IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Jika ada Hadits yang Berbeda, Apakah Secara Otomatis Bertentangan?

Senin 20 Mei 2019 16:0 WIB
Share:
Jika ada Hadits yang Berbeda, Apakah Secara Otomatis Bertentangan?
Suatu hari, seorang sahabat menghadap kepada Nabi Muhammad SAW. Ia ingin meminta pendapat dan pengajaran nabi terkait hal apa yang paling utama. Rasulullah SAW menjawab dan memberikan saran bahwa hal yang paling utama adalah jangan marah.

Di lain hari, ketika ada seorang sahabat lain bertanya kepada nabi terkait hal yang paling utama, nabi bukan lagi menjawabnya dengan “jangan marah.” Tetapi dengan hal lain yang berbeda. Lantas, apakah jawaban nabi yang berbeda ini secara otomatis bertentangan?

Kiai Ali Mustafa Yaqub (wafat 2016) menyebutkan bahwa walaupun teks hadits dalam satu tema sangat beragam, namun ia memiliki kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. (Lihat Ali Mustafa Yaqub, At-Ṭuruqus Ṣhaḥīḥah fi Fahmis Sunnatin Nabawīyah, [Ciputat, Maktabah Darus Sunnah: 2016 H], halaman 131).

Kiai Ali Mustafa Yaqub meyakini bahwa hadits pada mulanya bermuara pada satu sumber, yaitu Rasulullah SAW. Terkadang Rasul menyampaikan suatu teks hadits yang tidak disampaikan kepada sahabat yang lain. Selain itu, kadang kala sebuah hadits dalam jalur riwayat yang satu berbeda dengan jalur riwayat lain. 

Hal ini bisa jadi karena Rasul menyampaikan hal yang berbeda dalam dua riwayat tersebut, karena Rasul melihat suatu kebaikan dalam riwayat yang pertama, tetapi tidak melihat kebaikan dalam riwayat lain.

Hal ini juga ditegaskan oleh Yusuf Al-Qaradhawi bahwa perbedaan riwayat dalam suatu hadits bukan berarti secara otomatis bertentangan. (Lihat Yusuf Al-Qaradhawi, Kaifa Nataʽāmal maʽas Sunnatin Nabawīyyah, [Kairo, Darus Syuruq: 2002 M], halaman 133).

Hal ini, sebagaimana diungkapkan oleh Kiai Ali Mustafa, bisa juga berhubungan dengan siapa yang dihadapi oleh Rasulullah SAW. Dalam beberapa kasus, Rasulullah menjawab pertanyaan yang disampaikan kepada beliau dengan jawaban yang berbeda, walaupun pertanyaan yang disampaikan sama.

Misalnya, dalam pertanyaan di atas, “Siapakah orang yang paling mulia.” Dalam satu kasus Nabi SAW mewasiatkan agar tidak marah, di kasus lain, Rasul memerintahkan untuk bersedekah dan lain sebagainya. Itu adalah salah satu contoh bagaimana perbedaan hadits itu dipengaruhi oleh siapa periwayatnya dan siapa mukhattabnya.

Selain itu, terkadang sumber perbedaan ini muncul dari kalangan sahabat atau tabiin yang meriwayatkan matan hadits. Inti matannya satu dari Rasulullah SAW, namun penyampaian redaksinya dari rawi yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh kebolehan menyampaikan atau meriwayatkan hadits dengan bil maʽnā (menyampaikan hadits dengan maknanya). Terkadang juga hadits dari Rasulullah dalam suatu riwayat disampaikan dengan lebar dan dalam riwayat lain disampaikan dengan ringkas. (Lihat Ali Mustafa Yaqub, At-Ṭuruqus Ṣhaḥīḥah fi Fahmis Sunnatin Nabawīyah, [Ciputat, Maktabah Darus Sunnah: 2016 H], halaman 131).

Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 242 H) mengungkapkan bahwa jika tidak mengumpulkan seluruh jalur periwayatan hadits, maka kita tidak akan bisa memahaminya. Menurut Imam Ahmad, hadits yang satu dan yang lainnya itu saling menafsirkan. Hal ini juga ditegaskan oleh Qadhi Iyadh bahwa hadits yang jelas pengertiannya akan menjelaskan hadits lain yang musykil. (Lihat Al-Khaṭib Al-Baghdadi, Al-Jāmīʽ li Akhlāqir Rāwī wa Adabis Sāmīʽ, [Beirut, Maktabah Al-Maʽarif: 1989 M], juz IV, halaman 388).

Hal ini juga menunjukkan bahwa harus ada pemahaman penuh terhadap konteks situasi dan kondisi sosial pada saat Rasul SAW menyampaikan hadits saat itu. Analisis konteks sosio-historis sendiri penting untuk memahami bagaimana lahirnya suatu teks hadits.

Untuk memahami konteks ini, seseorang membutuhkan pengetahuan akan kehidupan Nabi SAW secara mendetail baik di Mekkah maupun Madinah; iklim sosial, ekonomi, politik dan hukum;  norma, hukum, adat, kebiasaan, institusi dan nilai yang berlaku di wilayah tersebut. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits.
Share:
Rabu 24 April 2019 23:40 WIB
Memahami Hadits Tidak Ada Orang Berjenggot di Surga
Memahami Hadits Tidak Ada Orang Berjenggot di Surga
Kita pernah mendengar riwayat Imam At-Tirmidzi yang mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW bergurau dengan seorang perempuan tua yang meminta doanya agar Allah memasukkan nenek itu ke dalam surga. “Maaf bu, surga takkan dimasuki oleh perempuan tua,” jawab Rasulullah SAW.

Ketika nenek itu menangis, Rasulullah SAW meminta para sahabat mengejarnya, “Kabarkan kepadanya bahwa dia tidak akan masuk ke surga dalam keadaan usia lanjut karena Allah berfirman, ‘Sungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya,'” (Surat Al-Waqi’ah ayat 35-37).

Pada riwayat lain, Imam At-Tirmidzi juga menyebutkan sifat-sifat ahli surga kelak di mana di dalamnya tidak ada orang tua, orang dengan bulu kumis, jenggot, dan bulu lainnya.

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا مُكَحَّلِينَ، بني ثَلاَثٍ وَثَلاَثِينَ رواه الترمذي

Artinya, “Dari Muadz bin Jabal, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Penghuni surga kelak masuk ke dalamnya dalam keadaan tak berbulu, muda, dan bercelak mata, sekira usia 33 tahun,’” (HR At-Tirmidzi).

Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri dalam Kitab At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, mengutip riwayat lain Imam At-Tirmidzi yang menyebutkan bahwa di surga tidak ada orang tua dan orang berbulu. Mereka akan senantiasa muda. Pakaian yang mereka kenakan takkan mengalami usang.

ورواه أيضا من حديث أبي هريرة رضي الله عنه وقال غريب ولفظه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَهْلُ الْجَنَّةِ جُرْدٌ مُرْدٌ كُحْلٌ لَا يَفْنَى شَبَابُهُمْ وَلَا تَبْلَى ثِيَابُهُمْ 

Artinya, “Imam At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, ini hadits gharib dengan lafal, Rasulullah SAW bersabda, ‘Penghuni surga tidak berbulu, muda, dan bercelak mata. Masa muda mereka takkan sirna. Pakaian mereka takkan lusuh,’” (Lihat Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz IV, halaman 299).

Menurut Said M Al-Lahham yang menahqiq Kitab At-Targhib wat Tarhib, kata “Jurdun dan murdun” bermakna bahwa di tubuh penghuni surga tidak ada bulu, tidak ada jenggot, dan mereka berusia muda. Mereka akan kekal termasuk semua benda yang ada di hadapan mereka, (Lihat Said M Al-Lahham dalam tahqiq At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz IV, halaman 299).

Hadits Rasulullah SAW berikut ini yang diriwayatkan sejumlah perawi menyebutkan hal serupa. Hanya saja, pada riwayat ini disebutkan perihal warna kulit, bentuk rambut, dan perawakan penghuni surga.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال قال رسول الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَالَ : يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا بِيضًا جِعَادًا مُكَحَّلِينَ، أَبْنَاءَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِينَ، وَهُمْ عَلَى خَلْقِ آدَمَ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي عَرْضِ سَبْعَةِ أَذْرُعٍ رواه أحمد وابن أبي الدنيا والطبراني والبيهقي كلهم من رواية علي بن زيد بن جدعان عن ابن المسيب عنه

Artinya, “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Penghuni surga kelak masuk ke dalamnya dalam keadaan tak berbulu, muda, putih, berambut ikal, dan bercelak mata, sekira usia 33 tahun. Perawakan mereka seperti Nabi Adam AS, yaitu tinggi 60 hasta dan lebar 7 hasta,’” (HR Ahmad, Ibnu Abid Dunia, At-Thabarani, dan Al-Baihaqi. Semuanya mendapat riwayat dari Ali bin Zaid bin Jad’an, dari Ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah RA).

Adapun hadits berikut ini menerangkan hal serupa. Hadits riwayat Imam Al-Baihaqi ini menyebutkan bahwa usia manusia di dunia beragam. Sebagian orang wafat di masa tua. Sebagian lagi wafat di waktu muda. Bahkan ada orang yang wafat melalui insiden keguguran.

Panjang usia manusia di dunia memang ditakdirkan beragam. Semua itu tidak masalah. Tetapi usia penghuni surga kelak seragam sekira di angka 30 tahun atau 33 tahun.

وعن المقدام رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال مَا مِنْ أَحَدٍ يَمُوْتُ سِقْطاً وَلَا هَرِماً وَإِنَّمَا النَّاسُ فِيْمَا بَيْنَ ذَلِكَ إِلَّا بُعِثَ ابْنَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِيْنَ سَنَةً، فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ كَانَ عَلَى مَسْحَةِ آدَمَ، وَصُوْرَةِ يُوْسُفَ، وَقَلْبِ أيُّوبَ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عَظُمُوْا وَفَخُمُوْا كَالجِبَالِ رواه البيهقي بإسناد حسن

Artinya, “Dari Al-Miqdam RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada satu pun orang nanti, baik yang mati keguguran atau mati ketuaan, hanya sanya di antara itu melainkan akan dibangkitkan sekira berusia 33 tahun. Jika ia penghuni surga, maka ia akan seperti perawakan Nabi Adam AS, rupa Nabi Yusuf AS, dan hati Nabi Ayub AS. Tetapi jika ia penghuni neraka, maka ia akan membesar dan membengkak seperti bukit,’” (HR Al-Baihaqi dengan sanad yang baik).

Lalu bagaimana dengan berjenggot di dunia? Ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama menyatakan bahwa pemeliharaan jenggot termasuk anjuran agama. Sementara ulama lain menyatakan bahwa pemeliharaan jenggot tidak termasuk anjuran agama, tetapi semata budaya sesuai aspek kepantasan. 

Kedua perbedaan pendapat ini dapat ditemukan setidaknya di kitab-kitab ushul fiqih dan metodologi pemahaman hadits.

Terlepas dari perbedaan pendapat di kalangan ulama perihal jenggot, yang jelas kita berdoa mengharapkan rahmat Allah dan syafaat Rasulullah SAW yang dengan itu kita menjadi penghuni surga kelak. Amin. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 20 April 2019 20:0 WIB
Memahami Hadits ‘Perempuan Tercipta dari Tulang Rusuk Kaum Adam’
Memahami Hadits ‘Perempuan Tercipta dari Tulang Rusuk Kaum Adam’
Ilustrasi (Shutterstock)
Perempuan tercipta dari tulang rusuk lelaki, adalah kiasan yang maklum di masyarakat kita. Kiasan ini kerap dimaksudkan bahwa perempuan adalah ‘bagian yang hilang’ dari seorang lelaki. Kita sering mendengar ada orang berujar, “Saya belum berjumpa dengan tulang rusuk yang hilang,” demikian kata mereka yang mengaku belum dapat jodoh.

Usut punya usut, perumpamaan ini populer salah satunya melalui kisah Siti Hawa, yang konon diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam ‘alaihis salam. Banyak riwayat hadits menyebutkan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk. Berikut salah satunya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ”

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda: "Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya. Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasehatilah para wanita". (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Shahih al-Bukhari, hadits di atas setidaknya terdapat dalam dua bab: satu riwayat dalam bab tentang “Pentingnya berwasiat/memberi nasehat untuk perempuan”, dan riwayat lainnya dalam bab tentang “Penciptaan Nabi Adam dan keturunannya”. Kiranya dari hadits inilah dipahami secara harfiah asal mula perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk lelaki.

Ibnu Hajar al Asqalani mengomentari hadits tersebut:

قِيلَ فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ حَوَّاءَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعِ آدَمَ الْأَيْسَرِ وَقِيلَ من ضلعه الْقصير أخرجه بن إِسْحَاقَ...

Artinya: "Disebutkan bahwa hadits di atas adalah isyarat bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang kiri, dan ada pula yang mengatakan tulang rusuk yang pendek, sebagaimana dicatat Ibnu Ishaq... (Ibnu Hajar al Asqalani. Fathul Bari Syarah Shahih al Bukhari. Beirut – Darul Ma’rifah juz 6 hal. 368)

Nah, selanjutnya hadits di atas kerap dirujuk sebagai penafsir ayat pertama surah An Nisa’: 

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Artinya: “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan menciptakan darinya pasangannya; Allah memperkembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan...” (QS. An Nisa’: 1)

Kata min nafsin wâhidah banyak dipahami mufassir bahwa maksud diri yang satu itu adalah Adam, dan Allah menciptakan pasangan untuk Nabi Adam itu dari diri beliau sendiri. 

Demikianlah ulama klasik kembali ke makna zhahir teks, dengan memahami bahwa Hawa diciptakan dari tubuh Adam, dan ditunjang tafsiran melalui hadits di atas, bagian tubuh itu adalah tulang rusuk.

Perlu Anda ketahui, anatomi tulang rusuk manusia normal terdiri dari 12 pasang tulang, pria maupun perempuan, tiada yang berkurang sepasang. Karena itulah, persoalan asal muasal manusia ini oleh sebagian ulama digolongkan perkara ahwalul ghaib yang berada dalam domain iman, termasuk meyakini asal usul perempuan dari tulang rusuk. 

Riwayat seputar perempuan diciptakan dari tulang rusuk ini ternyata bervariasi. Ada yang menyebutkan خلقت من ضلع yang berarti tercipta dari tulang rusuk – bermakna lugas, ada riwayat lain menyebutkan إنّ المرأة كالضلع  yang artinya perempuan itu bagai tulang rusuk – yang menunjukkan kiasan. Semisal riwayat berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “المَرْأَةُ كَالضِّلَعِ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ”

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasul bersabda "Wanita itu bagaikan tulang rusuk, bila kamu memaksa untuk meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya, dan jika kamu bersikap baik, maka kamu dapat berdekatan dengannya, meski padanya terdapat kebengkokan (ketidaksempurnaan).” (HR. Bukhari)

Imam Al Bukhari mencantumkan hadits ini dalam bab “Bersikap lembut pada perempuan”. Agaknya dari sini ada kalangan ulama yang mengambil makna bahwa perempuan bukan tercipta dari tulang rusuk, tapi tercipta bagai tulang rusuk atau memiliki sifat-sifatnya seperti dinyatakan hadits di atas.

Hadits di atas secara metaforik mengingatkan para pria agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Hal ini seperti dicatat oleh Imam an Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim. Secara kodrati, jika tidak berhati-hati kepada perempuan, pria mudah bersikap kasar atau malah kurang ajar. Jika terlampau keras, risikonya jelas: tulang rusuk akan patah, atau dalam kata lain, perempuan akan teraniaya.

KH. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Cara Benar Memahami Hadis mengemukakan pendapat tentang perbedaan riwayat hadits-hadits hubungan perempuan dan tulang rusuk di atas. 

Bagi sementara orang, memahami bahwa perempuan benar-benar tercipta dari tulang rusuk adalah sesuatu yang dikategorikan KH. Ali Mustafa Yaqub sebagai makna yang perlu dijelaskan lagi lewat hadits lain. Menurut beliau: sumber hadits adalah Nabi seorang, maka hadits mestinya saling menjelaskan satu sama lainnya. 

Makna kiasan dianggap lebih mampu menjelaskan tema hadits tersebut, sehingga dapat dipahami: perempuan diciptakan dari sifat-sifat seperti tulang rusuk – yang bengkok, dan tidak bisa diluruskan apalagi secara paksa. Pemahaman ini kiranya lebih mudah dipahami oleh nalar.

Kurang lebih demikian seputar pemahaman hadits “perempuan diciptakan dari tulang rusuk”. Ragam pemahaman di atas bisa didapat dari kecenderungan sang ulama baik dari pemahaman maupun pengajaran gurunya, atau dengan penilaian dan telaah beliau atas riwayat yang bermacam-macam. Wallahu a’lam.


(Muhammad Iqbal Syauqi)
Ahad 31 Maret 2019 21:30 WIB
Mengenal Hadits Mursal Khafi
Mengenal Hadits Mursal Khafi
Ilustrasi (Shutterstock)
Pembagian hadits dhaif memang sangat beragam. Bahkan bisa dibilang sangat banyak sekali. Imam as-Suyuthi, mengutip Ibn Shalah, dalam Tadrîb ar-Rawi menyebutkan bahwa pembagian hadits dhaif mencapai seratusan, hanya saja, tidak semua pembagian tersebut sampai pada kita istilah dan definisi-definisinya.

Baca juga:
Macam-macam Hadits Dhaif (1)
Macam-macam Hadits Dhaif (2)
Khusus dalam pembagian hadits dhaif dalam segi keterputusan sanadnya ada salah satu pembagian yang disebut dengan hadits mursal khafi. Hadits mursal khafi ini berbeda dengan hadits mursal biasa atau mursal sahabi sebagaimana disebutkan dalam pembahasan sebelumnya.

Jika hadits mursal biasa hanya bisa terjadi pada satu tingkatan sanad, yaitu tabiin, sedangkan hadits mursal sahabi terjadi pada tingkatan sahabat, maka hadir mursal khafi ini bisa terjadi pada semua tingkatan sanad.

Lalu apa definisi hadits mursal khafi?

أن يروي الراوي عن من لقيه أوعاصره مالم يسمع منه بلفظ يحتمل السماع وغيره كقال 

Artinya, “Periwayatan rawi dari orang yang pernah ditemui atau dari orang yang sezaman tetapi tidak pernah mendengar hadits darinya dengan lafadz yang menunjukkan bahwa rawi tersebut memang benar-benar mendengar sebuah hadits, misalnya dengan lafadz “qaala”. (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥân, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Marifah, 2004], h. 105.)

Baca juga:
• Sebab-sebab Hadits Menjadi Dhaif
Kajian Hadits Mursal dan Pembagiannya
Contoh:

مَا رَوَاهُ إِبْنُ مَاجَّه مِنْ طَرِيْقِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيْز، عَنْ عُقْبَةَ بنِ عَامِر مَرْفُوْعًا: (رَحِمَ اللهُ حَارِسَ الْحَرَسِ) ـ

Artinya, “Seperti contoh sebuah hadits riwayat Ibn Majjah dari jalur Umar bin Abdul Aziz dari Uqbah bin Ami, yang diriwayatkan secara marfu (dari Rasul Saw). “Allah Swt mengampuni para pengawal atau tentara.”

Berdasarkan penuturan al-Mîzî dalam kitab al-Aṭrâf, Umar ibn Abd al-Azîz tidak bertemu dengan Uqbah. Namun dalam hadits ini ia meriwayatkan dari Uqbah, sehingga hadits ini tergolong sebagai Mursal Khafi.

Hadits Mursal Khafi bisa diketahui dengan beberapa hal: Pertama, pengakuan para ulama bahwa rawi tersebut tidak pernah mendengar hadits dari gurunya.

Kedua, pengakuan dari rawi sendiri.

Ketiga, adanya tambahan seorang rawi lain di antara rawi dan gurunya dalam sanad lain. (namun hal ini diperdebatkan oleh para ulama, karena bisa jadi hal ini tergolong dalam kasus al-mazîd fî muttaṣil al-asânid). (Lihat: Mahmûd al-Ṭaḥḥân, Taysîr Muṣṭalah al-Ḥadîts, [Riyadh: Maktabah Marifah, 2004], h. 147.)

Lebih tepatnya, hadits mursal khafi ini lebih mirip dengan hadits mudallas yang isnad, hanya saja bedanya jika tadlis isnad, perawinya memang berguru pada gurunya, hanya saja ia tidak pernah mendengar hadits tersebut, sedangkan hadits mursal khafi, perawinya memang bertemu, namun tidak pernah berguru atau mendengar hadits darinya. Wallahu A’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah