IMG-LOGO
Hikmah

Nasihat Umar bin Abdul Aziz untuk Orang yang Terzalimi

Senin 20 Mei 2019 16:15 WIB
Share:
Nasihat Umar bin Abdul Aziz untuk Orang yang Terzalimi
Dalam kitab al-Shumt wa Adab al-Lisân, Imam Ibnu Abi Dunya mencatat sebuah riwayat tentang Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan seorang yang mengadu kepadanya. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَيُّوبَ، حَدَّثَنَا ضَمْرَةُ، عَنِ ابْنِ شَوْذَبٍ، قَالَ: دَخَلَ رَجُلٌ عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَجَعَلَ يَشْكُو إِلَيْهِ رَجُلًا ظَلَمَهُ، وَيَقَعُ فِيهِ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنَّكَ إِنْ تَلْقَى اللَّهَ وَمَظْلَمَتُكَ كَمَا هِيَ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَلْقَاهُ وَقَدِ انْتَقَصْتَهَا

Ibrahim bin Sa’id bercerita kepadaku, Musa bin Ayyub bercerita, Dlamrah bercerita, dari Ibnu Syaudzab, ia berkata:

“Seseorang masuk ke (kediaman) Umar bin Abdul Aziz radliyallahu ‘anhu, lalu mengadu kepadanya bahwa ada seseorang yang menzaliminya. Ia pun mencaci maki orang yang menzaliminya tersebut.”

Umar bin Abdul Aziz radliyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya jika kau berjumpa Allah dalam keadaan terzalimi lebih baik daripada kau berjumpa dengan-Nya dalam keadaan mencaci maki orang (lain) yang menzalimimu.” (Imam Ibnu Abi Dunya, al-Shumt wa Adab al-Lisân, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1410 H, h. 267)

****

Cara pandang kita saat mengalami kezaliman perlu diubah, apalagi jika kezaliman itu kita laporkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita sering mendengar doa orang terzalimi itu mustajab, tapi dalam melakukannya kita harus tetap berpegang teguh pada akhlak. Karena kita sedang berdoa kepada Allah, Tuhan yang Mahabaik, yang dalam salah satu firman-Nya mengatakan (QS. Al-Hujarat: 11):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mencemooh (mengolok-ngolok) kaum lainnya, bisa jadi yang dicemooh lebih baik dari mereka, dan janganlah sekumpulan wanita mencemooh kumpulan wanita lainnya, bisa jadi yang dicemooh lebih baik dari mereka. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Ayat di atas adalah etika pergaulan sosial yang dikehendaki Allah untuk manusia. Jangan saling mencemooh, mencela, memaki, mengolok-olok dan mengejek, karena kita tidak tahu kedudukan mereka di sisi Allah. Jangan pula memanggil dengan panggilan yang mengandung ejekan. Bagi Allah, panggilan tersebut adalah seburuk-buruknya panggilan, dan Allah menghendaki mereka bertobat jika terlanjur melakukannya. Jika tidak, mereka termasuk orang-orang yang zalim.

Artinya, ketika seseorang mengadukan orang yang menzaliminya kepada Allah, lalu mencaci makinya, ia telah terlepas dari rambu-rambu etika yang dikehendaki Allah. Karena itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz merasa risih saat mendengar aduan rakyatnya. Karena dalam aduannya, ia memasukkan cacian dan makian, meski yang diadukan adalah orang yang menzaliminya. Oleh sebab itu, ia mengatakan, “sesungguhnya jika kau berjumpa Allah dalam keadaan terzalimi lebih baik daripada kau berjumpa dengan-Nya dalam keadaan mencaci maki orang yang menzalimimu.”

Hal penting lainnya adalah, sebelum kita menganggap diri kita terzalimi, kita harus periksa diri kita terlebih dahulu. Kita harus amati rangkaian peristiwa yang kita anggap kezaliman itu. Kita perlu mempertanyakan, apakah kezaliman yang menimpa kita murni karena kezaliman pelakunya, atau kita turut berperan serta dalam rantai kezaliman tersebut. Karena manusia itu makhluk perasa yang sering tak merasa, seakan-akan perasaan hanya berguna ketika dizalimi, tapi tidak ketika menzalimi. Kita lebih mampu merasakan hinaan kepada kita daripada hinaan kita kepada orang lain.

Belum lagi jika kebencian sudah merasuk, hinaan dan cacian akan berkembang sedemikian rupa menjadi fitnah dan laknat. Jika itu sudah terjadi, hati kita akan gelap, tidak bisa lagi memandang kebaikan orang yang kita benci. Kita hanya bisa melihat kesalahan dan keburukannya. Tentu saja ini berbahaya, karena kita perlahan-lahan lupa bahwa yang sedang kita pandang adalah manusia biasa, bukan nabi yang maksum. Artinya, ada kebaikan yang pernah dilakukannnya, dan ada pula keburukan yang pernah dilakukannya. Tapi, ketika kita sudah dibutakan oleh benci, kebaikan dilihat dengan curiga, dan keburukan dilihat dengan selera. Pada akhirnya, laknat terlempar dengan sengaja. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat melarangnya. Beliau bersabda (HR. Imam Abu Dawud dan Imam al-Tirmidzi):

لا تَلاعنُوا بلعنةِ اللَّه، ولا بِغضبِهِ، ولا بِالنَّارِ

“Janganlah kalian saling laknat-melaknati dengan menggunakan (ucapan) laknat Allah, jangan pula dengan (ucapan) murka Allah, dan jangan pula dengan (ucapan) masuk neraka.”

Di samping itu, jika kita bicara pengamalan agama dalam tataran ideal, orang yang terzalimi memiliki peluang amal yang tidak dimiliki orang lain, yaitu memaafkan meski belum dimintai maaf. Menggunakan cara pandang ini, orang yang sedang dizalimi laiknya orang yang berdiri di depan pintu amal. Ia memiliki kesempatan yang tidak semua orang punya. Tergantung ia mau memasukinya atau tidak. Rasulullah bersabda (HR. Imam al-Thabrani dan Imam Ibnu Abi Dunya):

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ، وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ

“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya bangunan (di surga), dan diangkat derajatnya, hendaklah ia memaafkan orang yang menzaliminya, memberi orang yang membakhilinya, dan menyambung silaturahmi pada orang yang memutuskannya.” (Imam Ibnu Abi Dunya, Makârim al-Akhlâq, h. 332)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda (HR. Imam Ibnu Syahin):

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُنَادِي مُنَادٍ فَيَقُولُ: أَيْنَ الْعَافُونَ عَنِ النَّاسِ؟ هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ خُذُوا أُجُورَكُمْ، وَحَقَّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِذَا عَفَا أَنْ يُدْخِلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ

“Di saat hari kiamat kelak, ada pemanggil yang (tugasnya) menyeru, lalu ia berkata: 'Di manakah para pemaaf yang memaafkan orang lain?' Kemarilah menuju Tuhan kalian, ambillah pahala kalian. Dan (sudah menjadi) hak setiap muslim jika ia memaafkan, Allah akan memasukkannya ke surga.” (Imam Ibnu Syahin, al-Targhîb fî Fadlâ’il al-A’mâl wa Tsawâb Dzalik, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2004, h. 149) 

Artinya, kita memiliki pilihan ketika dizalimi, mengadukannya kepada Allah dengan berdoa, atau memberi maaf. Semuanya berada di tangan kita. Yang terpenting adalah, kita harus menghindari cacian, makian, dan celaan dalam menjalankannya. Sebelum membuat pilihan, kiranya perlu kita renungkan peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini (HR. Imam al-Tirmidzi):

لَيْس المؤمِنُ بِالطَّعَّانِ، ولا اللَّعَّانِ ولا الفَاحِشِ، ولا البذِيِّ

“Bukanlah orang yang beriman, (karena) sebab kesukaannya mencela (orang lain), melaknat (orang lain), berbuat keji, dan berkata kotor.”

Semoga kita terselamatkan dari kebencian yang membabi buta. Amin. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Share:
Ahad 19 Mei 2019 21:0 WIB
Pidato Pertama Sayyidina Umar bin Khattab setelah Jadi Khalifah
Pidato Pertama Sayyidina Umar bin Khattab setelah Jadi Khalifah
Beberapa saat sebelum wafat, Sayyidina Abu Bakar as-Shiddiq menunjuk Sayyidina Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua. Keputusan itu dikeluarkan setelah Sayyidina Abu Bakar berdiskusi dengan beberapa sahabat senior seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan lainnya. Semula ada saja suara tidak sepakat mengingat Sayyidina Umar orangnya begitu keras. Namun akhirnya, semuanya setuju dengan kebijakan Sayyidina Abu Bakar tersebut.

Keesokan harinya, Sayyidina Umar bin Khattab menemui orang-orang yang ada di Masjid Nabawi. Mereka menyambutnya dan siap untuk membaiat sang khalifah kedua. Singkat cerita, setelah dibaiat Sayyidina Umar menaiki tangga mimbar dan menyampaikan pidato pertamanya. Sebuah pidato yang sangat menyentuh, penuh rasa haru, dan rendah hati. Umat Islam yang hadir kala itu memuji pidato Sayyidina Umar bin Khattab. Mereka baru ‘ngeh’ kalau firasat Sayyidina Abu Bakar tepat –yakni menunjuk Sayyidina Umar sebagai khalifah kedua- setelah mendengarkan pidato Sayyidina Umar.

Dikutip dari buku Umar bin Khattab (Muhammad Husain Haekal, 2013), Sayyidina Umar mengawali pidatonya dengan mengucapkan hamdalah, shalawat, dan memaparkan beberapa jasa Sayyidina Abu Bakar. Setelah itu, dia baru menyampaikan pidato intinya. Berikut pidato lengkapnya:

“Saudara-saudara! Saya hanya salah seorang dari kalian. Kalau tidak karena segan menolak tawaran Khalifah Rasulullah (Sayyidina Abu Bakar) saya pun akan enggan memikul tanggung jawab ini. Allahumma ya Allah, saya ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku. Allahumma ya Allah saya sangat lemah, maka berikanlah kekuatan. Allahumma ya Allah saya ini kikir, jadikanlah saya orang dermawan bermurah hati.” Tiba-tiba Sayyidina Umar berhenti sejenak. Setelah orang-orang lebih tenang, dia melanjutkan pidatonya.

“Allah telah menguji kalian dengan saya dan menguji saya dengan kalian. Sepeninggal sahabat-sahabatku, sekarang saya yang berada di tengah-tengah kalian. Tidak ada persoalan kalian yang harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain selain saya, dan tak ada yang tak hadir di sini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka.”

Setelah menyampaikan pidato pertamanya sebagai khalifah kedua, Sayyidina Umar turun dari mimbar dan langsung mengimami Shalat Dzuhur. 

Ada beberapa poin penting yang bisa disimpulkan dari pidato pertama Ssayyidina Umar bin Khattab tersebut. Pertama, jabatan adalah sebuah tanggung jawab yang tidak perlu diperebutkan. Apalagi sampai meneteskan darah manusia. Kedua, Sayyidina Umar mengakui kalau dirinya keras, kasar, lemah, dan penuh dengan kekurangan. Oleh karena itu, dia berdoa kepada Allah untuk selalu membimbingnya menjalankan amanah tersebut. 

Ketiga, menjadi pemimpin dan yang dipimpin adalah ujian. Sayyidina Umar sadar bahwa menjadi pemimpin itu adalah ujian. Begitupun mereka yang dipimpin. Oleh sebab itu, baik pemimpin atau yang dipimpin harus saling mengingatkan agar apa yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah. Keempat, tugas pemimpin adalah menyelesaikan persoalan rakyatnya. Kelima, siapa yang berbuat baik maka akan mendapatkan balasan yang baik. Begitupun sebaliknya. Sesuai dengan firman Allah dalam QS az-Zalzalah. (A Muchlishon Rochmat)
Sabtu 18 Mei 2019 20:0 WIB
Debat Nabi Isa dan Iblis La'natullah
Debat Nabi Isa dan Iblis La'natullah
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan sebuah riwayat tentang perbincangan Nabi Isa ‘alaihissalam dan Iblis. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُثَنَّى قَالَ: حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ يُونُسَ قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ قَالَ: قَالَ إِبْلِيسُ لِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّكَ لَا يُصِيبُكَ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكَ قَالَ: أَجَلْ يَا عَدُوَّ اللَّهِ قَالَ: فَارْقَ هَذَا الْجَبَلَ فَارْمِ بِنَفْسِكَ أَنْظُرُ تَمُوتُ، قَالَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَا عَدُوَّ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَبْتَلِي عَبْدَهُ وَالْعَبْدُ لَا يَبْتَلِي رَبَّهُ

Abdullah bercerita, Muhammad bin Ishaq bin Muhammad bin al-Mutsanna bercerita kepada kami, ia berkata: Anas bin ‘Iyadl bercerita dari Yunus, ia berkata: Ibnu Syihab bercerita, ia berkata:

Iblis berkata kepada ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam: “Wahai anak Maryam, sesungguhnya tidak ada yang menimpamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah padamu.” Isa menjawab: “Benar, wahai musuh Allah.”

Iblis berkata (lagi): “Naikilah gunung ini, lalu jatuhkan dirimu sendiri, aku ingin melihat kau mati (atau tidak?).” ‘Isa ‘alaihissalam menjawab: “Wahai musuh Allah, sesungguhnya hanya Allah yang (berhak) menguji hamba-Nya, dan seorang hamba tidak (berhak) menguji Tuhannya.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 306)

****

Kita sering membaca kisah terusirnya Iblis dari surga. Salah satu penyebabnya adalah ia selalu merasa lebih mulia dari makhluk Allah lainnya. Ketika Allah memerintahkannya bersujud kepada Adam, ia menolak dengan menjawab, “ana khairum minhu, khalaqtanî min nâr wa khalaqtahu min thîn—aku lebih baik darinya, Kau ciptakan aku dari api, sementara Kau ciptakan Adam dari tanah.” 

Jawaban Iblis menunjukkan bahwa ia suka mendefinisikan kemuliaannya sendiri. Ia menggunakan “asal” penciptaannya sebagai argumentasi, “Kau ciptakan aku dari api.” Ia mengukur dan mengultuskan kemuliaannya sendiri. Tanpa segan menggunakan kalimat, “Kau ciptakan,” padahal hanya Tuhan lah yang berhak menentukan kemuliaan seseorang, dan Iblis dengan lancang mendeklarasikan kemuliaannya di hadapan Tuhan dengan cara yang sangat buruk, menentang perintahNya.

Dalam kisah di atas, Iblis sedang memprovokasi Nabi Isa dengan tantangan yang rumit. Ia memulainya dengan mengatakan, “Wahai anak Maryam, sesungguhnya tidak ada yang menimpamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah padamu.” Kemudian, ia menantang Nabi Isa melompat dari gunung untuk mengetahui apakah ia mati atau tidak. Di satu sisi, Iblis berbicara tentang ketetapan Allah. Di sisi lain, ia menantang Isa untuk mengetahui ketetapan Allah tentangnya, jika ia melompat, apakah Allah menetapkannya mati atau tidak, dan itu hanya bisa diketahui jika Nabi Isa benar-benar melompat.

Tapi Nabi Isa ‘alaihissalam tidak kalah cerdas, ia menjawab tantangan Iblis dengan berkata, “Wahai musuh Allah, sesungguhnya hanya Allah yang (berhak) menguji hamba-Nya, dan seorang hamba tidak (berhak) menguji Tuhannya.” Artinya, jika ia menuruti tantangan Iblis, ia sedang menguji Tuhannya. Padahal, hanya Tuhan lah yang berhak menguji hambanya, bukan sebaliknya. Tugas seorang hamba adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, bukan menguji dan mempertanyakan keputusannya. 

Karena itu, Nabi Isa pernah menasihati murid-muridnya agar mengamalkan ibadah terbaik. Lalu murid-muridnya bertanya, “mâ afdlalul ‘ibâdah yâ rûhallah—apa ibadah terbaik itu, wahai rûhullah?” Nabi Isa menjawab, “al-tawâdlu’ lillahi ‘azza wa jalla—tawadu’ kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 73-74). 

Dengan menanamkan ketawadukan di dalam hati, manusia akan terjaga dari menyombongkan amal ibadahnya, dan selalu merasa butuh akan rahmat Allah. Berbeda dengan Iblis yang disombongkan oleh ibadahnya ribuan tahun. Ia memandang rendah makhluk selainnya karena tidak ada yang beribadah segiat dia. Tiba-tiba, Tuhan memerintahkannya menghormati Adam, tentu ia menolak. Dengan penolakannya, secara tidak langsung ia mempertanyakan keputusan Tuhan dan meragukan kebenarannya. Jika pun kita anggap perintah Allah kepada Iblis (sujud kepada Nabi Adam) adalah ujian, Iblis tidak hanya gagal, tapi juga bermaksiat karena membangkang.

Padahal Allah akan menguji semua hamba-Nya, termasuk Adam ‘alaihissalam. Semakin saleh seorang hamba, semakin berat ujiannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَاللَّهِ، لَا يُعَذِّبُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَبِيبَهُ، وَلَكِنْ قَدْ يَبْتَلِيهِ فِي الدُّنْيَا

“Dari Hasan, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mengazab kekasih-Nya, tetapi Dia akan sungguh-sungguh mengujinya di dunia.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 71)

Objek pembicaraan dalam hadits di atas adalah “kekasih-Nya.” Dalam memahami “kekasih-Nya” kita bisa menggunakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan hamba ke Tuhan, dan kedua, pendekatan Tuhan ke hamba.

Maksud pendekatan pertama adalah, gelar kekasih yang didapat berasal dari amal tulus seorang hamba yang dilakukan secara istiqomah (dari bawah ke atas), sehingga Allah mencintainya, contohnya (QS. Al-Baqarah: 195): “innallaha yuhibbul muhsînîn—sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” Maksud pendekatan kedua, adalah sifat Al-Rahmân (Maha Pengasih) dan Al-Rahîm (Maha Penyayang) Allah yang tidak dibatasi untuk hambanya yang baik-baik saja (dari atas ke bawah). Allah memberikan kasih sayangnya kepada siapapun, terlepas dari amal dan dosanya. 

Artinya, jika menggunakan pendekatan di atas, semua manusia memiliki peluang yang sama untuk “diuji” dan “lulus ujian”. “Diuji” adalah simbol pendekatan kedua. “Lulus ujian” adalah simbol pendekatan pertama. Dalam dua rangkaian tersebut, kita harus mengaktualisasikan posisi subjek kita dengan berbagai macam ibadah agar bisa “lulus ujian”. Soal “diuji”, kita cukup tahu bahwa Allah Maha Pengasih, dan semua kesusahan hidup adalah ujian yang mendewasakan kita. 

Ujian sendiri merupakan bentuk lain dari kasih sayang Allah. Tanpa ujian, kehidupan akan sangat datar karena semuanya sama; tanpa ujian, keragaman musim hati (rasa) akan terbatasi, dan lain sebagainya. Intinya, dalam memahami ujian Allah, kita harus mengedepankan prasangka baik, karena akan berpengaruh pada langkah kita ke depan. Bagi yang memandangnya dengan prasangka buruk, ia akan merasa selalu diperlakukan tidak adil; bagi yang memandangnya dengan prasangka baik, ia akan menganggapnya sebagai madrasah pendewasaan diri atau semacamnya. Semoga kita bisa melakukannya. Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sabtu 18 Mei 2019 16:30 WIB
Ketika Sayyidina Ali Meminta Al-Qur’an Berbicara
Ketika Sayyidina Ali Meminta Al-Qur’an Berbicara
Ilustrasi (via aboutislam.net)
Dulu, banyak sekali pengikut Sayyidina Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat, yang merupakan para penghafal Al-Qur’an (Qurrâ'). Misi utama mereka adalah menjaga Al-Qur’an supaya tak musnah. Pada abad ketujuh masehi tersebut, peran para penghafal sangatlah vital sebagai media transmisi Al-Qur’an dari satu generasi ke generasi berikutnya. Meski peran mereka sedemikian urgen, namun menjadi penghafal bukan berarti dengan sendirinya menjadi ahli dalam memahami makna ajaran Al-Qur’an. 

Suatu saat mereka pernah menyalahkan Sayyidina Ali karena dianggap menjadikan manusia sebagai juru putus (hakam) dalam arbitrase antara kubu Ali dan Mu'awiyah yang terlibat perang saudara. Menurut para penghafal Al-Qur’an itu tak ada hukum kecuali milik Allah. Maksudnya, semua keputusan harus apa kata Al-Qur’an, bukan kata manusia.

Mendengar kritik itu, Sayyidina Ali kemudian mengumpulkan para penghafal Al-Qur’an tersebut dan mereka diminta membawa mushaf. Setelah banyak yang berkumpul lalu beliau membuka Mushaf Imam (mushaf standar hasil kodifikasi Utsman yang jadi rujukan utama penulisan mushaf saat itu). Ia lalu berkata: 

أيها المصحف حدث الناس

"Wahai mushaf Al-Qur’an, bicaralah pada orang-orang itu!" (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wan-Nihâyah, VII, 270)

Dengan cara cerdik itu, ia berhasil menyadarkan para penghafal Al-Qur’an tersebut bahwa mushaf Al-Qur’an tak bisa bicara sendiri sebab hanya goresan tinta di atas kertas. Manusia lah yang menafsirkannya dengan kemampuan akalnya masing-masing. Semua jargon untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai juru putus tak lebih dari sekadar upaya untuk menjadikan penafsiran mereka yang sepihak itu sebagai satu-satunya acuan. 

Beliau lalu menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an sendiri, Allah telah menjadikan manusia sebagai juru putus (hakam) tatkala ada percekcokan antara sepasang suami istri (QS. an-Nisa': 35), padahal ini urusan remeh. Sedangkan nyawa dan kehormatan umat Nabi Muhammad tentu lebih berharga daripada sekadar urusan rumah tangga, masak tak boleh memasrahkan masalah segenting ini pada pertimbangan manusia? Dan, para penghafal Al-Qur’an itu pun kehabisan akal di depan seorang mujtahid yang menjadi Khalifah keempat itu.

Dari sini kita tahu bahwa penukil ayat-ayat Al-Qur’an tidaklah lantas mewakili ajaran Al-Qur’an itu sendiri. Para penghafal Al-Qur’an dalam kisah ini di kemudian hari menjadi generasi Khawarij pertama (Haruriyah/al-Muhakkimah al-Ula). Sejarah dan kisah para Khawarij dengan nalar ultra tekstualnya itu sebelumnya telah penulis uraikan dengan agak mendetail di bagian lain di NU Online ini. Semoga bermanfaat. 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.