud pendekatan pertama adalah, gelar kekasih yang didapat berasal dari amal tulus seorang hamba yang dilakukan secara istiqomah (dari bawah ke atas), sehingga Allah mencintainya, contohnya (QS. Al-Baqarah: 195): “innallaha yuhibbul muhsînîn—sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” Maksud pendekatan kedua, adalah sifat Al-Rahmân (Maha Pengasih) dan Al-Rahîm (Maha Penyayang) Allah yang tidak dibatasi untuk hambanya yang baik-baik saja (dari atas ke bawah). Allah memberikan kasih sayangnya kepada siapapun, terlepas dari amal dan dosanya. 

Artinya, jika menggunakan pendekatan di atas, semua manusia memiliki peluang yang sama untuk “diuji” dan “lulus ujian”. “Diuji” adalah simbol pendekatan kedua. “Lulus ujian” adalah simbol pendekatan pertama. Dalam dua rangkaian tersebut, kita harus mengaktualisasikan posisi subjek kita dengan berbagai macam ibadah agar bisa “lulus ujian”. Soal “diuji”, kita cukup tahu bahwa Allah Maha Pengasih, dan semua kesusahan hidup adalah ujian yang mendewasakan kita. 

Ujian sendiri merupakan bentuk lain dari kasih sayang Allah. Tanpa ujian, kehidupan akan sangat datar karena semuanya sama; tanpa ujian, keragaman musim hati (rasa) akan terbatasi, dan lain sebagainya. Intinya, dalam memahami ujian Allah, kita harus mengedepankan prasangka baik, karena akan berpengaruh pada langkah kita ke depan. Bagi yang memandangnya dengan prasangka buruk, ia akan merasa selalu diperlakukan tidak adil; bagi yang memandangnya dengan prasangka baik, ia akan menganggapnya sebagai madrasah pendewasaan diri atau semacamnya. Semoga kita bisa melakukannya. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sabtu 18 Mei 2019 16:30 WIB
Ketika Sayyidina Ali Meminta Al-Qur’an Berbicara
Ketika Sayyidina Ali Meminta Al-Qur’an Berbicara
Ilustrasi (via aboutislam.net)
Dulu, banyak sekali pengikut Sayyidina Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat, yang merupakan para penghafal Al-Qur’an (Qurrâ'). Misi utama mereka adalah menjaga Al-Qur’an supaya tak musnah. Pada abad ketujuh masehi tersebut, peran para penghafal sangatlah vital sebagai media transmisi Al-Qur’an dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meski peran mereka sedemikian urgen, namun menjadi penghafal bukan berarti dengan sendirinya menjadi ahli dalam memahami makna ajaran Al-Qur’an. 

Suatu saat mereka pernah menyalahkan Sayyidina Ali karena dianggap menjadikan manusia sebagai juru putus (hakam) dalam arbitrase antara kubu Ali dan Mu'awiyah yang terlibat perang saudara. Menurut para penghafal Al-Qur’an itu tak ada hukum kecuali milik Allah. Maksudnya, semua keputusan harus apa kata Al-Qur’an, bukan kata manusia.

Mendengar kritik itu, Sayyidina Ali kemudian mengumpulkan para penghafal Al-Qur’an tersebut dan mereka diminta membawa mushaf. Setelah banyak yang berkumpul lalu beliau membuka Mushaf Imam (mushaf standar hasil kodifikasi Utsman yang jadi rujukan utama penulisan mushaf saat itu). Ia lalu berkata: 

أيها المصحف حدث الناس

"Wahai mushaf Al-Qur’an, bicaralah pada orang-orang itu!" (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah, VII, 270)

Dengan cara cerdik itu, ia berhasil menyadarkan para penghafal Al-Qur’an tersebut bahwa mushaf Al-Qur’an tak bisa bicara sendiri sebab hanya goresan tinta di atas kertas. Manusia lah yang menafsirkannya dengan kemampuan akalnya masing-masing. Semua jargon untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai juru putus tak lebih dari sekadar upaya untuk menjadikan penafsiran mereka yang sepihak itu sebagai satu-satunya acuan. 

Beliau lalu menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an sendiri, Allah telah menjadikan manusia sebagai juru putus (hakam) tatkala ada percekcokan antara sepasang suami istri (QS. an-Nisa': 35), padahal ini urusan remeh. Sedangkan nyawa dan kehormatan umat Nabi Muhammad tentu lebih berharga daripada sekadar urusan rumah tangga, masak tak boleh memasrahkan masalah segenting ini pada pertimbangan manusia? Dan, para penghafal Al-Qur’an itu pun kehabisan akal di depan seorang mujtahid yang menjadi Khalifah keempat itu.

Dari sini kita tahu bahwa penukil ayat-ayat Al-Qur’an tidaklah lantas mewakili ajaran Al-Qur’an itu sendiri. Para penghafal Al-Qur’an dalam kisah ini di kemudian hari menjadi generasi Khawarij pertama (Haruriyah/al-Muhakkimah al-Ula). Sejarah dan kisah para Khawarij dengan nalar ultra tekstualnya itu sebelumnya telah penulis uraikan dengan agak mendetail di bagian lain di NU Online ini. Semoga bermanfaat. 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Jumat 17 Mei 2019 20:45 WIB
Kisah Qais bin Sa’d dan Utang Teman-temannya
Kisah Qais bin Sa’d dan Utang Teman-temannya
Dalam kitab al-Risâlah al-Qusyairiyyah, Imam Abu al-Qasim Abdul Karim al-Qusyairi mencantumkan kisah menarik tentang Imam Qais bin Sa’d bin Ubadah. Berikut kisahnya:

وقيل: مرض قيس بن سعد بن عبادة فاستبطأ إخوانه فسأل عنهم فقيل: إنهم يستحيون مما لك عليهم من الدَّين فقال: أخزي الله تعالي مالا يمنع الإخوانه من الزيارة, ثم أمر من ينادي من كان لقيس عليه دَين فهو منه في حل فكسرت عتبته بالعشي لكثرة من عاده

Dikisahkan: Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah jatuh sakit. Teman-temannya lambat (atau tidak ada yang menjenguknya). Qais bin Sa’d menanyakan mereka, dan dijawab: “Sesungguhnya mereka malu (menjenguk)mu karena masih memiliki utang padamu.”

Qais bin Sa’d berkata: “Allah akan menghinakan harta yang menghalangi saudara-saudaranya untuk berkunjung.” Kemudian Qais memerintahkan seseorang untuk mengumumkan bahwa barangsiapa yang berutang pada Qais, maka ia telah membebaskannya.

Lalu di sore harinya, ambang pintu (rumah)nya rusak karena terlalu banyaknya orang yang (datang) menjenguknya. (Imam Abu al-Qasim Abdul Karim, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, Kairo: Darul Hadits, 2014, h. 136)

****

Sebelum kita membahas kisah di atas, kita harus tahu terlebih dahulu siapa Sayyidina Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah. Ia adalah seorang sahabat nabi dari kaum Anshar. Ia terkenal sangat cerdas dan licik sebelum masuk Islam. Setelah masuk Islam, ia merubah gaya hidupnya dan menawarkan diri menjadi pelayan nabi. Ia mengatakan, “shahibtun nabiyya shallallahu ‘alaihi wasallam ‘asyar sinîna—aku mendampingi nabi sepuluh tahun lamanya.” Sayyidina Anas bin Malik, pelayan nabi lainnya, berkata tentangnya: “kâna Qais bin Sa’d minan nabiyyi bi manzilati shâhibisy syurthah minal amîr—posisi Qais bin Sa’d untuk nabi seperti perwira tinggi untuk seorang pemimpin.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001, juz 3, h. 104). Ia menikah dengan saudara perempuan Sayyidina Abu Bakar, Qaribah binti Abu Quhafah.

Sayyidina Qais dan keluarganya sangat terkenal dengan kedermawanannya. Mereka tidak segan membantu orang yang membutuhkan tanpa pamrih. Ayahnya, Sayyidina Sa’d bin Ubadah, sangat masyhur kedermawanannya, begitu pula kakek buyutnya, hingga ada ungkapan yang terkenal di Yatsrib, “siapapun yang menyukai daging tebal, datanglah ke rumah Dulaim bin Haritsah.” Dulaim adalah kakek buyut dari Sayyidina Qais bin Sa’d bin Ubadah bin Dulaim bin Haritsah. (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, 2001, juz 3, h. 103).

Kedermawanan Sayyidina Qais bin Sa’d terbilang di atas rata-rata. Ia tidak ragu berutang demi memenuhi kebutuhan orang lain yang membutuhkannya. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

كان قيس بن سعد يطعم الناس في أسفاره مع النبي—صلى الله عليه وسلم—وكان إذا نفد ما معه تدين، وكان ينادي في كل يوم، هلموا إلى اللحم والثريد

Qais bin Sa’d memberi makan orang-orang dalam perjalanannya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, jika ia kehabisan apa yang bersamanya (miliknya), ia akan berutang, dan berseru (kepada orang-orang) setiap hari, kemarilah (untuk memakan) daging dan tsarîd (roti yang berkuah).” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, 2001, juz 3, h. 107)

Kedermawanannya sampai membuat Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar khawatir bahwa ia akan menghabiskan harta ayahnya. Karena Qais bin Sa’d tak segan berutang untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dalam sebuah riwayat dikisahkan:

كان قيس يستدين ويطعمهم، فقال أبو بكر وعمر: إن تركنا هذا الفتى، أهلك مال أبيه

Qais (sering) berutang dan memberi makan orang-orang. Abu Bakar dan Umar berkata: “Jika kita biarkan pemuda ini (tetap melakukannya), dia akan menghabiskan harta ayahnya.” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Darul Fikr, 1997, juz 49, h. 415)

Ketika ayahnya, Sayyidina Sa’d bin Ubadah mendengar perkataan Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar, ia tidak sependapat dengan mereka. Ia sangat bangga terhadap kedermawanan anaknya, Qais bin Sa’d. Ini menunjukkan bahwa ayahnya sangat mendukung perbuatan anaknya, meski ia tahu maksud Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar adalah baik. Respon yang sama juga ditunjukkan olehnya ketika ada sebagian orang yang melaporkan kedermawanan Sayyidina Qais yang dianggap berlebihan. Riwayat tersebut mengatakan:

خرج قيس بن سعد في جيش فيهم عمر بن الخطّاب, فجعل قيس ينفق علي الجيش حتي قفلوا, فقال بعضعم لسعد: إنّ ابنك فيس لم يزل ينفق علي الجيش حتي قفلوا, فقال سعد: أتبخلوني في ابني, والله إنّي لأحمده علي السخاء وأذمّه علي البخل

Qais keluar (berpergian) dengan pasukan yang di dalamnya ada Umar bin Khattab. Qais membiayai (kebutuhan) pasukan hingga mereka kembali. Sebagian dari pasukan tersebut melapor kepada Sa’d (ayah Qais): “Sesungguhnya anakmu, Qais, selalu membiayai (kebutuhan) pasukan (selama perjalanan) hingga mereka kembali.” Sa’d berkata: “Apa kalian hendak membuat bakhil anakku (dengan melaporkan ini). Demi Allah, sesungguhnya aku sangat memuji Allah atas kedermawanan, dan aku sangat mencela kebakhilan.” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, 1997, juz 49, h. 415)

Kisah di atas adalah sedikit gambaran tentang kedermawanan Sayyidina Qais dari sekian banyak kedermawanannya, yang tanpa ragu dan berat menghapus utang semua sahabatnya. Jika kita amati, kisah tersebut mengandung beberapa pelajaran penting. 

Pertama, Sayyidina Qais takut seluruh harta yang dimilikinya akan dihinakan Allah karena telah menghalangi tersambungnya tali silaturahim antar teman dan saudara, meski harta tersebut didapatkan dengan cara yang halal. Baginya, harta yang menjadi penghalang amal ibadah orang lain sangat hina dan buruk. Ia takut bagaimana mempertanggung-jawabkannya kelak di akhirat. 

Kedua, utang seringkali menjauhkan silaturahim, membentangkan kedekatan, dan merusak hubungan. Bahkan, untuk orang yang sangat terkenal kemurahan hati dan kedermawanannya seperti Sayyidina Qais, orang-orang masih takut dan malu untuk menjenguk, apalagi jika yang memberi utang adalah orang biasa yang tidak dikenal rekam jejak kedermawanannya.

Ketiga, ketiadaan teman dan saudara yang menjenguknya, lalu sangat ramai ketika semua utang-utang mereka dihapus hingga ambang pintu rumahnya rusak, menunjukkan bahwa hampir seluruh orang yang memiliki hubungan dengannya pernah dibantunya, baik berupa pemberian cuma-cuma maupun dalam bentuk utang. 

Jika perilaku semacam ini tidak kita sebut “kemurahan hati” dan “kedermawanan”, lalu dengan istilah apa lagi kita menyebutnya? Pertanyaannya, bisakah kita meneladani Sayyidina Qais bin Sa’d sedikit saja? Ya, barang 5-10 persen dari kedermawanannya. Tentu tidak mudah, tapi tetap harus dicoba, bukan? Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen