IMG-LOGO
Ramadhan

Keutamaan-keutamaan Lailatul Qadar

Ahad 19 Mei 2019 18:0 WIB
Share:
Keutamaan-keutamaan Lailatul Qadar
Melanjutkan tulisan sebelumnya, “Ramadhan adalah Bulan Dzikir”, kali ini akan diulas penjelasan Syekh Abdul Halim Mahmud tentang keutamaan lailatul qadar.

Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah, sering disebut sebagai malam beribu bulan. Keberkahan lailatul qadar ini berganda-ganda karena terletak di bulan Ramadhan. Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, yaitu bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (Q.S. al-Baqarah [2]: 185)

Ayat di atas merupakan dalil bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan di bulan suci Ramadhan. Mengenai lailatul qadar, Allah menjelaskan:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (Q.S. al-Qadr [97]: 1-5)

Keutamaan lailah al-qadr itu sangat luar biasa (hâil dlakhm). Di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk manusia untuk menjadi penjelasan dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Menurut Syekh Abdul Halim Mahmud, makna nuzûl al-Qur’an adalah “nuzûlur risâlatir rahmatil ‘âmmah (turunnya risalah yang penuh kasih sayang secara menyeluruh/tidak pandang bulu).” Yang dimaksud al-rahmah al-‘âmmah (kasih sayang menyeluruh) adalah “al-rahmah bi kullil ‘awâlim (kasih sayang/rahmat untuk setiap alam).” (Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramdhân, Kairo: Darul Ma’arif, tt, hlm 20). Pandangan ini didasari oleh firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Tidak lain Kami mengutusmu (Muhammad), kecuali untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 107)

حم, وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ، إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ. فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ، أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا ۚ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ, رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Haa mim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (Q.S. al-Dukhan [44]: 1-6)

Dengan demikian, rahmat merupakan asas, tujuan, dan sebab diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengatur dan menata kehidupan manusia agar selamat dunia dan akhirat (Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadhân, h. 21). Rahmat yang menyebarkan kedamaian dan keamanan di semesta alam, bukan penyebab kerusakan dan kehancuran seperti yang ditakutkan para malaikat ketika Allah hendak menciptakan manusia.

Dari sudut pandang kemuliaannya, lailah al-qadr lebih utama dari seribu bulan (alfu syahrin). Surat al-Qadr menggambarkan lailah al-qadr dengan turunnya para malaikat di malam itu untuk mengurus berbagai urusan, dan kedamaian atau kesejahteraan memenuhi malam itu hingga fajar menyingsing.

Menurut perhitungan Syekh Abdul Halim Mahmud, seribu bulan (alfu syahrin) setara dengan 83 tahun 4 bulan yang merupakan umur standar manusia (dzalika ‘âdah ‘umril insân). Beliau menulis:

والألف شهر هي ثلاث وثمانون سنة وأربعة أشهر, وذلك عادة عمر الإنسان, فهي خير من عمر الإنسان, من عمر كل إنسان: من عمر كل إنسان في الماضي وفي المستقبل, أي أنها خير من الدهر

“Seribu bulan adalah delapan puluh tiga tahun empat bulan. Itu merupakan standar umum umur manusia. Lailatul qadr (alfu syahrin) lebih baik dari umur manusia; dari umur setiap manusia, baik umur manusia di masa lalu maupun umur manusia di masa mendatang. Intinya, lailatul qadr lebih baik dari (usia) zaman.” (Syekh Abdul Halim Mahmud, Syahr Ramadhân, h. 21)

Itu artinya lailah al-qadr lebih mulia dan utama dari seluruh umur manusia, baik umur manusia di zaman dulu, zaman sekarang, maupun di zaman mendatang. Syekh Abdul Halim Mahmud bahkan mengatakan, “annahâ khair minad dahr  (lailatul qadar lebih baik dari usia zaman)." Penjelasan Syekh Abdul Halim Mahmud ini dikarenakan tidak adanya batasan pasti mengenai kebaikan dan kemuliaan lailatur qadr. Petunjuk yang diberikan Allah hanya kebaikannya melebihi seribu bulan.

Keutamaan lainnya adalah diampuninya dosa-dosa terdahulu ketika melakukan shalat malam di saat lailatul qadar. Rasulullah bersabda (HR. Imam Bukhari):

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lampau.” 

Lalu, kapan tepatnya waktu lailatul qadar terjadi? Tidak ada yang tahu pasti, dan itu poin pentingnya. Ketidak-pastian waktunya mengandung hikmah yang sangat besar, yaitu membuat manusia terus beribadah setiap malam dengan harapan mendapatkan kemuliaan lailah al-qadr. Jika waktunya pasti, kita hanya cukup menunggu dan kemudian melaksanakan ibadah di waktu tersebut, seperti halnya shalat Jumat atau ibadah-ibadah lainnya. Ya, walau tidak bisa dipungkiri, banyak dari kita masih enggan melakukan ibadah yang sudah jelas waktunya, apalagi yang tidak jelas waktunya seperti lailah al-qadr.

Meski demikian, Rasulullah meninggalkan clue (petunjuk) bagi orang yang bersungguh-sungguh ingin mendapatkannya. Beliau bersabda (HR. Imam Bukhari):

تحروا ليلة  القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

“Carilah malam lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh terakhir bulan Ramadhan.” 

Dalam riwayat lain dikatakan (HR. Imam Ahmad):

هي في شهر رمضان في العشر الأواخر, ليلة إحدي وعشرين, أو ثلاث وعشرين, أو خمس وعشرين, أو سبع وعشرين, أو تسع وعشرين, أو آخر ليلة من رمضان, من قامها إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه وما تأخر

“Lailatul Qadar berada di bulan Ramadhan pada sepuluh hari terakhirnya, yaitu malam kedua puluh satu, atau kedua puluh tiga, atau kedua puluh lima, atau kedua puluh tujuh, atau kedua puluh sembilan, atau di akhir malam Ramadhan. Barangsiapa shalat malam karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lampau dan dosa yang kemudian.” 

Kesimpulannya, malam lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan. Tidak adanya batasan “kebaikan” bisa berarti kebaikannya sampai akhir usia dunia, seperti yang dikatakan Syekh Abdul Halim Mahmud, “lebih baik dari usia zaman.” Sebab, tidak adanya batas hanya bisa dibatasi dengan hilangnya ruang dan waktu, dan itu hanya bisa terjadi setelah dunia dihancurkan (kiamat). 

Waktu lailatul qadr juga tidak pasti. Allah sengaja menyembunyikannya agar manusia mencarinya dengan sungguh-sungguh. Jika waktu lailatul qadr dipastikan, bisa jadi manusia akan menyepelekan qiyamul lail dan i'tikaf di separuh akhir bulan Ramadhan. Mereka cukup menunggu waktu tersebut tanpa pencarian. Andaipun gagal mendapatkannya karena tidak mengisi semua tanggal ganjil di separuh akhir Ramadhan, mereka tetap mendapatkan ampunan Allah. Karena Nabi Muhammad bersabda (HR. Imam al-Bukhari):

وَمَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا واحتسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Pengamalan hadits tersebut tidak dibatasi hanya pada lailatul qadr saja, tapi seluruh malam di bulan Ramadhan. Wallahu a’lam bish shawwab..


Muhammad Afiq Zahara, alumnus Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Tags:
Share:
Sabtu 18 Mei 2019 9:45 WIB
Saat Bulan Ramadhan, Bolehkah Sekaligus Berniat Puasa Lain?
Saat Bulan Ramadhan, Bolehkah Sekaligus Berniat Puasa Lain?
Menurut ulama Syafi’iyyah, niat merupakan kunci syarat sah. Ia tidak hanya sebagai penyempurna sebagaimana dalam mazhab Hanafiyah. Dalam mazhab Syafi’i, niat menentukan sah atau tidaknya amal.

Secara umum, ada beberapa ibadah yang bisa digabung dalam satu niat dan masing-masing bisa mendapatkan pahala. Misal, orang shalat tahiyyatul masjid diniati sekalian shalat sunnah qabliyah dhuhur. Atau ada orang habis bersetubuh dengan istrinya di pagi hari Jumat, kemudian ia berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadats besarnya sekaligus berniat mandi sunnah Jumat. Niat seperti demikian ini sah hukumnya. Dalam ilmu fikih, ada banyak contohnya. 

Dalam hal puasa juga berlaku demikian. Seperti ada orang mempunyai tanggungan utang puasa lalu diqadha bersama puasa sunnah semacam ‘Arafah, Senin-Kamis, Asyura’ dan lain sebagainya, hukumnya sah. 

Baca juga:
Bolehkan Niat Qadha Puasa Ramadhan Sekaligus Puasa Syawwal?
Bolehkah Niat Puasa Rajab Digabung dengan Qadha Puasa Ramadhan?
Lalu bagaimana jika dalam bulan Ramadhan, terdapat juga niat melakukan puasa lain selain puasa bulan Ramadhan itu sendiri sehingga masing-masing niatnya bisa digabung? 

Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’, Syarah al-Muhadzab menjelaskan, pada bulan Ramadhan tidak sah melakukan puasa apa pun kecuali hanya untuk puasa Ramadhan.

قال الشافعي والاصحاب رحمهم الله تعالي يتعين رمضان لصوم رمضان فلا يصح فيه غيره فلو نوى فيه الحاضر أو المسافر أو المريض صوم كفارة أو نذر أو قضاء أو تطوع أو اطلق نية الصوم لم تصح نيته ولا يصح صومه لا عما نواه ولا عن رمضان هكذا نص عليه وقطع به الاصحاب في الطرق الا امام الحرمين فقال لو أصبح في يوم من رمضان غير ناو فنوى التطوع قبل الزوال قال الجماهير لا يصح وقال أبو إسحاق المروزى يصح قال الامام فعلى قياسه يجوز للمسافر التطوع به والمذهب ما سبق 

Artinya: “Menurut Asy-Syafi’i dan murid-muridnya rahimahumullah mengatakan, bulan Ramadhan hanya boleh untuk puasa Ramadhan. Pada bulan ini tidak diperkenankan puasa selainnya. Baik itu bagi orang yang sedang di rumah atau dalam bepergian, orang sakit, orang yang mempunyai tanggungan puasa kafarat, nazar, qadha, puasa sunnah, atau puasa mutlak. Semuanya tidak sah. Baik puasa yang ia kehendaki maupun puasa Ramadhannya itu sendiri justru juga tidak sah. Demikian redaksi tekstualnya sebagaimana yang diyakini oleh para murid Imam Syafi’i dari beberapa riwayat kecuali Imam al-Haramain. 

Jika Imam al-Haramain, ia menjelaskan, apabila ada orang sudah memasuki waktu subuh pada salah satu hari Ramadhan sedang ia belum niat. Kemudian dia niat melakukan puasa sunnah (di pagi bulan Ramadhan itu), menurut mayoritas ulama, tidak sah. Sedangkan menurut Abu Ishaq al-Marwazi, puasa sunnahnya sah. Namun menurut al-Imam, hal ini dianalogikan adalah bagi orang yang sedang bepergian boleh melakukan puasa sunnah. Meskipun begitu, yang sesuai dengan kaidah madzhab adalah pendapat yang pertama tadi, yaitu tidak sah. (Abi Zakriya Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’, Maktabah al-Irsyad, Jeddah, juz 6, halaman 315-316)

Pendapat al-Marwazi di atas dipatahkan oleh pendapat Al-Mutawalli. Menurutnya, orang yang pada malam harinya lupa tidak niat, sehingga ia kesiangan baru ingat, ia tetap harus berpura-pura meniru seperti orang puasa. Nah, pada level pura-pura melakukan ibadah seperti demikian, orang tidak boleh melakukan ibadah sejenis yang benar-benar ibadah. 

Seperti kasus orang yang hajinya rusak. Ia tetap harus pura-pura memakai ihram. Dalam kepura-purannya ini, pada saat yang sama, di musim haji itu, ia tidak boleh melakukan ihram apa pun yang shahih. 

Jadi, jika puasa dilakukan pada bulan selain Ramadhan, orang bisa melakukan puasa qadha, kafarat, nadzar atau yang lainnya seraya digabung dengan puasa sunnah, namun khusus untuk bulan Ramadhan ini tidak boleh niat puasa apa pun selain puasa Ramadhan.  

Kenapa puasa selain Ramadhan itu sendiri tidak sah begitu? Imam Nawawi, masih dalam kitab yang sama mengatakan:

لان الزمان مستحق لصوم رمضان فلا يصح فيه غيره

Artinya: Karena bulan itu hanya miliknya Ramadhan, maka tidak sah puasa apapun selain Ramadhan itu sendiri. (Ahmad Mundzir) 


:::
Catatan: Naskah ini pertama kali terbit di NU Online pada 21 Mei 2018, pukul 18.30. Redaksi menayangkan ulang dengan sedikit penyuntingan.
Sabtu 18 Mei 2019 3:0 WIB
Makin Dekat dengan Waktu Subuh, Sahur Makin Baik
Makin Dekat dengan Waktu Subuh, Sahur Makin Baik
Sekitar pukul 03.40, semua hidangan makan sahur sudah tersaji di meja makan. Terlihat nasi tinggal sedikit. Hanya sepiring penuh. Beberapa menit kemudian dua piring mie goreng menyusul dan segera disajikan di atas meja. 

“Dani digugah, Jo,” kata istriku.

“Ya, Alan gugahen, Jo,” jawabku. (Kami memang sehari-hari saling memanggil “Jo” [dari kata ‘bojo’] karena kami adalah suami istri). 

Aku segera membangunkan si bungsu. Kupanggil-panggil namannya. Ia tak segera bangun. Lalu kucoba mengguncang-guncangkan badannya. 

Tangi Dan... tangi!” Ia segera bangun dan keluar dari kamar tidur. 

Tak lama setelah itu, Alan bangun dan segera menuju ruang tengah tempat kami akan makan sahur bersama.

“Tadi malam jam 10.00 saya udah makan banyak. Bukankah itu berarti saya sudah sahur, Pak?” tanya Alan.

“Ya tergantung niatmu gimana. Kalau niatmu hanya asal makan, ya kamu belum sahur. Sahur itu ibadah sunnah. Jadi harus diniati,” jawabku.

“Ya saya niati makan sahur, sekalian biar enggak bangun dini hari. Toh enggak ada pertandingan sepakbola di TV hari ini,” jawabnya. 

“Ya itu sudah sahur,” jawab Danial sang adik. “Tapi lebih baik makan sahur itu di akhir waktu kan, Pak?”

“Betul. Makan sahur itu bagusnya justru di akhir waktu. Semakin dekat dengan waktu subuh, sahur makin bagus,” kataku.

***

Cuplikan dialog tentang niat sahur dan kapan seseorang sebaiknya makan sahur di atas diambil dari buku “Dari Sahur ke Sahur: Catatan Harian Seorang Suami” (2016). Isi dialog itu memiliki rujukan sebagai berikut:

Pertama, tentang niat sahur. Sahur adalah ibadah sunnah dan karenanya harus ada niat dalam hati menyengaja makan/minum dalam rangka berpuasa. Sama-sama makan/minum di malam hari di bulan puasa, jika perbuatan itu tidak dikaitkan dengan ibadah puasa esok hariya, maka ia merupakan perbuatan biasa yang hukumnya mubah. Hal ini sejalan dengan pendapat Syekh Ibrahim al-Baijuri dalam kitabnya Hasyiyah Asy-Syaikh Ibrahim al-Baijuri, (Beirut – Lebanon: Dar al Kutub al-Ilmiyah, 1999), Juz 1, Hal. 553, sebagai berikut:

ولو أكل أو شرب خوفا من الجوع أو العطش نهارا أو امتنع من الأكل أو الشرب أو الجماع خوف طلوع الفجر فإن خطر بباله الصوم بالصفات التي يشترط التعرض لها كفى ذلك في النية لتضمنه قصد الصوم وهو حقيقة النية.

Artinya, “Jika seseorang makan atau minum karena khawatir akan merasakan lapar atau haus pada siang harinya, atau ia mencegah makan, minum, atau jimak karena khawatir sudah terbit fajar (tiba waktu Shubuh), sambil terbesit di dalam hatinya bahwa besok dia akan melakukan puasa sebagaimana mestinya, maka ini sudah cukup sebagai niat puasa, dan inilah hakikat niat.”

Jadi ketika anak sulung saya—Alan—sengaja makan di malam hari dan ia mengaitkan makan itu dengan puasa esok harinya, maka perbuatan makannya merupakan sahur yang hukumnya sunnah. Tetapi ia tidak mendapatkan pahala penuh karena makan sahurnya tidak ia lakukan di waktu yang disunnahkan.  

Kedua, tentang waktu sahur. Sebaik-baik sahur adalah di akhir waktu. Hal ini merujuk pada hadits Rasulullah shallahu alaihi wasallam yang berbunyi:

بكروا بالإفطار وأخروا السحور

Artinya: “Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.” 

Muhammad al-Foudery dalam artikelnya berjudul Matâ yabdau waktu al-sahûr? dalam blog pribadinya (Juli/2012) menjelaskan tentang arti sahur dengan merujuk pada beberapa kitab antara lain kamus al-Mu’jam al-Wasit (1/419) dan kitab Fathul Bari (2/487) sebagai berikut: 

أن السحر في اللغة هو آخر الليل وقبيل الصبح مما يبين شدة تأخره وقربه من الصبح وهذا مما يقوي أنه السدس الأخير

Artinya, “Sahur secara Bahasa adalah akhir waktu malam, menjelang subuh. Karena diakhirkan menjelang subuh dan dekatnya dengan subuh, maka ini menguatkan bahwa sahur itu seperenam akhir malam.”

Berdasar pada penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa semakin dekat dengan waktu subuh, sahur semakin baik. Adapun hikmahnya, antara lain, adalah agar kita cukup kuat menahan lapar dari saat awal berpuasa (waktu subuh) hingga akhir berpuasa (waktu maghrib) pada hari itu. Selain itu, agar jarak antara selesainya kita makan sahur dengan saat shalat subuh tidak jauh sehingga memungkinkan untuk bersegera melakukan shalat subuh di awal waktu.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 


Jumat 17 Mei 2019 20:0 WIB
Ini Lafal Niat I'tikaf
Ini Lafal Niat I'tikaf
(Foto: @pinterest)
Itikaf adalah ibadah dengan cara berdiam di dalam masjid dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Itikaf serupa dengan ibadah shalat yang mengharuskan mereka untuk berniat itikaf di awal kegiatan ibadah.

Berikut ini adalah lafal itikaf yang dapat dibaca untuk memantapkan niat:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ مَا دُمْتُ فِيهِ

Nawaitu an a‘takifa fī hādzal masjidi mā dumtu fīh.

Artinya, “Saya berniat itikaf di masjid ini selama saya berada di dalamnya.”

Lafal niat ini dikutip dari Kitab Tuhfatul Muhtaj dan Nihayatul Muhtaj.

Lafal itikaf lain yang dapat digunakan adalah lafal berikut ini. Lafal niat itikaf ini dikutip dari Kitab Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi:

نَوَيْتُ الاِعْتِكَافَ فِي هذَا المَسْجِدِ لِلّهِ تَعَالى

Nawaitul i’tikāfa fī hādzal masjidi lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Saya berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah SWT.”

Demikian lafal niat i’tikaf di masjid yang dapat dibaca oleh mereka yang hendak mengamalkan ibadah itikaf. Selain lafal niat itikaf, jangan lupa niat itikafnya sendiri di dalam hati. Semoga informasi ini bermanfaat. Wallau a‘lam. (Alhafiz K)